Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS PENGETAHUAN DAN SIKAP NARAPIDANA TERHADAP

TINDAKAN BERISIKO HIV/AIDS DI RUMAH TAHANAN BALIGE


Evarina
Universitas Sarimutiara Indonesia

ABSTRACT

Perilaku berisiko HIV/AIDS tidak hanya terjadi di masyarakat luas tetapi juga
pada sub populasi khusus seperti narapidana yang menjalani hukuman di
lembaga pemasyarakatan rawan tertular HIV. Pada Juli 2008 jumlah narapidana
yang ada di Rutan Balige sebanyak 162 orang, 50 % ditahan akibat kasus narkoba
dan 50 % dengan bukan narkoba. Melihat keadaan tersebut kemungkinan epidemi
HIV di rumah tahanan Balige dapat terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui karakteristik narapidana dan adanya hubungan pengetahuan serta
sikap narapidana dengan tindakan berisiko HIV, dengan menggunakan uji Chi-
square dan Uji Regresi Linier ganda. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh
narapidana sebanyak 120 orang. Data diperoleh dengan menggunakan
wawancara dan kuesioner tertutup. Hasil penelitian mayoritas : berumur 20-29 tahun
(36%), jenis kelamin laki-laki (96%,) pendidikan SLTA (44,2%), pekerjaan wiraswasta
(47 %) dan masa tahanan 1tahun (51,7%). Hasil uji Chi-square menunjukkan
bahwa : ada hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan P= 0,020 dan sikap P
= 0,011 dengan tindakan beresiko HIV. Hasil Uji Regresi Linier Ganda
menunjukkan bahwa : tingkat pengetahuan dan sikap sama-sama berpengaruh
terhadap tindakan berisiko HIV, P < (0,005). Kesimpulan : Variabel yang paling
berpengaruh adalah tingkat pengetahuan,( nilai beta pengetahuan 0,308 > nilai
beta sikap 0,200 ) dan nilai R.Square sebesar 0,814.
Disarankan kepada pimpinan Rutan Balige untuk lebih meningkatkan
kerjasama dengan Dinas Kesehatan Toba Samosir ( khususnya Petugas kesehatan
di Rutan) dan Komite AIDS HKBP Balige dalam meningkatkan pengetahuan dan
sikap narapidana terhadap faktor-faktor risiko dan pencegahan HIV/AIDS. Petugas
rutan diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan di bidang penanggulangan
HIV/AIDS sehingga dapat memberikan penyuluhan langsung terhadap narapidana.

Kata Kunci: HIV/AIDS, perilaku, narapidana,rumah tahanan

12
Pendahuluan

Epidemi HIV/AIDS telah membuat risiko lebih besar


melanda dunia, tidak terkecuali daripada didunia luar. Perilaku
Indonesia. Virus ini menyebar yangmembuat narapidana/tahanan
cepat tanpa mengenal batas rawan HIV telah umum terjadi,
negara dan lapisan penduduk. yaitu akibat perilaku berisiko yang
Epidemi HIV/AIDS akan meliputi praktik seksual tidak aman
menimbulkan dampak buruk (narapidana dengan narapidana
terhadap pembangunan nasional sesama jenis kelamin dan sesama
secara keseluruhan, karena selain narapidana dengan beda jenis
berpengaruh terhadap kesehatan kelamin) penggunaan bersama
juga terhadap ekonomi, politik dan peralatan suntik,tato, kekerasan
keamanan (Maas, dkk 2004). lain termasuk pemerkosaan dan
Perilaku berisiko tidak hanya kekerasan berdarah umum lainnya
terjadi di masyarakat luas tetapi (Dep Hukum dan HAM, RI, Dirjen
juga pada sub populasi tertentu Pemasyarakatan, 2005)
seperti narapidana / penghuni Menurut Shakarashvili (2005)
lembaga pemasyarakatan (Lapas) dikebanyakan negara tingkat
juga cukup memprhatinkan. infeksi HIV dikalangan penghuni
Narapidana yang menjalani penjara cenderung lebih tinggi
hukuman di Lapas merupakan dibandingkan dengan populasi
salah satu sub populasi khusus umum, prevalensi HIV dipenjara
yang rawan tertular HIV. Meskipun Rusia diperkirakan 4 kali lebih
pengawalan sangat ketat, suasana tinggi dari populasi umum. Menurut
Rutan/ Lapas,sangat UNAIDS (2005) yang mengutip
memungkinkan penyebaran HIV. pendapat Montano et al (2005)
Perilaku dipenjara dan kondisinya bahwa di penjara Moskow,

12
dikalangan tahanan laki-laki 2,9% karena tingkat pengetahuan
positip HIV, perempuan muda 4% mereka yang rendah tentang HIV/
dan perempuan tuna Wisma 1,8%. AIDS dan kurang mengetahui
Dibeberapa penjara lainnya juga tentang penularan HIV. seperti
masih banyak prevalensi HIVnya rendahnya angka penggunaan
yang cukup tinggi terutama kondom pada seks berisiko, dan
tahanan laki-laki yang melakukan tingginya angka berbagi jarum
hubungan seks dengan sejenis suntik dikalangan pengguna Napza
ditemukan di Brasil, Yunani, suntik. Sedangkan tentang
Prancis, Bangkok, Thailand, India persepsi, umumnya menganggap
dan lain-lain. AIDS sebagai penyakit menular
Prevalensi HIV pada yang berbahaya atau mematikan,
narapidana di Indonesia dari namun hanya kurang lebih 30%-
beberapa propinsi juga mengalami 75% yang merasa dirinya rawan
peningkatan dari tahun ke tahun tertular HIV.
yaitu Lapas/Rutan DKI Jakarta Melihat gambaran dari
pada tahun 2002 sebesar 7,55% beberapa lembaga
meningkat pada 2003 menjadi pemasyarakatan yang ada serta
17,65%, Jawa Barat pada tahun tingginya prevalensi HIV/AIDS di
2002 sebesar 5% menjadi 21,1% penjara, maka kemungkinan
pada tahun 2003, dan Banten pada masalah tersebut juga dapat terjadi
tahun 2002 sebesar 10,8% di rumah tahanan Balige
menjadi 21,3% pada tahun 2003, Kabupaten Toba Samosir. Dari
Jakarta Timur pada tahun 2000 Kabupaten yang ada di provinsi
(10%) menjadi 22% pada tahun Sumatera Utara bahwa prevalensi
2004 ((Dep Hukum dan HAM, RI, HIV/AIDS yang tinggi juga
Dirjen Pemasyarakatan, 2005). ditemukan di Kabupaten Toba
Salah satu penyebab tingginya Samosir,setelah Medan dan Deli
tingkat perilaku berisiko HIV Serdang. Jumlah penderita

12
HIV/AIDS di Kabupaten Toba tahanannnya dan juga
Samosir hingga Mei 2007 ada menampung narapidana yang
sebanyak 42 orang terdiri dari,HIV telah ditentukan masa tahanannya
(+) sebanyak 26 orang (62%) dan untuk menjalani hukumannya.
16 orang AIDS (38%). Menurut Narapidana dengan berbagai
faktor resiko HIV/AIDS, pengguna kasus ditempatkan dalam
suntik narkoba (65%),perilaku rutan/lapas tidak ada pemisahan
seksual (29,4%) dan tidak antara narapidana dengan kasus
diketahui (5,9%),perinatal (0,07%) narkoba dan bukan dengan kasus
(Sumber : Komite HIV/AIDS HKBP narkoba (Sumber: Hasil
BALIGE, Mei 2008). wawancara peneliti dengan kepala
Hasil studi pendahuluan rutan Balige, July 2008).
peneliti di rutan Balige dengan Bila dilihat dari keadaan
wawancara kepada kepala Rutan, narapidana yang ada dirumah
hingga July 2007 jumlah tahanan tersebut maka
narapidana/tahanan yang ada kemungkinan narapidana tersebut
berjumlah 162 orang, hampir sebelum masuk rumah tahanan
(50%) ditahan akibat kasus sudah memiliki latar belakang
narkoba dan 50% dengan berbagai perilaku berisiko terinfeksi HIV dari
kasus yang bukan narkoba, berbagai cara penularan. Apabila
narapidana/tahanan laki-laki 89% tindakan berisiko tersebut masih
dan perempuan 11%, dilakukan oleh narapidana/tahanan
narapidana/tahanan laki-laki di rumah tahanan Balige maka hal
hampir 50% dengan kasus ini dapat memicu terjadinya
narkoba yaitu perdagangan epidemi HIV/AIDS dirumah
narkoba dan pemakai narkoba. tahanan Balige Kabupaten Toba
Rutan Balige menampung Samosir. Berdasarkan uraian
narapidana yang akan disidangkan tersebut peneliti ingin menganalisa
untuk menentukan masa pengetahuan dan sikap narapidana

12
terhadap tindakan berisiko Negara Balige di Kabupaten Toba
HIV/AIDS di Rumah Tahanan Samosir.

Metode Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan Metode Pengumpulan Data
explanatory research dengan dengan Wawancara dan dengan
pendekatan cross sectional yang menggunakan kuesioner tertutup
bertujuan untuk mengetahui kepada seluruh responden
hubungan pengetahuan dan sikap Tehnik analisis yang
narapidana dengan tindakan risiko digunakan adalah : Univariat,
HIV/AIDS di Rumah Tahanan dilakukan untuk mendeskripsikan
Negara Balige Kabupaten Toba tiap variabel yang akan diteliti..
Samosir. Bivariat, dilakukan dengan
Populasi pada penelitian ini menggunakan uji Chi square
adalah seluruh penghuni rumah pada tingkat kepercayaan 95 %.
tahanan di Balige Kabupaten Toba Multivariat, dilakukan dengan
Samosir Tahun 2008, sebanyak menggunakan uji regresi linier
120 orang. Keseluruhan populasi ganda dengan tingkat kepercayaan
tersebut dijadikan responden atau 95%
merupakan sampel didalam
penelitian ini (total sampling).
Hasil dan Pembahasan

Setelah dilakukan penelitian Karakteristik narapidana


terhadap narapidana/tahanan di mayoritas : berumur 20-29 tahun
Rutan Balige,Kabupaten Toba (36%), jenis kelamin laki-laki
Samosir, maka didapatkan hasil (96%,) pendidikan SLTA (44,2%),
sebagai berikut. pekerjaan wiraswasta (47 %) dan
masa tahanan 1tahun (51,7%).

12
Pengetahuan narapidana / HIV melalui wadah/tempat air
tahanan tentang faktor-faktor bekas cuci spuit pada pemakai
risiko penularan, cara penularan suntik (72,5%) narapidana yang
HIV dan cara pencegahannya, menjawab salah. Penularan HIV
mayoritas kurang yaitu : 71 orang ( melalui hubungan seksual ( 54%)
59,2 % ). Hal ini dapat diketahui narapidana yang yang tidak tahu.
dari hasil jawaban responden Penularan HIV melalui hubungan
terhadap 10 pertanyaan yang telah seksual dengan sesama jenis
diajukan kepada (54%) narapidana yang tidak
narapidana,seperti berikut ini : mengetahuinya Mengurangi resiko
pemahaman responden tentang tertular HIV dengan tidak
penularan HIV melalui penggunaan melakukan hubungan seksual
suntik secara bergantian dan alat melalui anal/anus (54%) nara
suntik yang tidak steril dapat pidana yang tidak tahu.
menularkan HIV sebanyak 82,5 % Mengurangi resiko tertular HIV
menjawab dengan benar, tetapi dengan menggunakan kondom bila
ketika digali tentang penularan HIV berhubungan seks dengan bukan
melalui alat suntikan lainnya pasangan tetap(54%) yang
seperti membuat tatto yang sudah menjawab salah.
digunakan oleh orang lain 72% Sikap narapidana tentang
narapidan yang tidak tahu, resiko faktor-faktor risiko penularan / cara
tertular HIV melalui jarum tindik penularan HIV dan cara
bekas pakai orang lain 71% pencegahannya mayoritas yang
narapidana yang tidak kurang yaitu (45%). Berdasarkan
mengetahuinya, resiko tertular HIV hasil jawaban yang diperoleh dari
melalui pisau cukur bekas pakai masing-masing item pertanyaan
penderita HIV orang (67%) maka dapat diketahui gambaran
narapidana yang tidak sikap narapidana/ tahanan secara
mengetahuinya, dan resiko tertular menyeluruh tentang faktor-faktor

12
risiko/ cara penularan dan cara bekas pakai orang lain, setuju 73
pencegahan resiko penularan HIV orang (60,8%). Penggunaan pisau
di Rumah tahanan negara Balige cukur secara bergantian sesama
dapat dilihat sebagai berikut: teman, setuju : 74 orang (61,7%).
Penggunaan suntik secara Tindakan berisiko berisiko
bergantian sesama pengguna tinggi terhadap terjadinya infeksi
narkoba setuju sebanyak 62 %, HIV yang telah dilakukan
Mengurangi risiko penularan narapidana baik sebelum masuk
melalui jarum suntik bekas pakai rutan dan setelah masuk rutan ada
teman dengan menggunakan air (50,8 %).Hal ini dapat diketahui
bersih, setuju 67 orang ( 56,8%). berdasarkan tindakan berisiko HIV
Hubungan seks dengan bukan yang telah dilakukan sebelum
pasangan tetap setuju 63%, masuk rutan sebagai berikut :
Hubungan seks dengan membayar Melakukan hubungan seks dengan
sesorang, setuju 48 orang ( 40%). bukan pasangan tetap, sering
Hubungan seks dengan sesama (33,3%). Membayar seseorang
jenis setuju 56 orang (46,6%). untuk berhubungan seks,sering
Seseorang yang berhubungan (37,5%) Menggunakan kondom
seks dengan bukan pasangan bila berhubungan seks dengan
tetapnya, tidak diharuskan bukan pasangan tetap, tidak
memakai kondom ,setuju 48 orang pernah ( 40%). Melakukan seks
( 40 % ) Seseorang yang sudah dengan sesama jenis, sering
terinfeksi HIV sebaiknya (7,5%) dan pernah 4 orang (3,3%).
diasingkan /dijauhkan dari Menggunakan narkoba suntik,
keluarga atau dari masyarakat, pernah (10%), dan sering 6 orang
setuju 75 orang (61,7%). (5%). Menggunakan narkoba
Penggunaan alat tindik bekas suntik pakai alat secara bergantian,
pakai orang lain,setuju 67 orang sering: (6,6%) dan pernah
(55,8%). Penggunaan jarum tatto (1,66%). Membersihkan jarum

12
suntik dengan pemutih dengan sesama jenis, pernah:
(desinfektan), tidak pernah (19%) dan sering: (17%).
(80%).Menggunakan pisau cukur Menggunakan narkoba suntik,
secara bergantian, sering (67,5%) pernah : (3 %). Menggunakan
dan pernah(10%). Menggunakan narkoba suntik bersama teman
jarum tatto secara bergantian, secara begantian, pernah :
sering : (17,5%) dan pernah (2,5%).Membersihkan jarum suntik
(21,7%). Menggunakan jarum dengan menggunakan pemutih,
tindik secara bergantian, sering tidak pernah (3,25%).
(21,7%) dan pernah (17,5%). Menggunakan jarum tatto secara
Tindakan berisiko HIV yang bergantian bersama teman,pernah
telahdilakukan narapidana/tahanan (30%) dan sering orang
selama di dalam rutan, adalah (6,7%).Menggunakan pisau cukur
sebagai berikut : Melakukan secara bergantian sesama
hubungan seks dengan seseorang teman,pernah (11,7%) dan sering
yang bukan pasangan tetap, (80,8%).Menggunakan jarum tindik
pernah: (1,7%) dan sering : (1,7%). secara bergantian bersama
Menggunakan kondom bila teman,pernah : (24,2%) dan sering
berhubungan seks dengan yang (7,5%).
bukan pasangan tetap, pernah
(3,3%). Melakukan hubungan seks
Hasil analisis Bivariat : dengan tindakan berisiko HIV,
Hubungan Pengetahuan dengan nilai P = 0,020 (P < 0,05).
Narapidana / Tahanan dengan Nilai ini menunjukkan bahwa
Tindakan Berisiko HIV/ AIDS di narapidana yang mempunyai
Rutan Balige. tingkat pengetahuan yang kurang
Dari hasil uji Chi-Square tentang faktor risiko / cara
diperoleh hasil bahwa : Ada penularan dan cara pencegahan
hubungan tingkat pengetahuan HIV/AIDS akan lebih besar

12
melakukan tindakan berisiko tinggi rumah tahanan. Dari beberapa
HIV, sebaliknya bila narapidana yang diwawancarai
narapidana/tahanan memiliki menyebutkan bahwa hal yang tidak
pengetahuan yang baik maka mungkin bagi mereka untuk
narapidana/tahanan tersebut lebih menggunakan alat cukur sekali
kecil kemungkinan untuk pakai, selain itu menurut mereka
melakukan tindakan yang berisiko dengan menggunakan alat cukur
HIV/AIDS. tidak akan mungkin berisiko untuk
Pengetahuan yang rendah tertularnya virus HIV. Demikian
tentang cara penularan /faktor juga halnya tentang penggunaan
risiko HIV dan pencegahannya jarum tatto dan tindik,
ditunjukkan dengan tidak tahunya menunjukkan banyak pemahaman
narapidana/tahanan bahwa narapidana/tahanan yang kurang
hubungan seksual dengan sesama atau tidak mengetahui bahwa
jenis dapat menimbulkan melakukan tindik dan tatto dengan
penularan virus HIV. Hal ini menggunakan alat yang tidak steril
tentunya akan membawa risiko dapat beresiko untuk menularkan
penularan HIV. Pengetahuan HIV.
responden tentang penggunaan Hasil penelitian ini sama
alat cukur, secara bergantian juga dengan hasil penelitian Liliane
masih sangat kurang. Dari hasil (2001) yang dikutip oleh Isfandari
wawancara didapat bahwa (2005), di Lembaga
sebagian besar narapidana sering Pemasyarakatan Penfui, Kupang,
menggunaan alat cukur secara berdasarkan hasil survei yang telah
bersamaan, karena menurut dilakukan bahwa pengetahuan
mereka bagaimana mereka bisa narapidana tentang cara penularan
membeli alat cukur dan dan pencegahan terhadap PMS
menggunakan alat cukur sekali dan HIV relatif rendah sekitar 33 %
pakai kalau situasi mereka ada di menjawab dengan benar, mereka

12
juga memiliki perilaku beresiko tersebut lebih kecil kemungkinan
tinggi baik sebelum masuk ke untuk melakukan tindakan yang
Lapas maupun sesudah menjadi berisiko HIV/AIDS. Berdasarkan
penghuninya. Menurut Liliana pendapat tersebut dapat diketahui
bahwa di Lembaga bahwa kecenderungan sikap
Pemasyarakatan Penfui, Kupang responden yang kurang akan
akibat kurangnya pengetahuan memberi peluang besar terhadap
narapidana tentang penggunaan penularan HIV/AIDS di Rutan
jarum tatto, ada 50 % narapidana Balige. Dari Sikap
pernah membuat tatto selama narapidana/tahanan yang kurang
didalam rutan. tersebut terlihat masih
Hubungan Sikap narapidana dilakukannya beberapa tindakan
Terhadap Tindakan Beresiko berisiko HIV didalam rutan antara
HIV AIDS di Rutan Balige lain seperti yang diuraikan berikut
Hasil uji statistik juga didapat ini: Hubungan seksual sesama
bahwa: Ada hubungan sikap jenis untuk memuaskan kebutuhan
narapidana /tahanan dengan biologis beberapa narapidana.
tindakan berisiko HIV,dengan hasil Alasan yang disebutkan adalah
uji Chi Square yang diperoleh nilai karena situasi dan kondisi rutan
P = 0,011 (P < 0,05). Hal ini berarti yang memaksa perilaku itu
bahwa narapidana yang dilaksanakan mereka. Secara
mempunyai sikap yang kurang manusiawi menurut beberapa
tentang faktor risiko / cara responden kebutuhan biologis
penularan dan cara pencegahan secara naluriah tidak akan bisa
HIV/AIDS akan lebih besar ditolak untuk dialihkan ke kegiatan
melakukan tindakan beresiko tinggi lain. Dari hasil wawancara peneliti
HIV,sebaliknya bila narapidana / terhadap 5 informan bahwa ada 3
tahanan memiliki sikap yang baik orang yang pernah melakukan
maka narapidana/tahanan

12
hubungan seks sesama jenis di dan perilaku seseorang. Sikap
rutan Balige. positif seseorang terhadap
Sikap narapidana yang kesehatan kemungkinan tidak
ditunjukkan di atas didukung oleh otomatis berdampak pada perilaku
pendapat Thursonte yang dikutip seseorang menjadi positif, tetapi
Ahmadi (2002) yang menyatakan sikap yang negatif terhadap
bahwa sikap sebagai tindakan kesehatan hampir pasti berdampak
kecenderungan yang bersifat negatif pada perilakunya.
positif atau negatif yang Hal ini sesuai dengan hasil
berhubungan dengan objek penelitian Edy Suyanto (2000)
psikologi. Sikap positif yaitu sikap yang dikutip oleh Isfandari (2005)
yang menunjukan atau mengenai perilaku seksual
memperlihatkan, menerima, narapidana di Lembaga
mengakui, menyetujui serta Pemasyarakatan di Yogyakarta,
melaksanakan norma-norma yang yang mengatakan bahwa selama
berlaku dimana individu itu berada. menjalani pidana di penjara, para
Sedangkan sikap negatif adalah narapidana di lapas mengalami
sikap yang menunjukkan atau deprivasi termasuk deprivasi
memperlihatkan penolakan atau hubungan heteroseksual yang
tidak menyetujui terhadap norma- membuat mereka menderita,
norma yang berlaku dimana kemudian melakukan budaya
individu itu berada prisonisasi, diantaranya dalam
Hal ini sejalan dengan bentuk perbuatan homoseksual.
pendapat Niven (2002), sikap Bagi narapidana dan orang
seseorang adalah kompenen yang dewasa, kebutuhan seksual
sangat penting dalam perilaku merupakan kebutuhan biologis
kesehatannya, yang kemudian essensial yang tidak mungkin
diasumsikan bahwa adanya dihambat walaupun tidak ada
hubungan langsung antara sikap lawan jenis. Cara yang paling

12
sering dilakukan adalah melalui sama akan bertindak sama dalam
homoseksual. Dari 53 narapidana meringankan beban masing-
ada 49 orang (92%) napi menjadi masing.
homoseksual setelah menjalani
Sikap negatif narapidana
hukuman di lapas. Berbagai alasan
lainnya yang dapat menimbulkan
membuat mereka untuk
tindakan resiko HIV dalam
melakukannya, diantaranya untuk
penelitian ini adalah tentang
kebutuhan biologis,
pemakaian alat suntik narkoba,
psikologis,ekonomi dan rasa aman.
masih ditemukannya narapidana
Informasi yang diperoleh dari
yang menggunakan jarum suntik
informan menyebutkan bahwa
bergantian dalam pemakaian
banyak waktu yang terbuang
narkoba dan tidak membersihkan
karena aktifitas di rutan tidak
jarum suntik bekas pakai dengan
dimanfaatkan dengan kegiatan-
desifektan sebelum digunakan
kegiatan yang dapat menyibukan
yang lainnya. Dari hasil
para tahanan. Kondisi ini membuat
wawancara peneliti terhadap 5
waktu kumpul sesama narapidana
informan dan 120 responden
jadi semakin banyak dan waktu
lainnya, bahwa ada 6 orang yang
untuk berbagi cerita tentang
mengungkapkan pernah
kondisi mereka semakin banyak
melakukan suntik narkoba secara
pula. Menurut Atkinson (2004)
bergantian didalam rutan.
bahwa seseorang yang memiliki
Walupun angka tersebut kecil jika
situasi dan kondisi yang sama
dibandingkan dengan tindakan
dalam situasi yang sama pula akan
beresiko HIV lainnya, hal ini
cenderung mempunyai perilaku
menjadi pemicu resiko HIV
kearah yang sama pula.
diantara penghuni rutan tersebut
Berdasarkan teori ini maka dapat
karena semua narapidana/tahanan
diartikan bahwa para narapidana
tidak diketahui status HIV.
yang memiliki permasalahan yang

12
Hal ini sesuai menurut tindakan risiko terjadinya HIV (P <
pendapat Baby (2005) yang 0,05), tetapi variabel yang paling
mengatakan meskipun angka berpengaruh adalah tingkat
penyalahgunaan narkoba suntik di pengetahuan, hal ini ditandai
Lapas/Rutan lebih kecil dari dengan perbedaan besaran nilai
penyalahgunaan narkoba suntik signifikansi dan nilai beta pada
di masyarakat, namun hal ini tetap pengetahuan yaitu sebesar 0,308
sangat berbahaya. Hal ini (lebih besar dari nilai sikap ).
disebabkan karena langkanya
Pengaruh tingkat pengetahuan
peralatan setiap kali menyuntik,
dan sikap narapidana/tahanan
dan jarum yang sama biasanya
terhadap tindakan risiko HIV/AIDS
akan digunakan bersama dan
sebesar 81,4 %, sedangkan 17,6
bergantian. Hal tersebut sebagai
% dipengaruhi oleh faktor-faktor
faktor utama terjadinya kasus baru
lain. Hal ini berarti bahwa
HIV di dalam Lapas/Rutan.
pengetahuan dan sikap
Hasil Analisis Multivariat : narapidana/tahanan sangat
mempengaruhi narapidana /
Dari hasil uji regresi berganda
tahanan untuk melakukan tindakan
dapat diketahui bahwa tingkat
berisiko HIV dan sebagian
pengetahuan dan sikap
disebabkan faktor lainnya seperti

narapidana/tahanan secara sama- kondisi rumah tahanan, peran

sama berpengaruh terhadap petugas rutan dan petugas


kesehatan
Kesimpulan : Rumah tahanan negara (Rutan
1. Ada hubungan yang
Balige dimana nilai P = 0,020 ( P
bermakna antara pengetahuan
< 0,05 ).
dengan tindakan berisiko HIV di

12
2. Ada hubungan sikap terhadap tindakan berisiko

narapidana/tahanan dengan HIV sebesar 81,4%

tindakan berisiko HIV di sedangkan 17,6 %

dalam Rutan Balige, dimana dipengaruhi oleh faktor

nilai P = 0,011 ( P = 0,05). lain,dalam hal ini kondisi

3. Pengaruh tingkat rutan, peran petugas rutan

pengetahuan dan sikap dan peran petugas

narapidana/ tahanan kesehatan

8. Depkes,RI., 2006.Pedoman
Pelaksanaan Pengurangan Dampak
Buruk Narkotika, Psikotropika
Daftar Pustaka : Dan Zat Adiktif (NAPZA), Jakarta.
1. Ahmadi,Abu, 2002. Psikologi Sosial, 9. ................ 2006. Pedoman
Edisi Revisi,Cetakan kedua, Jakarta: Pelayanan Konseling dan Testing
Rineka Cipta HIV/AIDS secara sukarela
(Voluntary Counseling and Testing,
2. Azrul, Azwar., dan Joedo Prihartono.,
Jakarta, Dirjen P2 & PL
2003.Metodologi Penelitian
Kedokteran dan Kesehatan
10. ----------- 2003. Pedoman Advokasi
Masyarakat, Jakarta : Binarupa
Untuk Pencegahan HIV Yang Efektif
Aksara.
Pada Pengguna NAPZA
3. Arikunto.Suharsimi., 2005.
Suntik, Jakarta. Ditjen PPM & PL.
Manajemen penelitian, Jakarta :
11. Depertemen Hukum dan HAM, RI,
Rineka cipta
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan ,
4. Ahmad dan Emiyanty Sri, 2004.
2005. Strategi Penanggulangan
Langkah-langkah Strategi
Narkoba dan HIV/AIDS di dalam
Penanggulangan HIV/AIDS.
Rumah tahanan dan lembaga
5. Baby Jim.A, 2005,Ribuan Napi di
pemasyarakatan untuk tahun 2005-
penjara jakarta berisiko terinfeksi HIV,
2009, Jakarta.,
Jakarta, Suara Merdeka Cybernews
12. Isfandari, Siti, Sedyaningsih R.Endang
Nasional.
dan Mahamit, 2005.Kajian Penelitian
6. Chin James,2000, Manual
Sosial dan Perilaku yang berkaitan
pemberantasan Penyakit Menular,
dengan Infeksi menular Seksual,
editor penerjemah I Nyoman Kandun,
HIV/AIDS Di Indonesia, Jakarta: Dep
Edisi 17, Jakarta.
Kes RI bekerjasama dengan KPAN.
7. David J Cooke, 2008. Menyingkap
13. Maas T.Linda, 2004. Dukungan
Dunia Gelap Penjara, Jakarta,
Pelayanan Kesehatan , Psikologis Dan
Gramedia Pustaka Umum.

12
Sosial Bagi ODHA Di Untuk Perawat & Profesional
Sumatera Utara, Medan : KPNAD. Kesehatan,Edisi Kedua, Jakarta, EGC.
14. Notoatmojo Soekijo, 2007. Promosi 17. Shakarasvilli A,et al (2005), Sex
Kesehatan , &Ilmu perilaku , Jakarta: Worker,Drugs Use, HIV Infection and
Rineka Cipta. Speread Of Sexually Transmitted
15. -------------, 2003. Pendidikan dan Infection in Moscow, Rusian, Federation
Perilaku Kesehatan , Jakarta : Rineka the ancet,366
Cipta. 18. Stubblefield, Elisabeth dan Whol David,
16. Neil Niven, alih bahasa Agung Waluyo, 2001. HIV di Penjara Seluruh Dunia
2002, Psikologi Kesehatan Pengantar 19. UNAIDS / WHO, 2005. Info Terkini
Epidemi AIDS

12
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.