Anda di halaman 1dari 3

Itulah kesepuluh ancepan peninggaan Galuh yang ada di tanah Kuta.

Dusun kuta berawal dari


enam kelurga yang bermukim di Kuta pada waktu itu, yaitu keluarga Aki Isti, Aki Kantes, Aki
Arwiah, Aki Wastiah, Aki Narsiti, dan Aki Sukiah. Keenam keluarga inilah yang mengajarkan
atau memberi contoh bagaimana bentuk rumah panggung dan memberitahu bagaimana caranya
nyadap aren, menanam padi di hutan, dan memelihara berbagai macam hewan. Itulah ajaran atau
pepatah yang dipakai oleh keturunannya sampai sekarang di Kuta.

Selanjutnya, ada utusan dari Kanoman Cirebon, yang pertama diutus adalah Ki Bumi,
dimana Ki Bumi memberi ciri-ciri di Leuweung Gede yang berupa pohon hanjuang,
handeuleum, dan batu soko tilu. Kemudian, memberikan petunjuk untuk menanam pohon
kikandel, kitetel, jawer kotok, haur koneng, sanggabuana, kaso bodas, panglay, caruluk atau buah
aren, seureuh, oar, pacing, jambe, tiwu hideung, jukut palias, sulangkar dan daun kelapa hijau.
Ajaran Ki Bumi tersebut selalu dipakai di berbagai acara ritual di Kuta sampai saat ini.

Selanjutnya, Ki Bumi yang menjadi kunci pertama di Kuta. Pengertian kunci adalah
pengayom masyarakat dan pemangku wilayah adat Kuta. Atas nasehat Ki Bumi pula orang yang
meninggal khusus di wilayah Kuta tidak boleh disemayaman atau dikubur di tanah Kuta dengan
alasan tanah Kuta kondisinya labil yang dikhawatirkan mencemari lingkungan sekitar. Ada juga
keteragan tidak boleh dikuburnya mayat di tanah Kuta dikarenakan tanah Kuta tanah putih.
Sampai sekarang pun tidak ada pemakaman di tanah Kuta. Adapun warga Kuta yang meninggal
dimakamkan di pemakaman umum Dusun Cibodas, Desa Karangpaingal yang disebut Kuta Luar.

Nasehat Ki Bumi tersebut masih dipakai sampai sekarang. Setelah Ki Bumi wafat,
datang utusan dari Cirebon yang kedua, yaitu Ki Dano. Utusan yang ke tiga Ki Surabangsa, yang
ke empat Ki Mainah dan yang kelima Ki Rasipan. Setelah kelima utusan tersebut wafat,
keseluruhannya dimakamkan di leuweung Ki Bumi yang sekarang disebut keramat Ki Bumi
yang berada di Dusun Margamulya, Desa Karangpaningal. Setelah utusan yang kelima yaitu Ki
Rasipan, kanoman Cirebon tidak mengirim utusan lagi untuk menjadi kunci di Kuta.

Seterusnya, kunci di Kuta diteruskan oleh orang Kuta asli yaitu Ki Karsan atas petunjuk
Ki Rasipan. Atas petunjuk Ki Rasipan pula yang menjadi kunci di Kuta seterusnya adalah
turunan Ki Karsan, anak laki-laki yang pertama atau anak sulung laki-laki. Tidak diperbolehkan
perempuan walaupun itu sulung. Setelah Ki Karsan wafat, selanjutnya yang jadi kunci di Kuta
adalah Ki Karwa, putra sulung Ki Karsan. Begitupun kunci selanjutnya yaitu Ki Amirta, Ki
Sanusri, Ki Madtasri, dan Ki Maryono yang menjadi kunci sampai sekarang. Keadaan Kampung
Adat Kuta dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah sebagai warisan budaya dari para
leluhur yang dilestarikan oleh keturunannya yaitu komunitas Kampung Adat Kuta termasuk kita
semua pelestari budaya tradisional.

Kepengurusan Kampung Adat Kuta selain kunci saat ini ada kepengurusan adat yang
dipegang oleh ketua adat dan kepengurusan lainnya disamping pemerintahan dusun yang
dipimpin oleh kepala dusun. Kepengurusan adat dipilih oleh seuruh warga Kuta. Ketua adat yang
pertama adalah Ki Karman periode tahun 2002 sampai 2011. Kemudian, Ki Warsim Setiaman
periode tahun 2011 samai sekarang. Kampung Adat Kuta dari zaman dahulu sampai sekarang
tidak ada yang berubah. Rumah-rumahnya masih rumah pangggung dan beratap injuk atau kirei
isilah dalam Basa Sunda. Kehidupan ekonomi masyarakat Kuta masih mengandalkan nyadap
aren dan menanam padi. Hanya saja, sekarang menanam padi bukan di hutan atau di huma, tetapi
di sawah. Walaupun demikian, warga Kuta tidak ketinggalan dalam hal segi kehidupan zaman
sekarang.

Walau kehidupan mereka menjunjung adat yang turun temurun, tetapi semuanya
memeluk ajaran agama Islam. Sayangnya, prasarana tempat ibadah seperti masjid kurang
memadai. Disamping itu, sarana dan prasarana adat juga masih jauh dari sempurna. Malah yang
ada pun sekarang sudah tidak layak huni. Oleh sebab itu, perlu pemikiran masyarakat adat dan
pemerintah dari kabupaten ataupun provinsi yang menangani masalah di bidang budaya
tradisional. Namun, pembangunan di kampung adat seperti di Kuta harus sesuai dengan kearifan
lokal supaya ciri khas kampung adatnya atidak hilang. Tetapi, sampai saat ini di Kampung Adat
Kuta belum bisa mendirikan bangunan sekolah. Adapun yang bersekolah sekarang, sekolahnya
bertempat di kampung Margamulya yang jaraknya kurang lebih 1,5 KM dari Kampung Adat.

Kampung Adat Kut adihiasi dengan indanya hutan yang masih asli yang disebut
Leuweung Gede. Leuweung Gede oleh masyarakat Kampung Adat Kuta disebut juga hutan
keramat, sebab di dalam hutan tersebut ada patilasan-patilasan Ki Bima Raksa Kalijaga.
Patilasan yang pertama disebut Pamarekan. Patilasan ke dua Gunung Apu, patilasan ke tiga
Ciasihan, patilasan ke empat Ranca Kawedukan, dan patilasan yang kelima, paatilasan Kadayeuh
Luhuran. Disamping patilasan tersebut, Leuweung Gede pun dihiasi pepohonan yang langka,
yaitu pohon kipari, kiara, putat, benda, hantap, kondang, bungur dan rotan. Yang menjadi
kendala sampai saat ini adalah, pengunjung atau wisatawan yang akan berkunjung ke Leuweung
Gede masih harus melalui jalan setapak apalagi pada musim penghujan jalannya sangat licin.

Adapun di dalam hutan keramat, jalan tidak diperbolehkan dibangun karena harus terjaga
keasliannya. Kampung Adat Kuta dikelilingi tebing yang indah dari sebelah timur sampai barat
ada tebing yang disebut tebing Rahong yang sangat curam. Sebelah selatan sampai utarada
tebing yang disebut tebing dodokan yang dibawahnya terihat indahnya Sungat Cijolang. Tempat
ini sendainya dibangun bisa menjadi tempat wisata alam yang tidak akan diemukan di tempat
lain.

Kampung Adat Kuta bisa diempuh melalui dua jalur masuk, yang pertama bisa masuk
dari Kota Banjar yang jaraknya kurang lebih 14,5 KM.Yang kedua bisa masuk dari kota Rancah
yang jaraknya kurang lebih 14 KM.

Dari dua pintu masuk itu tidak ada petunjuk jalan menuju Kampung Adat Kuta sehingga
apabila ada pengunjung atau wisatawan yang akan berkunjung ke Kapung Adat Kuta seringkali
tersesat karena tidakadanya petunjuk jalan. Terkadang, pengurus adat harus menjemputnya. Jalan
dari Kota Banjar sampai ke Kampung Adat Kuta sebagian kondisinya rusak berat. Begitupun dari
kota Rancah. Kendaraan hanya bisa sampai ibu kota kecamatan. Selanjutnya, pegunjung atau
wisatawan menggunakan ojek atau kendaraan bak terbuka yang disedikan oleh pengurus adat.
Permasalahan pun muncul di Kampung Adat Kuta, yaitu asalah sarana dan prasarana seperti
Pasanggrahan, masjid yang layak, penginapan, rumah makan, ataupun kios-kios yang
menyediakan makanan asli dan kerajinan asli buatan warga Kampung Adat Kuta. Oleh sebab itu,
semua ini perlu kearifan dan kemauan masyarakat adat bersama pemerintah yang melindungi
kelestaran adat budaya tradisional yang da di negeri ini.