Anda di halaman 1dari 22

Biologi Offering I

Kelompok 7 :

AISYATIR RODLIYAH BAHTIAR (150342607659)

DEWI SEKAR MIASIH (150342606610)

MAYA AZZALIA MALIKA SAHDANA (150342606977)

MIKROBA
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil (mikro)
sehingga untuk melihatnya dibutuhkan miroskop.
KARAKTERISTIK MIKROBA
a. Bakteri
1. Organisme multiselluler
2. Prokariot (tidak memiliki membran inti sel )
3. Umumnya tidak memiliki klorofil
4. Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya
memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron.
5. Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam
6. Hidup bebas atau parasit
7. Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau gambut
dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan
8. Yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung
peptidoglikan.
b. Virus
1. Virus bersifat aseluler (tidak mempunyai sel)
2. Berukuran sangat kecil atau mikroskopik yaitu sekitar 20-300 milimikron
3. Hanya hidup di dalam sel hidup
4. Pada umumnya virus berupa hablur (krital)
5. Virus hanya dapat mampu memiliki salah satu macam dari asam nukleat RNA
atau DNA saja.
6. Tidak melakukan aktivitas metabolisme
7. Bentuk bervariasi, mulai dari bentuk oval, silinder, polihedral, dan kompleks
8. Virus tidak bergerak, tidak membelah diri.
9. Virus dapat dikristalkan
c. Jamur
1. Zygomycota
Zygomycota dikenal sebagai jamur zigospora (bentuk spora berdinding tebal
a. Ciri-ciri Zygomycota
1. Hifa tidak bersekat dan bersifat koenositik (mempunyai beberapa inti).
2. Dinding sel tersusun dari kitin.
3. Reproduksi aseksual dan seksual.
4. Hifa berfungsi untuk menyerap makanan, yang disebut rhizoid.
Contoh :
Rhizophus stolonifer
Rhizophus oryzae
Rhizophus nigricans
Mucor mucedo
2. Ascomycota
a. Ciri-ciri Ascomycota
1. Hifa bersekat-sekat dan di tiap sel biasanya berinti satu.
2. Bersel satu atau bersel banyak.
3. Ada yang brsifat parasit, saprofit, dan ada yang bersimbiosis dengan
ganggang hijau dan ganggang biru membentuk lumut kerak.
4. Mempunyai alat pembentuk spora yang disebut askus, yaitu suatu sel yang
berupa gelembung atau tabung tempat terbentuknya askospora. Askospora
merupakan hasil dari reproduksi generatif.
5. Dinding sel dari zat kitin.
6. Reproduksi seksual dan aseksual.
Contoh:
Sacharomyces cereviceae (ragi/khamir)
Penicilium
o Penicillium chrysogenum
o Penicillium notatum
o Penicillium notatum
o Penicillium camemberti
Aspergilus
o Aspergillus wentii
o Aspergillus niger
o Aspergillus flavus
o Aspergillus fumigatus
o Neurospora sitophilla
o Neurospora crassa
o Candida albicans

3. Basidiomycota

Sering dikenal dengan jamur gada karena memiliki organ penghasil spora
berbentuk gada (basidia)
a. Ciri-ciri Basidiomycota
1. Hifanya bersekat, mengandung inti haploid.
2. Mempunyai tubuh buah yang bentuknya seperti payung yang terdiri dari bagian
batang dan tudung. Pada bagian bawah tudung tampak adanya lembaran-
lembaran (bilah) yang merupakan tempat terbentuknya basidium. Tubuh buah
disebut basidiokarp.
3. Ada yang brsifat parasit, saprofit, dan ada yang bersimbiosis dengan ganggang
hijau dan ganggang biru membentuk lumut kerak.
4. Reproduksi secara seksual (dengan askospora) dan aseksual (konidia).
b. Contoh Basidiomycota
Volvariela volvacea (jamur
merang)
Auricularia polytricha
(jamur kuping)
Pleurotus sp (jamur tiram)
Polyporus giganteus (jamur
papan)
Amanita phaloides hidup
pada kotoran ternak dan
menghasilkan racun yang
mematikan
Puccinia graminis (jamur
karat) parasit pada
tumbuhan graminae
(jagung)
Ustilago maydis parasit pada tanaman jagung
Ganoderma aplanatum (jamur kayu)
Jamur Shitake
4. Deuteromycota
Sering dikenal sebagai fungi imperfecti (jamur yang tak sebenarnya), karena
belum diketahui perkembangbiakannya secara seksual
a. Ciri-ciri Deuteromycota
1. Hifa bersekat, tubuh berukuran mikroskopis
2. Bersifat parasit pada ternak dan ada yang hidup saprofit pada sampah
3. Reproduksi aseksual dengan konidium dan seksual belum diketahui.
4. Banyak yang bersifat merusak atau menyebabkan penyakit pada hewan-hewan
ternak, manusia, dan tanaman budidaya
b. Contoh Deuteromycota
Epidermophyton floocosum
Epidermophyton
Melazasia fur-fur,
Altenaria Sp.
FusariumTrychophyton
tonsurans

PERTUMBUHAN MIKROBA
Pertumbuhan adalah peningkatan unsur sel yang dapat menghasilkan peningkatan
pada ukuran sel, jumlah sel atau keduanya. Bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak
dengan cepat bila dalam keadaan yang menguntungkan. Pertumbuhan bakteri dapat dibagi
menjadi empat fase, yaitu:
1. Fase Adaptasi (Lag Phase)
Merupakan periode penyesuaian diri bakteri terhadap lingkungan dan lamanya mulai
dari satu jam hingga beberapa hari. Lama waktu ini tergantung pada macam bakteri,
umur biakan, dan nutrien yang terdapat dalam medium yang disediakan. Pada fase ini
bakteri beradaptasi dengan lingkungan, belum mampu mengadakan pembiakan, terapi
metabolisme sel bakteri meningkat dan terjadi perbesaran ukuran sel bakteri.
2. Fase Pertumbuhan (Log Phase)
Fase ini merupakan periode pembiakan yang cepat dan merupakan periode yang
didalamnya dapat teramati ciri khas sel-sel yang aktif. Selama fase ini pembiakan
bakteri berlangsung cepat, sel-sel membelah dan jumlahnya meningkat secara
logaritma sesuai dengan pertambahan waktu, beberapa bakteri pada fase ini
biasanya menghasilkan senyawa metabolit primer, seperti karbohidrat dan protein.
Pada kurva, fase ini ditandai dengan adanya garis lurus pada plot jumlah sel
terhadap waktu.
3. Fase Stasioner (Stationer Phase)
Fase ini merupakan suatu keadaan seimbang antara laju peryumbuhan dengan laju
kematian, sehingga jumlah keseluruah bakteri yang hidup akan tetap. Beberapa
bakteri biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder seperti antibiotika dan
polimer pada fase ini.
4. Fase Kematian (Death Phase)
Pada fase ini, laju kematian bakteri melampaui laju pembiakan bakteri. Hal ini
disebakan karena habisnya jumlah makanan dalam medium sehingga pembiakan
bakteri terhenti dan keadaan lingkungan yang jelek karena semakin banyaknya
hasil metabolit yang tidak berguna dan mengganggu pertumbuhan bakteri.

Keterangan:
1: Fase adaptasi (Lag phase)
2: Fase pertumbuhan (Log phase)
3 : Fase stasioner (Stationary phase)
4 : Fase kematian (Death phase)

METABOLISME MIKROBA
DEFINISI METABOLISME
Semua proses kimiawi yang dilakukan oleh organisme atau semua reaksi yang
melibatkan transformasi energi kimia di dalam mahluk hidup
Proses Metabolisme
1. Anabolisme
Anabolisme adalah penyusunan/pengambilan zat makanan, pembentukan
karbohidrat yang membutuhkan energi dan sintetis protoplasma. Merupakan sintesis
protoplasma yang meliputi proses sintesa makromolekul seperti asam nukleat, lipida dan
polisakarida, dan penggunaan energi yang dihasilkan dari proses katabolisme.
2. Katabolisme
Katabolisme adalah penguraian bahan organik kompleks menjadi bahan organik
yang lebih sederhana, pembentukan energi dengan menguraikan karbohidrat melalui reaksi
oksidasi substrat. Merupakan oksidasi substrat yang diiringi dengan terbentuknya energi,
meliputi proses degradasi sebagai reaksi penguraian bahan organik kompleks menjadi bahan
organik sederhana atau bahan anorganik yang menghasilkan energi dalam bentuk ATP.
Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa anabolisme adalah pembentukan
senyawa yang memerlukan energi (Rekasi endergonik). Misalnya pada fotosintesis yang
membentuk C6G12O5 dari CO2 DAN H2O. Sedangkan katabolisme adalah penguraian
senyawa yang menghasilkan energi (reaksi eksergonik), misalnya pada respirasi yang
menguraikan karbohidrat menjadi asam piruvat dan energi.

Senyawa Pembawa Energi, ATP dan ADP


Mikroorganisme memerlukan energi untuk :
1. Synthesa bagian sel (dinding sel, membran sel, dan substansi sel lainnya).
2. Synthesis enzim, asam nukleat, polisakarida, phospholipids, atau komponen sel lainnya.
3. Mempertahankan kondisi sel (optimal) dan memperbaiki bagian sel yang rusak .
4. Pertumbuhan dan perbanyakan .
5. Penyerapan hara dan ekskresi senyawa yang tidak diperlukan atau waste products.
6. Pergerakan (Motilitas).
Energi yang tersimpan dalam bentuk senyawa ATP dapat diperoleh oleh mikroorganisme
melalui hidrolisa. Energi yang diperoleh dari melalui proses atau reaksi kimia disebut sebagai
free energy atau energi bebas (G). Pada reaksi yang melepaskan energi, maka harga G adalah
negatif, sedangkan pada reaksi yang memerlukan energi, maka harga G adalah positif. Energi
hasil metabolisme disimpan oleh mikroorganisme dalam bentuk senyawa phosporyl.
ATP terbentuk dari reaksi antara adenosine 5-diphospate (ADP) dengan phospat
anorganik, membentuk ikatan phosporyl sebagai berikut :
ADP3- + Pi + H+ ATP4- +H2O G= +30 kJ/mol (1)
Reaksi diatas menunjukkan proses katabolisme, yaitu proses penguraian zat untuk
membebaskan energi kimia sebesar 30 kJ yang tersimpan dalam senyawa organik. ATP yang
telah tersintesa tersebut disimpan di dalam sel untuk digunakan bila diperlukan. Energi yang
tersimpan tersebut dikeluarkan melalui hidrolisa ikatan phosporyl dalam suatu reaksi yang
merupakan kebalikan dari reaksi (1), yaitu sebagai berikut:
ATP4- +H2O ADP3- + Pi + H+ G= -30 kJ/mol (2)
Reaksi diatas merupakan proses anabolisme, yaitu pembentukan molekul yang kompleks
dengan menggunakan energi sebesar 30 kJ/mol. Kedua reaksi di atas terjadi karena katalisa
enzim ATP-ase.

Enzim
Enzim adalah katalis hayati. Katalis, walaupun dalam jumlah yang amat sedikit,
mempunyai kemampuan unik untuk mempercepat berlangsungnya reaksi kimiawi tanpa
enzim itu sendiri terkonsumsi atau berubah setelah reaksi selesai.
Enzim adalah katalisator organik (biokatalisator) yang dihasilkan oleh sel. Enzim
berfungsi sebagai katalisator anorganik yaitu untuk mempercepat reaksi kimia. Setelah reaksi
berlangsung enzim tidak mengalami perubahan jumlah sehingga jumlah enzim sebelum dan
setelah reaksi adalah tetap. Enzim mempunyai spesifitas yang tinggi terhadap reaktan yang
direaksikan dan jenis reaksi yang dikatalisis. Enzim melakukan berbagai aktifitas fisiologik
seperti penyusunan bahan organik, pencernaan, dan pembongkaran zat yang memerlukan
aktivator berupa biokatalisator.
1. Sifat Umum Enzim
a. Disusun oleh senyawa protein.
b. Bekerja secara spesifik yaitu hanya mengkatalisis satu macam reaksi saja.
c. Aktivitas enzim dipengaruhi suhu, PH, substrat dan inhibitor. Setiap enzim memiliki suhu
dan PH optimum.
d. Enzim memiliki sifat alosentrik, yaitu mampu berkaitan dengan inhibitor ataupun aktivator.

2. Mekanisme Kerja Enzim


Enzim meningkatkan kecepatan reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi.
Energi aktivasi adalah energi yang diperlukan untuk mengaktifkan suatu reaktan sehingga
dapat bereaksi untuk membentuk senyawa lain. Energi potensial hasil reaksi menjadi lebih
rendah, tetapi enzim tidak mempengaruhi letak keseimbangan reaksi. Saat berlangsungnya
reaksi enzimatik terjadinya ikatan, sementara enzim dengan substratnya reaktan. Ikatan
sementara bersifat labil dan hanya untuk waktu yang singkat saja. Selanjutnya ikatan enzim
substrat akan pecah menjadi enzim dan hasil akhir. Enzim yang terlepas kembali setelah
reaksi dapat berfungsi lahi sebagai biokatalisator untuk reaksi yang sama.

3. Struktur Enzim
a. Ada enzim yang mengandung komponen kimia lain selain protein. Komponen ini disebut
kofaktor, suatu komponen yang bukan protein
Kofaktor berupa :
Molekul anorganik seperti Fe2+, Mn2+, Cu2+, Na+ atau molekul organik kecil yang disebut
koenzim misalnya vitamin B, B1, dan B2.
b. Koenzim yang terikat kuat secara kovalen pada protein enzim disebut gugus prostetik.
c. Enzim yang strukturnya sempurna dan aktif mengkatalisis, bersama-sama koenzim atau
gugus logamnya disebut holoenzim.
4. Klasifikasi/ Penggolongan Enzim
a. Penggolongan Enzim Berdasarkan Tempat Bekerjanya
1. Endoenzim
Endoenzim disebut juga enzim intraseluller yaitu enzim yang berkerja di dalam sel.
Umumnya merupakan enzim yang digunakan untuk proses sintesis di dalam sel dan untuk
pembentukan energi (ATP) yang berguna untuk proses kehidupan sel misalnya, dalam proses
respirasi.
2. Eksoenzim
Eksoenzim disebut juga enzim ekstraseluller yaitu enzim yang berkerjanya di luar
sel. Umumnya berfungsi untuk mencernakan substrat secara hidrolisis untuk dijadikan
molekul yang lebih sederhana dengan berat molekul lebih rendah sehingga dapat masuk
melewati membran sel. Energi yang dibebaskan pada reaksi pemecahan substrat di luar sel
tidak digunakan dalam proses kehidupan sel.

b. Penggolongan Enzim Berdasarkan Daya Katalisis


1. Oksidoreduktase
Enzim ini mengkatalisis reaksi oksidasi-reduksi yang merupakan pemindahan elektron,
hidrogen atau oksigen. Contoh; enzim elektron transfer oksidase dan hidrogen perioksidase
(katalase).
2. Transferase
Enzim ini mengkatalisis pemindahan gugus molekul dari satu molekul ke molekul lain.
Contoh; transaminase, transfosforilase, dan transasilase.
3. Hidrolase
Enzim ini mengkatalisis reaksi-reaksi hidrolisis. Contoh; karboksilesterase, lipase dan
peptidase
4. Liase
Enzim ini berfungsi untuk mengkatalisis pengambilan atau penambahan gugus dari satu
molekul tanpa melalui proses hidrolisis.
5. Isomerase
Isomerase meliputi enzim-enzim yang mengkatalisis reaksi isomerisasi yaitu; rasemase,
epirerase, co-transisomerase, intramolekul ketolisorerase, dan murase.
6. Ligase
Enzim ini mengkatalisis penggabungan dua molekul dengan dibebaskannya molekul
priposfat dari nukleosida trifosfat. Contoh; enzim asetat
7. Enzim Lain dengan Tata Nama Berbeda
Ada beberapa enzim yang penamaanya tidak menurut cara diatas misalnya enzim
pepsin, triosin, dan sebagainya serta enzim yang termasuk permease. Permease adalah enzim
yang berperan dalam menentukan sifat selektif permeabel dari membran sel.

c. Penggolongan Enzim Berdasarkan Cara Terbentuknya


1. Enzim Konstitutif
Kadar enzim dalam sel berjumlah normal atau tetap pada sel hidup
2. Enzim Adaptif
Enzim yang pembentukkannya dirangsang oleh adanya subtrat. Contoh : enzim beta
galaktosidase yang dihasilkan oleh bakteri E. coli.

d. Penggolongan Enzim Berdasarkan Substratnya


1. Kerbohidrase, merupakan enzim yang menguraikan karbohidrat yang mencakup;
amilase, maltase, laktase, selulase dan pektinase.
2. Esterase, merupakan enzim yang memecah golongan ester, antara lain; lipase dan
posfatase.
3. Protease, merupakan enzim yang menguraikan golongan protein, contohnya;
peptidase, gelatinase, dan renin.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reaksi Enzimatik


a. Substrat (Reaktan)
Kecepatan reaksi enzimatik umumnya diketahui kadarsubstrat, penambahan kadar
substrat sampai jumlah tertentu dengan jumlah enzim yang tetap, akan mempercepat reaksi
enzimatik sampai mencapai maksimum. Penambahan substrat selanjutnya tidak akan
menambah kecepatan reaksi, kecepatan reaksi enzimatik juga dipengaruhi kadar enzim,
jumlah enzim yang terikat substrat dan konstanta.
b. Suhu
Seperti reaksi kimia pada umumnya, maka reaksi enzimatik dipengaruhi oleh suhu.
Kenaikan suhu sampai optimum akan diikuti pula oleh kenaikan kecepatan reaksi enzimatik.
Umumnya enzim mengalami denaturasi pada suhu diatas 500 C. Walaupun demikian ada
beberapa enzim yang tahan terhadap suhu tinggi.
c. Keasaman (PH)
PH dapat mempengaruhi aktivitas enzim. Daya katalisis enzim menjadi rendah pada PH
rendah maupun tinggi, karena terjadinya denaturasi enzim. Enzim mempunyai gugus aktif
yang bermuatan positif dan negatif. Aktivitas enzim akan optimum kalau terdapat
keseimbangan antara muatannya. Pada keadaan masam muatannya cenderung positif, dan
pada keadaan basis muatannya cenderung negatif sehingga aktivitas enzimnya menjadi
berkurang atau bahkan menjadi tidak aktif. PH optimum untuk masing-masing enzim tidak
selalu sama. Sebagai contoh amilase jamur mempunyai PH optimum 5,0 dan arginase
mempunyai PH optimum 10.
d. Penghambat Enzim (Inhibitor)
Seperti namanya, inhibitor adalah substansi yang memiliki kecenderungan untuk
mencegah aktivitas enzim. Inhibitor enzim mengganggu fungsi enzim dalam dua cara yang
berbeda. Berdasarkan ini, mereka dibagi menjadi dua kategori: inhibitor kompetitif dan
inhibitor kompetitif. Sebuah inhibitor kompetitif memiliki struktur yang sama dengan
molekul substrat, dan sehingga akan melekat pada diaktifkan pusat enzim mudah dan
membatasi pembentukan ikatan kompleks enzim-substrat. Sebuah inhibitor nonkompetitif
adalah salah satu yang membawa perubahan (s) dalam bentuk enzim dengan bereaksi dengan
situs aktif. Dalam kondisi ini, molekul substrat tidak dapat mengikat dirinya pada enzim dan
dengan demikian, kegiatan selanjutnya diblokir.

Katabolisme : Respirasi dan Fermentasi


1. Respirasi
Respirasi merupakan proses terjadinya pembongkaran suatu zat makanan sehingga
menghasilkan energi yang diperlukan oleh mikroorganisme tersebut. Jika oksigen yang
diperlukan dalam proses respirasi maka disebut respirasi aerob. Ada juga spesies bakteri yang
mampu melakukan respirasi tanpa adanya oksigen, maka peristiwa itu disebut respirasi
anaerob.
a. Respirasi aerob
Respirasi aerob merupakan serangkaian reaksi enzimatis yang mengubah glukosa secara
sempurna menjadi CO2, H2O dan menghasilkan energi. Menurut penyelidikan energi yang
terlepas sebagai hasil pembakaran 1 grammol glukosa adalah 675 Kkal. Dalam respirasi
aerob, glukosa dioksidasi oleh oksigen, dan reaksi kimianya dapat digambarkan sebagai
berikut:
C6H12O6 + 6 O2 6 CO2 + 12 H2O + 675 Kkal
Dalam kenyataan reaksi yang terjadi tidak sesederhan itu. Banyak tahap reaksi yang
terjadi dari awal hingga terbentuknya energi. Reaksi-reaksi tersebut dibedakan menjadi tiga
tahap yakni glikolisis, siklus kreb (the tricarboxylic acid cycle) dan transfer elektron.
1. Glikolisis
Glikolisis adalah serangkaian reaksi enzimatis yang memecah glukosa (terdiri dari 6
atom C) menjadi dua molekul asam piruvat (terdiri dari 3 atom C). Glikolisis
juga menghasilkan ATP dan NADH + H+.
2. Tricarboxylic acid cycle (Siklus Krebs)
Merupakan serangkaian reaksi metabolisme yang mengubah asetil koA yang
direaksikan dengan asam oksaloasetat (4C) menjadi asam sitrat (6C). Selanjutnya asam
oksaloasetat memasuki daur menjadi berbagai macam zat yang akhirnya akan membentuk
oksaloasetat lagi.
3. Transfer Elektron
Setelah proses tricarboxylic acid maka yang terakhir adalah proses transfer elektron.
Transfer elektron merupakan reaksi pemindahan elektron melelui reaksi redoks (reduksi-
oksidasi). karena respirasi mebutuhkan jumlah ATP dari proses oksidasi NADH dan FADH.
Maka dibutuhkan senyawa senyawa yang memiliki potensial reduksi rendah sebagai akseptor
elektron, dan O2 sangat ideal sebagai akseptor. Elektron yang berasal dari oksidasi substrat
NADH atau FADH2, melalui serangkaian redoks atau reduksi-oksidasi reaksi, lalu ke
terminal akseptor. Dalam proses ini, energi dilepaskan selama aliran elektron digunakan
untuk membuat gradien proton.
b. Respirasi anaerob
Beberapa bakteri fakultatif anaerob dan obligatif anaerob melakukan respirasi anaerob.
Dengan melibatkan electron transport system (ETS), tetapi terminal akseptor elektron selain
oksigen.
Anaerob obligat adalah organisme yang mati bila terkena oksigen, seperti Clostridium
tetani dan Clostridium botulinum, yang masing-masing menyebabkan tetanus dan botulisme.
Bakteri anaerob fakultatif adalah bakteri yang dapat hidup dengan baik bila ada
oksigen maupun tidak ada oksigen. Contoh bakteri anaerob fakultatif antara lain Escherichia
coli, Streptococcus, Alcaligenes, Lactobacillus, dan Aerobacter aerogenes. Anaerob fakultatif
dapat hidup dengan adanya atau tidak adanya oksigen, tetapi lebih memilih untuk
menggunakan oksigen. Contoh jenis ini termasuk Escherichia coli.
Contoh respirasi anaerob berikut :
1. Respirasi Nitrat
Respirasi nitrat dilakukan oleh bakteri anaerob fakultatif. Potensi redoks nitrat
adalah +0.42 Volt, dibandingkan dengan oksigen yang potensial redoksnya +0,82 volt.
Akibatnya, lebih sedikit energi yang digunakan dibandingkan dengan oksigen sebagai
terminal akseptor elektron dan molekul lebih sedikit ATP yang terbentuk. Proses ini memiliki
beberapa langkah, yang mana nitrat direduksi menjadi nitrit dan nitrogen oksida menjadi
dinitrogen, yang disebut sebagai dissimilatory nitrate reduction atau denitrifikasi. Reaksi
denitrifikasi sebagai berikut:
2NO3- + 12 e- + 12 H+ N2 + 6 H2O
Denitrifikasi dilakukan oleh spesies Pseudomonas stutzeri, Pseudomonas
aeruginosa, Paracoccus denitrificans dan Thiobacillus denitrificans.
Bakteri ini adalah kelompok bakteri yang memiliki kemampuan untuk melakukan
reaksi reduksi senyawa nitrat (NO3-) menjadi senyawa nitrogen bebas (N2). Pada beberapa
kelompok bakeri denitrifikasi, dapat ditemukan senyawa nitrogen oksida (NO) sebagai hasil
sampingan metabolisme. Proses ini pada umumnya berlangsung secara anaerobik (tanpa
melibatkan molekul oksigen, O2).
Proses denitrifikasi merupakan salah satu dari rangkaian siklus nitrogen yang
berperan dalam mengembalikan senyawa nitrat yang terakumulasi di wilayah perairan,
terutama laut, untuk kembali dipakai dalam bentuk bebas. Di samping itu, reaksi ini juga
menghasilkan nitrogen dalam bentuk lain, seperti dinitrogen oksida (N2O). Senyawa tersebut
tidak hanya dapat berperan penting bagi hidup berbagai organisme, tetapi juga dapat berperan
dalam fenomena hujan asam dan rusaknya ozon. Senyawa N2O akan dioksidasi menjadi
senyawa NO dan selanjutnya bereaksi dengan ozon (O 3) membentuk NO2- yang akan kembali
ke bumi dalam bentuk hujan asam (HNO2).
Sedangkan bakteri fakultatif Anaerob seperi, E. coli dan sejenisnya, yang hanya
mereduksi nitrat menjadi nitrit, dan enzim.

2. Respirasi Sulfat
Respirasi sulfat dilakukan oleh sebagian kecil bakteri heterotrophic, yang semuanya
oligatif anaerob, seperti bakteri dari spesies Desulfovibrio. Bakteri ini membutuhkan sulfat
sebagai aseptor proton dan terduksi menjadi sulfit. Reaksi sulphate respiration sebagai
berikut:
SO42- + 8 e- + 8 H+ S2- + H2O

3. Respirasi Karbonat
Respirasi Karbonat dilakukan oleh bakteri seperti Methanococcus dan
Methanobacterium. Bakteri tersebut merupakan anaerob obligat yang mereduksi CO2, dan
kadang-kadang karbon monoksida, untuk menjadi metana. Bakteri metanogen yang biasa
menggunakan hidrogen sebagai sumber energi dan ditemukan di lingkungan yang rendah
nitrat dan sulfat, misalnya usus beberapa hewan, rawa, sawah dan digester limbah lumpur.
Reaksi respirasi karbonat hingga membentuk metan sebagai berikut:
CO2 + 4H2 CH4 + 2H2O
Selain nitrat, sulfat dan karbon dioksida, besi besi (Fe3+), mangan (MN4+) dan
beberapa organik senyawa (sulfoksida dimetil, fumarat, glisin dan oksida trimetilamina)
dapat berfungsi sebagai terminal elektron akseptor untuk respirasi anaerob tertentu bakteri.

2. Fermentasi
Bila respirasi tidak bisa dilakukan, organisme harus menggunakan mekanisme
alternatif untuk membentuk pasokan koenzim, selama oksidasi glukosa menjadi piruvat. Jika
NAD (P) H tidak teroksidasi kembali ke NAD (P) +, katabolisme akan berhenti. Akibatnya,
akseptor terminal elektron yang cocok harus ditemukan untuk mengambil
elektron. Fermentasi adalah proses perombakan senyawa organik dalam kondisi anaerob
menghasilkan produk berupa asam-asam organik, alkohol dan gas, yang kemudian
dikeluarkan dari sel, sedangkan fermentasi itu bermacam-macam seperti:
a. Fermentasi alkohol dilakukan oleh yeasts, jamur dan bakteri. Fermentasi alkohol
merupakan suatu reaksi pengubahan glukosa menjadi etanol (etil alkohol) dan
karbondioksida. Organisme yang berperan yaitu Saccharomyces cerevisiae (ragi) untuk
pembuatan tape, roti atau minuman keras.
Reaksi kimia:
C6H12O6 2 C2H5OH + 2 CO2 + 2 H2O + 2 ATP
b. Fermentasi asam laktat yang dilakukan oleh sejumlah bakteri, seperti Streptococcus,
Lactobacillus, Lactococcus dan Leuconostoc, serta beberapa jamur, alga dan protozoa.
Turunan piruvat, adalah akseptor elektron dan membentuk laktat. Ada dua bentuk fermentasi
ini yakni:
1) Fermentasi homolaktis dilakukan oleh bakteri seperti Lactobacillus acidophilus dan
Lactobacillus casei, yang mereduksi semua piruvat yang dihasilkan pada proses glikolisis
menjadi asam laktat.
2) Fermentasi heterolaktis menghasilkan produk lainnya dan asam laktat. Organisme yang
melakukan ini seperti Leuconostoc mesenteroides dan Lactobacillus brevis.
c. Fermentasi asam campuran yang dilakukan oleh E. coli dan bakteri fakultatif anaerob.
Produknya meliputi laktat, asetat, dan etanol. Beberapa organisme memiliki kemampuan
untuk mereduksi piruvat menjadi hidrogen dan CO2.
d. Fermentasi 2,3-Butanediol dilakukan oleh Enterobacter, Erwinia, Klebsiella dan Serratia.
Sama seperti fermentasi campuran asam, namun menghasilkan butanadiol, netanol dan asam.
e. Fermentasi asam propionat dilakukan oleh beberapa bakteri d usus, seperti
Propionibacterium dan sejenisnya, beberapa terlibat dalam produk komersil Swiss-keju dan
vitamin B12 (cobalamin). Propionat yang terbentuk dari piruvat yang melalui jalur
methylmalonyl CoA, dimana piruvat terkarboksilasi menjadi oksaloasetat, dan kemudian
direduksi menjadi propionat melalui malate, fumarate dan suksinate
f. Fermentasi asam butirat dilakukan oleh spesies Clostridium. Bakteri ini memproduksi
aseton, butanol, propanol, alkohol dan asam lainnya. Bakteri ini juga memfermentasi asam
amino dan senyawa nitrogen lainnya, serta karbohidrat.

Anabolisma : Fotosintesis
Proses metabolisme mikroorganisme dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan sumber
energinya yaitu fototrof dan kemotrof. Sedangkan apabila berdasarkan kemampuan mendapat
sumber karbonnya menjadi dua juga yaitu autotrof dan heterotrof.
Mikroorganisme fototrof adalah mikroorganisme yang menggunakan cahaya sebagai
sumber energi utamanya. Fototrof dibagi menjadi dua yakni : fotoautotrof dan fotoheterotrof.
1. Fotoautotrof
Organisme yang termasuk fotoautrotrof melakukan fotosintesis.
Sedangkan fotosintesis adalah proses mensintesis senyawa organik kompleks dari unsur-
unsur anorganik dengan menggunakan energi cahaya matahari. Fotosintesis tidak hanya
dilakukan oleh tumbuhan namun juga dilakukan oleh mikroba. Mikroba yang melakukan
fotosintesis seperti Cyanobacteria, serta beberapa jenis algae. Pada Reaksi umum yang
terjadi dpat dituliskan sebagai berikut :
6H2O + 6CO2 + cahaya C6H12O6 + 6O2
dalam fotosintesis terjadi dua tahapan reaksi terang dan reaksi gelap. Reaksi terang atau
fosforilasi reaksi ini terjadi di tilakoid dan reaksi gelap terjadi di dalam stromokloroplas.
2. Fotoheterotrof
Fotoherotrof adalah kelompok kecil bakteri yang menggunakan energi cahaya tapi
membutuhkan zat organik seperti alkohol, asam lemak, atau karbohidrat sebagai sumber
karbon. Organisme ini meliputi bakteri non-sulfur, bakteri ungu, dan hijau.
Contoh :
Fotosintesis anoksigenik, yaitu proses fototrof mana energi cahaya ditangkap dan diubah
menjadi ATP, tanpa menghasilkan oksigen.
1. Fotosintesis bakteri ungu non belerang
CO2 + 2CH3CHOHCH3 (CH2O) + H2O + 2CH3COCH3
2. Fotosintesis bakteri hijau belerang
CO2 + 2H2S (CH2O) + H2O + 2S
Mikroorganisme kemotrof, mikroorganisme ini bergantung kepada reaksi
oksidasi dan reduksi akan zat anorganik atau organik sebagai sumber energi mereka.
Mikroorganisme kemotrof dibagi menjadi dua yakni kemoautotrof dan kemoheterotrof.
1. Kemoautotrof
Kemoautotrof adalah organisme kemotrof yang sumber karbonnya berasal dari CO2,
hanya memerlukan CO2 sebagai sumber karbon bukan sebagai sumber energi. Bakteri ini
memperoleh energi dengan mengoksidasi bahan-bahan anorganik. Energi kimia diekstraksi
dari hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3), ion fero (Fe2+), atau bahan kimia lainnya.
Contohnya adalah bakteri Sulfolobus sp. yang mengoksidasi sulfur.
2. Kemoheterotrof
Kemoheterotrof adalah organisme kemotrof yang sumber karbonnya dari senyawa-
senyawa organik (mengonsumsi molekul organik untuk sumber energi dan karbon). Dibagi
menjadi dua berdasarkan akseptor elektron terakhirnya. Apabila akseptor terakhirnya adalah
O2 contohnya adalah hewan dan hampir semua fungi, protozoa, serta bacteria. Apabila
akseptor terakhirnya bukan O2 adalah Streptococcus sp dan Clostridium sp.

RESPIRASI MIKROBA

Respirasi didefenisikan sebagai penggunaan serangkaian transfor elektron untuk


mentransfer elektron menuju aseptor elektron terakhir. Energi diperoleh melalui fosporilasi
oksidatif tetapi dalam prosesnya bisa menggunakan oksigen sebagai aseptor elektron terakhir
(respirasi aerob) atau senyawa anorganik lain (resfirasi anaerob).
Respirasi Aerob, banyak organisme mampu menggunakan oksigen sebagai aseptor
elektron terakhir. Dalam hal ini tidak diperlukan reduksi senyawaintermediator seperti dalam
fermentasi. Hasilnya senyawa-senyawa intermediet tersebut dapat dioksidasi sempurna
menjadi karbon dioksida dan air. Ini merupakan keuntungan yang sangat besar bagi
organisme karena jumlah energi yang dihasilkan dari oksidasi sempurna satu molekul glukosa
jauh lebih besar bila dibandingkan melalui fermentasi. Hal ini disebabkan rangka aliran
elektron dari NADH ke O2 melalui serangkaian karir Cytocrom menghasilkan 3 ATP. Energi
tersebut, bersama dengan energi yang diperoleh dari oksidasi piruvat menjadi asetil COA
menghasilkan 36 ATP yang dihasilkan dari metabolisme glukosa menjadi CO2 dan H2O.

Perbandingan antara dua ATP yang dibentuk dari satu molekul glukosa melalui fermentasi
alkohol atau asam laktat, maka metabolisme aerob jauh lebih efesien dibanding dengan
permentasi. Hal ini dipenuhi melalui proses degradasi disebut tricarboxylic Acid Cycle (TCA
Cycle) atau dikenal dengan siklus asam sitrat maupun siklus Krebs. Setiap kali oksalo asetat
bergabung dengan asetil COA yang berasal dari Piruvat masuk ke dalam siklus akan
membentuk senyawa 6 karbon yang dikenal dengan asan sitrat sehingga dinamakan siklus
asam sitrat. Dalam setiap putaran menghasilkan serangkaian oksidasi menyebabkan
terjadinya reduksi NAD atau FAD dan membebaskan 2 molekul CO2. Jadi senyawa 6 karbon
asam sitrat kembali ke bentuk semula yaitu senyawa 4 karbon oksalo asetat yang siap
bergabung kembali dengan asetat / astil COA. Akhirnya semua senyawa NADH dan FADH
mengalami posforilasi oksidatif dengan melepaskan elektron melalui serangkain cyticrom ke
oksigen menghasilkan air dan 3 molekul ATP untuk setiap pasang elektron dari NADH.

Respirasi Anaerob, disamping metabolisma aerob, dan fermentasi terdapat


metabolisma lain yang pada umumnya bersifat anaerob. Akan tetapi mikroorganisme tersebut
tidak melakukan fermentasi. Bakteri tersebut menggunakan senyawa anorganik sebagai
aseptor elektron terakhirnya. Organisme tersebut dapat dibagai dalam 3 kelompok yaitu :
reduser sulfat, reduser nitrat dan bakteri metan. Pada metabolisme anaerob, elektron yang
dibebaskan melalui reaksi oksidasi ditransfer melalui serangkaian transfer elektron dan energi
dihasilkan melalui fosforilasi oksidatif. Letak perbedaan antara resfirasi aerob dan anaerob
yaitu respiriasi anaerob yang berperan sebagai aseptor elektron terkahir adalah senyawa
anorganik, bukan oksigen (Dwidjo 1988).

REPRODUKSI MIKROBA
1. Bakteri
Bakteri dapat melakukan reproduksi dengan dua cara yakni reproduksi secara
aseksual dan reproduksi secara seksual. Reproduksi bakteri secara seksual dibagi
menjadi tiga jenis yaitu, reproduksi dengan transformasi, reproduksi dengan
transduksi, dan reproduksi dengan konjugasi. Berikut uraian lengkap mengenai
macam-macam reproduksi bakteri.
A. Reproduksi aseksual
Yang termasuk di dalam reproduksi secara aseksual ini adalah pembelahan,
pembentukan tunas/ cabang, dan pembentukan filamen.
a. Pembelahan
Pada umumnya bakteri berkembang biak dengan pembelahan biner, artinya
pembelahan terjadi secara langsung, dari satu sel membelah menjadi dua sel
anakan. Masing-masing sel anakan akan membentuk dua sel anakan lagi,
demikian seterusnya.
Proses pembelahan biner diawali dengan proses replikasi DNA menjadi dua
DNA identik, diikuti pembelahan sitoplasma dan akhirnya terbentuk dinding
pemisah di antara kedua sel anak bakteri. Perhatikan gambar skematik
pembelahan biner sel bakteri dibawah!

Skema pembelahan biner pada Streptococcus faecalis


b. Pembentukan tunas atau cabang
Bakteri membentuk tunas yang akan melepaskan diri dan membentuk bakteri
baru. Reproduksi dengan pembentukan cabang didahului dengan pembentukan
tunas yang tumbuh menjadi cabang dan akhirnya melepaskan diri. Dapat dijumpai
pada bakteri family Streptomycetaceae.
c. Pembentukan Filamen
Pada pembentukan filament, sel mengeluarkan serabut panjang sebagai filament
yang tidak bercabang. Bahan kromosom kemudian masuk ke dalam filament,
kemudian filament terputus-putus menjadi beberapa bagian. Tiap bagian
membentuk bakteri baru. Dijumpai terutama dalam keadaan abnormal, misalnya
bila bakteri Haemophilus influenza dibiakan pada pembenihan yang basah
B. Reproduksi seksual
Bakteri melakukan reproduksi secara seksual dengan cara yang direkombinasi
gen. Rekombinasi gen adalah peristiwa bercampurnya sebagai materi gen (DNA)
dari dua sel bakteri yang berbeda, maka dapat terbentuk DNA rekombinan. Dalam
rekombiansi gen, akan dihasilkan dua sel bakteri dengan materi genetik campuran dari
kedua induknya. Rekombinasi gen dapat terjadi dengan melalui konjugasi, transduksi,
dan transformasi.

a. Konjugasi
Konjugasi adalah pemindahan materi gen dari suatu sel bakteri ke sel bakteri yang
lain secara langsung melalui jembatan konjugasi. Mula-mula, kedua sel bakteri berdekatan,
kemudian membentuk tonjolan atau struktur jembatan yang menghubungkan kedua sel
tersebut. Transfer kromosom maupun transfer plasmid akan terjadi melalui jembatan
konjugasi. Sel mengandung materi gen rekombinan kemudian akan memisah dan
terbentuklah dua sel bakteri yang bersifat baru (sifat rekombinan). Contoh bakteri yang
berkonjugasi adalah Salmonella typhi dan Pseudomonas sp. Transfer kromosom dapat juga
terjadi dengan pilus seks, seperti yang terjadi dengan Escherichia coli.
b. Transduksi
Transduksi adalah rekombinasi gen antara dua sel bakteri dengan menggunakan virus
fag. Virus fag yang telah menginfeksi suatu bakteri dengan daur litik maupun juga lisogenik
yang mengandung partikel DNA bakteri. Jika virus fag tersebut menginfeksi bakteri lainnya,
maka terjadilah rekombinasi gen pada bakteri-bakteri yang terinfeksi fag. Virus fag temperat
(virus yang dapat bereproduksi secara litik maupun lisogenik) merupakan virus yang paling
cocok untuk proses transduksi.

c. Transformasi
Transformasi adalah rekombinasi gen yang terjadi melalui pengambilan langsung
dengan sebagian materi gen dari bakteri lain yang dilakukan oleh suatu sel bakteri. Bakteri
yang dapat melakukan transformasi secara alamiah, adalah bakteri-bakteri yang memproduksi
enzim khusus, seperti Rhizobium, Neisseria, Bacillus, Streptococcus, dan Pneumococcus.
Dalam teknologi rekayasan gen, bakteri yang tidak dapat melakukan transformasi secara
alamiah dapat dipaksa dalam menangkap dan memasukkan plasmid rekombinan ke dalam
selnya dengan cara memberikan kalsium klorida atau dengan proses kejut-panas (heat
shock).

2. Virus

3. Jamur
a. Zygomicota

1. Aseksual

Ujung hifa membentuk gelembung sporangium yang menghasilkan spora. Bila spora
jatuh di tempat yang cocok akan tumbuh menjadi hifa baru. Tubuh jamur terdiri dari rhizoid,
sporangiofor dengan sporangiumnya, dan stolon. Sporangium menghasilkan spora baru.

2. Seksual
Dua ujung hifa berbeda, yaitu hifa dan hifa+ bersentuhan. Kedua ujung hifa
menggelembung membentuk gametangium yang terdapat banyak inti haploid. Inti haploid
gametangium melebur membentuk zigospora diploid. Zigospora berkecambah tumbuh
menjadi sporangium. Di dalam sporangium terjadi meiosis dan menghasilkan spora haploid.
Spora haploid keluar, jika jatuh di tempat cocok akan tumbuh menjadi hifa.

b. Ascomycota

1. Reproduksi Aseksual Ascomycota


a. Ascomycota Uniseluler : Reproduksi secara aseksual berdasarkan uniseluler yang
dilakukan dengan pembelahan sel atau pelepasan tunas dari sel induk. Tunas yang terlepas
akan menjadi sebuah sel jamur baru. Namun, bila tidak terlepas maka sel tunas akan
membentuk rantai pseudohifa (hifa semu).
b. Ascomycota Multiseluler : Reproduksi secara aseksual yang dilakukan dengan dua cara,
yaitu fragmentasi hifa dan pembentukan spora aseksual konidiospora. Hifa dewasa yang
terputus akan tumbuh menjadi sebuah hifa jamur baru. Hifa haploid (n) yang sudah dewasa
akan menghasilkan konidiofor (tangkai konidia). Pada ujung dari konidiofor akan terbentuk
spora yang diterbangkan angin yang disebut dengan konidia. Konidia memiliki jumlah
kromosom yang haploid (n). Konidia pada jamur Ascomycota berwarna-warni, antara lain
berwarna oranye, hitam, biru atau kecokelatan. Jika kondisi lingkungan menguntungkan,
maka konidia akan berkecambah menjadi hifa yang haploid. Hifa akan bercabang-cabang
dengan membentuk miselium yang berkromosom haploid (n).

"(a) Reproduksi aseksual (pembentukan tunas) dan (b) reproduksi seksual


(pembentukan askospora) pada Asmocycota uniseluler"

2. Reproduksi Seksual Ascomycota


a. Ascomycota Uniseluler : Reproduksi Ascomycota uniseluler diawali dengan konjugasi
atau penyatuan dua sel haploid (n) yang berbeda jenis. Dari hasil penyatuan dengan
menghasilkan zigot yang berkromosom diploid (2n). Zigot tumbuh membesar menjadi askus
yang diploid. Inti (nukleus) diploid di dalam askus membelah secara miosis dengan
menghasilkan 4 inti yang berkromosom haploid (n). Di sekitar empat inti tersebut, terbentuk
dinding sel dengan 4 askospora didalam askus berkromosom haploid (n). Jika askus sudah
masak, maka selanjutnya askus akan pecah dengan mengeluarkan askospora. Askospora akan
tumbuh menjadi sel jamur baru yang haploid (n).
b. Ascomycota Multiseluler : Reproduksi seksual jamur Ascomycota multiseluer adalah
sebagai berikut...
Hifa (+) dan hifa (-) yang masing-masing memiliki kromosom haploid yang
berdekatan. Hifa (+) membentuk askogonium (alat reproduksi betina), sedangkan hifa
(-) dengan membentuk anteridium (alat reproduksi jantan).
Askogonium akan membentuk saluran yang menuju anteridium yang disebut dengan
trikogin. Melalui trikogin, terjadi proses plasmogami (peleburan sitoplasma).
Askogonium akan menerima nukelus yang berkromosom haploid dari anteridium
sehingga askogonium memiliki banyak inti dari keduanya (dikariotik).
Askogonium akan tumbuh menjadi sebuah hifa dikariotik yang bercabang-cabang dan
tergabung dalam askokarp (tubuh buah).
Ujung-ujung hifa pada askokarp akan membentuk askus dikariotik
Di dalam aksus terjadi kariogami (peleburan inti) sehingga akan terbentuk inti yang
berkromosom diploid (2n).
Inti diploid yang ada dalam askus akan membelah secara meiosis dengan
menghasilkan 4 nukelus yang haploid (n).
Masing-masing dari nukleus haploid akan membelah secara mitosis sehingga yang
ada didalam askus dengan terdapat 8 nukleus. Selanjutnya, dari sekitar nukleus akan
terbentuk dinding sel dan terbentuk askospora yang berkromosom haploid (n).
Jika askus telah masak, maka askospora akan terbesar secara serentak. Hal ini akan
terjadi karena jika satu askus pecah maka akan berakibat pada pecahnya askus lain.
Askospora yang jatuh ditempat yang cocok akan berkecambah menjadi hifa baru yang
haploid (n). Hifa haploid akan tumbuh bercabang-cabang membentuk miselium yang
haploid (n).

"Daur hidup Ascomycota multiseluler, meliputi reproduksi aseksual


(pembentukan konidiospora) dan seksual (pembentukan askospora)"

c. basidiomycota
Reproduksi aseksual (Basidiomycota) : Spora basidium - benang hifa (bersekat, satu inti)
- miselium (miselium tumbuh hingga basidium menghasilkan basidospora kemudian lanjut ke
reproduksi seksual)
Reproduksi seksual (Basidiomycota) : Basidiospora - Hifa (+) dan hifa (-) saling
mendekat - dinding selnya larut (plasmogami) - hifa (inti dua haploid) berpasangan
(dikariotik) - miselium sekunder (dikariotik) - Ujung miselium dikariotik berkembang
menjadi basidium - dua inti haploid dalam basidium bersatu menjadi 2n (kariogami) - empat
tonjolan pada ujung basidium (sterigma) - 4 inti haploid (meiosis ) - basidiospora hifa
bersekat (n).
d. deuteromycota
belum diketahui

PERANAN MIKROBA DALAM KEHIDUPAN


bakteri

Bidang Menguntungkan merugikan


Pembuatan makanan dan Pembusukan makanan
minuman hasil fermentasi contohnya Clostridium
contohnya Acetobacter pada botulinum
pembuatan asam cuka
Lactobacillus bulgaricus pada
pangan
pembuatan yoghurt
Acetobacter xylinum pada
pembuatan nata de coco
Lactobacillus casei pada
pembuatan keju yoghurt
Neurospora sitophila, untuk
pembuatan oncom
Kesehatan Penghasil antibiotik contohnya Vibrio cholerae,
adalah Bacillus polymyxa menyebabkan penyakit
(penghasil antibiotik polimiksin B kolera atau muntaber
untuk pengobatan infeksi bakteri
gram negative Streptomyces
rimosus penghasil antibiotik
terasiklin untuk berbagai bakteri.
Penelitian rekayasa genetika Clostridium tetani,
dalam berbagai bidang.sebagai menyebabkan penyakit
contoh dalam bidang kedokteran tetanus
dihasilkan obat-obatan dan produk
kimia bermanfaat yang disintesis
oleh bakteri, misalnya enzim,
vitamin dan hormon.
, Bacillus subtilis penghasil Neisseria gonorrhoeae,
antibioti untuk pengobatan infeksi menyebabkan penyakit
bakteri gram positif gonorea
Streptomyces griseus penghasil Chlamydia psittaci,
antibiotik streptomisin untuk menyebabkan infeksi mata,
pengobatan bakteri gram negatif penyakit menular seksual,
termasuk bakteri penyebab TBC dan beberapa jenis
penyakit pneumonia
Streptomyces rimosus penghasil
antibiotik terasiklin untuk
berbagai bakteri.

Penyubur tanah contohnya Penyebab penyakit pada


Nitrosococcus dan Nitrosomonas tanaman budidaya
yang berperan dalam proses contohnya Pseudomonas
nitrifikasi menghasilkan ion nitrat solanacearum (penyebab
yang dibutuhkan tanaman. penyakit pada tanaman
tomat, lombok, terung dan
pertanian
tembakau) serta
Agrobacterium
tumafaciens (penyebab
tumor pada tumbuhan)
berperan dalam pengikatan
nitrogen pada tanaman

VIRUS
no Keuntungan kerugian
pangan

kesehatan bakteri yg
mengandung profag
untuk mengobati
berbagai macam
penyakit, untuk
membuat vaksin,
untuk membuat peta
kromosom

pertanian dpt menjadi


biopestisida untuk
mengurangi
penyebaran hama
kerugiannya :
menyebabkan
kematian

Jamur

no Keuntungan kerugian
pangan Rhizopus oryzae : Rhizopus sp. :
Bermanfaat dalam Kontaminan pada
fermentasi kedelai makanan (roti).
menjadi tempe Aspergillus sp. :
(bahan makanan). Kontaminan pada
Aspergillus makanan.
oryzae : Bermanfaat Penicillium sp. :
dalam fermentasi Kontaminan pada
kedelai untuk kecap makanan.
(bahan makanan Cladosporium sp.
Aspergillus niger : Kontaminan pada
: Bermanfaat dalam makanan.
produksi asam nitrat Cladosporium sp.
(pengawet makanan) : Tumbuh pada
dan produksi enzim dinding yang lembab.
amiloglukosidase Alternaria citrii :
(industri makanan). Pembusukan buah
jeruk.
kesehatan Penicillium Tinea capitis :
chrysogenum : Infeksi pada kulit,
Bermanfaat dalam rambut, dan kuku
produksi antibiotik (dermatophytes).
penisilin (industri
farmasi).
Candida flareri : Histoplasma
Bermanfaat dalam capsulatum : Infeksi
produksi riboflavin sistemik pada paru-
(industri farmasi). paru.
Cephalosporium
sp. : Bermanfaat
dalam produksi
cephalosporin
(industri farmasi).
Penicillium
griseofulvin :
Bermanfaat dalam
produksi antifungal
griseofulvin (industri
farmasi).
Trichoderma
polysporum :
Bermanfaat dalam
produksi
imunosupresan
cyclosporin (industri
farmasi).
Ganoderma sp. :
Bermanfaat sebagai
obat tradisional
serbuk ganoderma
(senyawa
antikanker).

pertanian Ustilago maydis :


Menyerang tanaman
jagung.
Aspergillus
flavus : Kontaminan
pada kacang (racun
aflatoksin).
Aspergillus
parasiticus :
Kontaminan pada
kacang (racun
aflatoksin).
Tinea versicolor :
Infeksi kulit oleh
jamur
(dermatomikosis)
PENGENDALIAN MIKROORGANISME

Mikroba perlu dikendalikan karena mikroba itu ukurannya sangat renik sehingga sulit untuk
membedakannya. Untuk membedakannya, maka perlu mematikan mikroba yang tak
diinginkan, dan menumbuhkan mikroba yang diinginkan. Mencegah lebih baik karena jika
sudah terinfeksi bukan hanya mikroba yang mati tap jaringan lain mengalami kerusakan.

Beberapa istilah

1. Biosida merupakan suatu senyawa yang digunakan untuk membunuh semua makhluk
hidup secara biologi

2. Germisida merupakan suatu senyawa yang digunakan untuk membunuh kuman


(merusak dinding sel)

3. Bakteriostasis yaitu bahan kimia yang diberikan pada suatu bahan pangan yang
terkena bakteri yang hanya menghambat pertumbuhan tapi tidak mati dengan cara
menginaktivasi enzim polimerase. Misalnya ikan yang mengandung bakteri disimpan
di freezer, bakteri tersebut akan in aktif (sintesis DNAnya terhambat). Namun jika
dikeluarkan dari freezer, ikan tersebut membusuk setelah 4 jam sesudah dikeluarkan

4. Bakteriosida yaitu membunuh bakteri

5. Asepsis yaitu tidak ada pertumbuhan

6. Sterilisasi yaitu menghancurkan seluruh sel hidup termasuk endospora

7. Desinfeksi yaitu menghancurkan sel-sel yang hidup

8. Antisepsi yaitu menginfeksi jaringan hidup. Misalnya yang terdapat pada sabun
mandi

9. Sepsis yaitu merujuk pada kontaminasi mikroba

10. Antiseptik yaitu membunuh kuman pada sutu tempat

Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan yaitu jumlah mikroba, pengaruh lingkungan,


waktu pendedahan (waktu yang digunakan untuk pemberian bahan kimia), dan karakteristik
mikroba.

Metode yang digunakan untuk pengendalian yaitu secara fisik, kimia, dan biologi.

Secara Fisika

1. Filtrasi yaitu pengendalian dengan menggunakan saringan yang terbentuk dari kuarsa
yang dapat menyaring bakteri yang berukuran hingga 8-0,2 mm. filtrasi digunakan
pada vaksin, udara yang difiltrasi, penggunaan AC plasmacluster, panas kering (ose),
oven, dan panas lembab dengan menggunakan autoklaf atau boiling (mendidihkan).
2. Pasteurisasi, misalnya susu dipateurisasi pada suhu 17C selama 15 detik

3. Pendingin dengan suhu -20C sampai -70C dan bisa tahan 3 tahun.

4. Radiasi UV yang biasa ditemukan di depot air minum isi ulang yang memakai 260 nm
UV bisa membunuhkuman (DNAnya akan hancur), dikamar operasi (sebelum
operasi, kamar tersebut diradiasi UV untuk membunuh kuman), dan air yang
disimpan didestilasi

5. Radiasi ionisasi digunakan pada bahan atau alat yang tidak dapat disterilisasi. Radiasi
ionisasi digunakan saat rontgen (namun sel-sel di tubuh kita banyak yang mati)

Secara kimia

1. Halogen. Kelompok halogen yaitu klorin, iodin, fluorin (gas berbahaya), dan
brominen (gas berbahaya). Iodin yang dilarutkan dalam akuades (betadine). Iodin
yang dilarutkan dalam alkohol (iodin). Klorin dapat digunakan di tangan, larutan, dan
permukaan barang mainan. Klorin memiliki pH 1 hingga 7. Klorin tidak stabil jika
terkena cahaya. Iodin dapat digunakan di tangan, larutan, instrumen (alat), dan
permukaan barang namun bisa merusak.

2. Alkohol 70%-90% dapat digunakan di tangan, instrumen, dan permukaan alat.

3. Detergen. Detergen mengandung NaOH terdapat di sabun dan cat. Sabun dapat
merusak phospolipid bakteri atau kuman.

4. Phenol. Phenol ini rumit penggunaannya