Anda di halaman 1dari 9

LEGENDA SITU BAGENDIT

Adegan 1

Garut adalah salah satu daerah di jawa Barat. Merupakan daerah yang subur dan memiliki
banyak tempat wisata. Salah satunya adalah Situ bagendit. Dan cerita ini adalah mengenai asal-
usul terbentuknya situ Bagendit.
Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya
kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan
air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski
begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.
Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk
sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi
yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.
Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat
luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya!
Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai
Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari
perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis,
mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi.

Aki Endang : Hei, mengapakau cemberut begitu, Nyai. Bukankah kita sedang panen?
Nyai Endang : Kepo ae
Aki Endang : Oh gitu ya, jadi sekarang mau rahasia-rahasia. Mulai sekarang jangan tidur
di kasurku lagi.
Nyai Endang : Jangan lah, cuma bercanda aku.
Aki Endang : Iya, aku tau kok. Apa sih yang tidak kuketahui darimu?.
Nyai Endang : Wes jangan bercanda terus. Ini loh, Kangmas. Masa kita harus menjual
Hasil panen yang melimpah ini ke lintah darat itu. Bagaimana kita bias
bahagia?
Aki Endang : Ya, mau bagaimana lagi. Ini sudah nasib kita.
(Lalu, ada beberapa petani yang datang setelah membajak sawah.)

Petani 1 : Permisi Aki Endang, Nyai Endang.


Petani 2 : Permisi.
Aki Endang : Habis dari mana kalian?
Petani 1 : Ya ini kan di sawah Aki Endang, bukan di Laut. Ya, mau ngapain lagi?
Nyai Endang : Sudah sudah
Petani 2 : Ngomong-ngomong apa yang sedang kalian bicarakan
Nyai Endang : Ini loh kita lagi galau. Bagaimana hasil panen bisa menghasilkan
Keuntungan kalau di jual ke lintah darat
Petani 1 : Iya ya, Nyai, apakah tidak bisa di jual ke orang lain.
Aki Endang : Mau bagaimana lagi? Siapa lagi yang rumahnya bisa menampung padi
selain orang itu.
Petani 2 : Kalau begitu, padinya simpan rumahku saja.
Nyai Endang : Rumah kecil gitu mau ditaruh kemana?
Petani 2 : Taruh bawahnya Kasur, mungkin saja bisa menjadi uang.
Petani 1 : Mimpi aja kamu ini, rumah besar milik Nyai Endit saja tidak bias
menghasilkan uang, apalagi rumah kecil milikmu.
Aki endang : Sudah jangan berdebat terus. Nanti bisa terdengar centengnya Nyai Endit
Petani 2 : Emang bisa apa centengnya Nyai Endit?
Aki Endang : Emang kamu sendiri bisa apa?
Petani 1 : Sudah-sudah kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan
Yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Kan
Tuhan mah tidak pernah tidur!

Adegan 2
(Pagi hari, Nyai Endit bersama dengan ajudannya pergi ke lumbung padi miliknya di belakang
rumah.)

Nyai Endit : Hei, ajudan! Coba kamu cek lumbung padiku, sudah seberapa
banyak isi di dalamnya.
Ajudan 2 : Baik, juragan.
(Ajudan 1 menyuruh ajudan 2 untuk membuka lumbung padi milik Nyai Endit.)

Ajudan 1 : Lihatlah Nyai Endit! Lumbung padimu sudah hampir penuh.


Nyai Endit : Hohoho! Apakah kau suah menyuruh semua petani di desa kita
untuk menjualnya kepadaku?
Ajudan 3 : Pastinya Nyai, semuanya sudah dibeli habis !
Ajudan 2 : Lalu, apa yang akan kita lakukan terhadap padi padi ini?
Nyai Endit : Nanti saat musim paceklik datang, kita jual kembali kepada penduduk
dengan harga tinggi.
Ajudan 1 : Baik, Nyai, Nyai pasti akan mendapatkan keuntungan berlipat lipat
Ajudan 3 : Selain itu, Nyai tidak akan kehabisan persediaan makanan jika musim
paceklik tiba.
Nyai Endit : ohhh.. ternyata kalian pintar juga.
Nyai dan
Ajudan nya : hahahaha, superr!!!

(Sementara itu, Aki endang dan Nyai endang yang saat itu dalam perjalanan pulang ke rumah,
mereka menengok isi lumbung padi Nyai endit.)

Aki Endang : Nyai, coba lihatlah lumbung padi ini. Susah payah kita mendapatkannya,
namun kita harus menjualnya kepada Nyai Endit dengan harga murah.
Nyai Endang : Betul, Ki. Padahal kita sudah menanamnya dengan susah payah, ini tidak
sesuai dengan jerih payah kita.
Aki Endang : Bagaimana lagi kita hanya seorang petani yang hanya tunduk pada
kekuasaan orang lain.
Nyai Endang : Sudahlah, mari kita pulang saja. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus
kita lakukan.
Aki Endang : Baiklah.
Adegan 3
(Baru beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan
banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora
dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.)

Nyai Endang : Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis


Aki Endang : Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit
Petani 1 : Oh iya pak
Penduduk Desa 2 : Eh sis, Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat dibanding
saat kita jual dulu.
Nyai Endang : Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain
Aki Endang : Oh iya nih bu, kita tidak memungkinkan untuk membeli kebutuhan yang
lain, terlebih sekarang adalahmusim paceklik
Penduduk Desa 1 : Iya pak, btw saya kemarin habis dpajak oleh ajudan dari nyai endhit
Aki : Wah ,kasihan benar kamu bu
Petani 2 : Ajudan dari Nyai Emdhit , memang terkenal sangat kejam dalam menagih
pajak
Penduduk Desa 2 : Oh ya , kemarin saja aku hamper mati karena aku telat bayar pajak
Petani 2 : Pak , Buk , denger denger nyai endhit mau ngadain pesta nih
Penduduk Desa 1 : Wah, kita harus ikut nih
Petani 1 :Gundulmu iku kape join ndek pestane nyai endhit
Penduduk Desa 2 : Kan enak to , kalau kita bisa join di pestanya nyai endhit
Petani 1 : Wah, enak banget tuh , tapi tau sendiri kan , nyai endhit seperti apa
Petani 2 :Iya, nyai endhit itu sangat kejam loh gan , soalnya dilihat dari ajudannya aja
udah kejem gitu apalagi yang mimpin gan
Penduduk Desa 1 :Iya tuh sis , nyai endhit tuh jahat banget udah ngerampas harta kita , kalau
gak diserahkan nanti kita bakal disiksa sama si ajudannya
Petani 2 : Wah berarti kita harus hati hati nih sama nyai endhit
Petani 1 : Jadi kita bisa mungkin diundang atau enggak nih ?
Penduduk Desa 1 : Kita tidak mungkin diundang di pestanya nyai endhit
Petani 2 : Wah , aku haus nih , tapi kan desa kita kekeringan airnya habis semua
Petani 1 :Semoga Nyai endhit diberikan balasan karena kita telah dipersusuah
olehnya
Nyai Endang :Ya Gusti , Berilah ketabahan dan kemudahan untuk menjalani degala
cobaan ini
Semua : Amin

Adegan 4
(Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.Suatu siang
yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia
melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.)

Nenek : Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena
kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,

(Dia berjalan mendekati penduduk yang sedang menumbuk padi)

Nenek : Nyi! Saya numpang tanya,


Penduduk 1 : Ya nek ada apa ya?
Nenek : Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?
Nyi Asih : Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?. Sudah dekat nek. Nenek tinggal
lurus saja sampai ketemu pertigaan. Lalu nenek belok kiri. Lalu bertemu
perempatan belok kanan. Lurus terus sampai bertemu perempatan lagi.
Lurus saja sampai nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah
rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi Endit?
Nenek : Saya mau minta sedekah,
Nyai Asih : Ah percuma saja nenek minta sama dia, ga bakalan dikasih. Kalau nenek
lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi maaf seadanya, .
Nenek : Tidak perlu. Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang
minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap
siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.
Nyi Asih : Nenek bercanda ya?. Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.

Nenek : Aku tidak bercanda. Aku adalah orang yang akan member pelajaran pada
Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga
milik kalian,

(Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.)
Nyai Asih : pengumuman... pengumuman.
Petani 2 : ada apa?
Petani 1 : kamu ini ngapain? Kamu gak ngerti orang tidur ta?
Nyai Asih : iih galak banget kamu.. aku mau ngasih tau tadi aku ketemu nenek. Nenek
itu bilang bahwa sebentar lagi desa kita akan tenggelam.
Petani 1 : ngawur kamu.. mungkin aja nenek itu iseng.
Nyi Asih : ya kamu yang ngawur.. masak ada nenek nenek iseng.. waktu itu aku juga
bersama nyi asih ketika nenek itu datang.
Penduduk 1 : lalu bagaimana ini? Apa kita akan percaya kepada nenek itu?
Penduduk 2 : ya sudahlah percaya gak percaya kita persiapkan diri saja.
Nyi Asih : benar. Nah kalo gitu ayo kita persiapkan diri masing masing.

(Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para
centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para
centeng.)

Nenek : Assalamualikum, apa benar ini rumah Nyai Endit?


Centeng 1 : waalaikumsalam... iya benar nek. Ada apa?
Nenek : Apakah ada makanan yang bisa saya makan? Sudah tiga hari saya tidak
makan, saya sangat lapar.
Centeng 1 : wah.. saya sangat kasian padamu nek. Sebentar saya ambilkan.
Centeng 2 : loh.. loh... ada apa ini? Mau ngapain kamu?
Centeng 1 : ini loh neneknya kasihan sudah tiga hari tidak makan. Aku mau
ngambilkan makanan.
Centeng 3 : Bodoh kamu ini.. kita kan orang jahat.
Centeng 1 : kita? Kamu aja kali!
Centeng 2 : Awas kamu ya tak laporin ke Nyai Endit.
Centang 1 : oh jangan.. jangan.
Centeng 3 : Makanya usir saja dia.
Centeng 1 : Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini
kotor terinjak kakimu!
Nenek : walah.. kamu kok plinplan gitu.
Centeng 2 : Apa peduliku. Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan
minta!
Centeng 3 : Sana, cepat pergi sebelum saya seret!
Nenek : Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Endiiiit!

(Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil)

Nyi Endit : Siapa sih yang berteriak-teriak di luar. Ganggu orang makan saja!
Nyai Endit : Hei! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah
orang?
Nenek : Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak
makan,
Nyi Endit : Lah..ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini!
Nanti banyak lalat nyium baumu,

Adegan 5
(Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah dan memandang Nyai
Endit dengan tajam.)

Nenek : Hei Endit..! Tuhan telah memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak
bersyukur.Kau kikir! penduduk desa kelaparan kau malah menghambur
hamburkan makanan di sini. Aku dating kesini sebagai jawaban atas doa
para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima
hukumanmu.

Nyi Endit : Ha ha ha Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat
centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,saiki pergio
Nenek : Tidak perlu repot-repot mengusirku, Aku akan pergi
Nyi Endit : hey nenek,bawalah tongkat jelekmu ini pergi bersamamu
Nenek : asal kau tau,tidak akan ada yang bisa mencabut tongkat ini selain aku,jika
kau bisa mencabutnya,maka kami para wargamu akan mengabdi padamu
seumur hidup kami,dan kau dapat semena-mena pada kami
Nyi Endit : Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku
bisa!

(Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu
tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.)

Nyi Endit : Sialan! kata Nyai Endit. Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai
tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!

(Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga
orang, tongkat itu tetap tak bergeming dan si nenek itu pun pergi entah kemana.)

Nyi Endit : dasar centeng tidak berguna! (memukul para centeng yang terus berusaha
untuk melepas tongkat)
(Waktu telah berlalu,sedangkan tongkat itu masih tidak bergoyak sama sekali dari tanah.Nyi
Enditpun mulai khawatir dan memikirkan cara agar tongkat tersebut dapat tercabut.)

Nyi Endit : hmm,..gimana ya ini? Hei centeng centeng,apa kalian punya ide buat
nyabut tongkat ini?
Centeng 1
& Centeng 2,3 : (mikir lalu menggelengkan kepalanya)
Nyi Endit :huft,.. aha,gimana kalau kita buat sayembara?
Centeng 1 : nah bagus itu bagus.
Centeng 2,3 : iya bagus itu.
Nyi endit : sekarang,umumkan pada desa tetangga dan rakyat kita,bahwa mulai besok
kita akan menagadakan sebuah sayembara dan sebagai imbalannya kita akan
berikan harta yang berlimpah dan kesejahteraan hidup.
Nyi endit : pelayan!
Pelayan 1 : iya?
Nyi endit : umumkan sayembara ini pada rakyat kita,dan para centeng,jaga mereka!
Pelayan 1 : siap Nyi endit
Centang 1&2,3 : oke (hormat)

(Beberapa jam kemudian)

Centeng 2 : kepada seluruh rakyat,harap berkumpul sekarang juga!!


Pelayan 1 : pengumuman2,ass. Wr. Wb. selamat siang, selamsejahterah bagi kita
semua. siang ini kami akan mengumumkan bahwa besok akan diadakan
sebuah sayembara mencambut sebuah tongkat jelek dari tanah.dan sebagai
imbalannya,kami akan berikan harta yang berlimpah serta kesejahteraan
hidup bagi siapa saja yang dapat mencabutnya.
Para rakyat : wah,gampang sekali,aku mau ikut ah (1) iya aku juga - aku juga (2)

(Keesokan harinya,para rakyat berkumpul di rumah nyi endit untuk melakukan sayembara)

Nyi endit : hai para rakyatku,terimakasih atas kedatangannya.sekalilagi aku tegaskan


bahwa,bagi siapa saja yang dapat mencanut tongkat ini,maka akan aku
berikan harta yang berlimpah dan kehidupan yang sejahtera.dengan ini,maka
sayembara saya buka!!
Rakyat 1 : hah,Cuma tongkat se kecil ini? Hahahaha...dasar nyi endit,sempat2nya
Bercanda (para rakyat tertawa)
Nyi endit : sudah,jangan banyak bicara,cabut saja tongkat itu

(rakyat satu persatu mencoba)


(Waktu berjalan sangat cepat,semua rakyat telah mencoba mencabutnya,namun tidak
membuahkan hasil.hingga datanglah si nenek

Nenek : Ha ha ha kalian tidak berhasil? kata si nenek. Ternyata tenaga kalian


tidak sebesar kesombongan dan kejahatan kalian. Lihat aku akan mencabut
tongkat ini.

(Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba
dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.)

Nenek : Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang
sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!

Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai
Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan
hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.

Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya Situ
Bagendit. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Beberapa orang percaya
bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah
penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.