Anda di halaman 1dari 26

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengembangan tanaman jagung di lahan kering dihadapkan pada berbagai


kendalah, yaitu lereng yang curam, bahaya erosi, longsor, ketersediaan air yang
rendah, dan tingkat produktifitas lahan yang rendah. Basa dkk., (1991)
mengemukakan paket teknologi untuk tanaman pangan pada lahan kering yang
dianjurkan yaitu: penanaman varitas unggul, menggunakan pola tanaman pupuk
buatan dan kapur, serta melakukan pengendalian hama, penyakit gulma secara
terpadu. Namun demikan, adopsi terhadap paket teknologi tersebet masih rendah
disebabkan memerlukan modal dasar dan padat tenaga kerja.
Jagung merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia dan
mempunyai peran strategis dalam perekonomian nasional, mengingat fungsinya
yang multiguna, sebagai sumber pangan, pakan, dan bahan baku industri. Kebutuhan
jagung dalam negeri untuk pakan sudah mencapai 3,48 juta ton pada tahun 2004,
4,07 juta Ton pada tahun 2008 dan diprediksi meningkat menjadi 6,6 juta ton pada
tahun 2010. (Departemen Pertanian 2009). Kebutuhan yang terus meningkat ini, jika
tidak diimbangi dengan Peningkatan produksi yang memadai, akan menyebabkan
Indonesia harus mengimpor jagung dalam jumlah besar.
Limbah pertanian merupakan sisa-sisa hasil pertanian yang berasal dari
tumbuhan dan hewan ternak misalnya sisa dari pemanenan hasil tanaman pangan,
perkebunan, hortikultura, sampah rumah tangga, kotoran hewan ternak dan
sebagainya. Pemanfaatan limbah pertanian sangat perlu kita lakukan agar tidak terjadi
pencemaran lingkungan selain itu dapat dijadikan masukan atau tambahan bagi petani
ataupun masyarakat yang memanfaatkan limbah tersebut.
Beberapa lahan dan tanah pertanian pada saat ini mengalami kerusakan dan
penurunan tingkat kesuburan tanah yang sangat memerlukan solusi penanganan
secara efektif dan maksimal.Hal ini dapat mengakibatkan dampak yang besar bagi
kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.Pupuk memegang peranan yang sangat
penting di dalam budidaya tanaman.Tanaman membutuhkan pupuk yang sesuai untuk
memenuhi kebutuhan unsur hara dan agar dapat tumbuh serta berkembang dengan
baik. Penggunaan bahan-bahan alami seperti memberikan keuntungan bagi tanah,
tanaman dan lingkungan. Proses pembuatan juga menjadi salah satu solusi masalah
sampah yang semakin memerlukan penanganan yang bijaksana.
Berdasarkan kenyataan di lapangan, persediaan bahan organik pada lahan
pertanian sedikit demi sedikit semakin berkurang. Jika hal tersebut tidak ditambah
dan segera diperbaiki oleh petani maka penurunan produksi akan terjadi pada
tanaman-tanaman pertanian, seperti padi, palawija dan sayuran. dan keterampilan
petani dalam masalah penggunaan pupuk bokasi secara praktis di lapangan.
Pemanfaatan bahan-bahan organik seperti yang dihasilkan dari limbah ternak telah
banyak dilakukan.Limbah organik yang dihasilkan oleh ternak memiliki potensi yang
cukup tinggi untuk dikembangkan menjadi pupuk. Pengolahan pupuk dapat
dilakukan dengan hanya menimbun limbah organik tersebut dalam tanah untuk
ditunggu selama kurang lebih tiga bulan dan kemudian menjadi, atau dapat dilakukan
dengan bantuan khusus yang dapat mengubah sampah organik tersebut menjadi
pupuk dalam hitungan hari.
Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa jepang yang berarti Bahan organik
yang telah difermentasikan jadi pupuk organik bokashi merupakan hasil fermentasi
bahan organik dari limbah pertanian (kotoran ternak, jerami padi, sekam padi, serbuk
gergaji, sampah, rumput dan lain-lain) yang diolah dengan menggunakan
aktifatorEffective Microorganism (EM), dengan sistem bokashi ini kita bias
memanfaatkan limbah menjadi pupuk organic yang berkualitas dan dalam waktu
yang singkat.

B. Tujuan Praktikum
Tujuan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Mengenal krakteristik berbagai jenis pupuk
2. Untuk mengetahui proses pembuatan pupuk organic padat dari dedaunan
vegetasi sekunder menggunakan EM4.
3. Untuk mengetahui teknik pembuatan pupuk cair organic dari beberapa bahan
organic.

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :

1. Mengenal berbagai krakteristik berbagai jenis pupuk


2. Untuk mengetahui berbagai proses pembuatan pupuk organic padat dari
dedaunan vegetasi sekunder menggunakan EM4.
3. Untuk mengetahui berbagai teknik pembuatan pupuk cair organic dari
beberapa bahan organic.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Bokashi dapat digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah melalui
perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pengaruh terhadap sifat fisik tanah
yaitu melalui pembentukan agregat tanah sehingga dapat memperbaiki struktur tanah.
Pengaruh terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatnya kandungan unsur hara
tanah, sedangkan pengaruhnya terhadap biologi tanah adalah meningkatnya populasi
dan aktivitas mikroorganisme sehingga ketersediaan unsur hara akan meningkat pula
(Gabesius, 2012).
Penggunaan pupuk anorganik yang ketersediaannya cenderung mengalami
kelangkaan dan harganya pun mahal maka pemanfaatan pupuk organik atau bokashi
kotoran ayam sebagai upaya untuk menghemat penggunaan pupuk anorganik, oleh
karena itu penulis menganggap perlu membuat suatu percobaan penggunaan bokashi
kotoran ayam pada tanaman dalam meningkatkan produksi melon dan menambah
pengetahuan petani (Subhan, 2008),
Pemilihan pupuk yang tepat memegang peranan pening dalam budidaya
tanaman organik. Pupuk yang digunakan sebaiknya berupa pupuk organik seperti
kompos, pupuk kandang, atau pupuk bokashi yang menggunakan teknologi
mikroorganisme. Penggunaan pupuk organik kini sudah menjadi tren di masyarkat
yang peduli akan kesehatan. Hal ini karena penggunaan pupuk organik tidak
meninggalkan bahan residu di dalam sayuran sehingga aman bagi orang yang
mengonsumsinya. Artinya, ketika sayuran dikonsumsi, tidak menimbulkan efek
samping bagi kesehatan tubuh (Supriati, 2010).
Mikroorganisme Efektif (EM) merupakan kultur campuran berbagai jenis
mikroorganisme yang bermanfaat (bakteri fotosintetik. bakteri asam laktat, ragi,
actynomicetes, dan jamur peragian) yang dapat dimanfaatkan sebagai inokulan untuk
meningkatkan keragaman mikrobia tanah. Pemanfaatan EM dapat memperbaiki
kesehatan dan kualitas tanah. dan selanjutnya memperbaiki penumbuhan dan hasil
tanaman. EM merupakan kultur campuran berbagai jenis mikrobia yang berasal dari
lingkungnn alami. Kultur EM mengandung mikroorganisme yang secara genetika
bersifat asli tidak dimodikasi (Sutanto, 2008).
Bokashi dapat digunakan seperti pupuk kandang atau pupuk kompos. Dosis
yang umum digunakan yaitu 3-4 genggam bokashi untuk satu meter persegi lahan.
Penggunaan berbagai macam bokashi secara umum sama. Namun, alangkah baiknya
bila penggunaannya disesuaikan dengan unsur hara dalam bokashi tersebut. Dengan
bantuan EM4, bokashi yang diperoleh sudah dapat digunakan dalam waktu yang
relatif singkat, yaitu setelah proses 4-7 hari. Selan itu, bokashi hasil pengomposan
tidak panas, tidak berbau busuk, tidak mengandung hama dan penyakit, serta tidak
membahayakan pertumbuhan atau produksi tanaman (Indriani, 2007).

A. Morfologi Jagung

Klasifikasi morfologi tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah:


Kerajaan: Plantae
Divisio: Angiospermae
Kelas: Monocotyledoneae
Ordo: Poales
Familia: Poaceae
Genus: Zea
Spesies: Zea mays L.
Jagung (Zea mays, L) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang
terpenting, selain gandum dan padi. Jagung merupakan sumber karbohidrat utama di
Amerika Tengah dan Amerika Selatan, selain itu jagung juga menjadi alternative
sumber pangan. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan
Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok, selain sebagai 5
sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak hijauan maupun
tongkolnya (Yopie Moelyohadi, 2012).

B. Syarat Tumbuh Tanaman Jagung

Jagung di Indonesia kebanyakan ditanam di dataran rendah baik di tegalan,


sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebagian terdapat juga di daerah
pegunungan pada ketinggian 1000- 1800 m di atas permukaan laut. Tanah yang
dikehendaki adalah gembur dan subur, karena tanaman jagung memerlukan aerasi
dan drainase yang baik. Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah.
Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi pertumbuhannya. Tanah-tanah
berat masih dapat ditanami jagung dengan pengerjaan tanah lebih sering selama
pertumbuhannya, sehingga aerasi dalam tanah berlangsung dengan baik. Air tanah
yang berlebihan dibuang melalui saluran drainenase yang dibuat dinatar barisan
jagung. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untiik jagung adalah sekittir 5,5 - 7,0.
Tanah dengan kemiringan tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan
arah barisan tegak lurus terhadap miringnya tanah, derigan maksud untuk mencegah
keganasan erosi yang terjadi pada waktu turun hujan besar (Kuntyastuti, 2008).
Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerah-
daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah. Jagung
dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40 derajat LS.
Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan
ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan
pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya jagung
ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau. Pertumbuhan tanaman
jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang ternaungi,
pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan memberikan hasil biji yang kurang
baik bahkan tidak dapat membentuk buah ( Wardiyatmoko, 2006)
Cekaman kekeringan yang berlebihan merupakan salah satu cekaman
terluas yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi di areal pertanian. Hal ini
dapat dilihat dari beberapa faktor cekaman abiotik, dimana persentase
cekaman kekeringan sebesar 26%, kemudian diikuti oleh cekaman mineral 20%,
suhu rendah 15%, sedangkan sisanya adalah cekaman biotik 39% (Ekmekci,
2007).
Tanaman jagung lebih toleran terhadap kekurangan air pada fase vegetatif dan
fase pematangan/masak. Penurunan hasil terbesar terjadi apabila tanaman
mengalami kekurangan air pada fase pembungaan, bunga jantan dan bunga
betina muncul, dan pada saat terjadi proses penyerbukan. Penurunan hasil
tersebut disebabkan oleh kekurangan air yang mengakibatkan terhambatnya proses
pengisian biji karena bunga betina/tongkol mengering, sehingga jumlah biji
dalam tongkol berkurang. Hal ini tidak terjadi apabila kekurangan air terjadi pada
fase vegetatif (Ahmad dkk, 2009).
Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagi
pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajat C.
Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30
derajat C. Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik dari
pada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan
pengeringan hasil (Nagiman, 2014).

C. Bokasi

Tingginya harga pupuk kimia buatan dan kelangkaan pupuk di sejumlah


wilayah saat ini sangat meresahkan para petani. Sejumlah petani di beberapa daerah
bahkan telah mulai melirik jenis pupuk lain sebagai pengganti pupuk kimia buatan
yang biasa digunakan. Salah satu jenis pupuk yang dapat menggantikan kehadiran
pupuk kimia buatan adalah bokashi.
Bokashi adalah Bahan Organik Kaya akan Sumber Hayati. Bokashi
merupakan hasil fermentasi bahan organik dari limbah pertanian (pupuk kandang,
jerami, sampah, sekam serbuk gergaji, rumput dll.) dengan menggunakan EM-4. EM-
4 (Efektif Microorganisme-4) merupakan bakteri pengurai dari bahan organik yang
digunakan untuk proses pembuatan bokashi, yang dapat menjaga kesuburan tanah
sehingga berpeluang untuk meningkatkan produksi dan menjaga kestabilan produksi.
Bokashi selain dapat digunakan sebagai pupuk tanaman juga dapat digunakan sebagai
pakan ternak.
Pupuk Bokashi merupakan salah satu pupuk organik yang banyak
memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan penggunaan pupuk bokashi
diharapkan dapat membantu menyuburkan tanaman, mengembalikan unsur hara
dalam tanah, sehingga kesuburan tanah tetap tejaga dan ramah lingkungan.
Pembuatan bokashi sangat perlu untuk diterapkan, karena merupakan teknologi baru
yang tepat guna, dengan biaya murah serta mudah dilaksanakan dengan
memanfaatkan limbah ternak dan limbah pertanian yang ada.
Di Jepang, bokashi telah digunakan sejak tahun 80-an. Banyak petani di
negeri sakura memilih bokashi untuk lahan pertaniannya dikarenakan bokashi dapat
memperbaiki struktur tanah yang sebagian besar telah menjadi keras akibat
penggunaan pupuk kimia terus-menerus. Selain itu bokashi juga terbukti
meningkatkan kesuburan serta produktifitas tanaman meski efek ini baru dapat
dirasakan setelah bertahun-tahun penggunaan. Hal tersebut sangat wajar karena
pupuk alami semacam bokashi biasanya memang mengandung unsur hara dalam
dosis kecil, namun lengkap unsur makro dan mikronya. Belum diketahui dengan jelas
mengapa petani di Indonesia enggan menggunakan bokashi. Padahal bila mau, bahan
baku bokashi tersedia melimpah dan bahkan seringkali dianggap sebagai limbah
sehingga kerap dihargai sangat murah.
Macam-Macam Bokashi
Bokashi terdiri dari beberapa macam yaitu :
1. Bokashi pupuk kandang
2. Bokashi pupuk kandang arang
3. Bokashi pupuk kandang tanah
4. Bokashi jerami
5. Bokashi cair
6. Bokashi eksores 24 jam
7. Bokashi sebagai pakan ternak
Manfaat Bokashi :
1. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanam.
2. Kandungan hara dalam pupuk bokashi lebih tinggi dibandingkan dengan
pupuk kompos.
3. Periode tumbuh pada tanaman lebih cepat.
4. Peningkatan aktivitas mikroorganisme yang menguntungkan
seperti mycorhiza, rhizobium, bakteria pelarut fosfat dll.
5. Menghambat pertumbuhan hama dan penyakit yang merugikan tanaman.
6. Bila bokashi dimasukan ke dalam tanah, bahan organiknya dapat digunakan
sebagai substrat oleh mikroorganisme, efektif untuk berkembang biak dalam
tanah, sekaligus sebagai tambahan persediaan unsur hara bagi tanaman.
Manfaat EM-4
1. Memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah
2. Meningkatkan ketersediaan unsur hara, serta menekan aktivitas hama dan
mikroorganisme pathogen.
3. Meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi tanaman.
4. Mempercepat proses fermentasi pada pembuatan bokashi (Kaharuddin, 2007).

D. Mamfaat Bokasi

Bokashi adalah hasil fermentasi bahan-bahan organik seperti sekam, serbuk


gergajian, jerami, kotoran hewan dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut difermentasikan
dengan bantuan mikroorganisme aktivator yang mempercepat proses fermentasi.
Campuran mikroorganisme yang digunakan untuk mempercepat fermentasi dikenal
sebagai effective microorganism (EM). Penggunaan EM tidak hanya mempercepat
proses fermentasi tetapi juga menekan bau yang biasanya muncul pada proses
penguraian bahan organik.
- Beberapa manfaat pupuk Bokashi antara lain:
1. Memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah
2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian
3. Meningkatkan kandungan material organik tanah sehingga mengurangi
kepadatan tanah dan dapat mempermudah masuknya air ke dalam tanah
4. Mengurangi kelengketan tanah sehingga meningkatkan performa alat dan
mesin bajak

Manfaat pupuk bokasi dari kotoran sapi adalah Kotoran sapi ( Bahasa Jawa:
Cletong ) merupakan pupuk kandang limbah dari peternakan sapi yang
mempunyai kandungan serat tinggi , karena terdapat Serat atau selulosa dalam
kadar tinggi pada kotoran ternak ini baik dalam bentuk padat dan air kencing
sapi, ia merupakan senyawa rantai karbon yang dapat mengalami proses
pelapukan lebih kompleks. proses pelapukan secara alamiah oleh berbagai
jenis mikroba tersebut membutuhkan unsur Nitogen (N) yang terkandung
pada kotoran sapi tersebut dalam jumlah besar. Karena alasan ini pupuk
kandang dalam kondisi segar atau masih baru tidak disarankan untuk
memupuk tanaman apapun (Saragih D, 2013.
III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan di Kebun Percobaan I Fakultas Pertanian


Universitas Halu Oleo Kendari. Praktikum ini dilaksanakan dari bulan Oktober
sampai bulan Desember 2016.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul, parang, gembor,
kamera, terpal, timbangan duduk dan alat tulis menulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah dedak 10 kg, buah pisang
10 kg dan kotoran kambing 25 kg.

C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Menyiapkan bahan-bahan yang akan dibuat bokasi berupa sisa-sisa hasil pertanian,
hijauan (dedaunan) dan kotoran ternak.
2. Menyiapkan lahan untuk proses pengomposan, sebaiknya diberi atap agar teduh
tidak terpapar sinar matahari serta melindungi dari air hujan agar tidak masuk saat
proses pengomposan.
3. Mencacah bahan yang berasal dari tumbuhan sehingga berukuran lebih kecil
sekitar 1-2 centimeter. Pemotongan ini berfungsi agar mempercepat proses
dekomposisi serta memperlancar proses aerasi.
4. Hamparkan bahan baku yang telah dicacah tersebut diatas permukaan tanah. Buat
lapisan dengan bahan cacahan hijauan ini dengan ukuran selebar 1 meter dan
ketebalan sekitar 20 cm.
5. Taburkan pada lapisan pertama kotoran kambing setebal kurang lebih 5 cm,
kemudian diratakan keseluruh permukaan.
6. Kemudian semprotkan larutan bakteri decomposer EMA+air+gula pasir yang telah
dibuat sebelumnya diatas lapisan hijauan, dedak dan kotoran ternak. Semprotkan
secara merata agar proses pengomposan berjalan maksimal.
7. Tutup rapat tumpukan semua bahan tersebut dengan menggunakan terpal/plastic
tebal.
8. Biarkan campuran tersebut selama 2-4 hari agar terjadi proses dekomposisi.
9. Setelah 2-4 hari buka penutup bokasi lalu aduk tumpukan bahan secara merata.
10. Proses pengomposan ini memerlukan waktu sekitar 3-6 minggu, hal tersebut
terjadi bergantung dari bahan baku yang digunakan serta bakteri starter
decomposer yang digunakan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Tinggi Jagung
Hasil pengamatan tinggi jagung dan analisis sidik ragam menunjukan bahwa
pemberian pupuk organik kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap tinggi jagung
pada umur 3 MST, 5 MST dan 7 MST. Rataan tinggi jagung yang tertinggi terdapat
pada perlakuan pupuk organik kotoran ayam 10 ton/ha yaitu: 3 MST (34.55), 5 MST
(70.08) dan 7 MST (133.83), sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan tanpa
pupuk organik kotoran ayam, yaitu 3 MST (27.53), 5 MST (45.68) dan 7 MST
(91.17). Rataan tinggi jagung pada setiap pengamatan disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik Rataan Tinggi Jagung Selama Pengamatan.


Tabel 2. Rataan Tinggi Jagung (cm) Selama Pengamatan.
Rataan Tinggi Jagung (cm)
Perlakuan 3 MST 5 MST 7 MST
Pupuk Organik Kotoran Ayam 10 ton/ha 34.55 70.08 133.83
a a a
Pupuk Organik Kotoran Ayam 7.5 ton/ha 31.19a 61.49a 119.33a
b b b
Pupuk Organik Kotoran Ayam 5 ton/ha 29.42 54.13b 112.25
b c b
Pupuk Organik Kotoran Ayam 2.5 ton/ha 28.16 50.06b 104.50b
b c c
Tanpa Pupuk Organik Kotoran Ayam 27.53 45.68 91.17
b c c
BNT 5% 4.1 14.5 18.7
3 8 5
Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf
nyata 5%.
Pada umur 3 MST, 5 MST dan 7 MST masing-masing memberikan pengaruh
yang nyata. Perlakuan tanpa pupuk organik kotoran ayam pada umur 3 MST tidak
berbeda nyata dengan perlakuan pupuk organik kotoran ayam 2.5 ton/ha dan 5 ton/ha
dan berbeda nyata dengan perlakuan pupuk organik kotoran ayam 7.5 ton/ha dan 10
ton/ha, pada umur 5 MST dan 7 MST perlakuan tanpa pupuk organik kotoran ayam
berbeda nyata dengan perlakuan pupuk organik kotoran ayam 2.5 ton/ha, 5 ton/ha, 7.5
ton/ha dan 10 ton/ha. Tinggi jagung pada perlakuan 10 ton/ha selama pengamatan
menunjukan hasil yang baik dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya.
2. Diameter Batang
Perlakuan pupuk organik kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap diameter
batang pada saat umur 3 MST, 5 MST dan 7 MST. Rataan diameter jagung yang besar
terdapat pada perlakuan dosis pupuk organik 10 ton/ha yaitu : 3 MST (0.90), 5 MST
(1.45) dan 7 MST (2.27), sedangkan yang kecil terdapat pada perlakuan tanpa pupuk
organik padat, yaitu 3 MST (0.55), 5 MST (0.73) dan 7 MST (0.87). Rataan diameter
batang jagung pada setiap pengamatan disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik Rataan Diameter Batang Jagung Selama Pengamatan.


Tabel 3. Rataan Diameter Batang Jagung (cm) Selama Pengamatan.

Rataan Diameter Batang (cm)


Perlakuan 3 MST 5 MST 7 MST
Pupuk Organik Kotoran Ayam 10 ton/ha 0.90 1.45 2.27
Pupuk Organik Kotoran Ayam 7.5 ton/ha 0.77
a 1.35a
a 1.93
a
Pupuk Organik Kotoran Ayam 5 ton/ha b
0.70 b1.17 b
1.82
Pupuk Organik Kotoran Ayam 2.5 ton/ha b0.67 b1.15 b1.72
Tanpa Pupuk Organik Kotoran Ayam b0.55 b0.73 b0.87
BNT 5% c0.1 c0.2 c0.2
Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama 1 tidak berbeda
1 nyata pada
4
taraf nyata 5%.
Pada umur 3 MST, 5 MST dan 7 MST menunjukan perbedaan yang nyata.
Perlakuan pupuk organik kotoran ayam 10 ton/ha hasilnya berbeda nyata dengan
perlakuan yang lain, sedangkan antara perlakuan pupuk organik kotoran ayam 7.5
ton/ha, 5 ton/ha dan 2.5 ton/ha, masing-masing tidak menunjukan perbedaan yang
nyata, artinya penggunaan pupuk organik kotoran ayam 2.5 ton/ha dapat digunakan
sebagai acuan penggunaan dosis yang baik karena biaya yang dikeluarkan sedikit
dan hasilnya sama dengan dosis pupuk organik kotoran ayam 5 ton/ha dan 7.5
ton/ha. Perlakuan tanpa pupuk organik kotoran ayam berbeda nyata dengan
perlakuan yang lainnya dan hasilnya sangat rendah.

3. Jumlah Daun

Perlakuan pupuk organik kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap jumlah


daun pada saat umur 3 MST, 5 MST dan 7 MST. Rataan diameter jagung yang besar
terdapat pada perlakuan dosis pupuk organik 10 ton/ha yaitu : 3 MST (7.25), 5 MST
(11.08) dan 7 MST (13.50), sedangkan yang kecil terdapat pada perlakuan tanpa
pupuk organik padat, yaitu 3 MST (5.33), 5 MST (6.58) dan 7 MST (8.08). Rataan
jumlah daun jagung pada setiap pengamatan disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3. Grafik Jumlah Daun Jagung Selama Pengamatan.
Tabel 4. Rataan Jumlah Daun Jagung (helai) Selama Pengamatan.
Rataan Jumlah Daun (Helai)
Perla 3 MST 5 MST 7 MST
Pupuk Organik Kotoran Ayam 10 ton/ha 7.25a 11.08 13.50
Pupuk Organik Kotoran Ayam 7.5 ton/ha 6.75ab a
10.08 a
12.67
Pupuk Organik Kotoran Ayam 5 ton/ha 6.42b b9.75 b
12.50
Pupuk Organik Kotoran Ayam 2.5 ton/ha 6.08b b
9.50 b
11.58
Tanpa Pupuk Organik Kotoran Ayam 5.33c b6.58 b 8.08
BNT 5% 0.73 c0.7 c0.7
3
Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata 7
pada taraf
nyata 5%.
Pada umur 3 MST, 5 MST dan 7 MST masing-masing menunjukan perbedaan
yang nyata. Perlakuan pupuk organik kotoran ayam 10 ton/ha hasilnya berbeda nyata
dengan perlakuan yang lainnya, sedangkan antara perlakuan pupuk organik kotoran
ayam 7.5 ton/ha, 5 ton/ha dan 2.5 ton/ha, masing-masing tidak menunjukan
perbedaan yang nyata, artinya penggunaan pupuk organik kotoran ayam 2.5 ton/ha
dapat digunakan sebagai acuan penggunaan dosis yang baik karena biaya yang
dikeluarkan sedikit dan hasilnya sama dengan dosis pupuk organik kotoran ayam 5
ton/ha dan 7.5 ton/ha. Perlakuan tanpa pupuk organik kotoran ayam berbeda nyata
dengan perlakuan yang lainnya dan hasilnya sangat rendah.
4. Panjang Daun
Perlakuan pupuk organik kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap jumlah
daun jagung pada saat umur 3 MST, 5 MST dan 7 MST. Rataan diameter jagung yang
besar terdapat pada perlakuan dosis pupuk organik 10 ton/ha yaitu : 3 MST (25.77), 5
MST (54.25) dan 7 MST (93.17), sedangkan yang kecil terdapat pada perlakuan tanpa
pupuk organik padat, yaitu 3 MST (21.38), 5 MST (29.93) dan 7 MST (70.92).
Rataan panjang daun jagung pada setiap pengamatan disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Grafik Rataan Panjang Daun Jagung Selama Pengamatan


Tabel 5. Rataan Panjang Daun Jagung (cm) Selama Pengamatan.
Rataan Panjang Daun (cm)
Perla 3 MST 5 MST 7 MST
Pupuk Organik Kotoran Ayam 10 ton/ha 25.7 54.25 93.17
Pupuk Organik Kotoran Ayam 7.5 ton/ha 7
24.3 a
46.33 a
82.33a
Pupuk Organik Kotoran Ayam 5 ton/ha 8
22.7 a
42.75 b
81.67a
Pupuk Organik Kotoran Ayam 2.5 ton/ha 2
21.5 a
41.58a b76.75
Tanpa Pupuk Organik Kotoran Ayam 2
21.3 b29.93 b
70.92
BNT 5% 8 tn b 11.9 b12.8
1
Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda 7
nyata pada
taraf nyata 5%.
Panjang daun jagung pada umur 3 MST masing-masing perlakuan tidak
menunjukan perbedaan yang nyata, namun pada 5 MST dan 7 MST menunjukan
perbedaan yang nyata. Panjang daun umur 5 MST pada perlakuan pupuk organik
kotoran ayam 10 ton/ha hasilnya tidak berbeda nyata dengan perlakuan pupuk
organik kotoran ayam 7.5 ton/ha dan 5 ton/ha. Perlakuan pupuk organik kotoran ayam
5 ton/ha dapat digunakan sebagai acuan penggunaan dosis pupuk yang baik karena
dosis pupuk yang digunakan sedkit dan biaya yang digunakan sedikit, dan hasilnya
sama dengan penggunaan pupuk organik kotoran ayam 7.5 ton/ha dan 10 ton/ha.
Panjang daun jagung umur 7 MST pada perlakuan tanpa pupuk organik kotoran ayam
tidak berbeda nyata dengan perlakuan 2.5 ton/ha, namun berbeda nyata dengan
perlakuan pupuk organik kotoran ayam 5 ton/ha, 7.5 ton/ha dan 10 ton/ha. Perlakuan
pupuk organik kotoran ayam 5 ton/ha tidak berbeda nyata dengan perlakuan pupuk
organik kotoran ayam 7.5 ton/ha, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan pupuk
organik kotoran 10 ton/ha, dengan asumsi bahwa penggunaan pupuk organik kotoran
ayam 10 ton/ha hasilnya lebih baik dengan perlakuan yang lainnya. Hal ini dapat
digunakan sebagai acuan bahwa penggunaan pupuk organik kotoran ayam 10 ton/ha
merupakan dosis yang baik.
5. Indeks Luas Daun
Hasil pengamatan indeks luas daun jagung dan analisis sidik ragam
menunjukan bahwa perlakuan pupuk organik kotoran ayam berpengaruh nyata
terhadap indeks luas daun setiap perlakuan. Rataan yang tertinggi indeks luas daun
yaitu pada perlakuan pupuk organik kotoran ayam 10 ton/ha (2.89) dan yang terendah
pada perlakuan tanpa pupuk organik kotoran ayam (1.04). Rataan indeks luas daun
disajikan pada gambar 5.

Gambar 5. Grafik Indeks Luas Daun Jagung Selama Pengamatan


Tabel 6. Rataan Indeks Luas Daun Selama Pengamatan
Nota
Perlakuan (Dosis Pupuk) Rataan si

Tabel
Pupuk Organik Kotoran Ayam 10 ton/ha 2.8 5%
a
Pupuk Organik Kotoran Ayam 7.5 ton/ha 9
2.2 b
Pupuk Organik Kotoran Ayam 5 ton/ha 8
1.7 c
Pupuk Organik Kotoran Ayam 2.5 ton/ha 2
1.1 d
Tanpa Pupuk Organik Kotoran Ayam 7
1.0 d
BNT 5% 4
Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji BNT 5%.
Pengaruh pupuk organik kotoran ayam terhadap indeks luas daun jagung
masing-masing menunjukan hasil yang berbeda nyata, dengan asumsi bahwa semakin
tinggi perlakuan pupuk organik maka semakin tinggi pula nilai indeks luas daun dari
tanaman tersebut. Perlakuan pupuk organik kotoran ayam 10 ton/ha berbeda nyata
denga perlakuan yang lainnya, sehingga perlakuan pupuk organik kotoran ayam 10
ton/ha hasilnya lebih baik dari pada perlakuan yang lain, namun antara perlakuan
pupuk organik kotoran ayam 5 ton/ha dan 2.5 ton/ha tidak berbeda nyata, hal ini
menunjukan bahwa pemberian pupuk organik kotoran ayam 2.5 ton/ha baik
digunakan karena penggunaannya lebih irit dan hasilnya tetap sama dengan perlakuan
pupuk organik kotoran ayam 5 ton/ha.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil analis tanah, terlihat bahwa ketersediaan nitrogen, posfor


dan kalium termasuk dalam kategori rendah, sehingga perlu dilakukan pemupukan
untuk menunjang ketersediaan unsur hara di dalam tanah, maka dalam praktikum ini
menggunakan pupuk organik padat dari kotoran ayam. Pupuk organik kotoran ayam
dapat menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman, diantaranya nitrogen, posfor
dan kalium. Penggunaan pupuk organik padat dari kotoran ayam memberikan
pengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung, seperti tinggi
tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun dan indeks luas daun.
1. Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati, baik sebagai
indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur
pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Ini didasarkan kenyataan
bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan yang paling mudah dilihat
(Hakim, 2009). Pemberian pupuk organik padat berpengaruh nyata pada tinggi
tanaman jagung dengan perlakuan tanpa pupuk organik padat dan perlakuan
menggunakan pupuk organik padat. Penambahan pupuk organik padat pada tanah
yang di tanami jagung menyebabkan jagung dapat tumbuh dan berkembang dengan
subur. Pupuk organik padat dari kotoran ayam memiliki kualitas yang baik
dibandingkan dengan pupuk organik yang lainnya, pupuk organik padat ini mudah
terdekomposisi sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman, pernyataan ini sesuai
dengan hasil penelitian Buckman dan Brady (Indah Megahwati, 2009), bahwa pupuk
kandang ayam merupakan bahan organik yang berkualitas tinggi dan cepat
terdekomposisi atau cepat tersedia bagi tanaman bila dibandingkan dengan pupuk
organik yang berasal dari sapi atau hewan lain. Kualitas bahan organik oleh
kandungan lignin dan polifenol serta C/N ratio dan berkorelasi dengan kecepatan
dekomposisi dan mineralisasi bahan organik tersebut. Berdasarkan hasil analisis
kimia pupuk kandang ayam, kandungan C/N rasio tergolong rendah yaitu 1,92 artinya
bahwa pupuk kandang ayam cepat terdekomposisi menjadi unsur hara yang
dibutuhkan tanaman sehingga akan memacu pertumbuhan tanaman.
2. Diameter Batang
Diameter batang berpengaruh terhadap berdirinya tanaman agar tidak mudah
roboh ketika tanaman semakin tinggi. Diameter batang yang paling besar 4,05 cm
terdapat pada tanaman dengan dosis pupuk organik padat 10 ton/ha. Diameter batang
semakin bertambah dipegaruhi oleh unsur hara kalium. Penelitian Silahooy (2008),
tentang efek pupuk KCl dan SP-36 terhadap kalium tersedia, serapan kalium dan hasil
kacang tanah (Arachis hypogaea L.) di Desa Halong Kecamatan Baguala,
menunjukkan bahwa pentingnya kalium dalam penambahan diameter batang
berhubungan dengan fungsi kalium untuk meningkatkan kadar sclerenchyma pada
batang. Sclerenchyma mempunyai fungsi memberi penebalan dan kekuatan pada
jaringan batang sehingga tanaman lebih kuat atau tidak mudah rebah, dengan
penambahan pupuk orgaik padat maka unsur hara kalium bertambah dan terjadi
penambahan sclerenchyma. Penambahan sclerenchyma menyebakan diameter batang
juga bertambah besar. Rahmianna dan Bel (Silahooy, 2008) menjelaskan bahwa
pertumbuhan tanaman berkolerasi dengan penambahan konsentrasi kalium pada
daerah pembesaran. Bila tanaman kekurangan kalium pada daerah pembesaran dan
perpanjangan sel terhambat, akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
3. Jumlah Daun
Jumlah daun berpengaruh terhadap penyediaan makanan bagi tanaman
(fotosintesis). Jumlah daun jagung yang banyak 9,43 helai, terdapat pada tanaman
yang dengan perlakuan pupuk organik padat 10 ton/ha. Semakin banyak daun
semakin tinggi fotosintesis yang terjadi. Menurut Gardner et al. (Wahida et al., 2011),
daun berfungsi sebagai organ utama fotosintesis Novizan (Dongoran, 2009)
menyatakan bahwa, nitrogen dibutuhkan untuk membentuk senyawa penting seperti
klorofil, asam nukleat, dan enzim sedangkan unsur hara mikro berfungsi terutama
dalam pembentukan daun dan klorofil pada daun. Apabila pembentukan daun tersebut
terganggu maka proses fotosintesis akan terganggu juga dan pertumbuhan tanaman
terganggu dan jika terjadi kekurangan nitrogen, tanaman akan tumbuh lambat dan
kerdil.
4. Panjang Daun
Rataan panjang daun menunjukkan bahwa pada perlakuan tanpa pupuk
organik berbeda nyata dengan perlakuan menggunakan pupuk organik padat. Hal ini
dapat dilihat dari rataan panjang daun jagung pada Tabel 4, daun yang terpanjang
terdapat pada perlakuan pupuk organik padat 10 ton/ha yaitu 48,63 cm dan daun yang
terpendek terdapat pada perlakuan tanpa pupuk organik padat yaitu 18,56 cm. Daun
jagung dengan pemberian pupuk organik padat 10 ton/ha daunnya lebih panjang
dibandingkan dengan perlakuan yang lain, sedangkan daun yang terpendek pada
perlakuan tanpa pupuk organik padat. Hal ini disebabkan perlakuan pupuk organik
padat 10 ton/ha unsur hara yang tersedia di dalam tanah mencukupi kebutuhan
tanaman, sedangkan pada perlakuan tanpa pupuk organik padat unsur hara yang
dibutuhkan tanaman tersedia dalam jumlah sedikit dan tidak mencukupi untuk
kebutuhan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian Maryam et al. (2008), menyatakan
bahwa panjang daun maupun lebar daun caisin dan pakcoi serta lebar daun selada
dengan perlakuan pupuk kandang ayam menunjukkan hasil tertinggi diantara
perlakuan jenis pupuk organik lain. Hal ini diduga karena kandungan nitrogen pupuk
kandang ayam lebih tinggi dibandingkan pupuk kandang sapi dan kompos.
5. Indeks Luas Daun
Proses fotosintesis, intensitas cahaya mempengaruhi laju fotosintesis saat
berlangsung reaksi terang. Jadi cahaya secara tidak langsung mengendalikan
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena hasil fotosintesis berupa
karbohidrat digunakan untuk pembentukan organ-organ tumbuhan. Perkembangan
struktur tumbuhan juga dipengaruhi oleh cahaya (Afrista, 2012). Rataan indeks luas
daun pada tanaman jagung dengan pemberian pupuk organik padat 10 ton/ha ; 7,5
ton/ha ; 5 ton/ha dan 2,5 ton/ha yaitu berturut-turut 2,71 ; 1,63 ; 0,69, dan 0,58
sedangkan indeks luas daun yang terkecil terdapat pada tanaman jagung tanpa pupuk
organik yaitu 0,19. Menurut Fischer dan Palmer (Effendi, 2006), nilai indeks luas
daun berkisar antara 2,5 sampai 5,0, Williams et al. (Effendi, 2006), menyatakan
bahwa apabila nilai indeks luas daun lebih besar dari 3,0 maka 95% sinar surya dapat
terserap dengan baik, namun apabila nilai indeks luas daun lebih besar dari 5,0 maka
penyerapan menurun karena helai daun saling menutupi.

V. PENUTUP
A. Kesimpulan

1. Pupuk organik kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman umur
3 MST, 5 MST dan 7 MST. Masing-masing variabel yang diamati berpengaruh nyata
yaitu tinggi jagung, diameter batang jagung, jumlah daun jagung dan indeks luas daun
jagung, sedangkan pada variabel pengamatan panjang daun jagung yang berpengaruh
nyata pada umur 5 MST dan 7 MST.
2. Pupuk organik kotoran ayam yang paling baik mempengaruhi tanaman jagung yaitu
pada perlakuan pupuk organik kotoran ayam 10 ton/ha).

B. Saran.

Adapun saran saya untuk praktikum kali ini adalah agar praktikum kedepannya
dapat dilaksanakan dengan efektif sehingga dalam penyusunan laporannya, hasilnya
merupakan hasil dari praktikum yang dilaksanakan oleh praktikan itu sendiri, tidak
mengambil dari jurnal atau sumber manapun.
DAFTAR PUSTAKA
Yopie Moelyohadi, 2012. Morfologi Tanaman Jagung(Zea mays. L) Efisien Hara di
Lahan Kering Marginal. Jurnal Lahan Suboptimal. ISSN 2252-6188 Vol.
1, No.1: 31-39, April 2012.
Kaharuddin, 2007. Pengaruh Penggunaan Dosis Pupuk Bokashi Kotoran Sapi
Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung. Jurnal
Agrisistem. 3 (1) : 1-8.

Saragih D, 2013. Pengaruh Pupuk Bokasi dan Mamfaat Pupuk Bokasi Pada Tanaman
(Zea mays, L.) Pioneer 27. Agrotek Tropika. 1 (1): 50-54.

Kuntyastuti, 2008, Warrdiyatmoko, 2006, Ekmekci, 2007, Ahmad dkk, 2009,


Nagiman, 2014. Syrat Tumbuh Tanaman Jagung Organik dan Anorganik
Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung. Jurnal Penelitian Palawija. 3 (1)
: 20-25.
Gabesius, 2012 dan Subhan, 2008. Multiple Cropping
http://wibowo19.wordpress.com/2009/1 0/28/multiple-cropping, diakses pada tanggal
26 desember 2016.

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM


KESUBURAN TANAH DAN TEHNIK PEMUPUKAN
Pengaruh Pemberian Pupuk Bokasi Terhadap Perumbuhan Tanaman Jagung
(Zea mays L.)

OLEH:

NAMA : KADEK WINDU SADHANA

NIM : D1B1 15 238

KELAS : AGT - B

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016