Anda di halaman 1dari 16

BAB 7

PERSAMAAN DIFFERENTIAL PARSIL PARABOLIK

Persoalan perpindahan panas pada kondisi tidak tunak (unsteady-state) merupakan

situasi fisis yang dapat dinyatakan dengan persamaan diferensial parabolik. Sebagai contoh :

aliran panas satu arah melalui sebuah batang dengan luas penampang yang sama dan

dikelilingnya diberikan bahan insulasi sebagaimana yang ditampilkan pada Gambar 7.1.

Area = A dx

Gambar 7.1 Aliran Panas melalui Batang

Panas mengalir dari kiri kekanan oleh pengaruh perubahan temperatur T/ x . Neraca laju

aliran panas pada elemen dx dapat ditulis sebagai :

Laju panas masuk - laju panas keluar = laju panas yang disimpan dalam elemen

T T T T
- k A - ( -k A ( + ( ) dx)) = c (A dx)
x x x x t
(7.1)

Persamaan (7.1) dapat disederhanakan menjadi :


2
T T
k =c (7.2)
x 2
t

Persamaan (7.2) merupakan model matematis dasar untuk aliran tidak tunak. Model

Matematis untuk aliran tidak tunak dua atau tiga dimensi dapat ditulis sebagai :

2
T
2
T T
k ( + )= c (7.3)
x2 y
2
t

2
T
2
T
2
T T
k ( + + )= c (7.4)
x2 y
2
z 2
t

Persamaan (7.2) dapat diselesaikan jika diberikan kondisi awal dan kondisi batas. Kondisi

awal merupakan temperatur awal pada setial titik disepanjang batang yang dapat ditulis

sebagai :

T(x,t)|t=0 = T(x,0) = f(x) (7.5)

Kondisi batas menggambarkan temperatur pada setiap ujung batang :

T(0,t) = c1 ; T(L,t) = c 2 (7.6)

7.1 Metoda Eksplisit

Metoda numerik digunakan untuk menyelesaikan persamaan diferensial parsil parabolik


yaitu dengan menggantikan turunan-turunan parsil oleh finite-difference approximations.

Untuk persamaan aliran panas satu dimensi,

2
T c T
x 2
=
k t
(7.7)

dapat digunakan relasi

2 j j j
T T i+1 - 2 T i + T i -1 + O( x 2 ,
|x= x i ,t=t i = 2
) (7.8)
2
x ( x)

dan

T j+1
Ti - j
T i + O( t)
| t=t i = . (7.9)
t x= xi , t

Subskrip i menunjukkan posisi dan superskrip j menunjukkan waktu. Dengan memasukkan

persamaan (7.8) dan (7.9) kedalam persamaan (7.7) menghasilkan

j+1 k t 2k t
Ti = ( j + T ij-1 ) + (1 -
2 T i+1
) T ij . (7.10)
c ( x ) c ( x )
2

Dengan mengetahui temperatur pada kondisi awal pada t=to, temperatur pada t=t1 pada

setiap titik dihitung dengan persamaan (7.10). Temperatur pada t=t1 digunakan untuk

menghitung t=t2. Kondisi batas digunakan sebagai temperatur pada titik ujung.

Harga k t/c (x)2 menentukan stabilitas dan konvergensi. Jika harga ini <= 1/2

stabilitas dan konvergensi dapat dicapai, tetapi jika harga ini > 1/2, maka timbul gejala

ketidak stabilan dan ketidak konvergensian.


Contoh :

Selesaikan :

2
T T
k =c
x 2
t

untuk menentukan distribusi temperatur pada suatu plat baja jika diberikan kondisi awal :

T = 100 x untuk 0 < x < 1,

T = 100(2 - x) untuk 1 < x < 2, dan

kondisi batas :

T(0,t) = 0, T(2,t) = 0.

Data lain :

c = 0,11 cal/g.oC, = 7,8 g/cm3

k = 0,13 cal/sec.cm.oC x = 0.25 cm, k t/c (x)2 = 0,5

t = 0.206 second.

Dengan menggunakan persamaan (7.10) didapat penyelesaian numerik seperti yang

ditampilkan pada Tabel 7.1

Tabel 7.1. Distribusi Temperatur Pada Plat baja

_________________________________________________________________________

_
Temperatur yang dihitung pada :

t x=0 x=0.25 x=0.5 x=0.75 x=1.0 x=1.25


_________________________________________________________________________
_
0.0 0 25.0 50.0 75.0 100.0 75.0
0.206 0 25.0 50.0 75.0 75.0 75.0
0.412 0 25.0 50.0 62.5 75.0 62.5
0.619 0 25.0 43.75 62.5 62.5 62.5
0.825 0 21.88 43.75 53.12 62.5 53.12
1.031 0 21.88 37.5 53.12 53.12 53.12
1.238 0 18.75 37.5 45.31 53.12 45.31
1.444 0 18.75 32.03 45.31 45.31 45.31
1.650 0 16.16 32.03 38.67 45.31 38.67
1.856 0 16.16 27.34 38.67 38.67 38.67
2.062 0 13.67 27.34 33.01 38.67 33.01
_________________________________________________________________________
_

7.2. Metoda Crank-Nicolson

Metoda Crank-Nicolson menggunakan aproksimasi beda hingga sentral pada

turunan waktu, sehingga kesalahan aproksimasi lebih kecil dibandingkan dengan beda

hingga ke depan (forward difference approximation), sebagaimana digunakan pada metoda

eksplisit.

Persamaan differensial parsil parabolik :


2
T Cp T
= (7.2.1)
x 2
k t

diaproksimasi dengan :

1 Ti j1 2Ti j Ti i1 Ti j11 2Ti j 1 Ti i 11 Cp Ti j 1 Ti j


( ) ( ) (7.2.2)
2 (x ) 2 ( x ) 2 k t
Persamaan (7.2.2) disusun menjadi formula Crank-Nicolson :

rTi j11 (2 2r )Ti J11 rTi j11 rTi j1 (2 2r )Ti J rTi j1 (7.2.3)

dimana :

k t
r (7.2.4)
cp (x) 2

dengan mensubtitusikan r = 1 ke dalam persamaan 7.2.3 diperoleh :

Ti j11 4Ti J 1 Ti j11 Ti j1 Ti j1 (7.2.5)

Metoda Crank-Nicolson stabil untuk berbagai nilai r. Semakin kecil nilai r, semakin

j 1
teliti hasil perhitungan. Matoda ini disebut juga sebagai metoda implisit, karena nilai Ti

merupakan fungsi T pada waktu j dan j+1. Penyelesaian secara simultan dapat digunakan

untuk memperloeh nilai T pada derah yang ditentukan.

Contoh :

Selesaikan persamaan difusi uap alcohol di dalam suatu tube :


2
C 1 C
=
x 2
D t

dengan kondisi awal :

c (x,0) = 2,0

dan kondisi batas :

c (0,t) = 0

c (20,t) = 10.0

D = 0.119 cm2/detik, x = 4 cm, r = 1

Penyelesaian :

D t / (x)2 = r = 1, t = 134.4 detik.


Nilai T pada titik interior ditentukan dengan persamaan (7.2.4) untuk setiap t sampai dengan

t = 537,6 detik. Pada t = 134,4 detik diperoleh system sebagai berikut :

0.0 + 4C1 - C2 = 0.0 + 2.0


- C1 + 4C2 - C3 = 2.0 + 2.0
- C2 + 4C3 - C4 = 2.0 + 2.0
- C3 + 4C4 - 10.0 = 2.0 + 10.0

System persamaan ini diselesaikan secara simultan, dan diperoleh :

C (4,134.4) = 0.980 C (8,134.4) = 2.019

C (12,134.4) = 3.072 C (16,134.4) = 5.992

Nilai C pada t = 134,4 dan nilai c pada kondisi batas digunakan untuk mencari c (x,268.8)

dengan cara yang sama. Distribusi konsentrasi ditampilkan pada table 7.2.1.

Tabel 7.2.1. Distribusi Konsentrasi Uap Alkohol

Waktu (detik) Nilai Konsentrasi pada

x=0 x=4 x=8 x = 12 x=16 x = 20

0.0 0.0 2.0 2.0 2.0 2.0 10.0

134.4 0.0 0.980 2.019 3.072 5.992 10.0

268.8 0.0 1.070 2.363 4.305 6.555 10.0

403.2 0.0 1.276 2.861 4.762 6.962 10.0

537.6 0.0 1.471 3.165 5.115 7.159 10.0

7.3. Kondisi Batas Turunan

Dalam persoalan perpindahan panas karena konduksi, kondisi batas tidak selalu
temperatur yang konstan, kondisi batas tidak selalu berupa temperatur yang konstan, tetapi

dapat berupa turunan temperatur.

Gambaran mengenai kondisi batas turunan misalnya pada laju panas yang hilang

dari permukaan benda padat yang dapat dinyatakan dengan persamaan :

Q hA(T To ) (7.3.1.)

dimana :

Q = laju panas yang hilang

A = luas permukaan

T = temperatur permukaan

To = temperatur medium sekeliling, dan

h = koefisien perpindahan panas

Laju panas yang hilang secara konduksi merupakan kondisi batas turunan. Persoalan yang

berhubungan dengan kondisi batas turunan perlu menggunakan pendekatan beda hingga :

Contoh :

Kubus aluminium berukuran 4 x 4 x 4 in3 dengan k = 0.52 cal/det. cm. 0C, c = 0.226

cal/g. 0C, dan = 2.70 g/cm3. Semua permukaan kubus diinsulasi kecuali satu permukaan,

dan temperatur mula-mula kubus adalah 1000 0F. Panas hilang dari permukaan yang tidak

diinsulasi ke fluida yang melewatinya yaitu :

Laju panas hilang = h A (T To) (Btu/detik)

Dengan :

h = 0.15 Btu/det. ft2.0F

A = luas permukaan, ft2


T = temperatur permukaan, oF, dan

To = temperatur fluida, oF

Carilah distribusi temperatur didalam kubus tersebut

Penyelesaian :

Persamaan diferensial yang dibutuhkan adalah :

T k 2T
(7.3.2)
t c x 2

dengan kondisi awal

T (x,0) = 1000, dan kondisi batas

T
kA hA(T 70) (7.3.3)
x x 0

T
0
x x 4

kt 1
r (7.3.4)
c ( x ) 2
4

x = 1 in

k = 0.00291 Btu/det.in.0F

c = 0.226 Btu/lb.0F

= 0.0975 lb/in.3

Skema numerik untuk persoalan ini ditampilkan pada gambar 7.3.1. :


t = 1 UL T1 T2 T3 T4 T5 TR

t = 0
x1 x2 x3 x4 x5

Gambar 7.3.1. Skema Numerik Distribusi Temperatur

Nilai T pada waktu j+1 ditentukan dengan persamaan :

1 1
Ti j 1 (Ti j1 Ti j1 ) Ti j (7.3.5)
4 2

Kondisi batas dihitung dengan persamaan :

1 j 1
Ti j 1 (T2 TLj ) Tl j (7.3.6)
4 2
1 J 1
T5 j 1 (TR T4j ) T5 j (7.3.7)
4 2
dimana :
TL = nilai T pada titik samar kiri, dan
TR = nilai T pada titik samar kanan

Kondisi batas digunakan untuk mengeliminasi TL dan TR dan ditulis menggunakan

aproksimasi beda sentral :

T (T2 j TLJ ) 0.15 j


k (0.00291) (T1 70) (7.3.8)
x x 0
2(1) 144
T (TRJ T4 j )
k (0.00291) 0 (7.3.9)
x x4
2(1)

Dengan menyelesaikan TL dan TR, diperoleh :

TL = T2 0.716 T1 + 50.1

TR = T4

Sehingga sistem persamaan menjadi :

1 j
T1 j 1 0.32T1 j T2 12.525
2

1 j 1
T2j 1 (T1 T3 j ) T2j
4 2

1 j 1
T3 j 1 (T2 T4j ) T3 j (7.3.10)
4 2

1 j 1
T4 j 1 (T3 T5 j ) T4j
4 2

1 j 1 j
T5 j 1 T4 T5
2 2

Sistem persamaan tersebut dapat diselesaikan secara simultan untuk memperoleh nilai T

pada daerah yang diinginkan.

7.4. Persamaan Differensial Parabolik Dalam Dua dan Tiga

Persamaan aliran panas dalam dimensi dua dan tiga dapat ditulis sebagai :

T k 2T 2T
( )) (7.4.1)
t c x y
T k 2 T 2T T
( ) (7.4.2)
t c x 2 y z

dengan menggunakan metode eksplisit pada persamaan (7.4.1) untuk y = x,

r = k t / c (x)2 diperoleh persamaan :

Ti ,kj1 r (Ti k1, j Ti k1, j Ti ,kj 1 Ti ,kj 1 (1 4r )Ti ,kj (7.4.3)

r maksimum = 0.25 dibutuhkan untuk konvergensi dan stabilitas.

7.5. Soal-Soal

1. Tentukan satuan k, c dan dalam persamaan :

T cp T

x 2
k t

Jika T dalam 0F, dan x dalam inci.

2. Carilah distribusi temperature pada t = 2.062 detik dalam suatu lempeng baja dengan

ketebalan 2 cm.

Jika temperatur awal diberikan oleh relasi :

x
T ( x,0) 100 sin
2

Dan kondisi Batas:


T(0,t) = 0

T(2,t) = 0

Gunakan metoda ekplisit dengan x = 0.25 cm. Bandingkan hasilnya dengan

penyelesaian analitis :

x
T 100e 0,3738t sin
2

3. selesaikan soal nomor 2 dengan metoda Crank-Nicolson untuk r =1.

4. Carilah distribusi temperature dalam batang tembaga dengan panjang 10 in.

Permukaan melengkung batang tersebut diinsulasi sehingga panas mengalir hanya

dalam satu arah. Temperature awal linear dari 0 0C pada satu ujung dan 1000C pada

ujung yang lain. Temperature pada kedua ujung batang tembaga tiba-tiba dijadikan

00C. Gunakan x = 1 in. dan t ditentukan dari k t/c (x)2 = . Lakukan

perhitungan selama 10 langkah waktu.

5. Selesaikan soal nomor 4 dengan metoda Crank-Nicolson untuk r = 1.

2T T
k cp f ( x)
x 2
t

6. Persamaan panas pada kondisi tidak tunak dibutuhkan untuk mencari distribusi

temperature sepanjang batang magnesium jika panas dihasilkan pada titik-titik

sepanjang batang tersebut.

Selesaikan persamaan ini jika f(x) = x cal/cm3.detik

Dengan kondisi batas dan awal :

T(0,t) = 0, T(1,t) = 0, T (x,0) = 0

Gunakan x = 0.2, k = 0.37, c = 0.433 dalam satuan cgs. Gunakan Crank-Nicolson


untuk r = 1, dan selesaikan untuk 5 langkah waktu.

7. Gunakan aproksimasi beda hingga metoda eksplisit pada persamaan aliran panas

tiga dimensi.

8. Gunakan persamaan (7.3.10) untuk mencari penyelesaian contoh pada bagian 7.3

sampai 8 langkah waktu.

9. Selesaikan contoh pada bagian 7.3 tetapi dengan dua permukaan yang berlawanan

dari kubus kehilangan panas pada laju = 0,15 A (T-70), dimana T adalah

temperature pada 0F, dan A adalah luas permukaan. Gunakan x = 1 in, dan gunakan

metoda eksplisit dengan dari k t/c (x)2 = .

10. Pengiriman gas alam cair melalui refrigeranted tanker kepada Negara-negara

industri merupakan kegiatan yang penting dalam mensuplai kebutuhan energi dunia.

Gas alam cair harus disimpan pada receiving port. Suatu perancangan komersial

didasarkan verifikasi fisibilitas eksperimental mengusulkan pretressed concrete tank

dengan diameter 270 ft dan dalam 61 ft yang dapat menyimpan 600.000 bbl gas cair

pada -258 0F. Arus konveksi dalam cairan digunakan untuk menjaga agar

temperature sama dengan -258 0F yang merupakan titik didih cairan tersebut.

Pertimbangan penting dari perancangan adalah laju panas yang diperoleh

dari sekeliling (menyebabkan penguapan gas cair) dan variasi temperature dalam

bumi di bawah tanki (berhubungan dengan keamanana tanki, yang dapat

dipengaruhi oleh pengendapan atau peningkatan pembekuan).

Tanki tersebut akan dibuat dari beton dengan tebal 6 in dan diselimuti oleh

insulasi dengan tebal 8 in (pada bagian cairan). (Sealing barrier digunakan untuk
menjaga insulasi bebas cairan sehingga kapasitas insulasi menjadi baik). Percobaan

menunjukkan bahwa ada sedikit beda temperature melalui beton yaitu 12 0F.

Diharapkan beda temperature yang besar terjadi pada insulasi atau tanah bawah

tanki.

Karena tanki yang dirancang sangat besar, dan jika diinginkan tenperatur

bumi mendekati temperature pusat tanki, dapat dianggap panas mengalir satu

dimensi, dalam arah langsung ke bawah dari dasar tanki. Dengan asumsi ini

hitunglah berapa lama temperatur turun sampai 32 0F (titik beku air) pada titik 8 ft

dari dinding tanki. Data thermal yang dibutuhkan adalah :

__________________________________________________________

Insulasi Beton Tanah

Thermal conductivity 0.013 0.90 2.6

(Btu/hr.ft.0F)

Density (lb/ft3) 2.0 150 132

Specific Gravity 0.195 0.200 0.200

(Btu/lb.0F)

__________________________________________________________

Asumsi bahwa kondisi awal adalah :

Temperatur cairan = -258 0F

Temperatur insulasi = -258 0F sampai 72 0F (permukaan

bagian dalam sampai luar)

Temperatur beton = 72 0F sampai 60 0F


Temperatur tanah = 60 0F