Anda di halaman 1dari 7

Pertanyaan Diskusi

1. Retinopati Diabetik
a. Definisi (Melvy, Wila)
b. Etiologi (Risci, Kunayah)
c. Epidemiologi (likardo, Zainul)
d. Patofisiologi (Lisa, Pratiwi)
e. Klasifikasi (Melvy, Valen)
f. Faktor Risiko (Wila, Kunayah)
g. Manifestasi Klinis (Zainul,Ihsan)
h. Diagnosis (Likardo,nunung)
i. Tatalaksana (pratiwi, ihsan)
j. Prognosis (Lisa, Rrisci)

2. Katarak Senilis
a. Definisi (Wila, Kunayah)
b. Etiologi (Melvy, Wila)
c. Epidemiologi (Zainul,Ihsan)
d. Patofisiologi (Lisa, Pratiwi)
e. Klasifikasi ( Likardo, nunung)
f. Faktor Risiko (Valen, Risci)
g. Manifestasi Klinis (melvy, lisa)
h. Diagnosis (Kunayah,likardo)
i. Tatalaksana (Melvy, Ihsan)
j. Prognosis (nunung, wila)

3. Konjungtivitis
a. Definisi (Melvy, Wila)
b. Etiologi (Wila, Kunayah)
c. Epidemiologi (Valen, Risci)
d. Patofisiologi ( Likardo, nunung)
e. Klasifikasi (Lisa, Pratiwi)
f. Faktor Risiko (Zainul,Ihsan)
g. Manifestasi Klinis (nunung, wila)
h. Diagnosis ( Risci,lisa)
i. Tatalaksana (valen,melvy)
j. Prognosis (ihsan, Likardo)

4. Bagaimana membedakan konjungtivitis bekterial, virus, dan jamur


(melvy,Pratiwi)
5. Bagaimana cara penularan konjungtivitis ( valen, Ihsan)
6. Jelaskan mengenai dislokasi lensa ( Lisa, Kunayah)
7. Jelaskan mengenai uveitis ( Wila, Zainul)
8. Jelaskan mengenai blepharitis (nunung, pratiwi)
9. Penyakit mata yang menular dan tidak menular (Valen, kunayah)
10. Interpretasi pemeriksaan fisik dan penunjang ( Likardo, ihsan)
11. Faktor apa saja yang dapat menyebabkan gangguan pada mata (valen,
melvy)
12. Hubungan Diabetes melitus dan katarak (risci, ihsan)
13. Patofisiologi Mikroaneurisma (nunung, zainul)
14. Bagaimana pembentukan sekret kotor (kunayah, wila)
15. Bagaimana terjadinya perdarahan dot & blot yang tersedia pada kasus
( nunung, Lisa)
16. Apakah yanng terjadi pada mata kiri nenek (pratiwi, zainul)
17. Bagaimana pemeriksaan shadow test ( Likardo, melvy)
18. Tatalaksana prognosis kasus ( nunung, valen)

1. Retinopati Diabetik
a. Definisi (Melvy, Wila)
Retinopati diabetika adalah proses degenerasi akibat hipoksia di retina
karena penyakit diabetes mellitus. Diagnosis retinopati diabetika
ditegakkan secara klinis jika dengan pemeriksaan angiografi flurosensi
fundus sudah didapatkan mikroaneurisma atau perdarahan pada retina
di satu mata, baik dengan atau tanpa eksudat lunak ataupun keras,
abnormalitas mikrovaskular intra retina atau hal-hal lain yang telah
diketahui sebagai penyebab perubahan-perubahan tersebut

Michaelson I.C. 2008. Textbook of the Fundus of the Eye. Churchil


Livingstone. New York. P 244-283.
b. Faktor Risiko (Wila, Kunayah)
Risiko menderita retinopati DM meningkat sebanding dengan semakin
lamanya seseorang menyandang DM. Faktor risiko lain untuk
retinopati DM adalah ketergantungan insulin pada penyandang DM
tipe II, nefropati, dan hipertensi. Sementara itu, pubertas dan
kehamilan dapat mempercepat progresivitas retinopati DM.
- Paulus YM, Gariano RF. Diabetic retinopathy: A growing concern
in an aging population. Geriatrics. 2009;64(2):16-26.
- American Diabetes Association. Standards of medical care in
diabetes - 2010. Diabetes Care. 2010;33(Suppl1):S11-61
2. Katarak Senilis
k. Definisi (Wila, Kunayah)
Katarak termasuk golongan kebutaan yang tidak dapat dicegah tetapi
dapatdisembuhkan. Definisi katarak menurut WHO adalah kekeruhan
yang terjadi padalensa mata, yang menghalangi sinar masuk ke dalam
mata. Katarak terjadi karenafaktor usia, namun juga dapat terjadi pada
anak-anak yang lahir dengan kondisitersebut. Katarak juga dapat
terjadi setelah trauma, inflamasi atau penyakit lainnya. Katarak senilis
adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut,yaitu usia
diatas 50 tahun.
Perdami (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia). 2011.
Katarak. http://www.perdami.or.id/?page=news_seminat.detail&id=2
l. Etiologi (Melvy, Wila)
Penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum diketahui
secara pasti. Terdapat beberapa teori konsep penuaan menurut Ilyas
(2006) sebagai berikut:
- Teori putaran biologik (A biologic clock)
- Jaringan embrio manusia dapat membelah diri 50 kali mati
- Imunologis; dengan bertambah usia akan bertambah cacat imunologik
yang mengakibatkan kerusakan sel.
- Teori mutasi spontan
- Teori A free radical : free radical terbentuk bila terjadi reaksi
intermediate reaktif kuat, free radical dengan molekul normal
mengakibatkan degenerasi, dan free radicaldapat dinetralisasi oleh
antioksidan dan vitamin E
- TeoriA Cross-link : Ahli biokimia mengatakan terjadi pengikatan
bersilang asam nukleat dan molekul protein sehingga mengganggu
fungsi.
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih,
transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan
refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada
zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang
mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan posterior. Dengan
bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi
coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di
anterior dan poterior nukleus. Opasitas pada kapsul poterior
merupakan bentuk aktarak yang paling bermakna seperti kristal salju
(Ilyas, 2006).
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang
memaenjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa.
Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi,
sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya
cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein
lensa normal disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini
mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi
sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran
dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun
dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang
menderita katarak (AAO, 2011).
Katarak bisa terjadi bilateral, dapat disebabkan oleh kejadian
trauma atau sistemis (diabetes) tetapi paling sering karena adanya
proses penuaan yang normal. Faktor yang paling sering berperan
dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-obatan,
alkohol, merokok, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam
jangka waktu yang lama.
Perubahan kondisi lensa pada orang tua :
- Kapsul : menebal dan kurang elastis (seperempat kali dibanding
anak), mulai presbiopia, bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur,
terlihat bahan granular.
- Epitel : semakin tipis, sel epitel (germinatif) pada ekuator
bertambah besar dan berat, bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang
nyata.
- Serat lensa : lebih ireguler, pada korteks jelas terdapat kerusakan
antarsel, Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan
merubah protein nukleus (histidin, triptofan, metionin, sistein dan
tirosin) lensa, sedang warna coklet protein lensa nukleus mengandung
histidin dan triptofan dibanding normal.
- Korteks lensa : tidak berwarna karena kadar asam askorbat tinggi
dan menghalangi fotooksidasi, sinar tidak banyak mengubah protein
pada serat muda.
- Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut
biasanya mulai terjadi pada usia lbih dari 60 tahun

AAO (American Academy of Ophthalmology). 2011. Cataract.


http://www.geteyesmart.org/eyesmart/diseases/cataracts.cfm (diakses
tanggal 5 Desember 2011)

Ilyas S. 2006. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia. pp : 205-8.

m. Prognosis (nunung, wila)


Apabila pada proses pematangan katarak dilakukan penanganan yang
tepat sehingga tidak menimbulkan komplikasi serta dilakukan tindakan
pembedahan pada saat yang tepat maka prognosis pada katarak senilis
umumnya baik.

AAO (American Academy of Ophthalmology). 2011. Cataract.


http://www.geteyesmart.org/eyesmart/diseases/cataracts.cfm (diakses
tanggal 5 Desember 2011)

3. Konjungtivitis
k. Definisi (Melvy, Wila)
Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang ditandai oleh
dilatasi vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi.

Ilyas S. 2006. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia. pp : 205-8.

l. Manifestasi Klinis (nunung, wila)


1. Konjungtivitis bakterial

- Iritasi mata,

- Mata merah,
- Sekret mata,

- Palpebra terasa lengket saat bangun tidur

- Kadang-kadang edema palpebra

-Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah oleh
tangan. Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang
dapat menyebarkan kuman seperti seprei, kain, dll.1,5

www.eyepathologisyt.com/disease
2. Konjungtivitis virus

4. Jelaskan mengenai uveitis ( Wila, Zainul)


Uveitis adalah suatu inflamasi pada traktus uvea. Uveitis banyak
penyebabnya dan dapat terjadi pada satu atau semua bagian jaringan uvea.
Pada kebanyakan kasus, penyebabnya tidak diketahui.
Penyakit peradangan pada traktus uvealis umumnya unilateral. Di
dunia, rata-rata insiden penyakit ini sekitar 15 dari 100.000 jiwa. Biasanya
terjadi pada dewasa muda dan usia pertengahan (20-50 tahun). Uveitis
jarang terjadi pada anak dibawah umur 16 tahun, hanya sekitar 5% sampai
8% dari jumlah total. Kira-kira setengah dari jumlah anak yang mendreita
uveitis umumnya uveitis posterior dan panuveitis. Tidak ada perbedaan
antara pria dan wanita dalam angka kesakitan.
Bentuk uveitis paling sering adalah uveitis anterior akut atau iritis
yang umumnya unilateral dan ditandai adanya riwayat sakit, fotofobia dan
penglihatan kabur. Serta mata merah (merah sirkumkorneal) tanpa tahi
mata purulen dan pupil kecil atau irreguler. Bentuk uveitis lainnya adalah
uveitis posterior, intermediet, dan panuveitis.
Penatalaksanaan uveitis tergantung pada penyebabnya. Biasanya
disertakan kortikosteroid topikal atau sistemik dengan obat-obatan
sikloplegik-midriatik dan/atau imunosupresan non kortikosteroid. Jika
penyebabnya adalah infeksi diperlukan terapi antibiotik.
Ilyas S. 2006. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. pp : 205-8.

5. Bagaimana pembentukan sekret kotor (kunayah, wila)