Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

A. MASALAH UTAMA
Gangguan persepsi sensori : halusinasi

B. PROSES TERJADINYA MASALAH

1. Pengertian
Halusinasi adalah persepsi yang salah (misalnya tanpa stimulus eksternal)
atau persepsi sensori yang tidak sesuai dengan realita/kenyataan seperti melihat
bayangan atau suara-suara yang sebenarnya tidak ada (Johnson, B.S. 1995:421).
Menurut Maramis (1998:119) halusinasi adalah pencerapan tanpa ada rangsang
apapun dari panca indera, dimana orang tersebut sadar dan dalam keadaan
terbangun yang dapat disebabkan oleh psikotik, gangguan fungsional, organic
atau histerik. Sedangkan menurut pendapat lain halusinasi adalah suatu keadaan
dimana seorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang
mendekat yang mendekat (yang diprakarsai secara internal atau eksternal) disertai
dengan suatu pengurangan, berlebih-lebihan, distorsi atau kelainan berespon
terhadap stimulus (Townsend, M.C, 1998:156).
Halusinasi merupakan pengalaman mempersepsi yang terjadi tanpa adanya
stimulus sensori eksternal yang meliputi (penglihatan, pendengaran, pengecapan,
penciuman, perabaan), akan tetapi yang paling umum adalah halusinasi
pendengaran (Boyd, M.A & Nirhath, M.A, 1998:303 ; Rawlins, R.P, Heacock, P.E,
1998;198). Menurut Carpetino, L.J (1998:363) Perubahan persepsi sensori
halusianasi merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau
berisiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah, pola atau interprestasi
stimulus yang dating. Sedangkan menurut pendapat lain halusinasi merupakan
persepsi sensori yang palsu yang terjadi tanpa adanya stimulus eksternal, yang
dibedakan dari distrorsi atau ilusu yang merupakan kekeliruan persepsi terhadap
stimulus yang nyata dan pasien menganggap halusinasi sebagau suatu yang nyata
(Kusuma, W, 1997:284)

2. Tanda dan Gejala


Klien dengan halusinasi sring menunjukkan adanya (Carpetino, L.J.
1998:363; Townsend, M.C, 1998:156; Stuart, G.W dan Sundeen, S.J 1998:328-
329) :
Data subjektif :
a. Tidak mampu mengenal, orang dan tempat.
b. Tidak mampu memecahkan masalah.
c. Mengungkapkan adanya halusinasi (misalnya mendengar suara-suara atau
melihat bayangan).
d. Mengeluh cemas dan kuatir.
Data objektif :
a. Mudah tersinggung.
b. Apatis dan cenderung menarik diri (controlling).
c. Tampak gelisah, perubahan perilaku dan pola konumikasi, kadang berhenti
bicara seolah-olah mendengar sesuatu.
d. Menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.
e. Menyeringai dan tertawa tidak sesuai.
f. Gerakan mata yang cepat.
g. Pikiran yang berubah-ubah dan konsentrasi rendah.
h. Kadang tampak ketakutan.
i. Respon-respon yang tidak sesuai (tidak mampu berespon terhadap petunjuk
yang kompleks)

3. Penyebab
Gangguan persepsi sensori halusinasi sering disebabkan karena panik,
sterss berat yang mengancam ego yang lemah, dan isolasi sosial menarik diri (
Townsend, M.C, 1998:156). Menurut Carpetino, L.J, (1998:381) isolasi sosial
merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan
kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain
tetapi tidak mampu untuk membuat kontak. Sedangkan menurut Rawlins, R.P
dan Heacock, P.E (1998:423) isolasi sosial menarik diri merupakan usaha
menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa
kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berpikir,
berperasaan. Berprestasi, atau selalu dalam kegagalan.
Isolasi sosial menarik diri sering ditunjukkan adanya perilaku (Carpentino,
L.J 1998:382) :
Data subjektif :
a. Mengungkapkan perasaan kesepian atau penolakan.
b. Melaporkan dengan ketidaknyamanan konyak dengan situasi sosial.
c. Mengungkapkan perasaan tak berguna.
Data objektif :
a. Tidak tahan terhadap kontak yang lama.
b. Tidak komunikatif
c. Kontak mata buruk
d. Tampak larut dalam pikiran dan ingatan sendiri.
e. Kurang aktivitas.
f. Wajah tampak murung dan sedih.
g. Kegagalan berinteraksi dengan orang lain.

4. Akibat
Adanya gangguang persepsi sensori halusinasi dapat beresiko mencederai
diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Keliat, B.A, 1998:27). Menurut Townsend,
M.C suatu keadaan dimana seseorang melakukan sesuatu tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik pada diri sendiri maupuan orang lain.
Seseorang yang dapat beresiko melakukan tindakan kekerasan pada diri
sendiri dan orang lain dapat menunjukkan perilaku :
Data subjektif :
a. Mengungkapkan mendengar atau melihat objek yang mengancam.
b. Mengungkapkan perasaan takut, cemas dan khawatir.
Data objektif :
a. Wajah tegang, merah.
b. Mondar-mandir.
c. Mata melotot rahang mengatup.
d. Tangan mengepal.
e. Keluar keringat banyak.
f. Mata merah.

C. MASALAH DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


Masalah
No Data Subyektif Data Obyektif
Keperawatan
1. Masalah utama : Klien mengatakan Tampak bicara dan
gangguan persepsi melihat atau ketawa sendiri.
sensori halusinasi mendengar sesuatu. Mulut seperti bicara
Klien tidak mampu tapi tidak keluar suara.
mengenal tempat, Berhenti bicara seolah
waktu, orang. mendengar atau
melihat sesuatu.
Gerakan mata yang
cepat.

2. MK : penyebab Klien mengatakan Tidak tahan terhadap


isolasi sosial : merasa kesepian. kontak yang lama.
menarik diri Klien mengatakan tidak Tidak konsentrasi dan
dapat berhubungan pikiran mudah beralih
sosial. saat bicara.
Klien mengatakan tidak Tidak ada kontak mata.
berguna. Ekspresi wajah
murung, sedih.
Tampak larut dalam
pikiran dan ingatannya
sendiri.
Kurang aktivitas.
Tidak komunikatif.

3. MK : Akibat resiko Klien mengungkapkan Wajah klien tampak


mencederai diri takut. tegang, merah.
sendiri dan orang Klien mengungkapkan Mata merah dan
lain apa yang dilihat dan melotot.
didengar mengancam Rahang mengatup.
dan membuatnya takut. Tangan mengepal.
Mondar mandir.

D. POHON MASALAH

Resiko mencederai diri sendiri,


Orang lain dan lingkungan

Perubahan persepsi sensori


Masalah Utama Halusinasi pendengaran

Isolasi sosial menarik diri

Gambar Pohon Masalah (Keliat, B.A, 1998:6)

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang dapat ditarik dari pohon masalah tersebut adalah :
1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan berhubungan dengan perubahan
persepsi sensori halusinasi pendengaran.
2. Perubahan persepsi sensori halusinasi pendengaran berhubungan dengan
isolasi sosial menarik diri.

F. FOKUS INTERVENSI
Menurut Rasmun (2001:43-48) tujuan utama, tujuan khusus, dan rencana
tindakan dari diagnosa utama : resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan berhubungan dengan halusinasi adalah sebagai berikut :
1. Tujuan umum
Klien tidak mencederai diri sendiri dan orang lain.
2. Tujuan khusus
a. TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya.
1) Kriteria evaluasi :
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa tenang, ada kontak
mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab
salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan
masalah yang dihadapi.
2) Intervensi
Bina hubungan saling percaya dengan :
a) Sapa klien dengan ramah dan baik secara verbal dan non verbal.
b) Perkenalkan diri dengan sopan.
c) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
klien.
a) Jelaskan tujuan pertemuan.
b) Jujur dan menepati janji.
c) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
d) Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
Rasional :
Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk memperlancar
hubungan interaksi selanjutnya.
b. TUK II : Klien dapat mengenal halusinasi
1) Kriteria evaluasi :
a) Klien dapat menyebutkan waktu, isi dan frekuensi timbulnya
halusinasi.
b) Klien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasinya.
2) Intervensi
a) Adakan sering dan singkat secara bertahap.
Rasional :
Kontak sering dan singkat selain upaya membina hubungan saling
percaya juga dapat memutuskan halusinasinya.
b) Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya. Bicara
dan tertawa tanpa stimulus, memandang ke kiri dan ke kanan
seolah-olah ada teman bicara.
Rasional :
Mengenal perilaku pada saat halusinasi timbul memudahkan
perawat dalam melakukan intervensi.
c) Bantu klien mengenal halusinasinya dengan cara :
- Jika menemukan klien yang sedang halusinasi tanyakan apakah
ada suara yang di dengar.
- Jika klien menjawab ada lanjutkan apa yang dikatakan.
- Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu,
namun perawat sendiri tidak mendengarnya (dengan nada sahabat
tanpa menuduh/menghakimi).
- Katakan pada klien bahwa ada juga klien lain yang sama seperti
dia.
- Katakan bahwa perawat akan membantu klien.
Rasional :
Mengenal halusinasi memungkinkan klien untuk menghindari
faktor timbulnya halusinasi.
d) Diskusikan dengan klien tentang :
- Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan halusinasi.
- Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore dan
malam atau jika sendiri, jengkel, sedih)
Rasional :
Dengan mengetahui waktu, isi dan frekuensi munculnya
halusinasi mempermudah tindakan keperawatan yang akan
dilakukan perawat.
e) Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi
(marah, takut, sedih, tenang) beri kesempatan mengungkapkan
perasaan.
Rasional :
Untuk mengidentifikasi pengaruh halusinasi pada klien.

c. TUK III : Klien dapat mengontrol halusinasinya.


1) Kriteria evaluasi :
a) Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan
untuk mengendalikan halusinasinya.
b) Klien dapat menyebutkan cara baru.
c) Klien dapat memilih cara mengatasi halusinasi seperti yang telah
didiskusikan dengan klien.
d) Klien dapat melakukan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan
halusinasi.
e) Klien dapat mengetahui aktivitas kelompok.
2) Intervensi
a) Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan jika terjadi
halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri sendiri dan lain-lain)
Rasional :
Upaya untuk memutus siklus halusinasi sehingga halusinasi tidak
berlanjut.
b) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri
pujian.
Rasional :
Reinforcement dapat mneingkatkan harga diri klien.
c) Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya
halusinasi :
- Katakan : Saya tidak mau dengar kau pada saat halusinasi
muncul.
- Menemui orang lain atau perawat, teman atau anggota keluarga
yang lain untuk bercakap-cakap atau mengatakan halusinasi yang
didengar.
- Membuat jadwal sehari-hari agar halusinasi tidak sempat muncul.
- Meminta keluarga/teman/perawat, jika tampak bicara sendiri.
Rasional :
Memberikan alternatif pilihan untuk mengontrol halusinasi.
d) Bantu klien memilih cara dan melatih cara untuk memutus
halusinasi secara bertahap, misalnya dengan :
- Mengambil air wudhu dan sholat atau membaca al-Quran.
- Membersihkan rumah dan alat-alat rumah tangga.
- Mengikuti keanggotaan sosial di masyarakat (pengajian, gotong
royong).
- Mengikuti kegiatan olah raga di kampung (jika masih muda).
- Mencari teman untuk ngobrol.
Rasional :
Memotivasi dapat meningkatkan keinginan klien untuk mencoba
memilih salah satu cara untuk mengendalikan halusinasi dan
dapat meningkatkan harga diri klien.
e) Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih. Evaluasi
hasilnya dan beri pujian jika berhasil.
Rasional :
Memberi kesempatan kepada klien untuk mencoba cara yang telah
dipilih.
f) Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok, orientasi
realita dan stimulasi persepsi.
Rasional :
Stimulasi persepsi dapat mengurangi perubahan interprestasi
realitas akibat halusinasi.
d. TUK IV : Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol
halusinasinya.
1) Kriteria evaluasi
a) Keluarga dapat saling percaya dengan perawat.
b) Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan unutk
mengendalikan halusinasi.
2) Intervensi
a) Membina hubungan saling percaya dengan menyebutkan nama,
tujuan pertemuan dengan sopan dan ramah.
Rasional :
Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk memperlancar
hubungan interaksi selanjutnya.
b) Anjurkan klien menceritakan halusinasinya kepada keluarga.
Untuk mendapatkan bantuan keluarga dalam mengontrol
halusinasinya.
c) Diskusikan halusinasinya pada saat berkunjung tenang :
- Pengertian halusinasi
- Gejala halusinasi yang dialami klien.
- Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus
halusinasi.
- Cara merawat anggota keluarga yang berhalusinasi di rumah,
misalnya : beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama,
bepergian bersama.
- Beri informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat
bantuan : halusinasi tidak terkontrol, dan resiko mencederai diri,
orang lain dan lingkungan.
Rasional :
Untuk mengetahui pengetahuan keluarga tentang halusinasi dan
menambah pengetahuan keluarga cara merawat anggota keluarga
yang mempunyai masalah halusinasi.

e. TUK V : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.


1) Kriteria evaluasi
a) Klien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat, dosis dan efek
samping obat.
b) Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar.
c) Klien mendapat informasi tentang efek dan efek samping obat.
d) Klien dapat memahami akibat berhenti minum obat tanpa konsutasi.
e) Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar penggunaan obat.

2) Intervensi
a) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis dan frekuensi
serta manfaat minum obat.
Rasional :
Dengan menyebutkan dosis, frekuensi dan manfaat obat diharapkan
klien melaksanakan program pengobatan.
b) Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan
manfaatnya.
Rasional :
Menilai kemampuan klien dalam pengobatannya sendiri.
c) Anjurkan klien untuk bicara dengan dokter tentang mafaat dan efek
samping obat yang dirasakan.
Rasional :
Dengan mengetahui efek samping klien akan tahu apa yang harus
dilakukan setelah minum obat.
d) Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan
dokter.
Rasional :
Program pengobatan dapat berjalan dengan lancar.
e) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar dosis,
benar obat, benar waktunya, benar caranya, benar pasiennya).
Rasional :
Dengan mengetahui prinsip penggunaan obat, maka kemandirian
klien untuk pengobatan dapat ditingkatkan secara bertahap.

G. DAFTAR PUSTAKA
Boyd, M.A & Nihart, M.A, (1998). Psychiatric Nuersing cotemporary Practice, Edisi
9th, Lippincott Raven Publisrs, Philadelphis.
Carpenito, L.J, (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan (terjemahan). Edisi 8,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Johnson, B.S. (1995). Psyciatric-Mental Health Nursing Adaption and Growt, Edisi
2th, Lippincott-Raven Publisrs, Philadelphia.
Kusuma, W, (1997). Dari A sampai Z Kedaruratan Psiciatric dalam Praktek, Ed I,
Profesional Books, Jakarta.
Keliat, B.A, (1997). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Ed I, EGC Jakarta.
Maramis, W.f, (1998). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University Press,
Surabaya.
Rasmun, (2001), Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatrik Terintegrasi Dengan
Keluarga, Ed I, CV. Sagung Seto, Jakarta.
Rawlins, R.P & Heacock, PE, (1998). Clinical Manual of Pdyshiatruc Nursing, Edisi
1, the C.V Mosby Company, Toronto.
Stuart, G.W & Sundeen, S.J, (1998). Buku Saku Keperawatan Jiwa (Terjemahan).
Edisi 3, EGC, Jakarta.
Townsend, M.C, (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan
Psikiatri (terjemahan), Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)

Masalah : Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi


Pertemuan ke I (satu)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi
a Klien tampak bicara dan tertawa sendiri.
b. Klien mondar mandir.
c. Klien merasa mendengarkan suara laki-laki yang menyuruh memukul.
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan
dengan perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
3. Tujuan Khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
b. Klien dapat mengenal halusinasi yang dialaminya.

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Selamat pagi. Mas, sedang apa ?. Kenalkan nama saya Bapak Budi
Sisroyo, mas bisa panggil saya Bapak atau mas Budi saja. Mas namanya
siapa ? .......o o o Joko Prisanto, senang dipanggil siapa ?. Mas Joko
atau mas Yanto. Ooooo begitu baiklah mas Aynto, saya akan menemani
ibu kurang lebih 2 minggu ke depan, nanti bisa cerita masalah yang dialami
mas Joko.
b. Evaluasi/Validasi
Bagaimana perasaan mas Joko saat ini ?....o o o kalau saya lihat mas
Joko tampak bicara, berbicara sama siapa ?
c. Kontrak
1) Topik
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap suara yang mas Joko dengar dan
orang yang mengajak bicara ?.
2) Tempat
Dimana kita akan berbincang-bincang Mas ?, o o o.... di ruang makan,
baiklah.
3) Waktu
Kita akan bercakap-cakap berapa menit ?. 15 menit !, ya baiklah.

2. Kerja
yeah sekarang kita sudah duduk santai, tolong ceritakan suara-suara yang
Mas Joko dengar tadi, oooooooo begitu, lalu !. Jadi Mas mendengar suara
orang yang mengajak berbicara dan menyuruh memukul orang. menurut Mas
suara tersebut suara siapa, apakah mengenalnya?, ooooooo seperti suara laki-
laki.

3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan mas Joko setelah berbincang-bincang tentang suara
yang mas dengar ?.
b. Evaluasi Obyektif
Jadi suara yang mas dengar adalah ............, muncul saat........., dan yang
mas lakukan saat suara-suara tersebut muncul..............
c. Rencana Tindak Lanjut
Baiklah mas, nanti diingat-ingat lagi yang suara-suara lain yang didengar,
jangan lupa kalau suara-suara itu muncul lagi beritahu perawat biar
dibantu ya !
d. Kontrak
1) Topik
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang cara mengendalikan
suara-suara tersebut ?, Setuju !.
2) Tempat
Baiklah kalau begitu, dimana kita akan bercaka-cakap, mungkin Mas
Joko punya tempat yang teduh dan santai untuk ngobrol ?
3) Waktu
Berapa lama kita akan bercakap-cakap ?. 10 menit atau 15 menit.
Sampai jumpa besok ya, Mas!.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)

Masalah : Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi


Pertemuan ke II (dua)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi
a Klien sudah dapat membina hubungan saling percara dengan perawat.
b. Klien dapat mengenal halusinasinya.
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan
dengan perubahan persepsi sensori halusinasi pendengar.
3. Tujuan Khusus
Klien dapat mengontrol halusinasinya.

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Selamat pagi, Mas Joko ?, Masih ingat nama saya ? Bagus !
b. Evaluasi/Validasi
Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini ? apakah ada suara-suara yang
didengar dan belum diceritakan kemarin ?
c. Kontrak
1) Topik
Seperti kesepakatan kemarin, pagi ini kita akan bercakap-cakap
tentang cara mengendalikan halusinasi yang Mas Joko alami ?,
Bagaimana setuju ?
2) Tempat
Kita bercakap-cakap di ruang makan saja ya !
3) Waktu
Mas Joko mau berapa lama kita bercaka-cakap ?. 15 menit, baiklah.

2. Kerja
Kemarin Mas Joko sudah menceritakan tindakan yang dilakukan ketika
suara-suara tersebut muncul. Masih ingat?. Bagaimana apakah dapat
mengurangi / menghilangkan suara-suara yang Mas Joko dengar ?
ooooo.......begitu !
Kalau Mas Joko mau saya akan memberitahu cara-cara lain yang dapat
dilakukan ketika suara-suara tersebut muncul ?. Bagaimana ! Oke yang
pertama dengan menghardik suara-suara tersebut, caranya dengan
mengatakan saya benci kamu, pergi......pergi !, lalau tarik nafas dalam-dalam
tahan sebentar dan keluarkan pelan-pelan melalui mulut, maka Mas Joko
akan rilex dan santai kembali. Mari saya ajari, tirukan saya ya !, Pertama
katakan saya benci kamu pergi......pergi!, kemudian tarik nafas dan
keluarkan, begitu, Bagus mudah kan ?
Cara yang kedua dengan melakukan kegiatan yang dapat
memutus/menghilangkan suara-suara itu, misalnya dnegan mengambil air
wudhu, sholat atau membaca Al-Quran, membersihkan rumah atau alat-alat
rumah tangga, apabila suara-suara tersebut muncul siang atau sore hari.
Cara ketiga adalah mencari teman untuk diajak ngobrol sehingga suara-suara
tersebut dapat dialihkan, tetapi cara ini tidak dapat dilakukan apabila suara-
suara itu muncul malam hari.
Jika suara sering muncul malam hari, yang dapat Mas Joko lakukan adalah
minum obat tepat waktu, tepat obat, dan tepat dosis, misalnya jam 17.30 WIB
sehingga Mas Joko akan terbangun pada jam 05.00 pagi.
Kalau Mas Joko suka olahraga, untuk menghindari suara muncul kembali
Mas Joko dapat mengikuti olahraga dengan teman-temannya, tentunya kalau
sore hari.
Bagaimana, mudahkan ?, Mas Joko dapat pilih sesuai dengan kondisi dan
keadaan !
3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana rasanya setelah bercakap-cakap tentang cara mengendalikan
suara-suara yang muncul ?.
b. Evaluasi Obyektif
Coba sebutkan kembali cara yang dapat Mas Joko lakukan untuk
menghindari/memutus suara-suara yang muncul suara-suara tersebut !.
Bagus ..........lagi.
c. Rencana Tindak Lanjut
Kalau suara-suara itu muncul lagi coba dipraktekan yang Mas Joko, siapa
tahu dapat membantu !
d. Kontrak
1) Topik
Bagaimana kalau besok keluarga Mas Joko menjenguk, kita bercakap-
cakap lagi bersama-sama keluarga tentang halusinasi yang Mas Joko
alami ?.
2) Tempat
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap di ruang tamu saja biar lebih
leluasa ?
3) Waktu
Mas Joko ingin berapa lama kita akan bercakap-cakap besok ?. o.......
15 menit.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)

Masalah : Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi


Pertemuan ke III (tiga)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi
a. Klien sudah mengetahui cara-cara yang dapat digunakan untuk memutus
atau menghilangkan halusinasi.
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan
dengan perubahan persepsi sensori halusinasi pendengar.
3. Tujuan Khusus
Klien mendapatkan dukungan keluarga dalam mengatasi halusinasinya.

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Selamat pagi, Pak ?, Kenalkan saya Bapak Budi yang merawat Mas Joko
di sini, syaa bisa panggil Bapak siapa ?........ o.......ya Pak Mahmud.
b. Evaluasi/Validasi
Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini ? apakah Mas Joko masih ingat
cara-cara yang kemarin saya ajarkan ?. Apakah Bapak/Ibu mengetahi
pengertian halusinasi, gejala halusinasi dan cara mengatasi halusinasi ?
c. Kontrak
1) Topik
Pagi hari ini kebetulan Bapak Mahmud menengok Mas Joko, kita akan
bercakap-cakap tentang pengertian halusinasi dan cara-cara yang harus
dilakukan agar Mas Joko terhindar dari halusinasi ?
2) Tempat
Kita bercakap-cakap di ruang perawatan saja biar lebih santai ?
3) Waktu
Berapa lama kita bercaka-cakap ? bagaimana kalau 30 menit ?.

2. Kerja
Tolong Mas Joko ceritakan tentang suara-suara didengar pada Pak Mahmud,
agar beliau tahu dan dapat membantu kalau di rumah nanti muncul lagi.
Jadi begini, ya Pak, mas Joko ini kalau dalam kedokteran mengalami
halusinasi.
Nah apa halusinasi itu?, Halusinasi adalah kesalahan dalam mengartikan
rangsangan dari luar yang sebenarnya tidak ada, misalnya mendengar suara
yang mengajak bicara atau menyuruh melakukan sesuatu padahal tidak ada
yang mengajak bicara, seperti yang dialami mas Joko ini.
Bagaimana cara mengenali orang yang mengalami halusinasi ?. Bapak
Mahmud akan menjumpai orang tersebut tampak termenung, kemudian bicara
sendiri atau tertawa sendiri, tidak jarang orang tersebut tampak gelisah,
mondar-mandir bingung dan ketakutan karena suara yang mengancam, atau
memuluk orang lain jika suara itu tidak menyuruh untuk memukul.
Bagaimana sudah jelas ?
Apa akibatnya jika halusinasi tidak diatasi ?, orang tersebut dapat beresiko
orang tersebut akan melakukan kekerasan yang arahnya diri sendiri, orang
lain atau lingkungan.
Maka jangan heran kalau Bapak pernah melihat orang gila tiba-tiba melempar
pakai batu atau tiba-tiba merusak tanaman yang ada didekatnya.
Nah untuk menghindari hal tersebut, ada cara agar halusinasi tidak muncul,
yaitu tidak membiarkan Joko sendirian melamun, beri Mas Joko kegiatan
untuk mengisi waktu luangnya, ajak Mas Joko nonton televisi bersama, jalan-
jalan atau kegiatan pengajian dan gotong royong, Bagaimana ? Bapak sudah
paham.
Bila belum jelas pak Mahmud dapat bertanya ?
.......... ya jangan lupa minum obat secara tepat dan teratur serta antar mas
Joko kontrol atau pergi RSJ sangat membantu agar mas Joko terhindar dari
halusinasi.
3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana rasanya setelah bercakap-cakap tentang pengertian dan cara
mengendalikan suara-suara yang didengar Mas Joko ?
b. Evaluasi Obyektif
Coba sebutkan kembali pengertian halusinasi dan cara-cara yang dapat
keluarga lakukan agar Mas Joko dapat menghindari/memutus suara-suara
yang muncul suara-suara tersebut ! : Bagus....lagi.
c. Rencana Tindak Lanjut
Tolong ya Pak, Mas Joko dibantu untuk menghindari suara-suara itu
muncul lagi, caranya dengan yang sudah saya jelaskan tadi !
d. Kontrak
1) Topik
Bagaimana kalau besok kita bercakap-cakap tentang manfaat dan efek
samping obat yang Mas Joko minum ?.
2) Tempat
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap di taman ?, Setuju !
3) Waktu
Mau berapa lama ?. Bagaimana kalau 10 menit saja ?.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)

Masalah : Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi


Pertemuan ke IV (empat)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi
a. Klien dan keluarga sudah mengenal pengertian gejala halusinasi.
b. Klien dan keluarga sudah mengetahui cara menghindari munculnya
kembali suara-suara
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan
dengan perubahan persepsi sensori halusinasi pendengar.
3. Tujuan Khusus
Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Selamat pagi, Mas Joko ?, Masih ingat nama saya ? Bagus !.
b. Evaluasi/Validasi
Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini ?, baik-baik saja kan, ada yang
ingin disampaikan ?
c. Kontrak
1) Topik
Kita akan berbicara tentang jenis obat, manfaat obat, efek samping obat
serta cara pemakaiannya, Bagaimana mas Joko bersedia ?.
2) Tempat
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap di taman saja, biar lebih santai?
3) Waktu
Berapa lama kita akan bercaka-cakap ? Bagaimana kalau 15 menit ?.

2. Kerja
Berapa jenis obat yang diminum Mas Joko tadi pagi ?. ya ..... bagus.
Jadi begini ya Mas Joko, obat yang diminum tadi ada tiga macam, ini obatnya
saya bawakan.
Saya jelaskan satu persatu ya ?. yang warnanya oranye ini namanya CPZ
atau chlorponazin, gunanya untuk mempermudah Mas Joko tidur sehingga
dapat istirahat, minumnya 2 x sehari pagi hari dan sore hari, pagi jam 07.00
dan sore jam 17.30 WIB. Efek sampingnya badan menjadi lemas, keluar
ludah terus menerus.
Nah, yang ini, namanya HPD atau haloperidole, karena Mas Joko dapat yang 5
mg, maka warnanya jambon atau pink, cara dan waktu minumnya sama
dengan CPZ, 2x sehari. Gunanya obat ini untuk menghilangkan suara-suara
yang mas Joko dengar, selain dapat juga membuat mas Joko lebih rileks,
santai dan dapat mengontrol emosi, efek sampingnya badan menjadi kaku,
terutama tangan dan kaki, mulut kering dan dada berdebar-debar dan
tremor/ndedek dalam istilah jawa.
Tapi mas Joko jangan kuatir, ada penangkalnya, maka diberikan obat yang
putih agak besar ini. Ini namanya Triheksipenidile atau THP, fungsinya obat ini
menetralkan atau menghilangkan efek samping yang tidak megenakkan tadi,
makanya obat ini harus diminum bersamaan dengan obat CPZ dan HPD tadi.
:bagaimana masih ada yang belum jelas ?. Jangan lupa kalau obat ini hampir
habis segera control kembali ya !.

3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaannya setelah bercakap-cakap tentang jenis dan manfaat
obat yang mas Joko minum setiap hari ?
b. Evaluasi Obyektif
Coba sebutkan kembali jenis obat yang mas Joko, dan ambilkan yang
namanya HPD........Dan seterusnya, sebutkan manfaatnya sekalian !.
Bagus......diingat-ingat ya !.
c. Rencana Tindak Lanjut
Jangan lupa obatnya diminum dengan dosis dan waktu yang tepat ya !. O.
Ya kalau ada yang berlum jelas bisa Mas Joko tanyakan kembali pada
waktu lain.
d. Kontrak
1) Topik
Bagaimana kalau kapan-kapan kita bercakap-cakap lagi dengan topik
yang lain ?.
2) Tempat
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap di teras saja ?, Setuju !
3) Waktu
Mau berapa lama ?. Bagaimana kalau 10 menit saja ?.