Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam program pokok pembangunan jangka panjang di bidang
kesehatan disebutkan bahwa pencapaian tujuan pembangunan
diselenggarakan melalui pencapaian lima unsur pokok pembangunan
kesehatan yang disebut Panca Karya Husada. Dan untuk mencapai
Panca Karya Husada tersebut diselenggarakan lima unsur di bidang
kesehatan, dimana pengembangan tenaga kesehatan mendapat prioritas
kedua.
Adapun urutan prioritas tersebut adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan pelayanan kesehatan mencakup mutu dan
jangkauannya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun
masyarakat / swasta.
2. Pengembangan tenaga kesehatan untuk memenuhi kebutuhan
terselenggaranya pelayanan kesehatan paripurna.
3. Pengendalian, pengadaan dan pengawsan obat serta makanan dan
bahan berbahaya bagi kesehatan.
4. Pelayanan gizi dan peningkatan kesehatan lingkungan yang
mencakup lingkungan fisik, biologis dan masyarakat.
5. Peningkatan pemantapan manajemen dan hukum dimana hal ini
merupakan faktor yang sangat menentukan bagi keberhasilan
pencapaian tujuan.
Tenaga kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan Program Studi
Diploma 4 Analis Kesehatan diharapkan dapat sepenuhnya berperan
aktif dalam sistem pelayanan kesehatan yang ada dan yang akan
dikembangkan terutama dalam menangani masalah kesehatan
masyarakat secara umum termasuk pelayanan medis serta pelayanan
kesehatan yang makin paripurna. Dengan demikian berarti tenaga
kesehatan yang dihasilkan termasuk tenaga Analis Kesehatan harus
memiliki ciri ciri sebagai berikut :
1. Berjiwa Pancasila
2. Berpandangan luas tentang masalah kesehatan
3. Mempunyai pengetahuan ketrampilan professional
4. Kreatif dan dapat bekerja dengan tim.
5. Lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dari pada
kepentingan pribadi.
Program Studi Diploma 4 Analis Kesehatan yang dikembangkan
menjadi pendidikan yang berorientasi kepada kebutuhan masyarakat
secara umum yang di dalamnya terkait pelayanan medis. Pendidikan
Program Studi Diploma 4 Analis Kesehatan ini harus dapat menjawab
tuntutan pelayanan kesehatan dan harus dapat mengikuti perkembangan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang
laboratorium kesehatan, sesuai dengan kebutuhan serta prioritas
pembangunan dengan manfaat teknologi tepat guna termasuk teknologi
yanng menunjang usaha peningkatan pelayanan kesehatan sesuai
dengan yang tercantum dalam sistem Kesehatan Nasional. Tenaga
Analis Kesehatan yang terampil dikembangkan berdasarkan filsafat dan
kerangka konsep yang kokoh dengan dasar pendidikan lulusan Sekolah
Menengah Atas. Oleh karena itu kurikulum Pendidikan Diploma 4
Analis Kesehatan perlu disusun berdasarkan kompetensi sesuai dengan
fungsinya.
Salah satu matakuliah yang terdapat dalam kurikulum Pendidikan
Diploma 4 Analis Kesehatan( SK. Menkes Nomor HK.00.06.1.1.4.582
Tahun 1997 ) adalah Praktik Belajar Lapangan ( PBL ). Mahasiswa
Program Studi Diploma IV Analis Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri
melakukan Praktik Belajar Lapangan pada semester akhir V, kemudian
diharapkan setelah melaksanakan PBL dapat membuat laporan untuk
bahan evaluasi mahasiswa dan kegiatan PKL selanjutnya.
B. Tujuan
Tujuan pelaksanaan Praktik Belajar Lapangan bagi mahasiswa
program Studi Diploma 4 Analis Kesehatan adalah:
1. Melatih ketrampilan kerja mahasiswa
2. Mempersiapkan mentalitas mahasiswa
3. Mempersiapkan mahasiswa agar siap pakai untuk terjun di
masyarakat bila sudah selesai pendidikan.
4. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan pemecahan
masalah yang terdapat di lapangan.

C. Manfaat
Manfaat Praktek Kerja Lapangan ini adalah:
1. Dengan adanya Praktek Kerja Lapangan ini mahasiswa dapat
menambah wawasan dan pengetahuan baik secara teori maupun
praktek serta mengetahui Pelayanan Kesehatan yang dilakukan di
Phatologi Anatomi.
2. Mahasiswa dapat menjalin kerjasama yang baik dengan petugas
Laboratorium Phatologi Anatomi maupun petugas lain yang ada di
Rumah Sakit Dr.Soetomo Surabaya.

D. Tempat dan Waktu


Praktek Belajar Lapangan ini bertempatkan di Rumah Sakit
Dr.Soetomo Surabaya pada tanggal 5 desember 2016 hingga 30
desember 2016.
BAB II

INFORMASI RUMAH SAKIT

A. Sejarah RSUD dr.Soetomo Surabaya


Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya merupakan rumah sakit
kelas A yang berdiri di atas tanah dengan luas 163.875 m2 dan luas bangunan
98.121 m2. RSUD Dr. Soetomo tidak hanya untuk melayani pengobatan,
melainkan juga sebagai rumah sakit pendidikan, penelitian dan pusat rujukan
tertinggi untuk wilayah Timur. Hal ini sesuai dengan SK. Menkes
51/Menkes/SK/1179 RSUD Dr. Soetomo.
Sejarah RSUD Dr. Soetomo Surabaya diawali dengan berdirinya Rumah
Sakit Simpang dan Rumah Sakit AL Central Burgerijike Ziekenhuis (CBZ).
Rumah Sakit Simpang yang terletak di Jalan Pemuda 33 merupakan rumah sakit
pendidikan bagi Fakultas Kedokteran UNAIR yang didirikan tahun 1923.
Sedangkan Rumah Sakit AL Central Burgerijike Ziekenhuis (CBZ) yang terletak
di Desa Karang Menjangan merupakan rumah sakit yang dibangun oleh Kerajaan
Belanda pada tahun 1937.
Pada tahun 1943 pada masa penjajahan Jepang, pembangunan rumah sakit
dilanjutkan oleh Jepang. Setelah selesai kemudian didirikan Rumah Sakit AL.
Pada 1 September 1948 oleh Pemerintah Belanda Rumah Sakit Simpang diubah
menjadi Roemah Sakit Oemoem Soerabaja. Namun, pada tahun 1950 Roemah
Sakit Oemoem Soerabaja di bawah Departemen Kesehatan RI, ditetapkan
sebagai Rumah Sakit Umum Pusat.
Tahun 1951 sebagian dari Rumah Sakit Simpang di Jalan Pemuda 33 yaitu
ruangan penyakit dalam, mata, THT, anak, sebagian ruangan bersalin, kulit dan
paru-paru dipindah ke Rumah Sakit Karang Menjangan. Sebagian masih
ditempati oleh Rumah Sakit AL (bagian dapur). Sehingga Rumah Sakit Simpang
pada waktu itu masih terdapat bagian bedah, ruang bersalin, dapur dan sebagian
pendidikan perawat atau bidan, serta perumahan, pegawai, Dokter/Perawat dan
tenaga Administrasi.
Pada tahun 1953 sampai dengan 1954 sebagian pelayanan bagian bedah
pindah ke Rumah Sakit Karang Menjangan, sedangkan untuk bedah akut
(Emergency) masih di Rumah Sakit Simpang. Pada tahun 1980 Rumah Sakit
Simpang di Jalan Pemuda 33 dijual menjadi Delta Plasa dengan sistem tukar
tambah, di Rumah Sakit Karang Menjangan dibangun UGD dan ruangan bedah
berlantai 3. Dengan demikian semua kegiatan pelayanan dijadikan satu di Rumah
Sakit Karang Menjangan/RSUD Dr. Soetomo.
Pada tahun 1964 Rumah Umum Pusat Surabaya diubah namanya menjadi
RSUD Dr. Soetomo sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI,
tanggal 20 Mei 1964 No. 26769/KAB/76. Dan tahun 1965 berdasarkan PP No. 4
Th 1965 pengeloloaan atau penyelenggaraan Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Soetomo diserahkan pada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. Tahun 1979
sesuai dengan SK. Menkes 51/Menkes/SK/1179 RSUD Dr. Soetomo ditetapkan
menjadi Rumah Sakit kelas A, sebagai rumah sakit pelayanan, pendidikan,
penelitian dan pusat rujukan tertinggi untuk Wilayah Indonesia Timur.
Dengan berbagai perubahan nama yang didasarkan pada SK Menkes,
Rumah Sakit Simpang mengalami pengalihan ke Rumah Sakit Karang
Menjangan karena rumah sakit dijual dan diubah menjadi Delta Plasa pada tahun
1980. Pada tahun 1999 pengelolaan keuangan RSUD Dr. Soetomo sebagai Unit
Swadana Daerah dan diberlakukan mulai 1 April 1999, sesuai dengan SP
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur No. 2 Th 1999. Pada tahun 2002
Perda Propinsi Jatim menetapkan perubahan nama menjadi RS Umum Dr.
Soetomo.
Pada tahun 2012 hingga saat ini RSUD Dr. Soetomo menempati lahan
seluas 163.875 m2 dengan kapasitas tempat tidur (TT) 1.449, terdiri dari :
1. Graha Amerta : 123 TT
2. Ruangan : 1209 TT
3. IRD : 88 TT
4. GBPT : 29 TT

B. Profil RSUD dr.Soetomo Surabaya


1. Prestasi RSUD Dr. Soetomo :
a. Tahun 2007 : Empat ISO 9001:2000 untuk sistem managemen IRD,
Graha Amerta, Instalasi Rawat Jalan (IRJ), dan semua Instalasi Rawat
Inap (IRNA).
b. Tahun 2010 : Lulus Akreditasi ISO 9001:2008 untuk sistem managemen
IRD, IRJ, Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT), dan seluruh IRNA.
c. Tahun 2011 : Lulus Akreditasi RS Pendidikan Tipe A;
d. Lulus Akreditasi ISO 9001:2008 untuk sistem manajemen Gedung
Rawat Inap Utama Graha Amerta.
e. Tahun 2014 : Lulus Akreditasi KARS versi 2012 Tingkat PARIPURNA.
2. Data RSUD Dr. Soetomo (th. 2012) :
a. Jumlah tempat tidur :
1) Di Rumah Sakit : 1493 buah
2) Di Unit : Irna Medik : 473 buah
3) Irna Bedah : 407 buah
4) Irna Anak : 150 buah
5) Irna Obgyn : 140 buah
6) Irna Jiwa : 39 buah
7) Intalasi Rawat Darurat (IRD) : 97 buah
8) Instalasi Rawat Intensip & Reanimasi (IRIR) /GBPT : 29 buah
9) Gedung Rawat Inap Utama (GRIU) Graha Amerta : 158 buah
b. Bed Occupation Rate (BOR) 2014 :
1) Di Rumah Sakit 80,66 %
2) Di Unit : Irna Medik : 74,61 %
3) Irna Bedah : 84,30 %
4) Irna Anak : 114,64 %
5) Irna Obgyn : 53,09 %
6) Irna Jiwa : 31,93 %
c. Poliklinik : Sentralisasi
d. Jumlah Pengunjung :
1) Di Rumah Sakit : 404.176 orang
2) Jumlah dan Jenis Kasus di unit :
a) Rawat Jalan, Jumlah : 561.042
i. Jenis : 277.731
b) Rawat Inap, Jumlah : 43.217
i. Jenis : 43.335
c) Gawat Darurat, Jumlah : 71.721
i. Jenis : 75.574
d) One Day Care, Jumlah : 18.601
e. Kamar tindakan : Sentralisasi
1) Jumlah Kamar Tindakan :
Jumlah
JENIS RUMAH SAKIT BAGIAN / SMF
22 OK (Op Elektif)
Kamar Operasi Besar 8 SMF
6 OK (Op Emergency)
1 OK Paru (Irna Medik)
Kamar Operasi Kecil 1 OK Obgyn (URJ KB II) -
3 OK URJ Bedah
1 Kamar (IBP)
Kamar Pulih -
1 Kamar (IRD)
Kamar Bersalin 106 TT -
33 TT (ROI - IRD)
Kamar Intensif -
47 TT (IRIR - IBP)
Lain-lain - -
a) Jumlah operasi / tindakan/ elektif / hari : 39 operasi / 55
tindakan / hari
b) Jumlah operasi/ tindakan akut/ hari : 20 operasi / hari
c) Jumlah personil para medic : IBP (Instalasi Bedah Pusat =
GBPT) : 66 orang, IRD: 40 orang
d) Sterilisator alat : ada
e) Sterilisator pakaian : ada
f) Kamar persiapan : ada
g) Kamar : ada
f. Laboratorium : Sentralisasi
g. Jenis dan jumlah kasus yang menggunakan alat diagnostik :
1) Radiodiagnostik : 60.835
2) Patologi Klinik : 1.106.119
3) Mikrobiologi Klinik :
a) Pengecatan 16.804
b) Kultur 42.518
4) Patologi Anatomi :
a) Histopatologi 7.953
b) Frozen Section 451
c) Imuno 1.039
d) FNAB 3.896
e) Sitologi Exfoliative 2.039
f) Histokimia 145
5) Rehabilitasi Medik 75.194
6) Radioterapy 52.767
h. Kasus-kasus untuk perawatan medik (10 Terbanyak) :
1) Other disorders of fluid, electrolyte and acid-base 2.880
balance
2) Other metabolic disorder
2.830
3) Other anemia
2.596

4) Essential (primaty) hypertension 2.367

5) Malignant neoplasm of cervix uteri 2.003

6) Diabetes mellitus non-insulin-dependent 1.952

7) Anemia in chronic diseases classified elsewhere 1.818

8) Pneumonia, organism unspecified 1.745

9) Other gastroenteritis and colitis of infectious and 1.367


unspecified origin

10) Other disorders of urinary system 1.316


i. Peralatan untuk diagnostik khusus / terapi
1) Rehabilitasi Medik 151
2) Radiodiagnostik 34
3) Mikrobiologi Klinik 84
4) Patologi Klinik 267
5) Patologi Anatomi 63
6) Radioterapy 14
j. Bengkel dengan peralatan / perawatan alat : ada dengan 1 kali perbaikan
tiap 3bulan

C. Visi dan Misi RSUD dr.Soetomo Surabaya


1. VISI
Menjadi Rumah Sakit yang Bermutu Internasional dalam Pelayanan,
Pendidikan, dan Penelitian.

2. MISI
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penelitian
yang profesional, akuntabel yang berorientasi pada kastemer untuk menuju
pelayanan kesehatan berstandar internasional.
3. Nilai Dasar
a. Etika
b. Profesionalisme
c. Integritas
d. Kemitraan
e. Keadilan
f. Kemandirian
4. Kebijakan Dasar
a. Perbaikan mutu pelayanan.
b. Perbaikan manajemen (SDM) internal rumah sakit.
c. Pemantapan kelembagaan (struktur dan sistem).
d. Pemantapan nilai dasar menjadi budaya organisasi.
e. Pemantapan sistim akuntansi keuangan.
f. Pengendalian biaya dan struktur anggaran.
g. Perbaikan manajemen logistik medik dan non medik.
h. Pemantapan manajemen pendidikan klinik dan penelitian rumah sakit.
i. Pengembangan aliansi strategis.

D. Jenis Jenis Kegiatan RSUD dr.Soetomo Surabaya


1. Bidang Pelayanan Medik
Merencanakan, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi kegiatan
dan mengembangkan pelayanan medik rawat jalan dan rawat inap,
pelayanan rawat darurat, pembedahan intensif & invasif, dan perumusan
kebijakan. Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.00 15.00 WIB.

2. Bidang Pelayanan Diagnostik dan Khusus


Melaksanakan kegiatan merencanakan, mengkoordinasikan,
memantau, mengevaluasi kegiatan, mengembangkan pelayanan khusus dan
perumusan kebijakan. Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.30
15.30 WIB.
3. Bidang Keperawatan
Merencanakan, mengkoordinasikan, memantau, mengevaluasi
kegiatan pelayanan, pengembangan, asuhan keperawatan serta koordinasi
dengan instalasi dan perumusan kebijakan. Dilaksanakan setiap senin
jumat pukul 07.00 15.00 WIB.
4. Bidang Perbekalan dan Peralatan Rekam Medik
Koordinasi Pelayanan Perbekalan dan Peralatan Medik, serta
mengumpulkan bahan koordinasi pelayanan perbekalan dan peralatan medik.
Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.00 15.00 WIB.
5. Bidang Pemasaran & Rekam Medik
a. Melaksanakan perencanaan, pengembangan, koordinasi, pemantauan
dan evaluasi program pemasaran dan rekam medik
b. Pelayanan studi banding antar rumah sakit
c. Customer Relationship Management (CRM)
d. Publikasi pelayanan kesehatan (pamrean, iklan, company profile, siaran
informasi)
e. Media informasi pelayanan kesehatan
f. Pelayanan dan pengelolaan rekam medik
g. Pelayanan Resume Medik
h. Penelitian
i. Penyediaan data morbiditas dan mortalitas
j. Pengkodean diagnose dan prosedur tindakan medis
k. Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.00 15.00 WIB.

6. Bidang Pendidikan & Pelatihan


a. Perencanaan, pengembangan, mengkoordinasikan, memantau dan
mengevaluasi pendidikan klinik, pendidikan pelatihan profesi, pelatihan
mandiri.
b. Perencanaan program dan kegiatan pengelolaan praktek klinik peserta
pendidikan di Instalasi.
c. Administrasi pendidikan klinik.
d. Perencanaan program dan kegiatan diklat profesi bagi SDM rumah
sakit.
e. Administrasi penugasan pendidikan dan pelatihan bagi SDM rumah
sakit.
f. Perencanaan program dan kegiatan pelatihan mandiri.
g. Pengelolaan peserta magang dan studi banding.
h. Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.30 15.30 WIB.
7. Bidang Penelitian & Pengembangan
a. Merencanakan, mengembangkan, dan mengkoordinasikan,
menyelenggarakan, memantau, mengevaluasi kegiatan penelitian dan
pengembangan.
b. Perencanaan program dan kegiatan pengembangan
c. Mengkoordinasi kegiatan standarisasi Pelayanan Rumah Sakit (ISO,
Akreditasi,dll)
d. Perencanaan program dan kegiatan penelitian
e. Mengelola administrasi dan dokumentasi penelitian
f. Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.00 15.00 WIB.
8. Bagian Kepegawaian
a. Kenaikan Pangkat
b. Kenaikan Gaji Berkala
c. Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.30 15.00 WIB.

9. Bagian Perencanaan Program


a. Melaksanakan kegiatan perencanaan, pengembangan dan pemenuhan
kebutuhan kegiatan perencanaan program, anggaran, evaluasi dan
pelaporan dan perumusan kebijakan
b. Melaksanakan kegiatan penyusunan rencana strategis dan rencana
tahunan rumah sakit
c. Menyiapkan penyusunan perencanaan anggaran pendapatan dan belanja
rumah sakit
d. Menghimpun dan mengkaji data unit kerja di rumah sakit untuk
penyusunan program dan anggaran
e. Menyiapkan bahan sosialisasi renstra dan program rumah sakit
f. Menyiapkan bahan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (LAKIP) rumah sakit
g. Menyajikan informasi pelaksanaan program rumah sakit
h. Menyiapkan bahan bahan perumusan kebijakan
i. Melaksanakan tugas tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian
j. Menyiapkan bahan evaluasi kegiatan rumah sakit
k. Menyiapkan bahan pelaporan kegiatan rumah sakit
l. Menyusun data base informasi rumah sakit dan system informasi rumah
sakit bersama instalasi terkait
m. Menyiapkan dokumenlaporan tahunan rumah sakit
n. Menyiapkan bahan-bahan perumusan kebijakan
o. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Kepala Bagian
p. Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.30 15.00 WIB.
10. Bagian Tata Usaha
Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.00 15.00 WIB.
11. Bagian Keuangan
a. Pembagian Remunerasi
b. Pembayaran tagihan pihak III maupun unit kerja di RSUD Dr. Soetomo
c. Penerimaan Pembayaran pasien
d. Penunjang data dalam penyusunan RBA dan Laporan Tahunan RS
e. Laporan Keuangan
f. Laporan Prognosis Realisasi Anggaran
g. Dilaksanakan setiap senin jumat pukul 07.00 15.00 WIB.
12. Bagian Satuan Pengendalian Internal (SPI)
a. Pemeriksaan rutin
b. Pemeriksaan Khusus
c. Pemantauan
d. Konsultasi
e. Studi banding
f. Dilaksanakan setiap senin kamis pukul 07.00 15.00 WIB, jumat
pukul 07.00 - 14.30 WIB
13. Unit Perpustakaan
a. Pelayanan Komputerized
b. e-journal luar negeri
c. Dilaksanakan setiap senin kamis pukul 07.30 15.00 WIB, jumat
pukul 07.30 - 14.30 WIB
14. Unit Eksperimental & Ketrampilan Medik (SKILL LAB)
a. Pendidikan Skill PPDS Urologi dengan alat Simulator Perc Mentor. Lap
Mentor, Uro Mentor.Dilaksanakan setiap jumat pukul 13.00 15.00
WIB.
b. Pendidikan Skill PPDS Rehabilitasi Medik dengan Manekin dummy for
injection. Dilaksanakan setiap rabu pukul 09.00 11.00 WIB.
c. Pendidikan Skill PPDS Bedah dengan Simulator laparoscopy trainer.
Dilaksanakan setiap selasa dan kamis pukul 13.00 15.00 WIB.
d. Pendidikan Skill dengan DM & PPDS Kardiovaskular dengan Simulator
Harvey Cardiopulmonary. Dilaksanakan saat incidental pukul 10.00
14.00 WIB.
E. Struktur Organisasi
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.
t.
u.
v. BAB III
w. INFORMASI INSTALANSI PATOLOGI ANATOMI

A. Sejarah Instalansi Patologi Anatomi


x. Laboratorium Patologi Anatomi Kedokteran ini sudah ada sejak zaman
NIAS pada 1928. Kala itu, Bagian Patologi masih tergabung dalam Ilmu
Kedokteran Kehakiman di kamar mayat CBZ Simpang. Dr. H. Muller menjadi
kepala de afdeleing voor pathologische anatomie en gerechtelqke geneeskunde
de NIAS. Asistennya dari Belanda dan dari bumiputra. Pada 1932, A. E. Sitsen
menulis buku Leerboek der Pathologische Anatoniie. Pada 1938, patologi
anatomi masih menjadi bagian dari Ilmu Kedokteran Kehakiman dan kuliahnya
diberikan setelah tingkat 5 dari 8 tahun masa pendidikan.
y. Pada 1960, masih menjadi bagian dari Ilmu Kedokteran Kehakiman,
bagian Patologi Anatomi pindah ke kompleks kampus Universitas Airlangga di
RSUD Dr. Soetomo. Semua pengelola adalah para ahli dari Indonesia, dan
pernah sesaat bekerjasama dengan para ahli dari Amerika Serikat. Tenaga dosen
dan karyawan bertambah banyak. Selain pengiriman tenaga pengajar ke Amerika
Serikat dan Belanda, terdapat proyek riset tentang transplantasi kornea mata, barr
body, analisis kromosom dan lain-lain. Iuga ada proyek membuat buku pelajaran
patologi empat jilid. Pada tahun yang sama, lahir Divisi Sitologi.
z. Pada 24 Agustus 1987, Laboratorium Pelayanan Patologi Anatomi
pindah ke gedung baru dekat IKK RSUD Dr. Soetomo. Lembaga ini mengurus
pemeriksaan histopatologi, sitologi, frozen section, dan otopsi klinik. Pada 1988,
didirikan pelayanan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) dan Pemeriksaan
Imunohistokimia. Pada tahun yang sama bermunculan Divisi Histopatologi,
Divisi Sitologi, Divisi Histokimia, Divisi Imunohistokimia, Divisi Patobiologi,
Divisi Patologi Eksperimen, Divisi Mikroskop Elektron, dan Divisi Otopsi
Klinik.
aa. Pada 1997, dikembangkan 22 konsultan pada Konsultan Keilmuan
Patologi Anatomi. Ke-22 konsultan itu adalah; Patologi Sistem Respirasi,
Patologi Sistem Hepar dan Gastrointestinal, Patologi Sistem Limfoid dan
Hematopoitik, Patologi Sistem Uropoetik, Patologi Sistem Genital Wanita,
Patologi PenyakitTrobop1as, Patologi Payudara, Patologi Sistem Endokrin,
Patologi Sistem Muskuloskeletal, Patologi Sistem Syaraf, Patologi Kulit,
Sitologi, Immunohistokimia, Histokimia, FNAB, Patologi Lingkungan, Patologi
Genetika, Patolobiologi, Patolobiologi Eksperimen, Immunopatologi, Patologi
Molekuler dan Ultrastruktur Mikroskop Elektron.
ab. Dalam perkembangannya, Laboratorium Patologi Anatomi kedokteran
ini tidak hanya sebagai bagian dari pra-klinik tetapi punya peran penting sebagai
penunjang diagnostik di RSUD dr. Soetomo. Ini karena menjadi penentuan bagi
tindakan lanjut yang akan diberikan kepada penderita.
B. Visi, Misi, dan Motto
1. VISI
ac. Menjadi instalasi yang memberikan pelayanan, pendidikan,
dan penelitian bidang patologi anatomi yang berstandar internasional.
2. MISI
a) Memberikan pelayanan laboratorium PA yang excelent dan safety.
b) Pengembangan layanan laboratorium rujukan PA dari RS daerah.
c) Membangun SDM profesional bidang PA dengan standar
internasional.
d) Memberikan pendidikan dokter spesialis PA dengan standar
kurikulum nasional.
3. Motto
ad. Tepat dalam diagnosa, cepat dalam pelayanan.
ae.
af.
ag.
C. Struktur Organisasi
ah.
D. Alur Pelayanan
ai. Penderita
aj.
ak. Regristrasi
Laboraturium
al.
am.
an. UMUM ASURANSI
ao.
ap.
aq. Bayar Bank Jatim Dokumen Loket
ar.
as.
at. Prosesing Spesimen
au.
av.
aw.Pewarnaan
Rutin
Khusus

ax.
ay.
az. Pemeriksaan Mikroskipis
ba.
bb.
bc. Hasil
E. Pelayanan Devisi
1. Devisi FNAB
bd. Suatu tindakan untuk mengambil suatu benjolan yang tampak
dan teraba dari kelainan organ dengan cara tusukan menggunakan jarum 22-
25.
a. Pra Analitik
1) Persiapan alat :
be. Alat dan bahan yang digunakan untuk pemeriksaan ini
adalah Jarum, Objek glass, Hairdryer, Pinset, Timer, Kapas alcohol,
Sampel Biopsi, Cat Diftquick (Methanol, Eosin, Methylen Blue,
Air, Mounting Medium)
2) Persiapan Pasien : mengisi inform consent
3) Quality Control
bf. Kontrol yang dilakukan pada pemeriksaan ini adalah
mengecek kelayakan dan kualitas cat serta alat yang digunakan.
4) Calibrasi Alat
bg. Alat yang digunakan tidak memiliki waktu kalibrasi
tertentu, karena jika alat mengalami suatu masalah akan dilakukan
service alat ata membeli alat yang baru.
b. Analitik
1) Metode
bh. Metode yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah
biopsi menggunakan jarum halus.
2) Prinsip
bi. Untuk semua nodule atau benjolan yang tampak dan
teraba, apabila nodule tidak tampak dilakukan dengan cara
tuntunan USG dn CT Scant.
3) Tujuan
bj. Untuk memperoleh sampel dari pasien dan mengetahui
hasil pemeriksaan.
4) Prosedur Pemeriksaan
a) Pasien mengisi inform consent.
b) Petugas menulis biodata pasien di buku register.
c) Pasien masuk ruangan yang telah disediakan.dokter melakukan
anamnesi ke pasien.
d) Dokter mengambil sampel pasien.
e) Sampel dibuat hapusan.
f) Difiksasi dengan hairdryer
g) Setelah itu di lakukan pengencatan dengan metode diftquick :
i. Metanol selama 4 detik
ii. Eosin selama 8 detik
iii. Metylen Blue 10 detik
iv. Bilas dengan air mengalir
h) Beri identitas
i) Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 10X dan 40X
c. Pasca Analitik
bk. Hasil : Ditulis diagnosa penyakit pasien.
2. Devisi Histopatologi
bl. Definisi histopatology yaitu pemeriksaan jaringan operasi atau
biopsi untuk melihat perubahan morfologi sel dari jaringan dan suatu proses
untuk menanggani bahan dari biopsi atau operasi. Bahan-bahan tersebut
mempunyai bentuk yang berbeda yaitu : Bahan mentah dari hasil operasi
yang di diagnosa tumor atau kanker dari organ tubuh manusia. Metode yang
digunakan yaitu metode parafin.
a. Pra Analitik
1) Persiapan Alat
bm. Alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan ini
adalah Label, Wadah, Alat Pemotong LEICA RM 2135 dan
LEICA RM 2235, Thermo Coorporation atau Tissue
FLATATION BATH (Water Bath), Mikrotom, Histoembeder,
Autoteknikom CHANDON CITADEL 2000 LEICA TP 1010,
Timer, Pinset, tissue
2) Persiapan Larutan Fiksasi / Cat Pengecatan
a) Formalin 10% (Neutral Buffer Formaline)
b) Alkohol Formaldehyde.
c) Alkohol 96%,95%,90%,80%
d) Cat Mayer's Hematoxylin Eosin 1% (Cat Utama)
e) Xylol
f) Parafim
g) Lem Entelen
3) Tempat Specimen
a) Harus baru
b) Ukuran disesuaikan dengan besarnya Specimen
c) Mulut di usahakan lebar dan bertutup pulir
d) Tidak muda pecah atau robek
4) Label Specimen
a) Identitas Specimen
b) Identitas Penderita
c) Identitas Patologis
d) Identitas Dokter Pengirim
5) Catatan
a) Jumlah Specimen harus sesuai
b) Tinta tak boleh larut
c) Radikalitas harus ada tanda-tanda
6) Pengolahan Specimen
a) Specimen yang banyak mengandung darah hendaknya di cuci
dahulu dengan larutan Isotonis (Garam Fisiologis).
b) Specimen cukup besar dan massif perlu di buat slice tanpa
merusak bentuk dan morfologi.
b. Analitik
1) Tahap Administrasi
bn. Kelengkapan administrasi meliputi :
a) Nama :
b) Jenis kelamin : Laki-laki / Perempuan
c) Umur : th
d) No registrasi :
e) Alamat :
f) Fiksasi :
g) Jenis bahan : Biopsi / Operasi / Kerok
h) Diagnosa klinik :
i) Dokter pengirim :
2) Tahap Grossing
a) Standart Fiksasi
bo. Syarat fiksasi :
i. Menggunakan Buffer formalin 10%
ii. Volume fiksasi 10x bahan
iii. Jika ukuran bahan besar dilakukan slising
iv. Bahan matang dilihat dari warna bahan yaitu : abu-abu,
cream tergantung ketebalan bahan.
b) Ukuran bahan
c) Berat bahan
d) Warna
e) Konsistensi : padat keras, padat lunak, tulang
f) Potong gross (matang) : mengambil bahan yang dicurigai
menurut diagnosa dokter.
g) Tahap akhir : cuci dengan air mengalir 15
menit.
3) Tahap Proses
bp. Tahap ini menggunakan alat yang
disebut autotecnikan ( waktu : 16 jam). Tahap proses ada 3 tahap,
yaitu :
a) Tahap I : Dehydrasi
bq. Pada tahap ini menggunakan cairan
alkohol bertingkat : 80% ke 96 % yang bertujuan untuk
menghilangkan / mengeluarkan air dari dalam jaringan. Air
dihilangkan karena akan dimasukkan media minyak. Jumlah
alkohol terdiri dari 6 tabung dengan waktu jalan 1 jam / tabung
b) Tahap II : Clearing
br. Pada tahap ini menggunakan cairan
xylol (media minyak) yang bertujuannya untuk menjernihkan
jaringan sehingga terlihat transparan. Jumlah xylol terdiri dari 4
tabung dengan waktu jalan 2;1;1;1 jam.
c) Tahap III : Impregnasi
bs. Pada tahap ini menggunakan
parafin / lilin yang bertujuan untuk menyamakan suhu jaringan
dengan suhu parafin serta sebagai tempat penyimpanan
jaringan. Jumlah cairan parafin menggunakan 2 tabung dengan
waktu jalan 2 jam / tabung.
4) Tahap Embedding
bt. Tahap ini adalah penanaman jaringan
pada parafin blok dengan menggunakan Tissue Embeding System
dengan bagian-bagian :
a) Parafin Tank , suhu 60, tempat parafin sebagai media
penanam.
b) Tissue Tank , suhu 60, sebagai tempat meletakan jaringan.
c) Cold Plate , suhu -120C, sebagai pendingin
d) Meja kerja, pinset, dan kaca pembesar.
bu. Syarat penanaman adalah irisan
jaringan menghadap dasar base mould.
5) Tahap Mikrotom atau Pemotongan
bv. Tahap ini dilakukan dengan alat
mikrotom. Terdapat 2 hal yang harus diperhatikan yaitu, sudut
potong 5-10 dan ukuran potong 3-5 mikron. Alat yang diperlukan
adalah kuas, tissue, obyek glass dengan identitas, cold plate (-12C)
bw. Tujuan : untuk meletakan blok parafin sebelum
bx. dipotong agar mempermudah potongan.
by. Waterbath (58-60C)
bz. Tujuan : untuk mengembangkan potongan jaringan
ca. agar memudahkan pengambilan dengan obyek
cb. glass.
cc. Hot plate (58-60C) selama 10-15 menit
cd. Tujuan : untuk merekatkan jaringan pada obyek glass.
ce.
cf. Proses Staining
cg. Tahap ini menggunakan alat Histoautostainer.
ch. Deparafinisasi
ci. Tujuan : Untuk menghilangkan paraffin dari
cj. jaringan.
ck. Menggunakan xylol sebanyak 3 tabung, masing-masing selama
5 menit. Xylol jenuh akan berwarna keruh, sebelum terbentuk endapan harus
segera diganti dengan menggeser tabung.
cl.
cm. Hidrasi
cn. Tujuan : Untuk memasukan air ke dalam jaringan, karena
co. jaringan akan diwarnai dengan cat bermedium
cp. air.
cq. Menggunakan alkohol bertingkat dari konsentrasi tinggi (96%)
ke alkohol konsentrasi rendah (80%), sebanyak 4 tabung masing-masing
selama 2 menit. Alkohol jenuh akan timbul warna kabut.
cr.
cs. Jaringan dalam slide dimasukan ke dalam air selama
10 menit.
ct. Tujuan : Untuk pengkondisian jaringan sebelum
cu. masuk pada pewarnaan dengan medium air
cv. Pewarnaan Inti
cw. Tujuan : Untuk mewarnai inti sel
cx. Dilakukan pewarnaan inti sel menggunakan cat Mayer
Hematoksilin selama 5-10 menit tergantung kondisi cat.
cy. 5 menit apabila kondisi mayer baru diganti, <2 minggu.
cz. 10 menit apabila kondisi mayer sudah dipakai 2-4 minggu.
da.
db. Dibilas dengan air mengalir 10-15 menit
dc. Tujuan : Untuk menghilangkan artepat-artepat pada
dd. bahan cat dan kondisi air. Sehingga inti sel
de. sudah terwarnai dan sitoplasma masih
df. jernih.
dg.
dh. Pewarnaan Sitoplasma
di. Tujuan : Untuk mewarnai sitplasma
dj. Diwarnai dengan Eosin Working selama 0,5-1 menit, untuk
mewarnai sitoplasma cat harus diganti maksimal 1 minggu.
dk.
dl. Dehidrasi
dm. Tujuan : Untuk mengeluarkan atau menarik air dari
dn. jaringan.
do. Menggunakan alkohol bertingkat dengan alkohol konsentrasi
rendah (80%) ke alkohol konsentrasi tinggi (96%). Sebanyak 6 tabung
masing-masing selama 2 menit.
dp.
dq. Clearing, merupakan tahap akhir dari staining.
dr. Tujuan : Untuk membuat jaringan menjadi
ds. transparan atau jernih.
dt. Menggunakan xylol sebanyak 3 tabung masing-masing selama
5 menit.
du.
dv.
dw. Proses Mounting
dx. Mounting ( Pengcoveran) merupakan tahap finishing dari
staining bertujuan untuk menutup jaringan dengan cover glass menggunakan
entelen/ EZ Mount.
dy. Syarat pengcoveran:
dz. Jaringan tidak sobek
ea. Jaringan tidak melipat
eb. Jaringan transparan
ec. Jaringan tidak bergelombang
ed. Tidak terdapat gelembung
ee. Tidak terpotong, minimal bagian
ef.
eg. POST-ANALITIK
eh. Proses Evaluasi
ei. Evaluasi :
ej. Adalah tahap akhir sebelum dokter melakukan diagnosa
ek. Syarat-syarat sediaan yang baik :
el. Inti berwarna biru magenta, sitoplasma berwarna
merah.
em. Tidak terdapat lipatan
en. Tidak terdapat gelombang
eo. Tidak terdapat gelembung
ep. Cat masih berkualitas baik
eq. Cat tidak terlalu tebal
er.
es. Pembuatan cat
et. Pembuatan reagensia untuk pewarnaan
eu. Pengecatan inti sel (Meyer Hematoksilin)
ev. Pembuatan Meyer Hematoksilin sebanyak 1 liter
ew. Reagen 1
ex. Hematoksilin Kristal : 1 gram
ey. NH _4 Al( SO _4 )12H_2 O (Ammonium
Aluminium Sulfat) : 50 gram
ez. Natrium Iodate (NaI): 200 mgr
fa. Satu-persatu dilarutkan dengan aquadest sebanyak
500 ml.
fb.
fc. Reagen 2
fd. Citric acid : 1 gram
fe. Chloral Hydrate : 50 gram
ff. Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 500 ml lalu dipanasi
tetapi jangan sampai mendidih. Tujuan dipanasi adalah untuk mempercepat
reaksi. Setelah larut, didinginkan pada suhu kamar lalu letakkan pada botol
gelap.
fg. Sebelum digunakan, cat meyer hematoksilin harus disaring.
Untuk mengetahui kualitas warna dari cat, digunakan kertas saring,
dicelupkan pada cat. Terdapat degradasi warna yaitu biru, ungu, merah
magenta, kuning.
fh.
fi. Pengecatan Sitoplasma (Eosin Working)
fj. Cara membuat eosin induk (1%) sebanyak 500 ml
fk. Ditimbang Kristal eosin sebanyak 5 gram
fl. Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 100 ml.
fm. Lalu ditambahkan alkohol 96% sebanyak 400 ml.
fn. Cara pembuatan eosin working
fo. Diambil cat induk dengan perbandingan1 : 3
fp. Misal : Dibuat eosin sebanyak 500 ml
fq. Eosin induk 125 ml (1)
fr. Alkohol 80% 375 ml (3)
fs. Rumus : V_1 xN_1= V_2 xN_2
ft. Lalu ditambah GAA (Glasial Acetic Acid). Larutan ini
berfungsi sebagai pengawet.
fu.
fv. Hal-hal Khusus
fw. Hal-hal khusus pemeriksaan histopatologi :
fx. Metode potong beku
fy. Adalah suatu metode yang dilakukan untuk diagnose
histopatologi dengan cepat. Ada 2 cara teknik potong beku :
fz. Freezing Microtome
ga. Teknik sayatan memakai CO _(2 )kering dengan suhu
60C yang disemprotkan sebagai medium blok.
gb. Cara Kerja :
gc. Berasal dari bahan segarfiksasi dengan cairan formalin
10% pada suhu kurang dari 58C atau bahan segar tanpa fiksasi.
gd. Dicuci atau ditetesi dengan air beberapa kali.
ge. Diatur ketebalan sayatan (23 mm).
gf. Diletakkan bahan pada pemegang blok (helder).
gg. Diteteskan air secukupnya pada bahan dan tepibahan.
gh. DisemprotkanCO_2 kering hingga membeku.
gi. Dilakukan penyayatan beberapa kali.
gj. Diletakkan sayatan yang diperoleh pada tempat dengan
dasar hitam dan berisi air.
gk. Dilakukan pewarnaan cepat dengan hematoksilin eosin.
gl.
gm. Cryo Cut
gn. Teknik potong beku ini pada suhu 5C, 20C, 30C.
go.
gp. Dekalsifikasi (Oncalk)
gq. Adalah proses penghilangan kalsium atau penarikan kalsium
secara perlahan-lahan pada bahan padat keras. Larutan yang digunakan
untuk dekalsifikasi yaitu :
gr. Asam formiat (untuk padat lunak) 10% dalam formalin.
gs. Asam formiat pelat 10 ml ditambah formalin 10% sebanyak 90
ml.
gt. Asam nitrat (untuk jaringan yang keras) 35% dalam
formalin.
gu. Asam nitrat pekat 3 ml ditambah formalin 10% sebanyak 97
ml.
gv. Sedangkan volume yang disyaratkan untuk melakukan
dekalsifikasi adalah 3060 kali volume bahan dan setiap hari dicek kepadatan
tulangnya dengan cara ditusuk dengan jarum. Setelah itu, dicuci dengan air
mengalir.
gw.
gx. Pewarnaan Khusus (Histokimia)
gy. Congo Rel (CR) : untuk pewarnaan
amyloid
gz. Grocot : untuk pewarnaan jamur
ha. Van Gieson : untuk pewarnaan
collagen
hb. Massin Fontana (MT): untuk pewarnaan melanin
hc. Periodic Acid (PAS) : untuk pewarnaan polisakarida,
hd. mucopolisakarida, mucodan
he. glycoprotein, gylipids, unsaturated
hf. lipids, dan phospholipid
hg. Perls-Frussian Blue : untuk pewarnaan ion besi
hh. Gomoris (Reticolin) : untuk pewarnaan retikulin
hi. ZiehlNelseen : untuk pewarnaan bakteri tahan asam
hj. Sudan Black : untuk pewarnaan lipofuscin
hk.
hl. Pemeriksaan Vrice Coupe (VC) atau Frozen Section
hm. Teknik Potong beku merupakan bagian dari tugas seorang ahli
Patologi Anatomi dalam memberikan konsultasi intra operatif, teknik sulit
dan penting memerlukan patolog yang berpenggalaman. Pemeriksaan
dilakukan secara cepat dan tepat dengan membekukan organ sehingga dapat
di iris tanpa melalui fiksasi, dan bahan tersebut berasal dari kamar operasi
dibutuhkan penangganan cepat. Kondisi pasien dalam keadaan terbuka (di
ruang Operasi). Diagnosa dilakukan oleh dr. Sp PA.
hn. Tujuan Pemeriksaan :
ho. Untuk menentukan terapi nya
hp. Untuk menentukan radikalitas (batas operasi)
hq. Untuk menentukan ganas / jinaknya suatu tumor
hr.
hs. PRA - ANALITIK
ht. Persiapan Alat :
hu. Freezing Microtome
hv. Mesin Cryo Cut
hw. Lempengan Holder
hx. Mikroskop
hy. Obyek Glass
hz. Cover Glass
ia. Papan Potong
ib. Pisau khusus untuk potong jaringan
ic. Hairdrayer
id. Alat Pelindung Diri (Jas Lab, Masker dan Sarung
Tangan)
ie.
if. Persiapan Bahan :
ig. Cat Hematoxylin Eosin
ih. Serbuk Cina (black)
ii. Lem Entelen
ij.
ik. ANALITIK
il. Jaringan yang diterima dalam keadaan segar, dilihat
diagnosa klinis pada lembar formulir.
im. Bagian yang dicurigai dipotong dan di taruh pada
lempengan.
in. Ditutup dengan lem khusus pada jaringan, kemudian
jaringan dimasukan kedalam alat yang namanya Cryo Cut. Jaringan akan
beku karena tertutup es. Tindakan ini dilakukan oleh teknisi yang sudah
berpenggalaman.
io. Kemudian jaringan lemak dipotong dengan ukuran 2-
3 mikron dan yang berlemak dipotong ukuran 0,5 mikron, hasil potongan
di taruh di obyek glass dan keringkan dengan hairdrayer.
ip. Dicat dengan cat hematoxylin selama 2 detik, kemudian
dicuci dengan air dan di genangi dengan eosin 3-5 detik, lalu di genangi lagi
dengan alkohol selama 3-5 detik.
iq. Sediaan yang sudah di cat dikeringkan dengan
hairdrayer, kemudian di lakukan tindakan mounting (sediaan diolesi dengan
lem entelen dan ditutup dengan cover glass).
ir.
is. POST - ANALITIK
it. Diperiksa dengan mikroskop oleh dokter Sp. PA atau
PPDS yang sedang belajar untuk menjadi dr. Sp. PA lalu di komfirmasi lagi
oleh dr. Sp.PA.
iu. Hasil yang di lihat oleh dr. Sp. PA atau PPDS langsung
bisa ditentukan tumor ganas atau jinak agar tindakan operasi dilanjutkan
karena sementara pemeriksaan Vrice Coupe berlanjut pasien sedang berada
dimeja operasi.
iv. Pembacaan hasil di lakukan selama 15-20 menit dan
kemudian hasil segera di tulis di komputer dan di print lalu dibawa kembali
ke ruang operasi.
iw. Keakuratan pemeriksaan Vrice Coupe sebesar 80-90%.
Sedangkan untuk tahap lanjut atau pastinya di lakukan pengeblokan di
Laboratorium Histopatologi.
ix.
iy. Catatan :
iz. Sisa Vrice Coupe dimasukan ke wadah dan diberi
formalin 10% untuk fiksasi, dan sampel tersebut ditulis SVC (Sisa Vrice
Coupe)
ja. Jaringan yang besar ( tanpa Proses Vrice Coupe) di
masukan juga kewadah dan diberi buffer formalin 10% dan ditulis VCSP
( Vrice Coupe Parafin Coupe).
jb.
jc. Formulir Pengiriman Permintaan Patologi Anatomi
untuk Vrice Coupe
jd. Nama Pasien : ........... Nama Dr. Pengirim : ..............
je. Alamat : ............ Ruangan / Poli : ...........
jf. Jenis Kelamin : ............ Vip atau kelas I,II,III : ...........
jg. No. Register : ............. Diagnosa Klinis :
..
jh. Lokasi Organ : ............
3. Devisi Sitologi
4. Devisi Immuno Histokimia
a. Pemotongan Mikrotom
ji.
b. Pemeriksaan Immunohistokimia (IHC)