Anda di halaman 1dari 18

POLITEKNIK KESEHATAN PADANG

PROGRAM STUDI KESEHATAN SOLOK


Jl. Laing Tembok Jaya Solok Telp. (07550 20445)

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK


MENINGITIS

Disusun Oleh Kelompok 9 :

Ema Yulia

Rahmi Nizar

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SOLOK


POLITEKNIK KESEHATAN PADANG
2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang
utama. Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat.
Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme
lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar
antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%.
Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka
kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa
Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis.
Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak
kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan
Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada
usia 0 4 tahun dan 15 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang
disebabkan Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 100 per
100.000 populasi pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000
kasus per tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada
anak sebesar 15%, retardasi mental 17%, kejang 14% dan gangguan
pendengaran 28%.
Meningitis merupakan peradangan dari meningen yang menyebabkan
terjadinya gejala perangsangan meningen seperti sakit kepala, kaku kuduk,
fotofobia disertai peningkatan jumlah leukosit pada liquor cerebrospinal (LCS).
Berdasarkan durasi dari gejalanya, meningitis dapat dibagi menjadi akut dan
kronik. Meningitis akut memberikan manifestasi klinis dalam rentang jam
hingga beberapa hari, sedangkan meningitis kronik memiliki onset dan durasi
berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Pada banyak kasus, gejala klinik
meningitis saling tumpang tindih karena etiologinya sangat bervariasi. Oleh
karena itu sangat diperlukan tenaga kesehatan perawat yang kompeten dalam
melakukan asuhan keperawatan pada anak dengan meningitis.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep dasar penyakit meningitis?
2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan anak dengan meningitis?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Anak I pada
semester IV, dan di harapkan bagi mahasiswa agar mampu memahami tentang
konsep dasar penyakit persyarafan, meningitis pada anak dan dapat membuat
asuhan keperawatan anak dengan meningitis.
2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mengetahui dan mampu memahami konsep dasar penyakit
meningitis meliputi:
a. Definisi meningitis
b. Etiologi meningitis
c. Manifestasi klinis meningitis
d. Patofisiologi meningitis
e. Komplikasi meningitis
f. Penatalaksanaan pada meningitis
2. Mahasiswa mengetahui dan mampu membuat konsep asuhan keperawatan
anak dengan meningitis meliputi:
a. Pengkajian
b. Pemeriksaan penunjang
c. Diagnosa dan intervensi keperawatan
BAB II
PEMBAHASAN

a. Pengertian Meningitis Neonatus


Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges,lapisan yang
tipis/encer yang mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung,
disebabkan oleh bakteri, virus, riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara
akut dan kronis. (Harsono., 2003)
Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus
meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus
tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang
menghirup udara tersebut. (Anonim.,2007).
Meningitis pada bayi baru lahir dapat disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur atau protozoa. Insiden berkisar antara 0,2-0,4/1000 kelahiran hidup dan
lebih tinggi pada bayi preterm. Meningitis dapat dikaitkan dengan sepsis atau
muncul sebagai infeksi lokal. Kini meningitis terjadi pada kurang dari 20% bayi
baru lahir dengan infeksi bakteri invansif mulai awal.

b. Etiologi
Penyebab paling umum meningitis neonatus adalah SGB,E.coli K1 dan
Listeria. Streptokokus lain, Haemophilus influenzae yang tidak dapat
digolongkan, stafilokokus koagulase-positif maupun koagulase-negatif.
Klebsiella, Enterobacter, Pseudomonas, Treponema pallidum, dan
Mycobacterium tuberculosis dapat juga menyebabkan meningitis Citrobacter
diversus merupakan penyebab abses otak yang penting. Patogen lainnya
meliputi Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealyticum, Candida albicans dan
jamur lainnya. Toxoplasma gondii dan virus (enterovirus, HSV tipe 2 lebih
sering dri tipe 1, rubela, sitomegalovirus(CMV) , virus imunodefisiensi manusia
(human immunodeficiency virus(HIV).
c. Manifestasi Klinis
Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Rasa ini dapat menjalar ke
tengkuk dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh
mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu
tengkuk kaku dalam sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap
hiperekstensi. Kesadaran menurun. Tanda Kernigs dan Brudzinky positif.
(Harsono., 2003)
Gejala meningitis tidak selalu sama, tergantung dari usia si penderita
serta virus apa yang menyebabkannya. Gejala yang paling umum adalah demam
yang tinggi, sakit kepala, pilek, mual, muntah, kejang. Setelah itu biasanya
penderita merasa sangat lelah, leher terasa pegal dan kaku, gangguan kesadaran
serta penglihatan menjadi kurang jelas. Gejala pada bayi yang terkena
meningitis, biasanya menjadi sangat rewel, muncul bercak pada kulit, tangisan
lebih keras dan nadanya tinggi, demam ringan, badan terasa kaku, dan terjadi
gangguan kesadaran seperti tangannya membuat gerakan tidak beraturan.
(Japardi, Iskandar., 2002)
Tanda-tanda dan gejala-gejala awal mungkin tidak dapat dibedakan dari
penyakit infeksi dan non infeksi lainnya pada bayi baru lahir. Tanda-tanda
neurologis mungkin ada atau tidak. Manifestasi neurologis meliputi lesu(50-
90%),fontanela yang cembung atau penuh(20-30%),kaku kuduk(10-20%) dan
yang jarang pada saat awal,adanya tanda-tanda tekanan intrakranial yang
meningkat.

d. Patofisiologi

Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di organ


atau jaringan tubuh yang lain. Virus / bakteri menyebar secara hematogen
sampai ke selaput otak, misalnya pada penyakit Faringitis, Tonsilitis,
Pneumonia, Bronchopneumonia dan Endokarditis. Penyebaran bakteri/virus
dapat pula secara perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan yang
ada di dekat selaput otak, misalnya Abses otak, Otitis Media, Mastoiditis,
Trombosis sinus kavernosus dan Sinusitis. Penyebaran kuman bisa juga terjadi
akibat trauma kepala dengan fraktur terbuka atau komplikasi bedah otak. Invasi
kuman-kuman ke dalam ruang subaraknoid menyebabkan reaksi radang pada
pia dan araknoid, CSS (Cairan Serebrospinal) dan sistem ventrikulus.

Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami


hiperemi; dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit
polimorfonuklear ke dalam ruang subarakhnoid, kemudian terbentuk eksudat.
Dalam beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam
minggu kedua sel- sel plasma. Eksudat yang terbentuk terdiri dari dua lapisan,
bagian luar mengandung leukosit polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di
lapisaan dalam terdapat makrofag.

Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan
dapat menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi neuron-
neuron. Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino-purulen
menyebabkan kelainan kraniales. Pada Meningitis yang disebabkan oleh virus,
cairan serebrospinal tampak jernih dibandingkan Meningitis yang disebabkan
oleh bakteri.

e. Komplikasi
cairan subdural.
Hidrosefalus.
Sembab otak
Abses otak
Renjatan septic.
Pneumonia (karena aspirasi)
Koagulasi intravaskuler menyeluruh.
f. Pengobatan
Terapi antimikroba dugaan pada meningitis bakteri harus terdiri dari
ampisilin dan sefotaksim atau ampisilin dan gentamisin,kecuali kalau
kemungkinannya stafilokokus yang merupakan indikasi untuk vankomisin. Uji
kerentanan organisme enterik gram-negatif penting karna telah terjadi resistensi
terhadap sefalosporin dan aminoglikosida. Kebanyakan aminoglikosida yang
diberikan lewat rute parenteral tidak cukup mencapai kadar yang tinggi pada
CSS tulang belakang atau ventrikel untuk menghambat pertumbuhan basil
gram-negatif. Meskipun pemberian aminoglikosida intraventrikular telah
diusulkan sebagai terapi bagi meningitis bakteri gram-negatif dan
ventrikulitis,banyak pakar merekomendasikan kombinasi ampisilin dan
sefalosporin generasi ketiga bagi pengobatan meningitis gram-negatif neonatus.
Sefalosporin tidak boleh digunakan sebagai mono-terapi empiris karna Listeria
monocytogeneses resisten terhadap semua sefalosporin. Meningitis dar SGB
biasanya berespon dalam waktu 24-48 jam dan harus diobati selama 14-21 hari.
Basil gram negatif mungkin terus tumbuh dari sampel CSS ulangan selama 72-
96 jam setelah terapi meskipun penggunaan antibiotika telah tepat. Pengobatan
meningitis gram-negatif harus dilanjutkan selama 21 hari atau paling tidak 14
hari setelah bersihnya CSS dari kuman yang lebih lama. Meningitis infeksi
karna pseudomonas aeruginosa harus diobati dengan seftazidim.
Metronidazolmerupakan pengbatan pilihan infeksi yang disebabkan oleh
B.fragilis. Pemberian antibiotika yang lama dengan atau tanpa drainase jarum
untuk pengobatan dan diagnosis,diindikasikan bagi penderita yang dicurigai
menderita ventrikulitis,hidrosefalus atau abses serebral (untuk penilaian awal
dan pematauan) dan bagi mereka yang mengalami komplikasi yang tidak
diharapakan (koma yang berkepanjangan,defisit neurologis setempat,demam
terus menerus atau berulang). Meningoensefalitis herpes neonatus harus diobati
dengan asiklovir. Meskipun tidak ada penelitian yang pasti,beberapa klinisi
menggunakan IVIG untuk mengobati meningoensefalitis enterovirus. Perawatan
pendukung meliputi penatalaksanaan sepsis jika ada anti konvulsan untuk
kejang-kejang dan penanganan edema serebral,sekresi hormon antidiuretik yang
tidak memadai dan hidrosefalus. Meskipun pemantauan kadar obat gentamisin
dan vankomisin kini direkomendasikan, pedoman ini masih dapat dimodifikasi.

g. Pencegahan
Vaksin konjugat pneumokokus dianjurkan untuk diberikan kepada bayi
dan anak yang berusia 2 bulan hingga 9 tahun. Pemberian vaksin lebih baik
dilakukan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12 bulan dan 15 bulan. Vaksin
konjugat pneumokokus juga hanya menimbulkan efek samping yang ringan
seperti kulit kemerahan, sedikit bengkak dan nyeri pada daerah sekitar suntikan.
Gejala umum setelah pemberian vaksin seperti demanm, mengantuk, nafsu
makan berkurang, jarang ditemukan npada bayi gejala tersebut.

h. Pemeriksaan Dianostik
1. Pemeriksaan Lab

Laju endap darah meninggi, jumlah sel berkisar antara 200-500/mm3,


mula-mula sel PMN dan limfost dalam proporsi sama atau kadang-kadang sal
PMN lebih banyak, selanjutnya limfosit yang lebih banyak. Kadang-kadang
jumlah sel pada fase akut dapat mencapai kurang lebih 1000/mm3. Kadar
protein meninggi dan glukosa menurun.

2. CT-Scan, X-Ray

Cairan serebrospinal berwarna jernih atau xantokrom, bila dibiarkan


mengendap akan membentuk batang-batang, kadang-kadang ditemukan
mikroorganisme di dalamnya.

3. Lumbal fungsi

Fungsi lumbalpenting sekali untuk pemeriksaan bakteriologik dan


laboratorium lainnya. Likuor serebrospinalis berwarna jernih, opelesen atau
kekuningan-kuningan (xantokrom). Tekanan danjumlah sel meninggi namun
umumnya jarang melebihi 1500/mm3 dan terdiri dari limfosit. Kadar protein
meninggi sedangkan kadar glukosa dan klorida total menurun. Bila cairan otak
didiamkan akan timbul fibrinous web (palikel), tempat yang sering
ditemukannya basil tuberkolosis. Dugaan bahwa seorang pasien menderita
meningitis tuberkolosa dengan melihat hasil fungsi lumbal berupa cairan
serebrospinalis yang jernih. Juga adanya kelainanradiologis serta adanya
sumber di dalam keluarga.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. Pengkajian
1. Riwayat keperawatan : riwayat kelahiran, penyakit kronis, neoplasma
riwayat pembedahan pada otak, cedera kepala
2. Pada neonatus : kaji adanya perilaku menolak untuk makan, refleks
menghisap kurang, muntah dan diare, tonus otot kurang, kurang gerak
dan menagis lemah
3. Pada anak-anak dan remaja : kaji adanya demam tinggi, sakit kepala,
muntah yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang mudah
terstimulasi dan teragitasi, fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif
atau maniak, penurunan kesadaran, kaku kuduk, opistotonus, tanda kernig
dan Brudzinsky positif, reflex fisiologis hiperaktif, petchiae atau pruritus.
4. Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan hingga 2 tahun) : kaji adanya demam,
malas makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dangan
merintih, ubun-ubun menonjol, kaku kuduk, dan tanda kernig dan
Brudzinsky positif.

B. Pemeriksaan Penunjang
Lumbal Pungsi:
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa hitung jenis sel dan
protein, cairan serebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya
peningkatan TIK.
Meningitis bacterial: tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, leukosit dan
protein meningkat, glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis
bakteri.
Glukosa & dan LDH : meningkat.
LED/ESRD: meningkat.
CT Scan/MRI: melihat lokasi lesi, ukuran ventrikel, hematom, hemoragik.
Rontgent kepala: mengindikasikan infeksi intrakranial.
Kultur Darah
Kultur Swab Hidung dan Tenggorokan

C. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan tekanan
intracranial
2. Nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lapisan otak
3. Resiko terjadinya injuri berhubungan dengan adanya kejang, perubahan
status mental dan penurunan tingkat kesadaran
4. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi
5. Perubahan persepsi sensoro berhubungan dengan penurunan tingkat
kesadaran
6. Resiko (penyebaran) infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan
terhadap infeksi
7. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia, mual, muntah
8. Ansietas berhubungan dengan pemisahan dari system pendukung
(hospitalisasi)

D. Intervensi keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan tekanan
intrakranial
Tujuan :
Pasien kembali pada keadaan status neurologis sebelum sakit
Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris
Kriteria hasil
Tanda-tanda vital dalam batas normal
Rasa sakit kepala berkurang
Kesadaran meningkat
Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda
tekanan intrakranial yang meningkat.
INTERVENSI RASIONALISASI
Pasien bed rest total dengan Perubahan pada tekanan
posisi tidur terlentang tanpa intakranial akan dapat
bantal meyebabkan resiko untuk
terjadinya herniasi otak
Monitor tanda-tanda status Dapat mengurangi kerusakan otak
neurologis dengan GCS. lebih lanjt
Monitor tanda-tanda vital Pada keadaan normal autoregulasi
seperti TD, Nadi, Suhu, mempertahankan keadaan
Resoirasi dan hati-hati pada tekanan darah sistemik berubah
hipertensi sistolik secara fluktuasi. Kegagalan
autoreguler akan menyebabkan
kerusakan vaskuler cerebral yang
dapat dimanifestasikan dengan
peningkatan sistolik dan diiukuti
oleh penurunan tekanan diastolik.
Sedangkan peningkatan suhu
dapat menggambarkan perjalanan
infeksi.
Monitor intake dan output Hipertermi dapat menyebabkan
peningkatan IWL dan
meningkatkan resiko dehidrasi
terutama pada pasien yang tidak
sadar, nausea yang menurunkan
intake per oral
Bantu pasien untuk membatasi Aktifitas ini dapat meningkatkan
muntah, batuk. Anjurkan tekanan intrakranial dan
pasien untuk mengeluarkan intraabdomen. Mengeluarkan
napas apabila bergerak atau napas sewaktu bergerak atau
berbalik di tempat tidur. merubah posisi dapat melindungi
diri dari efek valsava
Kolaborasi
Berikan cairan perinfus dengan Meminimalkan fluktuasi pada
perhatian ketat. beban vaskuler dan tekanan
intrakranial, vetriksi cairan dan
cairan dapat menurunkan edema
cerebral
Monitor AGD bila diperlukan Adanya kemungkinan asidosis
pemberian oksigen disertai dengan pelepasan oksigen
pada tingkat sel dapat
menyebabkan terjadinya
iskhemik serebral
Berikan terapi sesuai advis
dokter seperti: Steroid, Terapi yang diberikan dapat
Aminofel, Antibiotika. menurunkan permeabilitas
kapiler.
Menurunkan edema serebri
Menurunkan metabolik sel /
konsumsi dan kejang.

2. Nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lapisan otak


Tujuan
Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol
Kriteria hasil:
Pasien dapat tidur dengan tenang
Memverbalisasikan penurunan rasa sakit.
INTERVENSI RASIONALISASI
Mandiri
Pantau berat ringan nyeri yang Mengetahui tingkat nyeri yang
dirasakan dengan dirasakansehingga memudahkan
menggunakan skala nyeri pemberian intervensi
Pantau saat muncul awitan Menghindari pencetus nyeri
nyeri merupakan
salah satu metode distraksi yang
efektif

Usahakan membuat lingkungan Menurukan reaksi terhadap


yang aman dan tenang rangsangan ekternal atau
kesensitifan terhadap cahaya dan
menganjurkan pasien untuk
beristirahat
Kompres dingin (es) pada Dapat menyebabkan
kepala dan kain dingin pada vasokontriksi pembuluh darah
mata otak
Lakukan latihan gerak aktif Dapat membantu relaksasi otot-
atau pasif sesuai kondisi otot yang tegang dan dapat
dengan lembut dan hati-hati menurunkan rasa sakit /
disconfort
Kolaborasi
Berikan obat analgesic Mungkin diperlukan untuk
menurunkan rasa sakit. Catatan:
Narkotika merupakan
kontraindikasi karena berdampak
pada status neurologis sehingga
sukar untuk dikaji.

3. Resiko terjadinya injuri berhubungan dengan adanya kejang, perubahan status


mental dan penurunan tingkat kesadaran
Tujuan:
Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan
kesadaran
INTERVENSI RASIONALISASI
Independent
monitor kejang pada tangan,Gambaran tribalitas sistem saraf
kaki, mulut dan otot-otot muka
pusat memerlukan evaluasi yang
lainnya sesuai dengan intervensi yang
tepat untuk mencegah terjadinya
komplikasi.
Persiapkan lingkungan yang Melindungi pasien bila kejang
aman seperti batasan ranjang, terjadi
papan pengaman, dan alat
suction selalu berada dekat
pasien.
Pertahankan bedrest total Mengurangi resiko jatuh / terluka
selama fae akut jika vertigo, sincope, dan ataksia
terjadi
Kolaborasi
Berikan terapi sesuai advis Untuk mencegah atau
dokter seperti; diazepam, mengurangi kejang.
phenobarbital, dll. Catatan : Phenobarbital dapat
menyebabkan respiratorius
depresi dan sedasi.

4. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi


Tujuan:
Suhu tubuh klien menurun dan kembali normal.
Kriteria hasil:
Suhu tubuh 36,5 - 37,5 C

INTERVENSI RASIONALISASI
Ukur suhu badan anak setiap 4 suhu 38,9 41,1 menunjukkan
jam proses penyakit infeksius
Pantau suhu lingkungan Untuk mempertahankan suhu
badan mendekati normal
Berikan kompres hangat Untuk mengurangi demam
dengan proses konduksi
Berikan selimut pendingin Untuk mengurangi demam lebih
dari 39,5 0C
Kolaborasi dengan tim medis : Untuk mengurangi demam
pemberian antipiretik dengan aksi sentralnya di
hipotalamus

5. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran


Tujuan:
Anak dapat mempertahankan fungsi sensori
Kriteria hasil:
Mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residual,
mendemontrasikan perilaku untuk mengkompensasi terhadap hasil.
INTERVENSI RASIONALISASI
Kaji tingkat kesadaran sensorik Tingkat kesadaran sensorik yang
buruk dapat meningkatkan resiko
terjadinya injury
Kaji reflek pupil, extraocular Penurunan reflek menandakan
movement, respon terhadap adanya kerusakan syaraf dan
suara, tonus otot dan reflek- dapat berpengaruh terhadap
reflek tertentu keamanan pasien
Hilangkan suara bising Menurunkan stimulan dari
lingkungan
Bertingkah laku tenang, Dapat membantu memudahkan
konsisten, bicara lambat dan pasien dalam berkomunikasi dan
jelas meningkatkan pemahaman anak

6. Resiko (penyebaran) infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan


terhadap infeksi
Tujuan:
Anak akan mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa penyebaran
infeksi endogen atau keterlibatan dengan orang lain
INTERVENSI RASIONALISASI
Pertahankan teknik aseptic dan Menurunkan pasien terkena
cuci tangan baik pasien, infeksi sekunder. Mengontrol
pengunjung maupun staf penyebaran infeksi,
mencegah pemajanan pada
individu terinfeksi (mis: individu
yang mengalami infeksi saluran
pernafasan atas)
Pantau dan catat teratur tanda- Terapi obat akan diberikan secara
tanda klinis dari proses infeksi terus menerus selama lebih dari 5
hari setelah suhu turun (kembali
normal) dan tanda-tanda klinisnya
jelas. Timbulnya tanda klinis
terus merupakan indikasi
perkembangan dari
meningokosemia akut yang dapat
bertahan sampai dengan
berminggu-minggu atau
berbulan-bulan atau penyebaran
pathogen secara
hematogen/sepsis
Ubah posis pasien secara Mobilisasi secret dan
tertatur setiap 2 jam meningkatkan kelancaran secret
yang akan menurunkan resiko
terjadinya komplikasi terhadap
pernafasan
Catat karakteristik urine seperti Urine statis, dehidrasi dan
warna, kejernihan dan bau kelemahan umum meningkatkan
resiko terhadap infeksi kandung
kemih/ginjal/awitan sepsis
Kolaborasi dengan tim medis : Obat yang dipilih tergantung
pemberian antibiotic infeksi dan sensitifitas individu.
Catatan: obat cranial mungkin
diindikasikan untuk basillus gram
negative, jamur, amoeba

7. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


anoreksia, mual, muntah
Tujuan:
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada anak tidak
terjadi
Kriteria Hasil:
Masukan nutrisi adekuat
Tidak mengalami penurunan BB
INTERVENSI RASIONALISASI
Kaji kemampuan pasien untuk Berpengaruh terhadap pemilihan
mengunyah, menelan, batuk jenis makanan
dan mengatasi sekresi
Hindari makanan yang Meminimalkan mual dan muntah
memperburuk mual dan
muntah
Anjurkan menyajikan diet makanan hangat meminimalkan
dalam keadaan hangat risiko muntah
Anjurkan kepada orang tua meningkatkan proses pencernaan
untuk memberikan makanan dan toleransi pasien terhadap
dalam porsi kecil tapi sering nutrisi yang diberikan
Timbang BB setiap hari Menunjukkan status nutrisi
Auskultasi bising usus Menentukan respon makan atau
berkembangnya komplikasi
Kolaborasi dengan tim gizi Merupakan sumber yang efektif
untuk mengidentifikasi kebutuhan
nutrisi pasien

8. Ansietas berhubungan dengan pemisahan dari system pendukung


(hospitalisasi)
Tujuan:
Ansietas pasien berkurang
Kriteria Hasil:
Pasien/keluarga dapat mengikuti dan mendiskusikan rasa takut
Pasien/keluarga dapat mengungkapkan kekurangpengetahuan tentang situasi
Pasien/keluarga tampak rileks dan tenang
Pasien/keluarga melaporkan ansietas berkurang
INTERVENSI RASIONALISASI
Kaji status mental dan tingkat Gangguan kesadaran dapat
ansietas dari pasien/keluarga mempengaruhi rasa takut tetapi
tidak menyangkal keberadaannya.
Derajat ansietas akan dipengaruhi
bagaimanainformasi tersebut
dapat diterima individu
Berikan penjelasan hubungan Meningkatkan pemahaman,
proses penyakit dengan tanda mengurangi rasa takut karena
gela ketidak tahuan serta dapat
membantu menurunkan ansietas
Jawab setiap pertanyaan Penting untuk menciptakan
dengan penuh perhatiandan kepercayaan karena diagnose
berikan informasi mengenai meningitis mungkin menakutkan,
prognosa penyakit ketulusan dan informasi yang
akurat dapat memberikan
keyakinan kepada pasien dan juga
keluarga
Libatkan pasien/keluarga Meningkatkan perasaan control
dalam perawatan, perencanaan terhadap diri dan meningkatkan
kehidupan sehari-hari, kemandirian
membuat keputusan sebanyak
mungkin
Lindungi privasi klien jika Memperhatikan kebutuhan
terjadi kejang privasi klien, memberikan
peningkatan akan harga diri dan
melindungi pasien dari rasa lalu
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Meningitis merupakan peradangan pada selaput meningen, cairan
serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem
saraf pusat. Yang disebabkan oleh bakteri, virus, faktor maternal dan faktor
imunologi. Berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak adalah
meningitis serosa dan meningitis purulenta, sedangkan berdasarkan etiologinya
meningitis dibedakan atas meningitis bakteri, meningitis virus dan meningitis
jamur. Meningitis purulent adalah adalah radang bernanah arakhnoid dan
piameter yang meliputi otak dan medula spinalis dan Meningitis serosa ( bakteri
) merupakan peradangan yang disebabkan oleh organisme pada bakteri seperti
meningococcus, staphylococcus, Baccilus influenza, Baccilus tubercula,
Neiserria meningitides, sreptococus pnemoniae (pada dewasa), haimopilus
influenza (pada anak-anak dan remaja).

3.2 Saran
1. Tenaga kesehatan
Sebagai tim kesehatan agar lebih bisa meningkatkan pengetahuan tentang
meningitis dan problem solving yang efektif dan juga sebaiknya kita
memberikan informasi atau health education mengenai meningitis kepada para
orang tua anak yang paling utama.
2. Masyarakat
Masyarakat sebaiknya mengindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya
meningitis dan meningkatkan pola hidup yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1989. Perawatan Bayi dan Anak.Jakarta: Depkes RI Pusat Pendidikan


Tenaga Kesehatan
Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Ed.8. Jakarta: EGC dalam http://askep-
asuhankeperawatan.blogspot.com/2009/08/askep-meningitis.htmldiakses pada 1
Mei 2014
Suriadi, Rita Yuliani. 2006. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: PT.
Penerbitan Penebar Swadaya
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinik Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC