Anda di halaman 1dari 20

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK PROSES

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016/2017

PRAKTIKUM KIMIA FARMASI

MODUL : Penetapan Kadar Senyawa Obat Dengan Metoda Titrasi


Asam Basa
PEMBIMBING : Dra. Bevi Lidya, MS, Apt

Praktikum : 07 Oktober 2016


Penyerahan : 14 Oktober 2016
(Laporan)

Oleh :

Kelompok : VIII
Nama : 1. Rina Mega S 141431027
2. Sarah Dwi Hartinah 141431028
3. Silmi Faiza Nabila 141431029
4. Syafira Octafiani S 141431030
Kelas : 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III ANALISIS KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2016
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Sebagian besar senyawa kimia yang saat ini digunakan dalam dunia
pengobatan merupakan senyawa asam atau basa yang mempunyai tetapan keasaman
(pKa) atau kebasaan (pKb) tertentu. Jika nilai/ harga dari pKa dan pKb dari senyawa
obat tersebut cukup besar/kuat, maka senyawa tersebut dapat ditentukan kadarnya
menggunakan metode titrasi asam-basa.
Salah satu jenis obat yang banyak digunakan di kalangan masyarakat
contohnya adalah aspirin atau obat dengan kandungan senyawa asam salisilat.
Senyawa obat ini mempunyai khasiat untuk menghilangkan nyeri dan demam
(analgetika-antipiretik). Aspirin merupakan senyawa jenis asam yang nilai pKa nya
cukup tinggi. Oleh karena keberadaannya yang cukup banyak di masyarakat,
kebutuhan akan analisis untuk mendeteksi seberapa besar kandungan senyawa asam
salisilat dalam suatu sediaan obat menjadi meningkat. Untuk mengetahui kandungan
didalamnya, maka dapat digunakan metoda asam-basa dengan prinsip penetralan oleh
senyawa larutan basa. Begitupun dengan beragam jenis obat dengan kandungan asam
atau basa lainnya.

I.2 TUJUAN PERCOBAAN

I.2.1 Mengetahui prinsip penetapan kadar dengan metoda titrasi asam basa
dalam bidang farmasi.
I.2.2 Menetapkan kadar suatu senyawa obat yang bersifat asam berdasarkan
metoda titrasi asam basa.

BAB II
LANDASAN TEORI

Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan


konsentrasi dari suatu larutan dengan menggunakan larutan lain yang telah
distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. Dalam metode
titrimetri ini, larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit
sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran. Penambahan titran ke
dalam analit dilakukan hingga tercapai titik ekivalen, yang kemudian masuk ke dalam
zona titik akhir titrasi dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator.
Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang
dilakukan.
Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetric secara
garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya, yaitu :
titrasi asidi-alkalimetri, titrasi oksidimetri, titrasi pengendapan dan titrasi
kompleksometri.

2.1 TITRASI ASAM - BASA

Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada


titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air
yang bersifat netral. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau
kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah
ataupun kuat.
H3O+ + OH 2 H2O
Dimana jumlah ekivalen asam (H3O+) sama dengan jumlah ekivalen basa (OH).
Larutan baku yang digunakan pada titrasi netralisasi adalah asam kuat atau basa kuat,
karena zat-zat tersebut bereaksi lebih sempurna dengan analit dibandingkan dengan
jika dipakai asam atau basa yang lebih lemah. Larutan baku asam dapat dibuat dari
HCl, H2SO4 atau HClO4, sedangkan larutan baku basa dibuat dari NaOH atau KOH.
Larutan baku primer adalah larutan yang konsentrasinya dapat ditentukan dengan
perhitungan langsung dari berat zat yang mempunyai kemurnian tinggi, stabil dan
bobot ekivalen tinggi kemudian dilarutkan sampai volume tertentu. Sedangkan larutan
baku sekunder, konsentrasinya harus ditentukan terlebih dahulu dengan
pembakuan/standarisasi terhadap baku primer. Contoh :
Baku primer : Na2CO3, Na2B4O7, Kalium Hidrogen Ptalat (KHP), H2C2O4
Baku sekunder : HCl, H2SO4, NaOH, KOH

2.2 PRINSIP PENETRALAN

Ketika suatu asam ditambahkan dengan senyawa basa maka akan terbentuk
garam yang sifatnya dapat berupa garam asam, garam basa maupun netral, hal
tersebut dipengaruhi oleh jenis senyawa asam atau basa yang digunakan. Senyawa
asam dalam obat akan bereaksi dengan peniter basa sehingga menyebabkan semakin
bergeraknya pH larutan kearah netral, apabila digunakan prinsip titrasi konvensional
maka indicator berperan penting dalam proses penentuan titik ekivalen. Titik akhir
titrasi dapat dilihat melalu perubahan warna secara visual yang terjadi pada larutan.
Indicator bekerja berdasarkan prinsip pH tertentu bergantung kepada masing-masing
indicator yang digunakan. Oleh karenanya, pemilihan indicator yang tepat sangat
diperlukan. Namun apabila menggunakan metoda secara potensiometri, titrasi tidak
memerlukan indicator melainkan titik ekivalen diperoleh akibat perubahan pH secara
drastis, ditandai dengan perubahan signifikan pada pembacaan potensial sel.
Akibatnya, menimbulkan perubahan cukup signifikan pada grafik yang dihasilkan
. Analit ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan
ekuivalen (artinya secara stoikiometri mol analit dan titer tepat habis bereaksi).
Keadaan ini disebut sebagai titik ekuivalen. Ketika perubahan warna telah terjadi,
maka telah memasuki zona titik akhir titrasi, dimana titrasi harus segera dihentikan.
Jumlah volume yang digunakan untuk menetralkan sampel analit, dikonversikan
sehingga dapat diketahui jumlah mol dari analit atau dalam hal ini senyawa obat yang
digunakan.

Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah asam lemah atau basa
lemah. Asam lemah dan basa lemah ini umumnya senyawa organik yang memiliki
ikatan rangkap terkonjugasi yang mengkontribusi perubahan warna pada indikator
tersebut. Jumlah indikator yang ditambahkan kedalam larutan yang akan dititrasi
harus sesedikit mungkin, sehingga indikator tidak mempengaruhi pH larutan dengan
demikian jumlah titran yang diperlukan untuk terjadi perubahan warna juga
seminimal mungkin. Umumnya dua atau tiga tetes larutan indikator 0.1%(b/v)
diperlukan untuk keperluan titrasi.

2.3 ASPIRIN

Nama resmi : Acidum acetylosalicylicum


Sinonim : Asetosal, asam asetilsalisilat
Rumus kimia : C9H8O4
% Unsur penyusun : Asam asetilsalisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% dan
tidak lebih dari 100,5% C9H8O4, dihitung terhadap zat yang
telah dikeringkan
Titik lebur : 141 sampai 144C.
Berat molekul : 180,16
Rumus bangun :

Pemerian : Hablur tidak berwarna, hablur serbuk, tidak berbau, rasanya


agak pahit.
Kelarutan : Agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, larut
dalam kloroform dan dalam eter P, agak sukar larut dalam eter
mutlak
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Hasil akhir dari sintesa
Khasiat : Analgetik dan antipiretik

2.3.1 Cara Kerja ASPIRIN / ASETOSAL :

Efek Analgesik, antipiretik, dan anti-inflamasi efek asam asetilsalisilat ada


karena tindakan baik oleh asetil salisilat dan bagian dari molekul utuh serta oleh
salisilat metabolit aktif. Asam asetilsalisilat langsung dan ireversibel menghambat
aktivitas kedua jenis siklooksigenase (COX-1 dan COX-2) untuk mengurangi
pembentukan prekursor prostaglandin dan tromboksan dari asam arakidonat. Hal ini
membuat asam asetilsalisilat yang berbeda dari AINS lain (seperti diklofenak dan
ibuprofen) yang merupakan inhibitor reversibel. Salisilat dapat kompetitif
menghambat pembentukan prostaglandin. Antirematik asam asetilsalisilat yang
(nonsteroidal anti-inflammatory) tindakan adalah hasil dari analgesik dan mekanisme
anti-inflamasi; efek terapi tidak karena stimulasi hipofisis-adrenal. Agregasi platelet-
menghambat efek asam asetilsalisilat khusus melibatkan kemampuan senyawa untuk
bertindak sebagai donor asetil ke siklooksigenase; salisilat nonacetylated tidak
berpengaruh signifikan secara klinis pada agregasi platelet. Asetilasi ireversibel
membuat siklooksigenase aktif, sehingga mencegah pembentukan menggabungkan
agen tromboksan A2 dalam trombosit. Karena trombosit tidak memiliki kemampuan
untuk mensintesis protein baru, efek bertahan untuk kehidupan trombosit terkena (7-
10 hari). Asam asetilsalisilat juga dapat menghambat produksi agregasi platelet
inhibitor, prostasiklin (prostaglandin I2), oleh sel endotel pembuluh darah; Namun,
produksi penghambatan prostasiklin tidak permanen karena sel-sel endotel dapat
menghasilkan lebih siklooksigenase untuk menggantikan enzim non-fungsional.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 ALAT DAN BAHAN

Alat Bahan
Mortar dan stamper Kalium biftalat
Spatula Tablet aspirin
Kertas timbang Aseton
Labu erlenmeyer 250 mL Indikator fenolftalein
Gelas kimia 100 mL Indikator fenol merah
Buret 50 mL Larutan NaOH 0,1 N
Pipet tetes Air bebas CO2
Penangas air Akuadest
Timbangan

3.2 CARA KERJA

3.2.1 Pembakuan larutan NaOH dengan larutan kalium biftalat

Timbang seksama 5 g kalium biftalat yang sebelumnya telah


digerus halus dan dikeringkan pada suhu 120 oC selama 2 jam

Larutkan dalam 75 ml air bebas CO2

Tambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes dan titrasi dengan larutan


NaOH sampai timbul warna merah jambu

3.2.2 Titrasi sampel (Aspirin) dengan larutan NaOH 0,1 N

Sejumlah 500 mg sampel tablet Aspirin yang telah dihaluskan


dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 100 ml

Tambahkan 30 ml aseton dan larutkan sambil di aduk di atas tangas


air

Tambahkan 10 tetes indikator fenol merah

Titrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari


kuning ke merah
BAB IV

PENGOLAHAN DATA

4.1 Pembakuan larutan standar sekunder NaOH 0,1xxx N


Berat kalium biftalat : 5,091 gram
BE kalium biftalat : 204,23 gram
Volume aquadest : 75 ml
Volume titrasi

No Volume Kalium Volume NaOH (ml)


Biftalat
1 10 31,60
2 10 31,20
Rata-rata 10 31,40

4.2 Penentuan kadar aspirin


berat tablet aspirin utuh : 0,6003 gram
volume sampel dipipet : 10 ml
volume titrasi

No Volume NaOH (ml) Berat tablet untuk


analisa (gram)
1 9,70 0,2008
2 9,90 0,2001
3 10,40 0,1815
Rata-rata 10,00 0,1941

Pengolahan data

a. Pembakuan larutan NaOH


Penentuan konsentrasi larutan kalium biftalat
g 1000
N=
BE V
5,0091 1000
N=
204,23 75
N=0,3270 N

Penentuan konsentrasi larutan NaOH


V NaOH N NaOH =V KH C H O N KH C H
8 4 4 8 4 O4

31,40 mL N NaOH =10 mL 0,3270 N

10 mL 0,3270 N
N NaOH =
31,40 mL
N NaOH =0,1041 N

Jadi, konsentrasi larutan NaOH sebesar 0,1041 N

b. Penentuan kadar aspirin


Normalitas Aspirin
V NaOH N NaOH =V C H 9 8 O4 NC H
9 8 O4

10,00 mL 0,1041 N
NC H O4 =
9 8
10 mL
NC H
9 8 O4 =0,1041 N

Berat aspirin
g 1000
N=
BE V
g 1000
0,1041 N =
180,157 g /mol 10 mL
0,1041 N 180,157 g /mol 10 mL
g=
1000
g=0,1875 g 187,5 mg

% Perolehan Kembali
m aspirin
%Peroleh Kembali= 100
500 mg
187,5 mg
%Peroleh Kembali= 100
500 mg
%Peroleh Kembali=37,50

% Kadar
m aspirin
%Kadar= 100
mrataratatablet
187,5 mg
%Kadar= 100
194,1
%Kadar=96,59

Jadi kadar aspirin pada tablet sebesar 96,59


BAB V

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

5.1 Pembahasan

Asam salisilat merupakan zat aktif dalam obat yang bersifat asam. Oleh karena
itu penetapan kadarnya dapat menggunakan Titrasi Asam Basa. Titrasi asam-basa
sering disebut juga dengan titrasi netralisasi.
Pada praktikum ini Asam Salisilat dititrasi dengan larutan NaOH yang
sebelumnya di standarisasi dengan larutan Kalium Biftalat. NaOH merupakan larutan
baku sekunder sehingga harus distandarisasi dengan larutan baku primer. Larutan
baku primer yag digunakan yaitu Kalium biftalat yang sifatnya stabil dalam kondisi
ruang. Pada saat standarisasi NaOH, larutan kalium biftalat harus dilarutkan dalam air
bebas CO2 hal ini dilakukan karena di dalam air CO2 dapat bereaksi dengan air
menjadi H2CO3 yang berupa endapan, sehingga akan menggangu penentuan titik akhir
titrasi. Indikator yang digunakan yaitu fenolphtalien yang memiliki trayek pH 8,3 -10
yang menyebabkan perubaha warna dari tidak berwarna menjadi merah jambu.

Reaksi antara kalium biftalat dengan natrium hidroksida adalah sebagai berikut:
CO2H.C6H4.CO2K + NaOH C6H4O2.CO.NaOK + H2O

Setelah didapat kadar NaOH kemudian dilakukan penetapan kadar aspirin di


dalam tablet. Berat awal tablet yaitu sebesar 0,6003. Kemudian tablet digerus,
ditimbang dan dibagi menjadi 3 bagian. Kemudian aspirin ditambahkan 30 ml aseton
sambil diaduk dan dipanaskan diatas penangas air. Fungsi pengadukan yaitu untuk
melarutkan aspirin namun pengadukan tidak melarutkan aspirin sehingga dibantu
dengan pemanasan agar aspirin larut sempurna. Pemanasan tidak boleh terlalu tinggi
karena aseton memiliki titik didih 56C. Dan aseton yang digunakan harus bersifat
netral karena bila aseton bersifat asam akan terjadi penentralan antara aseton dengan
NaOH sedangkan bila aseton bersifat basa maka akan terjadi penentralan antara
aspirin dengan aseton sebelum titrasi dilakukan sehingga akan mempengaruhi kadar
aspirin. Saat pemanasan aspirin sukar larut hal ini karena seperti yang disebutkan
dalam farmakope V aspirin sukar larut dalam air dan dalam benzen, mudah larut
dalam etanol dan dalam eter; larut dalam air mendidih ;agak sukar larut dalam
kloroform. Sebaiknya pada praktikum ini digunaka etanol.Indikator yang digunakan
adalah phenol merah dengan trayek pH sebesar 6,8 -8,4. Titik akhir titrasi ditandai
ketika ada perubahan warna larutan dari kuning menjadi merah. Reaksi yang terjadi :

Asam Salisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari
101,0%, C7H6O3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan ( Farmakope
Indonesia V). Namun pada praktikum kali ini didapat kadar asam salisilat sebesar
96,59% . Kadar ini diluar rentang yang disyaratkan oleh Farmakope Indonesia, hal ini
dapat disebabkan saat dilarutkan dengan aseton ada aspirin yang tidak larut kemudian
karena aspirin dalam aseton sukar larut sehingga waktu pemasana cukup lama
sehingga ada aseton yang menguap.

5.2 Kesimpulan

1. Analisis kandungan senyawa asam salisilat dalam obat sediaan aspirin dapat
dilakukan melalui metoda titrasi asam basa, dengan NaOH sebagai pentiter.
2. Berdasarkan percobaan diperoleh data, bahwa :
Konsentrasi NaOH sebesar 0,1041 N
Normalitas aspirin sebesar 0,1041 N
Kadar Aspirin yang didapat pada tablet yaitu sebesar 96,59 %
DAFTAR PUSTAKA

Meiseti, Awan. 2014. Analisis aspirin menggunakan metode titrasi asam-basa.


http://www.slideshare.net/MeisetiAwan/analisis-aspirin . [ 14 Oktober 2016 ]
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 1995
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 2014
Ayu, isnul. No Date. Titrasi Asam Basa.
Novia, et.all. No Date. Penentuan Kadar Boraks dengan Metoda Asidimetri.
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Barat, Indonesia.
NN. ND. Mekanisme Aksi/Cara Kerja Aspirin/ Asetosal/ Asam Asetil Salisilat. Drug
Information
LAMPIRAN

Sarah Dwi Hartinah (141431028)

1. OXYPHENBUTAZONUM
Struktur molekul

Penetapan kadar : Timbang saksama lebih kurang 500 mg, larutkan dalam 100 ml
metanol P, titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N LV, tetapkan titik . --akhir secara
potensiometrik, menggunakan sistem elektrode kalomel-kaca dengan jembatan garam
kalium klorida P jenuh dalam metanol P. Lakukan penetapan blangko.
2. STRYCHNINI NITRAS
Struktur molekul

Penetapan kadar : Timbang saksama lebih kurang 500 mg, masukkan ke dalain
corong pisah, tambahkan 40 ml air dan 12,S ml amonia LP. Ekstraksi S kali, tiap kali
dengan 2S ml kloroform P. Cuci tiap e!<strak dengan 20 ml air yang sama yang
terdapat dalam corong pisah kedua. Uapkan kumpulan ekstrak di atas tangas air
hingga S mi. Tambahkan S ml etanol P, uapkan di atas tangas air hingga kering, dan
keringkan pada suhu 10S0 selama 30 menit. Basahi residu dengan 1 ml ctanol P,
tambahkan 20,0 ml asam sulfat 0,1 N LV, hangatkan hingga larut, dinginkan. Titrasi
dengan natrium hidroksida 0,1 N LV inenggunakan indikator 3 tetes merah metil LP.

3. PROPYLTHIOURACILUM
Struktur molekul

Penetapan kadar : Timbang saksama lebih kurang 300 mg, masukkkan ke dalam
labu Erlenmeyer 500 ml dan tambahkan 30 ml air. Tambahkan lebih kurang 30 ml
natrium hidroksith 0,1 N LV dari buret, panaskan hingga mendidih dan kocok hingga
larut. Bilas labu Erlenmeyer dengan sejumlah air, tambahkan lebih kurang 50 mJ
perak nitrat 0,1 N sambil diaduk, didihkan perlahan-lahan selama 7 menit, dinginkan
hingga suhu kamar. Lanjutkan titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N LV dan
tetapkan titik akhir secara potensiometrik, me.nggunakan elektrode kacakalomel.
4. ZINCI UNDECYLENAS
Struktur molekul

Penetapan kadar : Timbang saksama lebih kurang 1 g zat dan didihkan dengan 50,0
ml asam sulfat 0,1 N LV selama 10 menit atau sampai lapisan asam jernih, jika perlu
tambahkan air untuk menjaga hingga volume seperti semula. Dinginkan dan
pindahkan campuran dengan bantuan air ke dalam corong pisah 500 mi. Encerkan
dengan air hingga lebih kurang 250 ml, dan ekstraksi 2 kali,. tiap kali dengan 100 ml
heksana P. Cuci kumpulan ekstrak dengan air hingga cucian akhir memberikan reaksi
netral terhadap lakmus P, tambahkan cucian ke dalam lapisan air semula, uapkan di
atas tangas uap sampai lebih kurang 100 mi. Dinginkan, tambahkan 3 tetes jingga
metil LP dan titrasi kelebihan asam sulfat dengan natrium hidroksida 0,1 N LV.
Lakukan penetapan blangko.

5. QUININI AETHYLCARBONAS
Struktur molekul

Penetapan kadar : Timbang saksama lebih kurang 400 mg, larutkan dalam 5 ml
etanol netral P, tambahkan 20 ml asam k/orida 0,1 N. Titrasi dengan natrium
hidroksida 0,1 N LV, menggunakan 3 tetes indikator merah metil LP hingga terjadi
warna yang sama dengan warna dari 35 ml larutan dapar pH 5,0 setelah ditambahkan
3 tetes merah metil LP.

Silmi Faiza Nabila (141431029)

1. ACIDUM ACETYLOSALICYLICUM (asam asetilsalisilat asetosal)


Penetapan kadar : timbang dengan seksama lebih kurang 1,5 gram ke dalam labu,
tambahkan 50,0 mL NaOH 0,5N LV, didihkan campuran secara perlahan-lahan selama
10 menit. Tambahkan indikator fenolftalein LP. Titrasi kelebihan NaOH dengan asam
sulfat (H2SO4) 0,5N LV. Lakukan penetapan blangko.
Contoh obat : aspirin
Kegunaan : analgetik

2. ACIDUM CITRICUM (asam sitrat)


Penetapan kadar : timbang seksama lebih kurang 3 gram di dalam labu yang telah
ditara. Larutkan dalam 40 mL air, tambahkan indikator fenolftalein LP. Titrasi dengan
NaOH 1N LV. Khasiat dan penggunaan : Zat tambahan

3. CHLORALHYDRAS (Kloral Hidrat (C2H3Cl3O2))


Penetapan kadar : Timbang saksama lebih kurang 4 g, larutkan dalam 10 ml air.
Tambahkan 30,0 ml natrium hidroksida 1 N LV dan biarkan selama 2 menit. Titrasi
kelebihan alkali dengan asam sulfat 1 N LV menggunakan indikator fenolftalein LP.
Lakukan penetapan blangko. 1 ml natrium hidroksida 1 N setara dengan 165,4 mg
C2H3Cl3O2
Contoh obat: Noctec
Khasiat: sedatif (obat penenang)

4. LEVAMISOLI HYDROCHLORIDUM (levamisol hidroklorida)


Penetapan kadar : timbang seksama lebih kurang 200mg, larutkan dalam 30mL etanol
p. Tambahkan 5,0mL asam klorida 0,01N LV dan titrasi dengan NaOH 0,1N LV.

Contoh obat : levamisol

Kegunaan : anti infeksi

5. ACIDUM SORBICUM (Asam 2,4-heksandienoat)

Penetapan Kadar :
Timbang seksama 250mg, larutkan dalam 50ml methanol P yang telah dinetralkan
dengan NaOH 0,1N. Titrasi dengan NaOH 0,1N dengan menggunakan indicator
phenoptalein hingga warna merah jambu pertama berlangsung selama 30 detik
Khasiat : Zat pengawet
Contoh obat : Vitacimin

SYAFIRA OCTAFIANI S (141431030)

1. METHYLIS SALICYLES
Metil Salisilat [119-36-8], BM 152,15
(Farmakope IV, 551)
Penetapan Kadar :
Timbang saksama lebih kurang 2 gram, masukkan ke dalam labu, tambahkan 40,0 mL
natrium hidroksida 1 N LV, dan didihkan perlahan-lahan dalam refluks selama 2 jam.
Dinginkan, bilas kondensor, dengan beberapa mL air, tambahkan fenolftalein LP.
Titrasi kelebihan basa dengan asam sulfat 1 N LV. Lakukan penetapan blanko.
(Ket : 1 mL natrium hidroksida 1 N setara dengan 152,2 mg C8H8O3).
Jenis Obat : Obat Analgesik
Khasiat : Meredakan nyeri otot dan sendi.

2. FUROSEMIDUM
Furosemida (C12H11ClN2O3S)
Asam 4-kloro-N-furfuril-5-sulfamoilantranilat [54-31-9] BM 330,74
(Farmakope IV, 401)

Penetapan Kadar :
Timbang saksama lebih kurang 600 mg, larutkan dalam 50 mL dimetilformamida P
yang telah ditambah 3 tetes biru bromotimol LP, dan sebelumnya telah dinetralkan
dengan natrium hidroksida 0,1 N. Titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N LV sampai
titik akhir berwarna biru.
Jenis Obat : Diuretik.
Khasiat : Mengendalikan tekanan darah tinggi dan edema (retensi cairan).

3. AMINOPHYLINI SUPPOSITORIA
(C7H8N4O2)
Penetapan Kadar:
Kadar etilendiamida, timbang 5 suppositoria, leburkan diatas tangas air pada 45 oC,
biarkan dingin dan diaduk lalu dihangatkan 2,5gr. Leburkan dengan 20ml air hingga
terdispersi, lalu lakukan titrasi dengan asam sulfat 0,1N menggunakan indikator
larutan hijau bromkresol P hingga warna berubah dari biru hingga hijau, hangatkan
lagi lalu kocok.
Contoh obat : Recoplin suppositoria
Khasiat dan penggunaan : Mencegah gejala asma dan bronkhaspasme

4. ACETYLCHOLINI CHLORIDUM

Asetilkolin Klorida ( C7H16ClNO2 )

Penetapan kadar:

Timbang seksama lebih kurang 400 mg, larutkan dalam 15 ml air dalam labu
Erlenmeyer bersumbat kaca. Tambahkan 40,0 ml natrium hidroksida 0,1 N LV dan
panaskan di atas tangas uap selama 30 menit. Tutup, biarkan dingin, tambahkan
fenloftalein LP dan titrasi kelebihan alkali dengan asam sulfat 0,1 N LV. Lakukan
penetapan blanko seperti yang tertera pada Titrasi residual dalam Titrimetri

1 ml natrium hidroksida 0,1 N setara dengan 18,17 mg C7H16ClNO2

Contoh obat : Miochol E


Khasiat : obat kolinergik

5. INDOMETASINA

(C19H16CINO4)

Penetapan Kadar :
Timbang saksama 450mg. Larutkan dalam 75ml metanol P yang telah dialiri nitrogen
P bebas karbondioksida selama 15 menit, untuk menghilangkan karbondioksida.
Tambahkan 75ml air bebas karbondioksida P. Titrasi dengan NaOH 0,1N bebas
karbondioksida menggunakan indikator fenolftalein P.
Khasiat dan penggunaan : Analgetikum, anti radang
Contoh obat : Confortid (nama dagang dari indometasin)