Anda di halaman 1dari 22

LO.

1 Memahami dan Menjelaskan Limfadenopati

1.1 Definisi limfadenopati

Limfadenopati merupakan pembesaran kelenjar getah bening dengan ukuran


lebih besar dari 1 cm. Kepustakaan lain mendefinisikan limfadenopati sebagai
abnormalitas ukuran atau karakter kelenjar getah bening. Terabanya kelenjar getah
bening supraklavikula, iliaka, atau poplitea dengan ukuran berapa pun dan terabanya
kelenjar epitroklear dengan ukuran lebih besar dari 5 mm merupakan keadaan
abnormal
Limfadenopati adalah suatu tanda dari infeksi berat dan terlokalisasi (Tambayong,
2000; 52).
Limfadenopati adalah digunakan untuk menggambarkan setiap kelainan kelenjar
limfe (Price, 1995; 40).
1.2 Etiologi limfadenopati
Peningkatan jumlah limfosit makrofag jinak selama reaksi terhadap antigen.
Infiltrasi oleh sel radang pada infeksi yang menyerang kelenjar limfe.
Proliferasi in situ dari limfosit maligna atau makrofag.
Infiltrasi kelenjar oleh sel ganas metastatik.
Infiltrasi kelenjar limfe oleh makrofag yang mengandung metabolit dalam
penyakit cadangan lipid.
(Harrison, 1999; 370)
Penyebab yang paling sering limfadenopati adalah:
Infeksi
- Infeksi virus
Infeksi yang disebabkan oleh virus pada saluran pernapasan bagian atas seperti
Rinovirus, Parainfluenza Virus, influenza Virus, Respiratory Syncytial Virus (RSV),
Coronavirus, Adenovirus ataupun Retrovirus. Virus lainnya Ebstein Barr Virus
(EBV), Cytomegalo Virus (CMV), Rubela, Rubeola, Varicella-Zooster Virus, Herpes
Simpleks Virus, Coxsackievirus, dan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
- Infeksi bakteri
Peradangan KGB (limfadenitis) dapat disebabkan Streptokokus beta hemolitikus
Grup A atau stafilokokus aureus. Bakteri anaerob bila berhubungan dengan caries
dentis dan penyakit gusi, radang apendiks atau abses tubo-ovarian.
Keganasan
Keganasan seperti leukemia, neuroblastoma, rhabdomyo-sarkoma dan limfoma juga
dapat menyebabkan limfadenopati. Diagnosis defenitif suatu limfoma membutuhkan
tindakan biopsi eksisi,
Penyakit lain
Penyakit lainnya yang salah satu gejalanya adalah limfadenopati adalah penyakit Kawasaki,
penyakit Kimura, penyakit Kikuchi, penyakit Kolagen, penyakit Cat-scratch, penyakit
Castleman, Sarcoidosis, Rhematoid arthritis dan Sisestemic lupus erithematosus
(SLE).
Obat-obatan dan Imunisasi
Obat-obatan dapat menyebabkan limfadenopati generalisata.Limfadenopati
dapat timbul setelah pemakaian obat-obatan seperti fenitoin dan isoniazid. Obat-obatan

1
lainnya seperti allupurinol, atenolol, captopril, carbamazepine, cefalosporin, emas,
hidralazine, penicilin, pirimetamine, quinidine, sulfonamida, sulindac.
Imunisasi dilaporkan juga dapat menyebabkan limfadenopati di daerah leher, seperti
setelah imunisasi DPT, polio atau tifoid.
Etiologi limfadenopati
1. Infeksi atau radang
a. Limfadenitis non spesifik akut
Drainase mikroba langsung pada leher. Contonya adalah infeksi gigi dan tonsil.
Jika sudah sistemik biasanya disebabkan Karen infeksi virus atau bakteri,
terutama pada anak-anak.
Gambaran dari limfadenitis ini limfonodus membengkak,abu-abu
kemerahan,lunak, terdapat fluktuasi seperti abses. Hasil akhir dari limfadenitis ini
meninggalkan jaringan parut.
b. Limfadenitis non spesifik kronik
Dibagi menjadi 3 kelompok :
1. Hiperplasia folikular
Proses yang mengaktivasi sel humoral (sel B).
Memiliki 2 zona yakni : zona gelap yang terdiri dari sel blas (sentroblas) dan
zona terang yang terdiri dari sel B yang berinti irregular (sentrosit).
Hyperplasia ini biasanya disebabkan oleh rheumatoid arthritis, toksoplamosis,
dan HIV.
2. Hiperplasia retikular (histiositosis sinus)
Pelebaran dan penonjolan sinusoid limfatik akibat hipertropi sel endothelial
dan infiltrasi histiosit. Lokasi yang sering terkena adalah kelenjar limfe yang
mendrainase kanker.
3. Hiperplasia limfoid parakortikal
Disebabkan oleh proses yang mengaktivasi respon imun seluler (sel T).
manifestasi khas dari hyperplasia ini adalah adanya perubahan reaktif sel T
menjadi imunoblas. Etiologi tersering dari hyperplasia limfoid parakortikal
adalah disebabkan karena infeksi virus, pasca vaksinasi, san induksi obat
tertentu misalnya fenitoin dan dilantin.
c. Limfadenitis spesifik kronik (limfadenitis tuberkulosis)
Limfadenitis tuberkulosis merupakan peradangan kelenjar getah bening yang
disebabkan spesies Mycobacterium tuberculosis sehingga dikatakan limfadenitis
spesifik. Limfadenitis TB dalam mikroskopis tampak kumpulan sel epiteloid
dikelilingi oleh limfosit membentuk tubercle (soft maupun hard tubercle)
disertai nekrosis kaseosa pada daerah tengah dari soft tubercle. Terdapat sel datia
langhans (tapal kuda) dan banyak infiltrasi sel-sel radang mononuklear (MN).
Makroskopik :Berwarna putih kecoklatan, konsistensi lunak, pada penampang
tampak bagian yang nekrosis
Mikroskopik :Sediaan kelenjar getah bening dengan kapsul jaringan ikat fibrosa
yang menebal. Tampak tuberkel-tuberkel dari sel-sel epiteloid, sebagian dengan
nekrosis sentral serta nekrosis luas. Tampak pula sebukan sel-sel radang menahun
dan sel datia Langhans.

2. Neoplasma
Memiliki 3 kelompok besar :
a. Limfoma

2
Sekelompok penyakit yang disebabkan oleh limfosit ganas yang menumpuk di
kelenjar limfe dan menyebabkan klinis khas berupa limfadenopati.
1. Limfoma malignum
Lesi tumor kohesif yang tersusun terutama oleh limfosit neoplastik di jaringan
limfoid.
a. Limfoma Hodgkin
Penyakit ini menyerang jaringan limfoid, biasanya di kelenjar limfe atau
limpa.Penyakit kanker kelenjar getah bening Hodgkin ini merupakan salah
satu jenis penyakit kanker yang paling sering ditemukan pada pria yang
masuh berusia muda. Kejadian penyakit ini bisa mencapai puncaknya yang
kedua dalam decade keenam kehidupan. Penyakit limfoma Hodgkin
merupakan salah satu kejadian atau gangguan dalam bentuk klonal, yang
berasal dari satu sel yang tidak normal atau abnormal. Populasi yang
terjadi dari sel abnormal ini nampak diturunkan dari sel B atau yang lebih
jarang, dari sel T atau monosit.
Limfoma Hodgkin memiliki beberapa subtipe klasik :
1. Nodular sclerosis
2. Mixed cellularity
3. Lymphocyte rich
4. Lymphocyte depletion
5. Lymphocyte predominanc
b. Limfoma Non-Hodgkin
Penyakit kanker kelenjar getah bening limfoma non Hodgkin adalah
penyakit kanker kelenjar getah bening yang bukan limfoma Hodgkin.
Limfoma non-Hodgkin ini biasanya terjadi pada individu yang lebih lanjut
dan biasanya ditemukan pada stadium lanjut dari penyakit limfoma
Hodgkin. Penyakit limfoma non-Hodgkin ini tidak terbatas hanya pada
satu kelompok kelenjar limfe saja seperti limfoma Hodgkin, namun lebih
bersifat difus atau menyebar luas melalui organ limfoid, dan termasuk
kelenjar limfe, hati, limpa dan juga sumsum tulang.
Limfoma non hogkin memiliki derajat dalam prognosisnya :
1. Derajat rendah
Derajat yang masih baik dalam kemoterapi tetapi sulit untuk
disembuhkan.
2. Derajat tinggi
Derajat ang memerlukan terapi segera dan lebih mudah untuk
disembukan.

2. Leukemia dan mieloproliferatif


Neoplasma stem cell hematopoetik yang terjadi di sum-sum tulang secara
sekunder masuk ke peredaran darah atau organ.
3. Histiositois
Lesi proliferative sel-sel histiosit dan Langerhans.

5. Auto imun
Bisa disebabkan oleh SLE, rheumatoid arthritis, dermatomyositis, dan
sindrom sjogren
6. Laterogenik

3
Disebabkan karena serum sickness dan obat-obatan.

1.3 Epidemiologi limfadenopati

Insiden limfadenopati belum diketahui dengan pasti. Sekitar 38% sampai 45%
pada anak normal memiliki KGB daerah servikal yang teraba. Limfadenopati adalah
salah satu masalah klinis pada anak-anak. Pada umumnya limfadenopati pada anak
dapat hilang dengan sendirinya apabila disebabkan infeksi virus.
Studi yang dilakukan di Amerika Serikat, pada umumnya infeksi virus ataupun
bakteri merupakan penyebab utama limfadenopati. Infeksi mononukeosis dan
cytomegalovirus (CMV) merupakan etiologi yang penting, tetapi kebanyakan
disebabkan infeksi saluran pernafasan bagian atas. Limfadenitis lokalisata lebih
banyak disebabkan infeksi Staphilococcus dan Streptococcus beta-hemoliticus.
Dari studi yang dilakukan di Belanda, ditemukan 2.556 kasus limadenopati
yang tidak diketahui penyebabnya. Sekitar 10% kasus diantaranya dirujuk ke
subspesialis, 3,2% kasus membutuhkan biopsi dan 1.1% merupakan suatu keganasan.
Penderita limfadenopati usia >40 tahun memiliki risiko keganasan sekitar 4%
dibandingkan dengan penderita limfadenopati usia <40 tahun yang memiliki risiko
keganasan hanya sekitar 0,4%.

1.4 Klasifikasi limfadenopati

Berdasarkan luas limfadenopati


1. Generalisata : Limfadenopati pada 2 atau lebih regio anatomi yang
berbeda.Limfadenopati generalisata yang persisten (persistent generalized
lymphadenopathy/PGL) adalah limfadenopati pada beberapa kelenjar getah
bening yang bertahan lama. PGL adalah gejala khusus infeksi HIV yang timbul
pada lebih dari 50% Odha dan sering disebabkan oleh infeksi HIV sendiri.
Batasan limfadenopati pada infeksi HIV adalah sbb:Melibatkan sedikitnya dua
kelompok kelenjar getah bening. Sedikitnya dua kelenjar yang simetris
berdiameter lebih dari 1cm dalam setiap kelompok, Berlangsung lebih dari satu
bulan &Tidak ada infeksi lain yang menyebabkannya Pembengkakan kelenjar
getah bening ini bersifat tidak sakit, simetris (kiri-kanan sama), dan kebanyakan
terdapat di leher bagian belakang dan depan, di bawah rahang bawah, di ketiak
serta di tempat lain, tidak termasuk kunci paha. Biasanya kulit pada kelenjar yang
bengkak karena PGL akibat HIV tidak berwarna merah.

2. Lokalisata : Limfadenopati pada 1 regio.

Berdasarkan lokasi limfadenopati

4
1. Limfadenopati epitroklear
Terabanya kelenjar getah bening epitroklear selalu patologis. Penyebabnya
meliputi infeksi di lengan bawah atau tangan, limfoma,sarkoidosis, tularemia, dan
sifilis sekunder.

2. Limfadenopati aksila
Sebagian besar limfadenopati aksila disebabkan oleh infeksi atau jejas pada
ekstremitas atas. Adenokarsinoma payudara sering bermetastasis ke kelenjar getah
bening aksila anterior dan sentral yang dapat teraba sebelum ditemukannya tumor
primer. Limfoma jarang bermanifestasi sejak awal atau, kalaupun bermanifestasi,
hanya di kelenjar getah bening aksila. Limfadenopati antekubital atau epitroklear
dapat disebabkan oleh limfoma atau melanoma di ekstremitas, yang bermetastasis
ke kelenjar getah bening ipsilateral.

Gambar 1.4.1 : Limfadenopati Aksila


3. Limfadenopati supraklavikula
Limfadenopati supraklavikula mempunyai keterkaitan erat dengan keganasan.
Padapenelitian, keganasan ditemukan pada 34% dan 50% penderita. Risiko
palingt inggi ditemukan pada penderita di atas usia 40 tahun.Limfadenopati
supraklavikula kanan berhubungan dengan keganasan di mediastinum, paru, atau
esofagus. Limfadenopati supraklavikula kiri (nodus Virchow) berhubungan
dengan keganasan abdominal (lambung, kandung empedu, pankreas, testis,
ovarium, prostat).
4. Limfadenopati inguinal
Limfadenopati inguinal sering ditemukan dengan ukuran 1-2 cm pada orang
normal,terutama yang bekerja tanpa alas kaki. Limfadenopati reaktif yang jinak
dan infeksi merupakan penyebab tersering limfadenopati inguinal. Limfadenopati
inguinal jarang disebabkan oleh keganasan. Karsinoma sel skuamosa pada penis
dan vulva, limfoma, serta melanoma dapat disertai limfadenopati inguinal.
Limfadenopati inguinal ditemukan pada 58% penderita karsinoma penis atau
uretra.

5
Gambar 1.4.2 : Limfadenopati Inguinal
5. Limfadenopati generalisata
Limfadenopati generalisata lebih sering disebabkan oleh infeksi serius, penyakit
autoimun, dan keganasan, dibandingkan dengan limfadenopati lokalisata.
Penyebab jinak pada anak adalah infeksi adenovirus. Limfadenopati generalisata
dapat disebabkan oleh leukemia, limfoma, atau penyebaran kanker padat stadium
lanjut. Limfadenopati sumber keganasan primer yang mungkin bermetastasis ke
kelenjar getah bening tersebut dan tindakan diseksi leher.
6. Limfadenopati Servikal

Gambar 1.4.3 : Limfadenopati Servikal


1.5 Manifestasi Klinis limfadenopati
Tanda dan gejala secara umum:
1. Demam berkepanjangan dengan suhu lebih dari 38 oC.
2. Sering keringat malam.
3. Kehilangan berat badan lebih dari 10% dalam 6 bulan.
4. Timbul benjolan di bagian leher.

6
Tabel 2 : Manifestasi klinis limfadenopati
Penyebab Karakteristik Diagnostik
Keganasan
- Limfoma Demam, keringat malam, Biopsi kelenjar
penurunanberat badan,
asimptomatik

- Leukemia Memar, splenomegali Pemeriksaan hematologi,


aspirasi
sumsum tulang
- Neoplasma kulit Lesi kulit karakteristik
Biopsi lesi
- Sarkoma Kaposi Lesi kulit karakteristik
Biopsi lesi
- Metastasis Bervariasi tergantung tumor
primer Biopsi

Infeksi
- Bruselosis Demam, menggigil, malaise
Kultur darah, serologi
- Cat-scratch disease Demam, menggigil, atau
asimptomatik Diagnosis klinis, biopsi

- CMV Hepatitis, pneumonitis,


asimptomatik, Antibodi CMV, PCR
infl uenza-like illness

- HIV, infeksi primer Nyeri, promiskuitas seksual


HIV RNA
- Limfogranuloma Demam, malaise, splenomegali
venereum Diagnosis klinis, titer MIF

- Mononukleosis Demam, eksudat orofaringeal


Pemeriksaan hematologi,
Monospot,
- Faringitis Ruam karakteristik, demam serologi EBV

- Rubela Demam, keringat malam, Kultur tenggorokan


hemoptisis,
riwayat kontak Serologi

- Tuberkulosis Demam, ulkus pada tempat


gigitan
- Tularemia PPD, kultur sputum, foto
Demam, konstipasi, diare, sakit toraks

7
kepala,nyeri perut, rose spot
Kultur darah, serologi
- Demam tifoid Ruam, ulkus tanpa nyeri

- Sifilis Demam, mual, muntah, diare,


ikterus Kultur darah, kultur sumsum
tulang
- Hepatitis virus Artritis, nefritis, anemia, ruam,
penurunan berat badan Rapid plasma reagin

Autoimun Serologi hepatitis, uji fungsi


- Lupus eritematosus Artitis simetris, kaku pada pagi hati
sistemik hari, demam

- Artritis reumatoid Perubahan kulit, kelemahan otot


Proksimal
Klinis, ANA,ds DNA, LED,
- Dermatomiositis Keratokonjungtivitis, gangguan hematologi
ginjal, vaskulitis
Klinis, radiologi, faktor
- Sindrom Sjogren Demam, konjungtivitis, reumatoid, LED,Hematologi
strawberry
Tongue EMG, kreatin kinase serum,
Lain-lain/kondisi biopsi otot
tak-lazim
- Penyakit Kawasaki Perubahan kulit, dispnea, Uji Schimmer, biopsi bibir,
adenopati LED,
Hilar Hematologi

- Sarkoidosis Demam, urtikaria, fatigue

Iatrogenik Kriteria klinis


- Serum sickness Limfadenopati asimptomatik

- Obat
ACE serum, foto toraks,
biopsi paru/
kelenjar hilus

Klinis, kadar komplemen

Penghentian obat

Manifestasi klinis lain :

1. Saluran nafas : Batuk lama atau lebih 2 minggu hilang timbul, asma, sering batuk
kecil atau berdehem, sering menarik napas dalam.

8
2. Hidung,telinga, dan tenggorokan : Pilek lama lebih dari 2 minggu hilang timbul, bila
pilek lama sering disertai sakit telingasering bersin, hidung buntu, terutama malam
dan pagi hari. mimisan, sinusitis, hidung sering gatal digosok-gosok atau hidung
sering digerak-gerakkan rabbit nose. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau,
sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna). Telinga sering berdengung atau gemuruk .

3. Kulit : Kulit timbul bisul, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit
nyamuk. Timbul warna putih pada kulit seperti panu. Perioral dermatitis timbul
bintil kemerahan atau jerawat di sekitar mulut. Dipinggir kuku kulit sering terkelupas,
kulit dibawah kuku bengkak bahkan sampai terlepas (paronichia) Sering menggosok
mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal.

4. Saluran cerna : Mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak. mual pagi
hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi),
kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di
celana. Sering kembung, sering buang angin dan bau tajam. Sering nyeri perut.
Kadang nyeri di daerah kantung empedu. Waspadai bila nyeri perut hebat bila divonis
usus buntu harus segera second opinion ke dokter lain. Sering salah diagnosis karena
gejala mirip.

5. Gigi dan mulut : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah
bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering sariawan, lidah putih &
berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.

6. Pembuluh darah vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : Sering lebam kebiruan
pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah
pingsan, tekanan darah rendah.

7. Otot dan tulang : Nyeri kaki atau kadang tangan, sering minta dipijat terutama saat
malam hari. Kadang nyeri dada. Kadang otot sekitar rahang atas dan rahang bawah
kaku bila mengunyah terganggu, bila tidur gigi sering gemeretak, Otot di leher
belakang dan punggung sering kaku dan nyeri

8. Saluran kencing : Sering minta kencing (semalam ngompol 2-3 kali)

9. Mata : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area
bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.

10. Hormonal : Rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan


pertumbuhan tinggi badan. Gangguan pada dewasa : rambut rontok, Prementrual
Syndrome (gangguan saat menstruasi), jerawat

11. Mengalami gizi ganda : Bisa kurus, sulit naik berat badan atau kegemukan. Pada
kesulitan kenaikkan erat badan sering disertai kesulitamn makan dan nafsu makan
kurang. Sebaliknya pada kegemukan sering mengalami nafsu makan berlebihan

12. Kesulitan makan dan gangguan makan : Nafsu makan buruk atau gangguan
mengunyah menelan

9
13. Kepala,telapak kaki atau tangan sering teraba hangat : Berkeringat berlebihan meski
dingin (malam atau ac). Keringat berbau.

14. Fatique atau kelelahan : Mudah lelah, sering minta gendong, Pada dewasa sering
mengeluh capek

15. Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2
kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali). Karena sering sakit berakibat
tonsilitis kronis

1.6 Patofisiologi limfadenopati

Patofisiologi limfadenopati berbeda pada setiap etiologi, yang paling sering


menimbulkan limfadenopati adalah akibat infeksi atau radang baik yang bersifat spesifik
maupun non spesifik dan neoplasma, walaupun autoimun dan penyakit- penyakit lain juga
bisa mengakibatkan limfadenopati.
Limfonodus adalah suatu kelenjar getah bening dimana dikelilingi oleh suatu jaringan
ikat fibrosa yang berisi sel-sel imunitas tubuh. Sel imunitas tersebut dapat dirangsang
oleh antigen dari luar, contohnya adalah trauma , dimana antigen tersebut akan mengikuti
aliran pembuluh darah limfe dan akan diteruskan ke kelenjar getah bening yang
mengakibatkan pembesaran pada kelenjar tersebut. Pembesaran itu bisa berupa benjolan,
keganasan, atau pembengkakan. Jika pembesaran tersebut disebabkan oleh infeksi atau
peradangan, sistem limfatik lah yang berperan pada reaksi peradangan tersebut . Biasanya
ada penembusan cairan interstisial ke dalam saluran limfe. Bila daerah terkena radang,
biasanya terjadi kenaikan yang mencolok pada aliran limfe dari daerah tersebut. Telah
diketahui bahwa dalam perjalanan peradangan akut, lapisan pembatas pembuluh limfe
yang terkecil agak meregang, sama seperti yang terjadi pada venula, dengan demikian
memungkinkan lebih banyak bahan interstisial yang masuk kedalam pembuluh limfe.
Bagaimanapun juga, selama peradangan akut tidak hanya aliran limfe yang bertambah,
tetapi kandungan protein dan sel dari cairan limfe juga bertambah.
Apabila limfadenopati tersebut disebabkan karena infeksi spesifik dalam hal ini
karena infeksi tuberkulosis.
1. TB primer terjadi pada saat seseorang pertama kali terpapar terhadap basil
tuberkulosis. Basil TB ini masuk ke paru dengan cara inhalasi droplet. Sampai di

10
paru,basil TB ini akan difagosit oleh makrofag dan akan mengalami dua
kemungkinan. Pertama, basil TB akan mati difagosit oleh makrofag. Kedua, basil TB
akan dapat bertahan hidup dan bermultiplikasi dalam makrofag sehingga basil TB
akan dapat menyebar secara limfogen, perkontinuitatum, bronkogen, bahkan
hematogen. Penyebaran basil TB ini pertama sekali secara limfogen menuju kelenjar
limfe regional di hilus, dimana penyebaran basil TB tersebut akan menimbulkan
reaksi inflamasi di sepanjang saluran limfe (limfangitis) dan kelenjar limfe regional
(limfadenitis).
2. Basil TB juga dapat menginfeksi kelenjar limfe tanpa terlebih dahulu menginfeksi
paru. Basil TB ini akan berdiam di mukosa orofaring setelah basil TB masuk melalui
inhalasi droplet. Di mukosa orofaring basil TB akan difagosit oleh makrofag dan
dibawa ke tonsil, selanjutnya akan dibawa ke kelenjar limfe di leher
Limfadenopati tuberkulosis perifer dapat diklasifikasikan ke dalam lima stadium
yaitu:
a) Stadium 1 :Pembesaran kelenjar yang berbatas tegas, mobile dan diskret.
b) Stadium 2 :Pembesaran kelenjar yang kenyal serta terfiksasi ke jaringan sekitar
oleh karena adanya periadenitis.
c) Stadium 3 :Perlunakan di bagian tengah kelenjar (central softening) akibat
pembentukan abses.
d) Stadium 4 :Pembentukan collar-stud abscess.
e) Stadium 5 :Pembentukan traktus sinus
Selain kerena infeksi limfadenopati juga disebabkan karena keganasan, apabila
cairan dari benjolan tersebut pecah, maka akan sistemik atau ke seluruh tubuh ,
apabila sampai ke kelenjar limfe akan menyebabkan limfoma. Limfoma adalah
sekelompok penyakit yang disebabkan oleh limfosit ganas yang menumpuk di
kelenjar limfe dan menyebabkan klinis khas berupa limfadenopati.
1.7 Diagnosis dan diagnosis banding limfadenopati

Diagnosis
Diagnosis limfadenopati memerlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang apabila diperlukan.
a. Anamnesis
Umur penderita dan lamanya limfadenopati
Kemungkinan penyebab keganasan sangat rendah pada anak dan meningkat seiring
bertambahnya usia. Kelenjar getah bening teraba pada periode neonatal dan sebagian
besar anak sehat mempunyai kelenjar getah bening servikal, inguinal, dan aksila yang
teraba. Sebagian besar penyebab limfadenopati pada anak adalah infeksi atau penyebab
yang bersifat jinak.
Berdasarkan sebuah laporan, dari 628 penderita yang menjalani biopsi karena
limfadenopati, penyebab yang jinak dan swasirna (self-limiting) ditemukan pada 79%

11
penderita berusia kurang dari 30 tahun, 59% penderita antara 31-50 tahun, dan 39%
penderita di atas 50 tahun.
Di sarana layanan kesehatan primer, penderita berusia 40 tahun atau lebih dengan
limfadenopati mempunyai risiko keganasan sekitar 4%. Pada usia di bawah 40 tahun,
risiko keganasan sebagai penyebab limfadenopati sebesar 0,4%.2 Limfadenopati yang
berlangsung kurang dari 2 minggu atau lebih dari 1 tahun tanpa progresivitas ukuran
mempunyai kemungkinan sangat kecil bahwa etiologinya adalah keganasan.
Lokasi
Lokasi pembesaran KGB pada dua sisi leher secara mendadak biasanya disebabkan
oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada infeksi oleh penyakit kawasaki
umumnya pembesaran KGB hanya satu sisi saja. Apabila berlangsung lama (kronik)
dapat disebabkan infeksi oleh Mycobacterium, Toksoplasma, Epstein Barr Virus atau
Citomegalovirus.
Gejala penyerta
Gejala konstitusi, seperti fatigue, malaise, dan demam, sering menyertai
limfadenopat servikal dan limfositosis atipikal pada sindrom mononukleosis. Demam,
keringat malam, dan penurunan berat badan lebih dari 10% dapat merupakan gejala
limfoma B symptom. Pada limfoma Hodgkin, B symptom didapatkan pada 8% penderita
stadium I dan 68% penderita stadium IV. B symptom juga didapatkan pada10%
penderita limfoma non-Hodgkin. Gejala artralgia, kelemahan otot, atau ruam dapat
menunjukkan kemungkinan adanya penyakit autoimun, seperti artritis reumatoid, lupus
eritematosus, atau dermatomiositis. Nyeri pada limfadenopati setelah penggunaan
alkohol merupakan hal yang jarang, tetapi spesifik untuk limfoma Hodgkin.
Demam, nyeri tenggorok dan batuk mengarahkan kepada penyebab infeksi saluran
pernapasan bagian atas. Demam, keringat malam dan penurunan berat badan mengarah
kepada infeksi tuberkulosis atau keganasan. Demam yang tidak jelas penyebabnya, rasa
lelah dan nyeri sendi meningkatkan kemungkinan oleh penyakit kolagen atau penyakit
serum (serum sickness), ditambah adanya riwayat pemakaian obat-obatan atau produk
darah.
Riwayat penyakit
Riwayat penyakit sekarang dan dahulu seperti adanya peradangan tonsil
sebelumnya, mengarahkan kepada infeksi oleh Streptococcus, luka lecet pada wajah
atau leher atau tanda-tanda infeksi mengarahkan penyebab infeksi Staphylococcus, dan
adanya infeksi gigi dan gusi juga dapat mengarahkan kepada infeksi bakteri anaerob.
Transfusi darah sebelumnya dapat mengarahkan kepada Citomegalovirus, Epstein Barr
Virus atau HIV.
Riwayat pemakaian obat
Limfadenopati dapat timbul setelah pemakaian obat-obatan seperti fenitoin dan
isoniazid. Obat-obatan lainnya seperti allupurinol, atenolol, captopril, carbamazepine,
cefalosporin, emas, hidralazine, penicilin, pirimetamine, quinidine, sulfonamida,
sulindac. Pembesaran karena obat umumnya seluruh tubuh (limfadenopati
generalisata).

12
Riwayat pekerjaan
Paparan terhadap infeksi paparan/kontak sebelumnya kepada orang dengan infeksi
saluran napas atas, faringitis oleh Streptococcus, atau tuberculosis turut membantu
mengarahkan penyebab limfadenopati. Riwayat perjalanan atau pekerjaan, misalnya
perjalanan ke daerah-daerah di Afrika dapat mengakibatkan penyakit Tripanosomiasis,
orang yang bekerja dalam hutan dapat terkena Tularemia.
Pajanan
Anamnesis pajanan penting untuk menentukan penyebab limfadenopati. Pajanan
binatang dan gigitan serangga, penggunaan obat, kontak penderita infeksi dan riwayat
infeksi rekuren penting dalam evaluasi limfadenopati persisten. Pajanan setelah
bepergian dan riwayat vaksinasi penting diketahui karena dapat berkaitan dengan
limfadenopati persisten, seperti tuberkulosis, tripanosomiasis, scrub typhus,
leishmaniasis, tularemia, bruselosis, sampar, dan anthrax. Pajanan rokok, alkohol, dan
radiasi ultraviolet dapat berhubungan dengan metastasis karsinoma organ dalam, kanker
kepala dan leher, atau kanker kulit. Pajanan silikon dan berilium dapat menimbulkan
limfadenopati.
Riwayat kontak seksual penting dalam menentukan penyebab limfadenopati inguinal
dan servikal yang ditransmisikan secara seksual. Penderita acquired immunodeficiency
syndrome (AIDS) mempunyai beberapa kemungkinan penyebab limfadenopati, risiko
keganasan, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma maligna non-Hodgkin meningkat pada
kelompok ini. Riwayat keganasan pada keluarga, seperti kanker payudara atau familial
dysplastic nevus syndrome dan melanoma, dapat membantu menduga penyebab
limfadenopati.
b. Pemeriksaan Fisik
Karakter dan ukuran kelenjar getah bening
Secara umum malnutrisi atau pertumbuhan yang terhambat mengarahkan kepada
penyakit kronik seperti tuberkulosis, keganasan atau gangguan sistem kekebalan tubuh.
Karakteristik dari kelenjar getah bening dan daerah sekitarnya harus diperhatikan.
Kelenjar getah bening harus diukur untuk perbandingan berikutnya. Harus dicatat ada
tidaknya nyeri tekan, kemerahan, hangat pada perabaan, dapat bebas digerakkan atau
tidak dapat digerakkan, apakah ada fluktuasi, konsistensi apakah keras atau kenyal.
1. Ukuran: normal bila diameter 0,5 cm dan lipat paha >1,5 cm dikatakan abnormal.
2. Nyeri tekan: umumnya diakibatkan peradangan atau proses perdarahan.
3. Konsistensi: keras seperti batu mengarah kepada keganasan, padat seperti karet
mengarah kepada limfoma, lunak mengarahkan kepada proses infeksi, fluktuatif
mengarah kepada terjadinya abses/pernanahan.
4. Penempelan/bergerombol: beberapa KGB yang menempel dan bergerak bersamaan
bila digerakkan, dapat terjadi akibat tuberkulosis, sarkoidosis atau keganasan.

Kelenjar getah bening yang keras dan tidak nyeri meningkatkan kemungkinan
penyebab keganasan atau penyakit granulomatosa. Limfoma Hodgkin tipe sklerosa
nodular mempunyai karakteristik terfiksasi dan terlokalisasi dengan konsistensi kenyal.
Limfadenopati karena virus mempunyai karakteristik bilateral, dapat digerakkan, tidak
nyeri, dan berbatas tegas. Limfadenopati dengan konsistensi lunak dan nyeri biasanya

13
disebabkan oleh inflamasi karena infeksi. Pada kasus yang jarang, limfadenopati yang
nyeri disebabkan oleh perdarahan pada kelenjar yang nekrotik atau tekanan dari kapsul
kelenjar karena ekspansi tumor yang cepat.
Pada umumnya, kelenjar getah bening normal berukuran sampai diameter 1 cm,
tetapi beberapa penulis menyatakan bahwa kelenjar epitroklear lebih dari 0,5 cm atau
kelenjar getah bening inguinal lebih dari 1,5 cm merupakan hal abnormal. Terdapat
laporan bahwa pada 213 penderita dewasa, tidak ada keganasan pada penderita dengan
ukuran kelenjar dibawah 1 cm, keganasan ditemukan pada 8% penderita dengan ukuran
kelenjar 1-2,25 cm dan pada 38% penderita dengan ukuran kelenjar di atas 2,25 cm.
Pada anak, kelenjar getah bening berukuran lebih besar dari 2 cm disertai gambaran
radiologi toraks abnormal tanpa adanya gejala kelainan telinga, hidung, dan
tenggorokan merupakan gambaran prediktif untuk penyakit granulomatosa
(tuberkulosis, catscratchdisease, atau sarkoidosis) atau kanker (terutama limfoma).
Tidak ada ketentuan pasti mengenai batas ukuran kelenjar yang menjadi tanda
kecurigaan keganasan. Ada laporan bahwa ukuran kelenjar maksimum 2 cm dan 1,5 cm
merupakan batas ukuran yang memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan ada
tidaknya keganasan dan penyakit granulomatosa

c. Biopsi kelenjar
Jika diputuskan tindakan biopsi, idealnya dilakukan pada kelenjar yang paling besar,
paling dicurigai, dan paling mudah diakses dengan pertimbangan nilai diagnostiknya.
Kelenjar getah bening inguinal mempunyai nilai diagnostik paling rendah. Kelenjar
getah bening supraklavikular mempunyai nilai diagnostik paling tinggi. Meskipun
teknik pewarnaan imunohistokimia dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifi sitas
biopsi aspirasi jarum halus, biopsi eksisi tetap merupakan prosedur diagnostik terpilih.
Adanya gambaran arsitektur kelenjar pada biopsi merupakan hal yang penting untuk
diagnostik yang tepat, terutama untuk membedakan limfoma dengan hiperplasia reaktif
yang jinak.

d. Pemeriksaan Penunjang
Ultrasonografi (USG)
USG merupakan salah satu teknik yang dapat dipakai untuk mendiagnosis
limfadenopati servikalis. Penggunaan USG untuk mengetahui ukuran, bentuk,
echogenicity, gambaran mikronodular, nekrosis intranodal dan ada tidaknya kalsifikasi.
USG dapat dikombinasi dengan biopsi aspirasi jarum halus untuk mendiagnosis
limfadenopati dengan hasil yang lebih memuaskan, dengan nilai sensitivitas 98% dan
spesivisitas 95%.

CT Scan
CT scan dapat mendeteksi pembesaran KGB servikalis dengan diameter 5 mm atau
lebih. Satu studi yang dilakukan untuk mendeteksi limfadenopati supraklavikula pada

14
penderita nonsmall cell lung cancer menunjukkan tidak ada perbedaan sensitivitas yang
signifikan dengan pemeriksaan menggunakan USG atau CT scan.
Diagnosis Banding
Diagnosis Banding

1. Limfoma Hodgkin (Penyakit Hodgkin)


Limfoma Hodgkin adalah kanker jaringan limfoid, biasanya pada kelenjar limfe dan
limpa. Penyakit ini adalah salah satu jenis kanker yang paling sering dijumpai pada dewasa
muda, terutama pria muda. Penyakit Hodgkin merupakan gangguan klonal yang berasal dari
satu sel abnormal. Populasi sel abnormal tampak diturunkan dari sel B atau yang lebih jarang
dari sel T atau monosit. (Corwin, 2009)
Walaupun tumor yang berasal dari sel T juga ditemukan (jarang), sekarang disepakati
bahwa, pada sebagian besar kasus limfoma Hodgkin adalah neoplasma sel B pusat
germinativum yang mengalami transformasi. Prognosis setelah radioterapi dan kemoterapi
agresif untuk pasien dengan penyakit ini, termasuk mereka yang mengidap penyakit
diseminata (stadium III dan IV), umumnya sangat baik. (Kumar, 2007)

Gambaran klinis:
Pembesaran kelenjar limfe tanpa disertai nyeri, terutama di daerah leher dan di bawah
lengan
Dapat timbul demam malam hari dan keringat malam
Penurunan berat badan pada dtadium penyakit
(Corwin, 2009)

2. Limfoma maligna non-Hodgkin


Limfoma non-Hodgkin biasanya terjadi pada individu yang lebih lanjut dan biasanya
ditemukan pada stadium yang lebih lanjut dari limfoma Hodgkin. Limfoma non-Hodgkin
tidak terbatas pada satu kelompok kelenjar limfe seperti limfoma Hodgkin, tetapi lebih
menyebar luas melalui organ limfoid, termasuk kelenjar limfe, hati, limpa, dan sumsum
tulang.
Penyebab limfoma non-Hodgkin masih belum jelas, tetapi infeksi virus, termasuk infeksi
HIV, tampaknya bertanggung jawab pada beberapa kasus. Secara keseluruhan, limfoma non-
Hodgkin memiliki prognosis yang lebih buruk dari limfoma Hodgkin. (Corwin, 2009)

Gambaran klinis:
Pembesaran kelenjar limfe yang tidak nyeri
Splenomegali
Dapat timbul komplikasi saluran cerna
Demam, keletihan
Penurunan berat badan
Nyeri punggung dan leher disertai hiper-refleksia
(Corwin, 2009)

3. Limfadenitis tuberkulosis
Limfadenitis tuberkulosis (TB) merupakan peradangan pada kelenjar limfe atau getah
bening yang disebabkan oleh basil tuberkulosis (Ioachim, 2009). Apabila peradangan terjadi
pada kelenjar limfe di leher disebut dengan scrofula (Dorland, 1998). Limfadenitis pada

15
kelenjar limfe di leher inilah yang biasanya paling sering terjadi (Kumar, 2004). Istilah
scrofula diambil dari bahasa latin yang berarti pembengkakan kelenjar. Hippocrates (460-377
S.M.) menyebutkan istilah tumor skrofula pada sebuah tulisannya (Mohaputra, 2009).
Limfadenitis tuberkulosis disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis.
Mycobacteria tergolong dalam famili Mycobactericeae dan ordo Actinomyceales. Basil TB
adalah bakteri aerobik obligat berbentuk batang tipis lurus berukuran sekitar 0,4 x 3 m dan
tidak berspora. M. tuberculosis merupakan bakteri tahan asam dan mudah mengikat pewarna
Ziehl-Neelsen atau karbol fuksin (Kumar, 2004).

Gambaran klinis:
Pembengkakan kelenjar limfe dapat terjadi secara unilateral atau bilateral, tunggal
maupun multipel.
Benjolan biasanya tidak nyeri dan berkembang secara lambat dalam hitungan minggu
sampai bulan, paling sering berlokasi di regio servikalis posterior dan yang lebih jarang
di regio supraklavikular
Menunjukkan gejala sistemik seperti demam, penurunan berat badan, fatigue dan
keringat malam.

4. Limfadenitis kronik non spesifik


Merupakan radang kronis dari kelenjar limfe yang sering terjadi sekunder terhadap
suaturadangmenahun ditempat lain. Misalnya radang kronis di tonsil akanberakibat
limfadenitis di kelenjar limfe leher.Limfadenitis kronik nonspesifik itu sendiri dapat terjadi
karena:
Infeksi virus: yang disebabkan oleh virus pada saluran pernapasan bagianatas
sepertiRinovirus, Parainfluenza Virus, influenza Virus,Respiratory Syncytial Virus,
Coronavirus, Adenovirus ataupun Retrovirus.
Infeksi bakteri: peradangan KGB (limfadenitis) dapat disebabkanStreptokokus
betahemolitikus Grup A atau stafilokokus aureus. Bakteri anaerob
bila berhubungandengan caries dentis dan penyakit gusi, radang apendiks atau abses
tubo-ovarian.
Keganasan seperti leukemia, neuroblastoma, rhabdomyo-sarkoma dan limfoma
jugadapatmenyebabkan limfadenopati.
Penyakit lainnya yang salah satu gejalanya adalah limfadenopati adalah penyakit
Kawasaki, penyakit Kimura, penyakit Kikuchi, penyakit Kolagen, penyakit Cat -
scratch, penyakit Castleman, Rhematoid arthritis dan Sistetmic lupus erithematosus
(SLE).
Obat-obatan dapat menyebabkan limfadenopati generalisata. Limfadenopati dapat
timbul setelah pemakaian obat-obatan seperti fenitoin dan isoniazid.
Obat-obatan lainnyaseperti
allupurinol,atenolol, captopril,carbamazepine,cephalosporin,emas,hidralazine,
penicillin,pirimetamine,quinidine,sulfonamida, sulindac.

Makroskopik
1. Kelenjar limfe membesar
2. Dapat digerakan dari jaringan sekitar
3. Berkapsul
4. Konsistensi keras, terutama jika ada fibrosis
Mikroskopik

16
1. Gambaran jaringan kelenjar limfe dengan sentrum germinativum membesar dan aktif
mengandung limfosit-limfosit muda yang menunjukkan mitosis atau
proliferasiselretikulum yang sering mengandung kuman atau debris seluler yang telah
difagositosis
2. Penambahan sel retikulum dan limfosit dalam sinus disebut sinus catarrh.
3. Fibrosis diantara jaringan limfoid.
4. Kapsul dari nodus limfatikus bisa mengalami periadenitisakan tampak tebal
denganinfiltrasi sel-sel radang kronis.

Tiroid
Struma,kista,neoplasma

Neoplasma
Karsinoma metastasis
Limfoma primer
Tumor kelenjar saliva
Tumor badan karotis

Peradangan
Adenopati infeksi akut
Abses kencing leher
Higroma kistik
Kista brankial
Parotitis

Congenital
Kista duktus tiroglosus
Kista dermoid
Tortikolis

Vascular
Aneurisma subklavia
Ektasia subklavia

1.8 Penatalaksanaan limfadenopati

Pengobatan limfadenopati kelenjar getah bening leher didasarkan kepada


penyebabnya. Banyak kasus dari pembesaran kelenjar getah bening leher sembuh dengan
sendirinya dan tidak membutuhkan pengobatan apapun selain observasi. Kegagalan untuk
mengecil setelah 4-6 minggu dapat menjadi indikasi untuk dilaksanakan biopsi kelenjar
getah bening. Biopsi dilakukan terutama bila terdapat tanda dan gejala yang mengarahkan
kepada keganasan. Kelenjar getah bening yang menetap atau bertambah besar walau
dengan pengobatan yang adekuat mengindikasikan diagnosis yang belum tepat.

17
Antibiotik perlu diberikan apabila terjadi limfadenitis supuratif yang biasa disebabkan
oleh Staphyilococcus. aureusdan Streptococcus pyogenes (group A). Pemberian antibiotik
dalam 10-14 hari dan organisme ini akan memberikan respon positif dalam 72 jam.
Kegagalan terapi menuntut untuk dipertimbangkan kembali diagnosis dan penanganannya.
Pembedahan mungkin diperlukan bila dijumpai adanya abses dan evaluasi dengan
menggunakan USG diperlukan untuk menangani pasien ini.

Penatalaksanaan menurut penyakit :


1. Limfoma Hodgkin (Penyakit Hodgkin)
Kemoterapi dengan multiobat
Terapi radiasi
Transplantasi sumsum tulang
Terapi berdasarkan target biologis, seperti penggunaan reseptor spesifik antibodi,
penghambat jalur antiapoptotik, dan induksi sitotoksitas spesifik, dapat ditoleransi
dengan lebih baik oleh pasien dan memiliki komplikasi jangka panjang yang lebih
sedikit.
(Corwin, 2009)

2. Limfoma maligna non-Hodgkin


Kemoterapi yang agresif digunakan untuk penyakit tahap lanjut
Kemotrapi konservatif mungkin digunakan untuk pertumbuhan limfoma yang lambat
Radioterapi
Pembedahan untuk mengangkat tumor yang berukuran besar
Pada praktik mutakhir, kombinasi obat yang diketahui sebagai CHOP (siklofosfamid,
doksorubisin, vinkristin dan prednison) ditambah radioterapi adjuvant telah digunakan.
Untuk pasien yang berusia kurang dari 61 tahun yang menderita limfoma sel-B luas
yang terlokalisasi, regimen intensif dengan kombinasi obat lainnya. ACVBP
(doksorubisin, siklofosfamid, vindesin, bleomisin, prednison) tampak lebih kuat dari
CHOP.
(Corwin, 2009)

3. Limfadenitis tuberkulosis
Terapi non farmakologis adalah dengan pembedahan
Pembedahan tidaklah merupakan suatu pilihan terapi yang utama, karena
pembedahan tidak memberikan keuntungan tambahan dibandingkan terapi
farmakologis biasa. Namun pembedahan dapat dipertimbangkan seperti prosedur
dibawah ini:
1. Biopsy eksisional: Limfadenitis yang disebabkan oleh atypical mycobacteria
bisa mengubah nilai kosmetik dengan bedah eksisi.
2. Aspirasi
3. Insisi dan drainase

Terapi farmakologis

18
Pengobatan limfadenitis tuberculosis terbagi menjadi 2 fase intensif (2-3 bulan) dan
fase lanjutan (4-7 bulan). Panduan obat yang digunakan terdiri dari panduan obat utama
dan tambahan.

1. OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT)


Obat yang dipakai:
1. Jenis obat utama (lini 1) :
INH
Rifampisin
Pirazinamid
Streptomisin
Etambutol
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2) :
Kanamisin
Amikasin
Kuinolon

Beberapa obat berikut ini belum tersedia di Indonesia antara lain :


o Kapreomisin
o Sikloserino
o PAS(dulu tersedia)
o Derivat rifampisin dan INH
o Thioamides (ethionamide dan prothionamide)

- Obat tunggal,
Obat disajikan secara terpisah, masing-masing INH, rifampisin, pirazinamid
dan etambutol.
- Obat kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combination FDC)
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 3 atau 4 obat dalam satu tablet.

2. PADUAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS


Pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi:
TB paru (kasus baru), BTA positif atau pada foto toraks: lesi luas
Paduan obat yang dianjurkan

19
1. 2 RHZE / 4RH
2. 2 RHZE / 6HE
3. 2 RHZE / 4R3H3
Paduan ini dianjurkan untuk
1. TB paru BTA (+), kasus baru
2. TB paru BTA (-), dengan gambaran radiologi lesi luas (termasuk luluh paru)
Bila ada fasiliti biakan dan uji resistensi, pengobatan disesuaikan dengan hasil uji resistensi
TB Paru (kasus baru), BTA negatif, pada foto toraks: lesi minim. Paduan obat yang
dianjurkan : 2 RHZE / 4 RH atau 6 RHE atau 2 RHZE/ 4R3H3.

4. Limfadenitis kronik non spesifik


Penatalaksanaan yang spesifik pada limfadenitis tidak ada. Limfadenitis dapat terjadi
setelah terjadinya infeksi melalui kulit atau infeksi lainnya yang disebabkan oleh
bakteri seperti Streptococcus atau Staphylococcus. Terkadang juga dapat disebabkan
oleh infeksi seperti tuberculosis atau cat scratch disease (Bartonella). Oleh karena itu,
untuk mengatasi limfadenitis adalah dengan mengeliminasi penyebab utama infeksi
yang menyebabkan limfadenitis.
Limfadenitis biasanya ditangani dengan mengistirahatkan ekstremitas yang
bersangkutan dan pemberitan antibiotik, penderita limfadenitis mungkin mengalami
pernanahan sehingga memerlukan insisi dan penyaliran. Limfadenitis spesifik,
misalnya oleh jamur atau tuberculosis, biasanya memerlukan biopsi atau biakan untuk
menetapkan diagnosis.
Pengobatan sesuai gejala harus dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Pengobatan gejala harus dimulai segera seperti pemberian:
1. Analgesik (penghilang rasa sakit) untuk mengontrol nyeri
2. Antipiretik dapat diberikan untuk menurunkan demam
3. Antibiotik untuk mengobati setiap infeksi sedang sampai berat
4. Obat anti inflamasi untuk mengurangi peradangan

Pengobatan tergantung dari organisme penyebabnya. Untuk infeksi bakteri,


biasanya diberikan antibiotic per-oral (melalui mulut) atau intravena (melalui
pembuluh darah). Untuk membantu mengurangi rasa sakit, kelenjar getah bening yang
terkena bisa dikompres hangat.
Biasanya jika infeksi telah diobati, kelenjar akan mengecil secara perlahan dan rasa
sakit akan hilang. Kadang-kadang kelenjar yang membesar tetap keras dan tidak lagi
terasa lunak pada perabaan. Pembesaran KGB biasanya disebabkan oleh virus dan
sembuh sendiri, walaupun pembesaran KGB dapat berlangsung mingguan.
Pengobatan pada infeksi KGB oleh bakteri (limfadenitis) adalah antibiotik oral 10
hari dengan pemantauan dalam 2 hari pertama flucloxacillin 25 mg/kgBB empat kali
sehari. Bila ada reaksi alergi terhadap antibiotik golongan penicillin dapat diberikan
cephalexin 25 mg/kg (sampai dengan 500 mg) tiga kali sehari atau erythromycin 15
mg/kg (sampai 500 mg) tiga kali sehari.

20
1.10. Komplikasi limfadenopati

1. Pembentukan abses
Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi bakteri.
Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi.
Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel
yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan
infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah
putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah, yang
mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya
akan terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi
dinding pembatas abses; hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah
penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam, maka infeksi bisa
menyebar di dalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi
abses.
2. Selulitis (infeksi kulit)
Selulitis adalah suatu penyebaran infeksi bakteri ke dalam kulit dan jaringan di bawah
kulit. Infeksi dapat segera menyebar dan dapat masuk ke dalam pembuluh getah
bening dan aliran darah. Jika hal ini terjadi, infeksi bisa menyebar ke seluruh tubuh.

3. Sepsis (septikemia atau keracunan darah)


Sepsis adalah kondisi medis yang berpotensi berbahaya atau mengancam nyawa, yang
ditemukan dalam hubungan dengan infeksi yang diketahui atau dicurigai (biasanya
namun tidak terbatas pada bakteri-bakteri).
4. Fistula (terlihat dalam limfadenitis yang disebabkan oleh TBC)
Limfadenitis tuberkulosa ini ditandai oleh pembesaran kelenjar getah bening, padat /
keras, multiple dan dapat berkonglomerasi satu sama lain. Dapat pula sudah terjadi
perkijuan seluruh kelenjar, sehingga kelenjar itu melunak seperti abses tetapi tidak
nyeri. Apabila abses ini pecah ke kulit, lukanya sulit sembuh oleh karena keluar
secara terus menerus sehingga seperti fistula. Fistula merupakan penyakit yang erat
hubungannya dengan immune system / daya tahan tubuh setiap individual.

1.11 Pencegahan limfadenopati


Kehadiran penyakit limfadenopati ini dapat dicegah dengan cara menjaga
kebersihan. Mengingat penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus, kuman, bakteri dan
lainnya. Memastikan semua makanan dan minuman yang kita konsumsi bersih dan
higenis, menjaga kebersihan badan dengan rajin membersihkannya memakai sabun
secara teratur serta menjaga kebersihan tempat tinggal adalah beberapa tindakan yang
bisa dilakukan untuk mencegah penyakit ini. Selain itu, melakukan gaya hidup sehat
juga dirasa perlu guna menjaga diri jauh dari penyakit ini.

1.12 Prognosis limfadenopati

Prognosis untuk pemulihan adalah baik jika segera diobati dengan antibiotik.
Dalam kebanyakan kasus, infeksi dapat dikendalikan dalam tiga atau empat hari.

21
Namun, dalam beberapa kasus mungkin diperlukan waktu beberapa minggu atau
bulan untuk pembengkakan menghilang, panjang pemulihan tergantung pada
penyebab infeksi. Penderita dengan limfadenitis yang tidak diobati dapat
mengembangkan abses, selulitis, atau keracunan darah (septikemia), yang kadang-
kadang fatal.

DAFTAR PUSTAKA

Https://books.google.co.id/=diagnosis+banding+limfadenopati.(diakses pada tanggal 07-11-


2015,jam 11.20)

www.klikpdpi.com/konsesus/tb/tb.html.(diakses pada tanggal 07-11-2015,jam 10.49)

Bakta, I Made.2006.Hematologi Klinik Ringkas.Jakarta : EGC


Hoffbrand, A.V, Moss.2013.Kapita Selekta Hematologi Ed 6.Jakarta : EGC
Sjamsuhidajat. R, Wim de Jong.2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. EGC: Jakarta
Sudiono, J., Budi, K., etc. 2001. Penuntun Pratikum Patologi Anatomi. Jakarta: EGC

Sukandar, Elin Y., dkk, 2011, ISO FARMAKTERAPI 2, Penerbit Ikatan Apoteker Indonesia,
Jakarta.

22