Anda di halaman 1dari 17

BAHASA DAN LOGIKA

Makalah

Sebagai Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan

Oleh:

Kelompok 9:

1. SINTIA AGUSTINA
2. MONA RAHAYU
3. TIARA AFDELITA
4. SELVIA NOVRIDARNI
5. DENDI HERTA SAPUTRA
6. LIBRA YANTI

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


STIKES FORT DE KOCK BUKITTINGGI
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya
sehingga penulisan Makalah Filsafat Logika dan Bahasa ini dapat diselesaikan.

Dalam penulisan Makalah ini penulis menyadari akan keterbatasan kemampuan yang
ada, sehingga penulis merasa masih ada yang belum sempurna baik dalam isi maupun dalam
penyajiannya. Untuk itu penulis selalu terbuka atas kritik dan saran yang membangun guna
penyempurnaan Makalah ini.

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Menurut Felicia (2001:1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat
yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.
Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa
perluuntuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh.
Akibatnya,sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan
bahasa. Suatukelemahan yang tidak disadari.
Komunikasi lisan atau non standar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak
teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan
bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk
berbahasa bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita
cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa
standar dengan bahasa non standar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah
asing ke dalam uraian kita. Padahal bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif.
Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu.Lihat
saja, bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat
memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat
memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa.
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan
berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri,
sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan
beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk
melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada
perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan
perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu,
bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan
bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi. Konsep-konsep dan
istilah baru didalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan
demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk
bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan
sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995).
Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa
Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di
dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu
sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan
sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat
berkembang. Implikasinya didalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa
sebagai prasarana berfikir modern.Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan
bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari
logika dan daya nalar (pikiran).
Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa
yangdigunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
akanmenghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa
bahasaIndonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi
di dalammasyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu
menjalankanfungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern.
BAB II
PEMBAHASAN
A. BAHASA
Bahasa adalah pemahaman dasar dalam memahami bahasa. Dalam memahami
Bahasa Indonesia, kita juga perlu memahami hal-hal tersebut,sehingga pemahaman
kita dalam memahami bahasa Indonesia, bisa lebih mendalam dandapat
mengaplikasikan dengan baik.Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbiter
(tidak ada hubungan antaralambang bunyi dengan bendanya) yang dihasilkan oleh alat
ucap manusia dan dipakaioleh masyarakat untuk berkomunikasi, kerja sama, dan
identifikasi diri. Bahasa lisanmerupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan
adalah bahasa sekunder.
Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara
anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Mungkin adayang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya
alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau
pihak yangmengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang
telah disepakati bersama. Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong
dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan
dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.
Harimurti Kridalaksana (1985:12) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem bunyi
bermakna yang dipergunakan untuk komunikasi oleh kelompok manusia. Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001:88), Bahasa adalah sistem bunyi yang arbitrer
yang digunakan oleh anggota suatu masyarakatuntuk bekerja sama, berinteraksi, dan
mengidentifikasikan diri. Finoechiaro (1964:8). Bahasa adalah sistem simbol vokal
yang arbitrer yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu,
atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu, berkomunikasi atau
berinteraksi.
Menurut Carol (1961:10), Bahasa merupakan sistem bunyi atau urutan
bunyivokal yang terstruktur yang digunakan atau dapat digunakan dalam komunikasi
internasional oleh kelompok manusia dan secara lengkap digunakan
untuk mengungkapkan sesuatu, peristiwa, dan proses yang terdapat di sekitar
manusia. Kamus Linguistik (2001:21), Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang
arbitrer yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk kerja sama,
berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.
Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks dari
pada yang dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah
merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang
bunyi. Dan bunyi itu sendiri haruslah merupakan simbol atau perlambang.
Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan
berfikirnya melainkan terletak pada kempuan bahasanya.Maka ernst Cssirer menyebut
manusia sebagai animal symbol licum,mahluk yang mempergunakan simbol, yang
secara generik mempunyai cakupan yang luas darai pada homo sapiens yakni mahluk
yang berfikir, sebab dalam kegiatan berfikirnya manusia mempergunakan simbol.
Tanpa mempergunakan kemampuan berbahasa ini maka kegiatan berfikir secara
sistematis dan teratur tidak dapat mungkin di lakukan . Lebih lanjut lagi, tanpa
kemampuan berbahasa ini manusia tidak dapat mungkin mengembangkan
kebudayaanya, sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilang pulalah kemampuan
untuk meneruskan nilai-nilai budaya kepada generasi selanjutnya.
Manusia dapat berfikir dengan baik karena dia mempunyai bahasa. Tanpa
bahasa maka manusia tidak dapat berfikir secara rumit dan abstrak seperti apa yang
kita lakukan dalam kegiatan ilmiah. Demikian juga tanpa bahsa kita tak dapat juga
mengkomunikasikan kepada orang lain. Binatang tidak di bekali oleh bahasa yang
sempurna seperti yang kita miliki,oleh karna itu maka binatang tidak dpat berfikir
dengan baik dan mengkumulasikan pengetahuannya lewat proses komunikasi seperti
kita mengembangkan ilmu.
Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara abstrak dimana obyek-obyek
yang faktual di tranformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang menjadi abstrak.
Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berfikir mengenai obyek tertentu
meskipun obyek tersebut secara faktual tidak berada di tempat dimana tempat berfikir
itu di lakukan. Binatang mampu berkomunikasi dengan binatang lainnya namun hal
ini terbtas selama obyek yang di komunikasikan ini berada secara faktual waktu
proses komunikasi itu di lakukan. Tanpa kehadiran obyek secara faktual maka
komunikasi tidak bisa di laksanakan.
Adanya simbol bahasa yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk
memikirkan sesuatu selanjutnya. Demikian juga bahasa memberikan kemampuan
untuk berfikir secara tertur dan sistematis. Transformasi obyek faktual menjadi simbol
abstrak yang di wujudkan melalui pembendaharaan kata-kata ini di rangkaian oleh
tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan pemikiran atau ekspresi perasaan.kedua
aspek ini yakni aspek informatif dan emotif keduanya tercermin dalam bahasa yang
kita gunakan. Artinya, pada saat kita bicara pada hakekatnya informasi yang kita
gunakan mengandung unsur-unsur emotif, demikian juga jika kita menyampaikan
perasaan maka ekspresi itu mengandung unsur-unsur informatif. Kadang hal ini dapat
dipisahkan dengan jelas,misalnya; musik dapat di anggap sebagai bentuk dari bahasa,
dimana emosi terbebas dari informasi, sedangkan buku telepon memberikan kita
informasi sama sekali tanpa emosi.
Jika kita telaah lebih lanjut bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni; buah
fikiran,perasaan, dan sikap. Atau seperti yang di nyatakan oleh Knaller bahsa dalam
kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif, dan efektif. Funsi simbolik
dalam komunikasi ilmiah sedangkan fungsi emotif menonjol dlam komunikasi estetik.
Komunikasi dengan menggunakan bahasa akan mengandung unsur simbolik dan
emotif ini. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi itu harus terbebas
dari unsur emotif ini, agar oesan yang di sampaikan bisa di terima secara reproduktif ,
artinya identik dengan pesan yang di kirim. Namun dalam prakteknya hal ini sukar
untuk di laksanakan kecuali informasi yang terdapat dlam buku pedoman telepon.
Inilah salah satu kelemahan bahsa dalam sarana komunikasi ilmiah dimana menurut
Kemeny bahasa mempunyai kecenderungan emosi.

B. LOGIKA
1. Pengertian Logika
Kata Logika berasal dari bahasa YunaniLogikedari kata Logosartinya
ucapanatau pengartian. Ucapan berarti yang diucapkan, dilisankan, disebutkan.
Ucapanmerupakan hasil proses berpikir. Berpikir artinya menggunakan akal budi
untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu.
Kata pengartian berarti proses, cara, perbuatan memberi arti. Dengan demikian
maka logika merupakan hasil pertimbanganakal pikiran yang diutarakan lewat kata
dan dinyatakan dalam bahasa. Logika dengandemikian bersangkut paut dengan
pengetahuan tentang kaidah berpikir. Kaidah berpikir artinya rumusan asas-asas yang
menjadi hukum atau aturan yang tentu yang menjadi patokan dalam berpikir.
Dengan kata lain logika adalah ajaran tentang berfikir tertib dan benar, atau
perumusan lebih teliti, ilmu penarikan kesimpulan dan penalaran tanpameninggalkan
keabsahan. Logika tidak menelaah urutan berfikir sebagai gejala psikologidan tidak
pula mempersoalkan isi pemikiran, tetapi mempermasalahkan tata tertib yangharus
menjadi panutan jalan pemikiran agar memperoleh hasil yang benar.
Logika ialah suatu metode atau teknik yang diciptakan untuk meneliti
ketepatan penalaran. Bentuk-bentuk pemikiran ialah pengertian atau konsep
(coceptus, concept), proposisi atau pernyataan (propositio, statement), dan penalaran
(ratiocinium, reasoning). Tidak ada proposisi tanpa pengertian dan tidak ada penalaran
tanpa proposisi (rancangan usulan).
Pengertian atau lazim disebut konsep (conceptus, concept) ialah hasil
observasi indera terhadap obyek yang diolah oleh otak. Oleh sebab itu pengertian
disebut pengalaman atau data empirik yang disimpan oleh otak. Karena pengalaman
disimpan oleh otak maka pengertian disebut data psikologik. Pengertian adalah bahan
baku untuk berpikir lebih lanjut.
Pengertian tentang obyek merupakan abstraksi atas obyek tersebut yang
dituangkan ke dalam bahasa. Bahasa adalah lambang atau simbol atas obyek yang
menjelaskan ciri-ciri obyek. Obyek yang diabtrasi oleh otak dan dilambangkan dalam
bahasa itu berbentuk kata. Misalnya manusia, binatang, gunung, laut, dsb.
Otak merangkai kata menjadi suatu pernyataan atau proposisi (propositio,
statement), misalnya gunung itu tinggi, binatang itu buas, dsb. Pengertian tinggi untuk
gunung dan buas untuk anjing itu disebut predikat (yang menerangkan), sedangkan
pengertian gunung dan anjing itu disebut subyek (yang diterangkan).
Pengertian logika menurut ahli.
a. Hasbullah Bakry: logika adalah ilmu pengetahuanyang mengatur penitian
hukum-hukum akal manusia sehingga menyebabkan pikirannyadapat
mencapai kebenaran. Logika mempelajari aturan dan cara berpikir.
b. N. Driyakara: logika adalah ilmu pengetahuan yang memandang hukum-
hukum susunan atau bentuk pikiran manusia yang menyebabkan pikiran
dapat mencapai kebenaran.
c. Nuril Huda: logika adalah ilmu yang mempelajari dan merumuskan
kaidah-kaidahdan hukum-hukum sebagai pegangan untuk berpikir tepat
dan praktis bagi mencapaikesimpulan yang valid dan pemecahan persoalan
yang bijaksana.
d. Ir. Poedjawijatna:logika adalah filsafat budi (manusia) yang mempelajari
tehnik berpikir untuk mengetahui bagaimana manusia berpikir dengan
semestinya.

2. Sejarah Penggunaan Logika


Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha
untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf
Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan
menunjukkan kesesatan penalarannya. Logika digunakan untuk melakukan
pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak.
Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap
sebagai cabang matematika. Logika dimulai sejak Thales (624 SM-548 SM), filsuf
Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan
jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta.
Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas
utama alam semesta. Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang
kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik
kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa
segala sesuatu. Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut
Aristotelesdisimpulkan dari: Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air
tumbuhan mati) Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia Air jugalah uap Air jugalah
es. Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam
semesta. Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De
Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih digunakan.
Thomas Aquinas 1224-1274 dan kawan-kawannya berusaha mengadakan
sistematisasi logika. Lahirlah logika modern dengan tokoh-tokoh seperti: Petrus
Hispanus1210-1278). Roger Bacon1214-1292. Raymundus Lullus(1232-1315) yang
menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan
semacam aljabar pengertian. William Ocham (1295-1349). Pengembangan dan
penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588-
1679) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An Essay
Concerning Human Understanding. Francis Bacon (1561-1626)mengembangkan
logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum.
J.S. Mills (1806-1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi
dalam bukunya System of Logic.

3. Pembagian Logika
Secara hakiki logika dapat dibagi menjadi dua macam yaitu logika alamiah
(kodratiah) dan logika Ilmiah (Logika Saintifika). Logika alamiah adalah kinerja akal
budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh
keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan
logika alamiah manusia ada sejak lahir. Logika ilmiah memperhalus, mempertajam
pikiran serta akal budi.
Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang
harusditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal
budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman.
Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak,
dikurangi. Logika ilmiah memiliki dua cabang kajian, yakni logika sebagai ilmu
pengetahuandan logika sebagai cabang filsafat.
Logika sebagai ilmu pengetahuan merupakan sebuah ilmu pengetahuan
dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran)
dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi
ketepatannya. Logika sebagai cabang filsafat adalah sebuah cabang filsafat yang
praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Fungsi Logika
Logika dipelajari agar orang yang mempelajarinya memiliki kecerdasan logika
dan mampu secara cerdas menggunakan logikanya. Kecerdasan logika adalah
kemampuan untuk memecahkan suatu masalah atau menjawab suatu pertanyaan
ilmiah. Dalam hubungan ini logika digunakan untuk memecahkan suatu masalah saat
seseorang menjabarkan masalah itu menjadi langkah-langkah yang lebih kecil, dan
menyelesaikannya sedikit demi sedikit, serta membentuk pola/ menciptakan aturan-
aturan (rumus). Logika juga digunakan agar mampu menggunakan metode ilmiah
dalam menjawab suatu pertanyaan. Metode ilmiah ini secara singkat berarti membuat
hipotesa, menguji hipotesa dengan mengumpulkan data untuk membuktikan atau
menolak suatu teori, dan mengadakan eksperimen untuk menguji hipotesa tersebut.
Seseorang yang memiliki kecerdasan logika akan dengan cerdas pula menggunakan
logikanya sehingga akan memiliki salah satu atau lebih kemampuan di bawah ini:

1. Memahami angka serta konsep-konsep matematika (menambah,


mengurangi, mengali, dan membagi) dengan baik.
2. Mengorganisasikan/ mengelompokkan kata-kata/ materi (barang)
3. Mahir dalam menemukan pola-pola dalam kata-kata danbahasa.
4. Menciptakan, menguasai not-notmusik,dan tertarik mendengarkan pola-
poladalam jenis musik yang berbeda-beda.
5. Menyusun poladan melihat bagaimana sebab-akibat bekerja dalam ilmu
pengetahuan. Hal ini termasuk kemampuan untuk memperhatikan detil,
melihat pola-pola dalam segalanya, mulai dari angka-angka hingga perilaku
manusia, dan mampu menemukan hubungannya. Contoh 1: seseorang yang
menghabiskan waktu di dapur menggunakan logikanya untuk menerka
berapa lama waktu untuk memanggang sesuatu, menakar bumbu, atau
merenungkan bagaimana caranya menghidangkan semua makanan agar siap
dalam waktu yang bersamaan. Contoh 2: seorang detektif kriminal
menggunakan logikanya untuk mereka ulang kejadian pada kasus kejahatan
dan mengejar tersangka pelaku.
6. Menciptakan visual (gambar) untuk melukiskan bagaimana ilmu
pengetahuan bekerja, termasuk menemukan pola-pola visualdan keindahan
ilmu pengetahuan (contohnya: menguraikan spektrum cahaya dalam
gambar, menggambarkan bentuk-bentuk butiran salju, dan mahluk bersel
satu dari bawah mikroskop), mengorgansisasikan informasi dalam tabel dan
grafik, membuat grafik untuk hasil-hasil eksperimen, bereksperimen dengan
program animasi komputer.
7. Menentukan strategi dalam permainan-permainan yang memerlukan
penciptaan strategi (contohnya catur, domino) dan memahami langkah-
langkah lawan.
8. Memahami cara kerja dan bahasa komputer termasuk menciptakan kode-
kode, merancang program komputer, dan mengujinya.

C. BAHASA DAN LOGIKA


Bahasa merupakan alat berpikir yang apabila dikuasai dan digunakan dengan
tepat, maka akan dapat membantu kita memperoleh kecakapan berpikir, berlogika
dengan tepat. Logis, atau masuk akal, merupakan ukuran yang hampir selalu dipakai
dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam kegiatan berilmu. Dalam
pembicaraan yang tidak penting pun lawan bicara kita selalu menuntut penjelasan
yang logis. Dalam berilmu, yaitu mengembangkan, memahami dan
mengkomunikasikan ilmu; logis atau tidak merupakan ukuran mutlak. Inilah alat
ukurnya, sebagaimana termometer digunakan untuk mengukur suhu tubuh. Ilmu
adalah kumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu, yaitu proses
pemikiran yang bernalar. Proses berpikir tersebut mesti dilakukan dengan cara
tertentu, karena itulah selalu disebut dengan displin ilmu. Proses menuju
kesimpulan hanya dianggap sahih jika dilakukan menurut cara tertentu yang disebut
logika. Jadi, secara sederhana, logika dapat didefinisikan sebagai pembicaraan tentang
bagaimana berfikir secara sahih (valid). Atau, dalam ungkapan lain, dapat juga disebut
dengan aturan bagaimana berfikir secara benar (correct). Inilah inti dalam kajian
logika. Ukuran-ukuran logika menjadi penentu untuk menguji apakah seseorang telah
berfikir secara benar atau salah. Cara mengujinya adalah melalui serangkaian hukum
atau pola. Pola dasarnya adalah bagaimana pengetahuan barudisusun dari
pengetahuan lama. Disinilah peran premis dan kesimpulan. Logika bertolak dari
sejumlah premis yang sudah diketahui untuk menghasilkan satu pengetahuan yang
baru. Dalam kegiatan ini, logika mengendalikan gerak fikiran supaya tetap mengikuti
pola yang sudah distandarisasi. Standariasasi berlaku secara keilmuan atau menurut
ilmu bersangkutan. Standarisasi tiap ilmu tidak persis sama, meskipun dalam
ketentuan dasarnya sama. Logika sebagai cara menarik kesimpulan, bekerja dalam
bentuk kata, istilah, dan kalimat. Kata-kata dipilih dan disusun secara tepat. Pemilihan
dan penempatannya akan menentukan makna yang dikandungnya. Semua ini
termasuk dalam lingkup berbahasa. Satu hal mendasar dalam konteks ini adalah
tentang premis dan kesimpulan.
Premis adalah apa yang dianggap benar sebagai landasan untuk menarik
kesimpulan. Ia menjadi dasar pemikiran dan alasan atau dapat juga disebut dengan
asumsi. Dalam pengertian formal, premis adalah kalimat atau proposisi yg dijadikan
dasar dalam menarik kesimpulan secara logis. Kesimpulan yang benar diperoleh bila
premisnya benar pula, dan sebaliknya; meskipun proses logika tetap terpenuhi.
Bahasa memiliki peran yang sangat esensial dalam konteks logika dan
berilmu. Ia sangat membantu, namun secara bersamaan juga dapat sangat
mencelakakan, yaitu jika penggunaannya tidak tepat. Kegiatan berilmu akan mati bila
terjadi kekeliruan penerapan bahasa di antara para penggiatnya. Ini karena bahasa
bagi manusia merupakan pernyataan pikiran atau perasaan yang paling komunikatif.
Gerak tubuh dan mimik muka dapat menginformasikan sesuatu, namun sangat
terbatas penerapannya. Bahasa juga penting dalam pembentukan penalaran ilmiah,
karena penalaran ilmiah mempelajari bagaimana caranya menyusun uraian yang tepat
dan sesuai dengan pembuktian-pembuktian secara benar dan jelas. Untuk kelompok
tertentu, agar komunikasi di antara mereka lebih efisien dan efektif, mereka
menciptakan bahasa tersendiri. Mereka menciptakan dan menyepakati kata-kata, baik
kata yang diambil dari kata-kata yang sudah ada dalam kehidupan sehari-hari, atau
secara sengaja membuat kata-kata yang baru sama sekali. Logika sangat terkait
dengan konsep bahasa. Di sisi sebaliknya, setiap bahasa memiliki logikanya sendiri.
Bahasa yang disusun oleh sekelompok masyarakat mengandung kekhasan dimana
berbagai kultur dalam arti luas menjadi basis pembentukan bahasa tersebut. Inilah
salah satu point yang harus dipertimbangkan misalnya dalam proses penerjemahan
satu pemikiran dari satu bahasa ke bahasa lain.
Menurut Irving Copi, bukan berarti seseorang dengan sendirinya mampu
menalar atau berpikir secara tepat hanya dengan mempelajari logika, meskipun ia
sudah memiliki pengetahuan mengenai metode dan prinsip berpikir. Dalam logika
dibutuhkan pengetahuan serta keterampilan. Pengetahuan mengenai metode-metode
dan prinsip-prinsip berpikir harus dimiliki bila seseorang ingin melatih
kemampuannya dalam berpikir. Sebaliknya pula, seseorang hanya bisa
mengembangkan keterampilan berpikirnya bila sudah menguasai metode-metode dan
prinsip-prinsip berfikir. Tanpa bahasa manusia tidak mampu berfikir. Bahkan ketika
masih dalam kepalanya, sebelum diucapkan sekalipun, manusia sudah
menggunakan bahasa. Ada tiga fungsi bahasa yang utama yaitu untuk
mengkomunikasikan, mengekspresikan perasanaan, dan membangkitkan atau
mencegah perilaku tertentu. Ada kalanya ketiga fungsi ini dapat dijalankan sekaligus,
namun dapat juga terpisah, atau dua di antaranya.
Dalam dunia ilmiah, harus dihindari berbagai kesalahan (atau kesesatan),
dimana berbahasa secara tepat dan tidak emotif menjadi salah satu pedoman yang
harus dipatuhi. Hanya dengan bahasa yang netral, maka informasi yang disampaikan
dapat diterima dengan tepat. Ketrampilan berargumen, terutama argumen deduktif,
merupakan syarat pokok dalam berilmu. Melalui nalar deduktif diperoleh kesimpulan
(conclusion) sehingga dapat menyimpulkan apakah sesuatu yang disampaikan dapat
dinilai kebenarannya (benar atausalah) dan kevalidannya (valid atau tidak valid).
Sudah dijelaskan di atas bahwa logika merupakan hasil pertimbangan akal
pikiranyang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Jelaslah bahwa
logika memiliki pertalian yang erat dengan bahasa. Jadi apabila kita ingin
mempelajari logika, mulailahdengan melihat hubungan antara bahasa dan logika atau
sebaliknya. Bahasa (yang diucapkan) adalah bentuk lahir dari proses berfikir yang
bersifat batiniah. Dalam konteks ini berpikir dapat dirumuskan sebagai berbicara
dengan dirisendiri di dalam batin (Poespoprodjo, 1999 : 49). Proses berbicara sendiri
di dalam batintidak dapat dilihat. Apa yang dipikirkan oleh seseorang tidak dapat
diketahui. Hanya apabila seseorang telah mengatakan atau mengucapkan apa yang
dipikirkannyalah dapatdiketahui isi pikiran orang itu. Jadi, bahasa adalah ungkapan
pikiran. Bahasa yang diungkapkan dengan baik merupakan hasil dari proses berpikir
yang baik dan tertib. Demikian pula bahasa yang diungkapkan dengan berbelit-belit,
tidak tertata merupakan penanda proses berfikir yang rancu. Karena berfikir dapat
dipahami melalui bahasa yang diungkapkan maka sangat penting sekali dipahami
aneka ungkapan berupa:
1. Pengertian (Arti-Isi-Luas)
Pengertian adalah suatu gambaran akal budi yang abstrak, yang
batiniah,tentang sesuatu (Alex lanur, 1983: 14). Gambaran akal budi yang
abstrak, yang batiniah, tentang sesuatu sebagaimana dimaksudkan di atas
disebut juga konsep. Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia konsep
didefinisikan sebagai: 1). Rancanganatau buram surat dsb., 2). Ide atau
pengertian yang diabstrakan dari peristiwakongkret, 3). Gambaran mental dari
obyek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh
akal budi untuk memahami hal-hal lain. Dengandemikian pengertian identik
dengan konsep sebagai hasil pekerjaan akal budi yangselalu menangkap dan
membentuk sesuatu gambaran. Pengertian berada dalam kapkannya melalui
bahasadengan konsep kursi atau gagasan lainnya.
2. Kata, pembagian kata, nilai rasa kata dan kata-kata emosional
Kata menurut artinya dapat dibagi ke dalam bentuk-bentuk kata sebagai
berikut:1. Univok(al) (sama suara, sama artinya) Artinya, kata yang
menunjukkan pengertian yang sama antara suara dan arti. Contoh, kata
Mahasiswa hanyamenunjukkan pengertian yang dinyatakan oleh kata itu
saja.Kata univokal merupakan kata yang dipergunakan dalam pemikiran dan
ilmu pengetahuan seperti diskusi ilmiah dan karya tulis ilmiah.2. Ekuivok(al)
(sama suara, tetapi tidak sama artinya), Sebuah kata yang menunjukkan
pengertian yang berbeda atau berlainan. Kata bisa misalnya dapat berarti
mampu atau racun yang dikeluarkan oleh ular.
Kata-kata ekuivokal baik untuk lelucon tetapi tidak baik untuk diskusi dan
karya ilmiah. Dunia politik dan propaganda lazim menggunakan kata-kata
yang ekuivok.3. Analogis (sama suara, memiliki kesamaan dan juga perbedaan
arti). Misalnya: sehat sebenarnya dikatakan tentang orang, khususnya
badannya, tetapi juga dapat dikatakan tentang jiwanya, tentang obat (karena
dapat menyembuhkan ganguan-ganguan kesehatan), tentang makanan (karena
berguna untuk memelihara kesehatan),tentang hawa (karena baik untuk
kesehatan), dan sebagainya.
3. Term
Kata adalah tanda lahir atau pernyataan dari pengertian. Term adalah bagian
darisuatu kalimat yang berfungsi sebagai subjek atau predikat ( S atau P).
Dengan demikianterm ialah gabungan dari sejumlah kata (kalimat) yang
terdiri subjek, predikat, dan kata penghubung. Kata penghubung seperti, antara
lain, jika, dan, oleh, dalam, akan, adalah, merupakan, tidak terkategori ke
dalam term.Term dipahami juga sebagai sebuah gagasan atau segugus gagasan
yangdinyatakan dalam wujud kata-kata (E. Sumaryono, 1999 : 32). Gagasan
dalam hal ini berarti juga pengertian yang membentuk kata. Selanjutnya kata
membentuk term sebagaisarana komunikasi atau bahasa. Bahasa diproduksi
manusia. Manusia menyatakan pikirannya melalui bahasa. Dengan begitu
pemikiran yang diungkapkan tidak terdiri darikata-kata yang satu sama lain
terlepas, tetapi kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang dapat
dimengerti. Itulah sesunguhnya yang dimaksud dengan term. Contoh:Ade
Munajat seorang dosen (Ade Munajat = S; seorang dosen = P). Kalimat itu
dapat berfungsi hanya sebagai subjek ketika diperluas dengan tambahan Dia
adalah kakak saya yang berfungsi sebagai predikat. Berbeda dengan
linguistik, di dalam logika sebuahkalimat (term) hanya terdiri dari subjek atau
predikat.
4. Penggolongan
Penggolongan (ada pula yang menyebutnya dengan pembagian atau
klasifikasi) ialah pekerjaan akal budi kita untuk menganalisis, membagi-bagi,
menggolong golongkan, dan menyusun pengertian-pengertian dan barang-
barang menurut kesamaandan perbedaannya (Pospoprodjo, 199 : 61).
Penggolongan dijelaskan pula sebagai sebuah proses dimana benda-benda
individual di kelompok-kelompokkan menurut ciri khasnyayang berlaku
umum yang secara bersama-sama membentuk sebuah kelas atau golongan(E.
Sumaryono, 1999 : 49).
5. Defenisi
Kata defenisi berasal dari kata definitio (bahasa Latin) yang berarti
pembatasan (Alwx Lanur, 1983 : 21). Pembatasan dalam kaitan ini ialah
pembatasan terhadap suatu pengertian dengan tepat. Dengan demikian defenisi
merupakan perumusan yang singkat, padat, jelas, dan tepat sehingga jelas
dapat dimengerti dan dibedakan dari semua hal lain(Poespoprodjo, 1999 : 67).
Dalam kaitan ini definisi yang baik harus 1) merumuskandengan jelas,
lengkap, dan singkat semua unsur pokok (isi) pngertian tertentu itu, 2)
Yaituunsur-unsur yang perlu dan cukup untuk mengetahui apa sebenarnya
barang itu (tidak lebih dan tidak kurang), 3) sehingga dengan jelas dapat
dibedakan dari semua hal yanglain (Poespoprodjo, 1999 : 67).

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam logika untuk mendapatkan kesimpulan yang benar. Syarat yang utama
ialah mengumpulkan argumen-argumen. Kemudian argumen tersebut disusun secara logis
sesuai dengan kaidah umum (kebiasaan). Maka kerelevanan akan terbukti kebenarannya.
Sedangkan pada tata bahasa fungsi gramatikal berupa subjek, predikat, objek,
danketerangan. Sedangkan kategorinya adalah nomina (kata benda), verba (kata kerja),
dan adjektiva (kata sifat). Sedangkan pada bagian peran mencakup peran gramatikal
seperti peran agentif (sebagai pelaku), pasien (sebagai penderita), objek (sebagai sasaran),
benefaktif (sebagai kegitan/ melakukan pekerjaan terhadap orang lain), lokatif
(sebagaitempat/ lokasi), instrumental (sebagai alat) dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/4676962/BAHASA_DAN_LOGIKA
http://fahriyahblog.blogspot.co.id/2012/04/logika-dan-bahasa-dalam-filsafat-ilmu.html