Anda di halaman 1dari 80

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Herpes zoster merupakan penyakit yang terjadi karena reaktivasi dari
Varicella zoster virus (VZV) yang mengenai kulit dan mukosa dengan lesi
berupaerupsi vesikular yang pada umumnya bersifat dermatomal dan
unilateral. Infeksi primer VZV menyebabkan penyakit varisela.
Reaktivasi VZV yang berdiam di ganglion posterior terjadi secara
sporadik disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penekanan atau
penurunan sistim imuntubuh, radiasi pada spinal, tumor pada ganglion, trauma
lokal, manipulasi bedah padaspinal serta sinusitis frontalis sebagai faktor
presipitasi pada herpes zoster oftalmikus. Namun yang paling penting adalah
respon imun selular yang menurun terhadap VZV seiring dengan
meningkatnya usia.
Hubungan antara herpes zoster dengan varisela pertama kali
digambarkan oleh Bokay pada tahun 1888. Dimana dalam pengamatannya
ditemukan varisela padaanak-anak setelah kontak dengan penderita herpes
zoster. Herpes zoster biasanyaterjadi pada individu yang pernah mengalami
infeksi primer VZV sebelumnya.
Herpes zoster muncul di seluruh dunia secara sporadik tanpa
dipengaruhi faktor musim. Berbeda dengan varisela yang insidennya
meningkat saat musim hujan. Hal ini berhubungan dengan daya tahan virus

terhadap panas, dimana VZV menjaditidak aktif pada suhu 56600 C dan

jika ada kerusakan pada envelope virus.


Faktor yang paling berperan adalah usia tua serta imunitas tubuh. Usia
tua meningkatkankemungkinan menderita herpes zoster serta menderita
komplikasi yang lebih beratdibandingkan dengan penderita usia muda.

1
Berdasarkan uraian diatas peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang
menybabkan kejadian herpes zoster pada masyarakat yang berumur 20-65
tahun di Kelurahan Tlogosari Wetan.
1.1 RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian herpes zoster pada
masyarakat yang berumur 20-65 tahun di Kelurahan Tlogosari Wetan
menurut teori H.L Blum?
2. Apakah ada hubungan antara pengetahuan masyarat mengenai herpes
zoster dengan kejadian herpes zoster?
3. Apakah ada hubungan antara riwayat penyakit herpes zoster dengan
kejadian herpes zoster?
4. Apakah ada hubungan hubungan antara kekebalan tubuh dengan kejadian
herpes zoste?
5. Apakah ada hubungan antara lingkungan yang mengandung virus
penyebab herpes zoster dengan kejadian herpes zoster?
6. Apakah ada hubungan antara adanya interaksi dengan penderita herpes
zoster dengan kejadian herpes zoster?
7. Apakah ada hubungan antara kurangnya sosialisasi dengan penyakit
herpes zoster dengan kejadian herpes zoster?
1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan Umum
Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi herpes zoster
pada masyarakat yang berumur 20-65 tahun di Kelurahan Tlogosari
Wetan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mendeskripsikan Faktor resiko kejadian diare herpes zoster pada
masyarakat yang berumur 20-65 tahun di Kelurahan Tlogosari Wetan.
2. Membuktikan hubungan antara pengetahuan masyarakat mengenai
herpes zoster dengan kejadian herpes zoster
3. Membuktikan hubungan antara riwayat penyakit herpes zoster dengan
kejadian herpes zoster
4. Membuktikan hubungan antara kekebalan tubuh dengan kejadian
herpes zoster
5. Membuktikan hubungan lingkungan yang mengandung virus penyebab
herpes zoster dengan kejadian herpes zoster
6. Membuktikan hubungan adanya interaksi dengan penderita herpes
zoster dengan kejadian herpes zoster

2
7. Membuktikan hubungan kurangnya sosialisasi mengenai penyakit
herpes zoster dengan kejadian herpes zoster.
1.3 MANFAAT
1.3.1 Bagi mahasiswa
a. Memberikan pengalaman kepada penulis dalam melaksanakan
penelitian serta mengintegrasikan pengetahuan dan wawasan yang
didapat selama kuliah ke dalam bentuk tulisan ilmiah.
b. Melatih mahasiswa menjadi lebih mandiri dan kreatif dalam
pemecahan masalah yang terjadi berdasarkan data sekunder yang telah
diperoleh.
c. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi,
menganalisis dan membuat alternatif solusi berdasarkan permasalahan
yang terjadi.
1.3.2 Bagi Masyarakat Kelurahan Sampangan Kota Semarang
a. Mendapatkan informasi mengenai masalah herpes zooster yang ada
di Kelurahan Tlogosari Wetan sehingga diharapkan adanya perubahan
perilaku bagi masyarakat.
b. Dari informasi tersebut, masyarakat dapat lebih menyadari akan
pentingnya hidup sehat dan perilaku sehat sebagai pencegahan
herpes zooster.
c. Dari informasi tersebut, pihak pamong dan perangkat desa di
Kelurahan Tlogosari Wetan dapat mengembangkan suatu program
pengembangan desa terutama dalam bidang pencegahan herpes
zooster.
d. Masyarakat diharapkan dapat lebih memanfaatkan pelayanan
kesehatan yang ada.
1.3.3 Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat
a. Mengenalkan eksistensi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro kepada masyarakat di wilayah Kelurahan
Tlogosari Wetan, Kota Semarang.
b. Mendapatkan informasi tentang daerah yang mengalami masalah
herpes zooster yang terjadi di di wilayah Kelurahan Tlogosari
Wetan, sehingga sebagai Fakultas Kesehatan Masyarakat dapat
memberikan suatu kegiatan preventif dan promotif kepada masyarakat
tentang masalah kesehatan yang terjadi di wilayah tersebut.
1.3.4 Bagi Puskesmas

3
a. Memberikan gambaran informasi kesehatan di wilayah Kelurahan
Tlogosari Wetan.
b. Dari informasi tersebut, dapat membantu arahan pengambilan
kebijakan guna pengembangan kesehatan di wilayah Kelurahan
Tlogosari Wetan, Kota Semarang.
1.3.5 Bagi pembaca
Dapat memberikan masukan tambahan bagi pelaksanaan kegiatan
lebih lanjut yang sejenis agar penanggulangan penyakit herpes zooster
dapat dilakukan secara tepat.

4
BAB II

METODE PENELITIAN

2.1 KERANGKA TEORI

al sekaramar, penggunaan sabun batang, handuk bersama, berganti-gantian pakaian dengan orang

Perilaku
Bersentuhan langsung penderita herpes zoster
Frekuensi istirahat
Aktivitas fisik
Interaksi dengan penderita herpes zoster

Herpes Zoster

Genetik
Kekebalan Tubuh Menurun
Jenis Kulit
Riwayat Penyakit

Yankes
Ketersediaan obat Variabel Confonding
Media Sosialisasi Usia
Kurang Sosialisasi Pengetahuan
Akses ke puskesmas

5
2.2 KERANGKA KONSEP

an Herpes Zoster
Tubuh Herpes Zoster
n Mengandung Virus Varisella Zoster (Interaksi dengan penderita herpes zoster)
ialisasi dari Yankes tentang Herpes Zoster

2.3 HIPOTESIS

1. Ada hubungan antara pengetahuan mengenai herpes zoster dengan


kejadian herpes zoster pada masyarakat yang berumur 20-65 tahun di
Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan.
2. Ada hubungan antara kekebalan tubuh dengan kejadian herpes zoster pada
masyarakat yang berumur 20-65 tahun di Kelurahan Tlogosari Wetan,
Kecamatan Pedurungan.
3. Ada hubungan lingkungan yang mengandung virus penyebab herpes zoster
dengan kejadian herpes zoster pada masyarakat yang berumur 20-65 tahun
di Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan.
4. Ada hubungan interaksi dengan penderita herpes zoster dengan kejadian
herpes zoster pada masyarakat yang berumur 20-65 tahun di Kelurahan
Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan.
5. Ada hubungan kurangnya sosialisasi herpes zoster dengan kejadian herpes
zoster pada masyarakat yang berumur 20-65 tahun di Kelurahan Tlogosari
Wetan, Kecamatan Pedurungan.

2.4 JENIS PENELITIAN

6
Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif analitik. Penelitian
ini menggunakan pengukuran variabel dependen dan independen. Dalam
penelitian ini menggunakan pedekatan cross sectional. Metode penelitian dengan
pendekatan cross sectional (potong lintang) yaitu rancangan penelitian dengan
melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan atau sekali waktu.
Penelitian ini untuk membuktikan adanya hubungan kejadian herpes zoster pada
masyarakat yang berumur 20-65 tahun di Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan
Pedurungan dengan pengetahuan, riwayat penyakit, sistem kekebalan tubuh,
lingkungan mengandung virus penyebab herpes zoster, interaksi dengan penderita
herpes zoster, dan kurangnya sosialisasi mengai herpes zoster.

2.5 LOKASI DAN WAKTU PENGAMBILAN DATA

2.5.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sampangan Kecamatan


Gajahmungkur Kota Semarang dengan mengambil data sekunder dari
Puskesmas Pegandan.

2.5.2 Waktu Pengandilan Data

Penelitian berlagsung pada 25 Oktober 2016 sampai 1 November


2016.

2.6 POPULASI DAN SAMPEL

2.6.1 Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Kelurahan


Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan dengan jumlah 87713 jiwa.

2.6.2 Sampel Penelitian

Sampel penelitian ini adalah masyarakat yang berusia 20-65 tahun


yang bertempat tinggal di Kelurahan Tlogosari Wetan Kecamatan
Pedurungan Kota Semarang. Teknik pengambilan sampel ini

7
menggunakan teknik Probability Sampling jenis Simple Random
Sampling dengan memberi kesempatan yang sama kepada semua anggota
untuk ditetapkan sebagai anggota populasi. Perhitungan besar sampel pada
penelitian ini dihitung berdasarkan rumus besar sampel minimal.

Rumus:

N
n= 2
1+ N (e)

Keterangan :
n = Sampel
N = Populasi
e = Tingkat kesalahan penarikan sampel 5 % dan tingkat kepercayaan
95%
Dengan menggunakan rumus diatas, diperoleh jumlah sampel yaitu:
N
n=
1+ N ( e)2

87713
n= 2
1+87713(0,05)

87713
n=
220,28

= 398
Dengan jumlah 398 jiwa, kami mengambil 63 jiwa dengan umur 20
- 65 tahun di Kecamatan Pedurungan, Kelurahan Tlogosari Wetan, karena
sesuai dengan ketentuan sampel yang bisa mewakili populasi berkisar 60-
100 jiwa.

2.7 INSTRUMEN DAN PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan wawancara. Data


dikumpulkan menggunakan metode survei dengan instrumen kuesioner.

8
Disamping itu juga dilakukan wawancara mendalam guna memperoleh data
dan informasi kualitatif. Selain data dari responden, informasi juga diperoleh dari
instansi-institusi terkait (Puskesmas Tlogosari Wetan).

2.8 VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL

2.8.1 Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengetahuan, riwayat


penyakit, sistem kekebalan tubuh, lingkungan mengandung virus
penyebab herpes zoster, interaksi dengan penderita herpes zoster, dan
kurangnya sosialisasi.

2.8.2 Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini kejadian penyakit Herpes


Zoster pada masyarakat yang berumur 20-65 tahun di Kelurahan Tlogosari
Wetan, Kecamatan Pedurungan.

2.8.3 Definisi Operasional

Tabel 2.1 Definisi Operasional Penelitian

No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Operasional
Variabel terikat
1 Kejadian Penyakit infeksi Wawancara Kuesioner 1 = Ya Nominal
Herpes yang disebabkan 2 = Tidak
Zoster oleh reaktivasi
virus varisela
zoster (VVZ)
yang laten
berdiam terutama
dalam sel
neuronal dan
kadang-kadang di

9
dalam sel satelit
ganglion radiks
dorsalis dan
ganglion sensorik
saraf kranial;;
menyebar ke
dermatom atau
jaringan saraf
yang sesuai
dengan segmen
yang
dipersarafinya.
Variabel Bebas
2 Pengetahu Mengetahui Wawancara Kuesioner 1 = Ya Nominal
an tentang pengetahuan 2 = Tidak
Herpes masayarakat
Zoster mengenai
penyebab Herpes
Zoster, bahaya
Herpes Zoster,
pengobatan
Herpes Zoster,
pencegahan
Herpes Zoster,
dan komplikasi
Herpes Zoster.
3 Riwayat Mengetahui Wawancara Kuesioner 1 = Ya Nominal
Penyakit Riwayat Keluarga 2 = Tidak
dan riwayat
pernah terkena
herpes zoster
4 Kekebalan Aktivitas fisik, Wawancara Kuesioner 1 = Ya Ordinal

10
Tubuh frekuensi istirahat 2 = Tidak
5 Lingkunga Bergonta ganti Wawancara Kuesioner 1 = Ya Nominal
n pakaian dengan 2 = Tidak dan
mengandu anggota keluarga Ordinal
ng virus lainnya, Dan skor
penyebab menggunakan
Herpes sabun batang 1 = Sering
Zoster bersama dengan 2 = Jarang
(Interaksi anggota keluarga, 3 = Tidak
dengan sekamar dengan pernah
penderita penderita Herpes
Herpes Zoster, interaksi
Zoster) dengan anggota
keluarga pernah
mengalami
Herpes Zoster
6 Kurang Adanaya media Wawancara Kuesioner 1 = Ya Nominal
Sosialisasi sosialisasi, ada 2 = Tidak
tidaknya
penyuluhan dari
tenaga kesehatan

2.9 SUMBER DATA

3.7.1 Data Primer

Data primer diperoleh dari responden penelitian yang dilakukan


melalui penyebaran kuesioner dan wawancara.

3.7.2 Data Sekunder

11
Data sekunder diperoleh dari data masyarakat yang terkena
penyakit herpes zoster di wilayah kerja Puskesmas Tlogosari Wetan,
Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang

2.9 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA


2.9.1 Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data
ringkasan atau angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara atau
rumus-rumus tertentu. Pengolahan data ini bertujuan untuk mengubah
data mentah dari hasil pengukuran menjadi data yang lebih halus
sehingga memberikan arah untuk pengkajian lebih lanjut.
Teknik pengolahan data dalam penelitian ini yaitu dengan
menggunakan penghitungan program komputeruntuk mengolah data
mentah.Program ini memiliki kemampuan analisis statistik cukup tinggi
dan sistem manajemen data pada lingkungan grafis menggunakan menu-
menu dekriptif dan kotak-kotak dialog sederhana, sehingga mudah
dipahami cara pengoperasiannya28. Data hasil penelitian yang sudah
dikumpulkan kemudian dilakukan pengolahan sebagai berikut :
1. Editing
Bertujuan untuk meneliti kembali jawaban dari pendonor
darah yang menjadi responden, apakah semua pertanyaan pada
angket yang diberikan jawabannya sudah lengkap atau tidak. Jika
ada jawaban yang belum lengkap pelaksana penelitian akan meminta
responden untuk mengisi pertanyaan yang masih kosong, atau
menanyakan secara langsung kepada responden dengan wawancara.
2. Coding
Merupakan langkah memberi kode pada atribut dari variable untuk
mempermudah dalam pengelolaan data.
Tabel 2.2 Coding Variabel Penelitian

No Variabel Koding
1 Kejadian Herpes Zoster 1 = Ya
2 = Tidak
2 Pengetahuan tentang Herpes Zoster 1 = Ya
2 = Tidak

12
3 Riwayat Penyakit 1 = Ya
2 = Tidak
4 Kekebalan Tubuh 1 = Ya
2 = Tidak
5 Lingkungan mengandung virus 1 = Ya
penyebab Herpes Zoster (Interaksi 2 = Tidak
dengan penderita Herpes Zoster)
1 = Sering
2 = Jarang
3 = Tidak pernah
6 Kurang Sosialisasi 1 = Ya
2 = Tidak

3. Data Entry
Data dari kuesioner yang telah diisi baik berupa kode atau rasio
dimasukkan ke komputer untuk dianalisis.
4. Cleaning
Melakukan pengecekan satu persatu data yang telah
dimasukkan ke dalam komputer untuk disesuaikan dengan jawaban
dari kuesioner responden.

3.9.2 Analisis Data

Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan statistik


inferensial, dengan dibantu program SPSS (Statistical Product and Service
Solutions). Dalam analisis data dibedakan tingkatannya, yaitu, analisis
univariat, dan bivariat. Analisis univariat merupakan analisis setiap
variabel yang dinyatakan dengan sebaran frekuensi, baik secara angka-
angka mutlak maupun secara persentase, disertai dengan penjelasan
kualitatif.

Analisis bivariat menggunakan tabel silang untuk menyoroti


dan menganalisis perbedaan atau hubungan antara dua variabel. Menguji
ada tidaknya perbedaan hubungan antara variabel pengetahuan, riwayat

13
penyakit, sistem kekebalan tubuh, lingkungan mengandung virus
penyebab herpes zoster, interaksi dengan penderita herpes zoster, dan
kurangnya sosialisasi dengan kejadian penyakit herpes zoster dengan
menggunakan metode Chi Square, dengan tingkat kemaknaan = 0,05.
Hasil yang diperoleh pada analisis Chi Square dengan menggunakan
program SPSS yaitu nilai p, kemudian dibandingkan dengan = 0,05.
Apabila nilai p lebih kecil dari = 0,05 maka ada hubungan/perbedaan
antara dua variabel tersebut 27 .

14
BAB III

TINJAUAN TEORI

3.1. ANALISIS AGENT, HOST, ENVIRONMENT

3.1.1. Faktor Agent

Secara umum, seluruh jenis penyakit herpes dapat menular melalui kontak
langsung. Namun pada herpes zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar
(chickenpox), proses penularan bisa melalui bersin, batuk, pakaian yang tercemar
dan sentuhan keatas gelembung/lepuh yang pecah. Seseorang yang telah
mengalami herpes zoster kemudian sembuh, sebenarnya virus tidak 100% hilang
dari dalam tubuhnya, melainkan bersembunyi didalam sel ganglion dorsalis
system saraf sensoris penderita. Ketika daya tahan tubuh (immun) melemah, virus
akan kembali menyerang dalam bentuk herpes zoster dimana gejala yang
ditimbulkan sama dengan penyakit herpes zoster (chickenpox). Bagi seseorang
yang belum pernah mengalami herpes zoster, apabila terserang virus
varicella zoster maka tidak langsung mengalami penyakit herpes akan tetapi
mengalami herpes zoster telebih dahulu.

3.1.2. Faktor Host

Cara penularan penyakit herpes zoster (herpes) secara umum, seluruh jenis
penyaakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Namun pada herpes
zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar (chickenpox), proses penularan
bisa melalui bersin, batuk,, pakaian yang tercemar dan sentuhan keatas
gelembung/lepuh yang pecah.

3.1.3. Faktor Environment

Lingkungan yang tidak terpelihara akan gampang sekali untuk terkena


penyakit bagi para penduduknya, terutama penyakit menular. Agar semua yang

15
kita takutkan selama ini tidak menimpa kita dan penduduk yang lain, maka
alangkah lebih baiknya kita sama-sama menjaga lingkungan hidup kita, karena
tidak ada yang membersihkannya, kecuali dengan usaha kita agar terjadi penyakit
yang dapat menular ke semua penduduk.

Unsur penyebab penyakit adalah unsur biologis. Butuh tempat ideal


berkembang biak dan bertahan. Reservoir adalah organisme hidup/mati, dimana
penyebab penyakit hidup normal dan berkembang biak. Reservoir dapat berupa
manusia

3.2 PENGERTIAN HERPES ZOSTER

Herpes zoster atau disebut juga dengan shingles atau cacar ular memiliki
insiden tertinggi dari semua penyakit neurologi, dengan sekitar 500.000 kasus
baru setiap tahun di United States. Herpes zoster merupakan penyakit yang jarang
terjadi, diperkirakan 10-12 % populasi akan mengalami serangan Herpes zoster
selama hidupnya. Di Indonesia menurut Lumintang, prevalensi Herpes zoster
kurang dari 1%.

Herpes zoster merupakan manifestasi oleh reaktivasi virus Varisela-


zoster laten dari syaraf pusat dorsal atau kranial. Virus varicella zoster
bertanggung jawab untuk dua infeksi klinis utama pada manusia yaitu varisela
atau chickenpox (cacar air) dan Herpes zoster (cacar ular). Varisela merupakan
infeksi primer yang terjadi pertama kali pada individu yang berkontak dengan
virus varicella zoster. Pada 3-5 dari 1000 individu, virus Varisela-zoster
mengalami reaktivasi, menyebabkan infeksi rekuren yang dikenal dengan nama
Herpes zoster atau Shingles.

Herpes zoster adalah infeksi virus akut yang memiliki karakteristik


unilateral, sebelum timbul manifestasi klinis pada kulit wajah dan mukosa mulut
biasanya akan didahului oleh gejala odontalgia. Timbulnya gejala odontalgia pada
Herpes zoster belum sepenuhnya diketahui.

16
3.3 ETIOLOGI HERPES ZOSTER
Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster yang laten
di dalam ganglion posterior atau ganglion intrakranial. Virus dibawa melalui
sternus sensory ke tepi ganglia spinal atau ganglia trigeminal kemudian menjadi
laten. Varicella zoster, yaitu suatu virus rantai ganda DNA anggota famili virus
herpes yang tergolong virus neuropatik atau neuroder-matotropik. Reaktivasi virus
varicella zoster dipicu oleh berbagai macam rangsangan seperti pembedahan,
penyinaran, penderita lanjut usia, dan keadaan tubuh yang lemah meliputi
malnutrisi, seorang yang sedang dalam pengobatan imunosupresan jangka
panjang, atau menderita penyakit sistemik. Apabila terdapat rangsangan tersebut,
virus varicella zoster aktif kembali dan terjadi ganglionitis. Virus tersebut
bergerak melewati saraf sensorik menuju ujung-ujung saraf pada kulit atau
mukosa mulut dan mengadakan replikasi setempat dengan membentuk
sekumpulan vesikel.

3.4 GAMBARAN LINIS HERPES ZOSTER


Lesi Herpes zoster dapat mengenai seluruh kulit tubuh maupun membrane
mukosa. Herpes zoster biasanya diawali dengan gejala-gejala prodromal selama 2-
4 hari, yaitu rasa gatal, sakit yang menusuk, parastesi dan gejala-gejala terbakar
serta sensitivitas muncul di sepanjang lintasan syaraf yang terkena.

3.4.1 Kulit
Herpes zoster dikarakteristik oleh sakit dan sensasi lokal kulit lain
(seperti terbakar, geli, dan gatal), sakit kepala, tidak enak badan dan
(paling sering) demam, biasanya muncul ruam zoster (23 hari). Ruam
menyebar ke seluruh kulit yang terkena, berkembang menjadi papula,
vesikel (3-5 hari) dan tahap krusta (7-10 hari), memerlukan 2-4 minggu
untuk sembuh. Lesi baru berlanjut muncul untuk beberapa hari. Kelainan
kulit hanya setempat dan hanya mengenai sebelah bagian tubuh saja, yaitu
terbatas hanya pada daerah kulit yang dipersyarafi oleh satu syaraf
sensorik. Syaraf yang paling sering terkenaadalah C3, T5, L1,
dan L2, dan syaraf trigeminal.
3.4.2 Rongga Mulut

17
Sebelum lesi di rongga mulut muncul, pasien akan mengeluhkan rasa
nyeri yang hebat, kadang-kadang rasa sakitnya seperti rasa sakit pulpitis
sehingga sering salah diagnosa. Lesi diawali oleh vesikel unilateral yang
kemudian dengan cepat pecah membentuk erosi atau ulserasi dengan
bentuk yang tidak teratur.
Pada mukosa rongga mulut, vesikel hanya terdapat pada satu dari divisi
nervus trigeminus. Vesikel unilateral tersebut dikelompokkan dengan area
sekitar eritema, akhiran yang kasar pada midline (Gambar 2). Vesikel
bernanah dan bentuk pustula selama 3 sampai 4 hari.
Apabila cabang kedua dan ketiga nervus trigeminal terlibat, maka akan
muncul lesi-lesi di rongga mulut secara unilateral. Jika cabang kedua
(nervus maksilaris) terlibat maka lokasi yang dikenai adalah palatum, bibir
dan mukosa bibir atas. Jika cabang ketiga (nervus mandibula) terlibat,
lokasi yang dikenai adalah lidah (Gambar 4), mukosa pipi, bibir dan
mukosa bibir bawah.
3.5 FAKTOR RESIKO HERPES ZOSTER

Munculnya herpes zoster tidak berkaitan dengan musim dan tidak


berlangsung secara epidemi. Tapi, ada keterkaitan erat dengan peningkatan usia.
Angka kejadian herpes zoster berkisar antara 1,2 - 3,4 per 1000 orang sehat/tahun,
meningkat menjadi 3,9 - 11,8 per 1000 orang berusia di atas 65 tahun per tahun.
Hubungan dengan usia ini terjadi di berbagai negara di dunia, diduga karena
penurunan kekebalan seluler. Faktor risiko lain adalah stress psikologis dan
gangguan imunitas (immunocompromise),misalnya pada penderita HIV. Orang
berkulit hitam memiliki risiko herpes zoster lebih rendah dibanding kaukasia
(kulit putih). Faktor risiko lain adalah trauma mekanik dan paparan terhadap
imunotoksin. Seorang ibu hamil yang menderita infeksi HSV-2 bisa menularkan
infeksi kepada janinnya, terutama jika infeksi terjadi pada usia 6-9 bulan
kehamilan.

Menurut Short, MP, 2005 faktor resiko dari herpes zoster adalah agen-agen
atau kondisi yang dapat menurunkan pertahanan tubuh seperti pada:

18
Perawatan khemoterapi, perawatan dengan obat-obatan sitostatik atau
imunsupresif atau kortikosteroid.
Adanya suatu keganasan
Usia lanjut
Radiasi dan trauma lokal

Faktor resiko lain adalah:

1. Usia lebih dari 50 tahun, infeksi ini sering terjadi pada usia ini akibat daya
tahan tubuhnya melemah. Makin tua usia penderita herpes zoster makin
tinggi pula resiko terserang nyeri.
2. Orang yang mengalami penurunan kekebalan (immunocompromised)
seperti HIV dan leukemia. Adanya lesi pada ODHA merupakan
manifestasi pertama dari immunocompromised.
3. Orang dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
4. Orang dengan terapi organ mayor seperti transplantasi sumsum tulang

Faktor pencetus kambuhnya herpes zoster:

Trauma atau luka


Obat-obatan
Kelelahan
Sinar ultraviolet
Demam
Haid
Alkohol
Stress
Gangguan pencernaan

3.6 GEJALA HERPES ZOSTER

Herpes zoster (Shingles) adalah rasa sakit yang berkembang di pada wajah
atau badan. Luka yang terjadi dalam 7 sampai 10 hari akan sembuh dalam waktu 2
sampai 4 minggu. Sebelum luka berkembang, host biasanya akan merasakan sakit,
gatal atau merasa tersengat di area luka tersebut. Ini dapat terjadi dalam 1 sampai
5 hari sebelum luka itu muncul. Pada kasus lainnya, luka tampak pada satu sisi di
wajah. Pada kasus yang jarang terjadi ( terutama pada host yang sistem

19
imunitasnya rendah), luka akan tersebar secara luas dan akan terlihat seperti cacar
air. Herpes zoster dapat mempengaruhi pengelihatan bahkan menyebabkan
kebutaan. Gejala lain dari herpes zoster antara lain demam, sakit kepala, merasa
dingin, dan sakit perut.

3.7 TRANSISI HERPES ZOSTER

Herpes zoster ditularkan antar manusia melalui kontak langsung, salah


satunya adalah melalui pernapasan (oral udara) atau sekresi respirasi atau
terkadang melalui transfer langsung dari kulit melalui tranmisi fetomaternal,
sehingga virus tersebut dapat menjadi epidemik di antara inang yang rentan. VZV
dapat menular ke orang lain yang belum pernah mengalami varisela atau cacar
air karena jika orang tersebut tertular VZV maka manifestasinya berupa
varisela.VZV pada orang yang mengalami herpes zoster berada pada vesikel
herpes, dan orang dapat tertular VZV jika menyentuh atau kontak dengan ruam
maupun cairan pada vesikel yang melepuh, namun pada saat vesikel belum
terbentuk atau saat telah mengering menjadi krusta merupakan saat dimana VZV
tidak dapat menular lagi.

Resiko terjangkit herpes zoster terkait dengan pertambahan usia. Hal ini
berkaitan adanya immunosenescence, yaitu penurunan sistem imun secara
bertahap sebagai bagian dari proses penuaan. Selain itu, hal ini juga terkait dengan
penurunan jumlah sel yang terkait dalamimunitas melawan virus varicella-zoster
pada usia tertentu. Penderita imunosupresi, seperti pasien HIV/AIDS yang
mengalami penurunan CD4 sel-T, akan berpeluang lebih besar menderita herpes
zoster sebagai bagian dari infeksi oportunistik.

3.8 PECEGAHAN HERPES ZOSTER

Pada anak dengan imunokompeten yang pernah menderita varisela maka


tidak diperlukan tindakan pencegahan. Pencegahan diberikan kepada mereka yang
memiliki resiko tinggi menderita varisela yang fatal seperti pada neonatus,
pubertas, dan dewasa dengan tujuan mencegah ataupun mengurangi gejala
varisela. Biasanya pencegahan diberikan melalui vaksin.

20
3.9 PENGOBATAN HERPES ZOSTER

Pengobatan terhadap herpes zoster terdiri dari tiga hal utama yaitu
pengobatan infeksi virus akut, pengobatan rasa sakit akut yang berkaitan dengan
penyakit tersebut, dan pencegahan terhadap neuralgia pascaherpes. Penggunaan
agen antiviral dalam kurun waktu 72 jam setelah terbentuk ruam akan
mempersingkat durasi terbentuknya ruam dan meringankan rasa sakit akibat ruam
tersebut. Apabila ruam telah pecah, maka penggunaan antiviral tidak efektif lagi.
Contoh beberapa antiviral yang biasa digunakan untuk perawatan herpes zoster
adalah Acyclovir,Famciclovir, dan Valacyclovir.

Untuk meringankan rasa sakit akibat herpes zoster, sering digunakan


kortikosteroid oral (contoh prednisone). Sedangkan untuk mengatasi neuralgia
pascaherpes digunakan analgesik (Topic agents), antidepresan trisiklik, dan
antikonvulsan (antikejang).

Contoh analgesik yang sering digunakan adalah krim (loion) yang


mengandung senyawa calamine, kapsaisin, dan xylocaine. Antidepresan trisiklik
dapat aktif mengurangi sakit akibat neuralgia pascaherpes karena menghambat
penyerapan kembali neurotransmiter serotonin dan norepinefrin. Contoh
antidepresan trisiklik yang digunakan untuk perawatan herpes zoster adalah
Amitriptyline, Nortriptyline, Nortriptyline, dan Nortriptyline. Untuk mengontrol
sakit neuropatik, digunakan antikonvulsan seperti Phenytoin, carbamazepine, dan
gabapentin.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 GAMBARAN KELURAHAN TLOGOSARI WETAN

Tlogosari Wetan merupakan sebuah kelurahan di kecamatan Pedurungan,


Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Dengan jumlah penduduk laki-laki dan

21
perempuan sebesar 6.958 jiwa. Tlogosari wetan memiliki luas wilayah 1,25 km 2
dengan kepadatan penduduk 5.278 jiwa/km2.

Puskesmas Tlogosari Wetan Semarang, terletak di Jl. Puskesmas no. 6


kecamatan Pedurungan Semarang Timur, memiliki 8 kelurahan sebagai wilayah
kerja atau binaan yaitu kelurahan Tlogosari wetan, kelurahan Tlogomulyo,
kelurahan Palebon, Kelurahan Pedurungan Kidul, kelurahan Pedurungan Tengah,
kelurahan Pedurungan Lor, kelurahan Plamongan sari, dan keluahan Penggaron
Kidul.

4.2 TAHAP IDENTIFIKASI MASALAH DAN PRIORITAS MASALAH

a. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah atau masalah-masalah: Banyak orang mengabaikan


dan mengerjakan pemecahan masalah yang keliru . Karena kurang tepat dalam
menyatakan atau merumuskan masalah atau masalah-masalahnya. Perlu
ditentukan bahwa masalah atau persoalan adalah perbedaan antara sasaran dan
pencapaian sesungguhnya. Penentuan masalah juga dapat dilakukan dengan
analisis trend. Suatu pernyatan tentang masalah, harus ditulis berdasarkan urutan
yang diambil dengan fokus perhatian sebab-sebab penyimpangan. Dalam analisa
masalah mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

a) Apakah terdapat suatu masalah atau masalah-masalah?


b) Sampai sejauh mana kegawatan atau keseriusannya ?
c) Data atau informasi apa saja yang diperlukan dalam menerima
permasalahannya?

Tahap Identifikasi masalah pada kegiatan ini dimulai dengan melakukan


analisis data sekunder yang diperoleh dari Puskesmas Tlogosari Wetan, data
tersebut berbentuk laporan data per bulan dan per tahun. Kemudian data tersebut
dianalisis dan diolah agar lebih mudah dalam membacanya dan kemudian
disajikan dalam bentuk tren.

22
Identifikasi masalah kesehatan yang ada di Puskesmas Tlogosari Wetan
diperoleh dari data dari tahun 2011-2016. Terdapat 10 jenis penyakit menular
yang kami pilih di Wilayah Kerja Puskesmas Tlogosari Wetan sebagai berikut:

Tabel 4.1 Daftar Penyakit Menular di Kecamatan Pedurungan Wilayah Kerja


Puskesmas Tlogosari Wetan tahun 2011-2016 (januari-september).

N Penyakit Jumlah Penderita Total Rangkin


o Menular g
201 2012 2013 2014 2015 2016
1
1 Campak 2 1 7 5 5 0 20 10
Jerman
2 Herpes 353 206 193 258 203 100 1313 4
Zoster
3 Dermatiti 3 5 2 5 5 2 22 8
s
Seboroik
4 Cacar Air 509 194 100 89 147 96 1135 5
5 Hepatitis 5 7 4 2 3 0 21 9
A Akut
6 Diare 173 1383 1032 851 889 837 6725 1
3
7 TB Paru 175 343 334 423 336 258 1869 3
8 Demam 556 788 1094 920 1028 902 5288 2
Tifoid
dan
Paratifoid
9 Campak 55 15 14 31 50 14 179 6
10 Hepatitis 2 10 8 9 18 3 50 7
B akut
Berdasarkan data diatas kami mengambil 3 besar jenis penyakit menular
yaitu Herpes Zoster, Dermatitis Seboroik, dan Cacar Air. Berikut analisis tren dari
ketiga penyakit tersebut :

1. Herpes Zoster

23
Tabel 4.2 Jumlah Penderita Penyakit Herpes Zoster di Wilayah Kerja
Puskesmas Tlogosari Wetan tahun 2011-2016 (januari-september).

Penyakit Herpes Zooter


Tahun Jumlah Penderita
2011 353
2012 206
2013 193
2014 258
2015 203
2016 (Januari-September) 100
Total 1313

Gambar 4.1 Grafik Jumlah Penderita Penyakit Herpes Zosterdi Wilayah Kerja
Puskesmas Tlogosari Wetan tahun 2011-2016 (januari-september).

Berdasarkan grafik di atas diketahui bahwa penyakit Herpes Zoster yang


tercatat di Puskesmas Tlogosari Wetan dari tahun 2011 hingga 2016 mengalami
fluktuasi (naik turun atau tidak stabil). Penurunan kasus terbanyak terjadi pada
tahun 2012, namun kembali meningkat pada tahun 2014, dan kembali turun pada
tahun 2015, dan 2016.

2. Cacar Air

Tabel 4.3 Jumlah Penderita Penyakit Cacar Air di Wilayah Kerja Puskesmas
Tlogosari Wetan tahun 2011-2016 (januari-september).

24
Penyakit Cacar Air
Tahun Jumlah Penderita
2011 509
2012 194
2013 100
2014 89
2015 147
2016 (Januari-September) 96
Total 1135

Gambar 4.2 Grafik Jumlah Penderita Penyakit Cacar Air di Wilayah Kerja
Puskesmas Tlogosari Wetan tahun 2011-2016 (januari-september).

Berdasarkan grafik di atas diketahui bahwa penyakit Cacar air yang tercatat di
Puskesmas Tlogosari Wetan dari tahun 2011 hingga 2016 mengalami penurunan.
Terjadi kenaikan grafik jumlah kasus cacar air pada tahun 2015 sebanyak 147
kasus, sedangkan untuk jumlah kasus terendah terjadi pada tahun 2014 sebanyak
89 kasus.

3. Campak

Tabel 4.4 Jumlah Penderita Penyakit Campak di Wilayah Kerja Puskesmas


Tlogosari Wetan tahun 2011-2016 (januari-september).

Penyakit Campak
Tahun Jumlah Penderita
2011 55
2012 15
2013 14
2014 31

25
2015 50
2016 (Januari-September) 14
Total 179

Gambar 4.3 Grafik Jumlah Penderita Penyakit Campak di Wilayah Kerja


Puskesmas Tlogosari Wetan tahun 2011-2016 (januari-september).

Berdasarkan grafik di atas diketahui bahwa penyakit Campak yang tercatat


di Puskesmas Tlogosari Wetan dari tahun 2011 hingga 2016 mengalami fluktuasi
(naik turun atau tidak stabil). Kenaikan grafik terjadi pada tahun 2014 dan 2015,
sedangkan di tahun 2016 kembali terjadi penurunan kasus campak sebanyak 14
kasus.

b. Tahap Prioritasi Masalah

Teknik metode yang diterapkan adalah MCUA(Multiple Criteria Utility


Assessment) merupakan suatu teknik atau metode yang digunakan untuk
membantu tim dalam memprioritaskan masalah dan mengambil keputusan atas
beberapa alternatif. Alternatif dapat berupa masalah pada langkah penentuan
prioritas masalah atau pemecahan masalah pada langkah penetapan prioritas
pemecahan masalah. Kriteria adalah batasan yang digunakan untuk menyaring
alternatif masalah sesuai kebutuhan menentukan prioritas masalah menggunakan
MCUA dilakukan untuk menentukan prioritas masalah penyakit menular di
wilayah kerja Puskesmas Pegandan.

26
Tata cara penggunaan matriks MCUA dalam penentuan prioritas masalah
kesehatan masyarakat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Menetapkan kriteria
Tentukan kriteria yang akan digunakan yang dimaksud dengan
kriteria ini dalam hal ini ialah sesuatu hal yang dianggap sebagai akibat
atau pengaruh yang sangat signifikan dan spesifik dari masalah kesehatan
terhadap pasien ataupun masyarakat, sehingga kita dapat membedakan
masalah. Sedangkan yang dimaksud akibatnya terhadap masyarakat adalah
misalnya, cepat menular atau tidak, menimbulkan kerugian; kesulitan
masyarakat, sulit atau mudah mengatasinya, apakah masalah mutu itu
merupakan prioritas lokal, regional atau nasional.
Melakukan Pembobotan Kriteria
Lakukanlah pembobotan atau penentuan kepentingan relatif dari
setiap kriteria yang telah dipilih, artinya kriteria mana yang dianggap yang
terpenting, itu yang diberi bobot tertinggi dan yang kurang penting diberi
bobot yang terendah. Misalnya kisaran pembobotannya 1-10 (pembobotan
secara mutlak), artinya bobot yang terendah 1 sedangkan yang tertinggi
10, sedang kriteria lainnya akan mendapat bobot yang mencerminkan
kepentingan relatif dari masing-masing kriteria terhadap kriteria yang
tertinggi. Hanya satu kriteria yang akan diberi kriteria terendah, dan jika
dijumlah bobot relatif masing-masing kriteria mencapai 100%.
Membuat skor masing-masing kriteria terhadap masing-masing masalah
Setiap kriteria sikor terhadap masing-masing masalah artinya
estimasi berapa besarnya pengaruh masalah terhadap kriteria ini, apabila
pengaruhnya besar, maka diberi skor yang lebih tinggi, sedang apabila
dianggap pengaruhnya kurang, maka diberi skor yang lebih kecil,
misalnya kisaran angka pemberian skor 1-10, 1-7, 1-5. Mengalikan nilai
skor dengan bobot (S x Bobot). Kalikan masing-masing skor dengan bobot
pada kriteria yang telah fibrtikan pada masing-masing kolom masalah
kesehatan masyarakat.
Pemberian skor dan bobot tidak mencapai konsensus

27
Apabila dalam kelompok tidak mencapai konsensus dalam
pemberian nilai skor dan bobot kriteria maka perhitungan skor dan bobot
didapat dengan menghitung rata-rata hitung dari nilai-nilai yang diberikan
oleh masing-masing anggota kelompok. 30

Selanjutnya dari inventaris masalah Penykit menular yang ada di


Puskesmas Pegandan, akan dipilih dan dijadikan prioritas masalah melalui
metode Multiple Criteria Utility Assesment (MCUA) Kriteria yang digunakan
dalam memilih prioritas masalah kesehatan yang ada meliputi:

1. Kegawatan (semakin gawat suatu masalah kesehatan maka nilai bobotnya


semakin tinggi).
2. Besar/jumlah (semakin banyak yang menderita akibat karena suatu
masalah kesehatan maka nilai bobotnya semakin tinggi).
3. Tren (semakin sering suatu masalah kesehatan muncul, nilai bobotnya
semakin tinggi). Penentuan bobot masing-masing kriteria dipengaruhi
oleh kesepakatan anggota kelompok, dengan range nilai antara 1-5.

Tabel 4.5 Kriteria Analisis Prioritas Masalah Kesehatan dengan MCUA

Naik Terus (Signifikan) 5


Naik 4
Tren Naik Turun 3
Turun 2
Turun Signifikan 1

Sangat Gawat 5
Besar Masalah Gawat 4
Cukup Gawat 3
Jumlah Penderita Kurang Gawat 2
Sangat Tidak Gawat 1

Kegawatan Sangat Gawat 5


Gawat 4
Cukup Gawat 3
Kurang Gawat 2

28
Sangat Tidak Gawat 1

Tabel 4.6 Analisis Prioritas Masalah Kesehatan dengan MCUA

Nama Penyakit
No Kriteria Bobot Herpes Zooster Campak Cacar Air
S Sxb S Sxb S Sxb
1 Tren 3 3 9 2 6 2 6
2 Besar Masalah 2 5 10 2 4 3 6
3 Kegawatan 4 4 16 3 12 3 12
Total 10 35 22 24

Berdasarkan pemberian nilai (bobot) pada masing-masing masalah, yang


sesuai pada kriteria gawat, besar dan trend yang merupakan prioritas I sampai III
adalah sebagai berikut :

Prioritas I : Masalah Herpes Zoster dengan skor 35

Prioritas II : Masalah Cacar Air dengan skor 24

Prioritas III : Masalah Campak dengan skor 22

Jadi, berdasrkan analisis masalah dengan menggunakan metode MCUA


yang menjadi prioritas masalah adalah Herpes zoster dengan jumlah skor dan
bobot tertinggi yaitu 35. Skor untuk kegawatan diare diberi skor 4 karena dilihat
dari kegawatannya Herpes Zoster dapat menyebabkan rasa nyeri jangka panjang
yang dikenal dengan istilah Neuralgia Pasca Herpes. Neuralgia Pasca Herpes ini
merupakan komplikasi yang paling umum dari herpes zoster. Gejalanya yaitu rasa
nyeri yang berlangsung terus menerus selama 3 bulan (90 hari) sejak ruam timbul.
Komplikasi ini muncul sebagai rusaknya serabut saraf akibat dari aktivitas
viproses tumbuh kembang anak terharus yang berulang. Pada banyak orang
sentuhan kain lembut atau angin sepoi-sepoi pada kulit sekalipun dapat sangat
menyakitkan.

29
Besarnya penyakit herpes zoster diberi skor 2 karena dilihat dari data
kesakitan Puskesmas Tlogosari Wetan, Kota Semarang penyakit herpes zoster
menduduki terbesar pertama penyakit dengan jumlah penderita 1313,
dibandingkan empat penyakit menular lainnya yang kami pilih yaitu campak
jerman, dermatitis seboroik, cacar air, dan hepatitis a akut. Penyakit herpes zoster
diberi skor 3 untuk trend dilihat dari hasil trendnya yang fluktuatif meskipun
angka penderitanya masih banyak disetiap tahunnya dan usia rentan penderita
terbanyak diare adalah pada usia 20-44 tahun.

4.3 HASIL PENELITIAN

4.3.1. Analisis Univariat


4.3.1.1.Variabel Pengetahuan
Indikator Pengetahuan dilihat dari pengetahuan adalah apakah dia
mengetahui apa itu herpes, apakah penyebabnya, apakah penyakit herpes
menular, apakah herpes adalah penyakit yang berbahaya, apakah mereka
mengerti pengobatan dan pencegahan herpes, bagaimana komplikasi dan
bagaimana pengaruhnya terhadap kondisi tubuh. Berikut adalah distribusi
indikator variabel pengetahuan.
Tabel 4.7 Pengetahuan tentang Herpes

Pengetahuan Herpes F (%)

Ya 51 81

Tidak 12 19

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, 51 warganya mengetahui apa
itu herpes zoster, sedangkan 12 orang 19% responden tidak mengetahui
apa itu herpes zoster.

30
Tabel 4.8 Mengetahui tentang Penyebab Herpes

Mengetahui Penyebab f (%)


Herpes

Ya 31 49,21

Tidak 32 50,79

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan tidak mengetahui apa penyebab
herpes zoster (50,79%), sedangkan hanya 49,21% responden yang
mengetahui apa itu penyebab herpes zoster.

Tabel 4.9 Pengetahuan Tentang Penularan Herpes Zoster

Mengetahui Penularan f (%)


Herpes

Ya 48 76,2

Tidak 15 23,8

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan mengetahui bahwa herpes
zoster menular (76.19%), sedangkan hanya 23,81% responden tidak
mengetahui bahwa herpes zoster menular.

Tabel 4.10 Pengetahuan Herpes Zoster Berbahaya atau tidak

Mengetahui Penularan f (%)


Herpes berbahaya atau tidak

Ya 24 38,1

Tidak 39 61,9

31
Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan tidak mengetahui bahwa herpes
zoster penyakit yang berbahaya (61.90%), sedangkan hanya 38,10%
responden mengetahui bahwa herpes zoster berbahaya.

Tabel 4.11 Pengetahuan tentang pengobatan herpes zooster

Mengetahui Penularan f (%)


Herpes

Ya 38 60,3

Tidak 25 39,7

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan mengetahui pengobatan herpes
zoster (60.32%), sedangkan hanya 39.68% responden tidak mengetahui
pengobatan herpes zoster.

Tabel 4.12 Pengetahuan pencegahan Herpes Zoster

Mengetahui Penularan f (%)


Herpes

Ya 18 28,6

Tidak 45 71,4

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan tidak mengetahui pencegahan

32
herpes zoster penyakit yang berbahaya (71,43%), sedangkan hanya
28.57% responden mengetahui pencegahan herpes zoster.

Tabel 4.13 Pengetahuan Komplikasi Herpes Zoster

Mengetahui f (%)
Penularan Herpes

Ya 18 28,6

Tidak 45 71,4

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan tidak mengetahui komplikasi
herpes zoster penyakit yang berbahaya (71,43%), sedangkan hanya
28.57% responden mengetahui komplikasi herpes zoster.

4.3.1.2 Variabel Lingkungan Mengandung Herpes Zoster

Indikator pada variabel ini dimaksud untuk melihat interaksi


dengan penderita herpes zoster. Hal ini dilihat dari adanya orang terdekat
kita yang terkena herpes zoster, penggunaan handuk dan sabun bersama,
dan tinggal sekamar dengan penderita herpes zoster.

Tabel 4.14 Orang terdekat terkena penyakit herpes zoster

Mengetahui f (%)
Penularan Herpes

Ya 44 69.84

Tidak 19 30.16

Total 63 100

33
Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa
masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, orang terdekatnya terkena
penyakit herpes zoster (69.84%) sisanya tidak terkena Herpes Zoster
(30.16%).

Tabel 4.15 Berganti pakaian dengan keluarga

Mengetahui f (%)
Penularan Herpes

Ya 1 1,59

Tidak 62 98.41

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, tidak suka berganti-ganti
pakaian dengan teman (98,41%) dan 1,59% suka berganti-ganti pakaian.

Tabel 4.16 Penggunaan Sabun Batang bersamaan

Mengetahui f (%)
Penularan Herpes

Ya 29 46.03

Tidak 34 53.97

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, tidak suka menggunakan sabun
batang bersama teman (53.97%) dan 46,03% suka menggunakan sabun
batang bersama.

34
Tabel 4.17 Penggunaan Handuk Bersama

Mengetahui f (%)
Penularan Herpes

Ya 11 17.46

Tidak 52 82.54

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, tidak suka menggunakan
handuk bersama teman (82.54%) dan 17.46% suka menggunakan sabun
batang bersama.

Tablel 4.18 Sekamar dengan Penderita Herpes Zoster

Mengetahui f (%)
Penularan Herpes

Ya 21 33.33

Tidak 43 66.67

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, tidak suka menggunakan
handuk bersama teman (82.54%) dan 17.46% suka menggunakan sabun
batang bersama.

4.3.1.4 Variabel Interaksi dengan Penderita Herpes Zoster

Tabel 4.19 Interaksi dengan penderita herpes zoster

Mengetahui F (%)

35
Penularan Herpes

Sering 23 36.5

Jarang 21 33.3

Tidak Pernah 19 30.2

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, 23 orang sering berinteraksi
dengan penderit herpes zoster (36.51%).

4.3.1.5 Variabel Kurang Sosialisasi Kesehatan

Indikator pada variabel ini dimaksud untuk melihat sosialisasi yag


diberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat mengenai herpes zoster.
Hal ini dilihat dari pembagian pamflet, brosur dan penyuluhan.

Tabel 4.20 Pemberian brosur

Pemberian brosur F (%)

Ya 5 7.9

Tidak 58 92.1

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, yang mendapatkan hanya
pemberian brosur 7.9% dan 92.1% tidak mendapatkan brosur.

Tabel 4.21 Pemberian leaflet

Pemberian brosur F (%)

Ya 4 6.3

Tidak 59 93.7

36
Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, yang mendapatkan hanya
pemberian leaflet 6.3% dan 93.7% tidak mendapatkan brosur.

Tabel 4.22 Penyuluhan

Pemberian brosur F (%)

Ya 5 7.9

Tidak 58 92.1

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, yang mendapatkan penyuluhan
hanya 7.9% dan 92.1% tidak mendapatkan penyuluhan.
4.3.1.6 Variabel Kekebalan Tubuh
Indikator pada variabel ini adalah aktivitas fisik sehari-hari dan
frekuensi istirahat dalam sehari.

Tabel 4.23 Aktivitas fisik yang dijalani setiap hari

Aktivitas fisik F (%)

Berat 16 25.4

Sedang 41 65.1

Ringan 6 9.5

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, melakukan aktivitas yang
tergolong sedang setiap harinya (65.1%).

Tabel 4.24 Istirahat dalam Sehari

37
Istirahat dalam sehari F (%)
(jam)

2-4 14 22.2

5-8 47 74.6

>8 2 3.2

Total 63 100

Dari penelitian terhadap 63 responden, diketahui bahwa


masyarakat di puskesmas Tlogosari Wetan, isitrahat atau tidur dengan
intensitas 5-8 jam dalam sehari (74.60%)

4.3.2 Analisis Bivariat

4.3.2.1 Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Herpes Zooster

Tabel 4.25 Tabel Chi Square Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian
Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Pengetahuan Tinggi 25 8 33
Rendah 15 15 30
tentang herpes
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.034 ( < 0.05)


distribusi tidak normal, maka dari itu digunakan uji chi square (X 2). Hasil hitung
uji chi square (X2hitung) adalah 4.498 yang artinya lebih besar dari tabel chi
square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima yang
menyatakan ada hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang herpes dengan
kejadian Herpes Zoster.

38
4.3.3.2 Hubungan Lingkungan yang Mengandung Herpes Zoster dengan
Kejadian Herpez Zoster

Tabel 4.26 Tabel Chi Square Hubungan adanya orang terdekat yang
menderita Herpes Zoster dengan Riwayat Kejadian Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Orang terdekat YA 31 9 40
TIDAK 9 14 23
herpes
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.021 ( < 0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 5.368 yang artinya lebih besar dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima yang
menyatakan ada hubungan antara lingkungan yang mengandung virus (ada orang
terdekat yang terkena penyakit herpes zoster) dengan kejadian Herpes Zoster.

Tabel 4.2 7 Tabel Chi Square Hubungan Kebiasaan Berganti Pakaian


dengan Teman dan Riwayat Kejadian Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Berganti YA 1 0 1
TIDAK 39 23 62
pakaian
TOTAL 40 23 63
Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.445 ( > 0.05) Hasil
hitung uji chi square (X2hitung) adalah 0.584 yang artinya lebih kecil dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima yang
menyatakan tidak ada hubungan antara berganti-ganti pakaian bersama penyakit
herpes zoster dengan kejadian Herpes Zoster.

Tabel 4.28 Chi Square Hubungan Kebiasaan Memakai Handuk Bersama dengan
Riwayat Kejadian Herpes Zoster

Riwayat Kejadian herpes Total


YA TIDAK
Handuk orang YA 8 3 11
TIDAK 32 20 52
lain

39
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.484 ( > 0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 0.904 yang artinya lebih kecil dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima yang
menyatakan tidak ada hubungan pemakaian handuk bersama dengan kejadian
Herpes Zoster.

Tabel 4.29 Tabel Chi Square Hubungan Kebiasaan Menggunakan Sabun


Batang Bersama dengan Riwayat Kejadian Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Sabun batang YA 22 7 29
TIDAK 18 16 34
bersama
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.060 ( >0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 3.547 yang artinya lebih kecil dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima yang
menyatakan tidak ada hubungan penggunaan sabun batang secara bersamaan
dengan penderita Herpes Zoster dengan kejadian Herpes Zoster.

Tabel 4.30 Tabel Chi Square hubungan Sekamar dengan penderita dengan
Riwayat Kejadian Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Sabun batang YA 14 7 21
TIDAK 26 16 42
bersama
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.137 ( > 0.05) Hasil hitung
uji chi square (X2hitung) adalah 0.711 yang artinya lebih kecil dari tabel chi
square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima yang
menyatakan tidak ada hubungan sekamar dengan penderita herpes zoster dengan
kejadian Herpes Zoster

40
.
4.3.2.3 Hubungan Interaksi dengan Penderita Herpes Zoster dengan
Kejadian Herpez Zoster

Tabel 4.31 Tabel Chi Square Hubungan interaksi dengan Herpes Zoster
dengan Riwayat Kejadian Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Interaksi Sering 15 8 23
Jarang 16 5 23
dengan herpes
Tidak Pernah 9 10 19
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.164 ( > 0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 3.621 yang artinya lebih besar dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima yang
menyatakan ada hubungan antara interkasi dengan penderita herpes zoster dengan
kejadian Herpes Zoster.
4.3.2.4 Hubungan Kurangnya Sosialisasi mengenai Herpes Zoster dengan
Kejadian Herpes Zoster

Tabel 4.32 Tabel Chi Square Hubungan Pembagian Brosur dengan


Riwayat Kejadian Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Brosur YA 5 0 5
TIDAK 35 23 58
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.077 ( >0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 3.123 yang artinya lebih kecil dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima yang
menyatakan tidak ada hubungan antara pembagian brosur dengan kejadian Herpes
Zoster.

41
Tabel 4.33 Tabel Chi Square Hubungan Pembagian Leaflet dengan Riwayat
Kejadian Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Pembagian YA 4 0 4
TIDAK 36 23 59
Leaflet
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.177 ( > 0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 2.456 yang artinya lebih kecil dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ha diterima yang
menyatakan tidak ada hubungan antara pembagian leaflet dengan kejadian Herpes
Zoster.

Tabel4.34 Tabel Chi Square Hubungan Penyuluhan Dengan Riwayat Kejadian


Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Berganti YA 4 1 5
TIDAK 36 22 58
pakaian
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.424 ( > 0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 0,639 yang artinya lebih kecil dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima yang
menyatakan tidak ada hubungan antara penyuluhan dengan kejadian Herpes
Zoster.

4.3.2.5 Hubungan Kekebalan Tubuh dengan Kejadian Herpes Zoster

Tabel 4.35 Tabel Chi Square hubungan aktivitas setiap hari dengan Riwayat
Kejadian Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Aktivitas Berat 10 6 16

42
Sedang 26 15 41
Ringan 4 2 6
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.984 ( > 0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 0.033 yang artinya lebih kecil dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima yang
menyatakan tidak ada hubungan aktivitas sehari-hari dengan kejadian Herpes
Zoster.

Tabel 4.36 Tabel Chi Square Hubungan Aktivitas Setiap Hari Dengan Riwayat
Kejadian Herpes Zoster
Riwayat Kejadian herpes Total
YA TIDAK
Istirahat dalam 2-4 jam 9 5 14
5-8 jam 30 17 47
sehari
>8 jam 1 1 2
TOTAL 40 23 63

Berdasarkan penelitian diatas didapatkan sebesar 0.922 ( < 0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 0.163 yang artinya lebih besar dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima yang
menyatakan tidak ada hubungan waktu istirahat dalam sehari dengan kejadian
Herpes Zooster.

4.4 PEMBAHASAN

4.4.1 Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Herpes Zooster

Pengetahuan adalah diperoleh melalui hasil penglihatan maupun


pendengaran dengan tingkat pengetahuan sebagai berikut: tahu (know),
memahami (comperehention), aplikasi (application), analisis (analisys), sintesis
(synthesis), dan evaluasi (evaluation). Pengetahuan dapat diperoleh secara
langsung atau dari pengalaman orang lain.

Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai herpes zoster dalam penelitian


ini diukur menggunakan kuisioner. Jumlah pertanyaan yang merujuk pada

43
pengetahuan tentang herpes zoster sebanyak 8 poin dengan penilaian yaitu
jawaban benar diberi nilai 1 dan jawaban salah diberi nilai 0. Jika responden
memiliki skor antara 0-4 maka responden tergolong memiliki tingkatpengetahuan
rendah sedangkan responden yang memiliki skor antara 5-8 tergolong memiliki
tingkat pengetahuan tinggi. Sebagian besar responden dalam penelitian ini
memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Dari hasil statistik pada analisis
bivariat menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahun masyarakat
mengenai herpes zoster dengan kejadian herpes zooster pada balita dalam
penelitian ini (X2 = 4.498).

Pengetahuan dapat dipengaruhi dari informasi yang diterima. Informasi


tersebut dapat mempengaruhi sikap masyarakat terhadap pencegahan penularan
herpes zoster (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan masyarakat tentang penyakit
herpes zooster di Kelurahan Tlogosari Wetan sebagian besar masih kurang, hal ini
disebabkan karena kurangnya informasi atau penyuluhan mengenai herpes zoster.
Karena penyuluhan yang dilakukan oleh lembaga kesehatan khusunya Puskesmas
Tlogosari Wetan masih bersifat insidentil, yaitu puskesmas baru melakukan
penyuluhan ketika ada suatu kejadian atau kasus penyakit di masyarakat.
Sehingga informasi atau pengetahuan yang mereka dapatkan hanya sebatas dari
lingkungan keluarga atau tetangga yang tidak diketahui dari mana asal atau
sumbernya.

Upaya peningkatan pengetahuan dapat dilakukan dengan lebih


meningkatkan frekuensi penyuluhan dan pelatihan khususnya herpes zooster dan
perilaku hidup bersih dan sehat secara intensif dan berkelanjutan, dan diharapkan
dengan upaya tersebut masyarakat dan mampu berperilaku hidup sehat guna
mencegah terjadinya penyakit herpes zooster.

4.4.2 Hubungan Lingkungan yang Mengandung Herpes Zoster dengan


Kejadian Herpez Zoster
Lingkungan yang tidak terpelihara akan gampang sekali untuk terkena
penyakit, terutama penyakit menular. Berdasarkan penelitian diatas di dapatkan
hasil bahwa ada hubungan apabila ada orang terdekat yang terkena penyakit

44
herpes zoster dengan kejadian Herpes Zoster (X2 hitung = 5,368). Kemudian juga
didapatkan hasil bahwa ada hubungan apabila ada interkasi dengan penderita
herpes zoster dengan kejadian Herpes Zoster (X 2 hitung = 3,621). Kemudian
didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan apabila berganti-ganti pakaian
bersama penyakit herpes zoster dengan kejadian Herpes Zoster (X2 hitung =
0,854). Kemudian daptkan hasil bahwa tidak ada hubungan pemakaian handuk
bersama dengan kejadian Herpes Zoster (X2 hitung = 0,904). Selain itu diaptka
hasil bahwa tidak ada hubungan penggunaan sabun batang dengan kejadian
Herpes Zoster (X2 hitung = 3,7). Kemudian didaptkan hasil bahwa tidak ada
hubungan sekamar dengan penderita herpes zoster dengan kejadian Herpes Zoster
(X2 hitung = 0,711).
Dari sebuah Jurnal Ilmiah dikatakan bahwa, minimnya informasi tentang
herpes, belum maksimalnya usaha pencegahan penularan, dan stigmatisasi
terhadap penderita, menunjukkan adanya 10 isu kesehatan yang berhubungan
dengan interaksi perilaku dengan lingkungan fisik dan sosial budaya di
masyarakat yang perlu diintervensi oleh petugas kesehatan melalui upaya-upaya
promosi kesehatan. Sehingga mampu dikatakan bahwa adanya interaksi dengan
penderita mampu meningkatkan resiko kejadian penyakit Herpes Zoster, ini
dikarenakan masih minimnya upaya intervensi dalam promosi kesehatan sehingga
banyak yang tidak menyadari bahwa kontak langsung dengan penderita, salah
satunya adalah berinteraksi, mampu mempermudah virus untuk menginfeksi
dirinya.

4.4.3 Hubungan Interaksi dengan Kejadian Herpes Zoster

Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih
objek mempengaruhi atau memiliki efek sama lain. Menurut penelitian yang
dilakukan, dari 63 sampel penelitian, masih ada yang berinteraksi dengan
penderita herpes zoster yaitu 15 orang sering kontak langsung dengan penderita
herpes zoster sedngkan 16 orang jarang kontak langsung dengan penderita herpes
zoster.

45
Berdasarkan perhitungan uji chi square didapatkan sebesar 0.164 ( >
0.05) dan X2hitung adalah 3.621 yang artinya lebih besar dari tabel chi square
(X2tabel= 3.841) yang artinya ada hubungan antara interkasi dengan penderita
herpes zoster dengan kejadian Herpes Zoster.

Menurut CDC, orang yang rentan apabila berinteraksi dengan penderita


herpes zoster dapat tertular oleh virus zoster. Orang dengan luka aktif yang
terserang herpes zoster dapat menyebabkan VZV kepada orang yang rentan.
Orang yang tidak pernah terkena herpes zoster dan tidak pernah mendapatkan
vaksin dapat terinfeksi VZV oleh orang yang terkena herpes zoster.

Virus akan tersebar ketika seseorang memiliki kontak langsung dengan


luka aktif herpes zoster. Orang yang memiliki luka aktif herpes zoster harus
mencegah kontak dengan kelompok rentan di dalam rumahnya dan di lingkungan
kerjanya sampai luka tersebut kering dan menghilang.
Hal sesuai dengan penelitian Thomas SL dan Hall AJ yang menyatakan
bahwa seseorang akan terinfeksi virus Varisela-zoster jika daya tahan tubuh
mereka menurun dan mereka lebih sering kontak dengan penderita herpes zoster.
Hal ini didukung oleh teori yang menyatakan bahwa menurunnya imunitas atau
daya tahan tubuh dapat meningkatkan terjadinya herpes zoster.

4.2.4 Hubungan Kurang Sosialisasi dengan Kejadian Herpes Zoster

Pada penelitian ini Sosialisasi dilihat dari 3 poin, yaitu pemberian brosur,
pamflet, dan penyuluhan. Hal ini didasari dari kegiatan puskesmas yang biasanya
memberikan brosur, pamflet dan penyuluhan.

Berdasarkan penelitian ini, didapatkan sebesar 0.424 ( > 0.05) Hasil


hitung uji chi square (X2hitung) adalah 0,639 yang artinya lebih kecil dari tabel
chi square (X2tabel= 3.841) yang artinya tidak ada hubungan antara penyuluhan
dengan kejadian Herpes Zoster.
Pada dasarnya pamflet, brosur, dan penyuluhan merupakan upaya
puskesmas dalam mensosialisasikan pengetahuan dan cara pencegahan herpes
zoster. Pengetahuan dapat dipengaruhi dari informasi yang diterima. Informasi

46
tersebut dapat mempengaruhi sikap masyarakat terhadap pencegahan penularan
herpes zoster (Notoatmodjo, 2007). Menurut WHO, tujuan penyuluhan kesehatan
adalah untuk merubah perilaku perseorangan dan atau masyarakat dalam bidang
kesehatan. Akan tetapi, Warga Tlogosari Wetan tidak mendapatkan sosialisasi baik
itu mendapatkan brosur, pamflet, maupun penyuluhan.
Menurut Kepmenkes No 581/MENKES/SK/VII/1992, dilaksanakan
dengan cara tepat guna oleh pemerintah dengan peran serta masyarakat yang
meliputi salah satunya penyuluhan dalam upaya pemberantasan penyakit menular.
Pada penelitian ini memang tidak ada hubungan antara brosur, pamflet, maupun
penyuluhan dengan kejadian herpes zoster dikarenakan jarangnya sosialisasi
mengenai herpes zoster terhadap masyarakat Tlogosari Wetan.

4.2.5 Hubungan Kekebalan Tubuh dengan Kejadian Herpes Zoster

Kekebalan tubuh adalah sistem pertahanan sebagai perlindungan terhadap


infeksi dari makromolekul asing atau serangan patogen, termasuk virus, bakteri,
protozoa, dan parasit. Kekebalan tubuh sering dikaitkan dengan aktivitas fisik
yang rutin dilaksanakan. Aktivitas fisik merupakan segala sesuatu aktivitas yang
menggerakan fisik atau tubuh kita. Dari aktivitas fisik juga memiliki manfaat yang
sangat beragam dan mungkin bisa dikatakan tidak memiliki batas. Misalnya saja
pada saat orang melakukan aktivitas fisik yaitu olahraga, orang tersebut memiliki
tujuan agar berat badan masih bisa dijaga dengan seimbang.

Penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa walaupun melakukan


aktivitas fisik yang sedang tetapi waktu istirahat kurang. Berdasarkan penelitian
diatas didapatkan sebesar 0.922 ( < 0.05) dan hasil hitung uji chi square
(X2hitung) adalah 0.163 yang artinya lebih besar dari tabel chi square (X 2tabel=
3.841) yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima yang menyatakan tidak ada
hubungan waktu istirahat dalam sehari dengan kejadian Herpes Zooster.

47
BAB V

PEMECAHAN MASALAH, PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH, DAN


USULAN KEGIATAN UNTUK PEMECAHAN MASALAH

5.1 ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

Berdasarkan tahap identifikasi masalah yang telah dilakukan, didapatkan


hasil yaitu Banyaknya jumlah kasus kejadian herpes zoster di Kelurahan Tlogosari
Wetan Semarang, dimana kejadian herpes zoster di Kelurahan Tlogosari Wetan ini
berada di posisi 6 besar. Langkah selanjutnya adalah menentukan alternatif solusi
dari penyebab masalah yang sudah ditentukan. Dalam menentukan alternatif
solusi, metode yang digunakan yaitu menggunakan diagram How-How.

48
Penyuluhan dan Pelatihan Mengadakan program
kepada masyarakat Kelurahan pengobatan masal untuk
Tlogosari Wetan mengenai penyakit herpes zoster di
Penyakit dan upaya-upaya Kelurahan Tlogosari Wetan
pencegahan serta
penanggulangannya.
Banyaknya jumlah kasus
kejadian herpes zoster di
kelurahan Tlogosari
Wetan, Semarang

Menyebarkan informasi
mengenai penyakit herpes
zoster, seperti brosur, leaflet,
pamflet, dan lain-lain

49
Setelah mendapatkan beberapa alternatif solusi, maka perlu adanya
penentuan prioritas dari alternatif solusi masalah tersebut. Teknik yang digunakan
yaitu dengan metode MCUA.

Waktu yang diperlukan

Skor Kriteria

4 Tidak lama (< 1 bulan)


Efektifitas solusi
3 Cukup lama (3-5 bulan)
Skor Kriteria
2 Lama (6-12 bulan)
1 Tidak efektif
1 Sangat Lama (> 1 tahun)

2 Cukup efektif

3 Sumber dayaEfektif
manusia yang
diperlukan
4 Sangat efektif
Skor Kriteria

1 Sangat sedikit

2 Sedikit

3 Cukup

4 Banyak

Tabel 6.1 Kriteria MCUA Prioritas Alternatif Solusi Pemecahan Masalah

50
Penyebaran
Penyuluhan Pengobatan
Bobot informasi (brosur,
Kriteria dan Pelatihan masal
(a) leaflet, pamflet)

Skor SxB Skor SxB Skor SxB


Dana yang
30% 3 0,9 4 1,2 3 0,9
diperlukan
Efektifitas
40% 4 1,6 3 1,2 2 0,8
solusi
Sumber daya
manusia yang 30% 4 1,2 3 0,9 1 0,3
diperlukan
Jumlah 100% 3,7 3,3 2
Tabel 6.2 MCUA Prioritas Alternatif Solusi Pemecahan Masalah

Berdasarkan MCUA diatas urutan prioritas pemecahan masalah


adalah :

Prioritas I : Penyuluhan dan Pelatihan kepada masyarakat Kelurahan


Tlogosari Wetan mengenai Penyakit dan upaya-upaya pencegahan serta
penanggulangannya.

Prioritas II : Mengadakan program pengobatan masal untuk penyakit herpes


zoster di Kelurahan Tlogosari Wetan.

Prioritas III : Menyebarkan informasi mengenai penyakit herpes zoster, seperti


brosur, leaflet, pamflet, dan lain-lain.

Setelah dilakukan prioritas alternatif solusi masalah dengan menggunakan


MCUA maka didapatkan hasil bahwa Penyuluhan dan Pelatihan kepada
masyarakat Kelurahan Tlogosari Wetan mengenai Penyakit dan upaya-upaya
pencegahan serta penanggulangannya merupakan nilai tertinggi. Selanjutnya perlu
melakukan kelayakan implementasi solusi agar dapat merencanakan implementasi
dari solusi yang terpilih dengan menggunakan Diagram Force Field Analysis.

51
Diagram Force Field Analysis berisi list antara faktor pendorong dan
faktor penghambat yang dapat terjadi pada alternatif solusi masalah. Dengan
dibuatnya diagram ini akan teridentifikasi kelayakan solusi yang ada untuk
mengatasi penyebab masalah rendahnya jumlah puskesmas yang menjalankan
program posyandu lanjut usia di sekitar wilayah kerja Puskesmas Inpres, Jambi..
Diagram ini akan lebih baik jika disertai dengan skor atau bobot untuk maisng
masing faktor yaitu penghambat atau pendorong. Skor atau bobot yang diberikan
bervariasi , misalnya 1 3, 1 5 atau dalam bentuk bobot presentase selanjutnya
dijumlahkan ke bawah dan jumlah total ini yang akan menentukan apakah suatu
alternatif solusi masalah yang akan dijalankan atau tidak.

KRITERIA SKOR

1 SANGAT TIDAK BERPENGARUH

2 TIDAK BERPENGARUH

3 CUKUP BERPENGARUH

4 BERPENGARUH

5 SANGAT BERPENGARUH

Tabel 6.3 Kriteria Skor Diagram FFA

Skor Faktor Pendukung A Faktor Penghambat Skor


D
4 visi dan misi yang kuat V Kepentingan politik 5
O
untuk memperbaiki K
pelayanan puskesmas A Kebijakan yang tidak 4

52
mendukung
lansia kemajuan puskesmas
5 Adanya peraturan
perundangan yang
Sikap pemangku 3
mendukung program
kepentingan yang
puskesmas lansia
tidak berpihak
4 Kemampuan Negoisasi S
I
yang baik

3 Dukungan media massa


untuk menggiring opini
publik

TOTAL

19 16

Tabel 6.4 Diagram Force Field Analysis

Karena faktor pendukung dalam pemecahan masalah ini mendapatkan skor


yang lebih besar daripada faktor penghambat oleh karena itu program pemecahan
ini dapat dilanjutkan untuk membuat Perencanaan Pelaksanaan Solusi.

5.2 PLAN OF ACTION (POA)

Plan of Action (PoA) atau disebut juga Rencana Usulan Kegiatan (RUK)
merupakan sebuah proses yang ditempuh untuk mencapai sasaran kegiatan.
Menurut Supriyanto dan Nyoman (2007), Perlu beberapa hal yang
dipertimbangkan sebelum menyusun Plan of Action (PoA), yaitu dengan
memperhatikan kemampuan sumber daya organisasi atau komponen masukan
(input), seperti: Informasi, Organisasi atau mekanisme, Teknologi atau Cara, dan
Sumber Daya Manusia (SDM).

Tujuan dari Plan of Action (PoA), antara lain:

1. Mengidentifikasi apa saja yang harus dilakukan

53
2. Menguji dan membuktikan bahwa:
a. Sasaran dapat tercapai sesuai dengan waktu yang telah dijadualkan
b. Adanya kemampuan untuk mencapai sasaran
c. Sumber daya yang dibutuhkan dapat diperoleh
d. Semua informasi yang diperlukan untuk mencapai sasaran dapat
diperoleh
e. Adanya beberapa alternatif yang harus diperhatikan.
3. Berperan sebagai media komunikasi
a. Hal ini menjadi lebih penting apabila berbagai unit dalam organisasi
memiliki peran yang berbeda dalam pencapaian
b. Dapat memotivasi pihak yang berkepentingan dalam pencapaian sasaran.
Kriteria Plan of Action yang Baik

Dalam penerapannya, Plan of Acton (PoA) harus baik dan efektif agar
kegiatan program yang direncanakan dapat dijalankan sesuai dengan tujuan.
Berikut ini beberapa kriteria Plan of Acton (PoA) dikatakan baik, antara lain:

1. Spesific (spesifik) : Rencana kegiatan harus


spesifik dan berkaitan dengan keadaan yang ingin dirubah. Rencana
kegiatan perlu penjelasan secara pasti berapa Sumber Daya Manusia
(SDM) yang dibutuhkan, siapa saja mereka, bagaimana dan kapan
mengkomunikasikannya.
2. Measurable (terukur) : Rencana kegiatan
harus dapat menunjukkan apa yang sesungguhnya telah dicapai.
3. Attainable/achievable (dapat dicapai) :
Rencana kegiatan harus dapat dicapai dengan biaya yang masuk akal. Ini
berarti bahwa rencana tersebut harus sederhana tetapi efektif, tidak harus
membutuhkan anggaran yang besar. Selain itu teknik dan metode yang
digunakan juga harus yang sesuai untuk bisa dilakukan.
4. Relevant (sesuai) : Rencana kegiatan harus
sesuai dan bisa diterapkan di suatu organisasi atau di suatu wilayah yang
ingin di intervensi. Harus sesuai dengan pegawai atau masyarakat di
wilayah tersebut

54
5. Timely (sesuai waktu) : Rencana kegiatan
harus merupakan sesuatu yang dibutuhkan sekarang atau sesuatu yang
segera dibutuhkan. Jadi waktu yang sesuai sangat diperlukan dalam
rencana kegiatan agar kegiatan dapat berjalan efektif.

55
PERENCANAAN PELAKSANAAN SOLUSI (POA)

Program kegiatan : GERCEPS Gerakan Cegah Herpes zooster : Upaya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan
masyarakat dalam pencegahan herpes zooster.

No Kegiatan Volume Biaya Penanggung Tujuan Waktu


jawab

1 Sosialisasi pada pemegang 2 orang 100.000 Diah Eka Bekerja sama dengan Minggu ke-1 bulan
program dan pengajuan Kelurahan Tlogosari Februari 2017
proposal kegiatan Wetan dan
mempermudah
berjalannya program
2 Pendekatan dan pengajuan 2 orang 100.000 Puji Puskesmas bersedia untuk Minggu ke-2 bulan
kerja sama dengan bekerja-sama dalam Februari 2017
puskesmas setempat mendukung berjalannya
program.

3 Pengajuan proposal 7 orang Rp. 200.000 Yohana Perusahaan-perusahaan Minggu 3-4 Bulan
kerjasama dengan lintas lintas sektor bersedia Februari 2017
sector untuk bekerjasama untuk

59
mendukung berjalannya
program

4 Pembentukan Tim Inti 2 orang 100.000 Yohana Membentuk tim inti Minggu ke-1 Bulan
program minimal 25 Maret 2017
orang

5 Pembentukan konsep 2 orang 100.000 Dhwi Membentuk konsep Minggu ke-2 Bulan
program penyuluhan dan program Maret 2017
pelatihan
6 Menentukan jumlah sasaran 3 orang 50.000 Diah Eka Mendapatkan sasaran Minggu ke-3 Bulan
program sebanyak 100 Maret 2017
orang, memperkirakan
kebutuhan
Pembuatan Modul 100 2.000.000 Dhwi Sebagai acuan dalam Minggu ke-3 Bulan
eksemplar pelatihan Mahasiswa Maret 2017
@ 20.000

60
7 Tentukan pemateri, MC, dan 3 orang 50.000 Diah Eka Mendapatkan Minggu ke-4 Bulan
moderator kesepakatan pemateri Maret 2017
sesuai materi, MC dan
moderator sesuai yang
sudah disepakati panitia

8 Tentukan tanggal yang tepat 3 orang 50.000 Diah Eka Mendapatkan tanggal Minggu ke-1 Bulan April
tepat 2017

9 Penyusunan Acara kegiatan 5 orang 100.000 Lathifah Tersusunnya acara Minggu ke-1 Bulan April
kegiatan penyuluhan 2017

10 Mencari sumber dana 4 orang 3.000.000 Nimas Dana yang didapat Minggu 1-4 Bulan April
2017
11 Pembayaran biaya MC, 2 orang 10.000.000 Nimas Bukti pembayaran dan Minggu ke-1 Mei 2017
Moderator, dan Pemateri fiksasi MC, Moderator,
dan Pemateri

61
12 Membuat daftar 3 orang 50.000 Firdianita Daftar perlengkapan yang Minggu ke-1 Mei 2017
perlengkapan penyuluhan sesuai dan lengkap
dan pelatihan
13 Mempersiapkan 3 orang 15.000.000 Firdianita Perlengkapan dan Minggu ke-1 Mei 2017
perlengkapan dan konsumsi konsumsi pada hari H-
untuk hari H Pelaksanaan sesuai
dengan target
14 Menata tempat pelaksanaan 5 orang 1.000.000 Kevin Tempat pelaksanan siap Minggu ke-2 Mei 2017
digunakan untuk
penyuluhan

15 Pelaksanaan Penyuluhan 25 orang 3.000.000 Nova Meningkatkan Tanggal 10 Mei 2017


kepada masyarakat tentang pengetahuan masyarakat
herpes zooster tentang herpes zooster

62
16 Pelaksanaan pelatihan 30 orang 12.000.000 Puji Meningkatkan Tanggal 11 Mei 2017
kepada masyarakat tentang partisipasi dan 11 Agustus 2017
upaya pencegahan herpes peran aktif
zooster masyarakat dalam
upaya pencegahan
dan
pemberantasan
herpes zooster
Menumbuhkan
kemandirian
masyarakat dalam
upaya pencegahan
dan
pemberantasan
herpes zoster
Terciptanya
lingkungan yang
bersih sehat dan
terawat untuk

63
mencegah
penyebaran virus
penyakit herpes
zooster.

17 Monitoring evaluasi 1 orang 500.000 Kevin Program berjalan Tanggal 10 Mei 2017-25
kondusif dan sesuai Agustus 2017
dengan indikator yang
ditetapkan.

64
Teknis Pelaksanaan

No Kegiatan Sasaran Biaya Penanggung Hasil/Keluaran Waktu Keterangan


Jawab
1 Penyuluhan Warga RT 3 juta Nova A Delegasi ibu Tanggal 10 Kegiatan penyuluhan diawali
Materi : Herpes zooster sebanyak untuk yang hadir Mei 2017 dengan pre test dan dikahiri
dan PHBS 100 orang konsumsi , tahu dan dengan post test untuk
yang paham tentang mengetahui tingkat
mewakili herpes zooster pengetahuan ibu tentang
masing- dan phbs serta herpes zooster.
masinG menyampaikan Kegiatan penyuluhan disertai

RW di nya pada ibu dengan bazar untuk menarik


Kelurahan yang ada pada perhatian masyarakat serta
Tlogosari RT masing- pembagian oralit kepada ibu
Wetan masing. balita agar ibu-ibu dapat
melakukan penanggulangan
ketika anak menderita herpes
zooster.
2 Praktek langsung Seluruh 12 juta Puji Sri.R Seluruh warga Minggu , Kegiatan kerja bakti diawali
mengenai poin-poin Warga di untuk ikut berperan 14Desember dengan senam pagi dan

65
PHBS Kelurahan konsumsi aktif dalam 2014 pemeriksaan kesehatan gratis.
Tlogosari dan membersihkan
Wetan pengadaan lingkungan di
Dan 10 barang masing-masing
fasilitator RT yang ada di
kelurahan X
dan
menjaganya
agar tetap
bersih, sehat,
dan terawat
untuk
menghindari
berkembangny
a vektor
penyakit
herpes zooster.

66
5.3 Monitoring dan Evaluasi (Monev)

Kegiatan monitoring lebih terfokus pada kegiatan yang sedang


dilaksanakan. Monitoring dilakukan dengan cara menggali untuk mendapatkan
informasi secara regular berdasarkan indikator tertentu, dengan maksud
mengetahui apakah kegiatan yang sedang berlangsung sesuai dengan perencanaan
dan prosedur yang telah disepakati. Indikator monitoring mencakup esensi
aktivitas dan target yang ditetapkan pada perencanaan program. Apabila
monitoring dilakukan dengan baik akan bermanfaat dalam memastikan
pelaksanaan kegiatan tetap pada jalurnya (sesuai pedoman dan perencanaan
program). Juga memberikan informasi kepada pengelola program apabila terjadi
hambatan dan penyimpangan, serta sebagai masukan dalam melakukan evaluasi.

Secara prinsip, monitoring dilakukan sementara kegiatan sedang


berlangsung guna memastikan kesesuain proses dan capaian sesuai rencana atau
tidak. Bila ditemukan penyimpangan atau kelambanan maka segera dibenahi
sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai rencana dan targetnya. Jadi, hasil
monitoring menjadi input bagi kepentingan proses selanjutnya. Sementara
Evaluasi dilakukan pada akhir kegiatan, untuk mengetahui hasil atau capaian akhir
dari kegiatan atau program. Hasil Evaluasi bermanfaat bagi rencana pelaksanaan
program yang sama diwaktu dan tempat lainnya.

Fungsi monitoring dan evaluasi

Menurut Dunn (1981), monitoring mempunya empat fungsi, yaitu:

1. Ketaatan (compliance). Monitoring menentukan apakah tindakan


administrator, staf, dan semua yang terlibat mengikuti standar dan
prosedur yang telah ditetapkan.
2. Pemeriksaan (auditing). Monitoring menetapkan apakah sumber dan
layanan yang diperuntukkan bagi pihak tertentu (target) telah mencapai
mereka.

67
3. Laporan (accounting). Monitoring menghasilkan informasi yang
membantu menghitung hasil perubahan sosial dan masyarakat sebagai
akibat implementasi kebijaksanaan sesudah periode waktu tertentu.
4. Penjelasan (explanation). Monitoring menghasilkan informasi yang
membantu menjelaskan bagaimana akibat kebijaksanaan dan mengapa
antara perencanaan dan pelaksanaannya tidak cocok
Penilaian (Evaluasi) merupakan tahapan yang berkaitan erat dengan
kegiatan monitoring, karena kegiatan evaluasi dapat menggunakan data yang
disediakan melalui kegiatan monitoring. Dalam merencanakan suatu kegiatan
hendaknya evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan, sehingga dapat
dikatakan sebagai kegiatan yang lengkap. Evaluasi diarahkan untuk
mengendalikan dan mengontrol ketercapaian tujuan. Evaluasi berhubungan
dengan hasil informasi tentang nilai serta memberikan gambaran tentang manfaat
suatu kebijakan. Istilah evaluasi ini berdekatan dengan penafsiran, pemberian
angka dan penilaian. Evaluasi dapat menjawab pertanyaan Apa pebedaan yang
dibuat (William N Dunn : 2000).

Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah program itu mencapai


sasaran yang diharapkan atau tidak. Evaluasi lebih menekankan pada aspek hasil
yang dicapai (output). Evaluasi baru bisa dilakukan jika program itu telah berjalan
setidaknya dalam suatu periode (tahapan), sesuai dengan tahapan rancangan dan
jenis program yang dibuat dalam perencanaan dan dilaksanakan.

Tujuan monev

Umpan balik dari sebuah program akan dipergunakan dalam perbaikan dan
penyesuaian komponen-komponen yang tidak maksimal dalam pelaksanaan
program. Bila memungkinkan perubahan scenario dan konsolidasi sumberdaya
(proses manajemen) dapat dilakukan dalam pelaksanaan program sehingga lebih
menjamin keberhasilan program.

Monitoring bertujuan mendapatkan umpan balik bagi kebutuhan program


yang sedang berjalan, untuk mengetahui kesenjangan antara perencanaan dan

68
terget. Dengan mengetahui kebutuhan ini pelaksanaan program dapat membuat
penyesuaian dengan memanfaatkan umpan balik tersebut. Kesenjangan yang
menjadi kebutuhan itu bisa jadi mencakup faktor biaya, waktu, personel, dan alat,
dan sebagainya.

Dengan demikian, dapat diketahui misalnya berapa jumlah tenaga yang


perlu ditambahkan atau dikurangi, alat atau fasilitas apa yang perlu disiapkan
untuk melaksanakan program tersebut, berapa lama tambahan waktu dibutuhkan,
dan seterusnya. Sementara itu, Evaluasi bertujuan memperoleh informasi yang
tepat sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan tentang
perencanaan program, keputusan tentang komponen input pada program,
implementasi program yang mengarah kepada kegiatan dan keputusan tentang
output menyangkut hasil dan dampak dari program kegiatan, dan terutama apa
yang dapat diperbaiki pada program yang sama yang akan dilaksanakan di waktu
dan tempat lain.

Secara umum tujuan pelaksanaan M&E adalah;

1. Mengkaji apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan


rencana
2. Mengidentifikasi masalah yang timbul agar langsung dapat diatasi
3. Melakukan penilaian apakah pola kerja dan manajemen yang digunakan
sudah tepat untuk mencapai tujuan proyek.
4. Mengetahui kaitan antara kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh ukuran
kemajuan.
5. Menyesuaikan kegiatan dengan lingkungan yang berubah, tanpa menyimpang
dari tujuan.
Fungsi monev

- Proses pengambilan keputusan berjalan atau berhentinya/perubahan sebuah


atau beberapa program yang berkaitan dilakukan melalui proses evaluasi.

69
- Fungsi Pengawasan dalam kerangka kegiatan monitoring dan evaluasi
terutama kaitannya dengan kegiatan para pimpinan dalam tugas dan
tanggungjawabnya adalah sebagai berikut.
- Mempertebal rasa tanggung jawab terhadap orang / manejer/ pejabat yang
diserahi tugas dan wewenang dalam pelaksanaan pekerjaan.
- Membidik para pekerja atau pejabat agar mereka melaksanakan pekerjaan
sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.
- Untuk mencegah terjadinya penyimpangan, kelainan dan kelemahan agar
tidak terjadi kerugian yang tidak diinginkan.
- Untuk memperbaiki kesalahan dan penyelewengan agar pelaksanaan
pekerjaan tidak mengalami hambatan dan pemborosan-pemborosan yang
tidak perlu.
Manfaat monev

Secara umum manfaat dari penerapan sistem monitoring dan evaluasi


dalam suatu program adalah sebagai berikut:

1. Monitoring dan Evaluasi (M&E) sebagai alat untuk mendukung


perencanaan:
- Penerapan sistem M&E yang disertai dengan pemilihan dan penggunaan
indikator akan memperjelas tujuan serta arah kegiatan untuk pencapaian
tujuan tersebut.
- Pemilihan indikator program yang melibatkan berbagai pihak secara
partisipatif tidak saja berguna untuk mendapatkan indikator yang tepat tetapi
juga akan mendorong pemilik proyek dan berbagai pihak yang
berkepentingan untuk mendukung suksesnya program.
2. Monitoring dan Evaluasi (M&E) sebagai alat untuk mengetahui kemajuan
program:
- Adanya sistem M&E yang berfungsi dengan baik memungkinkan pelaksana
program mengetahui kemajuan serta hambatan atau hal-hal yang tidak diduga
yang secara potensial dapat menghambat jalannya program secara dini. Hal

70
terakhir bermanfaat bagi pelaksana program untuk melakukan tindakan secara
tepat waktu dalam mengatasi masalah.
- Informasi hasil M&E dapat memberikan umpan balik kepada
pelaksanaprogram tentang hasil capaian program, dalam arti sesuai atau tidak
sesuai dengan yang diharapkan
- Bilamana hasil program belum sesuai dengan harapan maka pelaksana
program dapat melakukan tindakan penyesuaian atau koreksi secara tepat dan
cepat sebelum program terlanjur berjalan tidak pada jalurnya. Dengan
demikian informasi hasil M&E bermanfaat dalam memperbaiki jalannya
implementasi program.
3. Monitoring dan Evaluasi (M&E) sebagai alat akuntabilitas program dan
advokasi:
- M&E tidak hanya memantau aktivitas program tetapi juga hasil dari aktivitas
tersebut. Informasi pemantauan terhadap luaran dan hasil (output dan
outcome) program yang dipublikasikan dan dapat diakses oleh pemangku
kepentingan akan meningkatkan akuntabilitas program.
- Informasi hasil M&E dapat dipakai sebagai bahan masukan untuk advokasi
program kepada para pemangku kepentingan.
- Informasi tersebut akan memicu dialog dan pembelajaran serta memacu
keikutsertaan
Monitoring dan Evaluasi dilaksanakan dengan mengikuti beberapa langkah
sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaan: Persiapan dilaksanakan dengan mengidentifikasi hal-hal


yang akan dimonitor, variabel apa yang akan dimonitor serta menggunakan
indikator mana yang sesuai dengan tujuan program. Rincian tentang variabel
yang dimonitor harus jelas dulu, serta pasti dulubatasannya dan definisinya.
Variabel adalah karakteristik dari seseorang, suatu peristiwa atau obyek yang
bisa dinyatakan dengan data numerik yang berbeda-beda. (William N Dunn:
2000).
2. Tahap Pelaksanaan: monitoring ini untuk mengukur ketepatan dan tingkat
capaian dari pelaksaan program/kegiatan/proyek yang sedang dilakukan
dengan menggunakan standar (variable) yang telah dipersiapkan di tahap

71
perencanaan. Setelah memastikan definisi yang tepat tentang variabel yang
dimonitor serta indikatornya, maka laksanakan monitoring tersebut. Adapun
indikator umum yang diukur dalam melihat capaian pekerjaan antara lain
adalah :
Kesuaian dengan tujuan proyek/kegiatan
Tingkat capaian pekerjaan sesuai target
Ketepatan belanja budget sesuai plafon anggaran;
Adanya tahapan evaluasi dan alat evaluasinya;
Kesesuaian metode kerja dengan alat evaluasi;
Kesesuaian evaluasi dengan tujuan proyek;
Ketetapan dan pengelolaan waktu;
Adanya tindak lanjut dari program tersebut;
3. Tahap Pelaporan: Pada langkah ketiga, yaitu menentukan apakah prestasi
kerja itu memenuhi standar yang sudah ditentukan dan di sini terdapat
tahapan evaluasi, yaitu mengukur kegiatan yang sudah dilakukan dengan
standar yang harus dicapai. Selanjutnya temuan-temuan tersebut
ditindaklanjuti dan hasilnya menjadi laporan tentang program.

72
GAMBARAN MONITORING

Kegiatan Indikator Target Frekuensi Data dibutuhkan Metode Keterangan kemajuan


rencana dan sumber data

Monitoring Peningkatan 80% Monitoring - Kegiatan Pelatihan Dengan melihat - Diharapkan masyarakat telah
pengetahuan dan masyrakat dilakukan yang dilakukan kondisi melakukan kegiatan setiap kali
keterampilan ibu di selama tiap bulan dan lingkungan mendapat penyuluhan dan
dalam upaya Kelurahan kegiatan laporan yang masyarakat diterapkan dalam kehidupan
mencegah Tlogosari dilaksanakan dilakukan di setempat dan sehari-hari.
- Dengan pengetahuan tentang
terjadinya penyakit Wetan (1x Sebulan akhir bulan setiap melihat hasil pre
masalah herpes zooster yang
herpes zooster. terlatih Selama 3 kegiatan. test dan post test
- Wawancara dengan disampaikan saat penyuluhaan,
dalam bulan) yang diberikan
masyarakat di diharapkan masyarakat dapat
upaya kepada
Kelurahan menerapkan sikap dan perilaku
pencegahan masyarakat serta
Tlogosari Wetan yang baik dalam pengaplikasian
Herpes laporan di bulan
untuk mengukur sehari-hari sehingga masyarakat
Zooster. sebelumnya
tingkat dapat hidup lebih sehat,
pengetahuan dan khususnya terhindar dari
melihat apakah kejadian herpes zooster.

73
ilmu yang
disampaikan
pada masyarakat
apakah
tersampaikan
dengan baik atau
tidak.

GAMBARAN EVALUASI

Kegiatan ini menunjukkan sejauh mana kegiatan yang dilaksanakan dapat memecahkan masalah.

74
Indikator Pencapian Hasil / output Frekuensi/waktu Data yang dibutuhkan

Peningkatan 80% masyarakat 80% angka Setiap Akhir -Hasil pre-test dan post-test yang dilakukan oleh masyarakat
pengetahuan meningkat kejadian Herpes Kegiatan yang mengikuti penyuluhan serta pelatihan..
masyarakat dan pengetahuannya Zooster di wilayah -Laporan kegiatan tiap bulan yang telah dilaksanakan.
keterampilan dan terlatih dalam Tlogosari Wetan
masyarakat dalam upaya pencegahan berkurang.
upaya pencegahan Herpes Zoster.
Herpes Zoster

75
BAB VI

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
1. Kejadian herpes zooster pada masyarakat di wilayah kelurahan tlogosari
wetan dapat dilihat berdasarkan faktor pengetahuan masyarakat , riwayat
penyakit keluarga yang terkena herpes zoster, kekebalan tubuh, lingkungan
mengandung virus varisella zoster (interaksi dengan penderita herpes
zoster), dan kurang sosialisasi dari yankes tentang herpes zoster.
sedangkan kejadian pada masyarakat yang pernah mengalami herpes
zooster sebanyak 1313 jiwa dari tahun 2011-2016 (januari-september).
2. Ada hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang herpes dengan
kejadian Herpes Zoster.
3. Ada hubungan antara lingkungan yang mengandung virus (ada orang
terdekat yang terkena penyakit herpes zoster) dengan kejadian Herpes
Zoster.
4. Ada hubungan apabila ada interkasi dengan penderita herpes zoster dengan
kejadian Herpes Zoster.
5. Tidak ada hubungan apabila berganti-ganti pakaian bersama penyakit
herpes zoster dengan kejadian Herpes Zoster.
6. Tidak ada hubungan pemakaian handuk bersama dengan kejadian Herpes
Zoster.
7. Tidak ada hubungan penggunaan sabun batang dengan kejadian Herpes
Zoster.
8. Tidak ada hubungan sekamar dengan penderita herpes zoster dengan
kejadian Herpes Zoster.
9. Ada hubungan antara interkasi dengan penderita herpes zoster dengan
kejadian Herpes Zoster.
10. Tidak ada hubungan antara penyuluhan dengan kejadian Herpes Zoster.
11.

6.2 SARAN

1. Bagi instansi kesehatan


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah masukan bagi
instansi kesehatan agar lebih meningkatkan mutu pelayanan terhadap

76
program pelayanan kesehatan mengenai kasus herpes di wilayah kerja
Puskesmas Tlogosari Wetan, Pedurungan, sehingga mampu meningkatkan
pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang herpes zoster serta
menerapkanya dalam peningkatan kesehatan masyarakat. Misalnya
melalui penyuluhan dan pelatihan melalui kegiatan GERCEPS (Gerakan
Cegah Herpes zooster).
2. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Diharapkan dapat menjadi bahan referensi dalam institusi
pendidikan untuk penelitian terkait tentang faktor terjadinya herpes
zooster.
3. Bagi Masyarakat
Masyarakat diharapkan ada peningkatan pengetahuan serta peran
serta masyarakat dalam mengenal herpes zooster, serta mengetahui
masalah PHBS dan lingkungan dengan mengikuti kegiatan penyuluhan
dan pelatihan serta menerapkanya dalam menjaga status kesehatannya
secara mandiri.

77
DAFTAR PUSTAKA

Arvin AM. Immune responses to varicella-zoster virus. Infect Dis Clin North Am.
1996;;10:529570(Diakses Pada 26 November 2016).

Arvin AM. Varicella-zoster virus. In: Knipe DM, Howley PM, eds. Virology. 4th
ed. Philadelphia, Pa: Lippincott Williams & Wilkins;; 2001:27312767
(Diakses Pada 26 November 2016).

Bappeda dan BPS Kota Semarang. 2012. Data monografi Kecamatan Pedurungan
tahun 2012. Semarang (Diakses Pada 11 November 2016).

Berlin AL, Muhn AY, Billick RC. Hiccups, eructation, and other uncommon
prodromal manifestations of herpes zoster. J Am Acad Dermatol
2003;;49(6):1121-4 (Diakses Pada 26 November 2016).

Brauer J. Varicella Zoster. Dalam: Zuckerman AJ, Banatvala je, Schoub BD,
Griffiths PD, Mortimer P, penyunting. Principles and practice of clinical
virology, edisi keenam. London: John willey & Sons Ltd, 2009;;133-56
(Diakses Pada 26 November 2016).

CDC. Shingles (Herpes Zoster) 19 Agustus 2016. www.cdc.gov (Diakses Pada 11


November 2016).

CDC: Shingles (Herpes Zoster) Clinical Overview.


http://www.cdc.gov/shingles/hcp/clinical-overview.html (Diakses Pada 26
November 2016).

Dunn, William N. 2000. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Gadjahmada


University Press (Diakses Pada 24 November 2016).

Janniger C.K.. Herpes Zoster. WebMD LLC; Dikutip dari:


(http://emedicine.medscape.com/article/1132465-overview) (Diakses Pada
11 November 2016).

78
Morbidity and Mortality Weekly Report.Prevention of Herpes Zoster
Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices
(ACIP).June 6, 2008 / Vol. 57 / RR-5(Diakses Pada 11 November 2016).

Murray PR., Rosenthal KS., Pfaller MA. Medical Microbiology 7 th ed.


Philadelphia, Elsevier Saunders;;2013:461-478(Diakses Pada 11 November
2016).

Notoatmodjo, S. 2005. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta


(Diakses Pada 11 November 2016).

Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta :


Rineka Cipta (Diakses Pada 11 November 2016).

Oxman MN. Varicella-Zoster Virus: Virology and Clinical Management.


Cambridge University Press;; 2000:246275 (Diakses Pada 11 November
2016).

Schmader KE, Dworkin RH. Natural History and Treatment of Herpes Zoster. The
journal of Pain 2008;;9(1):s3-9 (Diakses Pada 11 November 2016).

Strauss, Stephen et al. Varicella and Herpes Zoster. In : Wolff K, Goldsmith


L,editors. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine : 7th ed. New
York :McGraw-Hill, 2008 : 1885-1898 (Diakses Pada 11 November 2016).

Supriyanto S dan Nyoman Anita D. 2007. Perencanaan dan Evaluasi. Surabaya:


Airlangga Universitiy Press (Diakses Pada 24 November 2016).

Thomas SL, Hall AJ. What does epidemiology tell us about risk factors for herpes
zoster. The Lancet Infectious Diseases 2004; 4: 26-32.9 (Diakses Pada 25
November 2016).

etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/63618/potongan/S2-2013-308464
chapter1.pdf (Diakses Pada 26 November 2016).

http://www.alodokter.com/herpes-zoster (Diakses Pada 26 November 2016).

79
LAMPIRAN
KUESIONER PENELITIAN

FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT MENULAR HERPES ZOOSTER


PADA MASYARAKAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TLOGOSARI
WETAN

Nomor Responden

Tanggal Survey

Identitas Responden

1. Nama :
2. Alamat :
3. Umur : tahun
4. Jenis Kelamin : perempuan/laki-laki
5. Pendidikan Terakhir :

Petunjuk pengisian:

1. Bacalah dengan cermat dan teliti setiap pernyataan di bawah ini


a. Pertanyaan di bawah ini adalah mengenai judul di atas
b. Jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan pengalaman yang
anda hadapi
c. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang saudara pilih

Pengetahuan

1. Apakah anda tahu apa itu herpes zooster?


a. Ya
b. Tidak
2. Apakah anda tahu penyebab utama herpes zooster?
a. Ya
b. Tidak
3. Apakah penyakit herpes zooster menular?
a. Ya
b. Tidak
4. Apakah penyakit ini sangat berbahaya?
a. Ya
b. Tidak
5. Apakah anda mengetahui pengobatan Herpes zooster?
a. Ya
b. Tidak
6. Apakah anda tahu pencegahan penyakit Herpes Zooster?
a. Ya

80
b. Tidak
7. Apakah anda mengetahui komplikasi-komplikasi yang akan terjadi bila
penyakit herpes zooster tidak segera ditangani?
a. Ya
b. Tidak
8. Apakah menurut anda kondisi tubuh yang tidak vit mudah terserang
penyakit herpes zooster?
a. Ya
b. Tidak

Riwayat Penyakit

1. Apakah anda pernah mengalami herpes zooster?


a. Ya
b. Tidak
2. Seberapa sering anda terkena penyakit herpes zooster dalam setahun?
a. 1 kali
b. 2 kali
c. >2 kali
3. Apakah keluarga anda ada yang pernah mengalami penyakit herpes
zooster?
a. Ya
b. Tidak

Lingkungan

1. Apakah anda sering melakukan aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00-
16.00 WIB?
a.Ya
b. Tidak
2. Apakah anda menggunakan Lotion Pelindung Kulit saat melakukan
aktivitas di luar ruangan pada siang hari?
a. Ya
b. Tidak
3. Apakah orang terdekat anda pernah mengalami herpes zooster?
a. Ya
b. Tidak
4. Seberapa sering anda berinteraksi dengan orang yang menderita herpes
zooster?
a. Sering
b. Jarang
c. Tidak Pernah
5. Apakah anda berganti-ganti pakaian dengan teman anda?
a. Ya
b. Tidak
6. Apakah anda pernah menggunakan handuk orang lain?
a. Ya
b. Tidak

81
7. Apakah anda menggunakan sabun batang bersama?
a. Ya
b. Tidak
8. Apakah anda tinggal satu kamar dengan penderita herpes zooster?
a. Ya
b. Tidak

Perilaku

1. Bagaimana aktivitas yang anda jalani setiap hari?


a. Berat
b. Sedang
c. Ringan

2. Apakah anda sering kelelahan dengan aktivitas tersebut?


a. Ya
b. Tidak

3. Apakah anda pernah mengkonsumsi alkohol?


a. Ya
b. Tidak

4. Seberapa sering anda mengkonsumsi alkohol?


a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Tidak Pernah

5. Apakah anda sering merasa stres atau tertekan?


a. Sering
b. Kadang-kadang
c. Tidak Pernah

6. Seberapa lama anda beristirahat dalam sehari?


a. 2-4 jam
b. 5-8 jam
c. Lebih dari 8 jam

Genetik

1. Apakah kondisi tubuh anda sering tidak fit atau mudah sakit?
a. Ya
b. Tidak
2. Apa warna kulit anda?
a. Hitam
b. Sawo matang
c. Kuning langsat
d. Putih

Pelayanan Kesehatan

82
1. Apakah anda pernah melakukan kunjungan ke puskesmas?
a. Ya
b. Tidak
2. Berapa jarak rumah anda ke puskesmas?
a. Dekat (< 1 km)
b. Jauh (>1 km)
3. Dengan apa anda menuju ke puskesmas tlogosari wetan
a. Sepeda
b. Mobil
c. Angkutan umum
d. Jalan Kaki
e. Motor
4. Apakah petugas kesehatan di puskesmas tlogosari wetan menerapkan
prinsip 5S (senyum,salam,sopan,santun,sapa)?
a. Ya
b. Tidak
5. Apakah anda pernah melakukan pemeriksaan kesehatan herpes zooster di
puskesmas tlogosari wetan?
a. Ya
b. Tidak
6. Bagaimana pelayanannya?
a. Baik
b. Buruk
7. Apakah anda pernah mendapatkan penyuluhan mengenai herpes zooster
dari puskesmas tlogosari wetan
a. Ya
b. Tidak
8. Apakah puskesmas tlogosari wetan memberikan anda leaflet mengenai
herpes zooster?
a. Ya
b. Tidak
9. Apakah puskesmas tlogosari wetan memberikan anda brosur mengenai
herpes zooster?
a. Ya
b. Tidak
10. Apakah puskesmas tlogosari wetan memberikan obat analgesik/pereda
nyeri ketika anda terkena penyakit herpes zooster?
a. Ya
b. Tidak

83