Anda di halaman 1dari 5

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Discharge Planning

Discharge planning adalah proses mempersiapkan pasien untuk meninggalkan


satu unit pelayanan kepada unit yang lain di dalam atau di luar suatu agen pelayanan
kesehatan umum (Kozier, 2004). Discharge planning adalah suatu rencana pulang pada
pasien yang ditulis di kertas yang merupakan tujuan dari perencanaan perawatan pasien
(National Council of Social Service/NCSS, 2006).
Rondhianto (2008) mendefenisikan discharge planning sebagai merencanakan
kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya tentang
hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan sehubungan dengan kondisi/penyakitnya
pasca bedah.
Discharge planning sebaiknya dilakukan sejak pasien diterima di suatu agen
pelayanan kesehatan, terutama di rumah sakit dimana rentang waktu pasien untuk
menginap semakin diperpendek. Discharge planning yang efektif seharusnya mencakup
pengkajian berkelanjutan untuk mendapatkan informasi yang komprehensif tentang
kebutuhan pasien yang berubah-ubah, pernyataan diagnosa keperawatan, perencanaan
untuk memastikan kebutuhan pasien sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pemberi
layanan kesehatan (Potter&Perry, 2005).
2.2 Tujuan Discharge Planning

Discharge planning bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik untuk


mempertahankan atau mencapai fungsi maksimal setelah pulang, serta memberikan
pelayanan terbaik untuk menjamin keberlanjutan asuhan berkualitas antara rumah sakit
dan komunitas dengan memfasilitasi komunikasi yang efektif (Carpenito, 1999).

The Royal Marsden Hospital (2004) menyatakan bahwa tujuan dilakukannya


discharge planning antara lain untuk mempersiapkan pasien dan keluarga secara fisik
dan psikologis untuk di transfer ke rumah atau ke suatu lingkungan yang dapat
disetujui, menyediakan informasi tertulis dan verbal kepada pasien dan pelayanan
kesehatan untuk mempertemukan kebutuhan mereka dalam proses pemulangan,
memfasilitasi proses perpindahan yang nyaman dengan memastikan semua fasilitas
pelayanan kesehatan yang diperlukan telah dipersiapkan untuk menerima pasien,
mempromosikan tahap kemandirian yang tertinggi kepada pasien, teman-teman, dan
keluarga dengan menyediakan, memandirikan aktivitas perawatan diri.

Menurut (Ester, 2005) tujuan discharge planning antara lain;

a. Meningkatkan pemahaman pasien dan ke luarga tentang masalah kesehatan,


kemungkinan komplikasi dan pembatasan yang diberlakukan pada pasien di
rumah.
b. Mengembangkan kemampuan merawat pasien dan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan pasien dan memberikan lingkungan yang aman untuk pasien di
rumah.
c. Menyakinkan bahwa rujukan yang diperlukan untuk perawatan selanjutnya
dibuat dengan tepat

2.3 Prinsip Discharge Planning

Ketika melakukan discharge planning dari suatu lingkungan ke lingkungan yang lain,
ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Berikut ini adalah beberapa prinsip dari
discharge planning, yaitu:

a. Discharge planning harus merupakan proses multidisiplin, dimana sumber-


sumber untuk mempertemukan kebutuhan pasien dengan pelayanan kesehatan
ditempatkan pada satu tempat

b. Prosedur discharge planning harus dilakukan secara konsisten dengan kualitas


tinggi pada semua pasien

c. Kebutuhan pemberi asuhan (care giver) juga harus dikaji

d. Pasien harus dipulangkan kepada suatu lingkungan yang aman dan adekuat

e. Keberlanjutan perawatan antar lingkungan harus merupakan hal yang terutama


f. Informasi tentang penyusunan pemulangan harus diinformasikan antara tim
kesehatan dengan pasien/care giver, dan kemampuan terakhir disediakan dalam
bentuk tertulis tentang perawatan berkelanjutan

g. Kebutuhan atas kepercayaan dan budaya pasien harus dipertimbangkan ketika


menyusun discharge planning

Menurut jurnal repository.uksw.edu (2008) menyatakan prinsip dari discharge planning


yaitu:

1. Klien merupakan fokus dalam perencanaan pulang. Nilai keinginan dan


kebutuhan dari klien perlu dikaji dan dievaluasi

2. Kebutuhan dari klien diidentifikasi, kebutuhan ini dikaitkan dengan masalah


yang mungkin muncul pada saat klien pulang nanti, sehingga kemungkinan
masalah yang muncul di rumah dapat segera diantisipasi.

3. Perencanaan pulang dilakukan secara kolaboratif. Perencanaan pulang


merupakan pelayanan multidisiplin dan setiap tim harus saling bekerja sama

4. Perencanaan pulang disesuaikan dengan sumber daya dan fasilitas yang ada.
Tindakan atau rencana yang akan dilakukan setelah pulang disesuaikan dengan
pengetahuan dari tenaga yang tersedia maupun fasilitas yang tersedia di
masyarakat

5. Perencanaan pulang dilakukan pada setiap sistem pelayanan kesehatan. Setiap


klien masuk tatanan pelayanan maka perencanaan pulang harus dilakukan

2.4 Manfaat Discharge Planning

2.4.1 Manfaat bagi pasien:

a. Dapat memenuhi kebutuhan pasien


b. Merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari proses keperawatan sebagai bagian
yang aktif dan bukan objek yang tidak berdaya

c. Menyadari haknya untuk dipenuhi segala kebutuhannya

d. Merasa nyaman untuk kelanjutan perawatannya dan memperoleh support


sebelum timbulnya masalah

e. Dapat memilih prosedur perawatannya

f. Membantu klien untuk memahami kebutuhan setelah perawatan dan biaya


pengobatan

2.4.2 Manfaat bagi perawat

a. Memahami perannya dalam sistem keperawatan

b. Sebagai bahan pendokumentasian dalam keperawatan

c. Dapat mengembangkan ketrampilan dalam prosedur baru

d. Menjalankan peran sebagai tenaga kesehatan dengan sistem yang efektif

e. Memahami perannya sebagai bagian dari sistem


Sumber:

http://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/5321/3/T1_462008053_BAB
%2011.pdf

Kozier, B., Erb.,&Oliver, R. 2004. Fundamental of Nursing; consept, process and


practice, (fourth edition). California: Addison-Wesley Publishing CO.

NCSS. (2006). Care and discharge planning : A guide for serviceproviders. Serial
No:032/SDD19/DEC06. Singapore:National Council of Social Service.

Perry&Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan


Praktik, Vol 1, E/4. Jakarta: EGC

Ester, M. (2005). Pedoman Perawatan Pasien . Jakarta: EGC.