Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA

BAB IX
KEKUASAAN KEHAKIMAN

PASAL YANG DIBAHAS:

PASAL 24 & 24A

TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DI BAWAH


PERADILAN MAHKAMAH AGUNG.

DOSEN PENGAJAR:

IBU ELIANA SARI

Oleh:

KELOMPOK IV

NAUFAL/53120160/S

SYARIF NUR JAMAN/43120337/S

RICKY HARYANTO/

IBNU MASUD/

INSTITUT BISNIS DAN INFORMATIKA INDONESIA (IBII)


2012
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan karunia dan
rahmat-Nya kepada kami, hingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Karya
sederhana ini kami susun dalam rangka menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen
kami, Ibu Eliana Sari.
Kami menyadari, bahwa makalah ini tidak dapat diselesaikan tanpa dukungan
dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami berterima kasih kepada semua
pihak yang memberikan kontribusi dan dukungan dalam penyusunan makalah ini. Pada
kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada:
1. Seluruh jajaran dan staff dari Mahkamah Agung, yang telah berkenan untuk
menerima dan menjawab pertanyaan kami di kantor kepaniteraan, sehingga
dapat mempermudah kami dalam penyusunan dan juga pembentukan
makalah ini.
2. Ibu Eliana Sari, sebagai Dosen Pengajar yang telah memberikan bimbingan
dan arahan serta memberikan ilmu dan pendidikan kepada kami, sehingga
memperlancar kami dalam penyusunan makalah ini.
3. Staf administrasi kampus yang telah membantu kami dalam merampungkan
makalah ini.
4. Teman-teman kelas S, yang selalu memberikan saran dan bantuan dalam
penulisan makalah ini.
5. Seluruh anggota kelompok IV yang telah berusaha dalam penyelesaian
makalah ini.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Demikian
pula dengan penulisan makalah ini. Kritik dan saran sangatlah kami harapkan dan dapat

1
disampaikan secara langsung maupun tidak langsung. Semoga makalah ini menjadi
tambahan khazanah pengetahuan bagi siapa pun yang membacanya.

Jakarta, 15 November 2012

KELOMPOK IV

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1. Tujuan Penulisan Makalah............................................................................1
1.2. Manfaat Penulisan Makalah..........................................................................1
BAB II PERMASALAHAN...................................................................................2
2.1. Pengenalan Masalah......................................................................................2
2.2. Masalah Yang Ditemukan Pada Pasal 24 dan 24A.......................................3
BAB III PEMBAHASAN.......................................................................................4
3.1. Profil Mahkamah Agung...............................................................................4
3.2. Sejarah Berdirinya Mahkamah Agung di Indonesia.....................................4
3.2.1. Zaman Pendudukan Hindia Belanda......................................................4
3.2.2. Zaman Pendudukan Inggris...................................................................5
3.2.3. Kembalinya Pemerintahan Hindia Belanda...........................................6
3.2.4. Zaman Pendudukan Jepang....................................................................7
3.3. Bunyi Pasal Yang Dibahas............................................................................7
3.4. Hasil Observasi.............................................................................................9
BAB IV PENUTUP..............................................................................................11
4.1. Kesimpulan.................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................12

3
1BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan kami membahas tentang Kekuasaan Peradilan Mahkamah Agung pada


pasal 24 dan 24A UUD 1945 ini dimaksudkan untuk mengetahui:
1. Fungsi dan kedudukan Mahkamah Agung di Indonesia.
2. Wewenang dan kewajiban Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi di
Indonesia.
3. Struktur keanggotaan pada tubuh Mahkamah Agung.

1.2. Manfaat Penulisan Makalah

Manfaat yang dapat diambil dari hasil penulisan makalah adalah sebagai berikut:
1. Belajar memahami masalah dan mencari solusinya.
2. Menerapkan ilmu pengetahuan yang dipelajari untuk diimplementasikan di
lapangan.
3. Membuka pikiran untuk memahami permasalahan di lapangan.
4. Memahami cara-cara penulisan makalah dengan benar.

1
2BAB II
PERMASALAHAN

2.1. Pengenalan Masalah

Sebagai negara demokrasi, pemerintahan Indonesia menerapkan teori trias


politika. Trias politika adalah pembagian kekuasaan pemerintahan menjadi tiga bidang
yang memiliki kedudukan sejajar. Ketiga bidang tersebut yaitu :
1. Legislatif bertugas membuat undang-undang. Bidang legislatif
adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
2. Eksekutif bertugas menerapkan atau melaksanakan undang-undang. Bidang
eksekutif adalah presiden dan wakil presiden beserta menteri-menteri yang
membantunya.
3. Yudikatif bertugas mempertahankan pelaksanaan undang-undang. Adapun
unsur yudikatif terdiri atas Mahkamah Agung(MA) dan Mahkamah
Konstitusi (MK).
Berhubungan dengan pasal yang dibahas pada Bab IX UUD 1945 tentang
Kekuasaan Kehakiman menerangkan tentang Lembaga Yudikatif di Indonesia. Pasal 24
dan 24A mendeskripsikan tentang kedudukan, kewajiban serta wewenang Mahkamah
Agung, pasal 24B sendiri menerangkan tentang Komisi Yudisial, sedangkan pasal 24C
mendeskipsikan tentang kedudukan, kewajiban serta wewenang Mahkamah Konstitusi.
Pada kesempatan kali ini, kami selaku kelompok IV berkesempatan untuk
membahas Pasal 24 dan 24A yang berhubungan dengan Kekuasaan Kehakiman di
bawah peradilan Mahkamah Agung.

2.2. Masalah Yang Ditemukan Pada Pasal 24 dan 24A

Dalam subbab ini, kami akan menjabarkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait


dengan butir-butir ayat yang terdapat pada pasal 24 dan 24A, dan juga pertanyaan yang

2
bersangkutan langsung dengan Mahkamah Agung. Adapun pemecahan masalah ini kami
berkesempatan untuk mengunjungi Mahkamah Agung untuk mencari jawaban tentang
maksud dan aplikasi butir-butir ayat yang terdapat pada pasal 24 dan 24A pada
kehidupan bernegara, yang penjabarannya akan dibahas pada Bab 3.

Berikut ini adalah butir-butir pertanyaan yang diajukan kepada staff kepaniteraan
dari Mahkamah Agung:
1. Apa kewajiban dan wewenang Mahkamah Agung dalam penegakan hukum
di Indonesia?
2. Apa pengertian kasasi?
3. Bagaimana strukur keanggotaan pada tubuh Mahkamah Agung?
4. Bagaimanakah peran Mahkamah Agung dalam pemberian grasi dan
rehabilitasi terhadap seorang terdakwa seperti gembong narkoba, Meirika
Franola alias Ola?

3
3BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Profil Mahkamah Agung

Mahkamah Agung (disingkat MA) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan kehakiman bersama-
sama dengan Mahkamah Konstitusi dan bebas dari pengaruh cabang-cabang kekuasaan
lainnya. Mahkamah Agung membawahi badan peradilan dalam lingkungan peradilan
umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan
tata usaha negara.

3.2. Sejarah Berdirinya Mahkamah Agung di Indonesia

Sejarah berdirinya Mahkamah Agung RI tidak dapat dilepaskan dari masa


penjajahan atau sejarah penjajahan di bumi Indonesia ini. Hal mana terbukti dengan
adanya kurun-kurun waktu, dimana bumi Indonesia sebagian waktunya dijajah oleh
Belanda dan sebagian lagi oleh Pemerintah Inggris dan terakhir oleh Pemerintah Jepang.
Oleh karenanya perkembangan peradilan di Indonesia pun tidak luput dari pengaruh
kurun waktu tersebut.

3.2.1. Zaman Pendudukan Hindia Belanda

Pada tahun 1807 Mr. Herman Willem Deandels diangkat menjadi Gubernur
Jenderal oleh Lodewijk Napoleon untuk mempertahankan jajahan-jajahan Belanda di
Indonesia terhadap serangan-serangan pihak Inggris. Deandels banyak sekali
mengadakan perubahan-perubahan di lapangan peradilan terhadap apa yang diciptakan
oleh VOC, diantaranya pada tahun 1798 telah mengubah Raad van Justitie menjadi

4
Hooge Raad. Kemudian tahun 1804 Betaafse Republiek telah menetapkan suatu Piagam
atau Regeringsreglement buat daerah-daerah jajahan di Asia. Dalam Pasal 86 Piagam
tersebut, yang merupakan perubahan-perubahan nyata dari zaman pemerintahan
Daendels terhadap peradilan di Indonesia, ditentukan sebagai berikut :
Susunan pengadilan untuk bangsa Bumiputera akan tetap tinggal menurut
hukum serta adat mereka. Pemerintah Hindia Belanda akan menjaga dengan alat-alat
yang seharusnya, supaya dalam daerah-daerah yang langsung ada dibawah kekuasaan
Pemerintahan Hindia Belanda sedapat-dapatnya dibersihkan segala kecurangan-
kecurangan, yang masuk dengan tidak diketahui, yang bertentangan dengan tidak
diketahui, yang bertentangan degan hukum serta adat anak negeri, lagi pula supaya
diusahakan agar terdapat keadilan dengan jalan yang cepat dan baik, dengan
menambah jumlah pengadilan-pengadilan negeri ataupun dengan mangadakan
pengadilan-pengadilan pembantu, begitu pula mengadakan pembersihan dan
pengenyahan segala pengaruh-pengaruh buruk dari kekuasaan politik apapun juga.
Piagam tersebut tidak pernah berlaku, oleh karena Betaafse Republiek segera
diganti oleh Pemerintah Kerajaan, akan tetapi ketentuan di dalam Piagam tidak sedikit
memengaruhi Deandels di dalam menjalankan tugasnya.

3.2.2. Zaman Pendudukan Inggris

Sir Thomas Stamford Raffles, yang pada tahun 1811 diangkat menjadi Letnan
Gubernur untuk pulau Jawa dan wilayah di bawahnya, mengadakan perubahan-
perubahan antara lain :
Di kota-kota Batavia, Semarang dan Surabaya dimana dulu ada Raad van
Justitie, didirikan Court Of Justice, yang mengadili perkara perdata maupun pidana.
Court of Justice yang ada di Batavia merupakan juga Supreme Court of Justice,
pengadilan banding terhadap putusan-putusan Court onvoeldoende gemotiveerd Justitie
yang ada di Semarang dan Surabaya.

5
3.2.3. Kembalinya Pemerintahan Hindia Belanda

Setelah peperangan di Eropa berakhir dengan jatuhnya Kaisar Napoleon, maka


menurut Konvensi London 1814, semua daerah-daerah jajahan Belanda yang diduduki
oleh Inggris, dikembalikan kepada negeri Belanda. Penyerahan kembali Pemerintahan
Belanda tersebut di atur dalam Staatsblad 1816 No.5, yang berisi ketetapan bahwa akan
dibuat Reglement yang mengatur acara pidana dan acara perdata yang berlaku bagi
seluruh Jawa dan Madura, kecuali Jakarta, Semarang dan Surabaya dengan daerah
sekitarnya. Bagi Jakarta, Semarang dan Surabaya dengan daerah sekitarnya untuk
perkara pidana dan sipil tetap menjadi kekuasaan Raad van Justitie. Dengan demikian
ada perbedaan dalam susunan pengadilan buat Bangsa Indonesia yang bertempat tinggal
di kota-kota dan sekitarnya dan bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di desa-desa
(di pedalaman).
Untuk bangsa Eropa, berlaku susunan Pengadilan sebagai berikut :
Hooggerechtshof di Jakarta dengan Raad van Justitie yaitu masing-masing di Jakarta,
Semarang dan Surabaya. Dengan Keputusuan Gubernur Jenderal tanggal 3 Desember
1847 No.2a (St.1847 No.23 yo No.57) yang diperlakukan tanggal 1 Mei 1948 (R.O)
ditetapkan bahwa Susunan Peradilan di Jawa dan Madura sebagai berikut :
Districtgerecht
Regentschapsgerecht
Landraad
Rechtbank van Omgang
Raad van Justitie
Hooggerechtshof
Dalam fungsi judisialnya, Hooggrechtshof memutus perkara-perkara banding
mengenai putusanputusan pengadilan wasit tingkat pertama di seluruh Indonesia,
jikalau nilai harganya lebih dari .500 dan mengenai putusan-putusan
Residentiegerechten di luar Jawa dan Madura.

3.2.4. Zaman Pendudukan Jepang

Setelah pulau Jawa diduduki dan dikuasai sepenuhnya oleh Balatentara Jepang,
maka dikeluarkanlah Undang-Undang No.1 tanggal 8 Maret 1942, yang menentukan
bahwa buat sementara segala Undang-Undang dan peraturan-peraturan dari

6
Pemerintahan Hindia Belanda dahulu terus berlaku, asal tidak bertentangan dengan
peraturan-peraturan Balatentara Jepang.
Mengenai peradilan sipil, maka dengan Undang-Undang No.14 tahun 1942
ditetapkan Peraturan Pengadilan Pemerintah Balatentera Dai Nippon. Atas dasar
peraturan ini didirikan pengadilan-pengadilan sipil yang akan mengadili perkara-perkara
pidana dan perdata. Disamping itu dibentuk juga Kejaksaan.
Pengadilan-pengadilan bentukan Dai Nippon adalah sebagai berikut :
Gun Hooin (Pengadilan Kewedanaan) lanjutan Districtsgerecht dahulu.
Ken Hooi (Pengadilan Kabupaten) lanjutan Regentschapgerecht dahulu.
Keizai Hooin (Pengadilan Kepolisian) lanjutan Landgerecht dahulu.
Tihoo Hooin (Pengadilan Negeri) lanjutan Landraad dahulu, akan tetapi hanya dengan
seorang hakim saja (tidak lagi majelis), kecuali terhadap perkara tertentu apabila
Pengadilan Tinggi menentukan harus diadili dengan 3 orang Hakim.
Dengan dicabutnya Undang-Undang No.14 tahun 1942 dan diganti dengan
Undang-Undang No.34 tahun 1942, maka ada penambahan badan pengadilan
diantaranya Kootoo Hooin (Pengadilan Tinggi), lanjutan dari Raad van Justitie dahulu
dan Saikoo Hooin (Mahkamah Agung), lanjutan dari Hooggerechtshof dahulu

3.3. Bunyi Pasal Yang Dibahas

Berikut ini adalah bunyi-bunyi pasal UUD 1945 tentang kekuasaan peradilan
Mahkamah Agung di Indonesia.
BAB IX
KEKUASAAN KEHAKIMAN

Pasal 24
1. Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.*** )
2. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan
peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum,
lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan
tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.***)
3. Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur
dalam undang-undang.** **)
Pasal 24A

7
1. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan
mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang.*** )
2. Hakim Agung harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil,
profesional, dan berpengalaman di bidang hukum.***)
3. Calon Hakim Agung diusulkan Komisi Yudisialkepada Dewan Perwakilan
Rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai
hakim agung oleh Presiden.*** )
4. Ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim
agung.***)
5. Susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara Mahkamah Agung serta
badan peradilan di bawahnya diatur dengan undang-undang.***)
KETERANGAN :
Perubahan UUD 45 dengan diberi tanda bintang : * pada BAB, Pasal dan Ayat
seperti;
- Perubahan Pertama : *
- Perubahan Kedua : **
- Perubahan Ketiga : ***
- Perubahan Keempat : ****

3.4. Hasil Observasi

Pada Subbab ini kami akan menjabarkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan


yang tertera pada Bab II, berikut ulasannya:
1. Apa kewajiban dan wewenang Mahkamah Agung dalam penegakan hukum di
Indonesia?
Jawaban:
Mengacu terhadap UUD1945 pasal 14, 24, dan 24A. kewajiban dan
wewenang Mahkamah Agung adalah:
Berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan
perundangundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang,
dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang;
Mengajukan tiga orang anggota hakim konstitusi;
Memberikan pertimbangan dalam hal presiden memberi grasi dan rehabilitasi.
2. Apa pengertian kasasi?
Jawaban:

8
Kasasi mempunyai arti pembatalan putusan oleh Mahkamah Agung (MA).
Sedangkan pengertian pengadilan kasasi ialah Pengadilan yang memeriksa
apakah judex fatie tidak salah dalam melaksanakan peradilan. Upaya hukum
kasasi itu sendiri adalah upaya agar putusan PA dan PTA/PTU/PTN dibatalkan
oleh MA karena telah salah dalm melaksanakan peradilan.
3. Bagaimana struktur keanggotaan di Mahkamah Agung?
Jawaban:
Mahkamah Agung terdiri dari pimpinan, hakim anggota, panitera, dan seorang
sekretaris. Pimpinan dan hakim anggota Mahkamah Agung adalah Hakim
Agung. Jumlah Hakim Agung paling banyak 60 (enam puluh) orang.

4. Bagaimanakah peran Mahkamah Agung dalam pemberian grasi dan rehabilitasi


terhadap seorang terdakwa seperti gembong narkoba, Meirika Franola alias Ola?
Jawaban:
Dalam kunjungan ke Mahkamah Agung, staff kepaniteraan tidak memberikan
jawaban. Karena staff kepaniteraan M.A. tidak berurusan langsung dengan
tindak perkara. Akan tetapi kami mengikuti perkembangan masalah ini di media
cetak dan elektronik.
Dan berikut ini adalah kutipan dari pernyataan dari Menteri Hukum dan HAM
Amir Syamsuddin.
Begini, MA kan bisa mempertimbangkan menolak atau tidak. Di dalam halnya
Ola memang MA menolak, tetapi di permohonan lain, mungkin saja dia itu setuju
seperti yang saya katakan si Corby," jelas Amir di Istana Negara, Jakarta, Selasa
(13/11/2012).
Ketika ditanya mengapa jika MA menolak pemberian grasi, presiden tetap
mengambil keputusan untuk memberi grasi?
Pak Menteri kembali berdalih bahwa hal itu hak prerogati presiden.
"Yang punya hak preogatif itu kan bukan MA tapi Presiden," jelasnya.
Kenapa tidak mengikuti saran MA?
"Kenapa, nah sekarang kalau seperti Corby, dia (MA) setuju, bisa saja
Presiden berpendapat lain. Tidak ada kewajiban Presiden untuk mengikuti apa yang
menjadi pendapat, apakah MA ataupun pihak-pihak lain yang diminta. Dia Presiden itu
punya kehati-hatian dan pertimbangan sendiri," jawabnya.

9
4BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang kami lakukan dengan disertai data-data yang peroleh
melalui penelitian lapangan yang berlokasi di kantor kepaniteraan Mahkama Agung dan
juga mengacu kepada uraian yang telah dijelaskan pada bab pembahasan, maka kami
dapat menyimpulkan bahwa:
Mahkamah Agung adalah puncak dari berbagai lingkungan peradilan yang
berada dibawahnya seperti peradilan agama, peradilan militer dan sebagainya, dimana
MA ini mempunyai kewenangan yang tinggi dalam pengujian peraturan perundang-
undangan di bawah UU terhadap UU adalah upaya pengujian legalitas (Legal Review).

10
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Purwadi, M. (2012, November 13). Dikutip November 14, 2012, dari


http://nasional.sindonews.com/read/2012/11/13/13/687832/jaksa-agung-siap-
tanggung-jawab-soal-grasi-ola

Suwanta, T. (2010). Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. (I. Jaya, A. Supriatna, & I.
Wahyudi, Penyunt.) Tangerang, Banten, Indonesia: Daar el-Qolam Press.

Zakaria, O. (2012, April 24). Dikutip November 20, 2012, dari


http://asagenerasiku.blogspot.com/2012/04/lembaga-lembaga-negara-fungsi-
dan.html

11