Anda di halaman 1dari 124
PEMBERIAN METODE KANGAROO MOTHER CARE (KMC) TERHADAP KESTABILAN SUHU TUBUH BBLR PADA ASUHAN KEPERAWATAN BAYI

PEMBERIAN METODE KANGAROO MOTHER CARE (KMC) TERHADAP KESTABILAN SUHU TUBUH BBLR PADA ASUHAN KEPERAWATAN BAYI NY. Y DI RUANG HCU NEONATUS RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

DI SUSUN OLEH:

ANISA PRATIWI NIM. P 12 068

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA

2015

PEMBERIAN METODE KANGAROO MOTHER CARE (KMC) TERHADAP KESTABILAN SUHU TUBUH BBLR PADA ASUHAN KEPERAWATAN BAYI

PEMBERIAN METODE KANGAROO MOTHER CARE (KMC) TERHADAP KESTABILAN SUHU TUBUH BBLR PADA ASUHAN KEPERAWATAN BAYI NY. Y DI RUANG HCU NEONATUS RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Karya Tulis Ilmiah Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan

DI SUSUN OLEH:

ANISA PRATIWI NIM. P 12 068

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA

2015

i

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya bertandatangan di bawah ini :

Nama

: Anisa Pratiwi

NIM

: P.12 068

Program Studi

: D III Keperawatan

Judul Karya Tulis Ilmiah : PEMBERIAN METODE KANGAROO MOTHER CARE (KMC) TERHADAP KESTABILAN SUHU TUBUH BBLR PADA ASUHAN KEPERAWATAN BAYI NY. Y DI RUANG HCU NEONATUS RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTAMenyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benar- benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan terbesebut sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.

Surakarta, 24 Februari 2014 Yang Membuat Pernyataan

ketentuan akademik yang berlaku. Surakarta, 24 Februari 2014 Yang Membuat Pernyataan ANISA PRATIWI NIM . P

ANISA PRATIWI

NIM . P 12 068

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :

Nama

: Anisa Pratiwi

NIM

: P. 12 068

Program Studi

: D III Keperawatan

Judul

: Pemberian Metode Kangaroo Mother Care (KMC) terhadap

Kestabilan Suhu Tubuh BBLR pada Asuhan Keperawatan

By.Ny Y di Ruang HCU Neonatus RSUD dr. Moewardi

Surakarta

Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma
Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi
DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Di tetapkan di :
Hari/ Tanggal :
Amalia Senja, S.Kep.,Ns
(
)
NIM. 201289111

iii

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :

Nama

: Anisa Pratiwi

NIM

: P.12 068

Program Studi

: DIII Keperawatan

Judul

: Pemberian Metode Kangaroo Mother Care (KMC)

terhadap Kestabilan Suhu Tubuh BBLR pada Asuhan

Keperawatan By. Ny. Y Di Ruang HCU Di Rumah Sakit

Umum Daerah dr. Moewardi Surakarta.

Telah diujikan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah

Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Ditetapkan di : Surakarta

Hari/ Tanggal : Jumat, 19 juni 2015

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Amalia Senja, S.Kep.,Ns. NIK. 201189090

(………

………… )

Penguji I

: Meri Oktariani, S.Kep.,Ns.,M.Kep. NIK. 200981037

(…… ……………

)

Penguji II

: Atiek Murharyati, S.Kep.,Ns.,M.Kep. NIK. 200680021

(…………………….)

Mengetahui, Ketua Program Studi DIII Keperawtan STIKES Kusuma Husada Surakarta

Atiek Murharyati, S.Kep. Ns., M.Kep. NIK. 200680021

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ Pemberian Metode Kangaroo Mother Care (KMC) Terhadap Kestabilan Suhu Tubuh BBLR pada Asuhan Keperawatan By.Ny Y di Ruang HCU Neonatus Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi Surakarta.”

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:

1. Atiek Murharyati, S.Kep.,Ns.,M.Kep. selaku Ketua Program Studi DIII keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu

di STIKes Kusuma Husada Surakarta.

2. Meri Oktariani, S.Kep.,Ns.,M.Kep. selaku Sekretaris Program Studi DIII keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu

di Stikes Kusuma Husada.

3. Amalia Senja, S.Kep.,Ns. selaku dosen pembimbing sekaligus sebagai penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan- masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.

4. Semua dosen Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya serta ilmu yang bermanfaat.

5. Kedua orang tua kami, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.

6. Teman-teman Mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu- persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.

v

Semoga laporan studi ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu keperawatan dan kesehatan. Amin.

vi

Surakarta,

Penulis

2015

DAFTAR ISI

 

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

PERNYATAAN TIDAK PELAGIATISME

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

iii

LEMBAR PENGESAHAN

iv

KATA PENGANTAR

v

DAFTAR

ISI

vii

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR

GAMBAR

x

DAFTAR LAMPIRAN

xi

BAB 1 PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Tujuan Penulisan

5

C. Manfaat Penulisan

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 

A. Tinjauan Teori

7

1. Konsep Berat Lahir Rendah (BBLR)

7

2. Asuhan Keperawatan pada BBLR

13

3. Hipotermi

26

4. Perawatan Metode Kangguru atau Kangaroo Mother Care

(KMC)

30

B. Kerangka Teori

36

C. Kerangka Konsep

37

BAB III METODE PENYUSUNAN KTI APLIKASI RISET

A. Subjek Aplikasi Riset

38

B. Tempat dan Waktu

38

C. Media dan Alat yang Digunakan

38

D. Prosedur Tindakan Berdasarkan Aplikasi Riset

39

E. Alat Ukur Evaluasi dari Aplikasi Tindakan dari Riset

42

vii

BAB IV LAPORAN KASUS

A. Identitas klien

44

B. Pengkajian

45

C. Perawatan Sosial

48

D. Perumusan Masalah Keperawatan

50

E. Perencanaan

52

F. Implementasi

54

G. Evaluasi

63

BAB V PEMBAHASAN

A. Pengkajian

69

B. Perumusan masalah keperawatan

72

C. Perencanaan

76

D. Implementasi

81

E. Evaluasi

97

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

106

B. Saran

109

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

viii

DAFTAR TABEL

 

Halaman

Tabel 2.1 Evaluasi gawat nafas dengan skor Downes

12

ix

DAFTAR GAMBAR

 

Halaman

1. Gambar 2.1 Temperatur aksila pada bayi baru lahir

30

2. Gambar 2.2 Kerangka teori

 

36

3. Gambar

2.3

Kerangka

konsep

37

4. Gambar 3.1 Metode kanguru /KMC

41

5. Gambar 3.2 Termometer air raksa dan

43

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Daftar riwayat hidup

Lampiran 2

: Usulan jurnal

Lampiran 3

: Surat pernyataan

Lampiran 4

: Lembar konsultasi karya tulis ilmiah

Lampiran 5

: Log Book

Lampiran 6

: Pendelegasian

Lampiran 7

: Jurnal

Lampiran 8

: Asuhan keperawatan

Lampiran 9

: Evaluasi gawat nafas dengan skor Downes

Lampiran 10

: Satuan acara penyuluhan

Lampiran 11

: Leaflet

xi

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan permasalahan yang sering

dihadapi pada perawatan yang bayi baru lahir. Angka prevalensi BBLR

menurut World Health Organization (WHO) 2010 diperkirakan 15% dari

seluruh kelahiran didunia dengan batasan 3,3% - 3,8% dan lebih sering terjadi

pada negaranegara yang sering berkembang atau sosial ekonomi rendah.

Prevalensi BBLR tahun 2013 adalah sebesar 10,2% di dunia. Angka kematian

bayi telah terjadi peningkatan dari tahun 2005 sebesar 260 orang sedangkan

pada tahun 2006 sebesar 273 orang terjadi peningkatan 0,9% sekitar sepertiga

dari jumlah BBLR ini meninggal sebelum stabil atau dalam 12 jam pertama

kehidupan bayi.

BBLR

memerlukan

perawatan

yang

intensif

sampai

berhasil

mencapai kondisi stabil. Hasil survey Demografi dan Kesehatan Indonesia

(SDKI) 2002-2003 presentase BBLR di Indonesia menunjukkan 7,6%. Riset

Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari jumlah bayi yang diketahui

penimbangan berat badannya waktu lahir 11,5% lahir dengan berat badan

<2500 gram atau BBLR jika dilihat dari jenis kelamin, presentase BBLR

lebih tinggi pada bayi perempuan dibanding laki-laki yaitu masing-masing

13% dan 10% (Depkes RI, 2009).

1

2

Setiap tahun di dunia diperkirakan lahir sekitar 20 juta bayi berat lahir

rendah

(BBLR).

Departemen

Kesehatan

(2007)

angka

kematian

sepsis

neonatorum cukup tinggi 13- 50 % dari angka kematian bayi baru lahir.

Adapun masalah yang sering timbul sebagai komplikasi sepsis neonatorum

adalah meningitis, kejang, hipotermi, hiperbilirubin, gangguan nafas, dan

minum (Depkes, 2007).

Salah satu penyebab bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah lahir

kurang bulan (prematur). Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa

Tengah

pada

tahun

2011

sebanyak

21.184

meningkat

banyak

apabila

dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 15.631. adapun presentase BBLR

tahun 2011 sebanyak 3,73 %, meningkat bila dibandingkan tahun 2010

sebesar 2,69 % (Depkes Kesehatan Jawa Tengah, 2012).

Angka terjadinya kelahiran BBLR di RSUD dr. Moewardi Surakarta

pada tahun 2013 terjadi 817 kasus kelahiran BBLR, pada tahun 2014 terjadi

penurunan kasus kelahiran BBLR menjadi 367.

Bayi berat lahir rendah secara umum mempunyai kematangan dalam

sistem

pertahanan

tubuh

untuk

beradaptasi

dengan

lingkungan.

Bayi

premature yang berat badan lahir rendah cenderung mengalami hipotermi.

Hal ini disebabkan karena tipisnya lemak subkutan pada bayi sehingga sangat

mudah dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

Suhu tubuh hampir semuanya diatur oleh mekanisme persyarafan, dan

hampir semua mekanisme ini terjadi melalui pusat pengaturan suhu yang

terletak pada hipotalamus.

3

Pada bayi baru lahir pusat pengaturan suhu tubuhnya belum berfungsi

sempurna, sehingga mudah terjadi penurunan suhu tubuh, terutama karena

lingkungan yang dingin. Dengan adanya keseimbangan panas tersebut bayi

baru lahir akan berusaha menstabilkan suhu tubuhnya terhadap faktor-faktor

penyebab

hilangnya

panas

karena

lingkungan.

Padasaat

kelahiran,

bayi

mengalami

perubahan

oleh

lingkungan

intra

uterin

yang

hangat

ke

lingkungan ekstra uterin yang relatif lebih dingin. Hal tersebut menyebabkan

penurunan suhu tubuh 2 0 3 0 C, terutama hilangnya panas karena evaporasi

atau penguapan cairan ketuban pada kulit bayi yang tidak segera dikeringkan.

Kondisi

tersebut

akan

memacu

tubuh

menjadi

dingin

yang

akan

menyebabkan respon metabolisme dan produksi panas.

Perawatan pada bayi berat lahir rendah atau bayi prematur sifatnya

sangat kompleks. Pada umumnya bayi prematur dan mempunyai berat badan

lahir rendah dirawat dalam inkubator.

Bayi perlu dirawat di inkubator, bayi

perawatan yang cukup tinggi, dan membutuhkan tenaga kesehatan yang

berpengalaman.

Jumlah

inkubator

di

rumah

sakit

sangat

terbatas

dibandingkan dengan jumlah BBLR yang dirawat. Beberapa penelitian telah

dilakukan tentang metode kanguru, hasilnya mengatakan bahwa metode

kanguru tidak hanya sekedar pengganti inkubator dalam perawatan BBLR,

namun juga memberi banyak keuntungan yang tidak bisa diberikan oleh

perawatan inkubator (Suradi & Yanuarso, 1996 dalam Perinansia, 2008, cit

Syamsu, 2013)

4

Perawatan metode kanguru bermanfaat dalam menstabilkan suhu

tubuh bayi, stabilitas denyut jantung dan pernafasan, perilaku bayi lebih baik,

kurang

menangis

dan

sering

menyusu,

penggunaan

kalori

berkurang,

kenaikan berat badan bayi lebih baik,waktu tidur bayi lebih lama, hubungan

lekat bayi- ibu lebih baik dan akan mengurangi terjadinya infeksi pada bayi

(Perinansia, 2008 cit Syamsu, 2013).

Berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai keterbatasan dalam

pengaturan fungsi tubuhnya, salah satunya adalah ketidakstabilan suhu tubuh,

sehingga dapat menyebabkan hipotermi pada bayi BBLR. Kangaroo Mother

Care (KMC) merupakan salah satu solusi pencegahan hipotermi pada BBLR.

Prinsipnya skin to skin contact yaitu perpindahan panas secara konduksi dari

ibu ke bayi sehingga bayi tetap hangat. Suhu tubuh ibu merupakan sumber

panas yang efisien dan murah, dapat memberikan lingkungan hangat pada

bayi, juga meningkatkan hubungan ibu dengan bayinya (Sri angriani, dkk

2014)

Adanya kejadian peningkatan angka kematian sepsis neonatorium

cukup tinggi maka metode kangaroo mother care (KMC) sangat dibutuhkan

untuk mengatasi kenaikan angka kematian bayi BBLR.

Penulis melakukan metode kangaroo mother care (KMC) karena di

RS orang tua atau ibu belum percaya dengan manfaat yang ditumbulkan

setelah perawatan KMC, maka sebelum melakukan pengaplikasian KMC

pada BBLR penulis harus melakukan edukasi mengenai KMC sebab orang

tua belum mengatahui keuntungan dan pentingnya KMC untuk BBLR, selain

5

itu orang tua takut karena perawatan KMC dilakukan perawatan bayinya di

RS semakin lama.

Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk

melakukan metode kanguru pada pasien yang sedang mengalami hipotermi

pada BBLR sebab BBLR lebih sering mengalami hipotermia karena BBLR

mudah kehilangan panas karena lemak di dalam kulit sedikit dan tipis.

B. Tujuan penulisan

1. Tujuan umum

Untuk mengaplikasikan tindakan pemberian metode kanguru mother care

(KMC) terhadap kestabilan suhu tubuh By.Ny Y dengan BBLR diruang

HCU Neonatus.

2. Tujuan khusus

a. Penulis

mampu

melakukan

pengkajian

pada

By.Ny

Y

dengan

hipotermi pada bayi berat lahir rendah (BBLR).

b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada By.Ny Y

dengan hipotermia pada bayi berat lahir rendah (BBLR).

c. Penulis mampu menyusun intervensi atau perencanaan pada By.Ny

Y dengan hipotermi pada bayi berat lahir rendah (BBLR).

d. Penulis mampu melakukan implementasi pada By.Ny Y dengan

hipotermi pada bayi berat lahir rendah (BBLR) .

e. Penulis mampumelakukan evaluasi pada By.Ny Y dengan hipotermi

pada bayi berat lahir rendah (BBLR).

6

f. Penulis mampu menganalisa hasil pemberian metode kanguru pada

By.Ny Y dengan hipotermi pada BBLR.

C. Manfaat penulisan

1. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan

a. Dapat mengembangkan pengetahuan tentang metode kanguru dalam

keperawatan anak dengan bayi berat lahir rendah (BBLR).

b. Menambah pengetahuan dan memperluas wawasan penulis dalam

mengaplikasikan metode kanguru dalam keperawatan anak dengan

BBLR.

2. Bagi pendidik

Sebagai bahan refrensi untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan

dengan pemberian metode kanguru pada pasien berat bayi lahir rendah

(BBLR) dengan hipotermi.

3. Bagi rumah sakit

Sebagai bahan masukan dalam pelaksanaan

dan meningkatkan asuhan

keperawatan secara komprehensif melalui terapi nonfarmakologi dengan

metode kanguru pada pasien BBLR dengan hipotermi.

4. Bagi profesi keperawatan

Agar dapat mengaplikasikan teknik metode kanguru pada pasien BBLR.

5. Bagi orang tua.

Agar orang tua dapat mengaplikasikan metode kanguru dalam merawat

anaknya dengan berat bayi lahir rendah (BBLR).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan teori

1. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

a. Pengertian BBLR

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan

lahir kurang dari 2500 gram (Arif & Weni, 2009). Bayi berat lahir

rendah merupakan bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang

dari 2500 gram (Sujono & Suharsono, 2010).

Bayi BBLR adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari

2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan (Atikah & Cahyo,

2010).

BBLR sendiri dapat dibagi menjadi 2 (dua) golongan, bayi

dengan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) yaitu dengan berat

lahir 1000-1500 gram dan berat badan lahir amat sangat rendah

(BBLASR)

yaitu

dengan

(Atikah & Cahyo, 2010)

berat

badan

kurang

1000

gram

Menurut Protokol Asuhan Neonatal (2008), cit Rahmawati

(2011), semua bayi yang lahir dengan berat samaatau kurang dari

2.500 gram disebut bayi berat lahir rendah (BBLR).

7

8

b. Klasifikasi BBLR

Ada beberapa cara dalam mengelompokkan bayi BBLR menurut

Atikah & Cahyo, (2010) sebagai berikut:

1)

Menurut harapan hidupnya :

a) Bayi berat lahir rendah (BBLR) berat lahir 1500 2500 gram

b) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) berat lahir 1000

1500 gram

c) Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) berat lahir kurang

dari 1000 gram

2)

Menurut masa gestasinya :

a) Prematuritas murni

yaitu masa gestasinya kurang dari 37

minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk

masa gestasi berat atau biasa disebut neonatus kurang bulan

sesuai untuk masa kehamilan (NKB SMK).

b) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari

berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berat bayi

mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan

bayi yang kecil untukmasa kehamilan (KMK).

c.

Patofisiologi

Temperatur dalam kandungan 37 0 C sehingga bayi setelah lahir dalam

ruangan suhu temperaturruangan 28-32 0 C. Perubahan temperatur ini

perlu diperhatikan pada BBLR karena belum bisa mempertahankan suhu

normal yang disebabkan:

9

1)

Pusat pengaturan suhu badan masih dalam perkembangan.

 

2)

Intake cairan dan kalori kurang dari kebutuhan.

 

3)

Cadangan energi sangat kurang.

 

4)

Luas permukaan tubuh relatif luas sehingga resiko kehilangan panas

lebih besar.

 

5)

Jaringan lemak subkutan lebih tipis sehngga kehilangan panas lebih

besar.

6)

BBLR sering terjadi penurunan berat badan disebabkan: malas

minum dan pencernaan masih lemah.

 

7)

BBLR

rentan

infeksi

sehingga

terjadi

sindrom

gawat

nafas,

hipotermi, tidak stabil sirkulasi (edema), hipoglikemi, hipokalsemia,

dan hiperbilirubin (Sudarti & Afroh, 2013).

d. Penyebab BBLR

Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur.

Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta

seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin

juga merupakan penyebab terjadinya BBLR (Pantiawati, 2010).

BBLR dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

1)

Faktor ibu

a)

Penyakit:

(1)

Toksemia gravidarum

(2)

Perdarahan abtepartum

(3)

Trauma fisik danpsikologi

10

(4)

Nefritis akut

(5)

Diabetes militus

b) Usia ibu:

(1)

Usia < 16 tahun

(2)

Usia> 35 tahun

(3)

Multigravida yang jarakkelahirannya terlalu dekat

c) Keadaan social:

(1)

Golongan soial ekonomi rendah

(2)

Perkawinan yang tidak sah

d) Sebab lain dari terjadinya BBLR :

(1)

Ibu yang perokok

(2)

Ibu peminum alcohol

(3)

Ibu pecandu narkoba

2)

Faktor janin

a) Hidramnion

b) Kelahiran ganda

c) Kelahiran kromosom

3)

Faktor lingkungan

a) Tempat tinggal dataran tinggi

b) Radiasi

c) Zat-zat racun

(Pantiawati, 2010).

11

e. Manifestasi klinis BBLR

Manifestasi klinis BBLR menurut Sudarti & Afroh, (2013) sebagai

berikut :

1)

BB < 2500 gram.

2)

PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm.

3)

Kepala bayi lebih besar dari badan, rambut kepala tipis dan halus,

daun telinga elastis.

4)

Dada: dinding thorax elastis, puting susu belum terbentuk.

5)

Abdomen: distensi abdomen, kulit perut tipis, pembuluh darah

kelihatan.

6)

Kulit: tipis, transparan, pembuluh darah kelihatan.

7)

Jaringan lemak subkutan sedikit, lanugo banyak.

8)

Genetalia: laki-laki skrotum sedikit, testis tidak teraba, perempuan

labia mayora hampir tidak ada, klitoris menonjol.

9)

Ekstremitas: kadang odema, garis telapak kaki sedikit.

10) Motorik: pergerakan masih lemah.

f. Masalah jangka pendek yang terjadi pada BBLR

Pada bayi prematur dengan BBLR ada beberapa resiko permasalahan

yang mungkin timbul menurut Atikah & Cahyo, (2010) sebagi berikut:

1)

Gangguan metabolik

a) Hipotermia

b) Hipoglikemia

c) Hiperglikemia

12

2)

Gangguan imunitas

3)

Gangguan pernafasan

Tabel 2.1 Evaluasi gawat nafas dengan skor Downes

Pemeriksaan

Skor

0

1

2

Frekuensi nafas

<60/menit

60-80/menit

>80/menit

Retraksi

Tidak ada retraksi

Retraksi ringan

Retraksi berat

Sianosis

Tidak ada

Sianosis hilang

Sianosis menetap walaupun diberi

sianosis

dengan O2

 

O2

Air entry

Udara masuk

Penurunan

Tidak ada udara masuk

 

ringan udara

masuk

Merintih

Tidak merintih

Dapat didengar

Dapat didengar tanpa alat bantu

 

dengan

stetoskop

(Sumber: Wood DW, Downes’ Locks HI.)

Keterangan:

 

Total

Diagnosis

1

3

sesak nafas ringan

4

5

sesak nafas sedang

>6

sesak nafas berat

13

 

4)

Gangguan sistem peredaran darah

5)

Gangguan cairan dan elektrolit

g.

Perawatan BBLR

Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam penanganan pada BBLR:

1)

Mempertahankan suhu dengan ketat.

 

BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya

harus dipertahankan dengan ketat.

 

2)

Mencegah infeksi dengan ketat.

 

BBLR rentan akan infeksi, perhatikan prinsip-prinsip pencegahan

infeksi termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi.

 

3)

Pengawasan nutrisi/ASI.

 

Reflek menelan BBLR belum sempurna, oleh sebab itu pemberian

nutrisi harus dilakukan dengan cermat.

 

4)

Penimbangan ketat.

5)

Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi/nutrisi bayi dan

 

erat kaitannya dengandaya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan

berat badan harus dilakukan dengan ketat (Rahmayanti, 2011)

2.

Asuhan keperawatan pada BBLR

a.

Pengkajian

Pengkajian dilakukan dari ujung kaki hingga ujung rambut, meliputi

semua system pada bayi. Pengkajian diawali dari anamnesis dan

14

pemeriksaan fisik. Lakukan pemeriksaan dengan teliti, semua aspek

berikut:

1)

Kulit keriput, penuh lanugo pada dahi, pelipis, telinga dan

lengan, lemak jaringan sedikit (tipis),

2)

Kuku jari tangan dan kaki belum mencapai ujung jari,pada bayi

laki-laki testis belum turun,

3)

Pada bayi perempuan lebih mayora lebih menonjol,

4)

Gerakan bayi pasih dan tangis hanya merintih, walaupun lapar

bayi tidak menangis, bayi lebih banyak tidur dan lebih malas,

5)

Suhu tubuh lebih mudah hipotermi,

6)

Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu,

7)

Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram,

8)

Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm, lingkar

kepala sama dengan atau kurang dari 46 cm, lingkar kepala

sama dengan atau kurang dari 33 cm, lingkar dada sama dengan

atau kurang dari 30 cm.

9)

Rambut lanugo masih banyak.

10) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang.

11) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya.

12) Tumit mengkilap telapak kaki halus.

13) Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh

labia mayora, klitoris menonjol (pada bayi perempuan). Testis

15

belum turun ke dalam skrutom, pigmentasi dan rugue pada

skorutum kurang (pada bayi laki-laki).

14) Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya

lemah.

15) Fungsi saraf yang belum atau tidak efektif dan tangisnya lemak.

16) Jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan

otot dan jaringan lemak masih kurang.

17) Verniks kaseose tidak ada atau sedikit bila ada (Atikah, 2010).

Pemeriksaan

1)

Fisik

a) Bayi kecil, pergerakkan kurang dan lemah, BB <2500 gr,

tangis lemah.

b) Kulit dan kelamin

c) Kulit tipis, trasparan, genetalia belum sempurna.

d) Lingkaran lengan atas bayi kurang dari 9 cm. (diukur pada

pertengahan lengan atas). Tubuhnya kurang berisi, ototnya

lembek dan kulitnya mungkin keriput atau tipis.

e) Mudah tersedak.

2)

Syaraf

a) Reflek menghisap, menelan buruk.

b) Reflek batuk belum sempurna.

16

3)

Muskuloskeletal

Otot hipotonik, tungkai abduksi, sendi lutut dan kaki fleksi.

4)

Sistem Pernapasan

 

Nafas

belum

teratur,

apnea,

frekuensi

napas

bervariasi

(Atikah & Cahyo, 2010).

b. Diagnosa Keperawatan

 

1)

Ketidakefektifan

pola

nafas

berhubungan

dengan

imaturitas

neurologis.

2)

Hipotermia

berhubungan

dengan

penguapan/

evaporasi

dari

kulit dilingkungan yang dingin.

3)

Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan imaturitas reflek menghisap.

4)

Ketidakefektifan

bersihan

jalan

nafas

berhubungan

dengan

mucusa dalam jumlah berlebihan.

5)

Resiko infeksi berhubungan dengan malnutrisi.

c. Rencana Keperawatan

1)

Ketidakefektifan

neurologis.

pola

nafas

a) Kriteria hasil :

berhubungan

dengan

imaturitas

(1) Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang

bersih, tidak ada sianosis dan suara nafas yang bersih,

tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan

17

sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada

pussed lips)

(2) Menunjukkan jalan nafas yang paten(klien tidak merasa

tercekik,

irama

nafas,

frekuensi

pernafasan

dalam

rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)

(3) Tanda tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah,

nadi, pernafasan)

b) NOC

(1)

(2)

Respiratory status : ventilation

Respiratory status : Airway patency

(3) Vital sign status

c) NIC

Airway Management

(1) Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw

(2)

thrust bila perlu

Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi

(3) Identifikasi

pasien

nafas bantuan

perlunya

pemasangan

alat

jalan

(4)

Pasaang mayo bila perlu

(5)

Lakkan sisioterapi dada bila perlu

(6)

Keluarkan sekret dengan batuk atau suction

(7)

Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan

(8)

Lakukan suction pada mayo

18

(9) Berikan bronkodilator bila perlu

(10) Berikan pelembab udara kassa basah NaCl lembab

(11) Atur

intake

keseimbangan

untuk

cairan

mengoptimalkan

(12) Monitor respirassi dan status O2

Oxygen Therapy

(1)

Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea

(2)

Pertahankan jalan nafas yang paten

(3)

Atur peralatan oksigenasi

(4)

Monitor aliran oksigen

(5)

Pertahankan posisi pasien

(6)

Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi

(7)

Monitor adanya kecemasan pasien oksigenasi

Vital sign Monitoring

(1)

Monitur TD, nadi, suhu, dan RR

(2)

Catat adanya fluktuasi tekanan darah

(3)

Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri

(4)

Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan

(5) Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama dan setelah

aktivitass

(6)

Monituor kualitas nadi

(7)

Monitor frekuensi dan irama pernafasan

(8)

Monitor suara paru

19

(9) Monitor pola pernafasan abnormal

(10) Monitor suhu,warna, dan kelembaban kulit

(11) Monitor sianosis perifer

(12) Monitor

adanya

cushing

triad

(tekanan

nadi

yang

melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)

(13) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

2)

Hipotermia berhubungan dengan penguapan/ evaporasi dari kulit

dilingkungan yang dingin.

a) Kriteria hasil

(1)

Suhu tubuh dalam rentang normal

(2)

Nadi dan RR dalam rentang normal

b) NOC

(1) Thermoregulation

(2)

c) NIC

Thermoregulation : neonate

Temperature rgulation

(1)

Monitor suhu tubuh minimal tiap 2 jam

(2)

Berikan perawatan metode kanguru

(3)

Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu

(4)

Monitor TD, nadi, dan RR

(5)

Monitor warna dan suhu kulit

(6)

Monitor tanda-tanda hipotermia dan hipertermia

(7)

Tingkatkan intake cairan dan nutrisi

20

(8)

Selimuti

pasien

untuk

mencegah

hilangnya

kehangatan tubuh

 

(9)

Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat

panas

(10)

Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan

kemungkinan efek negatif dari kedinginan

 

(11)

Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan

penanganan emergency yang diperlukan

 

(12)

Ajarkan indikasi dari hipotermia dan penaganan yang

diberikan

(13)

Berikan anti piretik jika perlu

 

Vital sign Monitoring

(1)

Monitor TD, nadi, suhu, dan RR

(2)

Catat adanya fluktuasistekanan darah

(3)

Monitor VS saat pasien berbaring, duduk atau berdiri

(4)

Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan

(5)

Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah

aktivitas

(6)

Monitor kualitas dari nadi

(7)

Monitor frekuensi dan irama pernafasan

(8)

Monitor suara paru

(9)

Monitor pola pernafasan abnormal

(10)

Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit

21

(11)

Monitor sianosis perifer

(12)

Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang

melebar, bradikardi, peningkatan sistolik

(13)

Identifikasi penyebab dari perubahan vita sign

3)

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungn dengan imaturitas reflek menghisap.

a) Kriteria hasil

(1)

(2)

(3)

(4)

Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan

Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

(5)

Menunjukkan

peningkatan

fungsi

pengecapan

dari

menelan

(6)

b) NOC

Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

(1) Nutrition status :

(2)

(3)

(4)

c) NIC

Nutritional statu : food and Fluid Intake

Nutritional status : nutrient intake

Weight control

Nutrition Management

(1) Kaji adanya alergi makanan

22

(2)

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah

kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien

 

(3)

Anjurkan

pasien

untuk

meningkatkan

intake

Fe,

protein, dan vitamin c

 

(4)

Berikan substansi gula

(5)

Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat

untuk mencegah konstipasi

 

(6)

Berikan makanan yang terpilih

 

(7)

Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan

harian

(8)

Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

 

(9)

Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

 

(10)

Kaji kemampuan pasien untuk mendapat nutrisi yang

dibutuhkan

Nutrition Monitoring

(1) BB pasien dalam batas normal

(2)

Monitor adanya penurunan berat badan

 

(3)

Monitor

tipe

dan

jumlah

aktivitas

yang

biasa

dilakukan

(4)

Monitor interaksi anak dan orang tua selama makan

(5)

Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam

makan

(6)

monitor mual muntah

 

23

(7)

monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar

Ht

(8)

monitor makannan kesukaan

(9)

monitor pertumbuhan dan perkembangan

(10)

monitor kalori dan intake nutrisi

(11)

catat adanya edema, hiperemeik, hipertonik papila

lidah dan cavitas oral

4)

ketidakefektifan

bersihan

jalan

nafas

mukosa dalam jumlah berlebih

a) kriteria hasil

berhubungan

dengan

(1)

Mendemonstrasikan

batuk

efektif

dan

suara

nafas

yang bersih, tidak ada sianosis dan suara nafas yang

bersih,

tidak

ada

sianosis

dan

dyspneu

(mampu

mengeluarkan

sputum,

mampu

bernafas

dengan

mudah, tidak ada pursed lips)

 

(2)

Menunjukkan

jalan

nafas

yang

paten(klien

tidak

merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan

dalam

rentang

normal,

tidak

ada

suara

nafas

abnormal)

 

(3)

Mampu mengidentifikasi dan mencegah factor yang

dapat menghambat jalan nafas

24

b) NOC

(1) Respiratory status : Ventilation

(2)

(3)

c) NIC

Respiratory status : Aieway prtency

Aspiration control

Airway suction

(1)

Auskultasi suara nafas sebelum sebelum dan sesudah

suctioning

(2)

Informasikan

pada

klien

dan

keluarga

tentang

suctioning

(3)

Berikan O2 dengan menggunakan nasal kanul untuk

memfasilitasi suksion nasotrakeal

 

(4)

Monitor status oksigen pasien

 

(5)

Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila pasien

menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi O2, dll

5)

Resiko infeksi berhubungan dengan malnutrisi

a) Kriteria hasil

(1) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

(2)

Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya

infeksi

(3)

Jumlah leukosit dalam batas normal

(4)

Menunjukkan perilaku hidup sehat

25

b) NOC

(1) Immune Status

(2)

(3)

Knowledge : infection control

Risk control

c) NIC

Infection Control (kontrol infeksi)

(1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain

(2)

Pertahankan teknik isolasi

(3)

Batasi pengunjung bila perlu

(4)

Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan

alat

(5)

Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing

sesuai dengan petunjang umum

(6)

Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan

saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan

pasien

(7)

Berikan terapi antibiotik bila perlu

Infektion protection (proteksi terhadap infeksi)

(1) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokasi

(2)

Monitor hitung granulosit, WBC

(3)

Pertahankan tekik isolasi k/p

(4)

Berikan perawatan kulit pada area epidma

26

 

(5)

Dorong masukan nutrisi yang cukup, masukan cairan,

 

dan istirahat

 

(6)

Ajarkan cara menghindari infeksi

 

(7)

Laporkan

kecurigaan

infeksi

dan

kultur

positif

 

(Sujono & Suharsono, 2010).

 

3.

Hipotermi

Suhu diatur oleh pusat termoregulator di hipotalamus melalui

beberapa mekanisme fisiologis, misalnya berkeringat, dilatasi/konstriksi

pembuluh darah perifer, dan minggigil (Philip & Beverley ,2008).

Termoregulasi atau pengaturan suhu tubuh pada BBL merupakan

yang sangat penting dan menantang dalam perawatan BBL. Banyak faktor

yang

berperan

dalam

termoregulasi

seperti

umur,

berat

badan,

luas

permukaan tubuh dan kondisi lingkungan (Yunanto, 2010).

Hipotalamus

adalah

pusat

integrasi

utama

untuk

memelihara

keseimbangan energi dan suhu tubuh (Debura, 2013). Hipotermia dapat

disebabkan oleh karena terpapar dengan lingkungan yang dingin (suhu

lingkungan rendah, permukaan yang dingin atau basah) atau bayi dalam

keadaan basah atau tidak berpakaian (yunanto, 2010).

Hipotermia dinyatakan pada saat hasil pengukuran suhu tubuh <

35 0 C.

Hipotermia

ditandai

dengan

penurunan

metabolisme

tubuh,

menyebabkan

penurunan

frekuensi

nadi,

repirasi,

dan

tekanan

darah

(Debora, 2013).

27

Faktor faktor yang mempengaruhi suhu tubuh

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengaturan suhu tubuh, antara

lain sebagai berukut :

a. Laju metabolisme basal semua sel tubuh.

b. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan oleh aktivitas otot,

termasuk kontraksi otot karena menggigil.

c. Metabolisme tambahan yang disebabkan oleh tiroksin terhadap sel.

d. Metabolisme

tambahan

karena

efek

epinefrin,

norepinefrin,

dan

rangsangan simpatis terhadap sel.

 

e. Metabolisme

tambahan

akibat

aktivitas

kimiawi

dalam

sel,

bila

temperatur sel meningkat (Debora, 2013).

1)

Pengertian hipotermi

 

Hipotermi

adalah

bayi

baru

lahir

dengan

suhu

tubuh

sampai di bawah 36,5 0 c 37,5 0 c. Hipotermi sering terjadi pada

neonatus BBLR karena jaringan lemak subkutan rendah dan luas

permukaan tubuh relatif besar dibandingkan bayi BBLC (Sudarti

& Afroh, 2013).

2)

Etiologi

BBLR

dapat

mengalami

hipotermi

melalui

beberapa

mekanisme,

yang berkaitan

dengan kemampuan tubuh untuk

menjaga keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan

panas:

28

Adapun mekanisme tubuh kehilangan panas menurut Philip &

Beverley, (2008) sebagai berikut :

a) Evaporasi

adalah

jalan

utama

bayi

kehilangan

panas.

Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan

ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri

karena

setelah

lahir,

tubuh

bayi

tidak

segera

dikeringkan.Kehilangan panas juga terjadi pada bayi yang

terlalu

cepat

dimandikan

dikeringkan dan diselirnuti.

dan

tubuhnya

tidak

segera

b) Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak

langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin.

Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih

rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi

melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakkan di atas

benda-benda tersebut.

c) Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat

bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang

dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin

akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas

juga

terjadi

jika

terjadi

aliran

udara

dari

kipas

angin,

hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.

d) Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi

ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu

29

tubuh lebih rendah dan suhu tubuh bayi. Bayi bisa kehilangan

panas dengan caraini karena benda-benda tersebut menyerap

radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara

langsung)

Menurut Sudarti & Cahyo, (2013) faktor-faktor yang menyebabkan

hipotermi sebagai berikut:

a. Kesalahan perawatan bayi segera setelah lahir.

b. Bayi dipisahkan dengan ibunya setelah lahir.

c. BBLR.

d. Kondisi ruang yang dingin.

e. Asfiksia, hipoksia

Tanda dan Gejala Hipotermia

Tanda dan gejala hipotermia menurut Sudarti & Cahyo, (2013) sebagai

berikut :

a. Vasokontriksi perifer

1)

Akral sianosis, ekstermitas dingin

2)

Perfusi menurun

b. Depresi susunan saraf pusat

1)

Letargis, bradikardi, apnea, tidak mau minum.

c. Penurunan metabolisme

1)

Hipoglikemia, hipoksia, asidosis

30

d. Penurunan tekanan a. Pulmonal

1)

Distress, takipnea

Tanda-tanda kronis

2)

Penurunan BB, BB sulit naik

TEMPERATUR AKSILA PADA BAYI BARU LAHIR

37,5 0 C Batas Normal 36,5 0 c Setres Dingin Perlu Perhatian 36,0 0 c
37,5 0 C
Batas Normal
36,5 0 c
Setres Dingin
Perlu Perhatian
36,0 0 c
Hipotermia Sedang
Bahaya, hangatkan bayi
32,0 0 c

Hipotermia Berat

Prognosis buruk butuh tenaga terlatih

Gambar 2.1 Temperatur aksila pada bayi baru lahir

4. Perawatan metode kanguru atau Kangaroo Mother Care (KMC)

a. Pengertian perawatan metode kanguru

KMC adalah kontak kulit diantara ibu dan bayi secara dini,

terus-menerus

dan

dikombinasi

dengan

pemberian

ASI

eksklusif

(Yongky dkk, 2012). Salah satu cara untuk mengurangi kesakitan dan

kematian BBLR adalah dengan Perawatan Metode Kanguru (PMK)

atau perawatan bayi lekat yang ditemukan sejak tahun 1983. PMK

31

adalah perawatan bayi baru lahir dengan melekatkan bayi di dada ibu

(kontak kulit bayi dan kulit ibu) sehingga suhu tubuh bayi tetap

hangat. Perawatan metode ini sangat menguntungkan untuk bayi berat

lahir rendah (Atikah & Afroh, 2010).

Perawatan metode kanguru adalah perawatan untuk bayi berat

lahir rendah dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi

dengan kulit ibu (skin to skin contact) (Depkes RI,2009).

Istilah

perawatan

metode

kanguru

(PMK)

diambil

dari

pengamatan pada kanguru yang memiliki kantung pada perutnya, yang

berfungsi untuk melindungi bayinya tidak hanya melindungi bayi yang

premature

tetapi

merupakan

suatu

tempat

yang

memberikan

kenyamanan yang sangat esensial bagi pertumbuhan bayi. Di dalam

kantong ibu, bayi kanguru dapat merasakan kehangatan, mendapat

makanan(susu),

kenyamanan,

stimulasi,

dan

perlindungan.

Bayi

dibawa kemana saja setiap saat tanpa interupsi (Desmawati, 2011 cit

Rahmayanti, 2011)

Perawatan metode kanguru dapat dilakukan dengan 2 cara.

Pertama, secara terus menerus dalam 24 jam atau dengan cara selang

seling. Perawatan metode kanguru disarankan untuk dilakukan secara

kontinyu, akan tetapi rumah sakit yang tidak menyediakan fasilitas

rawat gabung dapat menggunakan Perawatan Metode Kanguru secara

intermiten. Pelaksanaan Perawatan Metode Kanguru secara intrmiten

32

juga memberikan manfaat sebagai pelengkap perawatan konvensional

atau incubator (Deswita dkk, 2011 cit Rahmayanti, 2011).

b. Keuntungan pelaksanaan Metode Kanguru

Sebelum mempelajari manfaat dan penerapan PMK sebaiknya

diketahui tentang proses kehilangan panas pada bayi baru lahir. Pada

intinya ada 4 cara kehilangan panas padabayi baru lahir, yaitu :

1)

Radiasi

: aliran panas dari suhu yang lebih tinggi

(tubuh) ke

 

suhu

yang

lebih

rendah

(lingkungan

di

sekitar

tubuh).

 

2)

Konduksi

: pemindahan panas akibat kontak langsung dengan

 

permukaan yang lebih dingin.

 

3)

Konveksi

: pemindahan panas melalui aliran atau pergerakan

 

udara.

4)

Evaporasi

: perspirasi, respirasi, dan rusaknya integritas kulit

(Philip & Beverley, 2008).

Keuntungan dan manfaat PMK adalah: suhu tubuh bayi tetap

normal,

mempercepat

pengeluaran

(ASI)

dan

meningkatkan

keberhasilan menyusui, perlindungan bayi dari infeksi, berat badan

bayi cepat naik, stimulasi dini, kasih sayang, mengurangi biaya rumah

sakit

karena

waktu

perawatan

yang

pendek,

tidak

memerlukan

inkubator dan efisiensi tenaga kesehatan (Atikah & Afroh, 2010).

Adapun manfaat lain dari perawatan kangroo mother care

(KMC) yaitu ikatan emosional ibu dan bayi, posisi bayi tegak akan

33

membantu

bayi

bernafas

secara

teratur,

menyiapkan

ibu

untuk

merawat bayi BBLR di rumah, melatih bayi untuk menghisap dan

menelan secara teratur dan terkoordinasi (Sudarti &afroh , 2013).

1)

Manfaat perawatan metode kanguru bagi bayi

Berbagai peneliti menyebutkan bahwa manfaat perawatan metode

kanguru pada BBLR adalah:

a) Suhu

tubuh

incubator,

bayi

b) Pola

pernafasan

lebih

stabil

bayi

menjadi

kejadian apnea periodic),

c) Denyut jantung lebih stabil,

daripada

yang

lebih

teratur

dirawat

di

(mengurangi

d) Pengaturan perilaku pada bayi lebih baik, misalnya frekuensi

menangis bayi kekurang dan sewaktu bangun bayi lebih

waspada,

e) Bayi

lebih

sering

minum

ASI dan

lama

menetek

lebih

panjang serta peningkatan produksi ASI,

f) Pemakaian kalori lebih kurang,

g) Kenaikan berat badan lebih baik,

h) Waktu tidur bayi lebih lama,

i) Hubungan lekat bayi ibu lebih baik serta berkurangnya

kejadian infeksi,

j) Efisiensi anggaran (Rahmayanti, 2011).

34

2)

Manfaat perawatan metode kanguru bagi ibu

 

Menurut Depkes RI (2008) dari beberapa penelitian KMC

dapat mempermudah pemberian ASI, ibu lebih percaya diri dalam

merawat bayi, hubungan lekat bayi-ibu lebih baik, ibu sayang

kepada bayinya, pengaruh psikologis ketenangan bagi ibu dan

keluarga (ibu lebih puas, kurang merasa stress), peningkatan lama

menyusui dan kesuksesan dalam menyusui (Rahmayanti, 2011).

3)

Manfaat perawatan metode kanguru bagi ayah

 

a) Ayah memainkan perasaan yang lebih besar dalam perawatan

bayinya.

b) Meningkatkan

hubungan

antara

ayah-bayinya,

terutama

berperan penting di Negara dengan tingkat kekerasan pada

anak yang tinggi (Rahmayanti, 2011).

 

4)

Manfaat perawatan metode kanguru bagi petugas kesehatan

Bagi petugas kesehatan paling sedikit akan bermanfaat dari

segi efisiensi tenaga karena ibu lebih banyak merawat bayinya

sendiri. Dengan demikian beban kerja petugas akan berkurang.

Bahkan

petuas

justru

dapat

melakukan

tugas

lain

yang

memerlukan perhatian petugas misalnya pemeriksaan lain atau

kegawatan pada bayi maupun memberikan dukungan kepada ibu

dalam menerapkan PMK (Depkes RI,2008 cit Rahmayanti, 2011).

35

c. Standard Operasional Prosedur (SOP) metode kanguru

Standar Operasional Prosedur Perawatan Metode Kanguru dari rumah

sakit. Sebagai berikut:

Kebijakan kriteria bayi KMC

1)

Berat badan lahir kurang dari 2500 gram,

2)

Semua keadaan patologis sudah teratasi,

3)

Mampu untuk menghisap-menelan dan bernafas sudah baik,

4)

Berat badan selama di Inkubator meningkat (15-20 gr/hari selama

> 8hari),

5)

Ibu, suami atau pengganti ibu lainnya sehat dan mampu serta

mampu merawat bayi dengan metode kanguru.

Perawatan metode kanguru

Menurut Atikah & Candra ,(2010) perawatan metode kanguru dibagi

menjadi dua yaitu:

1)

KMC intermiten, yaitu KMC degan jangka waktu yang pendek

(perlekatan

lebih

dari

satu

jam

per

hari)

dilakukan

saat

ibu

berkunjung.

KMC

ini

dioeruntukkan

bagi

bayi

dalam

proses

penyembuhan yang masih memerlukan pengobatan medis (infus,

oksigen).

2)

KMC kontinu yaitu KMC dengan jangka waktu yang lebih lama

daripada

KMC

intermiten.

Pada

metode

dilakukan selama 24 jam sehari.

ini

perawatan

bayi

36

B. Kerangka teori

Skema kerangka konsep :

Etiologi

36 B. Kerangka teori Skema kerangka konsep : Etiologi Faktor plasenta Faktor ibu Faktor janin BBLR

Faktor plasenta

Faktor ibu

Faktor janin

BBLR
BBLR

Permukaan tubuh relatif lebih luas

ibu Faktor janin BBLR Permukaan tubuh relatif lebih luas Jaringan lemak subkutan lebih tipis Penguapan berlebih

Jaringan lemak subkutan lebih tipis

tubuh relatif lebih luas Jaringan lemak subkutan lebih tipis Penguapan berlebih Pernafasan dengan suhu luar
Penguapan berlebih Pernafasan dengan suhu luar Kehilangan panas melalui kulit Kekurangan cadangan energi
Penguapan
berlebih
Pernafasan
dengan suhu luar
Kehilangan panas
melalui kulit
Kekurangan
cadangan energi
Kehilangan
Kehilangan
Malnutrisi
Metode Kanguru
cairan
panas
Dehidrasi
Hipotermia
Hipoglikemia
Mempertahankan suhu
dalam batas normal 36,5 0 C –
37,5 0 C

Gambar 2.2 Kerangka teori

37

C. Kerangka konsep

Hipotermia berhubungan dengan pemajanan lingkungan yang dingin

(00006)

dengan pemajanan lingkungan yang dingin (00006) Metode kangaroo mother care (KMC) Gambar 2.3 Kerangka

Metode kangaroo mother

care (KMC)

Gambar 2.3 Kerangka konsep

BAB III

METODE PENYUSUNAN KTI APLIKASI RISET

A. Subjek aplikasi riset

Subjek yang digunakan dalam aplikasi riset ini adalah pasien dengan

BBLR yang mengalami hipotermia.

B. Tempat dan waktu

1. Tempat : Di ruang HCU Neonatus RSUD dr. Moewardi Surakarta.

2. Waktu : Metode kanguru dilakukan pada tanggal 15 maret 2015 sampai

tanggal 17 maret 2015 pada jam 08.30 dilakukan selama 2,5 jam dan

dilakukan selama 3 hari.

C. Media dan alat yang digunakan

1. Waslap

2. Baju untuk ibu

3. Tutup kepala

4. Popok

5. Selendang kanguru atau gendongan kanguru

6. Kaos kaki

7. Termometer

38

39

D. Prosedur tindakan berdasarkan aplikasi riset

Posisi bayi

Beri bayi pakaian, beri topi , popok dan kaus kaki yang telah dihangatkan

lebih

dahulu

kemudian

letakkan

bayi

di

dada

ibu.

Letakkan bayi diantara

payudara dengan posisi tegak atau vertikal, dada bayi menempel pada pada

ibu. Posisi ibu dijaga dengan kain panjang atau pengikat lainnya. Kepala bayi

dipalingkan kesisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah (ekstensi).

Ujung pengikat tepat berada dibawah kuping bayi. Tungkai bayi haruslah

dalam posisi “kodok”, tangan harus dalam posisi fleksi. Ikatkan kain dengan

kuat agar saat ibu bangun dari duduk, bayi tidak tergelincir.Pastikan juga

bahwa ikatan yang kuat dari kain tersebut menutupi dada si bayi. Perut bayi

jangan sampai tertekan dan sebaiknya berada di sekitar epigastrium ibu.

Dengan cara ini ibu dapat melakukan pernafasan perut (Rahmayanti, 2011).

Tahap-tahap dalam pelaksanaan PMK adalah sebagai berikut:

1. Cuci tangan, keringkan dan gunakan gel hand rub.

2. Ukur suhu bayi dengan termometer.

3. Pakaikan baju kanguru pada ibu.

4. Bayi dimasukkan dalam posisi kanguru, menggunakan topi, popok dan

kaus kaki yang telah dihangatkan lebih dahulu.

5. Letakkan bayi di dada ibu, dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan

pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi

dengan siku dan tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak di dada

ibu dengan kepala agak sedikit mendongak.

40

6. Dapat pula ibu memakai baju dengan ukuran besar, dan bayi diletakkan

di antara payudara ibu, baju ditangkupkan, kemudian ibu memakai

selendang yang dililitkan di perut ibu agar bayi tidak jatuh.

7. Setelah posisi bayi baik, baju kanguru diikat untuk menyangga bayi.

Selanjutnya ibu bayi dapat beraktifitas seperti biasa sambil membawa

bayinya dalam posisi tegak lurus di dada ibu (skin to skin contact) seperti

kanguru.

(Atikah dan cahyo, 2010)

Berikut adalah cara memasukkan dan mengeluarkan bayi dari baju

kanguru, misalnya saat akan disusui:

1. Pegang

bayi

pada

punggung bayi.

satu

tangan

diletakkan

dibelakang

leher

sampai

2. Topang bagian bawah rahang bayi dengan ibu jari dan jari-jari lainnya

agar kepala bayi tidak tertekuk dan tak menutupi saluran nafas ketika

bayi berada pada posisi tegak.

3. Tempat kantangan lainnya dibawah pantat bayi.

Yang perlu diperhatikan:

1. Selama

penggunaan

metode

kanguru

ibu

atau

pengganti

ibu

tidak

memakai BH dan baju dalam.

 

2. Pakai baju yang longgar.

 

3. Menghangatkan

baju

atau

selendang

metode

kanguru

dengan

cara

dijemur dibawah sinar matahari atau disetrika.

41

4. Lepaskan bayi dari selendang kangguru untuk memberikan popok dan

pengganti ibu kangguru.

Fokus evaluasi BBLR dapat pulang:

1. Keadaan umum baik.

2. Mampu menghisap dan menelan dengan baik.

3. Suhu tubuh bayi 3 hari beturut-turut baik.

4. BB kembali ke bblahir dari 1500 gr.

5. BB 3 hari cenderung berturut-turut cenderung naik.

6. Ibu mampu merawat bayinya (Sudarti & Afroh F, 2013).

berturut-turut cenderung naik. 6. Ibu mampu merawat bayinya (Sudarti & Afroh F, 2013). Gambar 3.1 Metode

Gambar 3.1 Metode Kanguru /KMC

42

E. Alat ukur evaluasi dari aplikasi tindakan dari riset

Metode tradisional yang menggunakan termometer air raksa oral/

rektal kini jarang digunakan. Air raksa (merkuri) dilarang penggunaannya

oleh Control of Substances Hazardous to Health Regulations dan uapnya

bersifat neurotoksik. Selain itu, walaupun suhu rektal paling mendekati suhu

tubuh, namun suhu rektal tidak dapat dipercaya pada pasien kritis karena

hipotensi

dan

iskemia

usus

mengurangi

suplai

darah

ke

rektum

dan

pengukurannya

dipengaruhi

oleh

isi

di

dalam

rektum

(Philip

jevon

&

Beverley ewens, 2008).

Terdapat beberapa metode yang dapat dipercaya dalam mengukur

suhu

tubuh

dengan

menggunakan

alat

elektronik.

Alat-alat

ini

dapat

melakukan

pemeriksaan

dengan

cepat,

aman,

dan

beberapa

dapat

memberikan hasil pengukuran suhu secara kontinu. Beberapa di antaranya

akan dijelaskan secara lebih rinci (Philip jevon &Beverley ewens, 2008).

Pengukuran suhu oral dapat dipengaruhi oleh suhu makanan dan

cairan yang diingesti dan oleh aktivitas otot pengunyah (Dougherty & Listen,

2004). Selain itu laju pernafasan > 18 kali per menit akan menurunkan nilai

suhu inti (Philip jevon & Beverley, 2008).

Aksila merupakan rute alternatif untuk pemantauan suhu jika rute oral

tidak cocok. Namun demikian, akan sulit untuk mendapatkan pengukuran

yang akurat dan dapat dipercaya karena lokasinya tidak terletak dekat dengan

pembuluh darah besar dan suhu permukaan kulit dapat dipengaruhi oleh

lingkungan. Jika menggunakan rute aksila, maka strip harus ditempatkan pada

43

pusat lipat ketiak dengan posisi lengan pasien dirapatkan dengan kuat di

samping dada. Karena suhu dapat bervariasi pada kedua lengan, maka pada

pengukuran suhu harus dilakukan pada lokasi yang sama (Philip jevan &

Beverley ewens, 2008).

Dimana lokasi yang digunakan untuk pengukuran suhu, pengukuran

selanjutnya harus dilakukan secara konsisten pada tempat yang sama, karena

penggantian lokasi dapat menghasilkan pengukuran yang salah dan sulit

diinterprestasi (Philip jevon & Beverley ewens, 2008).

salah dan sulit diinterprestasi (Philip jevon & Beverley ewens, 2008). Gambar 3.2 Termometer air raksa dan

Gambar 3.2 Termometer air raksa dan digital.

BAB IV

LAPORAN KASUS

Pada bab ini penulis menjelaskan tentang ’’Asuhan Keperawatan Neonatus

pada By.Ny. Y dengan BBLR di Ruang HCU Neonatus Mawar 1 RSUD Dr.

Moewardi Surakarta”. Klien lahir pada tanggal 14 maret 2015 jam 05.10 WIB dan

dilakukan pengkajian pada tanggal 15 maret 2015 jam 08.00 WIB. Pengkajian

yang

dilakukan

dengan

metode

autoanamnesa

dan

keperawatan

dimulai

dari

pengkajian

keperawatan,

alloanamnesa.

Asuhan

diagnosa

keperawatan,

intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, sampai evaluasi keperawatan.

Pengkajian dilakukan melalui observasi, dan data sekunder, catatan medis, dan

catatan keperawatan.

A. Identitas paien

1. Identitas klien

Klien By.Ny. Y, jenis kelamin perempuan, tanggal lahir klien 14

maret 2015, tanggal dirawat 14 maret 2015, diangnosa medis BBLR, nama

orang tua Tn. I, berumur 31 tahun, pendidikan terahir Tn.I SLTP, bekerja

sebagai wiraswasta bertempat tinggal di Sangkrah pasar kliwon Surakarta.

2. Riwayat bayi

Hasil pengkajian tentang riwayat bayi, dari penilaian apgar skor warna

kulit bayi merah muda dan tidak ada sianosis, denyut jantung 150x/menit,

ketika distimulus bayi meringis dan menangis tapi lemah, tonus otot bayi

44

45

lemah dan pergerakan sedikit, pernafasan bayi lemah 28x/menit. Bayi lahir

dengan usia gestasi 27 minggu. Dari pengkajian antropometri berat badan

2200 gram, lingkar kepala 32 cm, lingkar lengan atas 10 cm, lingkar dada

30 cm, panjang badan 45 cm. Adanya komplikasi persalinan ketuban

pecah dini selama lebih dari 24 jam. Nilai apgar skor yaitu A2P2G1A0R1.

3. Riwayat ibu

Riwayat ibu berusia 29 tahun sudah melahirkan 3 anak dan saat ini

melahirkan anak yang ketiga tanpa abortus G 3 P 3 A 0 . Jenis persalinan dari

ketiga anaknya yaitu anak pertama sectio caesaria disebabkan karena

kehamilan lebih dari hari perkiraan lahir atau HPL, anak yang kedua

normal/spontan dan anak yang ketiga sectio caesaria disebabkan karena

ketuban pecah dini selama lebih dari 24 jam.

B. Pengkajian

Pengkajian fisik neonatus antara lain reflek moro ada terjadi abduksi

sendi bahu dan ekstensi lengan tapi masih lemah, reflek menghisap lemah

tapi

bayi

mampu

membuka

mulut

atau

mencari

puting

saat

ibu

akan

menyusui dan menggenggam klien masih terlihat lemah, kepala bayi mampu

memutar kearah berlawanan saat diberi reflek tahanan tapi masih lemah, mata

bayi

mampu

berespon

terhadap

cahaya,

tonus

otot

lemah

sehingga

pergerakkan bayi kurang aktif. Dari pengkajian kepala atau leher ubun-ubun

klien lunak sutura sagitalis tepat gambaran wajah simetris, tidak ada tulang

kepala

tumpang

tindih,

tidak

ada

pembengkakan

pada

kepala

yang

46

diakibatkan tekanan dari rahim dinding vagina, tidak ada pembengkakan pada

kepala

bayi

karena

penumpukkan

darah

akibat

perdarahan

pada

sub

periosteum. Mata bersih kanan dan kiri simetris jarak interkantus 3 cm sclera

ikterus, reflek cahaya positif. Telinga kanan kiri simetris, daun telinga elastis,

lubang kanan kiri ada dan tidak ada cairan yang keluar dari lubang telinga.

Hidung simetris antara kanan dan kiri dan lubang hidung ada. Mulut klien

simetris antara atas dan bawah, warna bibir merah muda, membran mukosa

bibir klien lembab dan tidak ada kelainan pada mulut klien seperti bibir

sumbing.

Pengkajian abdomen sebagai berikut: bentuk simentris lingkar perut

30 cm, kulit abdomen lunak dan tipis tidak ada jejas, pembulu darah terlihat,

umbilikus tidak menonjol masih terdapat tali pusat, warna kulit merah, ada

gerakkan peristaltik usus, bising usus 15x/menit, terdengar suara peristaltik

usus, kuadran 1 pekak, kuadran 2, 3, 4 timpani.

Pengkajian toraks sebagai berikut:

bentuk toraks simetris, adanya

retraksi atau otot bantu pernafasan, lingkat dada 30 cm, toraks tidak ada jejas

dinding

toraks

elastis,

puting

susu

belum

terbentuk,

tidak

ada

suara

tambahan, gerakkan dinding dada kanan dan kiri sama, tidak ada suara

tambahan.

Pengkajian paru-paru suara nafas kanan kiri sama dan suara nafas

vesikuler, terdapat otot bantu pernafasan atau retraksi, respirasi 38 x/menit

setelah dengan menggunakan alat bantu pernafasan nasal kanul 2 liter/menit,

47

pernafasan cuping hidung. Pengkajian yang didapat pasien termasuk gawat

nafas pasien didapat nilai 1 dan pasien mengalami sesak nafas ringan,

Pengkajian jantung tidak ada suara tambahan bunyi normal irama

sinus frekuensi 150 x/menit dan tidak ada suara murmur. Nadi perifer brakial

kanan kiri dan femoral kanan kiri kuat.

Pengkajian ekstermitas gerakan bebas tapi masih lemah, ekstremitas

atas dan bawah saat diberi rangsangan lemah atau pergerakan pasif, jari-jari

kaki tangan lengkap, dan garis telapak kaki sedikit. Umbilikus bersih tidak

ada cairan, tali pusat ada berwarna putih ujung tali pusat dijepit dengan

penjepit tali pusat terbungkus dengan kasa.

Genital jenis kelamin perempuan klitoris menonjol dan ada labia

mayora dan labia minora. Anus bersih dan paten. Kulit klien berwarna merah

muda tidak terdapat sianosis atau kemerahan dan tidak ada tanda lahir.

Terdapat kemerahan pada daerah yang terkena popok. Turgor kulit elastis dan

terdapat lanugo ada disekitar wajah dan lengan atas. Suhu inkubator 33,3 0 C.

48

C. Riwayat sosial

Riwayat sosial keluarga klien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara.

Tinggal satu rumah dengan ayah, ibu dan kakak. Didalam keluarga By.Ny Y

tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit menurun seperti DM, hipertensi.

Ny. Y (29th) Tn.A (33th) By. Ny. Y (1 hari)
Ny. Y (29th)
Tn.A
(33th)
By. Ny. Y
(1 hari)

Gambar 4.1 Genogram

Keterangan :

: Laki – laki

: Laki laki

: Perempuan

: Perempuan

: Meninggal

: Meninggal

: Pasien

: Pasien

: Tinggal satu rumah

: Garis pernikahan

: Garis pernikahan

: Garis keturunan

: Garis keturunan

49

Klien beragama islam bahasa yang sering digunakan adalah bahasa

indonesia, suku jawa, budaya jawa. Hubungan orang tua dan bayi sangat baik

seperti menyentuh, memeluk, berbicara, berkunjung, memanggil nama dan

kontak mata. Orang terdekat yang dapat dihubungi semua saudara karena

semua sudara baik dan suka membantu kedua orang tua klien. Orang tua

sangat berespon terhadap penyakit yang diderita anggota keluarga, ibu klien

mengatakan bahwa sehat itu sangat penting dan mahal harganya, saat ada

anggota keluarga yang sakit selalu dibawa atau diperiksakan kepusat layanan

kesehatan terdekat dan kooperatif dalam merawatnya supaya cepat sembuh.

Oran