Anda di halaman 1dari 20

artikel kesehatan

contoh askep dan tugas kampus nama creater sengaja tidak dihapus karena itu merupakan
kreasi penulisnya, 'saya berharap artikel ini dapat membantu sobat semua'

Friday, November 20, 2015


LAPORAN PENDAHULUAN CKD ( CHRONIC KIDNEY DISEASE )

LAPORAN PENDAHULUAN

CKD ( CHRONIC KIDNEY DISEASE )

A. Pengertian

Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara
bertahap

Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal
yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan
sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)

Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan
lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812)

Sesuai dengan topik yang saya tulis didepan cronic kidney disease ( CKD ),pada
dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure ( CRF ), namun pada
terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka untuk membatasi kelainan klien pada kasus
secara dini, kerena dengan CKD dibagi 5 grade, dengan harapan klien datang/merasa masih
dalam stage stage awal yaitu 1 dan 2. secara konsep CKD, untuk menentukan derajat ( stage
) menggunakan terminology CCT ( clearance creatinin test ) dengan rumus stage 1 sampai
stage 5. sedangkan CRF ( cronic renal failure ) hanya 3 stage. Secara umum ditentukan klien
datang dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal stage bila menggunakan istilah
CRF.

B. Etiologi

1. Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis

2. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna,


stenosis arteria renalis

3. Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis


nodosa,sklerosis sistemik progresif
4. Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,asidosis tubulus
ginjal

5. Penyakit metabolik misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis

6. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal

7. Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis
netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, anomali
kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.

8. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis

C. Patofisiologi

Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus)
diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh
hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun
dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk
berfungsi sampai dari nefronnefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih
besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus.
Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai
retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan
muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% -
90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15
ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)

Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke
dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh.
Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala
uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).

D. Klasifikasi

Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :

o Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin serum normal dan
penderita asimptomatik.

o Stadium 2 : insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak, Blood Urea
Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat.

o Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia.

K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan


LFG :

o Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang
masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2
o Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89
mL/menit/1,73 m2

o Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2

o Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2

o Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal terminal.

E. Manifestasi Klinis

1. Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369):

a) Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang,
mudah tersinggung, depresi

b) Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas
baik waktu ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada
tapi mungkin juga sangat parah.

2. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi, (akibat retensi
cairan dan natrium dari aktivitas sisytem renin - angiotensin aldosteron), gagal jantung
kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada
lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot,
kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).

3. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:

a. Gangguan kardiovaskuler

Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac dan gagal
jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan edema.

b. Gannguan Pulmoner

Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara krekels.

c. Gangguan gastrointestinal

Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus,
perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas bau ammonia.

d. Gangguan muskuloskeletal

Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ), burning feet syndrom
( rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak kaki ), tremor, miopati ( kelemahan dan
hipertropi otot otot ekstremitas.

e. Gangguan Integumen
kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning kuningan akibat penimbunan urokrom,
gatal gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.

f. Gangguan endokrim

Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore.
Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin D.

g. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa

biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi,
asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.

h. System hematologi

anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan


eritopoesis pada sum sum tulang berkurang, hemolisis akibat berkurangnya masa hidup
eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan
trombositopeni.

F. Pemeriksaan Penunjang

Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu pemeriksaan


penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi antara lain :

1. Pemeriksaan lab.darah

- hematologi

- Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit

- RFT ( renal fungsi test )

- ureum dan kreatinin

- LFT (liver fungsi test )

- Elektrolit

- Klorida, kalium, kalsium

- koagulasi studi

- PTT, PTTK

- BGA

2. Urine

- urine rutin
- urin khusus : benda keton, analisa kristal batu

3. pemeriksaan kardiovaskuler

- ECG

- ECO

4. Radiagnostik

- USG abdominal

- CT scan abdominal

- BNO/IVP, FPA

- Renogram

- RPG ( retio pielografi )

G. Penatalaksanaan Keperawatan

Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu :

1. Konservatif

- Dilakukan pemeriksaan lab.darah dan urin

- Observasi balance cairan

- Observasi adanya odema

- Batasi cairan yang masuk

2. Dialysis

- peritoneal dialysis

biasanya dilakukan pada kasus kasus emergency.

- Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut adalah CAPD
( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis )

- Hemodialisis

Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin.
Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah
maka dilakukan :

- AV fistule : menggabungkan vena dan arteri


- Double lumen : langsung pada daerah jantung ( vaskularisasi ke jantung )

3. Operasi

- Pengambilan batu

- transplantasi ginjal

H. Pengkajian

1. Aktivitas / istirahat

Gejala : Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise, gangguan tidur (insomnia / gelisah atau
somnolen)

Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak

2. Sirkulasi

Gejala : riwayat hipertensi lama, atau berat, palpitasi, nyeri dada (angina)

Tanda : Hipertensi, nadi kuat,edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak,tangan,
disritmia jantung.

Nadi lemah halus,hipotensi ortostatik menunjukan hipovolemia, pucat, kecenderungan


perdarahan.

3. Integritas ego

Gejala : Factor stress, contoh financial, hubungan dan sebagainya, perasaan tak berdaya, tak
ada harapan, tak ada kekuatan.

Tanda : Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian

4. Eliminasi

Gejala : Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria, abdomen kembung, diare, atau
konstipasi.

Tanda : Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, cokelat,berawan, oliguria, dapat
menjadi anuria.

5. Makanan/ cairan

Gejala : Peningkatan berat badan cepat (edema), penuruna berat badan (malnutrisi),
anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap di mulut (pernapasan amonia),
penggunaan diuretic
Tanda : Distensi abdomen / asites, pembesaran hati,, perubahan turgor kulit / kelembaban,
edema (umum,tergantung), ulserasi gusi, perdarahan gusi / lidah, penurunan oto, penurunan
lemak subkutan, penampilan tak bertenaga.

6. Neurosensori

Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot/kejang, sindrom kaki gelisah,

Tanda : Gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan


berkosentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor, koma, rambut
tipis, kuku rapuh dan tipis.

7. Nyeri / kenyamanan

Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala ; kram otot/nyeri kaki (memburuk saat malam hari)

Tanda : Perilaku berhati-hati/ distraksi, gelisah.

8. Pernapasan

Gejala : napas pendek ; dispnea nocturnal paroksimal ; batuk dengan / tanpa sputum kental
dan banyak.

Tanda : Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman (pernapasan kusmaul), batuk


produktif dengan sputum merah muda encer (edema paru).

9. Keamanan

Gejala : Kulit gatal, ada/ berulangnya infeksi

Tanda : Pruritus, demam,(sepsis, dehidrasi), normotermia dapat secara actual terjdai


peningkatan pada pasie yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal., petechie,

10. Seksualitas

Gejala : Penurunan libido ; amenorea ; infertilitas

11. Interaksi social

Gejala : kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankn fungsi
peran biasanya dalam keluarga.

12. Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : riwayat DM keluarga (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis
herediter,kalkulus urinaria, malignasi, riwayat terpajan oleh toksin, contoh, obat, racun
lingkungan

I. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien CKD adalah:

1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urin, diet berlebih dan
retensi cairan serta natrium.

2. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah,
pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia,retensi produk sampah


danprosedur dialysis

4. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan


pada citra diri dan disfungsi seksual

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, dan program penanganan

J. Perencanaan

1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urin, diet berlebih dan
retensi cairan serta natrium.

Tujuan:

Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan

Intervensi:

a. Kaji status cairan ; timbang berat badan,keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit
dan adanya edema, distensi vena leher,tekanan darah, denyut dan irama nadi.

R: pengkajian merupakan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan


mengevaluasi intervensi.

b. Batasi masukan cairan

R: pembatasan cairan akan menentuka berat tubuh ideal, haluaran urin,dan respon terhadap
terapi.

c. Identifikasi sumber potensial cairan ; medikasi dan cairan yang digunakan untuk
pengobatan oral dan intravena, makanan.

R: sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi.

d. Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan

R:pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan.

e. Beritahu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan cairan

R: kenyamanan pasien meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan diet.


f. Tingkatkan dan dorong hygiene oral dengan sering

R: hygiene oral mengurangi kekeringan membrane mukosa mulut.

2. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah,
pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut.

Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat.

Intervensi:

a. Kaji status nutrisi ; perubahan berat badan, nilai laboratorium BUN,Kreatinin.

R: Menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi

b. Kaji pola diet nutrisi pasien ; riwayat diet, makanan kesukaan, hitung kalori.

R: pola diet dahulu dan sekarang dapat dipertimbangkan dalam menyusun menu.

c. Kaji factor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi ; anoreksia, mual atau muntah,
diet yang tidak menyenangkan bagi pasien, depresi,kurang memahami pembatasn
diet,stomatitis.

R: menyediakan informasi mengenai faktro lain yang dapat dirubah atau dihilangkan untuk
meningkatkan masukan oral.

d. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet.

R: Mendorong peningkatan masukan diet

e. Tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi telur, produk susu,
daging.

R: protein lengkapdiberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk


pertumbuhan dan penyembuhan.

f. Anjurkan camilan tinggi kalori, rendah protein, rendah natrium diantara waktu makan.

R: Mengurangimakanan dan protein yang dibatasi dan menyediakan kalori untuk energy,
membagi protein untuk pertumbuhan dan penyembuhan jaringan.

g. Jelaskan rasional pembatasan diet dan hubungannya dengan penyakit ginjal dan
peningkatan urea dan kadar kreatinin.

R:Meningkatkan pemahaman pasien tentang hubungan antara diet, urea,kadar kreatinin


dengan penyakit renal.

h. Ubah jadwal medikasi sehingga medikasi ini tidak segera diberikan sebelum makan

R: Ingesti medikasi sebelum makan menyebabkan anoreksia dan rasa kenyang.


i. Sediakan daftar makanan yang dianjurkan secara tertulis dan anjuran untuk memperbaiki
rasa tanpa menggunakan natrium atau kalium.

R:Daftar yang dibuat menyediakan pendekatan positif terhadap pembatasan diet dan
merupakan referensi untuk pasien dan keluarga yang dapat digunakan dirumah.

j. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan

R: Faktor yang tidak menyenangkan yang berperan dalam menimbulkan anoreksia


dihilangkan.

k. Timbang berat badan harian

R: Untuk memantau status cairan dan nutrisi.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia,retensi produk sampah


danprosedur dialysis

Tujuan: Berpartisipasi dalam dalam aktivitas yang dapat ditoleransi.

Intervensi:

a. Kaji factor yang menimbulkan keletihan ; anemia,ketidakseimbangan cairan dan


elektrolit,retensi produk sampah,depresi.

R: Menyediakan informasi tentang indikasi tingkat keletihan.

b. Tingkatkan kemndirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi ; bantu jika
keletihan terjadi.

R: Meningkatkan aktivitas ringan / sedang dan memperbaiki harga diri.

c. Anjurkan aktivitas alternative sambil istirahat.

R: Mendorong latihan dan aktivitas dalam batas-batas yang dapat ditoleransi dan istirahat
yang adekuat.

d. Anjurkan untuk istirahat setelah dialisis

R: Istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialysis, yang bagi banyak paisen sangat
melelahkan.

4. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan


pada citra diri dan disfungsi seksual.

Tujuan: Memperbaiki konsep diri

Intervensi:

a. Kaji respons dan reaksi pasien dan keluarga terhadap penyakit dan penanganan.
R: Menyediakan data tentang masalah pada pasien dan keluarga dalam menghadapi
perubahan perubahan dalam hidup.

b. Kaji hubungan antara pasien dengan anggota keluarga terdekat.

R: Penguatan dan dukungan terhadap pasien diidentifikasi

c. Kaji pola koping pasien dan anggota keluarga

R: Pola koping yang telah efektif dimasa lalu mungkin potensial destrukstif ketika
memandang pembatasan yan ditetapkan akibat penyakit dan penanganan.

d. Ciptakan diskusi terbuka tentang perubahan yang terjadi akibat penyakit dan penanganan ;
perubahan peran, perubahan gaya hidup, perubahan dalam pekerjaan, perubahan sekual,
ketergantungan pada tim tenaga kesehatan

R: Pasien dapat mengidentifikasi masalah dan langkah- langkah yang diperlukan untuk
menghadapinya.

e. Gali cara alternative untuk ekspresi seksual lain selain hubungan seksual.

R: Bentuk alternative ekspresi seksual dapat diterima.

f. Diskusikan peran member dan menerima cinta, kehangatan, dan kemesraan.

R: Seksualitas mempunyai arti yang berbeda bagi tiap individu, tergantung pada tahap
maturitansnya.

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, dan program penanganan berhungan dengan kurang
informasi.

Tujuan: Meningkatkan pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan yang bersangkutan.

Intervensi:

a. Kaji pemahaman mengenai penyebab gagal ginjal, konsekuensinya, dan penanganannya ;


penyebab gagal ginjal pasien, pengertian gagal ginjal, pemahaman mengenai fungsi renal,
hubungan antara cairan, pembatasan diet dengan gagal ginjal, rasional penanganan
(hemodialisis, dialysis peritoneal, transplantasi)

R: Merupakan instruksi dasar untuk penjelasan dan penyuluhan lebih lanjut.

b. Jelaskan fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan tingkat pemahaman dan
kesiapan pasien untuk belajar

R: Pasien dapat belajar tentang gagal ginjal dan penaganan setelah mereka siap untuk
memahami dan menerima diagnosis dan konsekuensinya.

c. Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat
penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya.
R: Pasien dapa melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat penyakit.

d. Sediakan informasi baik tertulis maupun secara oral dengan tepat tentang ; fungsi dan
kegagalan renal, pembatasan cairan dan diet, medikasi, melaporkan masalah, tanda dan
gejala, jadwal tindak lanjut, sumber di komunitas, pilihan terapi.

R: Pasien memiliki informasi yang dapat digunakan untuk klarifikasi selanjutnya di rumah.

K. Implementasi

Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien.


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana keperawatan
diantaranya :

Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi ; ketrampilan


interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang
tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon
pasien.

Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi yang
telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien
(Budianna Keliat, 1994,4).

L. Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana evaluasi adalah
kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan
anggota tim kesehatan lainnya.

Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan
tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US. Midar H, dkk,
1989).

Evaluasi pada klien dengan CKD, yaitu :

1. Berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan teratasi

2. Masukan nutrisi yang adekuat teratasi

3. Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi teratasi

4. Konsep diri teratasi

5. Pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan yang bersangkutan meningkat

DAFTAR PUSTAKA

Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk


Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid
3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan

Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses
Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC

Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.: Balai
Penerbit FKUI

Reaksi:

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home


Subscribe to: Post Comments (Atom)

Contact Form
Name

Email *

Message *

1
Blog Archive
2015 (73)

o November (73)

CONTOH ASKEP STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

contoh resume ibs


resume ibs

resume ibs catarak

resume sc

proposal terapi bermain

SAP perawatan luka

contoh analisis jurnal

PEDOMAN UNTUK PERAWAT

menilai GCS

LAPORAN RESUME KEPERAWATAN IBS

LAPORAN RESUME

LAPORAN RESUME RUANG IBS

MMD

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PRAKTIKUM EVIDENCE-BASE NURSING

INTEPRETASI EKG

Askep Keluarga

contoh analisis jurnal jiwa

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

pengkajian anak

contoh analisa data

resume ujian

pengjian

analisa data

implementasi
intervensi

HIPERTENSI

resume igd

resume igd

resume igd 3

resume igd 4

resume 5

resume igd 6

resume igd 7

resume 8

resume ujian

BROMAGE SCORE & ALDRETE SCORE

contoh askep gerontik

askep icu

pengkajian icu

analisa data icu

askep icu 2

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

ANALISA SINTESA TINDAKAN

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. D DENGAN POST


OPERASI ...

Pemberian o2 melalui kanul nasal

MEMANDIKAN PASIEN DIATAS TEMPAT TIDUR

leaflet
ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POST PARTUM

LAPORAN PENDAHULUAN PADA POST SC DENGAN


INDIKASI: ...

Mioma uteri

MASA NIFAS NORMAL

Pre eklamsia

MATERI PEMBELAJARAN ASI EKLUSIF

PATWAI POST SC

Pungsi Lumbal

SATUAN ACARA PENGAJARAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF

LAPORAN RESUME PADA KLIEN CRONIC KIDNEY DISEASE

PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN HEMODIALISA

ASUHAN KEPERAWATAN HEMODIALISA

LAPORAN PENDAHULUAN GAGAL GINJAL KRONIK /


CHRONIC ...

LAPORAN PENDAHULUAN CKD ( CHRONIC KIDNEY


DISEASE )...

laporan stase komunitas

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

ASUHAN KEPERAWATAN PRE-OPERASI Hemoroid

LAPORAN RESUME RUANG IBS

ibs bph

ibs catarak

LAPORAN RESUME RUANG IBS COMBUSTIO

PELATIHAN DASAR-DASAR BEDAH UMUM

SECTIO CAESAREA
Labels
analisa sintesa (2)

analisis jurnal (2)

askep anak (4)

bedah (1)

BROMAGE SCORE (1)

contoh proposal (1)

EVIDENCE-BASE NURSING (1)

gerontik (1)

HEMODIALISA (5)

ibs (6)

icu (7)

igd (13)

INTEPRETASI EKG (1)

jiwa (1)

keluarga (1)

KMB (5)

KOMUNITAS (3)

LAPORAN RESUME KEPERAWATAN IBS (3)

leaflet (1)

maternitas (8)

PEDOMAN UNTUK PERAWAT (2)


PELATIHAN DASAR-DASAR BEDAH UMUM (2)

satuan acara penyuluhan (3)

3
Popular Posts
contoh analisis jurnal

BAB I LATAR BELAKANG A. Latar belakang pemilihan jurnal Perawat memegang


peran penting dalam menentukan dan melaksanakan standar prak...

LAPORAN RESUME PADA KLIEN CRONIC KIDNEY DISEASE

LAPORAN RESUME PADA KLIEN CRONIC KIDNEY DISEASE DI RUANG


HEMODIALISA RSU D WATES Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Praktek Profe...

LAPORAN PENDAHULUAN PADA POST SC DENGAN INDIKASI: PEB,


LETAK MELINTANG DAN KPD

LAPORAN PENDAHULUAN PADA POST SC DENGAN INDIKASI: PEB,


LETAK MELINTANG DAN KPD 1. PENGERTIAN a. Sectio caesarea Sectio
caesarea adalah pemb...

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

LAPORAN ANALISA SINTESA TINDAKAN DI RUANG INTENSIVE CARE


UNIT (ICU) RSUD SLEMAN Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktek
Profe...

resume igd

Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Asma bronchial di Ruang IGD RS.
Panembahan senopati bantul A. PENGKAJIAN Sumber data : klien, rekam me...

SAP perawatan luka

SATUAN ACARA PENYULUHAN PERAWATAN LUKA POST OPERASI Disusun


oleh: PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS ANGKATAN IV SEKOLAH
TINGGI ILMU KESE...

Askep Keluarga

ASUHAN KEPERAWATAN PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN PADA


KELUARGA TN.A DENGAN ASAM URAT PADA NY A DI RT 05
KELURAHA N WIROKERTENKECAMATAN BA...
ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN EKG


( ELEKTROKARDIOGRAM ) 1. Tindakan Yang Dilakukan Melakukan pemsangan
EKG (elektrokardiogram), ele...

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF Nama Mahasiswa : edy


pratomo Tempat Praktek : Ruang IBS RSUD Wates Tanggal Praktek : 5...

SATUAN ACARA PENGAJARAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF

SATUAN ACARA PENGAJARAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF Pada Ibu


Menyusui Di Ruang Melati 1 RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tugas Kelompok
...

danate

2
Total Pageviews

Laman
Home

Privacy Policy for artikel kesehatan

Disclaimer for artikel kesehatan

contact me

CHILDRENS ONLINE PRIVACY PROTECTION

TOS/T&C HTML

Translate
Pages
Home

e'ed. Simple template. Powered by Blogger.