Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LATAR BELAKANG

1.1. Latar Belakang


Limbah cair domestik dalam skala yang besar biasanya dihasilkan oleh
sekolah, hotel, supermarket, dan lain-lain yang memerlukan pananganan khusus
agar tidak berdampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Limbah cair
yang dihasilkan dari hotel biasanya dianggap memiliki karakteristrik yang sama
dengan limbah cair yang dihasilkan dari rumah tangga. Banyak hotel yang hanya
membuat septi tank konvensional untuk menampung limbah yang dihasilkan dari
kegiatan hotel. Padahal, limbah hotel memiliki karakteristik yang berbeda dari
limbah cair yang dihasilkan dari rumah tangga, karena limbah cair hotel tidak saja
berasal dari dapur tetapi juga berasal dari kantor, kamar hotel, dan laundry.
Berdasarkan karakteristik limbah cair hotel yang telah diteliti kandungannya
menurut SK Pemerintah Nomor. 26 Tahun 2001 bahwa limbah cair hotel
mengandung Amonia sebesar 11 mg/l, Nitrit 5,875 mg/l, Nitrat 6 mg/l hal ini
sangat bertentangan dengan baku mutu air limbah perhotelan berdasarkan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014
dimana kadar maksimum kandungan limbah cair pada kegiatan perhotelan yaitu
Amonia sebesar 10 mg/l, Nitrat 5 mg/l, Nitrit 5 mg/l. Untuk itu diperlukan
teknologi yang lebih efektif salah satunya yaitu dengan memanfaatkan membran
agar tidak berdampak negatif terhadap lingkungan serta mengurangi konsentrasi
senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalamnya. Selain itu, membran
juga tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas, keunggulan membran yang lain
yaitu pada material bahan baku membran tersebut. Material bahan baku membran
sangat bervariasi salah satunya adalah silika. Silika merupakan bahan yang
menarik untuk penggunaan bahan baku membran anorganik karena struktur
silikanya relative stabil dalam rentang temperatur yang hingga 1000oC.
Membran diklasifikasikan menjadi beberapa golongan yaitu jenis
membran berdasarkan bahan dasar pembuatan, jenis membran berdasarkan fungsi,
jenis membran berdasarkan morfologi dan jenis membran berdasarkan prinsip
pemisahannya. Jenis membran yang digunakan adalah membran nanofilrasi.
Membran nanofiltrasi mempunyai ukuran pori sekitar 0,001 mikron serta dapat
menyaring air limbah dengan kadar organik yang tinggi. Untuk menguji kinerja
membrane nanofiltrasi ini maka digunakanlah reaktor aliran cross flow dengan
keunggulan mencega terjadinya fouling.

1.2. Batasan Masalah


1) Membran yang digunakan adalah membran nanofiltrasi silika dengan
komposisi silika 5,8,10 gram.
2) Limbah yang digunakan adalah limbah cair kegiatan perhotelan.

3) Aliran yang digunakan pada proses pengolahan limbah cair adalah cross flow.

1.3. Tujuan
1) Untuk mengetahui massa silika optimum untuk proses penyerapan.
2) Untuk mengetahui aplikasi membran nanofiltrasi silika yang diinginkan pada
limbah cair tahu dan limbah cair rumah tangga.

3) Untuk mengetahui pengolahan limbah cair silika.

1.4. Manfaat
1) Dapat mengetahui massa silika optimum untuk proses penyerapan.
2) Dapat mengetahui aplikasi membran nanofiltrasi silika yang diinginkan pada
limbah cair tahu dan limbah cair rumah tangga.

3) Dapat mengetahui pengolahan limbah cair silika.

1.5. Hipotesa

Membran nanofiltrasi silica dapat menyerap limbah cair domestik


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Membran


Membran adalah lapisan tipis yang dapat digunakan untuk memisahkan
komponen yang berbeda berdasarkan sifat permeabilitasnya. Perbedaan sifat
permeabilitas inilah yang menunjang proses membran untuk diterapkan di hampir
seluruh bidang terutama industri kimia. Pemisahan menjadi aplikasi industri yang
utama pada teknologi membran selama 15 tahun terakhir tetapi sebenarnya studi
tentang pemisahan telah dimulai jauh sebelum periode itu (Baker, 2004).
Penelitian tentang sifat permeabilitas dan fenomena osmosis, pertama kali
dipublikasikan oleh Abbe Nolet seorang peneliti berkebangsaan Perancis tahun
1748 (Mulder, 1996). Dengan banyak keunggulan, penggunaan membran juga
mempunyai keterbatasan yaitu terjadinya fouling atau polarisasi konsentrasi pada
membran, dan jangka hidup membran yang relatif singkat (Mulder, 1996).

2.2. Klasifikasi Membran


Membran diklasifikasikan menjadi beberapa golongan sebagai berikut :
1. Jenis membran berdasarkan bahan dasar pembuatan
2. Jenis membran berdasarkan fungsi
3. Jenis membran berdasarkan morfologi
4. Jenis membran berdasarkan prinsip pemisahannya
2.2.1. Jenis membran berdasarkan bahan dasar pembuatan
Berdasarkan bahan dasar pembuatannya, membran dapat dibagi menjadi
dua jenis, yaitu :
1. Membran Biologis
Membran biologis merupakan membran yang sangat kompleks pada
struktur dan fungsinya. Banyak dijumpai dalam sel makhluk hidup yang terdiri
atas struktur dasar dari dua lapisan lemak. Contoh : sel kulit, ginjal, jantung, dan
lain sebagainya (Wenten, 1996).
2. Membran Sintesis
Membran sintesis merupakan membran buatan yang sengaja dibuat untuk
kepentingan tertentu. Membran sintesis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
membran organik dan membran anorganik (Mulder, 1996). Membran organik
adalah membran yang bahan penyusun utamanya polimer dan makromolekul
dengan bahan baku senyawa organik yang dibuat pada suhu rendah (suhu kamar).
Contoh : membran selulosa asetat, PAN, PA, dan lain sebagainya (Mulder, 1996).
Membran anorganik tersusun dari senyawa anorganik Contoh : membran keramik
(seperti ZrO2 dan -Al-2O3), membran gelas (seperti SiO2) (Mulder, 1996).
2.2.2. Jenis membran berdasarkan fungsi
Berdasarkan fungsinya, membran terbagi menjadi empat jenis, yaitu:
membran mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, nanofiltrasi, dan reverse osmosis (Mulder,
1996). Ciri-ciri khusus seperti ukuran pori, tekanan, dan fungsi masing-masing
membran ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis Membran Berdasarkan Fungsi (Mulder,1996)

Proses filtrasi banyak dipakai di industri pada pengolahan air, baik air
proses, air utilitas, maupun air limbah. Air industri (khususnya air proses)
mempunyai spesifikasi yang tinggi karena nantinya dapat mempengaruhi produk
yang dihasilkan.
Spesifikasi tersebut antara lain, rendah mineral, tidak beracun, dan bebas
dari mikroba. Air dengan spesifikasi tersebut bisa diperoleh dengan menggunakan
medium yang dapat memisahkan partikel-pertikel yang sangat kecil ukurannya.
Proses yang banyak dipilih adalah nanofiltrasi dan RO.
Proses nanofiltrasi dipilih karena mempunyai beberapa keuntungan, antara
lain :
1. Biaya operasi murah
2. Energi yang diperlukan rendah
3. Perawatan mudah
4. Efisiensi ruang
5. Jika ada salah satu modul yang rusak, dapat diperbaiki secara parsial (tidak
akan mempengaruhi kerja secara keseluruhan )
6. Ramah lingkungan
7. Mampu memisahkan partikel sampai ukuran nanometer

Disamping kelebihan proses nanofiltrasi juga memiliki kekurangan antara


lain :
1. Biaya investasi awal cukup tinggi
2. Lebih mudah mengalami fouling
3. Perhitungan terhadap variabel yang mempengaruhi performansi membran
harus cermat
4. Tidak bisa memisahkan partikel solute dengan ukuran lebih kecil dari 1nm

2.3. Pengertian Membran Nanofiltrasi


Nanofiltrasi merupakan proses khusus yang dipilih ketika proses Reverse
Osmosis dan Ultrafiltrasi bukan merupakan pilihan yang tepat untuk operasi
separasi.
Gambar 1. Skema pembagian proses filtrasi berdasarkan ukuran partikel (Wenten, 1996)

2.4. Prinsip Kerja Membran Nanofiltrasi


Nanofiltrasi merupakan proses yang terjadi akibat perbedaan tekanan
untuk memisahkan solut berukuran lebih besar dari larutan dengan menggunakan
membran semipermeable. Proses ini dilakukan dengan cara mengalirkan larutan
sepanjang permukaan membran dengan memanfaatkan beda tekanan. Filtrasi
membran aliran crossflow menggunakan laju alir yang besar untuk meningkatkan
laju permeate dan mengurangi kemungkinan terjadinya fouling. Partikel solut
yang terejeksi ( misal : garam terlarut) terpisah bersama dengan arus aliran yang
keluar dan tidak terakumulasi di permukaan membran (Norman dkk, 2008).
Pori pada membran nanofiltrasi tidak bisa diamati dengan menggunakan
mikroskop, walaupun begitu air masih bisa melewati membran sedangkan garam
multivalent dan bahan organik dengan BM rendah akan terejeksi.
Membran nanofiltrasi dengan ukuran pori sekitar 0,001 mikrometer
memiliki keterbatasan dalam mengolah air baku menjadi air minum. Membran
nanofiltrasi hanya dapat memisahkan air dari padatan terlarut, bakteri, virus, ion
multivalensi seperti Ca2+, Mg2+ dan lain-lain yang menyebabkan kesadahan atau
molekul yang mempunyai berat molekul dengan rentang 200-5000 dan tidak dapat
memisahkan ion monovalensi seperti Na+, K+ dan lain-lain. Hal ini berarti,
membran nanofiltrasi hanya dapat mengolah air baku yang berupa air tawar (Ren
dan Wang, 2011).
Sulit untuk memprediksi performansi dari membran nanofiltrasi, terutama
bila terdapat lebih dari tiga macam solut dalam larutan tersebut karena rejeksi
membran dipengaruhi oleh ukuran, struktur, dan muatan dari komponen dalam
larutan. Akibatnya, proses piloting sangat direkomendasikan pada aplikasi
nanofiltrasi, apalagi bila hasil analisa air umpan tersedia secara lengkap. Dalam
Gambar 2 yang akan disajikan di bawah ini terlihat jenis partikel yang lolos dan
juga yang terejeksi oleh membran nanofiltrasi.

Gambar 2. Karakteristik Proses Membran (Wenten, 1996)

2.5. Sumber Limbah pada Kegiatan Perhotelan


Hotel adalah jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh
bangunan untuk menyediakan jasa pelayanan penginapan yang dikelola secara
komersial yang meliputi hotel berbintang dan hotel melati. Hotel juga
menyediakan pemenuhan berbagai kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan,
pencucian/laundry dll bagi para pengunjungnya, sehingga dalam aktivitasnya
hotel juga menghasilkan berbagai limbah cair dan sampah layaknya suatu
komplek pemukiman penduduk. Limbah cair perhotelan adalah limbah dalam
bentuk cair yang dihasilkan oleh kegiatan hotel yang dibuang ke lingkungan dan
diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan. Karena aktivitas yang ada di hotel
relatif sama seperti layaknya pemukiman, maka sumber limbah yang ada juga
relatif sama seperti pada pemukiman dan fasilitas tambahan lainnya yang ada di
hotel. Sumber limbah cair perhotelan tersebut antara lain:

1) limbah dari kamar mandi dan toilet,


2) limbah dari kegiatan di dapur/restaurant
3) limbah dari kegiatan pencucian/loundry,
4) limbah dari fasilitas kolam renang,
Karakteristik limbah cair dari perhotelan relatif sama seperti limbah cair
domestik dari pemukiman, karena aktivitas-aktivitas yang ada di hotel relatif sama
seperti aktivitas yang ada di lingkungan pemukiman. Sementara jumlah limbah
yang dihasilkan dari perhotelan tergantung dari jumlah kamar yang ada dan
tingkat huniannya. Disamping itu juga dipengaruhi oleh fasilitas tambahan yang
ada di hotel tersebut. Limbah perhotelan pada umumnya mempunyai sifat-sifat
sebagai berikut:
1) Senyawa fisik
a) Berwarna
b) Mengandung padatan

2) Senyawa kimia organiak


a) Mengandung karbohidrat
b) Mengandung minyak dan lemak
c) Mengandung protein
d) Mengandung unsur surfactan antara lain
e) Detergen dan sabun
3) Senyawa kimia inorganik :
a) mengandung alkalinity
b) mengandung Khloride
c) mengandung Nitrogen
d) mengandung Phospor
e) mengandung Sulfur
f) mengandung Ammonia
g) mengandung Nitrit dan Nitrat
4) Unsur Biologi :
a) mengandung protista dan virus

2.6. Aplikasi Membran dalam Industri


Nanofiltrasi merupakan teknik yang ditemukan beberapa tahun yang lalu.
Sekarang, nanofiltrasi banyak diterapkan diberbagai aplikasi pada proses
pemurnian air, seperti pelunakan air, penghilangan warna, dan penghilangan
mikropolutan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Limbah cair tahu didapatkan dari industri tahu yang terletak di Jalan Kedung
Tarukan No. 12 Surabaya.Sedangkan bahan yang digunakan untuk pembuatan
membran adalah pasir silika. Variasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah
variasi massa silika dan perbandingan volume air limbah dengan air PDAM.
Sedangkan parameter yang akan di analisa pada penelitian ini adalah nitrat dan
ammonium.
3.1. Sintesis Silika
Sintesis silika dilakukan dengan menggunakan metode alkalifusion,
dikarenakan metode ini menghasilkan kemurnian silika sebesar 99,9% [1]. Bahan
dan alat yang digunakan adalah KOH 85%, aquades, HCL 37%, HCL 15%, cawan
porselin, spatula, furnace, desikator, beaker glass, erlenmeyer, kertas saring, dan
mortar.

Pasir silika direndam dengan HCL 15% selama 24 jam, kemudian


dikeringkan dan digerus sampai didapatkan ukuran kira-kira 200 mesh.Pasir silika
yang sudah halus ditimbang sebanyak 10 gram dicampur dengan KOH sebanyak
73 gram di dalam wadah cawan porselin dan dimasukkan ke dalam furnace
dengan suhu 360C selama 4 jam.Setelah difurnace, campuran dimasukkan ke
dalam beaker glass dan dilarutkan dengan aquades sebanyak 500 ml didiamkan
selama 24 jam.Kemudian endapan yang ada di dalam beaker glass dibuang dan
larutan yang tersisa dipanaskan menggunakan kompor listrik sampai suhu 50C
sambil dititrasi dengan HCL 37% sampai pH 1-2. Setelah didiamkan sampai suhu
ruang, akan terlihat endapan putih yang masih bercampur dengan warna
kekuningan yang dianggap sebagai Kristal KCL. Untuk menghilangkan Kristal
KCL, maka larutan dicuci dengan aquades sebanyak 11-15 kali sampai didapatkan
gel putih.Endapan gel putih disaring dengan kertas saring dan di oven pada suhu
105C selama 24 jam.Silika yang sudah kering dihaluskan dengan mortar.

3.2. Pembuatan Membran

Setelah didapatkan silika dengan kemurnian 99,9%, maka dilakukan


pembuatan membran dengan bahan dan alat yaitu silika, 2-propanol, NH4Cl,
PVA, PEG, semen Portland putih, aquades, beaker glass, Erlenmeyer, magnetic
stirrer, sentriuge, spatula, dan cawan petri. Mula-mula silika ditimbang dengan
variasi massa silika 5;8;10 gram.Kemudian masing-masing silika dicampur
dengan 35 ml 2-propanol dan disentriuge selama 10 menit kecepatan 600 rpm.
Fasa cair yang terbentuk dibuang, sedangkan fasa padatan dicampur dengan 3,5
gram NH4Cl dan aquades 300 ml ke dalam erlenmeyer. Campuran di magnetic
stirrer selama 1 jam dan didiamkan sampai terbentuk endapan. Tujuan dari
penggunaan NH4Cl dan pengadukan tersebut supaya terbentuk pori membran
yang berukuran nano [3]. Tahap selanjutnya adalah pencetakan membran.
Endapan yang sudah dipisahkan ditambahkan 5,4 gram PVA, 7 ml PEG, dan 5,4
gram semen portland putih. Selanjutnya campuran dipanaskan dan diaduk sampai
homogen dan larut.Kemudian dilakukan pencetakan membran ke dalam cawan
petri dan dikeringkan selama 30 jam. Membran yang sudah kering di oven selama
1 jam dengan suhu 70C.

3.3. Pengujian Membran pada Reaktor Aliran Cross Flow

Membran yang sudah jadi kemudian diujikan dengan reaktor aliran cross
flow.Berikut ini merupakan reaktor dngan aliran cross flow (lihat Gambar 1).
Membran dipotong dengan diameter 3,5 cm disesuaikan dengan tempat membran
yang terletak pda reaktor. Membran ditumpuk dengan kawat stainless sebagai
penyangga agar dapat menahan tekanan dari pompa.Air limbah yang ada di dalam
bak dipompa dengan tekanan 2 atm. Tekanan dapat di atur melalui valve yang
dipasang pada reaktor. Air limbah akan mengalir dan melewati membran, maka air
limbah akan tersaring pada membran sedangkan yang tidak melewati membran
akan dialirkan kembali ke dalam bak. Pada penelitian ini dilakukan pengujian
membran selama 80 menit yaitu setiap 20 menit akan diambil permeat yang
dihasilkan. Selain menggunakan variasi massa silika, juga digunakan variasi
perbandingan volume air limbah dengan air PDAM yaitu 100%:1 ; 50%:50% ;
25%:75%. Kemudian permeat yang dihasilkan akan di analisa sesuai parameter
pada penelitian ini yaitu nitrat dan amonium. Mebran yang diujikan dalam reaktor
cross flow divariasikan sebagaimana dideskripsikan dalam Tabel 1.
Gambar 1. Reaktor Aliran Cross Flow

Tabel 1. Variasi untuk pengujian membran


Perbandingan Volume Limbah Cair Tahu dan
Berat Silika
Air Bersih PDAM
(gr)
Limbah Cair Tahu Air PDAM
100% -
5 50% 50%
25% 75%
100% -
8 50% 50%
25% 75%
100% -
10 50% 50%
25% 75%

BAB IV
PEMBAHASAN

Membran berfungsi untuk memisahkan material berdasarkan ukuran dan


bentuk molekul, menahan komponen dari umpan yang mempunyai ukuran lebih
besar dari pori-pori membran dan melewatkan komponen yang mempunyai
ukuran yang lebih kecil. Larutan yang mengandung komponen yang tertahan
disebut konsentrat dan larutan yang mengalir disebut permeat. Filtrasi dengan
menggunakan membran selain berfungsi sebagai sarana pemisahan juga berfungsi
sebagai sarana pemekatan dan pemurnian dari suatu larutanyang dilewatkan pada
membran tersebut.
Ciri-ciri khusus nanofiltarasi yaitu ukuran pori adalah < 2 nm, tekanan 5-
25 bar, dan fungsi membrane nanofiltrasi adalah untuk memisahkan komponen
terlarut yang mempunyai berat molekul rendah.
Pada penggunaan membran Nanofiltrasi Silika ini di ketahui bahwa dari
Silika yang berbentuk makro di ubah ke ukuran nano, dengan cara Silika yang di
gunakan di lakukan beberapa treatment terlebih dahulu seperti di rendam di dalam
HCl 15 % selama24 jam, hal ini bertujuan agar Silika yang bertekstur padat dan
keras dapat di gerus dengan mudah untuk mengubahnya menjadi ukuran 200
mash selain agar mudah di gerus perendaman dengan HCl ini untuk aktivasi pori-
pori dari silika agar terbuka.
Nanofiltrasi merupakan proses yang terjadi akibat perbedaan tekanan
untuk memisahkan solut berukuran lebih besar dari larutan dengan menggunakan
membrane semipermeable. Proses ini dilakukan dengan cara mengalirkan larutan
sepanjang permukaan membran dengan memanfaatkan beda tekanan. Filtrasi
membran aliran crossflow menggunakan laju alir yang besar untuk meningkatkan
laju permeate dan mengurangi kemungkinan terjadinya fouling.
Pada saat uji coba menggunakan limbah cair dari indutri tahu dan rumah
makan di dapatkan hasil yang memuaskan, karena membran nanofiltrasi ini dapat
menyerap ammonia yang terkandung di dalam limbah tersebut dengan komposisi
limbah 100 % dengan kandungan silika 5 % dari berat membrane. Limbah
tersebut langsung di tembakkan kedalam membran mendapatkan nilai rejeksi 92
%, hal ini menunjukkan bahwa membrane nanofiltrasi menyerap ammonia dengan
baik.
Tabel 1. Nilai Koefisien Rejeksi Amonium pada Setiap Variasi Massa Silika dengan
Volume Air Limbah Cair Tahu
Tabel 2. Koefisien Rejeksi Amonium Limbah Rumah Makan 100%

Tabel 3. Koefisien Rejeksi Amonium Limbah Rumah Makan 50%

Tabel 3. Koefisien Rejeksi Amonium Limbah Rumah Makan 50%

Dari hal ini lah kami dapat berangapan bahwa, limbah cair kegiatan
perhotelan yang telah diketahui banyak mengandung Amonia, Nitrit dan Nitrat
dapat diolah dengan menggunakan membran nanofiltrasi silika ini untuk
mengurangi kadar Amonia, Nitrit dan Nitri yang terkandung di dalam limbah,
agar tidak mencemari lingkungan. Berdasarkan
Tabel 1. Karakteristik Limbah Cair Kegiatan Perhotel

Limbah
Tercampur
Parameter Satuan Baku Mutu
(Dapur dan
Laundry)
pH - 6-9 8,0
BOD Mg/l 30 69,698
COD Mg/l 50 137,280
TSS Mg/l 50 125
Minyak dan
Mg/l 5 45
Lemak
Detergen Mg/l 0,050 7,8
Amonia Mg/l - 11
Nitrit Mg/l - 5,875
Nitrat Mg/l - 6
Sumber : (SK Pemerintah Nomor 26 Tahun 2001)

LAMPIRAN XLII
PERATURAN PEMERINTAH LINGKUNGAN HIDUP
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 5 TAHUN 2014
TENTANG
BAKU MUTU AIR LIMBAH

Parameter Satuan Kadar beban (kg/orang)


BOD Mg/l 28 7,0
COD Mg/l 50 12,5
TSS Mg/l 50 12,5
MBAS Mg/l 5 1,25
Amonia (NH3N) Mg/l 11 2,5
Minyak dan Lemak Mg/l 10 2,5
Coliform Mg/l 4
Nitrat Mg/l 5 2,5
Nitrit Mg/l 5 2,5
pH - 6-9
Volume Paling Tinggi
Air Limbah 250
(Liter/Hari/Orang)
Sumber: ( Peraturan Pemerintah Lingkungan Hidup ,2014)