Anda di halaman 1dari 16

1.

Anatomi Mata
a. Embriologi Mata
Pembentukan mata merupakan proses yang sangat kompleks dimana
setiap tahap memerlukan koordinasi antar jaringan yang berkontribusi. 1
Perkembangan mata mulai tampak pada tahap embrio (22 hari setelah
ovulasi) sebagai sepasang lekukan dangkal pada sisi kanan dan kiri otak
depan. Lekukan ini selanjutnya menjadi vesikel optik.1,2,3
a)
Trimester Pertama
Perkembangan retina dimulai pada minggu keempat kehamilan
(gambar 1). Neuroretina, EPR (epitel pigmen retina/retinal pigment
epithelium) dan saraf optik berasal dari neuro-ektoderm. Vesikel optik mulai
mengalami invaginasi dan membentuk optic cup yang berdinding rangkap
segera setelah menempel pada ektoderm permukaan. Dua lapisan optic cup
merupakan calon retina, lapisan eksternal adalah calon EPR dan lapisan
internal adalah calon retina sensoris (sensoric retina). Invaginasi
memungkinkan penyebaran akson sel ganglion pertama retina untuk
menembus tangkai optik dan memungkinkan penyempitan rongga vesikel
optik untuk menjadi ruang potensial subretinal (gambar 2).1,2,3,4,5
Perkembangan EPR terlihat pada minggu kelima dan terdiri dari dua
atau tiga lapis sel kolumnar, yang kemudian akan menipis pada minggu
keenam sampai memiliki ketebalan satu sel. EPR memanjang secara
posterior sebagai lapisan luar dari sel tangkai optik pada minggu ketujuh,
dan minggu kedelapan mengalami maturasi. Calon retina sensoris terdiri
dari lapisan luar inti (zona proliferasi atau zona germinativum) dan zona
marginal yang tidak berinti (anuclear marginal zone) saat minggu kelima,
dan kemudian akan menebal pada minggu keenam. Sel germinativum
berproliferasi pada zona inti dan bermigrasi ke zona marginal pada minggu
ketujuh, proses ini membentuk lapisan neuroblastik interna dan eksterna
(inner and outer neuroblastic layer), dipisahkan oleh prosesus yang
membentuk lapisan serat transien Chievitz. Sel ganglion dan sel Mller
mulai bermigrasi ke arah dalam pada lapisan neuroblastik interna. Akson sel
ganglion akan mulai menembus tangkai optik pada minggu kedelapan,
akson ini merupakan awal dari lapisan serat saraf (nerve fiber layer). Sel
Mller membentuk serat radial dalam (inner radial fibers) yang memanjang
ke membrana limitans interna (internal limiting membrane) pada saat yang
bersamaan. Calon astroglia retina yang merupakan glioblas retina yang
bermigrasi, menyusun diri sepanjang akson-akson menuju membrana
limitans interna.2,3,5,6
Proliferasi retina dimulai dari zona inti luar dan berlangsung ke arah
dalam pada bulan ketiga, sementara diferensiasi berlangsung dari lapisan
dalam menuju ke luar. Sel ganglion interna merupakan sel pertama yang
berdiferensiasi dan fotoreseptor eksterna adalah sel terakhir yang
berdiferensiasi. Sel ganglion pertama diikuti sel Mller akan bermigrasi ke
arah dalam dan membentuk lapisan yang terpisah pada lapisan neuroblastik
interna, kemudian membentuk lapisan pleksiform interna (inner plexiform
layer). Sel Mller menempel pada membrana limitans eksterna dan interna
retina. Diferensiasi juga dimulai dari polus posterior dan berlangsung secara
bertahap ke arah perifer. Calon sel horizontal dan sel bipolar bermigrasi ke
arah dalam dan menyumbat lapisan Chievitz pada lapisan neuroblastik
eksterna, kemudian membentuk lapisan pleksiform eksterna (external
plexiform layer).2,5
b) Trimester Kedua
Semua pendukung utama retina seperti fotoreseptor, lapisan
plaksiform eksterna, lapisan inti dalam, lapisan pleksiform interna, lapisan
sel ganglion, lapisan serat saraf, dan membrana limitans interna telah
muncul saat trimester kedua. Fovea putatif muncul pada bagian posterior
zona inti luar. Sel Mller mulai bermaturasi dan memproduksi asam
hialuronat. Apoptosis menyebabkan penurunan jumlah sel ganglion dan
akson-aksonnya di saraf optik, proses ini lebih besar pada bagian perifer,
menyebabkan distribusi sentrifugal sel ganglion pada retina fetal. Makula
muncul sebagai daerah tonjolan dengan lapisan sel ganglion yang menebal.
Sel horizontal lebih terlihat jelas dan tersusun dalam satu baris yang
ireguler. Sel amakrin terletak pada posisi yang sudah pasti pada lapisan
dalam retina.2,6
Gambar 1. Perkembangan mata minggu ke-4 sampai minggu ke-5.5

Sel bagian luar dari lapisan neuroblastik eksterna yaitu calon


fotoreseptor, mulai berdiferensiasi dan akan bertambah jelas pada bulan
kelima. Plasma membran fotoreseptor membentuk lekukan. Diferensiasi
fotoreseptor terjadi paling banyak pada fotoreseptor kerucut saat bulan
keenam, ketika inti sel kerucut tersusun dalam baris yang dekat dengan
membran limitans eksterna dan inti sel batang terletak lebih dalam. Segmen
luar dan dalam serta pedikel kerucut primitif mulai terlihat. 2,6 Proses penting
dari tahap ini adalah munculnya vaskularisasi retina yang berlangsung
secara cepat. Kapiler yang baru terbentuk memanjang ke arah perifer
kemudian membentuk arteri dan vena. Sel yang melakukan kontak langsung
dengan aliran darah menjadi sel endotel dan yang mengelilinginya menjadi
perisit pada kapiler.2,6

Gambar. 2 Perkembangan mata minggu ke-6 dan minggu ke-8.5

Kanalis arteri dan vena mulai terbentuk, sementara beberapa cabang


mengalami retraksi dan atrofi, membentuk zona perivaskular bebas kapiler;
hal ini disebut dengan remodeling retina. Maturasi retina mendahului
pertumbuhan pembuluh darah. Pleksus kapiler interna terbentuk lebih awal
diikuti oleh pleksus kapiler dalam.2,6 Proses maturasi dimulai dari polus
posterior dan berlangsung menuju bagian perifer dengan kecepatan yang
sama dengan vaskularisasi retina. Proses lain yang terjadi saat trimester
kedua ini adalah munculnya physiological cup, ora serrata, ruang subretina
saat usia kehamilan lima bulan, dan masih terdapatnya sisa dari lapisan
Chievitz.2,6
c) Trimester Ketiga
Diferensiasi fotoreseptor batang terlihat saat bulan ketujuh. Struktur
tubular tersusun sebagai kantung lamelar dan mitokondria terkumpul pada
elipsoid pada saat ini. Ujung fotoreseptor berdiferensiasi dan membentuk
vesikel sinaps (synaptic vesicles) dan pita sinaps (synaptic ribbons). Makula
masih terlihat menonjol pada tahap ini dan perkembangan fovea berlanjut di
makula. Pembentukan celah fovea (foveal pit), lekuk fovea (foveal slope),
serta migrasi fotoreseptor ke arah dalam merupakan hasil migrasi sel
ganglion ke arah luar. Fotoreseptor dan sel EPR yang dekat dengan
fotoreseptor mengalami proses migrasi sentripetal. Makula dikelilingi oleh
kapiler yang tidak berproliferasi ke arah sentral sehingga fovea menjadi
daerah yang avaskular.2
Vaskularisasi retina berlanjut ke arah perifer namun tidak memanjang
ke ora serrata, sehingga pada saat ini zona avaskular retina tetap berada di
perifer. Bagian perifer vaskularisasi retina yang berkembang tersusun dari
sel mesenkim yang berbentuk kumparan, disebut juga dengan the vanguard
of vasoformative tissue. Sel endotel berproliferasi di bagian belakang
vanguard dan membentuk lingkaran (loops). Kapiler sudah berkembang
secara normal di dalam lapisan serabut saraf pada tahap yang sudah
berdiferensiasi penuh, sementara pada tahap ini sel endotel akan memiliki
beberapa taut longgar (gap junctions). Jumlah taut longgar akan bertambah
dan dapat bertindak sebagai sawar untuk perkembangan kapiler intraretinal
lebih lanjut saat sel endotel mengalami aktivasi.2
Fotoreseptor serta daerah subretinal tampak memanjang hingga ora
serrata saat bulan kedelapan kehamilan. Perkembangan vaskular retina pada
bagian perifer nasal secara umum sudah lengkap pada usia ini. Jumlah sel
ganglion bertambah sedikit, namun tetap lebih tebal di posterior dan
perifoveal dimana sel ganglion perifer menjadi lebih jarang.2,6,7,8 Retina
sudah berdiferensiasi dengan baik pada bulan kehamilan kesembilan yang
ditandai dengan maturasi sel EPR dan fotoreseptor. Pigmentasi makular
terjadi saat minggu ke 34-35 kehamilan dan menghasilkan penampakan
merah gelap yang berbeda dari retina sekitarnya. Hal ini disebabkan karena
perubahan histologis pada sel EPR di daerah makula. Refleks perimacular
annular muncul pada minggu ke-34-36 kehamilan, berbentuk sirkular
mengelilingi pusat fovea dengan diameter sekitar 1,5 mm. Refleks ini
disebabkan karena perubahan histologis pada lapisan sel ganglion retina,
ketika sel ganglion, sel amakrin, sel bipolar, sel Mller, dan sel horizontal
berpindah dari fovea. Refleks fovea merupakan temuan oftalmoskopis
terakhir pada bayi matur, umumnya dapat terlihat pada minggu ke-37
kehamilan dan menjadi matur pada minggu ke-42 kehamilan. Hal ini
berhubungan dengan penipisan lapisan inti dalam dan luar fovea, yang
menghasilkan cekungan pada bagian tengah makula. Makula mungkin
tampak matur pada minggu ke-42 kehamilan, namun maturitas histologis
tidak terlihat sampai masa kanak-kanak.2,8 Pembuluh darah retina berlanjut
ke ora serrata bagian temporal pada usia gestasi 40 minggu dan akan
berkembang lengkap sampai beberapa minggu setelah lahir. Jauh di dalam
retina, kapiler mencapai lapisan inti dalam dan membentuk jaring kapiler
eksternal, yang dengan sendirinya tidak mencapai ekuator.2,8
Daftar pustaka:
1) Reh TA, Moshiri A. The development of the retina. In: Ryan SJ, editor.
Retina. 4th ed. Philadelphia: Elsevier Mosby; 2006. p. 3-21
2) Barishak YR, Spierer A. Embryology of the retina and developmental
disorders. In: Hartnett ME, editor. Pediatric retina. 1st ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins; 2005. p. 3-12.
3) Sadler TW. Mata. In: Sadler TW, editor. Embriologi kedokteran langman.
12th ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2014. p. 358-61.
4) Moore KL, Persaud TVN. The eye and ear. In: Moore KL, Persaud TVN,
editors. The developing humanclinically oriented embryology. 10th ed.
Philadelphia: Saunders; 2015. p. 466-76.
5) Forrester JV, Dick AD, McMenamin PG, Lee WR. Embryology and early
development of the eye and adnexa. In: Forrester JV, Dick AD,
McMenamin PG, Lee WR, editors. The eye basic science in practice. 2nd
ed. Edinburgh: W.B. Saunders; 2010. p. 99-129.
6) Cook C, Sulik KK, Wright KW. Embryology. In: Wright KW, Spiegel PH,
editors. Pediatric ophthalmology and strabismus. 2nd ed. New York:
Springer; 2010. p. 3-38.
7) American Academy Of Ophthalmology. Growth and development of the
eye. In: American Academy Of Ophthalmology, editor. Pediatric
ophthalmology and strabismus. 1st ed. San Francisco: American Academy
of Ophthalmology; 2010-2011. p. 167-72.
8) Eustis HS, Guthrie ME. Postnatal development. In: Wright KW, Spiegel
PH, editors. Pediatric ophthalmology and strabismus. 2nd ed. New York:
Springer; 2009. p. 39-53.
2. Fisiologi Mata
a. Penglihatan Warna
Mata mempunyai fungsi utama untuk memfokuskan berkas cahaya
dari lingkungan ke sel fotoreseptor retina, yaitu sel batang dan sel kerucut.
Fotoreseptor kemudian mengubah energi cahaya menjadi sinyal listrik untuk
ditransmisikan ke sistem saraf pusat.1
Pada gambar 3 jelas terlihat bagian saraf retina yang terdiri dari tiga
lapisan sel yang peka rangsang :
1. Lapisan paling luar (paling dekat dengan koroid) yang mengandung sel
batang dan sel kerucut,
2. Lapisan tengah sel bipolar,
3. Lapisan dalam sel ganglion. Akson-akson sel ganglion menyatu
membentuk saraf optik, yang keluar dari retina tidak tepat di bagian
tengah. Titik di retina tempat saraf optik keluar dan pembuluh darah
berjalan disebut diskus optikus.1
Gambar 3. Anatomi Retina.1
Bila sel batang ataupun sel kerucut terangsang, sinyal akan dijalarkan
melewati lapisan ganglion dan bipolar sebelum mencapai fotoreseptor di
semua bagian retina kecuali di fovea. Di fovea, yaitu cekungan yang terletak
tepat di tengah retina, lapisan ganglion dan bipolar tersisih ke tepi sehingga
cahaya langsung mengenai fotoreseptor.1 Fovea terutama berfungsi untuk
penglihatan cepat dan rinci. Fovea sentralis dengan diameter hanya 0,3
milimeter, hampir seluruhnya terdiri atas sel-sel kerucut. 2 Foveola adalah
bagian paling tengah pada fovea, di sini fotoreseptornya adalah sel kerucut,
dan bagian retina paling tipis.3 Daerah tepat di sekitar fovea, makula lutea
juga memiliki konsentrasi sel kerucut yang tinggi dan ketajaman lumayan.
Namun, ketajaman makula lebih rendah daripada fovea, karena ada lapisan
sel ganglion dan bipolar di atasnya. Fotoreseptor (sel batang dan sel
kerucut) terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Segmen luar (paling dekat dengan koroid), bagian ini mendeteksi
rangsangan cahaya. Segmen ini, berbentuk batang pada sel batang dan
kerucut pada sel kerucut,
2. Segmen dalam, yang terletak di bagian tengah fotoresetor. Bagian ini
mengandung perangkat metabolik sel,
3. Terminal sinaps, yang terletak paling dekat dengan bagian interior mata,
menghadap ke sel bipolar. Bagian ini menyalurkan sinyal yang
dihasilkan fotoreseptor karena stimulasi cahaya ke sel-sel selanjutnya di
jalur penglihatan.1
Segmen luar terdiri dari tumpukan lempeng-lempeng membranosa
gepeng yang mengandung banyak molekul fotopigmen peka cahaya.
Fotopigmen mengalami perubahan kimiawi ketika diaktifkan oleh sinar.
Perubahan yang dipicu oleh cahaya dan pengaktifkan fotopigmen ini
melalui serangkaian tahap menyebabkan terbentuknya potensial reseptor
yang akhirnya menghasilkan potensial aksi. Potensial aksi menyalurkan
informasi ini ke otak untuk pemprosesan visual. Fotopigmen terdiri dari dua
komponen:1
1. Opsin yang merupakan suatu protein,
2. Retinen, suatu turunan vitamin A yang terikat di bagian dalam molekul
opsin. Retinen adalah bagian fotopigmen yang menyerap cahaya
Terdapat empat fotopigmen berbeda, satu di sel batang dan masing-
masing satu di ketiga jenis sel kerucut. Keempat fotopigmen ini menyerap
panjang gelombang sinar yang berbeda-beda.1 Bahan kimia yang peka
cahaya dalam sel batang disebut rodopsin; tiga bahan kimia peka cahaya
dalam sel kerucut, disebut pigmen warna merah, hijau dan biru, mempunyai
komposisi sedikit berbeda dari rodopsin.2
Substansi rodopsin pada sel batang merupakan kombinasi dari protein
skotopsin dengan pigmen karotenoid retinal. Retinal tersebut merupakan
bentuk tipe khusus yang disebut 11-cis retinal. Bentuk cis retinal adalah
bentuk yang penting sebab hanya bentuk ini saja yang dapat berikatan
dengan skotopsin agar dapat bersintesis menjadi rodopsin. Prinsip-prinsip
fotokimiawi pada siklus penglihatan rodopsin dan penguraiannya oleh
energi cahaya (gambar 4 ), yang sama pula dapat diterapkan pada pigmen
sel kerucut.2

Gambar. 4 Siklus Penglihatan Rodopsin-Retina Pada Sel Batang.2

Retina mengandung sel batang 30 kali lebih banyak daripada sel


kerucut (100 juta sel batang dibandingkan 3 juta sel kerucut per mata). Sel
kerucut lebih banyak di makula lutea pada bagian tengah retina. Dari titik
ini keluar, konsentrasi sel kerucut berkurang dan konsentrasi sel batang
meningkat. Sel batang paling banyak di perifer. Perbedaan antara sel batang
dan sel kerucut adalah sel kerucut memberi penglihatan warna sedangkan
sel batang memberi penglihatan hanya dalam bayangan abu-abu. Sel kerucut
memiliki sensitivitas rendah terhadap cahaya, dinyalakan hanya oleh sinar
terang siang hari, tetapi sel ini memiliki ketajaman (kemampuan
membedakan titik yang berdekatan) tinggi. Manusia menggunakan sel
kerucut untuk penglihatan siang hari, yang berwarna dan tajam. Sel batang
memiliki ketajaman rendah tetapi sensitivitasnya tinggi sehingga sel ini
berespons terhadap sinar temaram malam hari.1
Sel kerucut pada retina merupakan komponen penting untuk melihat
warna. Setiap jenis sel kerucut sensitif terhadap panjang gelombang yang
berbeda. Pada sel kerucut mata orang yang normal memiliki tiga jenis
pigmen yang dapat membedakan warna. Ketiga macam pigmen tersebut
sensitif terhadap cahaya. Penglihatan warna yang normal pada manusia ini
disebut juga dengan trikromatik. Sifat absorbsi dari pigmen yang terdapat di
dalam ketiga macam sel kerucut itu menunjukkan bahwa puncak absorbsi
pada gelombang cahaya berturut-turut sebagai berikut :4
a) 420 nm: sel kerucut biru atau "S" kerucut untuk panjang gelombang
pendek (short-wavelength light),

b) 530 nm: sel kerucut hijau atau "M" kerucut untuk panjang gelombang
menengah (middle-wavelength light),

c) 560 nm: merah kerucut atau " L" kerucut untuk gelombang panjang
(long-wavelength light)

Penglihatan warna, presepsi berbagai warna, bergantung pada


berbagai rasio stimulasi ketiga tipe sel kerucut terhdap bermacam-macam
panjang gelombang tertentu dari sinar yang sampai ke fotoreseptor retina.
Panjang gelombang ini juga merupakan panjang gelombang untuk puncak
sensitivitas cahaya untuk setiap tipe sel kerucut, yang dapat mulai
digunakan untuk menjelaskan bagaimana retina dapat membedakan warna.
Misalnya panjang gelombang yang terlihat sebagai biru tidak merangsang
sel kerucut merah atau hijau sama sekali tetapi merangsang sel kerucut biru
secara maksimal.4
Gambar 5. Spektrum penyerapan cahaya yang relatif terjadi pada tiga
kelas photopigment kerucut manusia pada penglihatan
warna yang normal (trikromatik). b. Penyerapan cahaya
relatif digambarkan terhadap panjang gelombang dalam
nanometer (nm).4

Bila panjang gelombang elektromagnetik yang diterima terletak di


antara kedua pigmen sel kerucut, maka akan terjadi penggabungan warna.
Masukan-masukan warna tersebut di kombinasikan dan diproses pada pusat
penglihatan warna di korteks penglihatan primer pada otak dan inilah yang
akan menghasilkan presepsi warna.5

Daftar pustaka:

1. Sherwood L. Fundamentals of Human Physiology 4th Ed. Belmont, CA:


Brooks/Cole Cengage Learning; 2012.
2. Guyton A, Hall J. Fisiologi Kedokteran. 11th ed. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2010
3. Riordan paul-eva. Anatomi dan Embriologi Mata. Dalam : Vaughan &
Asbury Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta : EGC. 2010
4. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rooks Textbook of
Dermatology, 4 Volume Set. 8 edition. Chichester, West Sussex, UK ;
Hoboken, NJ: Wiley-Blackwell; 2010. 4432 p.
5. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2009.
3. Aspek biokimia mata
a. Pengaruh radikal bebas terhadap mata dan peranan antioksidan?
Antioksidan merupakan merupakan senyawa kimia dengan kadar
tertentu yang mampu untuk menghambat atau memperlambat kerusakan
lemak dan minyak akibat proses oksidasi pada molekul yang berasal dari
dalam tubuh kita maupun dari asupan makanan. Di dalam tubuh antioksidan
mampu menetralisir radikal bebas dengan cara memberikan satu elektronnya
sehingga terbentuk molekul stabil dan mampu mengakhiri reaksi radikal
bebas.
Secara umum fungsi antioksidan adalah untuk menghambat oksidasi
atau menghentikan reaksi berantai pada radikal bebas terdapat 4 macam
mekanisme dari antioksidan yaitu :
1. Pelepasan hidrogen dari antioksidan
2. Pelepasan elektron dari antioksidan
3. Addisi asam lemak ke cincin aromatik pada antioksidan
4. Pembentukan senyawa komplek antara lemak dan cicin aromatik dari
antioksida
Berdasarkan perannya antioksidan diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Antioksidan berperan sebagai pencegah radikal bebas
Dengan mencegah pembentukan radikal bebas melaliu penguraian
senyawa non radikal seperti H2O2 (katalase, glutation peroksida) dan
mencegah O2 yang aktif (superoxida dismutase, carotenoid).
2. Antioksidan berperan sebagai pemusnah radikal
Untuk menghalang rantai initiation dan menghancurkan rantai
propagation. Contoh : vitamin A, vitamin E, ubiquinol, carotenoid yang
bersifat lipofilik sedangkan hipofilik uric acid, asam askorbat, albumin
dan bilirubin.
3. Antioksidan sebagai senyawa perbaikan jaringan
Memperbaiki membran jaringan yang rusak. Seperti DNA repair
enzymes, protease, transferase dan lipase. Empat tingkat pertahanan
antioksidan dalam melindungi tubuh yaitu :
a. Antioksidan menjaga tubuh dari pembentukan radikal bebas yang
dapat menyebabkan kondisi tubuh menurun dan menjadi lemah
b. Antioksidan membersihkan puing-puing dan toksin yang dihasilkan
oleh kerusakan radikal bebas dan mampu memperbaikinya.
SUMBER:
1. Puri D. Textbook of Medical Biochemistry 3rd Ed. Delhi: Elsevier; 2011.
5. Bagaimana proses mata melihat suatu objek
Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada
retina dan menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika
dilatasi maksimal, pupil dapat dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih
banyak dibandingkan ketika sedang konstriksi maksimal. Diameter pupil ini
sendiri diatur oleh dua elemen kontraktil pada iris yaitu papillary
constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan papillary dilator yang
terdiri dari sel-sel epitelial kontraktil yang telah termodifikasi. Sel-sel
tersebut dikenal juga sebagai sel mioepithelial. 1,2
Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel ini berkontraksi dan
melebarkan pupil sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki mata.
Kontraksi dan dilatasi pupil terjadi pada kondisi dimana intensitas cahaya
berubah dan ketika kita memindahkan arah pandangan kita ke benda atau
objek yang dekat atau jauh. Pada tahap selanjutnya, setelah cahaya
memasuki mata, pembentukan bayangan pada retina bergantung pada
kemampuan refraksi mata. 1,2
Beberapa media refraksi mata yaitu kornea (n=1.38), aqueous humor
(n=1.33), dan lensa (n=1.40). Kornea merefraksi cahaya lebih banyak
dibandingkan lensa. Lensa hanya berfungsi untuk menajamkan bayangan
yang ditangkap saat mata terfokus pada benda yang dekat dan jauh. Setelah
cahaya mengalami refraksi, melewati pupil dan mencapai retina, tahap
terakhir dalam proses visual adalah perubahan energi cahaya menjadi aksi
potensial yang dapat diteruskan ke korteks serebri. Proses perubahan ini
terjadi pada retina. 1,2
Retina memiliki dua komponen utama yakni pigmented retina dan
sensor retina. Pada pigmented retina, terdapat selapis sel-sel yang berisi
pigmen melanin yang bersama-sama dengan pigmen pada koroid
membentuk suatu matriks hitam yang mempertajam penglihatan dengan
mengurangi penyebaran cahaya dan mengisolasi fotoreseptor-fotoreseptor
yang ada. Pada sensory retina, terdapat tiga lapis neuron yaitu lapisan
fotoreseptor, bipolar dan ganglionik. Badan sel dari setiap neuron ini
dipisahkan oleh lapisan pleksiform dimana neuron dari berbagai lapisan
bersatu. Lapisan pleksiform luar berada diantara lapisan sel bipolar dan
ganglionik sedangkan lapisan pleksiformis dalam terletak diantara lapisan
sel bipolar dan ganglionik. 1,2
Setelah aksi potensial dibentuk pada lapisan sensori retina, sinyal yang
terbentuk akan diteruskan ke nervus optikus, optik kiasma, traktus optikus,
lateral geniculate dari thalamus, superior colliculi, dan korteks serebri.1,2

Gambar. 6 Gambaran jaras penglihatan1,2

DAFTAR PUSTAKA
1. Hall, John E, and Arthur C. Guyton. Guyton and Hall Textbook of Medical
Physiology 12th Ed. Philadelphia, Pa: Saunders/Elsevier; 2011.
2. Sherwood L. Fundamentals of Human Physiology 4th Ed. Belmont, CA:
Brooks/Cole Cengage Learning; 2012.