Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 struktur Anatomi Gigi


Gigi merupakan struktur yang keras, menyerupai tulang dan tertanam pada rahang atas
dan rahang bawah. Gigi terdiri dari 4 bagian, yaitu: (1) Enamel. Enamel merupakan struktur gigi
yang paling keras, terdiri dari 96 % mineral, sisanya 4% merupakan air dan material organik.
Mineral penyusun enamel terutama adalah hidroksiapatit yang penting untuk kekuatan dan
brittleness enamel. Meskipun merupakan substansi yang keras, enamel tidak kebal terhadap atrisi
selama mastikasi. Enamel tidak mengandung kolagen, tetapi mengandung dua jenis protein yang
khas yaitu amelogenins dan enamelins. Walaupun peranan protein ini belum dimengerti
sepenuhnya, tetapi diperkirakan berperan dalam perkembangan enamel. Warna enamel
bervariasi, mulai dari kuning sampai putih keabu-abuan. Ketebalan enamel bervariasi, bagian
yang paling tebal terdapat pada ujung tonjol, yaitu mencapai 2,5 mm, dan yang paling tipis
terdapat pada daerah tepi, yaitu pada Cementoenamel Junction (CEJ), (2) Dentin. Dentin
merupakan lapisan di bawah enamel, dan menyusun sebagian besar gigi.

Dentin dilapisi oleh odontoblas. Pembentukan dentin dikenal sebagai dentinogenesis.


Dentin terdiri dari 70% Kristal hidroksiapatit inorganik, sisanya 30% merupakan organik yang
tersusun dari kolagen, substansi dasar mukopolisakarida, dan air. Karena itu dentin lebih lunak
daripada enamel, dan lebih rentan untuk terjadinya karies. Walaupun demikian, dentin masih
berperan sebagai lapisan pelindung dan pendukung mahkota gigi. Tipe modifikasi dari dentin
dikenal sebagai reparative dentin atau dentin sekunder. Reparative dentin akibat respon terhadap
atrisi, karies, prosedur operatif, atau stimulus kerusakan lain biasanya mempunyai beberapa atau
lebih tubulus dentin irregular daripada dentin yang dihasilkan sebagai akibat penuaan (3)
Sementum. Sementum adalah lapisan tulang yang membungkus akar gigi. Sementum terdiri dari
45% material inorganik terutama hidroksiapatit, 33% material organik terutama kolagen, dan
22% air.

Sementum dibentuk oleh sementoblas di dalam akar gigi dan bagian sementum yang

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 1


paling tebal terdapat pada apeks akar. Warna sementum kekuning-kuningan dan sementum lebih
lunak daripada dentin dan enamel. Peran utama sementum adalah sebagai medium untuk
perlekatan ligamen periodontal ke gigi untuk kestabilan,(4) Pulpa. Pulpa gigi hanya merupakan
jaringan nonmineralisasi. Pulpa merupakan jaringan ikat lunak, terbuat dari sel, substansi
interselular, dan cairan jaringan. Jaringan pulpa pada gigi yang lebih muda mempunyai sel dan
substansi interselular yang lebih banyak daripada gigi yang lebih tua. Pulpa terdiri dari dua
bagian, yaitu kamar pulpa yang terdapat di dalam mahkota gigi dan saluran akar yang terdapat di
dalam akar gigi. Pulpa gigi merupakan bagian pusat gigi yang berisi jaringan ikat lunak. Jaringan
ini terdiri dari pembuluh darah dan saraf yang masuk ke gigi melalui apeks gigi. Sepanjang batas
antara dentin dan pulpa terdapat odontoblas, yang mengawali pembentukan dentin. Sel lain yang
terdapat pada pulpa yaitu fibroblas, preodontoblas, makrofag, dan T limfosit

1.2 Hipersensitivitas
Hipersensitivitas (atau reaksi hipersensitivitas) adalah reaksi berlebihan, tidak diinginkan
karena terlalu senisitifnya respon imun (merusak, menghasilkan ketidaknyamanan, dan terkadang
berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem kekebalan normal. Hipersensitivitas merupakan reaksi
imun tipe I, namun berdasarkan mekanisme dan waktu yang dibutuhkan untuk reaksi,
hipersensitivitas terbagi menjadi empat tipe lagi: tipe I, tipe II, tipe III, dan tipe IV. Penyakit
tertentu dapat dikarenakan satu atau beberapa jenis reaksi hipersensitivitas

Pada dasarnya tubuh kita memiliki imunitas alamiah yang bersifat non-spesifik dan
imunitas spesifik. Imunitas spesifik ialah sistem imunitas humoral yang secara aktif diperankan
oleh sel limfosit B, yang memproduksi 5 macam imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD dan IgE)
dan sistem imunitas seluler yang dihantarkan oleh sel limfosit T, yang bila mana ketemu dengan
antigen lalu mengadakan differensiasi dan menghasilkan zat limfokin, yang mengatur sel-sel lain
untuk menghancurkan antigen tersebut.

Bilamana suatu alergen masuk ke tubuh, maka tubuh akan mengadakan respon. Bilamana
alergen tersebut hancur, maka ini merupakan hal yang menguntungkan, sehingga yang terjadi
ialah keadaan imun. Tetapi, bilamana merugikan, jaringan tubuh menjadi rusak, maka terjadilah
reaksi hipersensitivitas atau alergi.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 2


1.3 Hipersensitivitas Dentin
Hipersensitif dentin ditandai dengan rasa sakit pendek yang timbul dari dentin yang
terpapar dan biasanya karena rangsangan thermal, uap, taktil, osmotik atau kimia dan tidak
dihubungkan dengan kerusakan gigi dan patologinya.1-3 Hipersensitif dentin adalah kondisi
klinis gigi yang relatif umum pada gigi permanen yang disebabkan oleh dentin yang terpapar
akibat hilangnya enamel atau sementum. Manifestasinya bisa secara fisik dan secara psikologis
tidak nyaman bagi pasien dan dapat didefinisikan sebagai nyeri akut durasi pendek yang
disebabkan oleh terbukanya tubulus dentin pada permukaan dentin.1 Berikut ini akan dijelaskan
mengenai teori-teori terjadinya hipersensitif dentin, kelainan yang memungkinkan terjadinya
hipersensitif dentin, faktor-faktor predisposisi dan pemicu dan mulai terjadinya hipersensitif
dentin.
1.4 Rumusan Masalah
a. Bagaimana menentukan struktur anatomi gigi?
b. Apa it hipersensitifitas?
c. Pembagian dan pengertian dari hipersensitifitas?
1.5 Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang
bagaimana menetukan struktur anatomi gigi, dan hipersensitifitas.

BAB II

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 3


STRUKTUR ANATOMI GIGI

Struktur Anatomi Gigi :

1. Jaringan keras ialah jaringan yang mengandung bahan kapur terdiri dari, jaringan
email/enamel/glasir, jaringan dentin/tulang gigi, dan jaringan sementum.
Email dan Sementum ialah bagian/bentuk luar yang melindungi dentin

Dentin merupakan bentuk pokok dari gigi, pada satu pihak diliputi oleh jaringan email
( korona ) dan pada pihak lain di liputi oleh jaringan sementum ( akar ), merupakan
bagian terbesar dari gigi dan merupakan dinding yang membatasi dan melindungi rongga
yang berisi jaringan pulpa.

2. Jaringan lunak yaitu jaringan pulpa ialah jaringan yang terdapat dalam rongga pulpa
sampai foramen apikal, umumnya mengandung bahan dasar (ground substance) bahan
perekat, sel saraf yang sekali terhadap rangsang mekanis, termis dan kimia, jaringan
limfe (cairan getah bening ), jaringan ikat dan pembuluh darah arteri dan vena
3. Rongga pulpa terdiri dari :
a. Tanduk pulpa yaitu ujung ruang pulpa
b. Ruang pulpa yaitu ruang pulpa di korona gigi
c. Saluran pulpa yaitu saluran di akar gigi kadang bercabang dan ada saluran tambahan
d. Foramen apikal yaitu lubang di apeks gigi tempat masuknya ringan pulpa ke rongga
pulpa

Bagian dan Jaringan Gigi


Gigi terbagi dalam dua bagian besar yaitu mahkota dan akar. Mahkota adalah bagian gigi
yang terliha tdalam mulut, sedangkan akar adalah bagian yang tertanam dalam tulang rahang.
Sedangkan secara struktur, gigi merupakan salah satu jaringan keras tubuh yang terdiri dari
enamel, dentin, dan sementum.

Email

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 4


Email berasal dari jaringan ektoderm, susunannya agak istimewa yaitu penuh dengan
garam garam CA. Bila di bandingkan dengan jaringan jaringan gigi yang lain, email adalah
jaringan yang paling keras, paling kuat, oleh karena itu ia merupakan pelindung gigi yang paling
kuat terhadap rangsangan rangsangan pada waktu pengunyahan.

Email tidak mempunyai kemampuan untuk menggantikan bagian bagian yang rusak, oleh
karena itu begitu gigi erupsi maka terlepaslah ia dari jaringan jaringan lainnya yang ada di dalam
gusi/rahang. Akan tetapi ada hal hal perubahan perubahan susunan kimia pada dirinya sehingga
email akan lebih kuat menghadapi rangsangan rangsanga yang diterimanya.

Email, sebenarnya merupakan bagian gigi yang paling keras, terkuat, dan termineralisasi
paling tinggi dari seluruh substansi tubuh. Enamel dapat menerima tekanan hingga 100.000 psi.
Email gigi, berasal dari jaringan ectoderm, susunannya agak istimewa yaitu penuh dengan
garam-garam kalsium. Enamel terbuat dari crystal hidroksi apatit antara lain ion caronat,
magnesium dan potassium yang berikatan dalam satu matriks yang kuat dari serat protein yang

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 5


tidak dapat larut. 96% enamel terdiri dari mineral dan air, sisanya adalah materi organik. Enamel
melapisi mahkota gigi dan mempunyai ketebalan yang bervariasi, daerah yang paling tebal ada
pada daerah cusp mencapai 2,55 mm, sedangkan tertipis pada pertemuan enamel dengan
cementum yaitu cementoenamel jungcion (CEJ). Warna enamel gigi pun sebenarnya tidak putih
mutlak, kebanyakan lebih mengarah keabu-abuan dan semi translusen. Kecuali pada kondisi
enamel yang abnormal seringkali menghasilkan warna yang menyimpang dari warna normal
enamel dan cenderung mengarah ke warna yang lebih gelap. Semakin menuju ke bagian dalam
dari enamel,kekerasannya akan semakin berkurang.P
STRUKTUR ENAMEL ANTARA LAIN :
ENAMEL PRISMATA/ENAMEL ROD
berjalan ke permukaan gigi
Hampir tegak lurus dengan arah bergelung (huruf S)

Penampang melintang hexagonal tak sempurna (seperti lubang kunci)

GARIS RETZIUS

garis pembentukan email


garis dari dentino enamel junction ke permukaan gigi
ENAMEL CUTICULA
membran yang menutupi permukaan enamel
menghilang sesudah enamel (gigi) menjalankan fungsinya
ENAMEL LAMELLAE
matriks dentin yang berkembang masuk ke dalam enamel, panjang lebih dari tebal
enamel
ENAMEL TUFT

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 6


matriks dentin yang masuk ke dalam enamel dengan akhiran menguraiKet:

a.gnarled enamel, b.enamel spindle

ENAMEL SPINDLE

matriks dentin yang masuk ke dalam enamel dengan akhiran menebalKet:

a.garis retzius, b.enamel tuft, c.enamel lamellae, d.dentino enamel junction


Jadi bila email sekali saja rusak harus ditambal karena ia tidak mempunyai kemampuan untuk
menggantikan bagian bagian yang rusak

Sebab kerusakan email :

1. Abrasi : karena mekanis misalnya karena menyikat gigi dengan cara yang salah
2. Erosi : karena khemis misalnya karena suka makan makanan yang banyak mengandung
cuka
3. Atrisi : karena banyak di pakai untuk mengunyah

Mahkota gigi
Bagian dari gigi yang terlihat di mulut yang dikelilingi oleh gingiva serta dilapisi oleh
enamel.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 7


Gingiva (gusi)
Gingiva adalah jaringan lunak berwarna merah muda yang melekat kuat pada tulang
dibawahnya dan mengelilingi leher gigi serta membantu menahan gesekan makanan.
Ruang pulpa
Ruang pada gigi yang berisi jaringan pulpa gigi.

Merupakan bagian gigi paling dalam. Pada bagian pulpa ini terdapat syaraf dan pembuluh darah.
Pulpa terdiri dari beberapa bagian, yaitu :

1. Ruang atau rongga pulpa, yaitu rongga pulpa yang terdapat pada bagian tengah korona gigi.
2. Tanduk pulpa, yaitu ujung dari ruang pulpa.
3. Saluran pulpa atau saluran akar, yaitu rongga pulpa yang terdapat pada bagian akar gigi.
4. Foramen apikal, yaitu ujung dari saluran pulpa yang terdapat pada apeks akar berupa suatu
lubang kecil.
5. Supplementary canal.beberapa akar gigi mungkin memiliki lebih dari satu foramen,dalam
hal ini saluran ini punya 2 cabang atau lebih cabang dekat apikalnya.
6. Orifice, yaitu pintu masuk ke saluran akar gigi.

Leher gigi
Daerah perbatasan antara mahkota gigi dan akar, yang dikelilingi oleh gusi.

Dentin

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 8


Dentin dan sementum berasal dari jaringan mesoderm yaitu mempunyai susunan dan asal
yang sama dengan jaringan tulang.

Bagian dari gigi yang berada dibawah enamel dan sementum yang merupakan jaringan
yang membentuk sebagian besar gigi. Lebih keras daripada tulang tetapi lebih lembut dari
enamel dan sebagian besar terdiri dari hydroxylapatite mineral dan fosfat.
Bagian yang lebih dalam dari enamel adalah dentin. Dentin merupakan bagian yang
terluas dari struktur gigi, meliputi seluruh panjang gigi mulai dari mahkota hingga akar. Dentin
adalah sebuah tulang suatu substansi yang terbentuk dari sel odontoblast yang merupakan
pembentuk terbesar dari struktur gigi.
Dentin terletak di bawah enamel pada bagian mahkota, dan di bawah sementum pada
bagian akar sertamengelilingi pulpa. 70% dari dentin adalah hydroxylapatite, 20% bahan
organik, dan 10 % air.Dentin pada mahkota gigi dentin dilapisi oleh enamel, sedangkan dentin
pada akar gigi dilapisi olehsementum. Kalau kita amati, bagian ini memegang peranan yang
sangat penting yaitu sebagai pelindungdari ruang pulpa. Pembentukan dentin disebut sebagai
dentinogenesis.
Karena lebih lembut daripada email, dentin membusuk lebih cepat dan menjadi sasaran
lubang hebat jikatak dirawat sebagaimana mestinya. Namun tetap berlaku sebagai lapisan
protektif dan menyokong mahkotagigi.
Dentin merupakan jaringan konektif termineralisasi dengan matrik organik protein
berkolagen. Komponen anorganik dentin terdiri atas dahllite.Dentin mengandung struktur
mikroskopis yang disebut pipa dentin yang merupakan kanal berukuran kecil yang menyebar ke
luar melalui dentin dari lubang pulpa pada batassemen luar. Kanal-kanal itu memiliki konfigurasi
berbeda antara lain dalam jarak diameter antara 0,8 dan2,2 mikrometer. Panjangnya tergantung
radius gigi. 3 konfigurasi dimensional pipa dentin di bawah control genetis dan kemudian ciri
khas urutan.

Struktur Dentin:
Tubulus Tubulus dentin
Canal yang terdapat pada jaringan dentin

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 9


Berjalan dari pulpa ke perifer

Interglobular Space

Daerah yang tampak sebagai bercak-bercak hipokalsifikasi


Pada sediaan gosok nampak sebagai bercak hitam yang berderet pada daerah di
sekitar dentinoenamel junction

Tomes Granular layer


Bintik-Bintik hipokalsifikasi halus pada daerah-daerah perbatasan antara dentin dengan
sementumGARIS OWEN / EBNER

Cross sections dalam dentin tubulus


Identik dengan garis-garis retzius
Dalam beberapa keadaan garis ebner jelas

PERMEABILITAS DENTIN
Sebagai akibat adanya tubulus dentin

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 10


Tubulus dentin di bentuk ketika deposisi dan mineralisasi matriks predentin di sekitar
odontoblast
ISI TUBULUS DENTIN
a. Peritubular
> mineralisasi sari dentin tubular
Matrix organic <
Penyempitan tubulus dentin pada umur lanjut
Pertumbuhan dentin peritubular
b. Tonjolan odontoblast
Fibril fibril jaringan melalui tubulus dentin
Berada pada dentin predentin junction
Pemisah tonjolan odontoblast dan tubulus dentin
Ruang Periodontoblastic
c. Kolagen
Sering dalam lumen tubulus dentin
Berperan dalam penurunan permeabilitas dentin
d. Serabut saraf
Pada daerah Khusus dari dentin Penetrasi ke dalam tubulus tidak lebih dari 100-
150 m

e. Cairan dentinal
Protein = Plasma Tubuh
Berada pada tubulus dentin Dasar hipotesis hidrodinamis dari sensitifitas
dentin
Macam macam dentin :

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 11


SEM of pulpal survace of dentin,arrangement of
calcifying collagen matrix and surrounding dentin
tubules. Organic material removed byetylene diamine
treatment (X15000)

Peritubular dentin ; dinding tubuli ; Kalsifikasi : tinggi

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 12


Macam macam dentin :

Peritubular dentin ; dinding tubuli ; Kalsifikasi : tinggi


Interlobular dentin ; diantara tubuli ; Kalsifikasi : tinggi
Mantle dentin Lapisan paling luar Dentin yang pertama kali terbentuk
Circumpulpal dentin ; lapisan sekitar pulpa ; dibentuk setelah mantle dentin
Primary dentin
o dibentuk sebelum foramen apical sempurna
dibentuk lebih cepat
mineralnya lebih banyak dibandingkan secondary dentin
Secondary dentin
o dibentuk setelah foramen apical sempurna
o dibentuk lebih lambat dan mineral lebih berkurang dibandingkan primary
dentin
Tertiary dentin
o dibentuk karena ada rangsangan ; pola tubuli tidak teratur

Struktur Dentin:

Pembentukan dentin merupakan fungsi dari sel dental papila yg berasal dari
ektomesenkim.

Dentin diproduksi oleh sel perifer dental papila yang disebut odontoblast.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 13


Pembentukan dentin dimulai pada daerah puncak gigi taring atau pinggir incisivus dan
dilanjut daerah apikal sampai lengkapnya bagian akar gigi.

Pembentukan dentin terjadi mendahului dan mrpk faktor penting pembentukan enamel.

Dental papila akan menjadi dental pulp pada daerah sentral gigi setelah pembentukan gigi
selesai.

Kandungan anorganik dentin kira-kira 80 % dalam bentuk kristal hidroksiapatit, sehingga


kekerasannya kurang dari enamel, walapun demikian dentin lebih keras dari tulang dan
sementum lebih elastis dari enamel.

Kandungan organik dentin disusun terutama oleh serat kolagen dan substansi dasar
lainnya.

Dentin dibentuk oleh odontoblast dengan laju 4 m/hari (deposit harian) yang ditandai
dengan garis von Ebner.

Tulang alveolar
Bagian dari tulang rahang yang mengelilingi akar gigi, yang berisi soket gigi sebagai
tempat / wadah gigi.
Tulang alveolar berisi tulang kompak yang letaknya berdekatan dengan ligamen
periodontal disebut lamina dura. Ini adalah bagian yang melekat pada sementum akar dan terikat
pada ligamen periodontal.

Saluran akar
Bagian dari ruang pulpa yang berada dalam akar gigi dan mengandung jaringan pulpa,
saraf dan pembuluh darah.
Sementum
Jaringan ikat yang keras yang menutupi akar gigi, yang terikat pada ligamen periodontal.
Sedikit lebih lembut dari dentin dan terdiri dari sekitar 45% sampai 50% bahan anorganik
(hydroxylapatite) dan 50% sampai 55% bahan organik dan air. Abrasi, erosi, karies, scaling, dan

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 14


prosedur finishing dan polishing dapat mengakibatkan denuding dentin yang meliputi
sementum, yang dapat menyebabkan dentin menjadi sensitif terhadap beberapa jenis rangsangan
(misalnya, panas, dingin, zat manis, asam zat).
Jaringan keras yang terakhir dari sebuah gigi adalah sementum. Layaknya enamel yang
melapisi dentin pada bagian mahkota, sementum juga melapisi dentin namun untuk dentin pada
bagian akar gigi.Sementum ini secara normal tidak tampak dari pandangan kita, namun tertutup
oleh tulang dan dilapisi olehgusi. Pada beberapa kondisi abnormal, sementum akan tampak.
Terbentuk oleh sel cementoblast. Lebihlembut dibandingkan enamel, tipis dan berwarna kuning.
Sementum melapisi permukaan akar gigi. Fungsi utamanya adalah sebagai perlekatan serabut
ligament periodontal yang menahan gigi untuk tetap pada posisinya dan berhubungan dengan
jaringan sekitarnya.
Sementum, seperti dentin, dapat tumbuh secara terus menerus selama kehidupan gigi
tersebut. Sementumyang pertama kali ada disebut sementum primer, sedangkan sementum yang
baru terbentuk mengacukepada sementum sekunder. Sementum sekunder biasanya terbentuk
sebagai hasil dari perlukaan yang bersifat fisika, kimiawi, maupun akibat bakteri, namun
penyebab yang paling sering ditemukan adalahakibat perlukaan secara fisikal atau tekanan.
Sementum primer hanya merupakan suatu lapisan tipis, akan tetapi, karena deposit dentin
sekunder yangterus menerus, maka lapisannya akan menjadi jauh lebih tebal. Penebalan tersebut
tidak terjadi secaramenyeluruh, akan tetapi dapat terlihat secara jelas di beberapa area,
tergantung pada penyebabnya.Sementum berwarna kuning terang, lebih gelap dibandingkan
enamel dan lebih terang dibandingkan dentin, dengan demikian dapat dibedakan dari enamel dan
dentin.
Hubungannya dengan tepi email bervariasi, dapat terletak atau bersitumpang dengan
email tetapi dapat jugaterpisah dari enamel oleh adanya sepotong kecil dentin yang terbuka.
ketebalan sementum bervariasi, padadaerah sepertiga koronal hanya 16-60 mikrometer dan
sepertiga apikal 200 mikrometer.
Seperti jaringan klasifikasi lainnya, tulang dan denting, sementum terdiri dari serabut
kolagen yangtertanam di dalam matriks organik yang terklasifikasi. kandungan organiknya, yaitu
hidroksiapatit, lebihkecil dari tulang, misalnya hanya sekitar 45% (tulang 65%, dentin 70%,
email 97%).

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 15


Ada dua tipe sementum: selular dan aselular. sementum selular mengandung sementosit
pada lakuna sepertiosteosit pada tulang, dan saling berhubungan satu sama lain melalui anyaman
kanalikuli. Sementum aselular membentuk lapisan permukaan yang tipis, sering terbatas hanya
pada bagian servikal akar. tidak mengandung sementosit di dalam substansinya, tetapi
sementoblas terletak di permukaan sehingga istilahaselular sebenarnya kurang tepat diterapkan
di sini.
Ada dua susunan serabut kolagen pada sementum. serabut utama adalah serabut ligamen
perodontal yangtertanam sebagai serabut sharpey pada matriks klasifikasi dan tergabung pada
sementum ketika sementumdideposisikan. Serabut ini tersusun tegak lurus terhadap permukaan
sementum. Serabut lainnya membentuk anyaman padat dan tidak teratur pada matriks. pada
sementum aselular serabut sharpey tersusun padat dansangat terkalsifikasi; pada sementum
selular, serabut tersusun longgar dan terkalsifikasi sebagian. Berbedadengan tulang, di sini tidak
terlihat adanya remodeling sementum misalnya melalui resorpsi internal dandeposisi; meskipun
demikian, ada aposisi kontinu dari sementum permukaan karena aktivitas sementoblasterus
berlanjut di sepanjang kehidupan. sementoid atau presementum adalah nama yang digunakan
untuk menyebut matriks sementum sebelum kalsifikasi. selama kalsifikasi kristal hidroksiapit
didepositkan di bawah serabut kolagen sejajar terhadap permukaannya, kemudian pada daerah
permukaan dan akhirnya pada matriks sementoid. permukaan sementum berbentuk tonjolan
konus di sekitar serabut atau bundle tunggal.
Ketebalan sementum terbesar terjadi pada apeks dan pada daerah furkasi. dengan adanya
atrisi misalnya ausnya permukaan oklusal gigi, deposisi kompensasi dari sementum apikal akan
berlangsung, bersamaandengan deposisi tulang pada puncak tulang alveolar dan pada fundus
soket, untuk mempertahankan dimensi vertikal dari wajah.
Pembentukan sementum yang berlebihan atau disebut juga sebagai hipersementosis,
dapat terjadi setelahadanya penyakit pulpa atau stres oklusal. hipersementosis menyeluruh yang
mengenai semua gigiumumnya herediter; keadaan ini juga terjadi pada penyakit paget. resorpsi
sementum dapat disebabkankarena stres oklusal yang berlebihan , gerakan ortodonti, tekanan
dari tumor atau kista, defisiensi kalsiumatau vitamin A dan D. keadaan ini juga dapat ditemukan
pada penyakit metabolisme tetapi patogenesisnyatidak jelas. Deposisi sementum dapat
berlangsung setelah adanya resorpsi bisa penyebabnya sudahdihilangkan. kadang kadang
ankilosis sementum dan soket tulang, juga dapat terjadi.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 16


Pada saat pertama kali terbentuk, sementum belum terklasifikasi, disebut sementoid.
Setelah lapisan baruterbentuk. matriks yang telah tersusun sebelumnya terklasifikasi dan menjadi
sementum matang. secaramikroskopis, sementum dapat dibagi menjadi dua tipe: selular dan
aselular, namun tidak berbeda dalamfungsinya. sementum selular terdiri atas lakuna yang berisi
sel sel sementosit. sel sel saling berhubungan melalui kanalikuli. penyebaran sementum
selular dan aselular pada akar gigi bervariasi, biasanya sementum yang menutup bagian koronal
akar gigi adalah sementum aselular, sedangkan yang menutup bagian apikal adalah sementum
selular. sementum selular juga lebih banyak terdapat pada daerah bifurkasi dan trifurkasi serta
sekitar apeks gigi, dan merupakan sementum yang lebih awal terbentuk selama penyembuhan
luka.
Sementum didepositkan sepanjang daur hidup sebuah gigi. sementoid dianggap sebagai
penghalangterhadap migrasi epitelium fungsional ke apikal dan terhadap resorpsi permukaan
akar. Fungsi sementum adalah:
1. menahan gigi pada soket tulang dengan perantaraan serabut prinsipal ligamen
periodonsium.
2. mengompensasi keausan struktur gigi karena pemakaian dengan pembentukan terus
menerus.
3. memudahkan terjadinya pergeseran mesial fisiologis.
4. memungkinkan penyusunan kembali serabut ligamen periodonsium secara terus
menerus.

MACAM-MACAM SEMENTUM:

SEMENTUM ASELLULER

bagian sementum yang menutupi 1/3 sampai akar, terdiri dari serabut-serabut
kolagen

SEMENTUM SELLULER

bagian sementum yang menutupi 1/2 sampai 2/3 apeks


2.1.1. Ligamen periodontal

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 17


Sebuah sistem jaringan ikat yang menghubungkan akar dari gigi ke tulang alveol. Serat
ini membantu gigi mengatasi gaya tekan alami substansial yang terjadi selama mengunyah dan
tetap tertanam dalam tulang.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 18


BAB III
HIPERSENSITIVITAS DENTIN

Reaksi Hipersensitivitas
Hipersensitivitas adalah peningkatan reaktivitas atau sensitivitas terhadap antigen yang
pernah dipajankan atau dikenal sebelumnya. Reaksi hipersensitivitas terdiri atas berbagai
kelainan yang heterogen yang dapat dibagi menurut berbagai cara (Baratawidjaja, 2009).

Hipersentivitas gigi, sensitivitas dentin atau hipersensitivitas sering digunakan untuk


mendeskripsikan kondisi klinis dari respon berlebihan dari stimulus exogen.

Stimulus exogen termasuk thermal, taktil, atau perubahan osmotik. Yang mana stimulus
ekstrim dapat membuat semua gigi sakit. Kata hipersensitivitas berarti respon sakit pada stimulus
tidak normal yang berhubungan dengan nyeri (Garg,2010). Nyeri sering di deskripsikan sebagai
sensori tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang berhubungan dengan kerusakan
jaringan yang sebenarnya atau berpotensi terjadi kerusakan jaringan (Garg,2010)

Hipersensitivitas dentin terjadi karena terbukanya dentin yang pada umumnya disebabkan
karena resesi gingiva akibat kesalahan menyikat gigi sehingga terjadi abrasi dan erosi. Pada
umumnya terjadi di bagian servikal gigi dengan gejala sakit atau ngilu apabila
terjadi kontak dengan rangsangan dari luar seperti panas dingin, dehidrasi
(hembusan udara), asam, maupun alat alat kedokteran gigi misalnya sonde,
pinset, dan lain-lain. Bagi penderita r a s a ngilu itu merupakan suatu
g a n g g u a n , d i m a n a s e c a r a t i d a k l a n g s u n g a k a n m e n i m b u l k a n masalah
lain seperti terganggunya pembersihan gigi dan mulut, sehingga kebersihan
mulut kurang sempurna yang akhirnya akan menyebabkan kelainan periodontal.
Untuk mencegah terjadinya kelainan lebih lanjut maka hipersensitivitas dentin perlu dirawat.
(Prijantijo, 1996).

Reaksi hipersensitifitas pada gigi sering dikaitkan dengan teori hidrodinamik. Teori

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 19


hidrodinamik pada sensitifitas dentin adalah proses penerusan perpindahan cairan dentin ke
tubulus dentin, yang mana merupakan perpindahan ke salah satu arah yaitu ke arah luar
(permukaan) atau ke arah dalam (pulpa) dan menstimulasi nervus sensoris pada dentin atau
pulpa. Gerakan cairan sangat cepat dan terjadi sebagai respon terhadap perubahan temperatur,
tekanan, atau mekanik yang menghasilkan deformasi mekanis pada odontoblas dan saraf di
dekatnya (Ingle, 2002) . Teori hidrodinamik menjelaskan reaksi rasa sakit pulpa terhadap panas,
dingin, pemotongan dentin, dan probing dentin. Panas mengembangkan cairan dentin, sedang
dingin mengerutkan cairan dentin, memotong tubuli dentin memungkinkan cairan dentin keluar,
dan melakukan probing pada permukaan dentin yang dipotong atau terbuka dapat merusak
bentuk tubuli dan menyebabkan gerakan cairan. Semua rangsangan ini mengakibatkan gerakan
cairan dentin dan menggiatkan ujung saraf.(Grossman, 1988).

Pada dasarnya dentin bersifat sensitif karena secara struktural mengandung


serabut saraf yang berjalan dalam tubulus dari arah pulpa. Namun kesensitifan ini tidak
menimbulkan masalah karena adanya jaringan lain yang melindungi dentin yaitu tubulus,
enamel, dan ginggiva. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa tubulus dentin pada
pesien dengan dentin hypersensitivity ditemukan lebih banyak dan berkembang
dibandingkan dengan orang normal.Hasil ini selaras dengan hipotesis bahwa rasa nyeri dimediasi
oleh mekanisme hidrodinamik. (Orchardson and Gillam, 2006).

Erosi gigi dapat meningkatkan sensitivitas dari dentin sehingga gigi lebih sensitif saat
terpapar rangsangan, terutama rangsangan suhu. Keadaan ini sering disebut
hipersensitivitas dentin yang semakin hari semakin sering dijumpai. Hipersensitivitas
dentin ini dapat diketahui dari intensitas nyeri yang dihasilkan. Semakin berat
hipersensitivitas dentin yang terjadi, semakin berat pula intensitas nyeri yang dihasilkan.
(Mitchell, 2004).

Gigi sensitif diakibatkan oleh terbukanya lapisan dentin. Ketika lapisan dentin terbuka,
rangsang termal akan mudah terdeteksi, sehingga akan membuat gigi terasa linu ketika makan/
minum dengan suhu yang dingin. Beberapa perawatan gigi ada juga yang mengakhibatkan gigi
sensitif. Di antaranya pemutihan gigi, pembersihan karang gigi / skeling, perawatan kawat gigi,

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 20


dan penambalan gigi (Ardyan, 2010). Penambalan gigi harus dilakukan dengan prosedur yang
tepat, selain itu menjaga kebersihan mulut tetaplah penting. Gigi yang telah ditambal dan tidak
dijaga kebersihannya memungkinkan terjadinya karies sekunder. Karies sekunder ini merupakan
karies kompleks yang terbentuk setelah karies primer. Karies sekunder akan berakhibat
terbukanya lapisan dentin lebih dalam menuju pulpa, sehingga rangsang termal akan lebih
mudah masuk ke ujung saraf di pulpa, akhibatnya sensitifitas gigi akan meningkat.(David, 2008).

PULPITIS
Pulpa adalah organ formatif gigi dan membangun dentin primer selama perkembangan gigi,
dentin sekunder setelah erupsi dan dentin reparative sebagai respon terhadap stimulasi selama
odontoblas tetpau utuh. Pulpa bereaksi terhadap stimuli panas dan dingin yang hanya dirasakan
sebagai rasa skait. Pulpa biasanya tahan terhadap sushu sekitar 16 derajat celcius dan 55 derajat
celcius yang dikenakan secara langsung pada daerah superfisial. Rasa sakit merupakan suatu
reaksi protektif yang menjadi tanda bahwa terjadi suatu peradangan atau kerusakan pada pulpa.
Apabila terjadi kerusakan pada pulpa sangat kecil kemungkinan untuk kembali seperti semula.
Semua ini tergantung pada aktivitas seluler, suplai nutrisi, usia, metabolik dan parameter
fisiologis yang lainnya.

Etiologi yang sering didapatkan pada kerusakan yang terjadi pada pulpa adalah fisis
(mekanis ,thermal, listrik, dan radiasi), kimiawi (asam fosfat, monomer akriik, erosi akibat asam)
dan bacterial (toksin yang diproduksi oleh bakteri, invasi bakterial secara langsung kedalam
pulpa, dan kolonisasi microbial didalam pulpa).
Pulpitis itu sendiri ada yang bersifat reversible dan ireversibel. Pulpitis reversible adalah suatu
kondisi inflamasi ringan sampai sedang yang disebabkan oleh stimulus noksius, tetapi
kemampuan pulpa untuk kembali seperti semula memiliki kemungkinan yang masih besar dan
rasa sakit akan hilang bila stimulus dihilangka. Ra sakit yang berlangsung sebentar dapat
diakibatkan oleh stimulus thermal , trauma maupun stimulus kimiawi. Pulpitis reversible
simtomatik ditandain dengan rasa sakit yang tajam, hanya sebentar, lebih sering diakibatkan oleh
suhu dingin daripada panas atau oleh udara dingin. Tidak timbul secara spontan dan tidak
berlanjut jika etiologi dihilangkan. Perbedaan dengan pulpitis ireversibel adalah dimana pada
pulpitis ireversibel rasa sakit yang terjadi biasanya lebih parah dan berlangsung dalam jangka

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 21


waktu yang lama, tetap erasa sakit meskipun etiologi telah dihilangkan dan sering disertai
dengan rasa sakit yang spontan. Pulpitis ireversibel biasanya disertain dengan keadaan pulpa
yang infeksi. Perawatan terbaik untuk pulpitis reversible adalah pencegahan. Perawatan periodic
untuk mencegah perkembangan karies, penumpatan awal bila kavitas meluas. Tes vitalitas
merupakan suatu hal yang penting untuk memastikan terdapat suatu keadaan nekrosis pada
sekitar daerah pulpa atau jaringan sekitarnya. Namun dalam penanganan inflamasi hendaknya
dianggap sebagai pulpitis ireversibel. Prognosis untuk untuk ulpa adalah baik jiga etiologi
dihilangkan sedini mungkin. Hal ini berguna untuk mencegah terjadiya perluasan kearah pulpitis
ireversibel yang semakin parah (Grossman, et al., 1988) Pupitis adalah keadaan dimana
daerah pulpa mengalami inflamasi akut maupun kronis, sebgian atau seluruhnya dan dapa pula
dalam keadaan terinfeksi atau streril. Dua jenis inflamasi pulpa yaitu kronis dan akut :
1. pulpitis kronis berasal dari pulpa yang terbuka akibat karies atau trauma.
2. pulpitis akut umunya mengalami rasa sakit yang cepat, sebentar.
Pulpitis itu sendiri ada yang bersifat reversible dan ireversibel. Pulpitis reversible adalah suatu
kondisi inflamasi ringan sampai sedang yang disebabkan oleh stimulus noksius, tetapi
kemampuan pulpa untuk kembali seperti semula memiliki kemungkinan yang masih besar dan
rasa sakit akan hilang bila stimulus dihilangkan. Rasa sakit yang berlangsung sebentar dapat
diakibatkan oleh stimulus thermal, trauma maupun stimulus kimiawi. Pulpitis reversible
simtomatik ditandain dengan rasa sakit yang tajam, hanya sebentar, lebih sering diakibatkan oleh
suhu dingin daripada panas atau oleh udara dingin. Tidak timbul secara spontan dan tidak
berlanjut jika etiologi dihilangkan. Perbedaan dengan pulpitis ireversibel adalah dimana pada
pulpitis ireversibel rasa sakit yang terjadi biasanya lebih parah dan berlangsung dalam jangka
waktu yang lama, tetap erasa sakit meskipun etiologi telah dihilangkan dan sering disertai
dengan rasa sakit yang spontan. Pulpitis ireversibel biasanya disertain dengan keadaan pulpa
yang infeksi.

Perawatan terbaik untuk pulpitis reversible adalah pencegahan. Perawatan periodik untuk
mencegah perkembangan karies, penumpatan awal bila kavitas meluas. Tes vitalitas merupakan
suatu hal yang penting untuk memastikan terdapat suatu keadaan nekrosis pada sekitar daerah
pulpa atau jaringan sekitarnya. Namun dalam penanganan inflamasi hendaknya dianggap sebagai
pulpitis ireversibel.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 22


Prognosis untuk untuk pulpa adalah baik jika etiologi dihilangkan sedini mungkin. Hal ini
berguna untuk mencegah terjadiya perluasan kearah pulpitis ireversibel yang semakin parah
(Grossman, et al., 1988)

PROSES TERJADINYA HIPERSENSITIF DENTIN

Hipersensitif dentin ditandai dengan rasa sakit pendek yang timbul dari dentin yang
terpapar dan biasanya karena rangsangan thermal, uap, taktil, osmotik atau kimia dan tidak
dihubungkan dengan kerusakan gigi dan patologinya.1-3 Hipersensitif dentin adalah kondisi
klinis gigi yang relatif umum pada gigi permanen yang disebabkan oleh dentin yang terpapar
akibat hilangnya enamel atau sementum. Manifestasinya bisa secara fisik dan secara psikologis
tidak nyaman bagi pasien dan dapat didefinisikan sebagai nyeri akut durasi pendek yang
disebabkan oleh terbukanya tubulus dentin pada permukaan dentin.1 Berikut ini akan dijelaskan
mengenai teori-teori terjadinya hipersensitif dentin, kelainan yang memungkinkan terjadinya
hipersensitif dentin, faktor-faktor predisposisi dan pemicu dan mulai terjadinya hipersensitif
dentin.

A Teori-teori terjadinya hipersensitif dentin


Teori-teori terjadinya hipersensitif dentin, yaitu:

1. Teori transduser dengan odontoblas


Transduser odontoblas mekanisme yang diajukan oleh Rappet al., menyatakan bahwa
odontoblas bertindak sebagai reseptor sel, perubahan yang tidak langsung dalam potensi
membran odontoblas melalui sambungan sinaptik dengan saraf. Hal ini dapat mengakibatkan
rasa sakit dari ujung-ujung saraf yang terletak di batas pulpodentinal. Namun bukti dari teori
transduser dengan odontoblas mekanisme ini kurang dan tidak meyakinkan.

2. Teori hidrodinamik

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 23


Sakit yang disebabkan oleh pergerakan cairan di dalam tubulus dentin, dapat dijelaskan
dan dapat diterima secara luas yaitu teori hidrodinamik yang diusulkan oleh Brannstrom dan
Astron pada tahun 1964. Menurut teori ini, lesi melibatkan enamel dan hilangnya sementum
didaerah servikal dan akibatnya tubulus dentin terbuka di rongga mulut, di bawah rangsangan
tertentu, yang memungkinkan pergerakan cairan di dalam tubulus dentin secara tidak langsung
merangsang ektremitas dari saraf pulpa menyebabkan sensasi rasa sakit.1 Teori ini juga
menyimpulkan bahwa hipersensitif dentin dimulai dari dentin yang terpapar mengalami
rangsangan, lalu cairan tubulus bergerak menuju reseptor syaraf perifer pada pulpa yang
kemudian melakukan pengiriman rangsangan ke otak dan akhirnya timbul persepsi rasa sakit.

A B
Gambar 1. (A) Tubulus dentin yang tertutup dan (B) Tubulus dentin yang terbuka (Walters PA. J
Contemp Dent Pract Mei 2005; (6)2: 108).

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 24


Gambar 2. Gambaran deskripsi teori hidrodinamik Brannstrom (Walters PA. Dentinal
Hypersensitivity: A Review. J Contemp DentPract Mei 2005;(6)2:2)
Universitas

Gambar 3. Gambar ilustrasi mekanisme teori hidrodinamik yang diawali oleh adanya
rangsangan terhadap syaraf intradental dan akhirnya menimbulkan rasa sakit (Orchardson R and
Gillam DG. J Am Dent Assoc 2006; 137: 991).

Prinsip. Pemahaman menganai mekanisme idrodinamik sensitivitas dentin memberikan


dasar untuk mengembangkan terapi desentisisasi. Agen desensitisasi dapat mentargetkan pada
beberapa titik rangkaian hidrodinamik, yang dapat diinterupsi melalui beberapa tindakan.

Penelitian melibatkan studi laboratoris untuk menyaring perawatan potensial dan


mengidentifikasi mekanisme aksinya. Untuk mengevaluasi klaim pabrik-pabrik produk

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 25


desensitisasi, dokter gigi sebaiknya waspada terhadap keterbatasan dan kekuatan metode
penelitian ini.

Model piringan dentin. Preparat piringan dentin kecil dari gigi yang diekstraksi
digunakan untuk mengukur permeabilitas dentin. Permeabilitas diperoleh dari melalui konduktan
hidrolik atau mengalirkan cairan melalui dentin. Beberapa agen desensitisasi seperti oksalat
mengurangi permeabilitas dentin, sedangkan yang lain seperti potasium nitrat ternyata tidak.
Piringan dentin kemudian diteliti menggunakan scanning electron microscope (SEM) untuk
melihat deposit permukaan dan oklusi tubuli . Dengan menggabungkan spesimen piringan dentin
ini pada peralatan intraoral, eksperimen dapat dilakukan in situ dalam kondisi alami dalam
rongga mulut. Adalah hal yang mungkin untuk mereplikasi aliran keluar cairan dentin , yang
dapat menahan difusi ke arah pulpa agen-agen desensitisasi.

Pencatatan konduksi pada serabut saraf terisolasi. Model ini mengidentifikasi agen
(misalnya garam potasium) ( atau prosedur (misalnya penggunaan laser) yang dapat menghambat
konduksi saraf. Meskipun metode in vitro ini memungkinkan skrining cepat agen desensitisasi
potensial, metode ini secara umum tidak menyerupai kondisi alami atau mengindikasikan
bagaimana agen tersebut anak bereaksi ketika terpapar saliva dan tekanan mastikasi.

Percobaan klinis. Tes terakhir dari semua tindakan adalah melihat bagaimana agen
tersebut beraksi dalam tataran klinis. Percobaan terkontrol, blinded, random adalah standar emas
(gold standard) untuk menentukan efikasi (30). Pada percobaan klinis tersebut, produk
dibandingkan dengan formulasi yang sama minus bahan aktif, yang disebut minus aktif,
kontrol negatif ataupun plasebo. Sebuah produk juga dapat dites satu-lawan-satu terhadap
produk yang telah ada untuk menentukan ekuivalensi ataupun superioritas efektivitasnya dengan
pembandingnya.

Kelainan yang memungkinkan terjadinya hipersensitif dentin

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 26


Kelainan yang memungkinkan terjadinya hipersensitif dentin dibatasi dengan yang ada
kaitan dengan kelainan periodonsium, yaitu:

1 Resesi gingiva

Mula-mula hipersensitif dentin diakibatkan oleh resesi gingiva. Dimana menurut Loe et
a. menyatakan bahwa resesi dapat dijumpai pada penduduk negara industry maupun non industry
dan mendefinisikan resesi gingiva sebagai pergeseran tepi gingiva dari posisi normal pada
permukaan mahkota gigi ke arah apikal (permukaan akar) di bawah Batas Sementum Enamel
(BSE).Carranza juga membagi resesi menjadi dua, yaitu: resesi yang dapat terlihat secara klinis
seperti pada kelainan periodontal dengan sebagian akar terbuka dan yang tersembunyi yaitu
tertutup oleh dinding poket yang terinflamasi dan hanya dapat diketahui dengan cara
memasukkan probe periodontal.

Resesi gingiva menyebabkan tersingkapnya akar gigi terhadap kontaminasi lingkungan


rongga mulut. Akibat kelainan ini dentin akan menjadi hipersensitif yang disebut dengan
hipersensitif dentin. Dimana hipersensitif dentin ini adalah keausan sementum akar yang menjadi
tersingkap oleh resesi akan menyingkapkan permukaan dentin yang sangat sensitif, terutama
terhadap sentuhan dan menyebabkan rasa tidak nyaman sampai timbulnya rasa sakit.
Hipersensitif dentin akan menyebabkan berbagai persoalan pada penderita seperti rasa sakit yang
timbul karena perubahan suhu, trauma sikat gigi, makanan dan minuman yang manis atau asam
dan lain-lain.

Gambar 4. Resesi gingiva yang terjadi pada pasien wanita berusia 40 tahun.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 27


(Drisko CH. International Dental Journal 2002; 52: 386).

2 Penyakit periodontal
Selain resesi gingiva, tersingkapnya permukaan akar gigi juga dapat disebabkan oleh
prosedur perawatan periodontal, seperti skeling dan penyerutan akar. Prosedur skeling dan
penyerutan akar dapat menyebabkan hilangnya perlekatan jaringan periodontal dan terkikisnya
sementum. Oleh karena itu, dokter gigi harus hati-hati dalam melakukan prosedur perawatan
periodontal.

Dentin atau permukaan akar, pada keadaan biasa bisa menyebabkan gigi sensitif setelah
prosedur perawatan periodontal. Pasien pada umumnya kembali pada kunjungan kedua atau
ketiga selama perawatan tidak dengan pembedahan dan melaporkan sensitivitas terhadap dingin
atau menyikat gigi pada daerah perawatan. Banyak sensitivitas ringan dan berubah pada
beberapa minggu. Bagaimanapun, ada beberapa kasus sensitivitas yang berat dan menghalangi
pasien untuk melakukan kontrol plak. Sensitivitas ini dapat mengakibatkan nilai pengobatan
yang sedikit dan memungkinkan pembentukan karies. Ahli kesehatan gigi harus bisa mengetahui
kasus-kasus dan pengobatan-pengobatan yang tersedia untuk sensitivitas dentin dan
berkembangnya strategi-strategi yang berhubungan dengan masalah.

Sensitivitas dentin atau sensitivitas akar yang terbuka seperti hipersensitif dentin, yang
berat atau respon yang besar dan tidak terduga terhadap stimulusnya. Persetujuan perawatan
periodontal membersihkan beberapa sementum dan dentin karena prosedur dari sifat dasarnya,
dimana terbuka beberapa permukaan dentin yang bagus di dalam rongga mulut. Dentin yang
terbuka sensitif, tidak membuat hipersensitif, membuat akar sensitif lebih baik dideskripsikan
pada kondisi ini.

Resesi sekunder untuk penyakit periodontal dianggap berkaitan dengan kesehatan gigi
yang buruk, tidak tepat menyikat gigi mungkin bertanggung jawab atas resesi yang berkaitan
dengan kesehatan gigi yang baik. Resesi gingiva akan bertambah sesuai dengan bertambahnya
umur. Neime et al. menyatakan bahwa cara paling efektif untuk menjaga kebersihan mulut
adalah secara mekanis yaitu menyikat gigi. Akan tetapi, cara menyikat yang terlalu keras dapat

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 28


menimbulkan akibat-akibat lain yang tidak diinginkan. Kelainan yang terjadi bervariasi mulai
dari luka pada gingiva, resesi gingiva, dan abrasi pada permukaan akar.

1. Faktor-faktor predisposisi

Etiologi resesi gingiva belum diketahui dengan pasti, akan tetapi sering dikaitkan dengan
faktor-faktor seperti menyikat gigi, posisi gigi yang tidak benar, perlekatan frenulum yang tinggi,
kebiasaan buruk, erosi karena bahan makanan serta faktor iatrogenik yang berhubungan dengan
prosedur restorasi gigi seperti pembuatan restorasi pada daerah servikal maupun prosedur
perawatan periodontal. Akan tetapi juga, ada faktor-faktor yang bisa berperan sebagai etiologi
resesi gingiva yaitu: inflamasi gingiva, friksi sikat gigi, friksi dari jaringan lunak dan perlekatan
frena atau otot. Ada juga faktor yang mempengaruhi kerentanan terjadinya resesi gingiva yaitu:
posisi gigi, morfologi akar gigi, zona gingiva cekat yang inadekuat dan tekanan oklusal yang
berlebihan.

Faktor-faktor berikut telah dikemukakan sebagai etiologi resesi gingiva. Inflamasi


gingiva yaitu terjadinya proses inflamasi setempat yang menyebabkan kehancuran jaringan ikat
dan poliferasi epitel ke sisi-sisi yang mengalami perusakan jaringan ikat. Proliferasi sel-sel epitel
ke jaringan ikat menyebabkan penyusutan permukaan epitel, yang secara klinis terlihat berupa
resesi. Friksi sikat gigi, terutama pada tehnik penyikatan gigi dalam arah horizontal dengan bulu
sikat yang keras disertai dengan tekanan yang agak kuat menyebabkan resesi gingiva. Resesi
gingiva akibat kesalahan penyikatan gigi, disebut juga sebagai abrasi gingiva, lebih sering
dijumpai dan lebih parah pada individu dengan gingiva yang relatif sehat, sedikit penumpukan
plak dan oral hygiene yang baik. Friksi dari jaringan lunak yang berasal dari aksi otot-otot pipi
dan bibir terhadap gingiva bisa menjurus pada resesi gingiva, yang secara khusus dinamakan
abrasi gingiva. Perlekatan frena atau otot yang terlalu dekat ke tepi gingiva dapat mengganggu
jaringan gingiva dan mengubah komposisi jaringan ikatnya dari massa kolagen yang rapat
menjadi massa yang longgar dan elastik seperti biasa dijumpai pada mukosa alveolar. Jaringan
tipis dengan perlekatan yang longgar ini cenderung membentuk sulkus yang akan mempermudah
penumpukan dan terlalu dekat ke tepi gingiva menyebabkan tarikan-tarikan pada tepi gingiva
setiap kali berbicara, mengunyah maupun menyikat gigi. Kerentanan bagi terjadinya resesi

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 29


gingiva juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Posisi gigi yaitu apabila gigi rotasi, tilting atau
labioversi, plat tulang tipis dan berkurang tingginya. Pada keadaan yang demikian, tekanan
pengunyahan atau penyikatan gigi yang sedang telah memungkinkan resesinya gingiva yang
tidak didukung tulang alveolar tersebut. Morfologi akar gigi yaitu bila inklinasi lingual dari akar
palatinal atau akar bukal menjulang ke arah bukal, tulang pada daerah serviks gigi menjadi tipis
atau berkurang ketinggiannya. Hal ini menyebabkan gingiva bebas tidak punya dukungan,
sehingga mudah terjadi resesi. Pada zona gingiva cekat yang inadekuat mukosa alveolar akan
berperan sebagai jaringan marginal sekeliling gigi. Jaringan yang perlekatannya longgar dan
tidak berkeratin ini tidak dapat menahan tekanan dari penyikatan gigi maupun ektruksi makanan
pada waktu pengunyahan sehingga mudah terjadi resesi. Tekanan oklusal yang berlebihan bisa
menyebabkan terposisinya plat tulang vestibular dan oral yang tipis, sehingga gingiva rentan
untuk mengalami resesi.
4 Pemicu dan mulai terjadinya hipersensitif dentin

Pemicunya berupa rangsangan terhadap tubulus dentin yang terbuka seperti taktil atau
sentuhan, uap, kimiawi dan rangsangan panas atau dingin. Namun, rangsangan dingin
merupakan rangsangan yang paling sering menyebabkan hipersensitif dentin. Dimana
rangsangan dingin menyebabkan gerakan cairan ke luar dan menghasilkan respon saraf lebih
cepat dan besar bila dibandingkan dengan rangsangan panas yang menyebabkan gerakan cairan
ke arah dalam. Hal ini dapat menjelaskan bahwa adanya respon yang cepat dan hebat terhadap
rangsangan dingin dibandingkan dengan respon yang lambat terhadap rangsangan panas. Oleh
karena itu, perubahan tekanan sepanjang dentin akan mengubah reseptor nyeri pada daerah
pulpodentinal.

Seperti yang dijelaskan pada teori hidrodinamik bahwa pergerakan cairan dalam tubulus
dentin (ke dalam dan ke luar) akan menyebabkan stimulus pada saraf pulpa. Dan teori
hirodinamik juga menyimpulkan bahwa hipersensitif dentin dimulai dari dentin yang terpapar
mengalami rangsangan, lalu cairan tubulus bergerak menuju reseptor saraf perifer pada pulpa
yang kemudian melakukan pengiriman rangsangan ke otak dan akhirnya timbul persepsi rasa
sakit.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 30


Beberapa pasien yang terkena termal dingin dan panas biasanya giginya terasa ngilu. Jika
permukaan marginal pada bukal gigi akan sensitif untuk dingin atau sentuhan mekanis, kasus
yang utama permukaan akar sensitif menyebabkan resesi gingiva. Biasanya pada kasus yang lain
diakui hipersensitivitas adalah bleaching (pemutihan) gigi. Ketika sensitivitas dapat membuat
pasien mulai menyikat gigi pada daerah yang sensitif maka hal itu akan menambah
perkembangan dari inflamasi gingiva dan sensitivitas meningkat. Termal sensitivitas di atas
permukaan oklusal mungkin mengindikasi restorasi yang salah atau pemakaan pada permukaan
oklusal yang berlebihan mempengaruhi nervus pada gigi. Tekanan sensitivitas dapat diindikasi
dengan kuat atau restorasi fraktur atau fraktur gigi. Banyak pasien biasanya bertanya apa yang
membuat gigi mereka sensitif. Respon yang positif harus diikuti dengan teliti pada gigi dari
berbagai sudut untuk mendeteksi vertikal dan horizontal yang benar atau fraktur enamel. Kaca
gigi dapat digunakan untuk melihat kondisi gigi dengan bantuan cahaya lampu. Daerah sensitif
harus dicatat pada rekam medik pasien dan dipertimbangkan untuk rencana perawatan yang
selanjutnya.

Gambar 5. Gambaran etiologi dan mekanisme terjadinya hipersensitif dentin (Strassler HE,
Drisko CL, Alexander DC. http://www.insidedentalassisting.com( 23 juni 2010)

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 31


RESTORASI
Pada kasus yang dialami pasien, pasien ingin ditambal sewarna gigi. Hal ini bisa diatasi
dengan komposit. Komposit kini telah digunakan dalam restorasi dan dalam memperoleh estetik
yang baik, yang sebelumnya menggunakan amalgam (Horsted, et.al. 1999). Sebelum kita
melakukan suatu penumpatan alangkah baiknya kita menetukan klasifikasi dari kavitas yang aka
kita tumpat tersebut. Adapun klasifikasi kavitas Menurut Black, lesi karies diklasifikasikan
menjadi:
- Kelas I: mengenai pits dan/atau fissure serta berhubungan dengan lesi karies
- Kelas II: mengenai permukaan proksimal gigi posterior
- Kelas III: mengenai permukaan proksimal gigi anterior
- Kelas IV: mengenai permukaan proksimal gigi anterior dan melibatkan sudut incisal
- Kelas V: mengenai permukaan servikal
(Qualtrough et al, 2005)
RESIN KOMPOSIT
Generasi resin komposit yang kini beredar mulai dikenal di akhir tahun enam puluhan.
Sejak itu, bahan tersebut merupakan bahan restorasi anterior yang banyak dipakai karena
pemakaiannya gampang, warnanya baik, dan mempunyai sifat fisik yang lebih baik
dibandingkan dengan bahan tumpatan lain. Sejak akhir tahun enam puluhan tersebut, perubahan
komposisi dan pengembangan formulasi kimianya relatif sedikit.Bahan yang terlebih dulu
diciptakan adalah bahan yang sifatnya autopolimerisasi (swapolimer), sedangkan bahan yang
lebih baru adalah bahan yang polimerisasinya dibantu dengan sinar. Resin komposit mempunyai
derajat translusensi yang tinggi. Warnanya tergantung pada macam serta ukuran pasi dan
pewarna yang dipilih oleh pabrik pembuatnya, mengingat resin itu sendiri sebenarnya transparan.
Dalam jangka panjang, warna restorasi resin komposit dapat bertahan cukup baik.
Biokompabilitas resin komposit kurang baik jika dibandingkan dengan bahan restorasi semen
glass ionomer, karena resin komposit merupakan bahan yang iritan terhadap pulpa jika pulpa
tidak dilindungi oleh bahan pelapik. Agar pulpa terhindar dari kerusakan, dinding dentin harus
dilapisi oleh semen pelapik yang sesuai, sedangkan teknik etsa untuk memperoleh bonding
mekanis hanya dilakukan di email perifer.
Indikasi restorasi komposit :
Resin komposit dapat digunakan pada sebagian besar aplikasi klinis. Secara umum, resin
komposit digunakan untuk:
a. Restorasi kelas I, II, III, IV, V dan VI
b. Fondasi atau core buildups
c. Sealant dan restorasi komposit konservatif (restorasi resin preventif)
d. Prosedur estetis tambahan
1. Partial veneers

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 32


2. Full veneers
3. Modifikasi kontur gigi
4. Penutupan/perapatan diastema
e. Semen (untuk restorasi tidak langsung).
f. Restorasi sementara
g. Periodontal splinting
Restorasi kavitas klas I komposit, The American Dental
Association(ADA) mengindikasikan kelayakan resin komposit untuk digunakan
sebagai pit dan fissure sealant, resin preventif, lesi awal kelas I dan II yang menggunakan
modifikasi preparasi gigi konservatif, restorasi kelas I dan II yang berukuran sedang, restorasi
kelas V, restorasi pada tempat-tempat yang memerlukan estetika, dan restorasi pada pasien yang
alergi atau sensitif terhadap logam.
ADA tidak mendukung penggunaan komposit pada gigi dengan tekanan oklusal yang besar,
tempat atau area yang tidak dapat diisolasi, atau pasien yang alergi atau sensitif terhadap material
komposit. Jika komposit digunakan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ADA menyatakan
bahwa "ketika digunakan dengan benar pada gigi-geligi desidui dan permanen, resin berbahan
dasar komposit dapat bertahan seumur hidup sama seperti restorasi amalgam kelas I, II, dan V.
Komponen resin komposit :
1. Komponen resin organik: filler anorganik
2. Coupling agent untuk menggabungkan resin dan filler
3. Inisiator dan aktivator untuk mengaktifkan mekanisme setting
4. InhibitorPigmen dan komponen lainnya
Keuntungan penggunaan resin komposit :
1. Penghubung dengan sistem adesive dentin, dapat ditempatkan dengan minimal atau tanpa
preparasi gigi.
2. Light curing memungkinkan segera dilakukan finishing dan polishing setelah pengisian kavitas
(Sherwood, 2010).
3. Restorasi, jika diletakkan secara tepat pada gigi yang dimaksud maka akan mengurangi marginal
linkage yang dapat menyebabkan staining, karies sekunder, dan gigi sensitif.
4. Operator dapat melakukan refinish, memperbaharui atau merestorasi tambalan tersebut.
Hasilnya lebih konservative dan perawatannya sedikit mungkin menghilangkan bagian gigi.
Kerugian penggunaan resin komposit :
1. Polimerisasi shringkage 2-3% dapat mengganggu marginal adaptasi dari material, fraktur pada
tonjol yang lemah terutama pada premolar, dan menghasilkan post-operative sensitivity.
2. Bonding ke dentin menjadi suatu masalah, terutama pada tepi preparasi, contoh : lantai dibawah
box ketika lantai dibawah cemento-enamel junction(CEJ) di preparasi proximal.
3. Absorbsi air pada permukaan dan marginal staining setelah beberapa tahun perawatan

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 33


4. Sensitivitas pasien dan operator terhadap bahan adesive resin terutama hydroxyethylmethacrylate
(HEMA).
5. Kurang radiopak dibandingkan amalgam pada interpretasi radiografi sehingga sedikit
menyulitkan dalam pemeriksaan.

Indikasi penggunaan resin komposit :


1. Kecil, medium, besar restorasi oklusal pada gigi posterior
2. Kecil, medium, besar pada restorasi proximal pada gigi premolar dan kecil sampai sedang pada
preparasi proximal gigi molar permanen.
3. Lesi cervikal pada semua gigi
4. Restorasi incisal edge
5. Fissure sealant dan preventive restorasi resi
Kontraindikasi penggunaan resin komposit
1. Preparasi proximal yang besar pada gigi molar permanen yang ada tuntutan perbaikan tonjol.
2. Restorasi lesi karies akar yang lebih baik menggunakan semen ionomer kaca .
3. Pada pasien yang mempunyai alergi pada satu atau lebih komponen resin-base-restorative-
material termasuk adesive sistem.
4. Kavitas interproxinal yang sangat dalam sehingga sinar tidak dapat mengjangkau.
(Ireland, 2006)
Keluhan pasien yang lain yaitu sisa makanan masih sering terselip di gigi yang ditambal
dengan amalgam, ini berarti tambalan dengan amalgam tersebut tidak bagus, dan tidak benar-
benar merestorasi karies yang terdapat pada gigi pasien. Hal ini bisa diatasi dengan menumpat
lubang-lubang di sela-sela gigi dengan komposit dengan prosedur yang tepat sehingga kejadian
seperti tumpatan amalgam yang lalu tidak terjadi lagi. Teknik komposit posterior jauh lebih
memerlukan ketepatan teknis dibandingkan restorasi amalgam dan untuk menyelesaikan
restorasinya memerlukan waktu lebih banyak (Horsted, et.al. 1999). Material restorasi ini juga
bertahan lama, sehingga cenderung memberikan kerapatan yang paling baik (Walton, 2008).

KARIES SEKUNDER
Karies sekunder adalah lesi pada tepi restorasi yang telah ada sebelumnya. Pemeriksaan
histologis menunjukan suatu demineralisasi jaringan sepanjang dinding kavitas. Karies sekunder
berbeda dengan 3 wall lesions dan merupakan hasil dari suatu microleakage. Dan juga berbeda
dengan residual karies yang merupakan sisa jaringan terdemineralisasi yang tertinggal saat
preparasi kavitas. Karies sekunder muncul pada area penumpukan plak. Karena alasan inilah,
batas cervical dari tambalan yang umumnya terkena (Edwina, 2001).
Mekanisme terjadinya karies sekunder
1. Proses terjadinya karies Menurut Teori Kimia parasit (WD. Miller)

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 34


Enzim dalam air ludah seperti amilase, maltose akan mengubah polisakarida menjadi glukose
dan maltose. Glukosa akan menguraikan enzim-enzim yang dikeluarlan oleh mikroorganisme
terutama laktobasilus dan streptokokus akan menghasilkan asam susu dan asam laktat, maka pH
rendah dari asam susu (pH 5,5) akan merusak bahan-bahan anorganik dari email (93 %) sehingga
terbentuk lubang kecil (Yuwono, 1993). Predisposisi untuk terjadinya karies gigi yaitu Keadaan
gigi yang porus, lunak (Hipoplasia), adanya fisur-fisur yang dalam seperti foramen saekum,
posisi gigi yang tidak teratur, pada wanita hamil, penderita penyakit Diabetus militus, rematik
dan lain lain
2. Teori endogen-pulpogene phospatase (Csernyei, 1932).
Penyebab-penyebab karies sekunder
Kegagalan restorasi resin komposit yang menyebabkan kebocoran dari resin komposit,
dikarenakan:
1. Perbedaan masing-masing koefisien thermal ekspansi diantara resin komposit, dentin, dan
enamel.
2. Penggunaan oklusi dan pengunyahan yang normal .
3. Kesulitan karena adanya kelembaban, mikroflora yang ada, lingkungan mulut bersifat asam.
(Hermina, 2003)
4. Adanya mikroleakage, yang merupakan suatu celah berukuran mikro antara bahan restorasi
dengan struktur gigi, sehingga margin restorasi terbuka serta (Yuwono, 1990).
5. Adaptasi yang buruk, yang menyebabkan masuknya cairan oral, bakteri maupun toksinnya
sehingga menyebabkan karies sekunder (Sularsih, 2007).

Tindakan restoratif yang bisa dilakukan pada karies sekunder


Diagnosis dari sekunder karies merujuk pada penempatan kembali dari restorasi.
Diagnosis dan perawatan harus mengikuti prosedur yang sama seperti lesi karies primer yaitu
dengan replacement seluruh restorasi (Mjor,2006).
PEMERIKSAAN OBJEKTIF
Tes sondasi dilakukan dengan menggunakan ujung sonde yang tajam dengan menggoreskan di
dasar kavitas. Bila terjadi perforasi pulpa biasanya pasien akan kesakitan
Tes perkusi dilakukan dengan mengetuk pelan permukaan oklusal atau incisal darigigi yang
diduga mengalami karies Dan gigi di sebelahnya menggunakan ujung tangkai kaca mulut untuk
mendeteksi adanya nyeri.
Tes palpasi dilakukan dengan meraba jari telunjuk sepanjang mukosa fasial dan lingual di atas
region apical gigi. Nyeri pada saat palpasi bisa saja menunjukan adanya suatu abses pada tulang
alveolar stadium lanjut atau penyakit periapikal lainnya. Palpasi juga dapat menunjukan
pembengkakan yang tidak disertai nyeri.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 35


(Roberson, 2002)
GANGREN PULPA
Gangren Pulpa adalah keadaan gigi dimana jarigan pulpa sudah mati sebagai sistem
pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan sehingga jumlah sel pulpa yang rusak
menjadi semakin banyak dan menempati sebagian besar ruang pulpa. Sel-sel pulpa yang rusak
tersebut akan mati dan menjadi antigen sel-selsebagian besar pulpa yang masih hidup. Proses
terjadinya gangren pulpa diawali oleh proses karies. Karies dentis adalah suatu penghancuran
struktur gigi (email, dentindan sementum) oleh aktivitas sel jasad renik (mikro-organisme) dalam
dental plak.
Jadi proses karies hanya dapat terbentuk apabila terdapat faktor yang salingtumpang
tindih. Adapun faktor-faktor tersebut adalah bakteri, karbohidrat makanan, kerentanan
permukaan gigi serta waktu. Perjalanan gangrene pulpa dimulai dengan adanya karies yang
mengenai email (karies superfisialis), dimana terdapat lubangdangkal, tidak lebih dari 1mm.
Selanjutnya proses berlanjut menjadi karies pada dentin (karies media) yang disertai dengan rasa
nyeri yang spontan pada saat pulpa terangsang oleh suhu dingin atau makanan yang manis dan
segera hilang jika rangsangan dihilangkan. Karies dentin kemudian berlanjut menjadi karies pada
pulpa yang didiagnosa sebagai pulpitis. Pada pulpitis terdapat lubang lebih dari 1mm.
pada pulpitis terjadi peradangan kamar pulpa yang berisi saraf, pembuluh darah, dan pempuluh
limfe, sehingga timbul rasa nyeri yang hebat, jika proses karies berlanjut dan mencapai bagian
yang lebih dalam (karies profunda). Maka akan menyebabkan terjadinya gangren pulpa yang
ditandai dengan perubahan warna gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan, dan pada
lubang perforasi tersebut tercium bau busuk akibat dari proses pembusukan dari toksin kuman.
Gejala klinik
Gejala yang didapat dari pulpa yang gangren bisa terjadi tanpa keluhan sakit, dalam
keadaan demikian terjadi perubahan warna gigi, dimana gigi terlihat berwarna kecoklatan atau
keabu-abuan Pada gangrene pulpa dapat disebut juga gigi non vital dimana pada gigi tersebut
sudah tidak memberikan reaksi pada cavity test (tes dengan panas atau dingin) dan pada lubang
perforasi tercium bau busuk, gigi tersebut baru akan memberikan rasa sakit apabila penderita
minum atau makan benda yang panas yang menyebabkan pemuaian gas dalam rongga pulpa
tersebut yang menekan ujung saraf akar gigi sebelahnya yang masih vital.
Tindakan yang dilakukan pada gangrene pulpa yaitu ekstraksi pada gigi yang sakit,
karena pada kondisi ini gigi akan menjadi non-vital (gigi mati) sehingga akan menjadi sumber
infeksi (fokal infeksi).

PEMERIKSAAN SUBJEKTIF

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 36


Mengacu pada kasus dan teori yang telah diuraikan, diagnose awal yang merupakan hasil
pemeriksaan subjektif adalah pulpitis reversible. Dimana pasien yang datang mengalami gejala
nyeri apabila terdapat rangsangan suhu rendah atau dingin, tidak nyeri spontan, terdapat lesi
karies disekitar tumpatan. Seperti apa yang telah diterangkan dalam teori, hipersensitifitas pasien
terjadi akibat adanya keadaan dentin yang terbuka, sehingga pasien sangat sensitif apabila
diberikan suatu stimulus yang ekstrim (Prijantijo, 1996). Keadaan ini bila dihubungkan dengan
kasus akibat terjadinya karies yang pada saat ini pasien telah mengalami restorasi kavitas yang
disertai dengan lesi karies sekunder disekitar daerah restorasi. Rasa sakit yang dialami pasien
bukan merupakan rasa sakit yang spontan kedaan ini dapat dikaitkan dengan keadaan pulpitis
reversible dimana gejala klinis pasien yang mengalami pulpitis reversible adalah ditandai dengan
rasa sakit yang tajam, hanya sebentar, lebih sering diakibatkan oleh suhu dingin daripada panas
atau oleh udara dingin. Tidak timbul secara spontan dan tidak berlanjut jika etiologi dihilangkan
(Grossman, et al., 1988).
Pasien ingin dilakukan restorasi ulang, dengan menggunakan bahan restorasi yang
sewarna dengan gigi asli. Dalam hal ini bahan retorasi dapat menggunakan resin komposit.
Karena warna dari resin komposit seperti yang telah diuraikan dalam teori bahwa komposit kini
telah digunakan dalam restorasi dan dalam memperoleh estetik yang baik, yang sebelumnya
menggunakan amalgam. (Horsted, et.al. 1999).
Namun diagnosis terhadap pasien dapat dipastikan setelah melakukan pemeriksaan secara
objektif.
Pencegahan dentin hipersensitif

Bahan makanan yang bersifat erosif seperti buah-buahan yang asam, jus buah yang asam, dan
minuman beralkohol memegang peranan dalam dentin hipersensitif. Asam yang timbul dari
lambung pada orang dengan masalah pencernaan juga rentan untuk mengalami dentin
hipersensitif. Selain itu, menyikat gigi dengan pasta gigi yang abrasif juga dapat mengabrasi
permukaan dentin di daerah leher gigi. Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk menyikat gigi
langsung setelah mengkonsumsi makanan/minuman yang asam untuk mengurangi efek merusak
dari asam dan abrasi. Sebaiknya diberi jeda waktu antara 2-3 jam. Menyikat gigi juga tidak perlu
dengan tekanan berlebihan dan lakukan dengan arah vertikal dari atas ke bawah.

Perawatan dentin hipersensitif

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 37


Perawatan dentin hipersensitif dapat dilakukan sendiri di rumah atau oleh dokter gigi di tempat
praktek.

- Perawatan di rumah

Pasien dapat mengurangi hipersensitivitas dentin di rumah dengan menggunakan pasta gigi dan
obat kumur yang mengandung bahan aktif tertentu. Sebagian besar pasta gigi desensitisasi yang
beredar di pasaran saat ini mengandung potassium salt seperti potassium nitrate, potassium
chloride, atau potassium citrate.

Konsumen dituntut jeli dalam memilih bahan pasta gigi yang mengklaim dapat mengurangi gigi
hipersensitif. Telah dilakukan penelitian yang menguji efektifitas pasta gigi yang mengandung
potassium citrate. Ion potassium diyakini dapat berdifusi ke tubuli dentin dan mengurangi
kemungkinan terstimulasinya syaraf, sehingga hipersensitivitas dentin berkurang.

Banyak pasta gigi yang juga mengandung bahan aktif lain seperti fluoride dan bahan antiplak.
Aplikasi fluor topikal membuat adanya penghalang di permukaan gigi dengan terbentuknya
presipitat kalsium florida (CaF2) sehingga tubuli dentin tertutup. Akibatnya hipersensitivitas
dentin dapat berkurang.

Cara menyikat gigi juga patut diperhatikan. Kebanyakan orang banyak berkumur-kumur setelah
menggosok gigi. Sebetulnya kumur-kumur tidak perlu terlalu banyak karena kumur dengan air
dapat menyebabkan bahan aktif menjadi larut dan terbuang dari mulut sehingga efektifitas dari
pasta gigi menjadi berkurang.

- Perawatan oleh dokter gigi

Untuk mengurangi dentin hipersensitif, dokter gigi mengaplikasikan bahan desensitisasi yang
tujuannya untuk menutup tubuli dentin sehingga mengurangi hipersensitifitas. Bahan tersebut
dapat mengandung fluoride, atau potassium nitrate, atau bahan aktif lainnya. Namun, agen
desensitisasi tersebut biasanya tidak bertahan terlalu lama, efeknya hanya sementara.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 38


Selain itu bisa juga dilakukan perawatan dengan menggunakan bahan adhesive termasuk varnish,
atau bagian dentin yang terbuka di daerah leher dan akar gigi ditutup dengan bahan tambal.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 39


Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 40
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Hipersensitivitas adalah peningkatan reaktivitas atau sensitivitas terhadap antigen yang
pernah dipajankan atau dikenal sebelumnya. , reaksi hipersensitivitas dapat dibagi menjadi 4
tipe, yaitu tipe I hipersensitif anafilaktif, tipe II hipersensitif sitotoksik yang bergantung antibodi,
tipe III hipersensitif yang diperani kompleks imun, dan tipe IV hipersensitif cell-mediated
(hipersensitif tipe lambat). selain itu ada satu tipe lagi yaitu tipe V atau stimulatory
hypersensitivity, namun tipe V tidak dibahas dalam makalah ini.

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 41


DAFTAR PUSTAKA
Abdul K Abbas, MBBS. 2004. Basic Immunology 2nd edition. Hypersensitivity Disease..
SAUNDERS: China
Arwin dkk, 2008. Buku Ajar Alergi Imunologi Anak Edisi Kedua. Penerbit: Balai Penerbit IDAI.
Jakarta
Baratawidjaja, K.G.dan Rengganis, A.2009.Imunologi Dasar Ed.8.Balai Penerbit FKUI:Jakarta
Ilmu endodontic praktek : EGC : Jakarta
Facet Don , 2002 . Buku Ajar Histologi Edisi 12.Jakarta :EGC
Harshanur , Itjiningsih Wangidjaja .1991 . Anatomi Gigi .EGC
David, P. C. 2008. Prevention in Clinical Oral Health Care. Missiori : Mosby
Grossman, Louis I, et al.1988.Edodontic Practice eleventh edition .
Garg, Nisha, Amit Garg. 2010. Textbook of Endodontics. New Delhi : Jaypee
Brothers Medical Publishers (P) Ltd.

Tarigan rasinta.2002.perawatan pulpa gigi.Jakarta : EGC


Richard E Walton,mahmoud torabinejad.2003.prinsip dan praktik ilmu endodonsia.jakarta :EGC

Kelompok I | Struktur Anatomi dan Hipersensitivitas Page 42