Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit hernia, atau yang lebih dikenal dengan turunberok, adalah penyakit akibat
turunnya buah zakar seiring melemahnya lapisan otot dinding perut. Penderita hernia,
memang kebanyakan laki-laki, terutama anak-anak. Kebanyakan penderitanya akan
merasakan nyeri, jika terjadi infeksi didalamnya, misalnya, jika anak-anak penderitanya
terlalu aktif.
Berasal dari bahasa Latin, herniae, yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan
ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu
kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi
yang keluar berupa bagian dari usus. Hernia yang terjadi pada anak-anak, lebih disebabkan
karena kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis
atau buah zakar. Sementara padaorang dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam
rongga perut dan karena faktor usia yang menyebabkan lemahnya otot dinding perut.
Penyakit hernia banyak diderita oleh orang yang tinggal didaerah perkotaan yang
notabene yang penuh dengan aktivitas maupun kesibukan dimana aktivitas tersebut
membutuhkan stamina yang tinggi. Jika stamina kurang bagus dan terus dipaksakan maka,
penyakit hernia akan segera menghinggapinya. Banyak sekali macam penyakit hernia, salah
satunya adalah hernia inguinalis.
Penjelasan mengenai penyakit hernia khususnya hernia inguinalis akan dibahas pada
bab selanjutnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian hernia inguinalis?
2. Dimana regio hernia inguinalis?
3. Apa saja klasifikasi hernia inguinalis?
4. Apa saja etiologi dari hernia inguinalis?
5. Apa diagnosis hernia inguinalis?
6. Bagaimana gambaran klinik dari hernia inguinalis?
7. Bagaimana penatalaksanaan hernia inguinalis?
8. Apa saja komplikasi hernia inguinalis?
9. Bagaimana teknik instrumentasi herniotomy dan hernioraphy?

1.3 Tujuan

1
1. Mengetahui tentang pengertian hernia inguinalis.
2. Mengetahui tentang regio hernia inguinalis.
3. Mengetahui tentang klasifikasi hernia inguinalis.
4. Mengetahui tentang etiologi dari hernia inguinalis.
5. Mengetahui tentang diagnosis hernia inguinalis.
6. Mengetahui tentang gambaran klinik dari hernia inguinalis.
7. Mengetahui tentang penatalaksanaan hernia inguinalis.
8. Mengetahui tentang komplikasi hernia inguinalis.
9. Mengetahui tentang teknik instrumentasi herniotomy dan hernioraphy.

BAB II
PEMBAHASAN

2
2.1 Pengertian Hernia Inguinalis
Hernia inguinalis merupakan suatu kondisi keluarnya suatu organ atau struktur
organ dari tempatnya yang normal melalui suatu defek pada area inguinal.

2.2 Regio Hernia Inguinalis


Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus yang
merupakan bagian terbuka dari fasia transversalis dan apponeurosis muskulus
transversus abdominis. Di medial bawah, diatas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi
oleh anulus inguinalis eksternus,bagian trerbuka dari apponeurosis muskulus oblikus
eksternus. Atapnya adalah apponeurosis muskulus oblikus eksternus, dan didasarnya
terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali sperma pada pria, dan ligamentum
rotundum pada wanita.

3
2.3 Klasifikasi Hernia Inguinalis
1. Hernia Inguinalis Indirek
Disebut juga Hernia Inguinalis Lateralis, karena keluar dari rongga peritoneum
melalui anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika
inferior, kemudian hernia masuk kedalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang
menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus. Apabila hernia ini berlanjut,
tonjolan akan sampai ke skrotum, ini disebut hernia skrotalis.
2. Hernia Inguinalis Direk
Disebut juga Hernia Inguinalis Medialis, menonjol langsung kedepan melalui
segitiga Hesselbach (Ahli Ilmu Anatomi, Jerman), daerah yang dibatasi oleh
ligamentum inguinale dibagian inferior, pembuluh epigastrika inferior dibagian lateral
dan tepi otot rektus dibagian medial. Dasar segitiga Hesselbach dibentuk oleh fasia
transversal yang diperkuat oleh serat apponeurosis muskulus transversus abdominis
yang kadang-kadang tidak sempurna sehingga daerah ini potensial untuk menjadi
lemah. Hernia medialis, karena tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak ke
skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin cincin hernia longgar.

Nervus ilioinguinal dan nervus iliofemoralis mempersarafi otot di regio inguinalis,


sekitar kanalis inguinalis,dan tali sperma, serta sensibilitas kulit regio inguinalis,
skrotum, dan sebagian kecil kulit tungkai atas bagian proksimomedial.

4
2.4 Etiologi
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang
didapat. Hernia dapat dijumpai pada semua usia. Lebih banyak pada pria daripada pada
wanita. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada
anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia.
Disamping itu diperlukan juga faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu
yang sudah terbuka cukup lebar tersebut.
Pada orang yang sehat ada tiga mekanismne yang dapat mencegah terjadinya hernia
inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur muskulus
oblikus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis internus ketika berkontraksi,
dan adanya fasia transversa yang kuat yang menutupi trigonum Hesselbach yang
umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan
terjadinya hernia.
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang
terbuka, peninggian tekanan didalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut
karena usia.
Proses turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis,. Pada neonatus kurang lebih
90% prosesus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur 1 tahun sekitar 30%
prosesus vaginalis belum tertutup. Tetapi kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa
persen. Tidak sampai 10% anak dengan prosesus vaginalis paten menderita hernia. Pada

5
anak dengan hernia unilateral dapat dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral lebih
dari separo, sedangkan insidens hernia tidak melebihi 20%. Umumnya disimpulkan
bahwa adanya prosesus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal
terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor lain seperti anulus inguinalis yang cukup besar.
Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi
prostat, konstipasi dan asites sering disertai hernia inguinalis.
Insidens hernia meningkat denagn bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya
penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen dan jaringan penunjang berkurang
kekuatannya.
Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus
turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis
berjalan lebih vertikal. Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis
berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah
masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain
terjadi akibat kerusakan nervus iliofemoralis setelah appendiktomi.
Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut hernia skrotalis.

2.5 Diagnosis
Diagnosis dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada
hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan dilipat paha yang muncul
pada waktu berdiri, batuk, bersin atau mengedan dan menghilang setelah berbaring.
Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan didaerah epigastrium atau
paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu
segmen usus halus masuk kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah
baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau
gangren.
Tanda klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada inspeksi saat
pasien mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di
regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Kantong hernia yang
kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis
kantong yang memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut
tanda sarung tangan sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau kantong
hernia berisi organ maka tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus, omentum
(seperti karet), atau ovarium. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking, pada anak dapat
dicoba mendorong isi hernia dengan menonjolkan kulit skrotum melalui anulus eksternus
sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia

6
dapat direposisi, pada waktu jari masih berada didalam anulus eksternus, pasien diminta
mengedan. Kalau hernia menyentuh ujung jari, berarti hernia inguinalis lateralis, dan
kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. Isi hernia
pada bayi wanita yang teraba seperti sebuah massa yang padat biasanya terdiri dari
ovarium.
Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk lonjong
sedangkan pada hernia medialis berbentuk tonjolan bulat. Pada bayi dan anak, hernia
lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis
peritoneum sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum. Hernia geser dapat terjadi
disebelah kana atau kiri. Sebelah kanan isi hernia biasanya terdiri dari sekum dan
sebagian kolon asendens, sedangkan sebelah kirinya terdiri dari sebagian kolon
desendens.

2.6 Gambaran Klinik


Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan dilipat paha yang
timbul pada waktu mengedan, batuk, atau mengengkat beban berat, dan menghilang
waktu istirahat baring. Pada bayi dan anak-anak adanya benjolan yang hilang timbul
dilipat paha biasanya diketahui oleh orangtua. Jika hernia mengganggu dan anak atau
bayi sering gelisah, banyak menangis, dan kadang-kadang perut kembung, harus
dipikirkan kemungkinan hernia strangulata.
Pada inspeksi diperhatikan keadaan asimetri pada kedua sisi lipat paha, skrotum atau
labia dalam posisi berdiri dan berbaring. Pasien diminta mengedan atau batuk sehingga
adanya benjolan atau keadaan asimetri dapat dilihat. Palpasi dapat dilakukan dalam
keadaan ada benjolan hernia, diraba konsistensinya dan dicoba mendorong apakah
benjolan dapat direposisi. Setelah benjolan tereposisi dengan jari telunjuk atau jari
kelingking pada anak-anak, kadang cincin hernia dapat diraba berupa anulus inguinalis
yang melebar.
Hernia insipien berupa hernia membakat apabila tonjolan hanya dapat dirasakan
menyentuh ujung jari didalam kanalis inguinalis tetapi tidak keluar. Pada bayi dan anak-
anak kadang tidak terlihat adanya benjolan pada waktu menangis, batuk atau mengedan.
Dalam hal ini perlu dilakukan palpasi tali sperma dengan membandingkan yang kiri dan
yang kanan, kadang didapatkan tanda sarung tangan sutera.

2.7 Penatalaksanaan
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.

7
Pembedahan sering dilakukan terhadap hernia yang besar atau terdapat resiko tinggi
untuk terjadi inkarserasi. Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia
inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip
dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan herniorrafi / hernioplastik.
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong
dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan kemudian direposisi. Kantong
hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong. Pada hernioplastik dilakukan tindakan
memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis
inguinalis. Hernioplastik lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dengan
herniotomi. Dikenal sebagai metode hernioplastik seperti memperkecil anulus inguinalis
internusdengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fascia transversa, dan
menjahitkan pertemuan muskulus transversus internus abdominis yang dikenal dengan
nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale Poupart menurut metode Bassini (ahli
bedah,Italia), atau menjahitkan fascia transversa, muskulus transversus abdominis,
muskulus oblikus internus abdominis ke ligamentum Cooper pada metode Mc Vay(ahli
ilmu anatomi dan ilmu bedah,Amerika Serikat). Bila defek cukup besar atau terjadi
residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintetisseperti mersilene, prolene mesh,
atau marleks untuk menutup defek.
Metode Bassini merupakan tehnik herniorafi yang pertama dipublikasi tahun 1887,
dan sampai sekarang masih merupakan operasi baku. Namun ahli bedah harus memilih
dan memodifikasi tehnik mana yang akan dipakai sesuai dengan temuan pada operasi
dan patogenesis hernia menurut usia dan keadaan penderita.
Pada bayi dan anak-anak dengan hernia kongenital lateral yang faktor penyebabnya
adalah adanya prosesus vaginalis yang tidak menutup sedangkan anulus inguinalis
internus cukup elastis dan dinding belakang kanalis cukup kuat, hanya dilakukan
herniotomi tanpa hernioplastik.
Kadang ditemuakan insufisiensi dinding belakang kanalis inguinalis dengan hernia
inguinalis medialis besar yang biasanya bilateral. Dalam hal ini diperlukan hernioplastik
yang dilakukan secara cermat dan teliti. Tidak satupun tehnik yang dapat menjamin
bahwa tidak akan terjadi residi. Yang penting diperhatikan adalah mencegah terjadinya
tegangan pada jahitan dan kerusakan pada jaringan. Umumnya dibutuhkan plastik
dengan bahan sintetis prolene mesh misalnya.
Terjadinya residif lebih banyak dipengaruhi oleh tehnik reparasi dibandingkan
dengan faktor konstitusi. Pada hernia inguinalis lateralis penyebab residif yang paling
sering ialah penutupan anulus inguinalis internus yang tidak memadai, diantaranya

8
karena diseksi kantong yang kurang sempurna, adanya lipoma preperitoneal, atau
kantong hernia tidak ditemukan. Pada hernia inguinalis medialis penyebab residif
umumnya karena tegangan yang berlebihan pada jahitan plastik atau kekurangan lain
dalam tehnik. Angka residif operasi hernia umumnya mendekati 10%.
Langkah-langkah penting yang harus dipertimbangkan dalam perbaikan hernia
adalah (1). Manajemen kantong peritoneum dan isinya, dan (2). Perbaikan defek fasia.
Apabila perbaikan defeknya terlalu besar atau hernianya rekuren, maka mungkin perlu
disertakan polipropilen, Dacron, atau tandur jala lainnya dalam perbaikan tersebut.
Tandur jala kemungkinan besar akan ditolak karena jaringan disekitarnya akan tumbuh
kedalam tandur (Morton,1989).

2.8 Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada
keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi
hernia dapat tertahan dalam kantong hernia
pada hernia ireponibel; ini dapat terjadi
kalau isi hernia terlalu besar atau terdiri dari
omentum, organ ekstraperitoneal (hernia geser) atau
hernia akreta. Disini tidak timbul gejala klinik kecuali
berupa benjolan. Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi
hernia strangulata yang menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana. Sumbatan
dapat terjadi total atau parsial seperti pada hernia Richter. Bila cincin hernia sempit,
kurang elastis, atau lebih kaku seperti pada hernia femoralis dan hernia obturatoria, lebih
sering terjadi jepitan parsial. Jarang terjadi inkaserasi retrogard yaitu dua segmen usus
terperangkap didalam kantong hernia dan satu segmen lainnya berada dalam rongga
peritoneum seperti huruf W.

9
Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada
permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur didalam
hernia dan transudasi kedalam kantong hernia. Timbulnya udem menyebabkan jepitan
pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringan
terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa
cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri dari usus, dapat terjadi perforasi yang
akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel, atau peritonitis jika terjadi hubungan
dengan rongga perut.
Gambaran klinik hernia inkarserata yang mengandung usus dimulai dengan
gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam
basa. Bila telah terjadi strangulasi karena gangguan vaskularisasi terjadi keadaan toksik
akibat gangren, gambaran klinik menjadi kompleks dan sangat serius. Penderita
mengeluh nyeri lebih hebat ditempat hernia. Nyeri akan menetap karena rangsangan
peritoneum.
Pada pemeriksaan lokal ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan
kembali,disertai nyeri tekan,dan tergantung keadaan isi hernia, dapat dijumpai tanda

10
peritonitis atau abses lokal. Hernia strangulata merupakan keadaan gawat darurat,
karenanya perlu mendapat pertolongan segera.

2.9 Tehnik Instrumentasi Herniotomi Dan Herniorrafi


1. Pengertian
Adalah suatu cara yang dilakukan perawat kamar operasi dalam menyiapkan dan
membantu tindakan operasi Herniotomy (suatu tindakan membuka dan
memotong kantong hernia serta mengembalikannya isi kantong hernia ke dalam
cavum abdominalis) sedangkan, Hernioraphy dan Hernioplasti (mengikat leher
hernia dan menggantungkannya ke conjoint tendon.)

2. Tujuan
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah perawat instrumentator untuk :
a. Mengatur alat secara sisternatis di meja instrumen
b. Memperlancar handling instrumen pada operasi herniotomi dan herniorrafi /
hernioplasti
c. Mempertahankan kesterilan alat-alat instrumen selama operasi

3. Persiapan
Persiapan pasien dan lingkungan
1) Persetujuan operasi
2) Alat-alat dan obat-obatan
3) Puasa
4) Lavement
5) Skiren
6) Setelah penderita dilakukan anesthesi mengatur posisi terlentang
7) Memasang plat diatermi di bawah betispasien

Persiapan alat
1). Alat On Steril
Meja operasi
Lampu operasi.
Mesin suction dan mesin coutter.
Tempat sampah medis dan non medis
2). Alat Steril
Di Meja Linen
Duk lubang besar :1
Duk tulang/duk buntu besar :2
Duk kotak/duk kecil :4
Gaun steril :3
Handuk steril :3
Underped steril :1

11
Di Baskom Steril
Baskom besar :2
Kabel couter :1

Di meja mayo
Washing & dressing forcep ( desinfeksi klem) :1
Towel clamps (duk klem) :5
Dissecting forceps (pinset chirurgis) :2
Tissue forceps (pinset anatomis) :2
Scalpel blade & handle :1
Delicate hemostatic forceps pean (mosquito klem pean
bengkok) :2
Haemostatic forceps pean (klem pean bengkok tanggung) : 6
Retractor Us Army (Langeenbeck) :2
Haemostatik Forceps kocher curved straight (kocher sedang
lurus) :5
Haemostatik Forceps kochercurved curved(kocher sedang
bengkok) :5
Delicate metzenboum scissors (gunting jaringan kasar bengkok)
:1
Surgical scissors (gunting benang lurus) :1
Needle holder :2
Nierbekken (bengkok) :1

Di Meja Instrumen
Staples kulit :1
Surgical needle : round body, taper, cutting
Guiding probes kocher ( krops sonde ) :1
Mangkok : 2

3. Bahan Habis Pakai


a) Handscone steril No 6,5 / 7 / 7,5 : 2/1/1
b) Mess no 10 :1
c) Kassa :10 lembar
d) Deepers :5
e) Deepers kacang :1
f) Rol pita : 1 Roll
g) Povidon Iodine 10% : 100 cc
h) Normal Saline 0,9 % : 500 cc
i) Polyglactin 2.0 :1

12
j) Plain 2.0 :1
k) Mesch :1
l) Klip kulit/monofilamen 3.0/polipropilene 3.0 : 1/1/1

4. Prosedur
1. Setelah pasien diberikan anestesi SAB dan diposisikan supinasi, kemudian
pasanglah, underped onsteril dibawah badan pasien, dan pasang anastetic
screen di atas dada pasien, lalu pasang arde dibetis pasien.
2. Perawat sirkuler meminta ijin kepada pasien untuk membersihkan lapang
operasi dengan sabun desinfektan, sesuai dengan lokasi / sisi yang akan
dioperasi.
3. Instrumentator melakukan surgical scrubbing, gowning, dan gloving.
4. Perawat instrumen membantu operator dan asisten untuk mengenakan gaun
steril dan handscone steril.
5. BerikanWashing & dressing forcep ( desinfeksi klem), deepers dan iodine 10%
dalam cucing pada asisten operator untuk melakukan desinfeksi pada lapangan
operasi.
6. Lakukanlah drapping dengan memberikan:
a) Underped steril 1 untuk sisi bawah/bagian simpisis
b) Duk tulang/besar buntu 1 diatas underped steril
c) Duk besar buntu 1 untuk bagian atas
d) Duk kotak/kecil2 untuk bagian kanan/kiri
e) Fiksasi dengan towel clamps / duk klem 4
f) Duk lobang besar 1 pada sisi yang akan dioperasi
7. Pasang handpiece / kabel couter dan fiksasi dengan towel clamps/duk klem 1.
8. Berikan kassa basah dan kering pada operator untuk membersihkan lapangan
operasi dari iodine.
9. Berikan pada operator Dissecting forceps (pinset chirurgis) untuk menandai
area insisi.
10. Berikan scalpel blade and handle, kassa dan dissecting forceps pada operator
untuk insisi pada kulit
11. Berikandelicate hemostatic forceps pean (mosquito klem pean bengkok) dan
kassa kering pada asisten dan rawat perdarahan dengan coutter.
12. Incisi diperdalam sampai fascia dengan menggunakan scalpel blade and handle
dan dissecting forceps
13. Fascia yang terbuka dijepit dengan haemostatic forceps kocher straight 2

13
14. Incisi diperpanjang dengan surgical scissors mayo dan diperlebar dengan US
Army retractors
15. Funikulus spermatikus dipreparasi dengan dengan steel deppers kecil basah
dijepit haemostatic forceps kocher lurus dan ditegel dengan pita tampon basah
diklem dengan haemostatic forceps kocher lurus
16. Kantong hernia dicari dengan 2 tissue foeceps dan kantong dibuka dengan
metzenboum scissors
17. Kantong dijepit 4 tampat dengan haemostatic forceps kocher curved
18. Kantol distal dan proksimal dipisahkan dengan metzenboum scissors dan kassa
basah
19. Kantong proximal dijahit dengan catgut plain nomer 1 atau benang absorbable
yang lain sesuai permintaan operator
20. Kantong proximal dipotong diatas simpul jahitan dan digantung ke conjoint
tendon dengan memberikan loss nald, tissue forceps dan guiding probes
kocher juga juga surgical scissors mayo untuk menggunting jahitan.
21. Kantong distal dipisahkan dari jaringan yang melekat dengan tissue forceps,
metzenboum Scissors dan kassa basah
22. Kantong distal yang tidak diambil dijahit marsupialisasi dengan needle
holder+ catgut plain no 2.0 jarum usus
23. Herniorafi dengan memasang mesch pada abdominal wall difiksasi ke
tuberkulum pubikum, ligamentum inguinale dan conjoint tendon dengan
needle holder dan polipropilene no 2.0, surgical scissors mayo
24. Rawat perdarahan dengan haemostatic forceps dan kassa
25. Luka operasi ditutup lapis demi lapis:
a. Fascia : absorbable (mis:vicril/safil) 2.0
b. Fat : catgut plain no 2.0
c. Kulit : klip,monofilament 3.0, polipropilene 3.0
26. Luka operasi dibersihkan dengan kassa basah dan ditutup dengan tulle + kassa
+ hipavix

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hernia inguinalis merupakan suatu kondisi keluarnya suatu organ atau struktur
organ dari tempatnya yang normal melalui suatu defek pada area inguinal. Klasifikasi
dari hernia inguinalis terdiri dari hernia Inguinalis Indirek dan hernia Inguinalis Direk.
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang
didapat. Penatalaksanaan hernia inguinalis dengan melakukan pengobatan konservatif
terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang
untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi atau pembedahan

3.2 Saran
Dosen : kiranya setelah mahasiswa persentase materi makalah ini, sebaiknya kembali
dijelaskan agar mahasiswa lebih memahami materinya.

Mahasiswa : agar lebih aktif dalam forum diskusi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Gruendemann, BJ dan Fernsebner, B. 2006. Buku ajar Keperawatan Perioperatif


Volume 2:Praktik. Jakarta: EGC
Muttaqin, A. Dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif, Banjarmasin
Sjamsuhidayat, R. Dan W. de J. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. Jakarta :
EGC

16