Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pendidikan Masa Bani Umayyah

Pada uraian tentang situasi politik, sosial, dan keagamaan dizaman bani Umayyah
sebagaimana disebut di atas belum menyinggung secara langsung maupun tidak langsung
masalah pendidikan. Namun dari kajian terhadap berbagai literatur lainnya dapat diketahui
bahwa situasi politik, sosial, dan keagamaan memiliki kaitan yang erat dengan masalah
pendidikan. Adanya wilayah yang luas dan penduduk yang makin besar selain membutuhkan
sandang, pangan, dan papan, juga membutuhkan keamanan, kesehatan, dan pendidikan.
berbagai sumber menyebutkan keadaan pendidikan di zaman bani Umayah sebagai berikut:

1. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran

Visi pendidikan di zaman bani Umayyah secara eksplisit tidak dijumpai. Namun dari
berbagai petunjuk bisa diketahui bahwa visinya adalah unggul dalam ilmu agama dan umum
sejalan dengan kebutuhan zaman dan masing-masing wilayah Islam. 1

Adapun misinya antara lain2 :

a. Menyelenggarakan pendidikan agama dan umum secara seimbang,

b. Melakukan penataan kelembagaan dan aspek-aspek pendidikan Islam,

c. Memberikan pelayanan pendidikan pada seluruhg wilayah Islam secara adil dan
merata,

d. Menjadikan pendidikan sebagai penopang utama kemjuan wilayah Islam,

e. Memberdayakan masyarakat agar dapat memecahkanb masalahnya sesuai dengan


kemampuanya sendiri.

Adapun tujuannya ialah menghasilkan sumber daya manusia yang unggul secara seimbang
dalam ilmu agama dan umum serta mampu menerapkannya bagi kemajuan wilayah Islam.3

1 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana), hlm: 131

2 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, hlm:131- 132

1
Sedangkan yang menjadi sasarannya adalah seluruh umat atau warga yang terdapat di seluruh
wilayah kekuasaan Islam, sebagai dasar bagi dirinya dalam membangun masa depan yang
lebih baik.

Visi, misi, tujuan, dan sasaran pendidikan tersebut di atas, secara eksplisit atau tertulis tentu
belum ada. Namun dari segi kebijakannya secara umum serta hasil-hasil yang dicapai oleh
dinasti ini mengandung visi, misi, tujuan, dan sasaran tersebut di atas.

Sejarah mencatat, bahwa pada masa dinasti Umayyah telah dilakukan hal-hal sebagai berikut
4
:

a. Melakukan pemisahan antara kekuasaan agama dan kekuasaan politik, sehingga


terjadi semacam dikotomi, namun bukan dalam hal ilmu agama dan ilmu umum.

b. Melakukan pembagian kekuasaan kedalam bentuk provinsi, yaitu Syiria dan Palestina,
Kuffah, Irak, Basrah, Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain, Oman, Najd, Yamah, Armenia,
Hijaz, Karman dan India, Mesir, Afrika, Yaman, Arab Selatan, serta Andalusia.

c. Membentuk organisasi dan lembaga-lembaga pemerintahan dalam bentuk


departemen, seperti dewan al-Kahawarij yang mengurusi pajak, dewan rasail yang mengani
pos, dewan musghilat yang menangani kepentingan umum, dan dewan al-hatim yang
menangani dokumen negara.

d. Membentuk organisasi keuangan yang terpusat pada Baitul Mal yang diproleh dari pajak
tanah, perorangan, dan nonmuslim, serta mencetak mata uang.

e. Membentuk organisasi ketentaraan yang umumnya terdiri dari orang-orang keturunan


Arab.

f. Membentuk organisasi kehakiman

g. Membentuk lembaga sosial dan budaya

h. Membentuk bidang seni rupa seperti seni ukur, seni pahat, dan kaligrafi.

3 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, hlm:132

4 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Perss, 2011), hlm: 48-
49

2
i. Membentuk lembaga arsitektur, sebagaimana terlihat pada arsitektur kubah al-
Sakhra di Baitul Maqdis, yaitu kubah batu yang didirikan pada masa khalifah Abdul Malik
ibn Marwan pada tahun 691 M.

Terjadinya berbagai kemajuan tersebut dipastikan karena didukung oleh tersedianya sumber
daya manusia yang memiliki wawasan ilmu pengetahuan, keterampilan, keahlian teknis, dan
pengalaman yang dihasilkan melalui proses pendidikan dalam arti luas. Sejarah mencatat,
bahwa disamping melakukan ekspansio teritorial, pemerintahan dinasti Umayyah
jugamenaruh perhatian dalam bidang pendidikan. memberikan dorongan yang kuat terhadap
kemajuan dunia pendidikan dengan menyediakan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan
dengan tujuan agar para ilmuan, para seniman, para ulama dapat mengembangkan bidang
keahliannya masing-masing serta mampu melakukan kaderisasi ilmu.

2. Kurikulum

Pada masa bani Umayyah terdapat dua jenis pendidikan yang berbeda sistem dan
kurikulumnya, yaitu pendidikan khusus dan pendidikan umum. Pendidikan khusus adalah
pendidikan yang dislenggarakan dan diperuntukkan bagi anak-anak khalifah dan anak-anak
pembesarnya. Kurikulumnya diarahkan untuk memperoleh kecakapan memegang kendali
pemerintahan, atau hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan keperluan dan kebutuhan
pemerintahan. Tempat pendidikannya di istana dan guru-gurunya ditunjuk dan diangkat oleh
khalifah dengan mendapat jaminan hidup (gaji). Sedangkan pendidikan khusus adalah
pendidikan yang diperuntukkan bagi rakyat biasa. Pendidikan ini merupakan kelanjutan dari
pendidikan yang telah dilaksakan sejak zaman Nabi masih hidup, ia merupakan sarana yang
amat penting bagi kehidupan agama. Karena ia merupakan lanjutan dari pendidikan
sebelumnya, maka kurikulum yang digunakan pun sama dengan kurikulum sebelumnya.
Yang bertanggungjawab atas kelancaran pendidikan ini adalah para Ulama, merekalah yang
memikul tugas mengajar dan membimbing rakya. Mereka bekerja atas dasar dorongan moral
serta tanggung jawab agama, bukan atas dasar penunjukkan dan pengangkatan oleh
pemerintahan. Karena itu mereka tidak memperoleh jaminan (gaji) dari pemerintah.

Kurikulum pendidikan pada dinasti Umayyah meliputi5 :

5 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam,hlm: 134-135

3
a. Ilmu agama: al-Quran, Hadits, dan Fiqih. Sejarah mencatat, bahwa pada masa
khalifah Umar ibn Abdul al-Aziz (99-10H) dilakukan proses pembukuan hadits, sehingga
studi hadits mengalami perkembangan yang pesat.

b. Ilmu sejarah dan Geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan
hidup, kisah dan riwayat.

c. Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu,
sorof.

d. Filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umunya berasal dari baha asing, seperti ilmu
mantik, kimia, astronimi, ilmu hitung dan ilmu yang berhubungan dengan ilmu kedokteran.

3. Kelembagaan

Lembaga-lembaga pendidikan yang berkembang pada zaman bani Umayyah, selaibn


masjid, kuttab, dan rumah sebagaiman yang telah ada sebelumnya, juga ditambah dengan
lembaga pendidikan seperti Istana, Badiah, Perpustakaan, Al-Bimaristan, Kuttab, Masjid, dan
Majelis Sastra6.

a. Istana

Pendidikan di Istana bukan saja mengajarkan ilmu pengetahuan umum, melainkan juga
mengajarkan tentang kecerdasan, jiwa, dan raga anak.

b. Badiah

Lembaga pendidikan Badiah ini muncul seiring dengan kebijakan pemerintah bani
Umayyah untuk melakukan program arabisasi yang digagas oleh khalifa Abdul Malik ibn
Marwan. Secara harfiah Badiah artinya dusun badui di Padang Sahara yang didalamnya
terdapat bahasa Arab yang masih fasih dan murni sesuai dengan kaidah bahasa Arab.

c. Perpustakaan

Perpustakaan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan


ilmu pengetahuan serta kegiatan penelitian dan penu;isan karya ilmiah. Pada pendidikan dan

6 Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, hlm: 135-137

4
pengajaran yang berbasis penelitian, perpustakaan memgang peranan yang sangat penting. Ia
menjadi jantung sebuah lembaga pendidikan.

d. Al-Bimaristan

Al-Bimaristan adalah rumah sakit tempat berobat dan merawat orang serta sekaligus
berfungsi sebagai tempat melakukan magang dan penelitian bagi calon dokter. Di masa
sekarang Al-Baristan dikenal dengan istilah Teaching Hospital (rumah sakit pendidikan).

e. Kuttab

Anak memerlukan pendidikan dan pelajaran yang lebih intensif agar memperoleh hasil
yang diharapkan, tertib dan teratur. Cara demikian ini tidak mungkin dilakukan dirumah.
Karena itu diperlukan tempat dan ruang khusus di luar rumah..

Jalan keluar dari kesulitan ini adalah mendirikan ruangan khusus di luar rumah dan di luar
ruangan masjid. Tempat belajar anak-anakn ini kemudian disebut kuttab.

Dalam perkembangan selanjutnya, kuttab ini mengalami perubahan-perubahan dan


perkembangan bentuk serta sistem organisasinya. Akan tetapi bentuk kuttab yang pertama
masih tetap menjalankan fungsinya yang semula, dengan guru-gurunya terdiri dari orang-
orang dzimmi yang melulu mengajar menulis dan membaca. Kuttab ini mulai muncul pada
zaman al-Hajjaj ibn Yusuf Ats-tsaqafi. Dalam kuttab ini anak-anak mulai menghafal al-
Quran secara teratur, karena ia merupakan sumber kehidupan keagaman dan dasar
pembinaan yang dibutuhkan oleh setiap muslim. Menurut Prof, Dr, A Salabi Kuttab dari
jenis ini sebagai suatu rumah perguruan untuk umum, adalah hasil perkembangan dari
pendidikan putera raja-raja dan pembesarnya.

f. Masjid

Mesjid sangat erat hubungannya dengan sejarah pendidikan Islam, ia merupakan suatu
lembaga pendidikan Islam sejak awal dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. dari mesjid ini
dikumandangkan seruan iman, taqwa, akhlaq dan ajaran-ajaran kemasyarakatan; baik yang
berhubungan dengan individu kenegaraan maupun yang berhubungan dengan sosial ekonomi
dan sosial budaya yang adil dan beradab serta diridhai Allah Swt.

Peranan mesjid sebagai pusat pendidikan dan pengajaran senantiasa terbuka lebar bagi
setiap orang yang merasa dirinya mampu dan cakap untuk memberikan atau mengajarkan

5
ilmunya kepada orang yang hasus akan ilmu pengetahuan. Setelah pelajaran anak-anak di
kuttab berakhir, mereka melanjutkan pendidikannya ke tingkat menengah yang dilakukan di
masjid.

Dalam mesjid terdapat dua tingkatan sekolah; tingkat menengah dan tingkat perguruan
tinggi. Pelajaran yang diberikan dalam tingkat menengah dilakukan secara perorangan.
Sedang pada tingkat perguruan tinggi dilakukan secara halaqah, murid duduk bersama
mengelilingi gurunya yang memberikan pelajaran kepada mereka. Ditingkat menengah
diberikan mata pelajaran al-Quran dan Tafsir, Hadits dan Fiqih. Sedangkan pada tingkat
perguruan tinggi diberikan pelajaran Tafsir, Hadits, Fikih, dan Syariat Islam.

g. Majelis Sastra

Majelis sastra adalah perkembangan dari mesjid yang biasa dilakukan oleh para khulafaur
rasyidin bersama para sahabat lainnya untuk bermusyawarah dan diskusi tentang masalah-
masalah yang memerlukan pemecahan secara tuntas. Dalam majelis ini para sahabat
mempunyai kebebasan yang penuh dalam mengemukakan kritikan-kritikan dan pendapat
mereka.

Musyawarah dan diskusi mengandung unsur pendidikan yang meliputi pengunaan dan
pengendalian akal pikiran serta perasaan dan tata tertib berdasarkan ketentuan-ketentuan atau
dalil-dalil yang berlaku. Selain itu dalam majelis ini juga terjadi proses transformasi ilmu
pengetahuan, permasalahan yang dikemukakan dan hasil pemecahannya kepada peserta.

B. Pendidikan Masa Abbasiyah

Pada masa Abbasiyah tujuan pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh
masyarakat pada masa itu. Tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Tujuan keagamaan dan akhlak, seperti pada masa sebelumnya. Anak-anak didik
diajar membaca/menghafal Al-Quran, ialah karena hal itu suatu kewajiban dalam
agama, supaya mereka mengikut ajaran agama dan berakhlak menurut agama. Begitu
juga mereka diajar ilmu tafsir, hadis dan sebagainya adalah karena tuntutan agama,
lain tidak.

6
2. Tujuan kemasyarakatan, Selain tujuan keagamaan dan akhlak ada pula tujuan
kemasyarakatan, yaitu pemuda-pemuda belajar dan menuntut ilmu, supaya mereka
dapat mengubah dan memperbaiki masyarakat, dari masyarakat yang penuh kejahilian
menjadi masyarakat yang bersinar ilmu pengetahuan, dari masyarakat yang mundur
menjadi masyarakat yang maju dan makmur.

Ilmu-ilmu yang diajarkan di madrasah-madrasah, bukan saja ilmu-ilmu agama dan bahasa
Arab, bahkan juga diajarkan ilmu-ilmu duniawi yang berfaedah untuk kemajuan masyarakat.

3. Selain itu ada lagi tujuan pendidikan, ialah cinta akan ilmu pengetahuan serta senanag
dan lazat mencapai ilmu itu. Mereka belajar tak mengharapkan keuntungan apa-apa,
selain dari pada berdalam-dalam dalam ilmu pengetahuan. Mereka melawat keseluruh
negara Islam untuk menuntut ilmu tanpa mempedulikan susah payah dalam
perjalanan, yang umumnya dilakukan dengan berjalan kaki atau mengendarai keledai.
Tujuan mereka tidak lain untuk memuaskan jiwanya yang haus akan ilmu
pengetahuan.

4. Disamping itu ada pula tujuan pendidikan sebagian kaum muslimin , yaitu tujuan
kebendaan. Mereka menuntut ilmu supaya mendapat penghiduapn yang layak, dan
pangkat yang tinggi, bahkan kalau mungkin mendapat kemegahan dan kekuasaan di
dunia ini, seperti tujuan setengah orang pada masa kita sekarang7.

Berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Islam

Sebelum timbul sekolah dan universitas yang kemudian dikenal sebagai lembaga
pendidikan formal, dalam dunia islam sebenarya telah berkembang lembaga lembaga
pendidikan Islam yang bersifat non formal. Lembaga lembaga ini berkembang terus dan
bahkan bersamaan denganya tumbuh dan berkembang bentuk-bentuk lembaga pendidikan
non formal yang semakin luas. Di antara lembaga-lembaga pendidikan Islam yang bercorak
non formal tersebut adalah :

1. Kuttab sebagai lembaga pendidikan dasar

7 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam,h. 46

7
Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat
menulis. Jadi katab adalah tempat belajar menulis. Sebelum datangnya Islam Kuttab telah ada
di negeri Arab, walaupun belum banyak dikenal. Diantara penduduk Mekkah yang mula-
mula belajar menulis huruf Arab ialah Sufyan Ibnu Umaiyah Ibnu Abdu Syams, dan Abu
Qais Ibnu Abdi Manaf Ibnu Zuhroh Ibnu Kilat. Keduanya mempelajari di negeri Hirah8.

1. Pendidikan Rendah di Istana

Timbulnya pendidikan rendah di istana untuk anak-anak para pejabat, adalah berdasarkan
pemikiran bahwa pendidikan itu hanya harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu
melaksanakan tugas-tugasnya kelak setelah ia dewasa. Pendidikan anak di istana berbeda
dengan pendidikan anak-anak di kuttab pada umumnya. Tetapi rencana pelajaran untuk
pendidikan di istana pada garis besarnya sama saja dengan rencana pada kuttab-kuttab, hanya
ditambah atau dikurangi menurut kehendak para pembesaryang bersangkutan, dan selaras
dengan keinginan untuk menyiapkan anak tersebut secara khususuntuk tujuan-tujuan dan
tanggung jawab yang akan dihadapinya dalam kahidupannya nanti.

1. Toko-toko kitab

Pada permulaannya masa Daulah Abbasiyah, di mana ilmu pengetahuan dan kebudayaan
Islam sudah tumbuh dan berkembang dan diakui oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai
cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko-toko kitab. Pada mulanya toko-toko kitab
tersebut berfungsi sebagai tempat berjual beli kitab-ktab yang telah ditulis dalam berbagai
ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Mereka membeli dari para penulisnya
kemudian menjualnya kepada siapa yang berminat untuk mempelajarinya. Dengan demikian
toko-toko kitab tersebut telah berkembang fungsinya bukan hanya sebagai tempatmenjual
beli kitab-kitab saja, tetapi juga merupakn tempat berkumpulnya para ulama, pujangga, dan
ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya, untuk berdiskusi, berdebat, bertukar pikiran dalam
berbagai maslah ilmiah. Jadi sekarang berfungsi juga sebagai lembaga pendidikan dalam
rangka pengembangan berbagai macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam9.

8 Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam,cet,5,(Jakarta : Bumi Aksara, 1997),h.89

9 Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam,h.94-95

8
1. Rumah-rumah para ulama (ahli ilmu pengetahuan)

Walaupun sebelumnya ruumah bukanlah merupakan tempat yang baik untuk tempat
memberikan pelajaran namun pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan
kebudayaaan Islam, banyak juga rumah-rumah para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan
menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal itu pada umumnya
disebebkan karena ppara ulama dan ahli yang bersangkutan yang tidak mungkin memberikan
pelajaran dimesjid, sedangkan pelajar banyak yang berminat untuk mempelajari ilmu
pengetahuan dari padanya. Diantara rumah ulama terkenal yang menjadi tempat belajar
adalah rumah Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ali Ibnu Muhammad Al-Fasihi, Yaqub Ibnu Killis,
Wazir Khalifah Al-Aziz billah Al-Fatimy, dan lain-lainnya.

1. Majelis atau saloon kesusasteraan

Dengan majelis atau saloon kesusasteraan, dimaksudkan adalah suatu majelis khusus
yang diadakan oeh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Majelis ini
bermula sejak zaman Khalifah Rasyidin, yang biasanya memberiikan fatwa dan musyawarah
dan diskusi dengan para sahabat untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi pada
masa itu. Tempat pertemuan pada masa itu adalah masjid.

Pada masa Harun Al-Rasyid (170-193 H) majelis sastra ini mengalami kemajuan yang
luar biasa, karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan dan juga mempunyai
kecerdasan, sehingga khalifah sendiri aktif didalamnya. Disamping itu ppada masa itu dunia
Islam memang diwarnai oleh perkembangan ilmu pengetahuan, sedangkan negara berada
dalam kondisi yang aman, tenagng dan dalam zaman pembangunan. Pada masanya sering
diadakan perlombaan antar ahli-ahli syair, perdebatan antar fuqaha, dan diskusi di antara para
sarjana berbagai macam ilmu pengetahuan, juga diadakan sayembara diantara ahli kesenian
dan pujangga10.

1. Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal Badwi)

10 Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam,h.96

9
Sejak perkembangan luasnya Islam, dan bahasa Arab digunakan sebagai bahsa pengantar
oleh bangsa-bangsa di luar bangsa Arab yang beragama Islam, dan terutama di kota-kota
yang banyak percampurannya dengan bahasa lain, masa bahasa Arab berkembanga luas,
tetapi bahasa Arab cenderung kehilangan keaslian dan kemurnian. Orang-orang di luar
bangsa Arab sering tidak bisa mengucapkan lafaz-lafaz dengan baik, tidak tahu kaidah-
kaidahnya sehingga sering salah mengucapkannya. Bahasa Arab menjadi rusak dan menjadi
bahasa pasaran. Oleh karena itu khalifah-khalifah biasanya mengirimkan anak-anaknya ke
badiah-badiah ini untuk mempelajari bahasa Arab yang fasiih dan murni, dan mempelajari
pula syair-syair serta sastra Arab dari sumbernya yang asli. Banyak ulama-ulama dan ahli
ilmu pengetahuan lainnya yang pergi ke badiah-badiah dengan tujuan untuk mempelajari
bahasa dan kesusasteraan Arab yang asli lagi murni tersebut. Badiah-badiah tersebut lalu
menjadi sumber ilmu pengetahuan terutama bahasa dan sastraArab dan berfungsi sebagai
lembaga pendidikan Islam.

1. Rumah sakit

Pada zaman jayanya perkembangan kebudayaan Islam, dalam rangka menyebarkan


kesejahteraan di kalangan umat Islam, maka banyak didirikan rumah-rumah sakit oleh
khalifah dan pembesar-pembesar negara.rumah sakit tersebut bukan hanya berfungsi sebagai
tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang
berhubungan dengan perawatan dan pengobatan. Mereka mengadakan berbagai penelitian
dan percobaab dalam bidang kedokteran dan obat-obatan, sehingga berkembang ilmu
kedokteran dan ilmu-ilmu obat-obatan atau farmasi.

Rumah sakit ini juga merupakan tempat praktikum dari sekolah-sekolah kedokteran yang
didirikan di luar rumah sakit, tetapi tidak jarang pula sekolah-sekolah kedokteran tersebut
didirikan tidak tterpisah dari rumah sakit. Dengan demikian, rumah sakir dalam dunia Islam,
juga juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan11.

1. Perpustakaan

Pada zaman perkembanga ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, buku mempunyai
nilai yang sangat tinggi. Buku adalah merupakan sumber informasi berbagai macam ilmu
pengetahuan yang ada dan telah dikembangkan oleh para ahlinya. Orang dengan mudah dapat

11 Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam,h.98

10
belajar dan mengajarkan ilmu pengetahuan yang telah tertulis dalam buku. Dengan demikian
buku merupakan sarana utama dalam usaha pengembangan dan penyebaran ilmu
pengetahuan12..

Baitul Hikmah di Baghdad yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid, adalah
merupakan salah satu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap, yang berisi ilmu-ilmu
agama Islam dan bahasa Arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang
pada masa itu, dan berbagai buku-uku terjemahan dari bahasa-bahasa Yunani, Persia, India,
Qibty, dan Aramy. Perpustakaan-perpustakaan dalam dunia Islam pada masa jayanya,
dikatakan sudah menjadi aspek budaya yang penting, sekaligus sebagai tempat belajar dan
sumber pengembangan ilmu pengetahuan.

1. Masjid

Pada masa Bani Abbasiyah dan masa perkembangan kebudayaan Islam, masjid-masjid
yang didirikan oleh pera penguasa pada umumnya dilengkapi dengan berbagai macam sarana
dan fasilitas untuk pendidikan. Demikianlah masjid dalam dunia Islam, sepanjang sejarahnya
tetap memegang peranan yang pokok, di samping fungsinya sebagai tempat berkomunikasi
dengan Tuhan, sebagai lembaga pendidikan dan pusat komunikasi sesama kaum muslimin.

Sistem pendidikan di sekolah-sekolah

Sebenarnya timbulnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk sekolah-sekolah dalam


dunia Islam adalah merupakan pengembangan semata-mata dari sistem pengajaran dan
pendidikan yang telah berlangsung di masjid-masjid, yang sejak awal telah berkembang dan
dilengkapi dengan saranasarana untuk memperlancar pendidikan dan pengajaran di
dalamnya13.

Diantara faktof-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah di liar masjid adalah :

1. Khalaqah-khalaqah (lingkaran) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, yang


di dalamnya juga menjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain
saling menggangu, disamping sering pula menggangu orang-orang yang beribadah
12 Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam,h.99

13 Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam,h.100

11
dalam masjid. Keadaan demikian, mendorong untuk dipindahkannya khalaqah-
khalaqah tersebut ke luar lingkungan masjid, dan didirikanlah bangunan-bangunan
sebagai ruang-ruang kuliah atau kelas-kelas tersendiri. Dengan demikian kegiatan
pengajaran dari khalaqah-khalaqah tersebut tidak saling menggangu satu sama lain.

2. Dengan berkembang luas ilmu pengetahuan, baik mengenai agama mapun umum
maka diperlukan semakin banyak khalaqah-khalaqah (lingkaran-lingkaran
pengajaran), yang tidak mungkin keseluruhan tertampung dalam rruang masjid.

Disamping itu terdapat faktor-faktor lainnya, yang mendorong bagi pera penguasa dan
pemegang pemerintahan pada masa itu untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai bangunan-
bangunan yang terpisah dari masjid, antara lain :

1. Pada masa bangsa Turki mulai berpengaruh dalam pemerntahan Bani Abbasiyah, dan
untuk mempertahankan kedudukan mereka dalam pemerintahan, mereka berusaha
untuk menarik hati kaum muslimin pada umumnya, dengan jalan memperhatikan
pendidikan dan pengajaran bagi raknya umum. Mereka berusaha untuk mendirikan
sekolah-sekolah di berbagai tempat dan dilengkapi dengan segala sarana dan fasilitas
yang diperlukan14.

2. Mereka mendirikan sekolah-sekolah tersebut, disamping dengan harapan untuk


mendapatkan simpati drrai rakyat umumnya, juga berharap mendapatkan ampunan
dan pahala dari Tuhan.

Para pembasar negara pada masa itu, dengan kekayaan mereka yang luar biasa, banyak
yang hidup dalam kemewahan dan sering pula berbuat maksiat. Dengan mendirikan sekolah-
sekolah dan membiayainyya secukupnya, berarti mereka telah mewakafkan dan
membelanjakan harta bendanya di jalan Allah. Mereka berharap hal demikian dapat menjadi
penebus dosa dan maksiat yang telah mereka kerjakan. Kalau para ulama dan para ahli
berbagai ilmu pengetahuan banyak berbuat amal salaeh dengan keahlian mereka masing-
masing, maka mereka pun ingin berbuat yang serupa sebagai imbalannya15.

14 Chatibul Umam, Sejarah Kebudayaan Islam MTs, (Jakarta: Departemen Agama RI,
1999) h. 57

15 Chatibul Umam, Abidin Nawawi, Sejarah Kebudayaan Islam MTs,h.58

12
Tingkat-tingkat Pengajaran

Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri atas beberapa tingkat :

1. Tingkat sekolah rendah, namanya kuttab jamak (katatib), untuk tempat belajar anak-
anak. Disamping kuttab adapula anak-anak belajar dirrumah, di istana, di toko-toko,
dan dipinggir-pinggir pasar.

2. Tingkat sekolah menengah, yaitu di masjid dan dimajelis sastera dan ilmu
pengetahuan, sebagai sambungan pelajaran di kuttab.

3. Tingkat perguruan tinggi, seperti Baitul Hikmah di Baghdad dan Darul ilmu di Mesir
(Kairo), di masjid-masjid dan lain-lain16.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa keadaan pendidikan pada masa
kekuasaan bani Umayyah sudah lebih berkembang dibandingkan pada zaman Khulafur
Rasyidin. Perkembangan pendidikan tersebut yang paling menonjol adalah pada aspek
kelembagaan dan ilmu yang diajarkan. Pada aspek kelembagaan telah muncul dan
berkembang lembaga pendidikan baru, yakni istana, badiah, perpustakaan, dan bimaristan.
Adapun ilmu yang diajarkan bukan hanya bidang agama saja, melainkan juga ilmu-ilmu
umum. Namun demikian, ilmu-ilmu agama masih dominan dibandingkan dengan ilmu
umum. Adapun bila kita lihat dari segi sistemnya masih bersifat sederhana dan konvensional,
dan belum dapat disamakan dengan sistem pendidikan yang sudah berkembang seperti pada
saat ini.

16 Philip Hitti, History of The Arabs,cet,10,( New York : PT Serambi Ilmu


Semesta,2002), h.358

13
Pada masa Abbasiyah tujuan pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh
masyarakat pada masa itu. Tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Tujuan keagamaan dan akhlak, seperti pada masa sebelumnya. Anak-anak didik
diajar membaca/menghafal Al-Quran, ialah karena hal itu suatu kewajiban dalam
agama, supaya mereka mengikut ajaran agama dan berakhlak menurut agama. Begitu
juga mereka diajar ilmu tafsir, hadis dan sebagainya adalah karena tuntutan agama,
lain tidak.

2. Tujuan kemasyarakatan, Selain tujuan keagamaan dan akhlak ada pula tujuan
kemasyarakatan, yaitu pemuda-pemuda belajar dan menuntut ilmu, supaya mereka
dapat mengubah dan memperbaiki masyarakat, dari masyarakat yang penuh kejahilian
menjadi masyarakat yang bersinar ilmu pengetahuan, dari masyarakat yang mundur
menjadi masyarakat yang maju dan makmur.

DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Perss, 2011).

Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana)

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam.

Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam,cet,5,(Jakarta : Bumi Aksara, 1997).

Chatibul Umam, Sejarah Kebudayaan Islam MTs, (Jakarta: Departemen Agama RI,
1999).

14
15