Anda di halaman 1dari 3

PARADIGMA MAHASISWA:

Keropos & Hanya Mitos Belaka


Posisi Mahasiswa
Ada dua kelas yang berhadapan muka dalam kondisi tak terdamaikan di tengah masyarakat modern:
kelas buruh dan kelas kapitalis. Kelas buruh tidak memiliki hak apapun atas alat-alat produksi dan, dengan
demikian, harus menjual satu-satunya yang ada padanya, tenaga untuk bekerja, kepada kelas kapitalis, yang
memiliki seluruh alat produksi yang ada. Selain kedua kelas itu, terdapat pula kelas pekerja yang lain, yang
belum sepenuhnya kehilangan hak milik atas alat produksi, tapi juga tetap harus membanting tulang untuk
penghidupannya: kelas petani, pedagang kecil dan artisan.
Di manakah posisi mahasiswa dalam susunan kelas dalam masyarakat modern ini? Di satu pihak,
mahasiswa tidak bekerja. Ia sepenuhnya hidup dari keringat orang lain, dalam bentuk uang kiriman dari orang
tua. Di pihak lain, ia juga tidak memegang hak atas alat-alat produksi di mana ia dapat melakukan pemerasan
secara langsung terhadap keringat orang lain. Maka, "mahasiswa" bukanlah sebuah "kelas". Ia hanyalah sebuah
"sektor", di mana tergabung anak-anak dari orang tua yang berasal dari berbagai kelas. Posisi kelas mahasiswa
belum ditentukan karena mereka belum memasuki kehidupan ekonomi yang sesungguhnya: proses produksi.
(Ken Budha Kusumandaru)
Posisi mahasiswa merupakan sebagai sub pokok yang terkandung didalam PSM (paradigma sosial
mahasiswa).Kata paradigma sosial merupakan suatu acuan berpikir yang diikuti dengan kerja-kerja dalam
memahami realita. Kaitannya dengan sosial merupakan suatu kemampuan mahasiswa dalam melihat realita
yang ada pada masyarakat secara keseluruhan sehingga melahirkan kerja yang jelas. Pendapat ini sangat
normatif dan cukup signifikan ketika pendapat tersebut disesuaikan dengan opini masyarakat, namun yang
terpenting arti mahasiswa disini dinamika kehidupan masyarakat yang ikut mewarnai corak kehidupan
didalamnya, karena ia berasal dari masyarakat dan kembali ke massa rakyat. jadi paradigma sosial mahasiswa
diartikan sebagai sebuah kerangka berpikir yang dimiliki oleh seorang mahasiswa sehingga mampu melihat
realitas sosial yang ada secara keseluruhan melalui kerja-kerja yang mengarah kepada perubahan untuk
menciptakan suatu tatanan yang adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi, demokrasi secara politik dan
partisipatif secara budaya.
Memahami peran dan posisi sebagai mahasiswa merupakan langkah awal yang harus dipahami oleh
seorang mahasiswa, mengingat posisi mahasiswa di mata masyarakat yang merupakan kelas menengah yang
masih diuntungkan baik secara ekonomi maupun politik. Namun ada hal yang mendasar yang menyebabkan
mahasiswa memiliki posisi mahasiswa di mata masa rakyat, dikarenakan mahasiswa secara langsung belum
terkooptasi dengan kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik. Dalam artian bahwa secara ekonomis
mahasiswa tidak terlibat langsung dalam proses produksi dan secara politik, mahasiswa belum terkooptasi
(terpengaruh) oleh kepentingan-kepentingan politik manapun. Inilah yang kemudian menyebabkan mahasiswa
memiliki posisi tawar (bargaining position) yang cukup bagus di mata rakyat, sehingga hal tersebut dianggap
sesuatu yang strategis.
Sedangkan peran mahasiswa sendiri sebetulnya dapat dikategorikan menjadi dua. Diantaranya
mahasiswa mampu memerankan dirinya sebagai agent of change dan agent of control. Agent of change
maksudnya adalah mahasiswa selalu menjadi pelopor dalam setiap gerak perubahan kearah yang lebih baik
termasuk dalam persoalan negara. Sementara peran mahasiswa sebagai agent of control berkaitan dengan
kemampuan mahasiswa dalam mengontrol kebijakan yang ditelurkan oleh penguasa. Apakah kebijakan
tersebut berpihak kepada masyarakat atau tidak, sehingga orientasi perubahan dapat diawasi setiap saat.
Persoalannya apakah kita sebagai mahasiswa sudah memahami peran dan posisinya, dan
pertanyaan tersebut tentunya ada dua jawaban yang muncul kepermukaan antara ya dan tidak. Akan tetapi
jawaban tersebut tidak penting untuk diperdebatkan, karena persoalan sudah dipahami atau tidaknya akan
peran dan posisi mahasiswa tanpa implementasi ke dalam sebuah sikap maupun gerak, sama halnya bahwa
peran sebagai agent of change dan agent of control hanyalah mitos belaka.

Semangat mahasiswa
Bila kita meniti kembali sejarah pada zaman pra kemerdekaan pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia
sangat gigih dan siap merelakan segala kepentingan pribadinya demi sebuah kemerdekaan dan terlepas dari
belenggu penjajah. Kaum muda jaman dulu seperti Soekarno, Bung hatta, Soetomo, Tan malaka dan lainnya
yang siap merelakan jiwa dan raganya, dan rela digiring dari penjara ke penjara, dari daerah yang satu ke daerah
yang lain. Itu semua demi memperoleh kemerdekaan bangsa dari kaum imperialisme. Dengan semangat
patriotismenya mereka siap mengangkat senjata dan berani meneriakkan Hidoep atoe mati.
Sudah 61 tahun kita menyatakan kemerdekaan dari penjajahan fisik, tapi kemerdekaan yang
sesungguhnya belum tercipta, karena telah lahir model imperialisme modern, yang lebih menindas dan
menghisap kaum yang lemah. Kemudian dari waktu ke waktu peran mahasiswa sekarang semakin menipis
dalam memandang realitas sosial. Kemana semangat juang yang telah diwariskan oleh pejuang kita dulu?
Seiring bergeraknya waktu, semangat-semangat perjuangan itu kian hari kian terkeropos, yang lebih
parah pasca peristiwa reformasi 1998 dan sampai sekarang. Entah kenapa? Apakah karena generasi mudanya
yang melupakan sejarah?, ataukah ada faktor lain yang memotori? atau mahasiswa sudah berpikir bahwa itu
sudah tidak perlu diperjuangkan lagi? atau mungkin sudah terbuai dengan janji-janji akademis atau nasibnya
dihari kemudian, yaitu orientasi kerja?. Padahal, di negeri yang katanya sudah tidak lagi terjajah ini,
penindasan terhadap para petani, buruh, dan kaum miskin kota terus berlangsung. Penangkapan anak jalanan
masih kerap dilakukan, untuk menyembunyikan identitasnya bahwa bangsa ini realitasnya penuh dengan anak
jalanan yang putus sekolah dan bosan dengan kondisi sekolah atau bosan dengan dunia pendidikannya.
Tergusurnya kaum miskin kota tetap jadi langganan pengisi space media massa. Dalam skala yang lebih luas,
pengerukan kekayaan negara oleh pemilik modal dan penguasa dan pemegang kekuasaan masih terus
berlangsung. Utang luar negeri semakin menumpuk, perekonomian rakyat semakin hancur dengan hadirnya
pasar bebas, dan pendidikan rakyat semakin tak terjangkau.
Apakah Penjajahan telah berakhir? siapa bilang sudah berakhir, Fakta ketimpangan diatas apa tidak
termasuk penjajahan baru di era yang diklaim sudah merdeka ini? model penjajahan itu bisa berupa apa saja.
Tidak hanya penjajahan satu bangsa terhadap bangsa lainnya, namun setiap bentuk penindasan satu individu
atau kelompok tertentu terhadap yang lainnya (bahkan penjajahan laten) juga termasuk kategori penjajahan.Ini
didasarkan pada dampak dari penindasan tersebut.
Melihat realitas seperti ini apa yang telah kita (mahasiswa) lakukan? tidak adakan? kita sudah asyik
dan terbuai dengan urusan masing-masing, and tak mau ambil pusing
Masyarakat awam, dengan ketidak berdayaannya hanya bisa berharap akan datang suatu keajaiban
yaitu lahirnya manusia setengah dewa, seperti katanya Iwan Fals, yang kan memberantas ketertindasan yang
menimpa mereka kaum marginal (rakyat yang terpinggirkan). Bukan pada golongan masyarakat tertindas oleh
sistem, tukang batu, supir angkot, tukang sayur, kusir Cidomo, buruh-buruh tani dan buruh pabrik, atau penjual
kaki lima harapan itu ditambatkan. Akan tetapi itu semua dinabatkan kepada segenap penghuni bangsa yang
tergolong dalam kelas elit politik dan, kaum intelektual intelektual-cendekia.Ternyata kenyataannya harapan itu
hanya tinggal harapan, hanya ini yang bisa dikatakan dengan kondisi yang ada. Harapannya yang besar pada
elit politik ternyata tidak menuai hasil. Pemerintah lebih mementingkan kepentingan para pemilik modal
ketimbang nasib jutaan rakyatnya yang berada digaris kemiskinan.
Dengan membanjirnya privatisasi, swastanisasi, kenaikan BBM, mahalnya biaya pendidikan,
perdagangan manusia (trafficking) yang sangat tinggi, pengangguran yang merajalela, dan sebagainya adalah
bentuk konkret dari perbuatan pemerintah yang lebih menekankan pada kepentingan modal yang semuanya
akan dihitung dengan logika permainan ekonomi. Dan ini juga menjadi bukti konkret dari ketidak pedulian negara
terhadap kaum yang lemah/rakyat miskin serta lepasnya tanggup jawab negara terhadap rakyatnya. Lalu
bagaimana nasib kaum rakyat yang terpinggirkan (marginal)? yang hari ini tidak tersentuh dan sudah terlupakan
oleh penguasa yang berkuasa, hingga jaraknya jauh tak terhingga dari perhatian pemerintah pada mereka..?
Mahasiswa yang dengan bangganya melabeli dirinya dengan gelar sebagai agent of change dan
agent of control tak mampu berbuat banyak atas segala bentuk ketimpangan dan ketertindasan ini. Karena
sebagian besar lebih memilih berjuang demi kepentingan diri dan golongannya. Bagi mahasiswa kebanyakan,
seakan-akan ketimpangan yang terjadi itu hanya menjadi urusan segelintir orang atau elit pemerintahan. Dan
merasa tugas dan kewajibannya hanya duduk di bangku kuliah, belajar yang rajin biar dapat nilai yang bagus
dan IPK cum laude. Orientasi dari studinya saja tidak jelas. Bangku kuliah hanya menjadi ruang berkumpulnya
generasi muda yang mendewakan apatisme, pragmatisme, instanisme, dan oportunisme, dan
konsumerisme. Sampai-sampai ruang yang bernama pendidikan telah beralih fungsi sebagai peningkat status
sosial, jalan menuju kerja kantoran atau PNS, dan orientasi lain yang lebih didasarkan pada orientasi ekonomi.
Mengetahui kondisi yang sedemikian parah, mahasiswa dan dunia kehidupannya kini harus tetap
berdiam diri, dengan penuh romantisme? Mahasiswa yang dianggap sebagai super hero atau pahlawan
harusnya selalu tidak betah dengan proses penindasan dan penghisapan.

Tingkah mahasiswa sekarang dibuat-buat


Merasa menjadi orang penting itulah yang berkali-kali ditegaskan mahasiswa. Bukan sesuatu pernyataan
yang asing lagi bila kita mendengarkan ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulutnya mereka biasa orang
penting, aku sibuk, ada agenda dan lain sebagainya, itu menunjukkan so so-annya gaya mahasiswa yang so
super sibuk. Pengakuan sebagai seorang yang sibuk selalu menunjukkan gelagat dirinya seolah-olah ia orang
yang super sibuk. Sehingga sangatlah wajar jika diajak menangani masalah Kampus, dan jawabannya selalu
dengan kata sorry, gak bisa aku sibuk; agendaku padat banget,dan sebagainya. Pola ini berulang kali dilakukan
oleh sebagian besar mahasiswa sekarang. Tetapi sebaliknya bila ada acara senang-senang (dugem), sudah
pasti mereka akan cepat-cepat hadir diacara itu. Entahlah, apa yang sebenarnya mereka lakukan. Bila dilirik,
mereka hanya bergerombolan bolak balik and mutar-mutar kesana-kemari aja tanpa tujuan yang jelas.
Tingkah seperti ini katanya, menandakan bahwa mereka sangat sibuk, dan dikatakan sebagai orang penting.
Pencitraan penting ini adalah gapaiannya. Maka dengan seperti itu akan bisa menutupi semua anggapan
negatip dari sisi intelektual mahasiswa, yang selama ini dianggap merosot ,ini pola pikir yang sangat konyol. Self
image mahasiswa akan dipahami publik dengan kesejukkan dan kesegaran tanpa ada noda dan aib secuil pun.
Tingkah seperti itu terlegalkan jadinya, sebab ketika ditanya, selalu dijawab biasa orang penting,hal ini lagi-lagi
membuat semrawutnya kegiatan mahasiswa, agar dibilang sebagai orang yang selalu meramaikan sunyi
senyapnya aktivitas kampus. Padahal kondisi seperti ini tentu melahirkan pencitraan buruk ketika berhadapan
dengan masyarakat sosial secara umumnya.
Ke-apatisan mahasiswa terhadap kondisi sekitarnya sudah menjadi hal yang lumrah. Mereka lebih
sibuk memikirkan persoalannya sendiri, tidak mau tahu dengan ketimpangan yang ada. Kesannya mahasiswa
sebagai kekuatan solid dan inklusif lambat laun memudar dan terancam keropos dan berubah menjadi elitis,
ekslusif, dan borjuasi cilik sehingga kurang mengakar pada masyarakatnya. Setiap penetrasi wacana yang
dilakukan, selalu mentah oleh sikap dingin dan apatis akar rumput. Intelektual harus mampu memandang
sesuatu secara luas dengan melihat interelasi berbagai persoalan dalam merumuskan konsep dan aksi
penyelesaian**