Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

Adenotonsilitis Kronis

Pembimbing :

dr. Wahyu Sp.THT,MSi Med

Disusun oleh :

1. Temmy (11.2015.314)
2. Vinsensia Dita (11.2015.114)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

RUMAH SAKIT PANTI WILASA Dr. CIPTO SEMARANG

PERIODE 19 DESEMBER 2016 21 JANUARI 2017

BAB I
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRSTEN KRIDA WACANA)

Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU PENYAKIT THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

RS PANTI WILASA Dr. CIPTO

Nama Mahasiswa : Temmy ( 11.2015.314) Tanda Tangan

Vinsensia Dita (11.2015.114)

Dr. Pembimbing : dr. Wahyu Sp THT Msi Med ..

IDENTITAS PASIEN

Nama lengkap : An. NR Jenis kelamin : perempuan


Tempat/tanggal lahir : 12 febuari2004 Umur : 12 tahun 10 bulan
Suku bangsa : jawa Agama : islam
Pendidikan : SLTP Alamat : Kanal Sari barat I No 54 Rt03/Rw 08
Reja sari, Semarang timur
Hubungan dengan orang tua : anak kandung

ANAMNESIS

Diambil secara : Alloanamesis dan Autoanamesis

Pada tanggal : 22 Desember 2016 Jam : 14:00

Keluhan utama : nyeri tenggorok sejak kurang lebih 2 bulan yang lalu

Riwayat perjalanan penyakit (RPS):


Pasien anak berusia 12 tahun datang ke Poliklinik THT RS Panti WIlasa Dr.Cipto
dengan keluhan nyeri tenggorokkan sejak kurang lebih 2 bulan yang lalu. Nyeri semakin
dirasakan saat makan. Selama timbul nyeri tenggorok pasien mengatakan sering menderita batuk
pilek yang berulang, serta pasien juga cepat mengantuk. Pasien juga mengeluh terkadang kedua
telinga terasa berdengung dan penuh, dan saat berbaring terkadang pasien sulit untuk mengambil
nafas. Ibu pasien mengatakan bahwa saat tidur anaknya sering mengorok dan kadang terbangun
ditengah tidurnya. Ibu pasien sudah membawa anaknya berobat ke Puskesmas dan diberi obat
penurun panas dan obat batuk namun keluhannya belum membaik dan dokter Puskesmas
menganjurkan untuk berorbat ke dokter spesialis THT.

Riwayat penyakit dahulu (RPD)

Pasien memiliki riwayat batuk pilek yang berulang namun pasien tidak ingat berapa kali
serangan yang diamali selama dua bulan ini.

PEMERIKSAAN FISIK

A. Status Generalis
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis
TTV
TD : tidak dilakukan
Nadi : 86x/menit
Pernapasan : 22x/menit, abdominotorakal
Suhu : 36,2
Kepala : normocephal
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Leher : tidak teraba pembesaran KGB dan kelenjar tiroid
Thorax : tidak dilakukan
Abdomen : tidak dilakukan
Ekstremitas : tidak dilakukan

B. Status THT

KANAN KIRI
Bentuk daun telinga Bentuk normal, tidak ada Bentuk normal, tidak ada
benjolan benjolan
Kelainan kongenital (-) (-)
Radang, tumor (-) (-)
Nyeri tekan tragus (-) (-)
Kelainan pre-, infra-, (-) (-)
retroaurikuler
Region Mastoid Nyeri tekan ( - ), edema Nyeri tekan ( - ), edema
( - ), hiperemis ( - ) ( - ), hiperemis ( - )
Liang telinga Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Membran timpani
Perforasi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Refleks cahaya Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Bentuk

TES PENALA

Kanan Kiri
Rinne Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Weber Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Swabach Tidak dilakukan Tidak dilakukan

HIDUNG

KANAN KIRI
Bentuk Normal Normal
Tanda peradangan (-) (-)
Daerah sinus frontalis dan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
maxilaris
Vestibulum Normal Normal
Cavum nasi Lapang Lapang
Sekret serosa ( - ) Sekret serosa ( - )
Konka inferior Hiperemis ( - ) Hiperemis ( - )
Hipertrofi ( - ) Hipertrofi ( - )
Meatus nasi inferior Hiperemis ( - ) Hiperemis ( - )
Hipertrofi ( - ) Hipertrofi ( - )
Konka medius Hiperemis ( - ) Hiperemis ( - )
Hipertrofi ( - ) Hipertrofi ( - )
Meatus nasi medius Hiperemis ( - ) Hiperemis ( - )
Hipertrofi ( - ) Hipertrofi ( - )
Septum nasi Deviasi ( - ) Deviasi ( - )

NASOPHARINX
Kanan Kiri
Koana Dalam batas normal Dalam batas normal
Septum nasi posterior Deviasi ( - ) Deviasi ( - )
Post nasal drip (-) (-)
Adenoid Hipertrofi, hipepremis ( - ) Hipertrofi, hipepremis ( - )

PEMERIKSAAN TRANSLUMINASI

Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN RUTIN SINUS PARANASAL

Tidak dilakukan

TENGGOROK ( dengan endoskopi)

1. Orofaring
Mukosa bucal : warna merah muda, sama dengan daerah sekitar
Ginggiva : warna merah muda, sama dengan daerah sekitar
Gigi geligi : warna kuning gading, caries ( - ), gangren ( - )
Lidah 2/3 anterior : dalam batas normal
Arkus faring : simetris ( + ), hiperemis ( - )
Palatum : warna merah muda
Dinding posterior orofaring : hiperemis ( - ), granulasi ( - )

2. Tonsil

Kanan Kiri
Ukuran T3 T3
Kripte Melebar Melebar
Permukaan Tidak rata Tidak rata
Warna Hiperemis ( - ) Hiperemis ( - )
Detritus (-) (-)
Peritonsil Abses ( - ) Abeses ( - )

3. Laringofaring
Mukosa : tidak dilakukan
Massa : tidak dilakukan
Lain-lain : tidak dilakukan
4. Laring
Epiglotis : tidak dilakukan
Plica vocalis : tidak dilakukan
Gerakan
Posisi
Tumor
Massa : tidak dilakukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Belum dilakukan

RESUME

Pasien anak berusia 12 tahun datang ke Poliklinik THT RS Panti WIlasa Dr.Cipto
dengan keluhan nyeri tenggorokkan sejak kurang lebih 2 bulan yang lalu. Nyeri semakin
dirasakan saat makan. Selama timbul nyeri tenggorok pasien mengatakan sering menderita batuk
pilek yang berulang, serta pasien juga cepat mengantuk. Pasien juga mengeluh terkadang kedua
telinga terasa berdengung dan penuh, dan saat berbaring terkadang pasien sulit untuk mengambil
nafas. Ibu pasien mengatakan bahwa saat tidur anaknya sering mengorok dan kadang terbangun
ditengah tidurnya. Pasien compos mentis, keadaan umum baik, pada pemeriksaan fisik
didapatkan tanda-tanda vital, nadi 86x/menit, pernapasan 22x/menit, abdominotorakal, dan suhu
36,2oC. Pemeriksaan telinga tidak didapatkan kelainan, pemeriksaan hidung tidak didapatkan
kelainan, pemeriksaan tenggorok didapatkan tonsil membesar T3-T3, kripte melebar, adenoid
hipertrofi. Pemeriksaan penunjang laboratorium belum dilakukan.

DIAGNOSIS KERJA (WD)

Adenotonsilitis kronik

DIAGNOSIS BANDING (DD)

Faringitis kronik
Hipertrofi adenoid

PEMERIKSAAN YANG DIANJURKAN

Laboratorium darah rutin


PENATALAKSANAAN

Adenotonsilektomi
Paracetamol tablet 500 mg (jika nyeri)

ANJURAN

Kurangin minum dingin dan makanan yang banyak MSG


Pakai masker untuk menghindari debu
Menghindari udara dingin
Jaga kebersihan mulut

PROGNOSIS

Ad vitam : dubia ad bonam

Ad sanationam : dubia ad bonam

Ad fungctionam : dubia ad bonam


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi

1. Tonsil palatina
Tonsil adalah suatu massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh
jaringan ikat dengan kriptus di dalamnya. Terdapat tiga macam tonsil yaitu tonsil faringal
(adenoid), tonsil palatina dan tonsil lingual. Ketiga tonsil ini membentuk lingkaran yang
disebut cincin Waldeyer. Tonsil palatina atau biasa disebut tonsil saja terletak di dalam
fosa tonsil. Fosa tonsil dibatasi oleh arkus faring anterior dan posterior. Batas lateral fosa
tonsil adalah m.konstriktor faring superior. Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan
dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah di sebelah anterior
massa ini terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla
sirkumvalata. Tempat ini kadang-kadang menunjukkan penjalaran ductus tiroglosus dan
secara klinik merupakan tempat penting bila ada massa tiroid lingual atau kista ductus
tiroglosus. Adenoid terletak di dinding posterior nasofaring dan menempati sebagian
besar ruang terutama pada anak-anak.1,2
Pada anak umur 6 atau 7 tahun terjadi atrofi pada adenoid dan sekitar usia 15
tahun hanya sedikit jaringan adenoid yang tertinggal atau bahkan dapat tidak ditemukan
sam sekali. Pada batas atas yang disebut kutub atas (upper pole) terdapat suatu ruang
kecil yang dinamakan fosa supra tonsil. Fosa ini berisi jaringan ikat jarang dan biasanya
merupakan tempat nanah memecah ke luar bila terjadi abses. Pada kutub atas tonsil
seringkali ditemukan celah intratonsil yang merupakan sisa dari kantong faring yang
kedua. Kutub bawah tonsil biasanya melekat pada dasar lidah. Permukaan medial tonsil
memiliki celah yang disebut kriptus. Di dalam kriptus biasanya dijumpai leukosit,
limfosit, epitel yang terlepas, bakteri dan sisa makanan. Permukaan lateral tonsil melekat
pada fasia faring yang sering disebut kapsul tonsil. Kapsul tonsil ini tidak melekat erat
pada otot faring sehingga mudah dilakukan diseksi pada tonsilektomi. Epitel yang
melapisi tonsil adalah epitel skuamosa dan epitel ini juga meliputi kriptus. Tonsil
mendapat darah dari a.palatina minor, a.palatina asendens, cabang tonsil a.maksilaris
eksterna, a.faring asenden, dan a.lingualis dorsalis.

Gambar 1. Tonsil Palatina

Serat serat saraf sensoris di tonsil berasal dari cabang saraf glosofaringeus.
Badan sel dari serat-serat sensoris ini terletak dalam ganglion inferior glosofaringeus.
Bagian atas tonsil yang dekat dengan palatum mole diinervasi oleh nervus palatina minor
dari cabang maksilaris nervu trigerminus. Badan sel dari serabut serabut saraf ini
berada dalam ganglion tersebut. Serabut serabut simpatis yang menginervasi tonsil
khususnya pembuluh-pembuluh arteri dalam parenkim berasal dari ganglion servikalis
superior.1,2
2. Tonsil Faringeal (Adenoid)
Adenoid adalah kelompok jaringan limfoid yang terletak pada atap dan dinding
posterior nasofaring (Ballinger, 1999). Nasofaring berada di belakang bawah dari soft
palate dan hard palate. Bagian atas dari hard palate merupakan atap dari nasofaring.
Anterior nasofaring merupakan perluasan rongga hidung posterior. Menggantung dari
aspek posterior soft palate adalah uvula. Pada atap dan dinding posterior nasofaring,
diantara lubang tuba auditory, mukosa berisi masa jaringan limfoid yang disebut
pharyngeal tonsil (adenoid). (Ballinger, 1999). Nasofaring merupakan suatu ruangan
yang terletak di belakang rongga hidung di atas tepi bebas palatum molle. Berhubungan
dengan rongga hidung dan ruang telinga tengah masing-masing melalui choanae dan tuba
eustachius.1,2

Gambar 2. Adenoid
Adenoid bersama tonsil dan lingual tonsil membentuk cincin jaringan limfe pada
pintu masuk saluran nafas dan saluran pencernaan yang dikenal sebagai cincin Waldeyer.
Bagian-bagian lain cincin ini dibentuk oleh tonsil lidah dan jaringan limfe di mulut tuba
Eustachius. Kumpulan jaringan ini pada pintu masuk saluran nafas dan saluran
pencernaan, melindungi anak terhadap infeksi melalui udara dan makanan. Seperti halnya
jaringan-jaringan limfe yang lain, jaringan limfe pada cincin Waldeyer menjadi hipertrofi
pada masa kanak-kanak dan menjadi atrofi pada masa pubertas. Karena kumpulan
jaringan ini berfungsi sebagai suatu kesatuan, maka pada fase aktifnya, pengangkatan
suatu bagian jaringan tersebut menyebabkan hipertrofi sisa jaringan.1,2

FISIOLOGI

1. Tonsil
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan
proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai dua fungsi utama yaitu 1)
menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif, 2) sebagai organ utama
produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik. Tonsil
membentuk cincin jaringan limfe pada pintu masuk saluran napas dan saluran pencernaan
yang dikenal sebagai cincin Waldeyer. Pada cincin Waldeyer, tonsil terdiri dari tiga jenis
yaitu, tonsil lingualis berjumlah satu pasang yang terletak dibawah lidah, satu buah tonsil
adenoid yang terletak dibelakang hidung, dan tonsil palatina yang terletak disebelah
kanan-kiri rongga mulut. Cincin Waldeyer ini mampu mengeluarkan immunoglobulin
jenis G, A, M, D, dan E. kripte tonsillar pertama terbentuk pada usia kehamilan 12
minggu dan kapsul terbentuk pada usia kehamilan 20 minggu. Secara mikroskopik tonsil
palatina memiliki 3 unsur utama yaitu jaringan ikat sebagai rangka penunjang pembuluh
darah saraf dan limfe, folikel germinativum sebagai tempat pembentukan makrofag dan
limfosit, serta jaringan inerfolikuler.3
2. Adenoid
Fungsi adenoid adalah bagian imunitas tubuh. Adenoid merupakan jaringan
limfoid bersama dengan struktur lain dalam cincin waldeyer. Adenoid memproduksi IgA
sebagai bagian penting sistem pertahanan tubuh garis depan dalam memproteksi tubuh
dari inervasi kuman mikroorganisme dan molekul asing.
Proses imunologi pada adenoid dimulai ketika bakteri, virus, atau antigen makanan
memasuki nasofaring mengenai epitel kripte yang merupakan kompartemen adenoid
pertama sebagai barier imunologis. Kemudian akan diabsorpsi secara selektif oleh
makrofag, sel HLA dan sel M dari tepi adenoid. Antigen selanjutnya diangkut dan
dipresentasikan ke sel T pada area ekstra folikuler dan ke sel B pada sentrum
germinativum oleh follicular dendritic cells (FDC)
Interaksi antara sel T dengan antigen yang dipresentasikan oleh APC bersama
dengan IL-I mengakibatkan aktifasi sel T yang ditandai oleh pelepasan IL-2 dan ekspresi
reseptor IL-2. Antigen bersama-sama dengan sel Th dan IL-2, IL-4, IL-6 sebagai aktifator
dan promotor bagi sel B untuk berkembang menjadi sel plasma. Sel plasma akan
didistribusikan pada zona ekstrafolikuler yang menghasilkan immunoglobulin (IgG 65%,
IgA 20%, sisanya IgM, IgD, IgE) untuk memelihara flora normal dalam kripte indiviu
yang sehat. 3

ADENOTONSILITIS KRONIK

Definisi

Tonsilitis adalah peradangan yang terjadi pada tonsil palatina yang menyebar sampai ke
adenoid. Faktor predisposisi terjadinya tonsillitis kronik adalah rangsangan menahun dari rokok,
hygiene mulut yang buruk, faktor cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak
adekuat.2,3 Berdasarkan waktu berlangsung (lamanya) penyakit, tonsilitis terbagi menjadi 2, yakni
tonsilitis akut jika penyakit (keluhan) berlangsung kurang dari 3 minggu dan tonsilitis kronis jika
inflamasi atau peradangan pada tonsil palatina berlangsung lebih dari 3 bulan atau menetap.
Infeksi terjadi terus-menerus karena kegagalan atau ketidaksesuaian pemberian antibiotik. 4,5

Etiologi

Infeksi virus dengan infeksi sekunder bakteri merupakan salah satu mekanisme
terjadinya ATK. Adenoid dan tonsil dapat mengalami pembesaran yang disebabkan
karena proses hipertrofi sel akibat respon terhadap infeksi tersebut. Faktor lain yang
berpengaruh adalah lingkungan, faktor inang (riwayat alergi), penggunaan antibiotika
yang tidak tepat, pertimbangan ekologis, dan diet. Infeksi dan hilangnya keutuhan epitel
kripte menyebabkan kriptitis kronik dan obstruksi kripte, lalu menimbulkan stasis debris
kripte dan persistensi antigen. Bakteri pada kripte tonsil dapat berlipat-ganda jumlahnya,
menetap dan secara bertahap menjadi infeksi kronik.
Epidemiologi

Radang kronik pada adenoid (tonsila nasofaringea) dan tonsil ( tonsila palatina)
masih menjadi problem kesehatan dunia. Di Amerika Serikat prevalensi adenoiditis /
tonsilitis kronik pada tahun 1995 adalah sebesar 7 per 1000 penduduk atau 0,7%, di
Norwegia 11,7 % anak mengalami tonsilitis rekuren, dimana sebagian besar merupakan
tonsilitis kronik yang mengalami eksaserbasi, di Turki tonsilitis rekuren ditemukan pada
12,1 % anak.Sementara itu di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode April 1997
sampai Maret1998 didapatkan 1024 (6,75%) pasien tonsilitis kronik dari seluruh
kunjungan.4

Patofisiologi

Karena proses radang yang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa juga
jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti
oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara
klinik kripti ini tampak diisi oleh detritus. Proses berjalan terus sehingga menembus
kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan disekitar fosa
tonsilaris. Pada anak, proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfa
submandibula.1
Gejala klinis

Gejala dan tanda yang dapat terjadi sebagai gambaran klinik ATK diantaranya
adalah anak sering panas, terutama panas yang disertai pilek dan batuk, sering sakit
kepala, lesu, mudah ngantuk, tenggorok terasa mengganjal, tenggorok sering berdahak,
tenggorok terasa kering, leher belakang terasa kaku / tegang, rasa mual terutama waktu
gosok gigi, suara sengau, ngorok, gangguan bernafas terutama waktu tidur terlentang,
nafas bau, sering seret bila makan (bila makan harus sering minum), sering batuk,
pendengaran terasa tidak enak, nafsu makan kurang, prestasi belajar kurang atau
menurun, facies adenoid yaitu apabila sumbatan berlangsung bertahun-tahun. Pada
kenyataanya adenotonsilektomi pada ATK dilakukan sebagian besar pada ATK yang
hipertrofi. Hipertrofi inilah yang menimbulkan gejala-gejala, nafas lewat mulut, hidung
buntu, pilek, tidur ngorok terutama bila terlentang, obstructive sleep apneu, palatum
tinggi, gangguan pendengaran karena adanya disfungsi tuba, hidung pesek dan facies
adenoid.4

Terapi
Pengobatan tonsilitis meliputi medikamentosa dan pembedahan. Terapi
medikamentosa ditujukan untuk mengatasi infeksi pada tonsilitis. Antibiotik golongan
penisilin merupakan antibiotik pilihan pada sebagian besar kasus karena efektif dan
harganya lebih murah. Namun, pada anak dibawah 12 tahun, golongan sefalosporin
menjadi pilihan utama karena lebih efektif terhadap streptococcus. Golongan makrolida
dapat digunakan hanya jika terdapat alergi terhadap penisilin, hal ini disebabkan efek
samping yang ditimbulkan golongan makrolida lebih banyak. Tonsilektomi menjadi
prosedur pembedahan pilihan utama bagi pasien anak maupun dewasa dengan tonsillitis
rekuren maupun tonsillitis kronik. Berdasarkan studi retrospektif yang dilakukan oleh
Akgun dkk., pasien tonsillitis akut dan tonsillitis kronik setelah tonsilektomi
menunjukkan perbaikan yang signifikan, hal ini dibuktikan dengan berkurangnya keluhan
nyeri tenggorokan, dan keluhan yang diberikan pada dokter. Indikasi tonsilektomi dahulu
dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan prioritas relatif dalam
menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dahulu tonsilektomi diindikasikan untuk
terapi tonsillitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi yang lebih utama adalah obstruksi
akibat hipertrofi tonsil. Obtruksi yang mengakibatkan gangguan menelan maupun
gangguan nafas merupakan indikasi absolut. Namun, indikasi relatif tonsilektomi pada
keadaan non emergensi dan perlunya batasan usia pada keadaan ini masih menjadi
perdebatan.3,4
The American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical
Indicators Copendium menetapkan indikasi tonsilektomi antara lain: serangan tonsillitis
lebih dari 3 kali per tahun walaupun mendapatkan terapi yang adekuat, tonsil hipertrofi
yang menyebabkan gangguan pertumbuhan orofasial, sumbatan jalan napas, rhinitis dan
sinusitis, napas berbau yang tidak berhasil dengan pengobatan, tonsillitis berulang yang
disebabkan oleh bakteri grup A streptokokkus B hemolitikus, hipertrofi tonsil curiga
keganasan, dan otitis media efusa/otitis media supuratif. Efek samping dari tonsilektomi
adalah post tonsillectomy hemorrhage (PTH). PTH primer dapat terjadi 24 jam setelah
operasi disebabkan oleh tidak adekuatnya penjahitan/ligasi arteri yang bersangkutan.
Sedangkan PTH sekunder dapat terjadi pada hari ke 5 sampai ke 10 post pembedahan.
Pasien dengan usia tua (>70 tahun), laki-laki, riwayat tonsillitis kronik dan atau tonsillitis
rekuren, tonsillitis dengan histologist kriptik, kehilangan darah massif intraoperatif dan
peningkatan mean arterial pressure postoperatif dan anemia (khususnya wanita),
merupakan faktor resiko dari PTH.3,4

Komplikasi
Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa
rhinitis kronik, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh
terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endokarditis, arthritis, miositis,
nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis.1

BAB III
KESIMPULAN
Pada kasus ini adenotonsilitis kronis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Dari keluhan pasien didapatkan bahwa pasien keluhan nyeri tenggorokkan
sejak kurang lebih 2 bulan yang lalu. Nyeri semakin dirasakan saat makan. Selama timbul nyeri
tenggorok pasien mengatakan sering menderita batuk pilek yang berulang, serta pasien juga
cepat mengantuk. Pasien juga mengeluh terkadang kedua telinga terasa berdengung dan penuh,
dan saat berbaring terkadang pasien sulit untuk mengambil nafas. Ibu pasien mengatakan bahwa
saat tidur anaknya sering mengorok dan kadang terbangun ditengah tidurnya.
Tonsilitis kronik pada anak mungkin disebabakan karena anak sering menderita ISPA
atau karena tonsillitis akut yang tidak diterapi adekuat atau dibiarkan. Pengobatan pasti untuk
tonsillitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil atau adenotonsilektomi. Tindakan ini
dilakukan dimana penatalaksanaan medis atau terapi konservatif yang gagal untuk meringankan
gejala-gejala.

Daftar pustaka
1. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Telinga, hidung, tenggorok, kepala
dan leher. Edisi 7. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2014. Hal 204-8.
2. Maran AGD. Logan turners disease of the nose, throat and ear. 10 th ed. London: Butler &
Tanner Ltd; 2013. Hal 77-88
3. Gleeson M. Scoot-Browns Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery. 7 th ed. London:
Edward Arnold Ltd; 2008. Hal 1220-7
4. Nadhilla N, Sari I. Tonsilitis Kronik Eksaserbasi Akut pada Pasien Dewasa. J Medula
Unila: 5(1);2016. Diunduh dari: www.unand.ac.id pada tanggal 25 Desember 2016.
5. Prasetya D. Sindrom OSA pada anak. 2016. Diunduh dari :
http://www.kalbemed.com/Portals/6/08_237 pada tanggal 24 Desember 2016.