Anda di halaman 1dari 34

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Nama : Ny. I
Usia : 47 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Waled Desa RT 14 RW 07 Waled
Agama : Islam
Status Marital : Belum Menikah
Suku : Sunda
Pekerajaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMP

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesis dan pemeriksaan fisik pada tanggal 24
Maret 2016 di Poliklinik bagian mata RSUD Waled.
1. Keluhan Utama
Mata merah dan keluar kotoran

2. Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUD Waled dengan keluhan mata
kanan merah sejak 1 bulan yang lalu SMRS. Awalnya mata timbul kemerahan
dan kemudian dirasakan rasa sedikit nyeri (tidak bertambah jika ditempat
terang). Pasien mengeluhkan keluarnya air mata terus- menerus ,rasa nyeri,
rasa tidak nyaman seperti mengganjal yang disertai gatal di mata kanannya.
Keluhan tersebut juga di barengi adanya keluar kotoran mata sedikit yang
membuat matanya lengket ketika bangun tidur.
Pasien menyangkal adanya keluhan silau ketika melihat cahaya, melihat
pelangi disekitar lampu/ sumber cahaya dissangkal , gambaran berkabut
seperti awan disangkal, penurunan penglihatan mendadakan disangkal. Tidak
ada keluhan gangguan dalam penglihatan.
Pasien tidak memiliki riwayat trauma pada kedua matanya maupun alergi.
Pasien baru pertama kali mengalami keluhan seerti ini dan sudah mencoba
berobat dan mendapatkan obat cloramfenikol ed namun tidak ada perbaikan.
Di keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

3. Riwayat Penyakit dahulu


Riwayat trauma pada daerah mata disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat penyakit diabetes melitus disangkal
Riwayat alergi disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat keluarga yang memiliki keluhan serupa disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat diabetes mellitus disangkal

5. Riwayat Pribadi dan Sosial


Pasien jarang memakai helm atau kacamata ketika naik motor

III. PEMERIKSAAN FISIK


1. Status Generalis
Keadaan umum : Pasien tampak sakit ringan
Kesadaran : Komposmentis GCS=15
Tanda vital : TD : 120/70 mmHg Suhu : 36 0C
Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit
Pemeriksaan fisik: Kepala : normosefal
Thoraks : cor : tidak ada kelainan
paru : tidak ada kelainan
Abdomen : tidak ada kelainan
Ekstremitas : tidak ada kelainan

2. Status Oftalmologi

OD Pemeriksaan OS

2
O,6 = 20/25 Visus 0,5 = 20/40
Dikoreksi tidak maju Dikoreksi tidak maju
Hiperemi (-) Palpebra Hiperemi (-)
edema (-) edema (-)
nyeri tekan (-) nyeri tekan (-)
blefarospasme (-) blefarospasme (-)
ektropion (-) ektropion (-)
entropion (-) entropion (-)
lagoftalmos (-) lagoftalmos (-)
ptosis (-) ptosis (-)
hordeolum (-) hordeolum (-)
kalazion (-) kalazion (-)
Nistagmus (-) Gerak bola mata Nistagmus (-)

Warna hitam Supersilia Warna hitam


Letak simetris Letak simetris
Trikiasis (-) Silia Trikiasis (-)
distikiasis (-) distikiasis (-)
Endoftalmus (-) Bulbus oculi Endoftalmus (-)
eksoftalmus (-) eksoftalmus (-)
strabismus (-) strabismus (-)
orthopia (+) orthopia (+)
Folikel (-) konjungtiva Folikel (-)
Papil (-) Papil (-)
Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Injeksi konjungtiva (+) Injeksi konjungtiva (-)
injeksi siliar (+) injeksi siliar (-)
injeksi episklera (-) injeksi episklera (-)
edema (-) edema (-)
pterigium (-) pterigium (-)
Ikterik (-) Sclera Ikterik (-)

3
warna putih (+) warna putih (+)
Jernih (+) Kornea Jernih (+)
Permukaan licin (+) Permukaan licin (+)
Infiltrat (+) Infiltrat (-)
arcus senilis (-) arcus senilis (-)
sikatrik (-) sikatrik (-)
Kedalaman (+) dalam COA Kedalaman (+) dalam
Jernih (+) Jernih (+)
hifema (-) hifema (-)
hipopion (-) hipopion (-)
Regular Iris Regular
warna cokelat warna cokelat
bulat bulat
sinekia (-) sinekia (-)
Bulat Pupil Bulat
letak di tengah letak di tengah
Diameter 3 mm Diameter 3 mm
RCL (+) RCL (+)
RCTL (+) RCTL (+)
Jernih Lensa Jernih
Tes shadow (-) Tes shadow (-)
Reflex fundus (+) Funduskopi Reflex fundus (+)
papil bulat papil bulat
batas tegas batas tegas
CD ratio 0.3 CD ratio 0.3
a/v ratio 2/3 a/v ratio 2/3
reflex macula (+) reflex macula (+)
Positif Reflex fundus Positif
Tak dilakukan Sistem lakrimalis Tak dilakukan
Sesuai dengan pemeriksa Lapang Sesuai dengan pemeriksa
pandanng
Normal Palpasi TIO Normal
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Massa tumor (-) Massa tumor (-)

IV. Resume

4
Pasien seorang perempuan usia 47 tahun datang ke Poliklinik Mata RSUD
Waled dengan keluhan hyperemia OD sejak 1 bulan yang lalu SMRS.
Awalnya mata timbul kemerahan dan kemudian dirasakan rasa sedikit nyeri
(tidak bertambah jika ditempat terang). Pasien mengeluhkan hiperfora OD,
rasa nyeri, rasa tidak nyaman seperti mengganjal yang disertai gatal dan
eksudasi(+).
Pemerikssan didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit ringan,
komposmentis. TD 120/70 mmHg, Suhu 36 0C, Nadi 80 x/menit, RR 20
x/menit.
Pada pemerikssan didapatkan visus OD 20/30 dan visus OS 20/40, Injeksi
konjungtiva (+), injeksi siliar (+). sklera warna putih. Kornea jernih, infiltrate
(+). COA jernih, kedalaman + dalam.

V. Diagnosis Banding
Keratokonjungtivitis OD ec susp viral
Keratokonjungtivitis OD ec susp bakteri

VI. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan laboratorium
pemeriksaan dengan slit lamp biomikroskopi

VII. Diagnosis Klinis


Keratokonjungtivitis OD ec susp viral

VIII. Tatalaksana yang diberikan


Medikamentosa :
- Acyclovir eye drop 6 x 1 gtt
- Tropical Lubricating drops 1 dd gtt/ jam

IX. Edukasi
Jangan mengusap atau menggaruk mata karena dapat memperburuk kondisi
peradangan pada mata
- Membudayakan cuci tangan dan perbaikan higiene agar mencegah
infeksi ulang maupun sekunder serta mencegah penularan
- Menggunakan pelindung mata (kacamata) agar terhindar dari kotoran.
- Kontrol kembali satu minggu untuk mengavaluasi kembali kemajuan
terapi

X. Prognosis

5
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : dunia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

6
NALISA KASUS

Pasien didiagnosa sebagai keratokonjungtivitis OD ec susp viral, diagnosa


ditegakkan berdasarkan:
I. Anamnesis
a. Hiperemia
Mata merah merupakan tanda tipikal daari konjungtivitis. Injeksi
konjungtiva diakibatkan karena dilatasi pembuluh darah konjungtiva
posterior dan hiperemia siliar yang mengesankan adanya radang pada
kornea (keratitis) yang muncul di forniks dan menghilang dalam
perjalanan ke limbus.
b. Epifora (lakrimasi yang berlebih)
Lakrimasi mencerminkan sebagian adanya reaksi dari benda asing
pada konjungtiva atau kornea atau iritasi toksik dan karena adanya
trandusi ringan dari pembuluh darah yang mengalami hiperemia.
Jumlah pengeluaran air mata yang tidak normal dan disertai dengan
sekresi mukus menendakan keratokonjungtivitis sika.
c. Eksudasi
Merupakan ciri dari semua jenis konjungtivitis akut. Pada hampir
semua konjungtivitis didapatkan banyak kotoran mata di palpebra
saat bangun tidur. Jika sekret yang keluar banyak dan purulen
disebabkan karena bakteri, jika sekretnya sedikit bisa disebebkan
karena virus, jamur atau alergi.

II. Pemeriksaan Fisik


a. Visus
Pada pasien dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan dengan
menggunakan snellen chart yang menunjukan hasil VOD : 0,6 dan
VOS : 0,5. Berdasarkan hasil tersebut visus pasien dalam kondisi
normal. Mata merah dengan dengan sedikit sekret serata visus normal
terdapat pada konjungtivitis.
b. Hiperemia
Mata merah merupakan tanda tipikal daari konjungtivitis. Injeksi
konjungtiva diakibatkan karena dilatasi pembuluh darah konjungtiva
posterior dan hiperemia siliar yang mengesankan adanya radang pada

7
kornea (keratitis) yang muncul di forniks dan menghilang dalam ke
limbus.
perjalanan
Tanda Konjungtivitis Keratitis
Tajam Normal Turun nyata
penglihatan
Silai Tidak ada Nyata
Sakit Pedas, rasa kelilipan Sakit
Mata merah Injeksi konjungtiva Injeksi siliar
Sekret Serous, mukous, purulen Tidak ada
Lengket Terutama pagi hari Tidak ada
kelopak
Edem kelopak Tidak ada/ringan, Tidak ada/berat
mata terutama pada
konjungtivitis
adenoviral
Pupil Normal Mengecil
Kornea Normal Keruh, defek epitel pada
pewarnaan fluoresein
Beradasarkan hasil anamnesa diperoleh kombinasi gejala dan tanda
pada penyakit konjungtivitis dan keratitis sehingga pasien ini
didiagnosis dengan keratokonjungtivitis. Gejala dan tanda
konjungtivitis pada pasien ini antara lain mata merah, terasa seperti
ada yang mengganjal serta adanya sekret/kotoran mata. Selain itu
bukti keterlibatan kornea ialah adanya injeksi siliar.

III. Diagnosa Banding


Dari keluhan pasien yaang mengeluhkan mata merah, berair,
nyeri, rasa tidak nyaman, keluar sekret sedikit tetapi tidak menggeluhkan
penglihatannya buram atau mmenurun. Diagnosis yang di ambil adalah
keratokonjungtivitis OD ec susp virus dan keratokonjungtivitis OD ec
susp bakteri.

IV. Pemmeriksaan Penunjang


Pada literatur disebutkan bahwa pemeriksaan penunjang untuk
kelainan mata luar dengan pemeriksaan biomikroskop (slitlamp) dengan
atau tanpa pewarnaan fluoresein juga dapat dilakukan. Pemeriksaan

8
dengan mata telanjang tidak akan memperlihatkan kekeruhan kornea,
namun penggunaan slitlamp akan tampak adanya kekeruhan pada kornea
baik berupa gambaran infiltrat seperti titik putih kecil atau becabang,
bentuk dan lokasi lainnya. Pada pasien ini ditemukan adanya gambaran
beberapa titik putih kecil di kornea namun halus dan sedikit tersebar.
Meskipun melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik dapat
diperkirakan etiologi keratokonjungtivitis, pemeriksaan penunjang lain
seperti hapusan dari konjungtiva maupun kornea juga dapat dilakukan
guna penegakan diagnosis. Dengan melakukan apusan serta pewarnaan
untuk menemukan beberapa gambaran berupa sel-sel yang khas
ditemukan pada masing-masing kasus keratokonjungtivitis

V. Diagnosis Klinis
sesuai dengan keluhan pasien yang mengeluhkan mata merah, berair, rasa
nyeri, rasa tidak nyaman, keluar sekret sedikjt ttetapi tidak mengeluhkan
penglihatan buram atau menurun maka diagnoosis klinis dari pasien ini
adalah keratokonjungtivitis OD ec susp virus

VI. Penatalaksanaan
Penatalaksanaaan disesuaikkan dengan etiologinya. Padaa kasus ini
diberikkan medikamentosa meliputi tropical lubricating drops dan
ofloxacin eye drop. Pada pasien ini didiagnosis keratokonjungtivitis OD
ec susp virus sehingga sebenarnyya ialah "sel Limiting disease" namun
untuk penanganan pemberian steroid dapat difikirkan karena telahadanya
keterlibatan epitel kornea. Antibiotik diberikan karena untuk mencegah
adanya infeksi sekunder.

VII. Prognosis
Prognosis keratokonjungtivitis ini tergantung pada luasnya jaringan
parut kornea yang terbentuk dimana penanganan dini dan tepat dapat
mencegah kerusakan mata permanen. Prognosis pada pasien ini adalah
dubia ad bonam karena infiltrat yang ditemukan sebenarnya tidak banyak
dan hanya berupa titik kecil yang mana proses penyembuhan kembali
lagi pada ketahanan dan kepatuhan pasien sendiri.

9
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
I. Konjungtiva
A. Anatomi
Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang
transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata
(konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva
bulbaris). Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak
mata dan melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus,
konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan
membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris.
Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbital di forniks dan
melipat berkali-kali. Adanya lipatan-lipatan ini memungkinkan bola mata
bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik (Vaughan,
2010).

Gambar 3.1. Anatomi konjungtiva

B. Histologi
Secara histologis, lapisan sel konjungtiva terdiri atas dua hingga
lima lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial dan basal (Junqueira,
2007). Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval
yang mensekresi mukus yang diperlukan untuk dispersi air mata. Sel-sel
epitel basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan
dapat mengandung pigmen Vaughan, 2010).

10
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid
(superfisialis) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid
mengandung jaringan limfoid dan tidak berkembang sampai setelah bayi
berumur 2 atau 3 bulan. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan
penyambung yang melekat pada lempeng tarsus dan tersusun longgar pada
mata (Vaughan, 2010).

C. Perdarahan dan Persarafan


Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan
arteria palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan
bersama dengan banyak vena konjungtiva membentuk jaringan vaskular
konjungtiva yang sangat banyak (Vaughan, 2010). Konjungtiva juga
menerima persarafan dari percabangan pertama nervus V dengan serabut
nyeri yang relatif sedikit (Tortora, 2009).

II. Kornea
A. Anatomi
Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan,
berukuran 11- 12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki
indeks refraksi 1,37. Kornea memberikan kontribusi 74 % atau setara
dengan 43,25 dioptri (D) dari total 58,60 kekuatan dioptri mata manusia.
Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi glukosa dari aqueus
humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata. Sebagai
tambahan, kornea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea
adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung saraf
terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan
konjungtiva ( AAO, 2008). Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 550
m, diameter horizontalnya sekitar 11,75 mm dan vertikalnya 10,6 mm
( Riordan-Eva, 2010).

11
Gambar. Anatomi kornea

B. Histologi
Secara histologis, lapisan sel kornea terdiri dari lima lapisan, yaitu
lapisan epitel, lapisan Bowman, stroma, membran Descemet, dan lapisan
endotel (Riordan-Eva, 2010).
Permukaan anterior kornea ditutupi epitel berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk dan tanpa papil. Di bawah epitel kornea terdapat membran
limitans anterior (membran Bowman) yang berasal dari stroma kornea
(substansi propia). Stroma kornea terdiri atas berkas serat kolagen paralel
yang membentuk lamella tipis dan lapisan-lapisan fibroblas gepeng dan
bercabang (Eroschenko, 2003).
Permukaan posterior kornea ditutupi epitel kuboid rendah dan
epitel posterior yang juga merupakan endotel kornea. Membran Descemet
merupakan membran basal epitel kornea (Eroschenko, 2003) dan memiliki
resistensi yang tinggi, tipis tetapi lentur sekali (Hollwich, 1993).

C. Perdarahan dan Persarafan


Kornea mendapat nutrisi dari pembuluh-pembuluh darah limbus,
humor aqueous, dan air mata. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari
cabang pertama (ophthalmichus) dan nervus kranialis trigeminus
(Riordan-Eva, 2010). Saraf trigeminus ini memberikan sensitivitas tinggi
terhadap nyeri bila kornea disentuh (Hollwich, 1993).

D. Fisiologi Kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang
dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan

12
oleh strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi
atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh
pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan
endotel. Dalam mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting
daripada epitel. Kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel berdampak jauh
lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel
menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya,
kerusakan pada epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal
sesaat yang akan meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi.
Penguapan air dari lapisan air mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas
ringan pada lapisan air mata tersebut. Hal ini mungkin merupakan faktor
lain dalam menarik air dari stroma kornea superfisial dan membantu
mempertahankan keadaan dehidrasi.
Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut-
lemak dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui
stroma yang utuh. Agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan
larut-air sekaligus. Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya
mikroorganisme kedalam kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma
yang avaskular dan membran Bowman mudah terkena infeksi oleh
berbagai macam organisme, seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur
(Biswell, 2010).

III. Konjungtivitis
A. Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan penyakit
ini adalah penyakit mata yang paling umum di dunia. Karena lokasinya,
konjungtiva terpajan oleh banyak mikroorganisme dan faktor-faktor
lingkungan lain yang mengganggu (Vaughan, 2010). Penyakit ini
bervariasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata berair sampai
konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental (Hurwitz, 2009).
Jumlah agen-agen yang pathogen dan dapat menyebabkan infeksi
pada mata semakin banyak, disebabkan oleh meningkatnya penggunaan
oat-obatan topical dan agen imunosupresif sistemik, serta meningkatnya

13
jumlah pasien dengan infeksi HIV dan pasien yang menjalani transplantasi
organ dan menjalani terapi imunosupresif (Therese, 2002).

Gambar. Macam konjungtivitis

B. Pembagian Konjungtivitis
1. Konjungtivitis Bakteri
a. Definisi
Konjungtivitis Bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang
disebabkan oleh bakteri. Pada konjungtivitis ini biasanya pasien
datang dengan keluhan mata merah, sekret pada mata dan iritasi
mata (James, 2005).
b. Etiologi
Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk,
yaitu hiperakut, akut, subakut dan kronik. Konjungtivitis bakteri
hiperakut biasanya disebabkan oleh N gonnorhoeae, Neisseria
kochii dan N meningitidis. Bentuk yang akut biasanya disebabkan
oleh Streptococcus pneumonia dan Haemophilus aegyptyus.
Penyebab yang paling sering pada bentuk konjungtivitis bakteri
subakut adalah H influenza dan Escherichia coli, sedangkan bentuk
kronik paling sering terjadi pada konjungtivitis sekunder atau pada
pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis (Jatla, 2009).
Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata
kemudian mengenai mata yang sebelah melalui tangan dan dapat
menyebar ke orang lain. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang
yang terlalu sering kontak dengan penderita, sinusitis dan keadaan
imunodefisiensi (Marlin, 2009).
c. Patofisiologi
Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora
normal seperti streptococci, staphylococci dan jenis
Corynebacterium. Perubahan pada mekanisme pertahanan tubuh

14
ataupun pada jumlah koloni flora normal tersebut dapat
menyebabkan infeksi klinis. Perubahan pada flora normal dapat
terjadi karena adanya kontaminasi eksternal, penyebaran dari organ
sekitar ataupun melalui aliran darah (Rapuano, 2008).
Penggunaan antibiotik topikal jangka panjang merupakan
salah satu penyebab perubahan flora normal pada jaringan mata,
serta resistensi terhadap antibiotik (Visscher, 2009).
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah
lapisan epitel yang meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme
pertahanan sekundernya adalah sistem imun yang berasal dari
perdarahan konjungtiva, lisozim dan imunoglobulin yang terdapat
pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan oleh lakrimasi dan
berkedip. Adanya gangguan atau kerusakan pada mekanisme
pertahanan ini dapat menyebabkan infeksi pada konjungtiva
(Amadi, 2009).
d. Tanda dan Gejala
Gejala-gejala yang timbul pada konjungtivitis bakteri
biasanya dijumpai injeksi konjungtiva baik segmental ataupun
menyeluruh. Selain itu sekret pada kongjungtivitis bakteri biasanya
lebih purulen daripada konjungtivitis jenis lain, dan pada kasus
yang ringan sering dijumpai edema pada kelopak mata (AOA,
2010).
Ketajaman penglihatan biasanya tidak mengalami
gangguan pada konjungtivitis bakteri namun mungkin sedikit
kabur karena adanya sekret dan debris pada lapisan air mata,
sedangkan reaksi pupil masih normal. Gejala yang paling khas
adalah kelopak mata yang saling melekat pada pagi hari sewaktu
bangun tidur. (James, 2005).
e. Diagnosis
Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia,
karena mungkin saja penyakit berhubungan dengan mekanisme
pertahanan tubuh pada pasien yang lebih tua. Pada pasien yang
aktif secara seksual, perlu dipertimbangkan penyakit menular
seksual dan riwayat penyakit pada pasangan seksual. Perlu juga
ditanyakan durasi lamanya penyakit, riwayat penyakit yang sama

15
sebelumnya, riwayat penyakit sistemik, obat-obatan, penggunaan
obat-obat kemoterapi, riwayat pekerjaan yang mungkin ada
hubungannya dengan penyakit, riwayat alergi dan alergi terhadap
obat-obatan, dan riwayat penggunaan lensa-kontak (Marlin, 2009).
f. Komplikasi
Blefaritis marginal kronik sering menyertai konjungtivitis
bateri, kecuali pada pasien yang sangat muda yang bukan sasaran
blefaritis. Parut di konjungtiva paling sering terjadi dan dapat
merusak kelenjar lakrimal aksesorius dan menghilangkan duktulus
kelenjar lakrimal. Hal ini dapat mengurangi komponen akueosa
dalam film air mata prakornea secara drastis dan juga komponen
mukosa karena kehilangan sebagian sel goblet. Luka parut juga
dapat mengubah bentuk palpebra superior dan menyebabkan
trikiasis dan entropion sehingga bulu mata dapat menggesek
kornea dan menyebabkan ulserasi, infeksi dan parut pada kornea
(Vaughan, 2010).
g. Terapi
Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada
temuan agen mikrobiologiknya. Terapi dapat dimulai dengan
antimikroba topikal spektrum luas. Pada setiap konjungtivitis
purulen yang dicurigai disebabkan oleh diplokokus gram-negatif
harus segera dimulai terapi topical dan sistemik . Pada
konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis
harus dibilas dengan larutan saline untuk menghilangkan sekret
konjungtiva (Ilyas, 2008).

2. Konjungtivitis Virus
a. Definisi
Konjungtivitis viral adalah penyakit umum yang dapat
disebabkan oleh berbagai jenis virus, dan berkisar antara penyakit
berat yang dapat menimbulkan cacat hingga infeksi ringan yang
dapat sembuh sendiri dan dapat berlangsung lebih lama daripada
konjungtivitis bakteri (Vaughan, 2010).
b. Etiologi
Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis virus,
tetapi adenovirus adalah virus yang paling banyak menyebabkan

16
penyakit ini, dan herpes simplex virus yang paling membahayakan.
Selain itu penyakit ini juga dapat disebabkan oleh virus Varicella
zoster, picornavirus (enterovirus 70, Coxsackie A24), poxvirus, dan
human immunodeficiency virus (Scott, 2010).
Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering kontak
dengan penderita dan dapat menular melalu di droplet pernafasan,
kontak dengan benda-benda yang menyebarkan virus (fomites) dan
berada di kolam renang yang terkontaminasi (Ilyas, 2008).
c. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya konjungtivitis virus ini berbeda-beda
pada setiap jenis konjungtivitis ataupun mikroorganisme
penyebabnya (Hurwitz, 2009). Mikroorganisme yang dapat
menyebabkan penyakit ini dijelaskan pada etiologi.

d. Gejala Klinis
Pada keratokonjungtivitis epidemik yang disebabkan oleh
adenovirus biasanya dijumpai demam dan mata seperti kelilipan,
mata berair berat dan kadang dijumpai pseudomembran. Selain itu
dijumpai infiltrat subepitel kornea atau keratitis setelah terjadi
konjungtivitis dan bertahan selama lebih dari 2 bulan (Vaughan &
Asbury, 2010). Pada konjungtivitis ini biasanya pasien juga
mengeluhkan gejala pada saluran pernafasan atas dan gejala infeksi
umum lainnya seperti sakit kepala dan demam (Senaratne &
Gilbert, 2005).
Pada konjungtivitis herpetic yang disebabkan oleh virus
herpes simpleks (HSV) yang biasanya mengenai anak kecil
dijumpai injeksi unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri, fotofobia
ringan dan sering disertai keratitis herpes.
Konjungtivitis hemoragika akut yang biasanya disebabkan
oleh enterovirus dan coxsackie virus memiliki gejala klinis nyeri,
fotofobia, sensasi benda asing, hipersekresi airmata, kemerahan,
edema palpebra dan perdarahan subkonjungtiva dan kadang-
kadang dapat terjadi kimosis (Scott, 2010).

17
Gambar. konjungtivital virus (Medscape, 2015)

e. Diagnosis
Diagnosis pada konjungtivitis virus bervariasi tergantung
etiologinya, karena itu diagnosisnya difokuskan pada gejala-gejala
yang membedakan tipe-tipe menurut penyebabnya. Dibutuhkan
informasi mengenai, durasi dan gejala-gejala sistemik maupun
ocular, keparahan dan frekuensi gejala, faktor-faktor resiko dan
keadaan lingkungan sekitar untuk menetapkan diagnosis
konjungtivitis virus (AOA, 2010).
Pada anamnesis penting juga untuk ditanyakan onset, dan
juga apakah hanya sebelah mata atau kedua mata yang terinfeksi
(Gleadle, 2007).
Konjungtivitis virus sulit untuk dibedakan dengan
konjungtivitis bakteri berdasarkan gejala klinisnya dan untuk itu
harus dilakukan pemeriksaan lanjutan, tetapi pemeriksaan lanjutan
jarang dilakukan karena menghabiskan waktu dan biaya (Hurwitz,
2009).
f. Komplikasi
Konjungtivitis virus bisa berkembang menjadi kronis,
seperti blefarokonjungtivitis. Komplikasi lainnya bisa berupa
timbulnya pseudomembran, dan timbul parut linear halus atau
parut datar, dan keterlibatan kornea serta timbul vesikel pada kulit
(Vaughan, 2010).
g. Penatalaksanaan

18
Konjungtivitis virus yang terjadi pada anak di atas 1 tahun
atau pada orang dewasa umumnya sembuh sendiri dan mungkin
tidak diperlukan terapi, namun antivirus topikal atau sistemik harus
diberikan untuk mencegah terkenanya kornea (Scott, 2010). Pasien
konjungtivitis juga diberikan instruksi hygiene untuk
meminimalkan penyebaran infeksi (James, 2005).

3. Konjungtivitis Alergi
a. Definisi
Konjungtivitis alergi adalah bentuk alergi pada mata yang
paing sering dan disebabkan oleh reaksi inflamasi pada
konjungtiva yang diperantarai oleh sistem imun (Cuvillo et al,
2009). Reaksi hipersensitivitas yang paling sering terlibat pada
alergi di konjungtiva adalah reaksi hipersensitivitas tipe 1
(Majmudar, 2010).
b. Etiologi dan factor Resiko
Konjungtivitis alergi dibedakan atas lima subkategori, yaitu
konjungtivitis alergi musiman dan konjungtivitis alergi tumbuh-
tumbuhan yang biasanya dikelompokkan dalam satu grup,
keratokonjungtivitis vernal, keratokonjungtivitis atopik dan
konjungtivitis papilar raksasa (Vaughan, 2010).
Etiologi dan faktor resiko pada konjungtivitis alergi
berbeda-beda sesuai dengan subkategorinya. Misalnya
konjungtivitis alergi musiman dan tumbuh-tumbuhan biasanya
disebabkan oleh alergi tepung sari, rumput, bulu hewan, dan
disertai dengan rinitis alergi serta timbul pada waktu-waktu
tertentu. Vernal konjungtivitis sering disertai dengan riwayat asma,
eksema dan rinitis alergi musiman. Konjungtivitis atopik terjadi
pada pasien dengan riwayat dermatitis atopic, sedangkan
konjungtivitis papilar rak pada pengguna lensa-kontak atau mata
buatan dari plastik (Asokan, 2007).
c. Gejala Klinis
Gejala klinis konjungtivitis alergi berbeda-beda sesuai
dengan sub-kategorinya. Pada konjungtivitis alergi musiman dan

19
alergi tumbuh-tumbuhan keluhan utama adalah gatal, kemerahan,
air mata, injeksi ringan konjungtiva, dan sering ditemukan kemosis
berat. Pasien dengan keratokonjungtivitis vernal sering
mengeluhkan mata sangat gatal dengan kotoran mata yang berserat,
konjungtiva tampak putih susu dan banyak papila halus di
konjungtiva tarsalis inferior.
Sensasi terbakar, pengeluaran sekret mukoid, merah, dan
fotofobia merupakan keluhan yang paling sering pada
keratokonjungtivitis atopik. Ditemukan jupa tepian palpebra yang
eritematosa dan konjungtiva tampak putih susu. Pada kasus yang
berat ketajaman penglihatan menurun, sedangkan pada
konjungtiviitis papilar raksasa dijumpai tanda dan gejala yang
mirip konjungtivitis vernal (Vaughan, 2010).

Gambar. Konjungtivitis Vernal

d. Diagnosis
Diperlukan riwayat alergi baik pada pasien maupun
keluarga pasien serta observasi pada gejala klinis untuk
menegakkan diagnosis konjungtivitis alergi. Gejala yang paling
penting untuk mendiagnosis penyakit ini adalah rasa gatal pada
mata, yang mungkin saja disertai mata berair, kemerahan dan
fotofobia (Weissman, 2010).
e. Komplikasi

20
Komplikasi pada penyakit ini yang paling sering adalah
ulkus pada kornea dan infeksi sekunder (Jatla, 2009).
f. Penatalaksanaan
Penyakit ini dapat diterapi dengan tetesan vasokonstriktor-
antihistamin topikal dan kompres dingin untuk mengatasi gatal-
gatal dan steroid topikal jangka pendek untuk meredakan gejala
lainnya (Vaughan, 2010).

4. Konjungtivitis Jamur
Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida
albicans dan merupakan infeksi yang jarang terjadi. Penyakit ini
ditandai dengan adanya bercak putih dan dapat timbul pada pasien
diabetes dan pasien dengan keadaan sistem imun yang terganggu.
Selain Candida sp, penyakit ini juga dapat disebabkan oleh Sporothrix
schenckii, Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides immitis
walaupun jarang (Vaughan, 2010).

5. Konjungtivitis Parasit
Konjungtivitis parasit dapat disebabkan oleh infeksi Thelazia
californiensis, Loa loa, Ascaris lumbricoides, Trichinella spiralis,
Schistosoma haematobium, Taenia solium dan Pthirus pubis walaupun
jarang (Vaughan, 2010).

6. Konjungtivitis kimia atau iritatif


Konjungtivitis kimia-iritatif adalah konjungtivitis yang terjadi oleh
pemajanan substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis.
Substansi-substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis dan
dapat menyebabkan konjungtivitis, seperti asam, alkali, asap dan
angin, dapat menimbulkan gejala-gejala berupa nyeri, pelebaran
pembuluh darah, fotofobia, dan blefarospasme. Selain itu penyakit ini
dapat juga disebabkan oleh pemberian obat topikal jangka panjang
seperti dipivefrin, miotik, neomycin, dan obat-obat lain dengan bahan
pengawet yang toksik atau menimbulkan iritasi. Konjungtivitis ini
dapat diatasi dengan penghentian substansi penyebab dan pemakaian
tetesan ringan (Vaughan, 2010).

7. Konjungtivitis lain

21
Selain disebabkan oleh bakteri, virus, alergi, jamur dan parasit,
konjungtivitis juga dapat disebabkan oleh penyakit sistemik dan
penyakit autoimun seperti penyakit tiroid, gout dan karsinoid. Terapi
pada konjungtivitis yang disebabkan oleh penyakit sistemik tersebut
diarahkan pada pengendalian penyakit utama atau penyebabnya
(Vaughan, 2010).
Konjungtivitis juga bisa terjadi sebagai komplikasi dari acne
rosacea dan dermatitis herpetiformis ataupun masalah kulit lainnya
pada daerah wajah. (AOA, 2008).

IV. Keratitis
A. Definisi
Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang
pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Akibat
terjadinya kekeruhan pada media kornea ini, maka tajam penglihatan akan
menurun. Mata merah pada keratitis terjadi akibat injeksi pembuluh darah
perikorneal yang dalam atau injeksi siliar. Keratitis biasanya
diklasifikasikan dalam lapis yang terkena seperti keratitis superfisial dan
profunda atau interstisial (Ilyas, 2004).
B. Etiologi
Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya:
(Wijaya, 2012).
- Virus.
- Bakteri.
- Jamur.
- Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari.
- Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.
- Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidak
cukupnya pembentukan air mata.
- Adanya benda asing di mata.
- Reaksi terhadap obat seperti neomisin, tobramisin, polusi, atau partikel
udara seperti debu, serbuk sari

C. Klasifikasi
Menurut Biswell (2010), keratitis dapat diklasifikasikan
berdasarkan beberapa hal.
1. Berdasarkan lapisan yang terkena, Keratitis dibagi menjadi:
a. Keratitis Pungtata (Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis
Pungtata Subepitel)

22
Keratitis pungtata adalah keratitis dengan infiltrat halus
pada kornea yang dapat terletak superfisial dan subepitel (Ilyas,
2004).
1) Etiologi
Keratitis Pungtata ini disebabkan oleh hal yang tidak
spesifik dan dapat terjadi pada Moluskum kontangiosum, Akne
rosasea, Herpes simpleks, Herpes zoster, Blefaritis
neuroparalitik, infeksi virus, vaksinisia, trakoma, trauma
radiasi, dry eye, keratitis lagoftalmos, keracunan obat seperti
neomisin, tobramisin dan bahaya pengawet lainnya.

Gambar. Keratitis Pungtata


2) Gejala klinis dapat berupa rasa sakit, silau, mata merah, dan
merasa kelilipan.
3) Pemeriksaan laboratorium
Penyakit ini ditandai kekerutan epitel yang meninggi
berbentuk lonjong dan jelas yang menampakkan bintik-bintik
pada pemulasan dengan fluoresein, terutama di daerah pupil.
Uji fluoresein merupakan sebuah tes untuk mengetahui
terdapatnya kerusakan epitel kornea. Dasar dari uji ini adalah
bahwa zat warna fluoresein akan berubah berwarna hijau pada
media alkali. Zat warna fluoresein bila menempel pada epitel
kornea maka bagian yang terdapat defek akan memberikan
warna hijau karena jaringan epitel yang rusak bersifat lebih
basa.

23
Kekeruhan subepitelial dibawah lesi epitel sering terlihat
semasa penyembuhan epitel ini, uji sensibilitas kornea juga
diperiksa untuk mengetahui fungsi dari saraf trigeminus dan
fasial. Pada umumnya sensibilitas kornea juga akan menurun
(Ilyas, 2003).
4) Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada ketratitis pungtata superfisial pada
prinsipnya adalah diberikan sesuai dengan etiologi. Untuk virus
dapat diberikan idoxuridin, trifluridin atau asiklovir. Untuk
bakteri gram positif pilihan pertama adalah cafazolin, penisilin
G atau vancomisin dan bakteri gram negatif dapat diberikan
tobramisin, gentamisin atau polimixin B. Pemberian antibiotik
juga diindikasikan jika terdapat sekret mukopurulen yang
menunjukkan adanya infeksi campuran dengan bakteri. Untuk
jamur pilihan terapi yaitu natamisin, amfoterisin atau
fluconazol. Selain terapi berdasarkan etiologi, pada keratitis
pungtata superfisial ini sebaiknya juga diberikan terapi
simptomatisnya agar dapat memberikan rasa nyaman seperti air
mata buatan, sikloplegik dan kortikosteroid (Ilyas, 2003).
b. Keratitis Marginal
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar
dengan limbus. Penyakit infeksi lokal konjungtiva dapat
menyebabkan keratitis kataral atau keratitis marginal ini. Keratitis
marginal kataral biasanya terdapat pada pasien setengah umur
dengan adanya blefarokonjungtivitis (Ilyas, 2004).
1) Etiologi
Strepcoccus pneumonie, Hemophilus aegepty, Moraxella
lacunata dan Esrichia.
2) Gejala klinis
Penderita akan mengeluhkan sakit, seperti kelilipan,
lakrimasi, disertai fotofobia berat. Pada mata akan terlihat
blefarospasme pada satu mata, injeksi konjungtiva, infiltrat
atau ulkus yang memanjang, dangkal unilateral dapat tunggal
ataupun multipel, sering disertai neovaskularisasi dari arah
limbus.

24
Gambar. Keratitis Marginal ec Staphylococcus

3) Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan kerokan kornea yang dipulas dengan
pewarnaan Gram maupun Giemsa dapat mengidentifikasi
organisme, khususnya bakteri (Biswell, 2010).
4) Penatalaksanaan
Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika yang sesuai
dengan penyebab infeksi lokalnya dan steroid dosis ringan.
Pada pasien dapat diberikan vitamin B dan C dosis tinggi
(Ilyas, 2004).

c. Keratitis Interstisial
Keratitis interstitial adalah kondisi serius dimana masuknya
pembuluh darah ke dalam kornea dan dapat menyebabkan
hilangnya transparansi kornea. Keratitis interstitial dapat berlanjut
menjadi kebutaan. Sifilis adalah penyebab paling sering dari
keratitis interstitial (Hollwich, 1993).
1) Etiologi
Keratitis Interstisial dapat terjadi akibat alergi atau infeksi
spiroket ke dalam stroma kornea dan akibat tuberkulosis (Ilyas,
2004).
2) Gejala klinis

25
Biasanya akan memberikan gejala fotofobia, lakrimasi, dan
menurunnya visus. Menurut Hollwich (1993) keratitis yang
disebabkan oleh sifilis kongenital biasanya ditemukan trias
Hutchinson (mata: keratitis interstisial, telinga: tuli labirin,
gigi: gigi seri berbentuk obeng), sadlenose, dan pemeriksaan
serologis yang positif terhadap sifilis. Pada keratitis yang
disebabkan oleh tuberkulosis terdapat gejala tuberkulosis
lainnya (Ilyas, 2004)

3) Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan kerokan kornea yang dipulas dengan
pewarnaan gram maupun Giemsa dapat mengidentifikasi
organisme, khususnya bakteri (Biswell, 2010).
4) Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya dapat diberikan kortikosteroid tetes
mata jangka lama secara intensif setiap jam dikombinasi
dengan tetes mata atropin dua kali sehari dan salep mata pada
malam hari (Hollwich, 1993).

2. Berdasarkan penyebabnya, Keratitis diklasifikasikan menjadi:


a. Keratitis Bakteri
1) Etiologi
Menurut American Academy of Ophthalmology (2009).

2) Gejala klinis
Pasien keratitis biasanya mengeluh mata merah, berair,
nyeri pada mata yang terinfeksi, penglihatan silau, adanya
sekret dan penglihatan menjadi kabur (Kanski, 2005). Pada

26
pemeriksaan bola mata eksternal ditemukan hiperemis
perikornea, blefarospasme, edema kornea, infiltrasi kornea.
3) Pemeriksaan laboratorium
Menurut Kanski (2005) pemeriksaan kultur bakteri
dilakukan dengan menggores ulkus kornea dan bagian tepinya
dengan menggunakan spatula steril kemudian ditanam di media
cokelat (untuk Neisseria, Haemophillus dan Moraxella sp),
agar darah (untuk kebanyakan jamur, dan bakteri kecuali
Neisseria) dan agar Sabouraud (untuk jamur, media ini
diinkubasi pada suhu kamar). Kemudian dilakukan pewarnaan
Gram (Biswell, 2010).
4) Penatalaksanaan
Diberikan antibiotik spektrum luas sambil menunggu hasil
kultur bakteri. Berikut tabel pengobatan inisial antibiotik yang
dapat diberikan (American Academy of Ophthalmology, 2009):

b. Keratitis Jamur
Infeksi jamur pada kornea yang dapat disebut juga mycotic
keratitis (Dorland, 2000).
1) Etiologi
Menurut Susetio (1993), secara ringkas dapat dibedakan :
a) Jamur berfilamen (filamentous fungi) : bersifat multiseluler
dengan cabang-cabang hifa.
b) Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus
sp, Cladosporium sp, Penicillium sp, Paecilomyces sp,
Phialophora sp, Curvularia sp, Altenaria sp.

27
c) Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.
d) Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa
dan tunas : Candida albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura
sp.
e) Jamur difasik. Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang
media pembiakan membentuk miselium : Blastomices sp,
Coccidiodidies sp, Histoplastoma sp, Sporothrix sp.

Gambar. Keratitis Fungi ec Aspergilus sp

2) Gejala klinis
Menurut Susetio (1993) untuk menegakkan diagnosis klinik
dapat dipakai pedoman berikut :
- Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid
topikal lama.
- Lesi satelit
- Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler
dan tonjolan seperti hifa di bawah endotel utuh.
- Plak endotel.
- Hipopion, kadang-kadang rekuren.
- Formasi cincin sekeliling ulkus.
- Lesi kornea yang indolen.
3) Pemeriksaan laboratorium
Diagnosis laboratorik sangat membantu diagnosis pasti,
walaupun negatif belum dapat menyingkirkan diagnosis
keratomikosis. Hal yang utama adalah melakukan pemeriksaan
kerokan kornea (sebaiknya dengan spatula Kimura) yaitu dari

28
dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Kemudian dapat
dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta
India, dengan angka keberhasilan masing-masing 20-30%,
50-60%, 60-75% dan 80%. Sebaiknya melakukan biopsi
jaringan kornea dan diwarnai dengan Periodic Acid Schiff atau
Methenamine Silver, tetapi memerlukan biaya yang besar.
Akhir-akhir ini dikembangkan Nomarski differential
interference contrast microscope untuk melihat morfologi
jamur dari kerokan kornea (metode Nomarski) yang dilaporkan
cukup memuaskan. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar
Sabouraud atau agar ekstrak maltosa ( Susetio, 1993).
4) Penatalaksanaan
Menurut Susetio (1993) terapi medikamentosa di Indonesia
terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang tersedia,
tampaknya diperlukan kreativitas dalam improvisasi pengadaan
obat. Hal yang utama dalam terapi keratomikosis adalah
mengenai jenis keratomikosis yang dihadapi, dapat dibagi:
a) Belum diidentifikasi jenis jamur penyebabnya.
Topikal amphotericin B 1,02,5 mg/ml, thiomerosal
(10 mg/ml), natamycin > 10 mg/ml, golongan imidazole.
b) Jamur berfilamen.
Untuk golongan II : Topikal amphotericin B,
thiomerosal, natamycin (obat terpilih), imidazole (obat
terpilih).
c) Ragi (yeast)
Amphoterisin B, natamycin, imidazole
d) Golongan Actinomyces yang sebenarnya bukan jamur
sejati. Golongan sulfa, berbagai jenis antibiotik.

c. Keratitis Virus
1) Etiologi
Herpes simpleks virus (HSV) merupakan salah satu infeksi
virus tersering pada kornea. Virus herpes simpleks menempati
manusia sebagai host, merupakan parasit intraselular obligat
yang dapat ditemukan pada mukosa, rongga hidung, rongga
mulut, vagina dan mata. Penularan dapat terjadi melalui kontak

29
dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat
kelamin yang mengandung virus (Ilyas, 2004).
2) Gejala klinis
Pasien dengan HSV keratitis mengeluh nyeri pada mata,
fotofobia, penglihatan kabur, mata berair, mata merah, tajam
penglihatan turun terutama jika bagian pusat yang terkena
(Ilyas, 2004).
Infeksi primer Herpes simpleks pada mata biasanya berupa
konjungtivitis folikularis akut disertai blefaritis vesikuler yang
ulseratif, serta pembengkakan kelenjar limfe regional.
Kebanyakan penderita juga disertai keratitis epitelial dan dapat
mengenai stroma tetapi jarang. Pada dasarnya infeksi primer ini
dapat sembuh sendiri, akan tetapi pada keadaan tertentu dimana
daya tahan tubuh sangat lemah akan menjadi parah dan
menyerang stroma.
3) Pemeriksaan laboratorium
Menurut Biswell (2010) dilakukan kerokan dari lesi epitel
pada keratitis HSV dan cairan dari lesi kulit mengandung sel-
sel raksasa. Virus ini dapat dibiakkan pada membran korio-
allantois embrio telur ayam dan pada banyak jenis lapisan sel
jaringan (misal sel HeLa, tempat terbentuknya plak-plak khas).

4) Terapi
a) Debridement
Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah
debridement epithelial, karena virus berlokasi didalam
epitel. Debridement juga mengurangi beban antigenik virus
pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat pada kornea
namun epitel yang terinfeksi mudah dilepaskan.
Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas
khusus. Obat siklopegik seperti atropin 1% atau homatropin
5% diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup
dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari
dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh
umumnya dalam 72 jam (Biswell, 2010).
b) Terapi Obat menurut Ilyas, 2004:

30
(1) IDU (Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam
larutan 1% dan diberikan setiap jam, salep 0,5%
diberikan setiap 4 jam).
(2) Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam
bentuk salep.
(3) Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan
1% setiap 4 jam.
(4) Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4 jam.
(5) Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata
berat, khususnya pada orang atopi yang rentan terhadap
penyakit herpes mata dan kulit agresif.
c) Terapi Bedah
Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk
rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut
kornea yang berat, namun hendaknya dilakukan beberapa
bulan setelah penyakit herpes nonaktif (Biswell, 2010).

d. Keratitis Acanthamoeba
1) Etiologi
Keratitis yang berhubungan dengan infeksi Acanthamoeba
yang biasanya disertai dengan penggunaan lensa kontak
(Dorland, 2002).
2) Gejala klinis
Rasa sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya
yaitu kemerahan, dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus
kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural. Bentuk-
bentuk awal pada penyakit ini, dengan perubahan-perubahan
hanya terbatas pada epitel kornea semakin banyak ditemukan.
Keratitis Acanthamoeba sering disalah diagnosiskan sebagai
keratitis herpes (Biswell, 2010).
3) Pemeriksaan laboratorium
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kerokan dan
biakan di atas media khusus. Biopsi kornea mungkin
diperlukan. Sediaan histopatologik menampakkan bentuk-
bentuk amuba (kista atau trofozoit). Larutan dan kontak lensa

31
harus dibiak. Sering kali bentuk amuba dapat ditemukan pada
larutan kotak penyimpan lensa kontak (Biswell, 2010).
4) Penatalaksanaan
Terapi dengan obat umumnya dimulai dengan isetionat,
propamidin topikal (larutan 1%) secara intensif dan tetes mata
neomisin. Bikuanid poliheksametilen (larutan 0,01-0,02%)
dikombinasi dengan obat lain atau sendiri, kini makin populer.
Agen lain yang mungkin berguna adalah paromomisin dan
berbagai imidazol topikal dan oral seperti ketokonazol,
mikonazol, itrakonazol. Terapi juga dihambat oleh kemampuan
organisme membentuk kista didalam stroma kornea, sehingga
memerlukan waktu yang lama.
Kortikosteroid topikal mungkin diperlukan untuk
mengendalikan reaksi radang dalam kornea. Keratoplasti
mungkin diperlukan pada penyakit yang telah lanjut untuk
menghentikan berlanjutnya infeksi atau setelah resolusi dan
terbentuknya parut untuk memulihkan penglihatan. Jika
organisme ini sampai ke sklera, terapi obat dan bedah tidak
berguna (Biswell, 2010).

32
DAFTAR PUSTAKA
1. James B, Chew C and Bron A. 2003. Lecture Notes Ophtalmology Edisi
Kesembilan. Jakarta..
2. Whitcher J P and Eva P R, Low Vision. In Whitcher J P and Eva P R, Vaughan
& Asburys General Ophtalmology. New York: Mc Graw Hill, 2007.
3. Ilyas S, Mailangkay H, Taim H, Saman R dan Simarmata M, 2003. Ilmu
Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan mahasiswa Kedokteran Edisi Ke-2.
Jakarta.
4. Gerhard K. Lang, Ophthalmology A Short Textbook :Optics and Refractive
Errors, Thieme, p. 127-136, 2000.
5. Deborah, Pavan-Langston,Manual of Ocular Diagnosis and Therapy, 6 th
Edition:Refractive Surgery, Lippincott Williams and Wilkins, 5:73-100,2008.
http://emedicine.medscape.com/article/1220845-overview#a0101
6. Mansjoer, Arif M. 2001. Kapita Selekta edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI.
7. American Academy of Ophthalmology. Preferred practice pattern:
conjunctivitis, 2nd ed. San Francisco, CA: American Academy of
Ophthalmology; 2003.
8. Stenson S, Newman R, Fedukowicz H. Laboratories studies in acute
conjunctivitis. Arch Opthalmology. 1982; 100: 1275-1277.
9. Weiss A, Brinser J, Nasae-Stewart V. Acute conjunctivitis in childhood. J
Pediatr Med. 1993; 122:10-14.
10. Gigliotti F, Williams WT, Hayden FG. Etiology of acute conjunctivitis in
children. J. Pediatr. 1981;98: 531-536.
11. Fitch CP, Rapoza PA, Owens S. Epidemiology and diagnosis of acute
conjunctivitis at an inner-city hospital. Opthalmology. 1989;96:1215-1220.
12. Sambursky RP, Fram N, Cohen Ej. The prevalence of adenoviral conjunctivitis
at the Wills Eye Hospital emergency room. Optometry. 2007;78:236-914.
13. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000.
14. Scott IU and Luu K. Conjunctivitis, viral.
http://www.emedicine.medscape.com/article/1197851. [Online] Emedicine,
April 2012.
15. Khaw PT, Shah Pand Elkington AR. ABC of Eyes. Fourth edition. BMJ
Publishing Group, 2004.

33
16. Bawazeer A and Hodge WG. Keratoconjunctivitis Epidemic.
http://emedicine.medscape.com/article/1192751-print. [Online] Emedicine.
January 7, 2008.
17. Yanoff, Myron, Duker JS and Augsburger JJ. Opthalmology 2nd edition:
Mosby, 2003.

34