Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia, negara kepulauan terbesar terbesar di dunia, berada di garis depan
melawan penyakit yang mematikan yaitu avian influenza atau AI. Penyakit yang lebih
dikenal sebagai flu burung ini disebabkan oleh virus H5N1 yang secara umum lebih
banyak ditemukan pada unggas. Sejak tahun 2003, penyakit ini telah menyebar dari
burung-burung di Asia ke Timur Tengah, Eropa dan Afrika. Dalam kasus-kasus yang
tertentu, manusia juga dapat terkena penyakit ini, umumnya karena berhubungan
dengan unggas-unggas yang sakit. Sampai saat ini, kasus AI pada manusia sudah
tercatat di seluruh dunia, dan lebih dari 200 diantaranya meninggal dunia.
Kematian-kematian yang tragis tersebut hanyalah ujung dari gunung es. Saat ini
H5N1 tidak menular dengan mudah dari unggas ke manusia, atau dari manusia ke
manusia. Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa H5N1 memiliki potensi untuk
menjadi penyebab pandemi influenza di dunia. Jika terjadi pandemi, jumlah orang
yang terkena dan kematian akan sangat banyak, diikuti dengan dampak-dampak
ekonomi dan sosial, akhirnya terjadilah krisis kesehatan yang mencakup seluruh
dunia. Indonesia saat ini berada di tengah krisis flu burung. Kasus flu burung pertama
kali dilaporkan Indonesia pada tahun 2003. Penyakit ini sekarang endemis di populasi
ayam dibeberapa daerah di Indonesia, jutaan unggas mati karena penyakit ini dan
juga dimusnahkan sebagai wujud penanganan kasus penularan flu burung.
Untuk kasus flu burung pada manusia pertama kali dilaporkan pada tahun 2005.
Sejak itu Indonesia sudah mencatat lebih dari 130 kasus flu burung pada manusia dan
lebih dari 110 korban meninggal paling tinggi di dunia. Di Indonesia, anak-anak
merupakan salah satu kelompok yang paling beresiko terkena penyakit ini karena
sekitar 40 persen dari korban flu burung adalah mereka yang berusia dibawah 18
tahun.
Influenza atau biasa disebut "flu", merupakan penyakit tertua dan paling sering
didapat pada manusia. Influenza juga merupakan salah satu penyakit yang
mematikan. Penyakit influenza pertama kali diperkenalkan oleh Hipocrates pada 412
sebelum Masehi. Pandemi pertama yang terdokumentasi dengan baik muncul pada

1
1580, dimana muncul dari Asia dan meyebar ke Eropa melalui Africa. Sampai saat ini
telah terdokumentasi sebanyak 31 kemungkinan terjadinya pandemi influenza dan
empat di antaranya terjadi pada abad ini yakni pada 1918 (Spanish flu) yang
menyebabkan 50-100 juta kematian oleh virus influenza A subtipe H1N1, 1957 (Asia
flu) yang meyebabkan 1-1,5 juta kematian oleh virus influeza A subtipe H2N2, dan
1968 (Hongkong flu) yang menyebabkan 1 juta kematian oleh virus ifluenza A
subtipe H3N2.
Penyakit tersebut hingga saat ini masih mempengaruhi sebagian besar populasi
manusia setiap tahun. Virus influenza mudah bermutasi dengan cepat, bahkan
seringkali memproduksi strain baru di mana manusia tidak mempunyai imunitas
terhadapnya. Ketika keadaan ini terjadi, mortalitas influenza berkembang sangat
cepat. Di Amerika Serikat epidemi influenza yang biasanya muncul setiap tahun pada
musim dingin atau salju menyebabkan rata-rata hampir 20.000 kematian. Sedangkan
di Indonesia atau di negara-negara tropis pada umumnya kejadian wabah influenza
dapat terjadi sepanjang tahun dan puncaknya akan terjadi pada bulan Juli.
WHO menyatakan bahwa awal tahun 2006 ini merupakan saat terdekat
terjadinya pandemi flu sejak pandemi terakhir tahun 1968. Data yang ada
menunjukkan bahwa wabah avian influenza hanya kurang satu syarat lagi untuk
menjadi calon pandemi, yaitu belum ditemukan bukti penularan antarmanusia di
masyarakat. Pengalaman masa lalu, pandemi tahun 1918, misalnya, menunjukkan
bahwa korban manusia dapat sampai puluhan juta orang.
Diseluruh dunia hingga April 2007 terdapat 172 kasus flu burung yang
terkonfirmasi. Seperti dapat terlihat dari laporan WHO kasus terbanyak di Vietnam
(93 kasus) dan Indonesia menduduki peringkat ke-2 dengan 81 kasus namun jumlah
kematian di Indonesia yang tertinggi, yaitu 63 dari 81 kasus.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penyusunan ini adalah bagaimanakah
perawatan penyakit tropis tentang Flu burung dan Influenza tersebut ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum

2
Adapun tujuan umum penyusuna makalah ini adalah agar menambah
pengetahuan dan wawasan mahasiswa(i) tentang Flu burung dan Influenza
sehingga dapat membantu dalam pemahaman perawatan penyakit tropis.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini agar mahasiswa(i) mampu
mengetahui dan memahami tentang Flu burung dan Influenza.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan pada makalah ini adalah agar mahasiswa(i)
mengetahui dan memahami tentang Flu burung dan Influenza agar menambah
wawasan sehingga dapat membantu memperdalam pehamaman mahasiswa(i) tentang
perawatan penyakit tropis.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

3
2.1 Konsep Dasar Penyakit Flu Burung
2.1.1 Pengertian
Flu Burung (Avian Influenza - AI) adalah penyakit unggas yang menular
disebabkan virus influenza tipe A dari keluarga Orthomyxoviridae. Virus ini paling
umum menjangkiti unggas (misalnya ayam peliharaan, Kalkun, Itik, Puyuh, dan
Angsa) juga berbagai jenis burung liar. Beberapa virus flu burung juga diketahui bisa
menyerang mamalia, termasuk manusia (Darel W. 2008 : 17).
Flu burung adalah penyakit influenza pada unggas, baim burung, bebek, ayam,
serta beberapa binatang seperti babi. Data lain menunjukkan penyakit ini juga dapat
pula mengena pada burung puyuh dan burung onta. Penyakit pada binatang ini telah
ditemukan sejak 100 tahun lalu di Italia, tepatnya 1878. Pada tahun 1924-1925 wabah
ini merebak di Amerika Serikat. (Tjandra. 2005 : 2).
Virus influenza merupakan virus RNA termasuk dalam famili
Orthomyxoviridae. Asam nukleat virus ini beruntai tunggal, terdiri dari 8 segmen gen
yang mengkode sekitar 11 jenis protein. Virus influenza mempunyai selubung/simpai
yang terdiri dari kompleks protein dan karbohidrat. Virus ini mempunyai tonjolan
(spikes) yang digunakan untuk menempel pada reseptor yang spesifik pada sel-sel
hospesnya pada saat menginfeksi sel. Terdapat 2 jenis spikes yaitu yang mengandung
hemaglutinin (HA) dan yang mengandung neuraminidase (NA), yang terletak
dibagian terluar dari virion (Horimoto T, Kawaoka Y. 2001 :129-149).
Menurut (soejoedono,et al., 2005) avian influenza (flu burung) adalah penyakit
menular yang dapat terjadi pada unggas dan mamalia yang disebabkan oleh virus infl
uenza tipe A. Virus influenza tipe A memiliki beberapa subtipe yang ditandai adanya
Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N). Virus flu burung yang sedang berjangkit
saat ini adalah subtipe H5N1 yang memiliki waktu inkubasi selama 35 hari. Virus
ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan, minuman, dan
sentuhan. Perilaku hidup bersih dan sehat misalnya mencuci tangan dengan
antiseptic, kebersihan tubuh dan pakaian, dan memakai alat pelindung diri (APD)
waktu kontak langsung dengan unggas dapat mencegah penularan virus AI.
2.1.2 Penyebab/Etiologi

4
Penyebab flu burung adalah virus influenza dari famili Orthomyxoviridae yang
termasuk tipe A subtipe H 5, H 7, dan H 9. Virus H9N2 tidaklah menyebabkan
penyakit berbahaya pada burung, tidak seperti H5 dan H7. Virus flu burung atau
avian influenza hanya ditemukan pada binatang seperti burung, bebek dan ayam,
namun sejak 1997 sudah mulai dilaporkan terbang pula ke manusia. Subtipe virus
yang terakhir ditemukan yang ada di negara kita adalah jenis H5N1.
Gejala penyakit flu burung pada manusia adalah demam, anoreksia, pusing,
gangguan pernafasan (sesak), nyeri otot dan mungkin konjungtivitis yang terdapat
pada penderita dengan riwayat kontak dengan unggas yang terinfeksi semisal
peternak atau pedagagang unggas. Gejalanya tidak khas dan mirip gejala flu lainnya,
tetapi secara cepat gejala menjadi berat dan dapat menyebabkan kematian karena
terjadi peradangan pada paru (pneumonia).
Gejala pada unggas yang terinfeksi diantaranya jengger dan pial kebiru-biruan,
keluar darah dari hidung, feses kehijau-hijauan dan banyak mengandung air, pada
paha sering terdapat bercak-bercak darah, kematian unggas serentak terjadi dalam
hitungan hari selain itu, pada burung liar akan menjadi karier.
2.1.3 Epidemologi
Data epidemiologi yang berhubungan dengan penyakit flu burung sampai bulan
juni 2007 sebanyak 313 orang di seluruh dunia telah terjangkit virus AI dengan 191
diantaranya meninggal (CFR=61%). Kasus penyakit ini meningkat dari tahun ke
tahun. Pada tahun 2003 tercatat 4 kasus kemudian berkembang menjadi 46 kasus
(2004), 97 kasus (2005), 116 kasus (2006) dan pada tahun 2007 tertanggal 15 juni
sudah dilaporkan terjadi 50 kasus dengan angka kematian 66%. Negara yang
terjangkit sebagian besar adalah negara-negara di Asia (Thailand, Kamboja, Vietnam,
Cina dan Indoneisa) tetapi sekarang sudah menyebar ke Irak dan Turki.
Kasus AI di Indonesia bermula dari ditemukannya kasus pada unggas di
Pekalongan Jawa Tengah pada bulan Agustus 2003. Sampai tahun 2006 penyakit ini
sudah menyerang unggas di 29 provinsi yang mencakup 291 kabupaten/kota. Daerah-
daerah yang memiliki populasi unggas yang padat dan diikuti populasi penduduk
yang padatlah yang akan mengalami banyak kasus pada manusia.

5
Di Indonesia sejak Juli 2005 sampai dengan pertengahan Juni 2007 tercatat
terdapat 100 kasus dengan 80 kematian (CFR=80%). Sebagian besar kasus berasal
dari Jawa dan Sumatra. Provinsi terbanyak yang terjangkit penyakit ini adalah Jawa
Barat, DKI Jakarta dan Banten. Penyakit ini sudah berjangkit di 11 provinsi dan 37
kabupaten/kota.
2.1.4 Faktor Resiko
Faktor resiko terbesar flu burung adalah mengalami kontak dengan unggas yang
sakit atau dengan permukaan yang terkontaminasi oleh bulu, air liur, atau kotoran
milik unggas yang terinfeksi. Dalam beberapa kasus yang sangat langka, flu burung
dilaporkan ditularkan dari satu manusia ke yang lain. Pola penularan dari manusia ke
manusia masih misterius. Berbagai orang dari segala usia yang terjangkit dilaporkan
meninggal setelah mengalami infeksi.
2.1.5 Penularan/Penyebaran
Meskipun reservoir alami virus AI adalah unggas liar yang sering bermigrasi
(bebek liar), tetapi hewan tersebut resisten terhadap penyakit ini. Menurut WHO,
kontak hewan tersebut dengan unggas ternak menyebabkan epidemik flu burung
dikalangan unggas. Penularan penyakit terjadi melalui udara dan ekskret (kotoran,
urin, dan ingus) unggas yang terinfeksi.
Virus AI dapat hidup selama 15 hari diluar jaringan hidup. Virus pada unggas
akan mati pada pemanasan 80C selama satu menit dan virus pada telur akan mati
pada suhu 64C selama lima menit. Virus akan mati dengan pemanasan sinar matahari
dan pemberian desinfektan.
Secara genetik virus influenza tipe A sangat labil dan tidak sulit beradaptasi
untuk menginfeksi spesies sasarannya. Virus ini tidak memiliki sifat proof reading,
yaitu kemampuan untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi dan memperbaiki
kesalahan pada saat replikasi. Ketidakstabilan sifat genetik virus inilah yang
mengakibatkan terjadinya strain/jenis/mutan virus yang baru. Akibat dari proses
tersebut virulensi virus AI dapat berubah menjadi lebih ganas dari sebelumnya.
Karakteristik lain dari virus ini adalah kemampuannya bertukar, bercampur, dan
bergabung dengan virus influenza strain lain sehingga menyebabkan munculnya

6
strain baru yang bisa berbahaya bagi manusia. Mekanisme ini juga menyebabkan
kesulitan dalam membuat vaksin untuk program penanggulangan.
Mekanisme penularan flu burung pada manusia melalui beberapa cara:
1. Virus unggas liar unggas domestik manusia.
2. Virus unggas liar unggas domestik babi manusia.
3. Virus unggas liar unggas domestik (dan babi) manusia manusia.
Sampai bulan Maret 2006, penularan dari manusia ke manusia lain (human to
human transmission) masih sangat jarang. Meskipun demikian, para ahli
mengkhawatirkan adanya kasus-kasus kalster keluarga karena merupakan indikator
penualaran antar manusia. Munculnya kasus-kasus klaster dalam skala kecil dan
simultan yang diikuti klaster-klaster skala besar merupakan tanda munculnya
pandemi.
2.1.6 Penanggulangan
Menurut Ririh (2006:189-192), Melihat adanya kondisi peternakan yang
memburuk akibat adanya wabah flu burung. Departemen Pertanian mengeluarkan
beberapa kebijakan. Kebijakan ini diharapkan membantu peternakan sehingga dapat
menjalankan aktivitas beternak kembali. Departemen Pertanian mengintruksikan pada
segenap jajaran Dinas Peternakan di daerah-daerah untuk melakukan hal yang sama
saat menemukan adanya indikasi flu burung.
1. Peningkatan biosekuriti
Strategi utama yang harus dilaksanakan adalah dengan meningkatkan
biosekuriti. Tindakan karatina atau isolasi harus diberlakukan terhadap peternakan
yang tertular. Kondisi sanitasi di kandang-kandang, lingkungan kandang maupun para
pekerja harus sehat. Kemudian lalu lintas keluar -masuk kandang termasuk orang dan
kendaraan harus secara ketat dimonitor.
Area peternakan yang sehat diciptakan dengan program desinfeksi secara teratur
serta menerapkan kebersihan pada saat bekerja, misalnya dengan memakai sarung
tangan, masker, dan sepatu panjang.
Program vaksinasi merupakan tindakan kedua yang dipilih oleh Indonesia di
dalam penanggulangan avian influenza. Vaksinasi dilakukan terhadap hewan yang
sehat, terutama yang berada disekitar peternakan ayam yang terkena wabah ini

7
dilakukan untuk memberikan kekebalan pada ayam supaya tidak mudah tertular.
Vaksinasi yang digunakan harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan menurut
peraturan perundangan yang berlau. Kemudian vaksin yang boleh diedarkan dan
digunakan adalah vaksin yang mendapat nomor registrasi Departemen Pertanian.
2. Depopulasi
Istilah depopulasi adalah tindakan memusnakan unggas atau hewan yang
sakit secara terbatas. Ada berbagai cara yang dapat ditempuh sebagai upaya
pemusnahan ini. Pertama, adalah dengan menguburkan unggas yang mati akibat
avian influenza. Kedua , peternak dapat melaksanakan depopulasi dengan membakar
unggas yang mati akibat terserang penyakit tersebut. Tujuan utama dari tindakan ini
adalah untuk memutuskan siklus penyakit.
Tempat dimana dilaksanakan pemusnahan hewan seharusnya ditutup kembali
kemudian disiram dengan air kapur atau desinfektan. Seperti diketahui bahwa dalam
mengkaji suatu penyakit, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu pertama adalah
agent atau penyebab penyakit, dalam hal ini virus avian influenza. Kedua adalah
induk semang atau inang, dalam kasus ini yang bertindak sebagai inang adalah
unggas, babi, bahkan manusia bila virus menginfeksi.
Hal ketiga yang harus diperhatikan adalah lingkungan (enviromental).
Lingkungan inilah tempat agent dan inang melakukan interaksi. Jadi bila lingkungan
tidak memberikan peluang maka suatu penyakit atau wabah tidak akan terjadi.
3. Melakukan pengawasan produk unggas
Daging, telur, dan karkas unggas perlu diawasi untuk mencegah penyebaran
virus yang masih aktif dan menempel pada produk tersebut. Jika produk mengandung
virus yang masih aktif dikhawatirkan akan berpindah ke unggas atau bahkan orang.
Beberapa langkah yang dapat digunakan untuk memperoleh daging yang aman dari
flu burung antara lain sebagai berikut:
1) Pilih daging yang tidak terdapat bercak merah di bawah kulit.
2) Pilihlah daging segar. Bau daging segar biasanya khas atau tidak berbau anyir.
3) Pilih daging yang tidak lembek.
4) Pastikan dalam pengolahannya benar-benar matang.
4. Memantau lalu lintas unggas

8
Kiriman unggas yang dipesan dari luar daerah tempat pemesan perlu dipantau
dan diperiksa. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya bibit endemik dari luar
daerah. Pemeriksaan dilakukan dengan mengamati kondisi fisik, kesehatan hewan
serta melakukan uji laboratorium sampel darah unggas terhadap kemungkinan avian
influenza.
Dalam kondisi wabah seperti sekarang ini maka pengendalian juga berdasarkan
perwilayahan ( zoning), ada 3 (tiga) pembagian wilayah dalam upaya pengendalian:
1) Daerah tertular; daerah yang sudah dinyatakan ada kasus secara klinis dan hasil
uji laboratorium.
2) Daerah terancam; daerah yang berbatasan langsung dengan daerah tertular atau
tidak memilki batasan alam dengan daerah tertular.
3) Daerah bebas; daerah yang dinyatakan masih belum ada kasus secara klinis
mapun secara uji laboratorium, atau memiliki batas alam (propinsi, pulau).
Pembagian wilyah ini merupakan upaya dalam pengendalian suatu wabah
sehingga secara sistematik mendukun g program pengendalian. Dalam teknis
pelaksanaannya harus dikombinasikan dengan program-program yang lain. Tujuan
pengendalian dan pemberantasan sebagai berikut:
1) Mengendalikan wabah dengan menekan kasus kematian unggas.
2) Mengendalikan dan mengurangi perluasan penyakit ke wilayah lain di
Indonesia.
3) Mempertahankan wilayah yang masih bebas. d. Mencegah penularan penyakit
ke manusia dengan menghilangkan sumber penyakit.

5. Melakukan sosialisasi
Sosialisasi flu burung dilakukan dengan peny uluhan ke peternakan di masing-
masing daerah. Adanya sosialisasi diharapkan warga di sekitar lokasi peternakan
mengerti dan paham akan bahaya flu burung. Dengan demikian, masyarakat akan
menjaga kondisi lingkungan dan kesehatannya. Pengertian masyarakat akan bahaya
flu burung diharapkan membuat tahu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
menghadapi flu burung.
2.1.7 Pencegahan

9
Menurut Ririh (2006: 187-188) Tindakan pencegahan yang bisa kita lakukan
adalah:
1. Menjaga kebersihan diri sendiri antara lain mandi dan sering cuci tangan
dengan sabun, terutama yang sering bersentuhan dengan unggas.
2. Membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal kita.
3. Menggunakan Alat Pelindung Diri (masker, sepatu, kaca mata dan topi serta
sarung tangan) bagi yang biasa kontak dengan unggas.
4. Melepaskan sepatu, sandal atau alas kaki lainnya di luar rumah.
5. Bersihkan alat pelindung diri dengan deterjen dan air hangat, sedangkan benda
yang tidak bisa kita bersihkan dengan baik dapat dimusnahkan.
6. Memilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala flu burung) hindari membeli
unggas dari daerah yang diduga tertular flu burung.
7. Memilih daging unggas yang baik yaitu segar, kenyal (bila ditekan daging akan
kembali seperti semula), bersih tidak berlendir, berbau dan bebas faeces dan
kotoran unggas lainnya serta jauh dari lalat dan serangga lainnya.
8. Sebelum menyimpan telur unggas dicuci lebih dulu agar bebas dari faeces dan
kotoran unggas lainnya.
9. Memasak daging dan telur unggas hingga 70 C sedikitnya selama 1 menit.
Sejauh ini bukti ilmiah yang ada mengatakan aman mengkonsumsi unggas dan
produknya asal telah dimasak dengan baik.
10. Pola hidup sehat secara umum dapat mencegah flu seperti istirahat cukup untuk
menjaga daya tahan tubuh ditambah dengan makan dengan gizi seimbang serta
olah raga teratur dan jangan lupa komsumsi vitamin C.
11. Hindari kontak langsung dengan unggas yang kemungkinan terinfeksi flu
burung, dan laporkan pada petugas yang berwenang bila melihat gejala klinis
flu burung pada hewan piaraan.
12. Tutup hidung dan mulut bila terkena flu agar tidak menyebarkan virus.
13. Pasien influenza dianjurkan banyak istirahat, banyak minum dan makan
makanan bergizi.
14. Membawa hewan ke dokter hewan atau klinik hewan untuk memberikan
imunisasi.
15. Sering mencuci sangkar atau kurungan burung dengan desinfektan dan
menjemurnya dibawah sinar matahari, karena sinar ultra violet dapat mematikan
virus flu burung ini.

10
16. Apabila anda mengunjungi pasien flu burung, ikuti petunjuk dari petugas rumah
sakit untuk menggunakan pakaian pelindung (jas lab) masker, sarung tangan
dan pelindung mata. Pada waktu meninggalkan ruangan pasien harus
melepaskan semua alat pelindung diri dan mencuci tangan dengan sabun.
17. Bila ada unggas yang mati mendadak dengan tanda tanda seperti flu burung
harus dimusnahkan dengan cara dibakar dan dikubur sedalam 1 meter.
2.1.8 Hambatan dan Kesulitan
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memberantas penyakit flu
burung yang sangat ditakuti oleh masyarakat sehubungan dengan tingkat kematian
tinggi pada unggas dan menyebabkan kerugian sangat besar pada industri
perunggasan di Indonesia, penularan penyakit pada manusia, dan mengganggu
perokonomian nasional.
Belum berhasilnya pemberantasan flu burung di Indonesia dikarenakan hal-hal
berikut:

1. Unggas liar sebagai reservoir


Salah satu kendala pemberantasan penyakit flu burung adalah flu burung pada
unggas liar maupun domestik tidak menimbulkan gejala klinis apabila terinfeksi.
Unggas liar hanya berfungsi sebagai reservoir, sehingga tubuhnya dapat mengandung
virus flu burung, tetapi tidak menampakkan gejala klinis terserang penyakit flu
burung (tampak sehat).
2. Sistem peternakan dan pemeliharaan hewan di Indonesia
Sistem peternakan di Indonesia umumnya masih tradisional. Mayoritas tiap
keluarga di Indonesia, terutama di desa, memiliki ayam yang dipelihara dengan
dilepas pada waktu siang hari untuk mencari makan. Ayam yang dilepas akan dapat
melakukan kontak dengan unggas liar yang menjadi reservoir penyakit flu burung
maupun kontak dengan material yang tercemar virus AI, sehingga akan memudahkan
penularan penyakit. Apabila satu saja dari ayam-ayam tertular flu burung dari unggas
liar, maka satu flock mungkin akan tertular semuanya saat sudah kembali
dikandangkan.

11
3. Gaya hidup masyarakat di Indonesia
Gaya hidup masyarakat Indonesia yang tidak sehat mungkin menyebabkan
penyakit flu burung mudah sekali menyebar. Kita harus mulai menghilangkan gaya
hidup seperti membiarkan kandang kotor, letaknya dibawah atau sangat dekat degan
rumah, membiarkan unggas masuk kedalam rumah, tidak berganti pakaian yang
bersih setelah menangani unggas, dan lain-lain.
4. Pelanggaran terhadap aturan pemerintah tentang lalu lintas hewan
Di Indonesia, umumnya lalu lintas hewan khususnya ternak maupun produk-
produknya yang merupakan sumber penularan virus flu burung, masih ditemukan
banyak pelanggaran yang akan memudahkan virus flu burung menyebar kemana-
mana.
5. Banyak masyarakat yang belum tahu tentang flu burung
Sampai saat ini, kesadaran masyarakat untuk ikut menyukseskan program
pemerintah dalam pengendalian flu burung masih kurang. Hal ini karena rata-rata
tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah terutama di desa-desa terpencil
sehingga mereka umumnya pasif dan tidak mau berusaha mencari informasi jika
pemerintah tidak melakukan sosialisasi lebih intensif.
2.2 Konsep Dasar Penyakit Influenza
2.2.1 Definisi
Influenza merupakan infeksi saluran napas atas yang disebabkan oleh virus dan
dapat timbul pada semua tingkat usia. Istilah common cold mengacu pada
peradangan kataralis mukosa hidung yang lebih menjelaskan suatu kompleks gejala
daripada suatu penyakit tertentu. Dengan hidung tersumbat (nasal congestion), suara
serak (sore throat),dan batuk.
Influenza adalah penyakit menular yang menyerang saluran napas, dan sering
menjadi wabah yang diperoleh dari menghirup virus influenza. Penyebab penyakit
ini adalah Virus Influsenza tipe A, B, dan C. Influenza, yang lebih dikenal dengan
sebutan flu, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus
RNA dari famili Orthomyxoviridae (virus influenza), yang menyerang unggas
dan mamalia. Influenza merupakan penyakit yang dapat menjalar dengan cepat di
lingkungan masyarakat .

12
Influenza adalah infeksi virus yang mempengaruhi terutama hidung,
tenggorokan, bronkus dan, sesekali, paru-paru. Infeksi biasanya berlangsung selama
sekitar seminggu , dan di tandai oleh demam mendadak tinggi, sakit otot, sakit
kepala, dan malaise berat , batuk non- produktif, sakit tenggorokan dan rintis .
( WHO,2009)
2.2.2 Etiologi
Penyebab dari timbulnya influenza adalah haemophillus influenza ada tiga tipe
yakni tipe A, B dan C. Ketiga tipe ini dapat dibedakan dengan complement fixation
test.
2.2.3 Jenis-jenis influenza
1. Virus Tipe A
Genus ini memiliki satu spesies, virus influenza A. Unggas akuatik liar
merupakan inang alamiah untuk sejumlah besar varietas influenza A. Kadangkala,
virus dapat ditularkan pada spesies lain dan dapat menimbulkan wabah yang
berdampak besar pada peternakan unggas domestik atau menimbulkan
suatupandemi influenza manusia.
Virus tipe A merupakan patogen manusia paling virulen di antara ketiga tipe
influenza dan menimbulkan penyakit yang paling berat. Virus influenza A dapat
dibagi lagi menjadi subdivisi berupa serotipe-serotipeyang berbeda berdasarkan
tanggapan antibodi terhadap virus ini.
2. Virus Tipe B
Genus ini memiliki satu spesies, yaitu virus influenza B. influenza B hampir
secara eksklusif hanya menyerang manusia dan lebih jarang dibandingkan dengan
influenza A. Hewan lain yang diketahui dapat terinfeksi oleh infeksi influenza B
adalah anjing laut danmusang. Jenis influenza ini mengalami mutasi 2-3 kali lebih
lambat dibandingkan tipe A dan oleh karenanya keragaman genetiknya lebih sedikit,
hanya terdapat satu serotipe influenza B. Karena tidak terdapat keragamanantigenik,
beberapa tingkat kekebalan terhadap influenza B biasanya diperoleh pada usia muda.
Namun, mutasi yang terjadi pada virus influenza B cukup untuk membuat kekebalan
permanen menjadi tidak mungkin. Perubahan antigen yang lambat, dikombinasikan

13
dengan jumlah inang yang terbatas (tidak memungkinkanperpindahan
antigen antarspesies), membuat pandemi influenza B tidak terjadi.
3. Virus Tipe C
Genus ini memiliki satu spesies, virus influenza C, yang menginfeksi manusia,
anjing, dan babi, kadangkala menimbulkan penyakit yang berat dan epidemi lokal.
Namun, influenza C lebih jarang terjadi dibandingkan dengan jenis lain dan biasanya
hanya menimbulkan penyakit ringan pada anak-anak.
2.2.4 Sifat Virus Influenza
Virus influenza mempunyai sifat dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada
suhu 220C dan lebih dari 30 hari pada suhu 00C. Mati pada pemanasan 600C selama
30 menit atau 560C selama 3 jam dan pemanasan 80 0C selama 1 jam. Virus akan mati
dengan deterjen, disinfektan misalnya formalin, cairan yang mengandung iodin dan
alkohol 70%.
Struktur antigenik virus influenza meliputi antara lain 3 bagian utama berupa:
antigen S (atau soluble antigen), hemaglutinin dan neuramidase. Antigen S
merupakan suatu inti partikel virus yang terdiri atas ribonukleoprotein. Antigen ini
spesifik untuk masing-masing tipe. Hemaglutinin menonjol keluar dari selubung virus
dan memegang peran pada imunitas terhadap virus. Neuramidase juga menonjol
keluar dari selubung virus dan hanya memegang peran yang minim 8 pada imunitas.
Selubung inti virus berlapis matriks protein sebelah dalam dan membran lemak
disebelah luarnya.
Salah satu ciri penting dari virus influenza adalah kemampuannya untuk
mengubah antigen permukaannya (H dan N) baik secara cepat atau mendadak
maupun lambat. Peristiwa terjadinya perubahan besar dari struktur antigen
permukaan yang terjadi secara singkat disebut antigenic shift.
Bila perubahan antigen permukaan yang terjadi hanya sedikit, disebut antigenic
drift. Antigenic shift hanya terjadi pada virus influenza A dan antigenic drift hanya
terjadi pada virus influenza B, sedangkan virus influenza C relatif stabil. Teori yang
mendasari terjadinya antigenic shift adalah adanya penyusunan kembali dari gen-gen
pada H dan N diantara human dan avian influenza virus melalui perantara host ketiga.
Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa adanya proses antigenic shift akan

14
memungkinkan terbentuknya virus yang lebih ganas, sehingga keadaan ini
menyebabkan terjadinya infeksi sistemik yang berat karena sistem imun host baik
seluler maupun humoral belum sempat terbentuk. Sejak dulu diduga kondisi yang
memudahkan terjadinya antigenic shift adalah adanya penduduk yang bermukim
didekat daerah peternakan unggas dan babi. Karena babi bersifat rentan terhadap
infeksi baik oleh avian maupun human virus makan hewan tersebut dapat berperan
sebagai lahan pencampur (mixing vesel) untuk penyusunan kembali gen-gen yang
berasal dari kedua virus tersebut, sehingga menyebabkan terbentuknya subtiper virus
baru.
2.2.5 Fase fase Pandemi Inluenza
Fase-fase pandemi influenza ini di tetapkan oleh WHO, digunakan sebagai
tanda apakah pandemi sudah akan terjadi dan persiapan apa yang perlu dilakukan.
Fase 1
Tidak adanya subtype virus influenza baru pada manusia,terdapat infeksi pada
binatang (unggas)dengan risiko rendah penularan pada manusia.
Fase 2
Tidak adanya subtype virus influenza baru pada manusia, terdapat infeksi pada
binatang (unggas) dengan risiko tinggi penularan pada manusia. Periode waspada
pandemic.
Fase 3
Manusia terinfeksi dengan virus subtype baru, tidak adanya penularan manusia
ke manusia.
Fase 4
Penularan manusia ke manusia pada klaster kecil dan terlokalisir pada area yang
kecil.
Fase 5
Klaster besar, masih terlokalisir, virus mulai beradaptasi ke manusia.
Periode Pandemi.
Fase 6
Penularan yang meningkat dan tranmisi berkelanjutan pada manusia.
Periode Pasca Pandemi.
Sampai dengan saat ini Indonesia berada dalam fase 3.
2.2.6 Pathofisiologi

15
Virus influenza A,B dan C masing-masing dengan banyak sifat mutagenik yang
mana virus tersebut dihirup lewat droplet mukus yang terarolisis dari orang-orang
yang terinfeksi. Virus ini menumpuk dan menembus permukaan mukosa sel pada
saluran napas bagian atas, menghasilkan sel lisis dan kerusakan epithelium silia.
Neuramidase mengurangi sifat kental mukosa sehingga memudahkan
penyebaran eksudat yang mengandung virus pada saluran napas bagian bawah. Di
suatu peradangan dan nekrosis bronchiolar dan epithelium alveolar mengisi alveoli
dan exudat yang berisi leukosit, erithrosit dan membran hyaline. Hal ini sulit untuk
mengontrol influenza sebab permukaan sel antigen virus memiliki kemampuan untuk
berubah. Imunitas terhadap virus influenza A dimediasi oleh tipe spesifik
immunoglobin A (lg A) dalam sekresi nasal. Sirkulasi lg G juga secara efektif untuk
menetralkan virus. Stimulus lg G adalah dasar imunisasi dengan vaksin influenza A
yang tidak aktif.
Setelah nekrosis dan desquamasi terjadi regenerasi epithelium secara perlahan
mulai setelah sakit hari kelima. Regenerasi mencapai suatu maximum kedalam 9
sampai 15 hari, pada saat produksi mukus dan celia mulai tamapk. Sebelum
regenerasi lengkap epithelium cenderung terhadap invasi bakterial sekunder yang
berakibat pada pneumonia bakterial yang disebabkan oleh staphiloccocus Aureus.
Penyakit pada umumnya sembuh sendiri. Gejala akut biasanya 2 sampai 7 hari
diikuti oleh periode penyembuhan kira-kira seminggu. Penyakit ini penting karena
sifatnya epidemik dan pandemik dan karena angka kematian tinggi bersama sekunder.
Resiko tinggi pada orang tua dan orang yang berpenyakit kronik.
2.2.7 Manifestasi klinis
Gejala influenza dapat dimulai dengan cepat, satu sampai dua hari setelah
infeksi.Biasanya gejala pertama adalah menggigil atau perasaan dingin, namun
demam juga sering terjadi pada awal infeksi, dengan temperatur tubuh berkisar 38-
39 C (kurang lebih 100-103 F). Banyak orang merasa begitu sakit sehingga mereka
tidak dapat bangun dari tempat tidur selama beberapa hari, dengan rasa sakit dan
nyeri sekujur tubuh, yang terasa lebih berat pada daerah punggung dan kaki. Gejala
influenza dapat meliputi:
1. Demam dan perasaan dingin yang ekstrem (menggigil, gemetar)

16
2. Batuk
3. Bersin
4. Hidung tersumbat
5. Nyeri tubuh, terutama sendi, otot dan tenggorok
6. Kelelahan
7. Nyeri kepala
8. Mata merah, kulit merah (terutama wajah), serta kemerahan pada mulut,
tenggorok, dan hidung
9. Mual dan muntah
Pada anak, gejala gastrointestinal seperti diare dan nyeri abdomen (dapat
menjadi parah pada anak dengan influenza B).Kadangkala sulit untuk membedakan
antaraselesma dan influenza pada tahap awal dari infeksi ini, namun flu dapat
diidentifikasi apabila terdapat demam tinggi mendadak dengan kelelahan yang
ekstrem. Diare biasanya bukan gejala dari influenza dari anak, namun hal tersebut
dapat dijumpai pada sebagian kasus "flu burung" H5N1 pada manusia dan dapat
menjadi gejala pada anak-anak.
2.2.8 Penatalaksanaan
Tidak terdapat tindakan yang spesifik untuk penangan influenza.
Penatalaksanaan medis biasanya berupa :
1. Simptomatik (sesuai dengan gejala yang muncul), sebab antibiotic tidak efektif
untuk infeksi virus
2. Bedtres
3. Peningkatan intake cairan jika tidak ada kontra indikasi
4. Obat kumur, untuk menurunkan nyeri tenggorokan
5. Antihistamin, untuk menurunkan rinorrhea
6. Vitamin C dan ekspektoran; serta
7. Vaksinasi
2.2.9 Komplikasi
1. Radang paru (pneumonia) adalah sebuah penyakit pada paru - paru di
manapulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab
menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan. Radang paru -
paru dapat disebabkan oleh beberapa penyebab,
termasuk infeksi oleh bakteria, virus, jamur, atau pasilan (parasite). Radang
paru-paru yang disebabkan oleh bakteri biasanya diakibatkan oleh
bakteristreptococcus dan mycoplasma pneumoniae.

17
2. Gagal jantung adalah ketidak mampuan jantung untuk memasok aliran darah
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh . Virus influenza dapat
menibulkan pembengkakan di seitar jntung atau arteri yang menimbulkan
gumpalan . inilah yang menyebabkan serangan jantung.
2.2.10 Pencegahan primer, sekunder, tersier sesuai kasus
1. Pencegahan primer
Infeksi virus influenza dapat memberikan kekebalan terhadap infeksi dari virus
yang sejenis. Tetapi karena virus ini dapat bermutasi dengan mudah mengakibatkan
seseorang dapat mengalami influenza berulang-ulang. Salah satu pencegahan adalah
dengan menggunakan vaksin influenza yang mengandung virus A dan B dan
disebutkan dapat mengurangi terjadinya infeksi yang disebabkan oleh virus H5N1
atau flu burung dan juga pencegahan flu pada usia 5 50 tahun.
2. Pencegahan Sekunder
Golongan yang memerlukan vaksini ini antara lain usia > 65 th, memiliki
penyakit kronis lainnya (paru-paru, jantung, darah dan ginjal, Deabetes Melituss),
memiliki gangguan sistem pertahanan tubuh, dan petugas kesehatan. Dianjurkan
untuk memberikan vaksin sebelum musim dingin atau musim hujan. Selain itu
perubahan perilaku masyarakat dengan gaya hidup yang sehat dapat mengurangi
terjadinya penyakit influenza ini.
3. Pencegahan Tersier
Vaksinasi dalam jangka waktu lama untuk menurunkan kemungkinan terjadinya
sindrom Reye. Petugas perawatan kesehatan dan anggota keluargadi rumah adalah
mereka yang mempunyai resiko, yang dianjurkan untuk menerima vaksin untuk
menurunkan resiko penularan terhadap mereka yang rentan terhadap influenza.
Kampaye vaksin di antara petugas perawatan kesehatandan pasien harus diintensifitas
pada saat terbukti adanya penyakit influenza di komunitas.
Pasien yang dirawat dengan perkiraan atau terbukti menderita influenza harus
ditempatkan di ruangan tersendiri atau ruangan dengan pasien yang terbukti
menderita influenza. Untuk kemungkinan yang luas, ruangan harus dipilih yang
menyediakan tekanan udara yang negatif terhadap jalur udara. Petugas yang
melakukan perawatan untuk pasien harus menggunakan masker.

18
2.2.11 Pengendalian infeksi, pengobatan, dan terapi obat influenza
1. Pengendalian Infeksi
Cara yang cukup efektif untuk menurunkan penularan influenza salah satunya
adalah menjaga kesehatan pribadi dan kebiasaan higienis yang baik: seperti tidak
menyentuh mata, hidung dan mulut; sering mencuci tangan (dengan air dan sabun,
atau dengan cairan pencuci berbasis alkohol); menutup mulut dan hidung saat batuk
dan bersin, menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit; dan tetap berada di
rumah sendiri saat sedang sakit. Tidak meludah juga disarankan.Walaupun masker
wajah dapat membantu mencegah penularan saat merawat orang yang sakit terdapat
bukti-bukti yang bertentangan mengenai manfaat hal tersebut pada
masyarakat.Merokok meningkatkan risiko penularan influenza, dan juga
menimbulkan gejala penyakit yang lebih berat.
Karena influenza menyebar melalui aerosol dan kontak dengan permukaan yang
terkontaminasi, pembersihan permukaan tersebut dapat membantu mencegah
sebagian dari infeksi. Alkohol merupakan bahan sanitasi yang efektif terhadap virus
influenza, sementara senyawa amonium kuarterner dapat dipergunakan bersamaan
dengan alkohol sehingga efek sanitasi tersebut dapat bertahan lebih lama. Di rumah
sakit, senyawa amonium kuarterner dan bahan pemutih dipergunakan untuk
membersihkan ruangan dan peralatan yang sebelumnya dipakai oleh pasien dengan
gejala influenza. Di rumah, hal tersebut dapat dilakukan dengan efektif dengan
mempergunakan bahan pemutih chlorine yang diencerkan.
Pada pandemi yang lalu, penutupan sekolah, gereja, dan bioskop memperlambat
penyebaran virus namun tidak memiliki dampak yang besar terhadap angka kematian
keseluruhan. Belum dapat dipastikan apakah menurunkan pertemuan publik,
misalnya dengan menutup sekolah dan tempat kerja, akan menurunkan penularan
karena orang yang menderita influenza bisa saja masih berpindah dari satu tempat ke
tempat yang lain; pendekatan seperti ini juga akan sulit untuk dilakukan dan mungkin
tidak disukai. Apabila sejumlah kecil orang mengalami infeksi, mengisolasi orang
yang sedang sakit dapat mengurangi risiko penularan.

19
2. Pengobatan
Orang yang menderita flu disarankan untuk banyak beristirahat, meminum
banyak cairan, menghindari penggunaan alkohol dan rokok, dan apabila diperlukan,
mengonsumsi obat seperti asetaminofen (parasetamol) untuk meredakan gejala
demam dan nyeri otot yang berhubungan dengan flu. Anak-anak dan remaja dengan
gejala flu (terutama demam) sebaiknya menghindari penggunaan aspirinpada saat
infeksi influenza (terutama influenza tipe B), karena hal tersebut dapat
menimbulkan Sindrom Reye, suatu penyakit hati yang langka namun memiliki
potensi menimbulkan kematian. Karena influenza disebabkan oleh virus, antibiotik
tidak memiliki pengaruh terhadap infeks kecuali diberikan untukinfeksi
sekunder seperti pneumonia bakterialis. Pengobatan antiviral dapat efektif, namun
sebagian galur influenza dapat menunjukkan resistensi terhadap obat-obat antivirus
standar.
3. Terapi Obat
1) Antipyretic : ASA 600 mg secara oral, 4 jam bagi dewasa; acetaminophen bagi
anak-anak.
2) Agent adrenergic : Phenylephrine (Neo-Synephrine), 0,25%, 2 tetes pada tiap-
tiap nostril bagi kongesti nasal.
3) Agent antitussive : Terpin hydrat dengan codeine, 5-10 ml PO q 3-4 jam untuk
dewasa apabila batuk.
4) Agent antiinfektif : Amantadine 100 mg PO atau untuk durasi epidemik (3-6
minggu) untuk orang-orang beresiko tinggi berumur diatas 9 tahun bisa juga
diberikan kepada orang-orang berumur diatas 65 tahun tetapi takaran dikurangi
untuk orang dengan gagal fungsi.
5) Imunisasi aktif : Vaccine, 0,5ml IM untuk dewasa; 0,25 ml untuk bayi 6-35
bulan; 0,5 ml IM untuk anak-anak 3-12 tahun; untuk bayi dan anak-anak
berikan 2 dosis pada interval 4 minggu.

BAB 3
PENUTUP

20
3.1 Kesmpulan
Flu Burung (Avian Influenza - AI) adalah penyakit unggas yang menular
disebabkan virus influenza tipe A dari keluarga Orthomyxoviridae. Virus ini paling
umum menjangkiti unggas (misalnya ayam peliharaan, Kalkun, Itik, Puyuh, dan
Angsa) juga berbagai jenis burung liar.
Flu burung termasuk jenis penyakit yang sangat menular, menular dengan
sangat cepat dan dapat menyebabkan kematian. Penanggulangan penyakit ini harus
cepat, tepat, dan cermat karena dapat menyebabkan kematian pada unggas dengan
cepat. Selain pada unggas, penyakit ini juga dapat menyerang pada manusia.
Penanggulangan pada penyakit ini dengan menjaga kebersihan, hindari kontak
langsung dengan hewan yang terinfeksi dan memasak hewan unggas untuk konsumsi
secara matang.
Influenza adalah penyakit menular yang menyerang saluran napas, dan sering
menjadi wabah yang diperoleh dari menghirup virus influenza. Penyebab penyakit
ini :Virus Influsenza tipe A, B, dan C yang disebabkan oleh virus
RNA dari familiOrthomyxoviridae (virus influenza), yang
menyerangunggas dan mamalia. Gejala : menggigil, demam, nyeri tenggorok, nyeri
otot, nyeri kepala berat, batuk, kelemahan, rasa tidak nyaman secara umum, mual dan
muntah, terutama pada anak-anak. Pencegahan adalah dengan menggunakan vaksin
influenza yang mengandung virus A dan B. Penatalaksanaannya : dengan vaksinasi.
Simptomatik (sesuai dengan gejala yang muncul), sebab antibiotic tidak efektif untuk
infeksi virus.
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah Penyakit Flu Burung dan Influenza ini masih
banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Kami sebagai penulis membuka kritik dan
saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Informasi-informasi
seputar flu burung dalam makalah ini tidak kami sebutkan semua, namun hanya
beberapa yang dapat menunjang penyusunan makalah. Dan pada akhirnya makalah
ini diharapkan dapat membuat mahasiswa(i) tahu akan pentingnya pencegahan dan
pemberantasan penyakit flu burung yang terjadi di negara Indonesia.

21
Jagalah kesehatan yang telah diberikan Allah sebagai anugrah terbesar sehingga
kita terhindar dari virus influenza yang dapat mengganggu aktifitas kita sehari-hari
dengan melakukan pencegahan di secara dini dan jangan lupa menjaga kebersihan
baik dari badan, tempat, maupun pakaian karena dengan kebersihan semoga kita
terhindar dari virus tersebut.

22