Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan catatan WHO, di dunia ada sekitar 50-80 juta pasangan suami
istri mempunyai problem Infertilitas dan setiap tahunnya muncul sekitar 2 juta
pasangan infertil (ketidakmampuan mengandung atau menginduksi konsepsi) baru.
Tidak tertutup kemungkinan jumlah itu akan terus meningkat. Berdasarkan penelitian
dari setiap 100 pasangan, pada pasangan suami istri yang sudah mempunyai anak dan
mereka menginginkan anak kembali seperempatnya atau 15% berada di bawah
kesuburan normal. Di Indonesia kejadian perempuan infertil 15% pada usia 30-34
tahun, meningkat 30% pada usia 35-39 tahun, dan 55% pada usia 40-44 tahun. Hasil
survei gagalnya kehamilan pada pasangan yang sudah menikah selama 12 bulan, 40%
disebabkan infertilitas pada pria, 40% karena infertilitas pada wanita, dan 10% dari
pria dan wanita, 10% tidak diketahui penyebabnya. pasangan usia subur (PUS) yang
menderita infertilitas sebanyak 524 (5,1%) PUS dari 10205 PUS. (Samsyiah, 2010).
Memiliki anak penting bagi semua masyarakat di dunia dan perkawinan merupakan
salah satu sarana untuk mendapat keturunan, dengan adanya keturunan diharapkan
dapat membangun keluarga yang aman, damai, sejahtera dan bahagia sehingga
pertumbuhan dan perkembangan anak sebagai generasi penerus dengan kualitas
sumber daya manusia dapat diandalkan. (Manuaba,1999). Infertilitas
(ketidakmampuan konsepsi atau memiliki anak) merupakan sumber keluhan dan
kecemasan pada pasangan. Walaupun Infertilitas tidak berpengaruh pada aktivitas
fisik dan tidak mengancam jiwa, bagi banyak pasangan hal ini berdampak besar pada
kehidupan keluarga (POGI,1996).

Selain itu faktor psikokultural mempengaruhi sikap pasangan terhadap


masalah ini, sehingga ada upaya-upaya irasional (alternatif, shinse, herbalisme, dll)
untuk mempunyai anak. Memang apa yang dilakukan pasangan tidak dapat
disalahkan sepenuhnya, karena ilmu kedokteran yang mutakhir sekalipun belum dapat
menjawab seluruh masalah Infertilitas secara memuaska. Program Keluarga
Berencana (KB) menurut World Health Organization (WHO) juga mencakup
pelayanan pasangan infertilitas. Hal ini sesuai dengan tujuan program Nasional
Kependudukan dan Keluarga Berencana di Indonesia yaitu Mewujudkan Keluarga
Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). Ole karena itu kepada pasangan suami istri yang
belum dikaruniai anak seyogyanya juga diberikan pelayanan infertilitas agar mereka
juga dapat mewujudkan tujuan NKKBS bagi diri dan keluarga (Hartanto, 2002).
Penyebab utama Infertilitas dibeberapa Negara berkembang adalah infeksi yang
disebabkan karena kuman gonorrea dan clamydia. Infeksi tersebut dapat
menyebabkan penyakit radang panggul (PRP), penyumbatan tuba, Infeksi postpartum
dan post abortus pada wanita serta epididimitis pada lakilaki (POGI.1996). Seperti
halnya penanggulangan penyakit pada umumnya, 3 usaha pertama yang selalu harus
diusahakan adalah mencari penyebab Infertilitas. Hasil survey sebuah website wanita
menunjukan bahwa gagalnya kehamilan pada pasangan menikah selama 12 bulan, 40
% nya disebabkan Infertilitas pada pria, 40 % pada wanita dan 20 % lagi adalah
kombinasi keduanya. Jadi tidak benar anggapan bahwa kaum wanita lebih
bertanggungjawab terhadap kesulitan mendapatkan anak, bahkan penelitian beberapa
tahun terakhir ini, 50 % gangguan kesuburan disebabkan oleh pria (Alia, 2005).

Evaluasi terhadap pria penderita infertilitas yang datang ke klinik infertilitas


bagian urologi RSUPN Cipto Mangunkusumo menunjukkan, 20- 25% penderita tidak
diketahui penyebabnya. Penyebab terbanyak infertilitas pria adalah pelebaran
pembuluh darah balik atau vena disekitar buah zakar yang disebut varikokel.
Varikokel ditemukan pada 40% penderita. Temuan ini tidak jauh berbeda dengan
temuan salah satu pusat penanggulangan infertilitas terkenal di Baylor College of
Medicine, Amerika Serikat yaitu 42%. Penyebab lain dari infertilitas pada pria adalah
sumbatan/obstruksi pada saluran sperma. Hal ini terjadi pada 15% penderita. Pada
20% sisanya, infertilitas diakibatkan oleh berbagai faktor, misalnya gangguan
hormon, kelainan bawaan, pengaruh obat, gangguan ereksi/ejakulasi, radiasi,
keracunan pestisida, gangguan imunologi, operasi di daerah panggul dan lain-lain.

Pada wanita penyebab infertilitas terbanyak adalah karena tertutupnya saluran


tuba sebanyak 30%, 25% disebabkan karena gangguan ovulasi, masalah serviks
sebanyak 15%, masalah-masalah endokrin seperti tumor hipofisis dan kelainan
kongenital juga dapat menyebabkan infertilitas pada wanita, hal ini terjadi sebanyak
10% penderita (POGI,1996).
Menurut survey yang dilakukan peneliti di Yayasan Klinik Bersalin Hj.
Darnelis Zam Darussalam Banda Aceh jumlah Pasangan Usia Subur yang bekunjung
sebanyak 44 pasangan, dan survey permasalahan infertil sebanyak 29 pasangan
mempunyai masalah infertil. Menurut survey dengan cara wawancara pada Pasangan
Usia Subur, pada Pasangan Usia Subur yang berkunjung sebanyak 10 Pasangan Usia
Subur, 8 diantaranya tidak mempunyai pengetahuan tentang infertil karena alasan
informasi, dan 2 orang mempunyai pengetahuan tentang infertil karena alasan
informasi.

Berdasarkan teori Health Promotion Model/HPM, pengambilan tindakan


untuk kesembuhan dan peningkatan kualitas hidup perempuan dalam hal ini
pengalaman pencarian pengobatan dalam mengatasi infertilitas akan dipengaruhi oleh
karakteristik dan pengalaman perempuan sebelumnya, sehingga berdampak pada
kognitif behaviour spesifik dan sikap selama pengobatan. Perilaku sebelumnya, faktor
personal terutama sosiokultural, manfaat pengobatan, hambatan selama pengobatan,
kepercayaan diri dalam mencari pengobatan, sikap selama pengobatan, dukungan
keluarga, kelompok, petugas kesehatan, dukungan sosial, belajar dari pengalaman
orang lain, pilihan yang tersedia, karakteristik kebutuhan, dan penyuluhan kesehatan
reproduksi menimbulkan komitmen perempuan infertil untuk hamil. Pencarian
pengobatan juga dikarenakan tuntutan dari suami dan keluarga untuk segera hamil.
Dari studi literatur yang ada belum didapatkan adanya penelitian tentang ini, oleh
karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian secara mendalam pengalaman
wanita infertil dalam mencari pengobatan dengan menggunakan pendekatan teori
Health promotion model.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dan pembahasan latar belakang diatas, maka dapat


dirumuskan sebagai berikut, yaitu Gambaran Pengetahuan Sikap Dan Perilaku
Pasien Polikilinik Endokrin Dan Infertilitas Terhadap Endoskopi Ginekologi
C. Tujuan Umum

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Pasangan


Usia Subur tentang Gambaran Pengetahuan Sikap Dan Perilaku Pasien Polikilinik
Endokrin Dan Infertilitas Terhadap Endoskopi Ginekologi.

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap pengetahuan Pasangan Usia


Subur.

b. Untuk mengetahui pengaruh usia terhadap pengetahuan Pasangan Usia Subur.

c. Untuk mengetahui pengaruh informasi terhadap pengetahuan Pasangan Usia Subur.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti

Sebagai penerapan dalam mata kuliah metode penelitian dan menambah


pengetahuan serta pengalaman dalam meneliti.

2. Bagi petugas kesehatan

Sebagai sumbangan pemikiran tentang pasangan yang mengalami Infertil


ditinjau dari aspek pengetahuan tentang Infertilitas sehingga bidan dapat memberikan
bantuan berupa konseling atau bimbingan dengan demikian meningkatkan mutu
layanan reproduksi wanita.

3. Bagi institusi pendidikan

Sebagai masukan untuk institusi pendidikan agar para pengajar lebih


memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasisiwa mengenai faktor-faktor
yang pengaruhi pengetahuan Pasangan Usia Subur tentang infertilitas