Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Dalam GBHN, dinyatakan bahwa pola dasar pembangunan Nasional pada


hakekatnya adalah Pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya dan
pembangunan masyarakat Indonesia. Jadi jelas bahwa hubungan antara usaha
peningkatan kesehatan masyarakat dengan pembangunan, karena tanpa modal
kesehatan niscaya akan gagal pula pembangunan kita.

Usaha peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya tidaklah


mudah seperti membalikkan telapak tangan saja, karena masalah ini sangatlah
kompleks, dimana penyakit yang terbanyak diderita oleh masyarakat terutama
pada yang paling rawan yaitu ibu dan anak, ibu hamil dan ibu meneteki serta
anak bawah lima tahun .

Salah satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran pernapasan
bagian atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah suatu
penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang
maupun dinegara maju dan sudah mampu. dan banyak dari mereka perlu masuk
rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran
pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai
pada,masa dewasa. dimana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya
Chronic Obstructive Pulmonary Disease.

ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena


menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4
kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA
setiap tahunnya. 40 % -60 % dari kunjungan diPuskesmas adalah oleh penyakit
ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %.
Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi
berumur kurang dari 2 bulan.

Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi.
Kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam
keadaan berat dan sering disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi. Data
morbiditas penyakit pneumonia di Indonesia per tahun berkisar antara 10 -20 %
dari populasi balita. Hal ini didukung oleh data penelitian dilapangan (Kecamatan
Kediri, NTB adalah 17,8 % ; Kabupaten Indramayu adalah 9,8 %). Bila kita
mengambil angka morbiditas 10 % pertahun, ini berarti setiap tahun jumlah
penderita pneumonia di Indonesia berkisar 2,3 juta .Penderita yang dilaporkan
baik dari rumah sakit maupun dari Puskesmas pada tahun 1991 hanya berjumlah
98.271. Diperkirakan bahwa separuh dari penderita pneumonia didapat pada
kelompok umur 0-6 bulan.

Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak tahun


1984, dengan tujuan berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian
khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA, namun
kelihatannya angka kesakitan dan kematian tersebut masih tetap tinggi seperti
yang telah dilaporkan berdasarkan penelitian yang telah disebutkan di atas.

1.2. Tujuan

Untuk mengetahui definisi dan klasifikasi ISPA


Untuk mengetahui tanda-tanda dan gejala-gejala ISPA
Untuk mengetahui asuhan keperawatan ISPA

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi ISPA

ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas. Yang
benar II ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA
meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah.

ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari.


Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung
sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang
telinga tengah dan selaput paru.

Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan


seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun
demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati
dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.

2.2. Klasifikasi ISPA

Program Pemberantasan ISPA mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:

Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing).
Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat.
Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia (4).
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit
ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan
dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun.

Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :


Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding
pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan
umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan
kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.

Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :

Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding
dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat
diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tldak menangis atau meronta).
Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2
-12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun
adalah 40 kali per menit atau lebih.
Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding
dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.

2.3.Tanda-tanda bahaya

Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan


keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit
mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh
dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam
kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit,
meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang
ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong
dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.

Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda


laboratoris.

a. Tanda-tanda klinis
Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur
(apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis,
suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.
Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi,
hypotensi dan cardiac arrest.
Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit
kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma.
Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.

b. Tanda-tanda laboratoris
hypoxemia,
hypercapnia dan
acydosis (metabolik dan atau respiratorik) .

Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah:

Tidak bisa minum


Kejang
Kesadaran menurun
Stridor
Gizi buruk
Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah:
Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari
setengah volume yang biasa diminumnya)
Kejang
Kesadaran menurun stridor
Wheezing
Demam
Dingin

2.4. WOC ISPA


2.5. Asuhan Keperawatan
N NANDA NOC NIC
o
1. Nyeri akut Kepuasan klien: Manajemen nyeri Manajemen nyeri
Indikator : Aktivitas :
Kontrol nyeri Lakukan penilaian
Pantau tingkat nyeri secara nyeri secara
teratur komprehensif dimulai
Pantau efek samping dari obat
Ambil tindakan untuk dari lokasi,

mengurang rasa sakit karakteristik, durasi,


Tindakan yang diambil untuk frekuensi, kualitas,
memberikan kenyamanan intensitas dan
Informasi yang diberikan untuk penyebab.
mengelola penggunaan obat Kaji ketidaknyamanan
Preferensi pribadi dianggap
Menyediakan informasi tentang secara nonverbal,

pilihan untuk manajemen nyeri terutama untuk pasien


Manajemen nyeri konsisten yang tidak bisa
dengan keyakinan budaya mengkomunikasikanny
Pendekatan preventif yang
a secara efektif
digunakan untuk manajemen
Pastikan pasien
nyeri
mendapatkan
Informasi yang diberikan
perawatan dengan
mengenai pembatasan kegiatan
Informasi yang diberikan tentang analgesic
nyeri Gunakan komunikasi
Informasi yang disediakan yang terapeutik agar
tentang pilihan untuk manajemen pasien dapat
nyeri setelah debit menyatakan
Arahan dibuat untuk kelompok
pengalamannya
dukungan
Penyedia layanan kesehatan terhadap nyeri serta
dukungan dalam
bekerja sebagai tim untuk
merespon nyeri
mengatasi rasa sakit
Rujukan ke nyeri-manajemen Mengeksplorasi
profesional kesehatan yang pengetahuan dan
diperlukan keyakinan pasien
Masalah keamanan ditangani tentang rasa sakit
dengan nyeri menggunakan obat Pertimbangkan

Kepuasan klien : kontrol gejala pengaruh budaya


terhadap respon nyeri
Indikator :
Tentukan dampak nyeri
Identifikasi pola gejala terhadap kehidupan
Identifikasi saverity gejala sehari-hari (tidur, nafsu
Identifikasi durasi gejala
makan, aktivitas,
Investigasi penyebab gejala
Tindakan yang diambil untuk kesadaran, mood,
mencegah gejala hubungan sosial,
Menanggapi gejala segera performance kerja dan
Peduli untuk mengontrol gejala
melakukan tanggung
Peduli untuk mengontrol rasa
jawab sehari-hari)
sakit
Tindakan yang diambil untuk Evaluasi pengalaman
memberikan kenyamanan pasien atau keluarga
Pantau gejala dengan teratur terhadap nyeri kronik
Monitor untuk gejala yang tidak
atau yang
biasa
mengakibatkan cacat
Monitor untuk mengendalikan
Evaluasi bersama
gejala
Monitor untuk kenyamanan pasien dan tenaga
Refernals dibuat untuk penyedia kesehatan lainnya
layanan kesehatan lain dalam menilai
efektifitas pengontrolan
nyeri yang pernah
dilakukan
Bantu pasien dan
keluarga mencari dan
menyediakan
dukungan.
Gunakan metoda
penilaian yang
berkembang untuk
memonitor perubahan
nyeri serta
mengidentifikasi faktor
aktual dan potensial
dalam mempercepat
penyembuhan
Tentukan tingkat
kebutuhan pasien yang
dapat memberikan
kenyamanan pada
pasien dan rencana
keperawatan
Menyediakan informasi
tentang nyeri,
contohnya penyebab
nyeri, bagaimana
kejadiannya,
mengantisipasi
ketidaknyamanan
terhadap prosedur
Kontrol faktor
lingkungan yang dapat
menimbulkan
ketidaknyamanan pada
pasien (suhu ruangan,
pencahayaan,
keributan)
Mengurangi atau
menghapuskan faktor-
faktor yang
mempercepat atau
meningkatkan nyeri
(spt:ketakutan, fatique,
sifat membosankan,
ketiadaan pengetahuan)
Mempertimbangkan
kesediaan pasien dalam
berpartisipasi,
kemampuannya dalam
berpartisipasi, pilihan
yang digunakan,
dukungan lain dalam
metoda, dan
kontraindikasi dalam
pemilihan strategi
mengurangi nyeri
Pilihlah variasi dari
ukuran pengobatan
(farmakologis,
nonfarmakologis, dan
hubungan atar pribadi)
untuk mengurangi
nyeri
Ajarkan prinsip
manajemen nyeri
Pertimbangkan tipe dan
sumber nyeri ketika
memilih metoda
mengurangi nyeri
Mendorong pasien
dalam memonitor
nyerinya sendiri
Ajari untuk
menggunakan tehnik
non-farmakologi (spt:
biofeddback, TENS,
hypnosis, relaksasi,
terapi musik, distraksi,
terapi bermain,
acupressure, apikasi
hangat/dingin, dan
pijatan ) sebelum,
sesudah dan jika
memungkinkan, selama
puncak nyeri , sebelum
nyeri terjadi atau
meningkat, dan
sepanjang nyeri itu
masih terukur.
Jelajahi budaya pasien
dalam menggunakan
metoda farmakologi
dalam menghilangkan
nyeri
Ajarkan tentang
metode farmakologi
dalam menghialngkan
nyeri
Dorong pasienuntuk
menggunakan obat
penghilang rasa sakit
yang memadai
Kolaborasikan dengan
pasien dan tenaga
kesehatan lainnya
untuk memilih dan
mengimplementasikan
metoda dalam
mengatasi nyeri secara
non-farmakologi.
Menyediakan analgesic
yang dibutuhkan dalam
mengatasi nyeri
Menggunakan Patient-
Controlled Analgesia
(PCA)
Gunakan cara
mengontrol nyeri
sebelum menjadi
menyakitkan (puncak
nyeri)
Pengobatan sebelum
beraktivitas untuk
meningkatkan
partisipasi , tapi
evaluasi resiko
pemberian obat
penenang
Pastikan pretreatmen
strategi analgesi dan/
non-farmakologi
sebelum prosedur nyeri
hebat
Kaji tingkat
ketidaknyamanan
bersama pasien, catat
perubahan dalam
catatan medis dan
informasikan kepada
tenaga kesehatan yang
lain
Evaluasi efektifitas
metoda yang digunakan
dalam mengontrol
nyeri secara
berkelanjutan
Modifikasi metode
kontrol nyeri sesuai
dengan respon pasien
Anjurkan untuk
istirahat/tidur yang
adekuat untuk
mengurangi nyeri
Dorong pasien untuk
mendiskusikan
pengalamannya
terhadap nyeri
Beritahu dokter jika
metoda yang digunakan
tidak berhasil atau jika
ada komplain dari
pasien mengenai
metoda yang diberikan
Informasikan kepada
tenaga kesehatan yang
lain/anggota keluarga
tentang penggunaan
terapi non-farmakologi
yang akan digunakan
oleh pasien
Gunakan pendekatan
dari berbagai disiplin
ilmu dalam manajemen
nyeri
Mempertimbangkanpas
ien, keluarga, danhal
lain yang
mendukungdalam
proses manajemennyeri
Menyediakan informasi
yang akurat untuk
meningkatkan
pengetahuan keluarga
terhadap respon nyeri
Menyertakan keluarga
dalam mengembangkan
metoda mengatasi nyeri
Monitor kepuasan
pasien terhadap
manajemen nyeri ynag
diberikan dalam
interval yang
ditetapkan.

Monitoring tanda-tanda vital


Aktivitas :
Mengukur tekanan
darah, denyut nadi,
temperature, dan status
pernafasan, jika
diperlukan
Mencatat gejala dan
turun naiknya tekanan
darah
Mengukur tekanan
darah ketika pasien
berbaring, duduk, dan
berdiri, jika diperlukan
Monitor tekanan darah
setelah pasien
mendapat pengobatan,
jika memungkinkan
Auskultasi tekanan
darah pada kedua
lengan dan
bandingkan, jika
diperlukan
Mengukur tekanan
darah, nadi, dan
pernafasan sebelum,
selama, dan setelah
beraktivitas, jika
diperlukan
Mempertahankan suhu
alat pengukur, jika
diperlukan
Memantau dan
mencatat tanda-tanda
dan syimptom
hypothermia dan
hyperthermia
Memantau timbulnya
dan mutu nadi
Dapatkan nadi apical
dan radial scara
stimultan dan catat
perbedaannya, jika
diperlukan
Mengukur pulsus
paradoxus
Mengukur pulsus
alternans
Memantau naik
turunnya tekanan nadi
Memnatau tingkatan
irama cardiac
Memantau suara
jantung
Memantau tingkat dan
irama pernafasan (e.g.
kedalaman dan
kesimetrisan)
Memantau suara paru
Mengukur oximetry
nadi
Memantau pola
pernafasan yang
abnormal (e.g. Cheyne-
Stokes, Kussmaul,
Biot, apnea, ataxic, dan
bernafas panjang)
Mengukur warna kulit,
temperature, dan
kelembaban
Memantau sianosis
pusat dan perifer
Memantau sisi kuku
Memantau timbulnya
Cushing triad (e.g. naik
turunnya tekanan
darah, bradicadya, dan
peningkatan tekanan
darah systole)
Meneliti kemungkinan
penyebab perubahan
tanda-tanda vital
Memeriksa keakuratan
alat yang digunakan
untuk mendapatkan
data pasien secara
periodic
2. Pola Nafas Menunjukan hasil perbaikan : Manajemen energi
Tidak Menilai status fisiologi
efektif b.d 1. Kelelahan
pasien untuk
Defenisi : rasa berkelanjutan luar
Kelelahan mengurangi kelelahan
biasa kelelahan dan penurunan sesuai umur dan
kapasitas kerja fisik dan mental perkembangannya
Tentukan
pada tingkat biasa
Indikator : pasien/persepsi penting
Level kelelahan lainnya dari penyebab
kelelahan. kelelahan
kelesuan. Periksa status
kehilangan nafsu makan kekurangan fisiologis
penurunan libido (kemoterapi-untuk
gangguan konsentrasi anemia) sebagai
penurunan motivasi prioritas utama
sakit kepala Pilih intervensi untuk
sakit tenggorokan menurunkan kelelahan
nyeri otot menggunakan
nyeri sendi kombinasi antara
tingkat stres farmakologi dan
kategori
toleransi aktivitas nonfarmakologi, untuk
saturasi oksigen dengan aktivitas ketepatan\
denyut nadi dengan aktivitas Tentukan apa dan berapa
tingkat pernapasan dengan banyak aktivitas yang
aktivitas diperlukan untuk
kemudahan bernapas dengan membangun ketahanan
aktivitas Monitor intake nutrisi
tekanan darah sistolik dengan untuk memastikan
aktivitas sumber energi yang
tekanan darah diastolik dengan adekuat
aktivitas Konsultasi dengan ahli
kekuatan tubuh bagian atas
diit tentang cara untuk
Kekuatan tubuh bagian bawah
menambah intake dari
status gizi: asupan gizi makanan energi tinggi
Negosiasi keinginan
asupan gizi
asupan makanan waktu makan yang
asupan cairan mungkin atau tidak
energi mungkin tepat dengan
rasio berat / tinggi standar jadwal RS
hidrasi Monitor pasien untuk
menunjukkan fisik
berlebihan dan kelelahan
emosional
Monitor respon aktivitas
kardiorespiratori
(takikardi, disritmia
lainnya, dispnea,
diaphoresis, sianosis,
TD, frekuensi
pernapasan)
Anjurkan latihan aerobik
sebagai pertahanan
Monitor/catat pola tidur
pasien dan jumlah jam
tidur
Monitor lokasi dan dasar
dari ketidaknyamanan
atau nyeri selama
bergerak/aktivitas
Manajemen nutrisi
Tentukan status gizi
pasien dan kemampuan
untuk memenuhi
kebutuhan gizi
Identifikasi alergi
makanan pada pasien
atau intoleransi
Anjurkan pasien
tentang kebutuhan
nutrisi (yaitu ,
membahas pedoman
diet dan piramida
makanan)
Tentukan jumlah kalori
dan jenis nutrisi yang
dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan
nutrisi
Berikan makanan
pilihan sambil
menawarkan
bimbingan terhadap
pilihan yang lebih
sehat , jika perlu
Atur pola makan , yang
diperlukan ( yaitu ,
menyediakan makanan
berprotein tinggi,
menyarankan
menggunakan bumbu
dan rempah-rempah
sebagai alternatif untuk
garam, menyediakan
pengganti gula ,
meningkatkan atau
menurunkan kalori,
menambah atau
mengurangi vitamin ,
mineral , atau
suplemen )
Sediakan lingkungan
yang optimal untuk
konsumsi makanan
( misalnya, bersih,
berventilasi baik,
santai, dan bebas dari
bau yang menyengat )
Berikan obat sebelum
makan ( misalnya ,
nyeri , anti emetik ),
jika diperlukan
Dorong pasien untuk
duduk dalam posisi
tegak di kursi , jika
mungkin
Pastikan makanan
disajikan dengan
tampilan yang menarik
dan pada suhu yang
paling cocok untuk
konsumsi optimal
Dorong keluarga untuk
membawa makanan
kesukaan pasien
selama di rumah sakit
atau perawatan fasilitas
, jika perlu
Anjurkan pasien pada
kebutuhan makanan
yang spesifik
Hipertermi berdasarkan
b.d perkembangan atau
penyakit usia ( misalnya ,
peningkatan kalsium ,
protein , cairan , dan
pengaturan Panas kalori untuk ibu
hasil yang diharapkan : menyusui ,
berkeringat ketika panas
meningkatkan asupan
menggigil ketika dingin
serat untuk mencegah
kecepatan jantung apikal
kecepatan nadi radial sembelit untukorang
jalan nafas dewasa atau yang lebih
penggambaran tua )
Tawarkan makanan
kenyamanan suhu
peningkatan suhu kulit ringanpadat nutrisi
penurunan suhu kulit
hipertermi
3. hipotermi Manajement Lingkungan
sakit kepala Aktivitas :
sakit otot
keadaan mengantuk membuat lingkungan
perubahan warna kulit yang aman untuk
dehidrasi pasien
identifikasi
pengamanan yang
dibutuhkan
pengetahuan : manajeman pasien,disamping
penyakit akut tingkatan dan fungsi
hasil yang diharapkan : physical dan kognitif
faktor penyebab dan
dan sejarah kelakuan
penyokong menghilangkan
manfaat dari manajemen
lingkungan yang
penyakit
membahayakan
tanda dan gejala dari
usaha perlindungan
penyakit
dengan sisi memagari
tanda dan gejala dari
secara tepat
komplikasi mengiringi pasien
mengatur kenyamanan
sampai ruangan rumah
yang strategis
sakit secara tepat
efek pengobatan memberikan tempat
terapeutik tidur yang lebih rendah
respon seseorang membantu
terhadap cara pengobatan menyesuaikan diri
pentingnya istirahat yang dengan alat-alat secara
adekuat tepat
modifikasi diet memberikan single
ruangan jika terjadi
indikasi
memberikan
kebersihan,kenyamana
n tempat tidur dan
lingkungan
memberikan kasur
yang prima
memberikan ruangan
yang menghilangkan
bau busuk jika
diperlukan
memberikan keluarga
atau yang lainnya
informasi tentang
membuat lingkungan
rumah yang nyaman
untuk pasien
mengkaji pasien atau
keluarga pasien untuk
menyusun kartu,bunga
dan hadiah untuk
meningkatkan apresiasi
visual pasien
mengizinkan keluarga
atau yang lainnya
untuk tinggal dengan
pasien.
menurunkan stimulasi
lingkungan secara tepat
mengontrol lingkungan
dari hama secara tepat

Pengobatan Panas
Aktivitas :

memantau suhu dan


tanda-tanda vital
lainnya
memantau warna kulit
dan suhu
memantau intake dan
output, menyadari
perubahan dalam
insensible kehilangan
cairan
Mengelola obat atau
cairan IV ( misalnya
antipyretics, agen
antishivering agen dan
antibakteri)
tidak melakukan
pengelolaan aspirin
bagi anak-anak
menganjurkan
mengkonsumsi cairan
peningkatan sirkulasi
udara
mengontrol komplikasi
yang berhubungan
dengan demam dan
tanda serta gejala dari
kondisi penyebab
demam
mengelola oksigen
secara tepat
oksigen terapi
aktivitas :

membersihkan
mulut,hisung dan
pengeluaran trakea
secara tepat
mengelola tambahan
oksigen sesuai
kebutuhan
memantau aliran
oksigen liter
memantau terkait
kecemasan pasien
untuk membutuhkan
terapi oksigen
memonitor kerusakan
kulit dari gesekan
perangkat oksigen
konsultasi dengan tim
kesehatan lain
berhubungan dengan
penggunaan tambahan
oksigen selama
aktivitas dan atau tidur
melatih pasien dan
keluarga tentang
penggunaan oksigen
dirumah

No. Diagnosa Keperawatan NOC NIC


4 Bersihan Jalan Napas Menunjukan hasil perbaikan : Manajemen jalan nafas.
tidak efektif b.d 1. Status respirasi : Ventilasi Membuka jalan napas ,
penurunan ekspansi dengan menggunakan teknik
Indikator :
paru jaw thrust yang sesuai
Rata-rata Posisikan pasien untuk
pernapasan memaksimalkan potensi
ventilasi
Irama pernapasan Mengidentifikasi
requiringactual / potensi
Kedalaman ispirasi napas penyisipan pasien
Masukkan jalan napas melalui
Bunyi perkusi
mulut atau nasofaring yang
sesuai
Volume tidal
Melakukan fisioterapi dada
Kapasitas vital yang sesuai
Bersihkan sekret dengan
Uji fungsi paru menganjurkan batuk atau
Penggunaan otot- suction
otot bantu Mendorong lambat balik
pernapasan pernapasan dan batuk
Gangguan Menggunakan teknik
ekspirasi menyenangkan untuk
mendorong pernapasan dalam
2. Status Respirasi : untuk anak-anak
Indikator : Menginstruksikan cara batuk
Tingkat pernapasan efektif
Irama pernapasan Membantu dengan spirometer
Kedalaman insentif yang sesuai
pernapasan Auskultasi bunyi nafas,
Kemampuan mencatat daerah menurun
atau hilangnya ventilasi dan
membersihkan
bunyi tambahan
secret Melakukan endotrachea
Cemas pengisapan yang sesuai
Takut Mengelola bronkodilator yang
Tersedak sesuai
Suara napas Mengajarkan pasien
adventif bagaimana menggunakan
Cuping hidung inhaler yang ditentukan sesuai
Mengguanakan Mengelola perawatan aerosol
otot bantu napas. yang sesuai
Batuk Mengelola perawatan
nebulizer ultrasonik yang
sesuai
Mengelola udara lembab atau
oksigen yang sesuai
Menghilangkan benda asing
dengan forsep mcgill sesuai
Mengatur asupan cairan untuk
mengoptimalkan
keseimbangan cairan
Posisi untuk mengurangi
dyspnea
Memonitor pernapasan dan
status oksigenasi yang sesuai

Terapi Oksigen
Berih kanmulut, hidung dan
pengeluaran trakea dengan
tepat
Batasi merokok
Pertahankan patensi jalan
nafas
Siapkan peralatan oksigen dan
jalankan setelah dipanaskan,
system dilembabkan
Berikan oksigen tambahan
sesuai order
Monitor liter oksigen
Monitor posisi alat bantu
oksigen
Instruksikan pasien tentang
pentingnya menghidupkan
alat bantu oksigen
Cek secara berkala alat bantu
oksigen untuk memastikan
bahwa konsentrasi yang
diresepkan lancar
Monitor efektifitas terapi
oksigen dengan tepat
Pastikan penggantian masker
oksigen/ kanula setiap
perangkat dilepaskan
Monitor kemampuan pasien
dalam menghadapi pelepasan
oksigen ketika makan
Ganti alat bantu oksigen dari
masker ke nasal kanul ketika
makan
Observasi tanda hipoventilasi
induk sioksigen
Monitor tanda keracunan
oksigen dan penyerapan
ateletaksis
Monitor peralatan oksigen
untuk memastikan bahwa
tidak mengganggu usaha
bernafas
Monitor hubungan kecemasan
pasien dengan terapi oksigen
yang dibutuhkan
Monitor kerusakan kulit dari
pergeseran peralatan oksigen
Berikan oksigen ketika pasien
dibawa/diangkut
Konsultasi dengan tenaga
kesehatan lain mengenai
kegunaan oksigen tambahan
ketika beraktifitas dan /atau
tidur
Instruksikan pasien dan
keluarga tentang penggunaan
oksigen di rumah
Mengatur penggunaan
perangkat oksigen yang
memudahkan mobilitas dan
mengajarkan pasien dengan
tepat
Ubah alternative perangkat
bantu oksigen untuk
mendukung kenyamanan
pasien
2.6 Telaah Jurnal

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengakibatkan sekitar dua juta


kematian pertahun di negara berkembang dan menempati urutan pertama
penyebab kematian. Pada penelitian ini jenis penelitian yang gunakan adalah
observasional analitik dengan desain cross sectional study.

ISPA adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan


bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh
virus, jamur dan bakteri.

Hasil penelitian tentang factor yang berhubungan dengan kejadian ISPA


pada anak di Desa Bontongan:

1. Status Imunisasi
Penelitian ini menemukan bahwa anak yang mempunyai status
imunisasi lengkap terdapat sebanyak 51,1% yang menderita ISPA
sedangkan anak balita yang status imunisasi tidak lengkap sebanyak
29,7% yang menderita ISPA. Sehingga hasil uji statistic pada penelitian
ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara status imunisasi dengan
kejadian ISPA pada anak balita.
2. Pemberian Kapsul Vitamin A
Penelitian ini menemukan bahwa anak balita yang telah
memperoleh kapsul vitamin A terdapat sebanyak 49,5% yang menderita
ISPA sedangkan anak balita yang tidak memperoleh kapsul vitamin a
secara tepat waktu sesuai umur terdapat 22,7% yang menderita ISPA.
Anak balita yang memperoleh kapsul vitamin A biru terdapat sebesar
92,9% dan yang memperoleh kapsul vitamin A merah sebesar 82,7%
3. Pengetahuan Ibu
Penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan ibu yang termasuk
kategori cukup terdapat sebanyak 46,6% yang menderita ISPA sedangkan
yang termasuk kategori kurang sebesar 42,6% yang menderita ISPA.
Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan ibu dengan
kejadian ISPA pada anak balita di Desa Bontongan.
4. Ventilasi Rumah
Penelitian ini menemukan bahwa anak balita yang ventilasi rumah
memenuhi syarat kesehatan terdapat sebanyak 41,4% yang menderita
ISPA sedangkan yang ventilasi rumah tidak memenuhi syarat terdapat
45,9% yang menderita ISPA. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak
ada hubungan ventilasi rumah dengan ISPA pada anak balita di Desa
Bontongan, hal ini disebabkan karena sebagian besar rumah merupakan
rumah panggung sehingga papan kayu sebagai dinding rumah juga
difungsikan sebagai ventilasi.
5. Keberadaan anggota Keluarga yang Merokok di Dalam Rumah
Penelitian ini menun jukkan bahwa anak balita yang terpapar terdapat
sebanyak 53,2% yang menderita ISPA sedangkan yang tidak terpapar
sebanyak 31,2% yang menderita ISPA. Sehingga dapat disimpulkan ada
hubungan keberadaan anggota keluarga yang merokok di dalam rumah
dengan kejadian ISPA pada anak balita di Desa Bontongan.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Penyakit ISPA adalah salah satu penyakit yang banyak diderita bayi dan
anak-anak, penyebab kematian dari ISPA yang terbanyak karena pneumonia.
Klasifikasi penyakit ISPA tergantung kepada pemeriksaan dan tanda-tanda
bahaya yang diperlihatkan penderita, Penatalaksanaan dan pemberantasan kasus
ISPA diperlukan kerjasama semua pihak, yaitu peranserta masyarakat terutama
ibu-ibu, dokter, para medis dam kader kesehatan untuk menunjang keberhasilan
menurunkan angka, kematian dan angka kesakitan sesuai harapan pembangunan
nasional.

3.2. Saran

Karena yang terbanyak penyebab kematian dari ISPA adalah karena


pneumonia, maka diharapkan penyakit saluran pernapasan penanganannya dapat
diprioritaskan. Disamping itu penyuluhan kepada ibu-ibu tentang penyakit ISPA
perlu ditingkatkan dan dilaksanakan secara berkesinambungan, serta
penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA yang sudah dilaksanakan
sekarang ini, diharapkan lebih ditingkatkan lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Ranuh, IG. G, Pendekatan Risiko Tinggi Dalam Pengelolaan


Pelayanan Kesehatan Anak. Continuing Education Ilmu Kesehatan
Anak. FK-UNAIR 1980.

Santosa, G. Masalah Batuk pada Anak. Continuing Education Anak.


FK-UNAIR. 1980.

DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman


Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Jakarta. 1992.

Rendie, J, et.al . Ikhtisar Penyakit Anak. Alih bahasa: Eric Gultom.


Binarupa Aksara. Jakarta. 1994.