Anda di halaman 1dari 3

MENELUSURI KEMBALI ARTI KE-IKHLASAN

Dalam kitab Risalah Qusyairiyah, ada kisah yang cukup menyentil. Suatu ketika
seorang sufi bernama Sahl bin Abdullah kedatangan tamu. Kebetulan saat itu
hari jumat, maka Sahl pun mengajak tamunya sholat jumat padahal perjalanan
dari rumah Sahl ke masjid memakan waktu kira-kira satu hari satu malam.
Kontan sang tamu bingung. Tanpa ada aba-aba, Sahl memegang tangan
tamunya dan dalam sekejap saja mereka sampai di depan masjid. Mereka pun
masuk dan malaksanakan sholat jumat. Setelah sholat juma`at selesai dan
keduanya hendak pergi meninggalkan masjid, Sahl berkata pada tamunya
seraya memandangi orang banyak, Orang yang mengucapkan la ila ha illallah
banyak. Namun yang ikhlas amatlah sedikit.

****

Suatu kisah yang-menurut penulis-mengandung pengklasifikasian perbuataan


kedalam dua kelompok: perbuatan yang ikhlas dan perbuatan yang tidak ikhlas.
Lalu apa sebenarnya pengertian ikhlas itu dan apa standar keikhlasan suatu
perbuatan.

Pengertian Ikhlas

Ikhlas berasal dari bahasa arab dari akar kata lazim (intransitif-tidak butuh
obyek) kholusha, yakhlushu, khulushan, yang artinya bersih, murni dan jernih
dari campuran. Isim failnya adalah khalish sesuatu yang bersih dari campuran
apapun, sedikit atau banyak. Kemudian khalusha yang lazim dengan wazan
fa`ula dipindah ke wazan af`ala menjadi akhlasha, hingga berubah fungsinya
menjadi kata muta`addi (intransitif) atau kata yang butuh obyek. Dan ikhlas
adalah bentuk mashdarnya, artinya adalah hal atau pekerjaan membersihkan,
menjernihkan dan memurnikan sesuatu dari campuran.

Ikhlas dengan makna ini berlaku umum kepada semua pekerjaan yang niat dan
tujuannya satu. Bersedekah, misalnya, dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang
dilakukan dengan ikhlas bila motivasi yang mendorongya satu, entah itu karena
supaya tidak dianggap pelit saja atau karena Allah Swt saja. Jadi, baik atau
buruk, positif atau negatif, karena Allah atau bukan, suatu pekerjaan yang
dilakukan bisa disebut pekerjaan yang ikhlas asalkan motivasi dan niatnya satu.

Namun kerena ikhlas menjadi suatu hal yang urgen dalam amal perbuatan
manusia, khususnya ibadah, maka para ulama mencoba memberikan gambaran
tentang pengertian ikhlas.

Pandangan Ulama Tentang Arti Ikhlas

Abu Usman berkata, ikhlas adalah melupakan pandangan terhadap makhluk


dengan selalu memandang Khalik. Hal ini berarti ikhlas harus bersih dari unsur
riya`, yaitu mengharapkan sesuatu yang lain (makhluk) selain Allah (khalik).
Riya` memang virus yang paling kuat dan musuh yang paling berat bagi ikhlas.
Karenanya menjadi perhatian utama ulama tasawuf. Sampai ada yang
menganjurkan agar beramal dengan cara sembunyi-sembunyi tanpa ada yang
melihat dengan cara mengabaikan syaitan yang merusak amal dan malaikat
yang mencatat amal.

al-Fudhail berkata, meninggalkan perbuatan karena manusia merupakan riya`


dan melakukannya karena manusia termasuk syirik. Di kerjakan dan
ditinggalkanya suatu perbuatan haruslah karena Allah Swt bukan karena
makhluk.

As-susi menjelaskan bahwa ikhlas adalah ketidaksadaran akan ikhlas. Orang


yang sadar bahwa dirinya ikhlas, maka ikhlasnya masih perlu ikhlas lagi. Hal ini
di sebabkan karena kesadaran seseorang bahwa dia sedang merasakan ikhlas
dalam beramal dapat merangsang timbulnya sesuatu yang menjadi kesenangan
diri hingga pada akhirnya muncul perasaan bangga akan kemampuan berikhlas.
Padahal orang itu disebut mukhlis yang ikhlas bila dia tidak sama sekali
merasakan kalau dirinya ikhlas ketika dia beramal dengan ikhlas.

Dzun Nun al-Mishri berkata , Ada tiga tanda ikhlas: manakala orang yang
bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia sama saja; melupakan
amal ketika beramal; melupakan pahala di akhirat sebagai balasan amal
baiknya.

Dari berbagai komentar ulama di atas mereka cenderung melarikan arti ikhlas
pada upaya pemurnian niat ibadah hanya karena Allah Swt semata dengan
mengharap ridho dan kedekatan dengan-Nya tanpa sedikitpun melibatkan selain
Allah Swt dalam tujuan perbuatan.

Pengertian Ikhlas diatas sebenarnya merujuk pada pengertian ikhlas yang paling
tinggi. Dalam kitab Kifayatul At-Qiya Wa Minhajul Ashfiya` karya As-Sayyid Bakri
Al-Makki Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dijelaskan bahwa ikhlas
memiliki dua pengertian atau tingkatan lagi di bawah pengertian di atas, yaitu
malakukan perbuatan dengan tujuan agar mendapatkan pahala sebagai tiket
masuk ke surga dan terlepas dari dosa karena takut siksa neraka. Masuk surga
dan dijauhkan dari Neraka merupakan dambaan setiap mukmin terkait nasib
kehidupan mereka nanti di akhirat. Dan itu sah-sah saja sebab teks-teks syariat
baik alquran maupun hadis memberikan legitimasi dengan memakai kenikmatan
surga dan kesengsaran hidup di neraka sebagai motivasi bagi manusia dalam
mentaati peraturan-peraturan agama. Makna ikhlas dalam tingkatan terjadi
pada orang yang rajin beribadah dimana dengan ibadahnya orang tersebut
mengharapkan agar kepentingan-kepentingan ukhrawinya tercapai (al-abidin).

Masih ada satu lagi tingkatan ikhlas. Dan ini yang paling minimal dan banyak
terjadi dikalangan orang awam yang tidak memiliki ilmu agama yang luas. Yaitu,
beramal demi keuntungan ukhrawi dan keuntungan duniawi sekaligus seperti
membaca surat waqiah dengan tujuan mendapatkan pahala dan kecukupan
rejeki di dunia. Orang yang melakukan perbuatan dalam tingkatan ini juga masih
di golongkan mukhlis, hanya saja dalam tingkatan yang paling rendah. Hal ini
karena motivasi pelaku perbuatan masih melibatkan unsur kepentingan ukhrawi.
Lain halnya bila suatu perbuatan tidak sama sekali melihat sisi ukhrawi, tetapi
murni kepentingan duniawi semata, maka dianggap perbuatan yang tidak ikhlas.
Ketidakikhlasan dalam beramal inilah yang tidak akan mendapatkan keuntungan
apapun di akhirat, karena diterima dan tidaknya suatu amal tergantung pada
keikhlasan ketika melakukannya. Orang yang tidak ikhlas sama saja dengan
memancing ikan di kolam yang tidak ada ikannya. Tidak ada hasil, hanya sia-sia
belaka. Bahkan bila ada seseorang yang dengan sengaja beramal dengan tujuan
mendapatkan pujian orang semata (baca: riya`), maka orang tersebut telah
menjerumuskan dirinya ke dalam jurang ke-syirikan meski masih dalam taraf
samar-samar (as-syirkul khofi). Wal`iyadzu billah!