Anda di halaman 1dari 9

PENGUKURA

N SUHU
Tugas Teknik
Instrumentasi

Annisa Rahmadayanti
D-I Instrumentasi
A. Sensor Pengukur Suhu
Sensor pengukur suhu bekerja secara mekanis dan elektris. Termometer gelas, termometer
bimetal, dan filled system thermometer bekerja secara mekanis, sedangkan termokopel, RTD
(Resistance Temperature Detector), dan pirometer bekerja secara elektris. Prinsip kerja sensor
pengukur suhu adalah pemuaian zat.
Sensor Mekanis
a. Termometer Gelas
Termometer gelas bekerja sesuai prinsip pemuaian volume/zat cair. Konstruksi
dari termometer gelas diantaranya adalah bulb, yaitu tabung gelas tipis pada
bagian ujung bawah termometer. Cairan yang digunakan adala merkuri atau
bahan organik seperti etanol dan pentana. Termometer ini mempunyai stem
atau batang sebagai lubang kapiler sbg tempat pemuaian cairan pada suhu
naik, serta skala dan informasi lain.

b. Termometer Bimetal
Termometer bimetal bekerja sesuai prinsip pemuaian panjang. Termometer ini
biasanya terdapat pada setrika atau MCB sebagai temperature switch.
Temperature switch akan terhubung dengan temperature alarm yang biasanya
berupa LED atau lampu. Termometer bimetal mengandung sebuah keping
bimetal tipis berbentuk spiral. Makin tinggi suhu, keping bimetal makin
melengkung untuk menunjukkan suhu yang lebih tinggi.
c. Filled System Thermometer
Filled System Thermometer adalah sistem tertutup yang diisi gas/cairan/uap
yang responsif terhadap variasi temperatur. Elemen tekanan biasanya
berbentuk elemen bourdon yang merubah posisi indikator/koil transmitter. Jika
bulb dipanaskan atau didinginkan, maka fluida didalamnya mengembang atau
berkontraksi, sehingga bourdon tube bergerak. Perpindahan bourdon tube
menggerakan pointer untuk membaca suhu. Cairan pengisi bulb: mercury,
ethyl alcohol, xylene, toluene. Koefisien ekspasi xylene adalah 6 kali mercury.

Perbandingan cairan pengisi filled system thermometer dapat dilihat pada tabel
berikut.
Sensor Elektris
a. Termokopel
Termokopel merupakan sensor suhu yang terdiri atas sepasang
penghantar yang berbeda disambung las atau dileburkan bersama pada satu
sisi membentuk penghantar hot atau sambungan pengukuran yang ada ujung
ujung bebasnya untuk menghubungkan dengan penghantar cold atau
sambungan referensi. Perbedaan suhu antara sambungan pengukuran dan
sambungan referensi alat ini berfungsi sebagai termokopel dan bisa
membangkitkan tegangan dc yang kecil. Tegangan output termokopel hampir
berbanding lurus dengan perbedaan suhu antara sambungan pengukuran (hot)
dan sambungan referensi (cold). Perbandingan yang konstan dinamakan
Koefisien Seeback dan berkisar antara 5 sampai 50 V per derajat celcius.
Ada beberapa jenis termokopel, yaitu :
Tipe K (Chromel / Alumel)
Tipe K adalah termokopel yang berbiaya murah dan umum digunakan, karena
popularitasnya itu termokopel jenis ini tersedia dalam berbagai macam
probe.termokopel tersedia untuk rentang suhu di -200 C sampai +1200 C.
Sensitivitasnya adalah kira-kira 41 v / C.
Tipe E (Chromel / konstanta)
Tipe E memiliki output yang tinggi (68 v / C) yang membuatnya cocok untuk
digunakan pada suhu rendah (cryogenic). Properti lainnya dari tipe E ini
adalah tipe non magnetik.
Tipe J (Iron / konstanta)
Jangkauan pengukurnnya terbatas, hanya -40 hingga 750 C membuat
termokopel jenis ini kurang populer dibandingkan dengan tipe K. Termokopel
tipe J ini tidak boleh digunakan di atas 760 C.
Tipe N (Nicrosil / Nisil)
Stabilitas tinggi dan ketahanannya terhadap oksidasi suhu tinggi membuat tipe
N cocok untuk pengukuran suhu tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu
di atas 1200 C. Sensitifitasnya sekitar 39 V/C pada 900 C, sedikit di
bawah tipe K. Tipe N merupakan perbaikan dari tipe K.
Termokopel tipe B, R dan S adalah termokopel 'logam
mulia'.Semuanya (tipe B,R,S) adalah yang paling stabil dari semua termokopel
yang ada, namun karena sensitivitasnya yang rendah (kira-kira 10 v / C),
mereka biasanya hanya digunakan untuk pengukuran suhu tinggi (> 300 C).
Tipe B (Platinum / Rhodium)
Cocok untuk pengukuran suhu tinggi hingga 1800 C. Disebut termokopel
"B" karena bentuk suhu / tegangan kurva mereka yang menyerupai huruf "B",
dan memberikan output yang sama pada 0 C dan 42 C. Hal ini membuat
mereka tidak bisa ddigunakan pada suhu di bawah 50 C.
Type R (Platinum / Rhodium)
Cocok untuk pengukuran suhu tinggi hingga 1600 C. Sensitivitasnya yang
rendah (10 v / C) dan biayanya yang tinggi, membuat termokopel ini tidak
cocok untuk digunakan pada pengukuran umum.
Type S (Platinum / Rhodium)
Cocok untuk pengukuran suhu tinggi hingga 1600 C. Sensitivitasnya yang
rendah (10 v / C) dan biayanya yang tinggi membuat mereka tidak cocok
untuk digunakan pada pengukuran umum. Karena tipe S sangat tinggi
stabilitasnya, maka sering digunakan sebagai standar kalibrasi untuk titik leleh
emas (1064.43 C).
Type T (Copper / Constantan)
Cocok untuk pengukuran antara 200 to 350 C. Konduktor positif terbuat dari
tembaga, dan yang negatif terbuat dari constantan.Sering dipakai sebagai alat
pengukur alternatif sejak penelitian kawat tembaga. Type T memiliki
sensitifitas ~43 V/C.
Penerapan Termokopel

b. RTD (Resistance Temperature Detector)


RTD (Resistance Temperature Detector) adalah sensor yang terbuat dari
logam (platina, cooper, atau nikel). Kenaikan suhu pada RTD sebanding
dengan kenaikan resistansinya, atau disebut dengan PTC (Positive
Temperature Column). NTC (Negative Temperature Column) adalah
kenaikan suhu pada RTD yang sebanding dengan penurunan resistansinya.

Resistansi pada suhu tertentu dalam RTD dapat dihitung dengan rumus :
R = R ( 1+.T)
T O
RT = Koefisien resistansi logam
R0 = Resistansi pada temperatur awal 0C
T = Perubahan temperatur
= Koefisien resistansi logam

Setiap temperatur berubah, maka terjadi kesetimbangan baru. Untuk


mengurangi kesalahan/error pada pengukuran menggunakan RTD,
dipasang dengan metode 3-wires RTD.
KELEBIHAN KEKURANGAN
- Lebih akurat - Lebih mahal dari
termokopel karena logam
yang digunakan adalah
logam murni
- Lebih sensitif - Tidak dapat mengukur
temperatur dengan rentang
tinggi (rentangnya hanya
-220C - 660C)
- Tidak mahal - Kesalahan power supply
dapat mengacaukan
pembacaan
- Minim masalah - Perubahan kecil hambatan
saat pengukuran adalah
fatal, maka koneksi harus
rapat dan bebas korosi
- Tidak perlu kabel ekstensi - Dapat ditemukan pada area
reaktor atau pembangkit
dan temperatur pendingin
- Parameternya resistan (bukan - Bila terjadi open circuit,
volt) sehingga minim radiasi maka pembacaan
saat pengukuran temperatur menjadi tinggi,
sedangkan kurang daya
akan menjadikan
pembacaan temperatur
menjadi rendah.

Untuk mengecek biasanya menggunakan pasir yang dipanaskan. Cara


lain yang mudah dan efisien adalah dengan mengukur resistor pada range atau
rentang suhu terentu (zero dan span), lalu memasang tahanan/resistor pada sisi
temperature transmitter, sehingga dapat menghasilkan output yang sama
sesuai dengan range.