Anda di halaman 1dari 17

5

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Kata epilepsi berasal dari kata Yunani epilepsia yang berarti suatu
serangan dari atas.
Epilepsi menurut World Health Organization (WHO)3 merupakan
gangguan kronik otak dengan gejala berupa serangan-serangan yang berulang-
ulang yang terjadi akibat adanya ketidaknormalan kerja sementara sebagian atau
seluruh jaringan otak karena cetusan listrik pada neuron (sel saraf) yang
berlebihan, yang dapat menimbulkan kelainan motorik, sensorik, otonom atau
psikis yang timbul tiba-tiba karena lepasnya muatan listrik abnormal sel-sel otak.

2.2. Anatomi dan Fisiologi


Otak memiliki kurang lebih 15 millar neuron yang membangun subtansia
alba dan substansia grisea. Otak merupakan organ yang sangat kompleks,
berfungsi sebagai pengendali dan pengatur seluruh aktivitas, yaitu gerakan
motorik, sensasi, berpikir dan emosi. Di samping itu, otak merupakan tempat
kedudukan memori dan juga sebagai pengatur aktivitas involuntar atau otonom.
Sel-sel otak bekerja bersama-sama, berkomunikasi melalui signal-signal listrik.
Kadang-kadang dapat terjadi cetusan listrik yang berlebihan dan tidak teratur dari
sekelompok sel yang menghasilkan serangan atau seizure. Sistem limbik
merupakan bagian otak yang paling sensitif terhadap serangan. Ekspresi aktivitas
otak abnormal dapat berupa gangguan motorik, sensorik, kognitif atau psikis.15
Neokorteks, hipokampus, dan area fronto-temporal sering kali merupakan
letak awal munculnya serangan epilepsi, area subkorteks misalnya thalamus,
substansia nigra dan korpus striatum berperan dalam menyebarkan aktivitas
serangan dan mencetuskan serangan epilepsi umum. Pada otak normal,
penghambat rangsangan dari area subkorteks yang mengatur neurotransmiter
perangsang antara korteks dan area otak lainnya serta membatasi meluasnya
signal listrik abnormal. Penekanan terhadap aktivitas inhibisi eksitasi di area
6

tersebut pada penderita epilepsi dapat memudahkan penyebaran aktivitas serangan


mengikuti awal serangan parsial atau munculnya serangan epilepsi umum
primer.15

2.3. Etiologi
Epilepsi sebagai gejala klinis bisa bersumber pada banyak penyakit di
otak.
Etiologi epilepsi, yaitu:16
1. Idiopatik
Epilepsi idiopatik adalah epilepsi yang tidak diketahui
penyebabnya, diduga karena faktor genetik. Sekitar 70% kasus epilepsi
dikelompokkan sebagai epilepsi idiopatik Diperkirakan 50% dari
penderita epilepsi idiopatik adalah anak-anak. Kecenderungan
timbulnya epilepsi yang diturunkan tersebut dikarenakan sifat yang
menyebabkan penurunan ambang rangsang bangkitan yang lebih
rendah dari normal diturunkan pada anak, sehingga neuron menjadi
lebih hipereksitabel.
Pada epilepsi idiopatik diduga adanya kelainan genetik, yaitu
terdapat suatu gen yang menentukan sintesis dan metabolisme asam
glutamik yang menghasilkan zat Gama amino butiric acid (GABA)
yang merupakan penghambat (inhibitor) cetusan neuron yang
abnormal. Penderita yang secara kurang cukup memproduksi GABA
mempunyai kecenderungan untuk mendapat bangkitan epilepsi.

2. Kriptogenik
Epilepsi yang dianggap simptomatik tapi penyebabnya belum
diketahui, termasuk di sini adalah sindrom West, sindrom Lennox-
Gestaut dan epilepsi mioklonik. Gambaran klinik sesuai dengan
ensepalopati difus.
7

3. Simptomatik
Epilepsi yang disebabkan oleh kelainan atau lesi pada susunan
saraf pusat, misalnya trauma kepala, infeksi susunan saraf pusat (SSP),
tumor otak, gangguan peredaran darak otak, toksik (alkohol,obat),
gangguan tumbuh kembang, metabolikdan kelainan neurodegeneratif.
Sekitar 30% dari penderita epilepsi dikelompokkan sebagai epilepsi
simptomatik. Berbagai macam kelainan di otak ini sebagai fokus
epileptogenesis dapat terganggu fungsi neuronnya (eksitasi berlebihan
dan inhibisi yang kurang) dan akan menimbulkan kejang bila ada
rangsangan pencetus yang berlebihan.
a. Trauma Kepala
Mekanisme terjadinya kejang akibat trauma adalah iskemia
akibat terganggunya aliran darah, efek mekanis dari jaringan parut,
destruksi kontrol inhibitorik dendrit, gangguan sawar darah-otak,
dan perubahan dalam sistem penyangga ion ekstrasel.
Sekitar 50% kejang akan timbul 1 tahun setelah trauma, dan 20%
baru timbul 2 tahun setelah trauma. Kejang yang terjadi selama
minggu pertama setelah trauma kepala meningkatkan kemungkinan
kejang berulang spontan di kemudian hari.
b. Infeksi Susunan Saraf Pusat (SSP)
Kejang dapat terjadi akibat fase akut atau sekuele dari
infeksi susunan saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh bakteri,
virus atau parasit. Infeksi merupakan penyebab sekitar 3% kasus
epilepsi simptomatik.
c. Tumor Otak
Kejang dapat merupakan gejala pada tumor otak tertentu,
khusunya meningioma, glioblastoma, dan astrositoma. Tumor yang
terletak supratentorium dan mengenai korteks kemungkinan besar
menyebabkan kejang. Insidensi tertinggi terjadi pada tumor yang
terletak di sepanjang ulkus sentralis disertai keterlibatan daerah
8

motorik. Semakin jauh tumor dari bagian ini, semakin kecil


kemungkinannya menyebabkan kejang.
d. Penyakit Vaskular
Arteriosklerotik dan Infark Serebrum merupakan kausa
utama kejang pada pasien dengan penyakit vaskular, hal ini tampak
pada peningkatan jumlah populasi orang berusia lanjut yang
menderita epilepsi akibat kelaianan vaskular. Infark yang meluas
ke sruktur-struktur subkorteks lebih besar kemungkinannya
menimbulkan kejang berulang.

2.4. Dasar Neurokimia dan Neurofisiologi


Gambaran klinik suatu serangan epilepsi tergantung pada daerah otak yang
menjadi pusat lepas muatan listrik neuron-neuron dan pada jalur-jalur penjalaran
lepas muatan tersebut.17
2.4.1. Potensial Membran
Tiap neuron mempunyai muatan listrik yang disebut potensial membran.
Muatan listrik tersebut tergantung pada permeabilitas selektif membran neuron,
yaitu membran dapat ditembus dengan mudah oleh K+ dan sedikit sekali oleh Na+.
Keadaan demikian mengakibatkan konsentrasi K+ dalam sel menjadi tinggi,
sedangkan konsentrasi Na+ rendah. Keadaan sebaliknya terdapat di ruang
ekstraseluler. Potensial membran ditentukan oleh perbedaan muatan ion di dalam
dan di luar sel. Dalam keadaan normal, membran sel berada dalam polarisasi yang
dipertahankan oleh suatu proses metabolik aktif, yaitu suatu proses yang dapat
mengeluarkan Na+ dari dalam sel, sehingga konsentrasi Na + di dalam dan di luar
sel tidak berubah. Proses tersebut dinamakan "pompa sodium."17
Dalam keadaan fisiologi, neuron melepaskan muatan listrik karena
potensial membran diturunkan oleh potensial aksi yang tiba pada neuron tersebut.
Potensial aksi itu lebih besar daripada ambang lepas muatan listrik neuron,
sehingga merupakan suatu stimulus yang efektif bagi seluruh membran sel.
Selanjutnya potensial aksi disalurkan melalui neurit asendens atau desendens yang
bersinaps dengan dendrit neuron berikutnya. Lepas muatan listrik demikian akan
9

menyebabkan gerakan otot, timbulnya rasa protopatik, proprioseptif atau rasa


panca indera tergantung pada fungsi daerah korteks serebri tempat neuron-neuron
melepaskan muatan listriknya.17
Dalam keadaan patologi gangguan metabolisme neuron akan menurunkan
ambang lepas muatan listrik sehingga neuron-neuron dengan mudah secara
spontan dan berlebihan melepaskan muatan listriknya. Dalam klinik hal ini
menjelma sebagai serangan kejang. Pada serangan epilepsi terjadi lepas muatan
berlebihan yang merupakan lepas muatan listrik sinkron neuron-neuron yang
menderita kelainan. Lepas muatan tersebut mengakibatkan naiknya konsentrasi
K+ di ruang ekstraseluler sehingga neuron-neuron sekitarnya juga melepaskan
muatan listriknya. Dengan demikian terjadi penyebaran lepas muatan listrik
setempat. Lambat laun neuron-neuron kembali ke keadaan semula, yaitu kembali
mencapai potensial membran semula.17

2.4.2. Neurotransmitter
Zat-zat kimia dalam susunan saraf pusat yang mempengaruhi terjadinya
serangan epilepsi ialah neurotransmitter.17
Bagian terminal presinaptik neurit neuron-neuron yang bersinaps dengan
dendrit-dendrit dan badan neuron lain melepaskan neurotransmitter yang dapat
melintasi sela sinaps antar-neuron. Neurotransmitter yang dilepaskan ini dapat
merubah polarisasi membran sel postsinaptik. Neurotransmitter yang
mempermudah pelepasan muatan listrik dengan menurunkan potensial membran
disebut neurotransmitter eksitasi atau fasilitasi, sedangkan neurotransmitter yang
menghambat atau menahan pelepasan muatan listrik disebut neurotransmitter
inhibisi. Neurotransmitter eksitasi terpenting adalah acetylcholin. Acetylcholin
akan meningkatkan permeabilitas membran sel Na+ dan K+. Jika acetylcholin
makin meningkat dan tidak dihambat, maka terjadi depolarisasi masif, neuron-
neuron melepas muatan dan timbulah serangan epilepsi. Neurotransmitter inhibisi
yang utama adalah gamma-aminobutyric-acid (GABA). Jika GABA mengalami
gangguan pada keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi akan terjadi suatu
serangan. Lepas muatan listrik sejumlah neuron secara sinkron, berlebihan, tidak
10

terkendali dan berulang sebagai akibat ambang lepas muatan yang rendah
merupakan dasar suatu serangan epilepsi.17

2.4.3. Cara Menjalar Serangan Epilepsi


Suatu fokus epileptogen yang terletak di korteks serebri suatu hemisfer
dapat menjalar ke bagian-bagian lain otak. Lepas muatan listrik dapat tetap
terbatas pada sarang primer tanpa menimbulkan gejala klinik. Secara berkala
lepas muatan epileptik dapat menjalar ke hemisfer yang kontralateral melalui
serabut-serabut transkalosal. Lepas muatan listrik dapat juga menjalar melalui
serabut-serabut asosiasi pendek dengan jalan intrakortikal sehingga secara
progresif dapat melibatkan daerah lebih luas atau dapat menjalar ke thalamus
yang akan menjelma sebagai serangan fokal.17
Serangan epilepsi yang mulai sebagai serangan fokal baru disertai
kehilangan kesadaran bila lepas muatan listrik menjalar dari fokus di korteks
serebri ke substansi retikularis di batang otak. Bila lepas muatan listrik tersebut
cukup kuat, maka subsantia retikularis dan nuklei thalami akan melepaskan
muatan listrik serta memancarkannya secara difus ke seluruh korteks serebri.
Neuron-neuron di korteks serebri akan melepaskan muatan listrik dan terjadilah
kejang umum disertai kehilangan kesadaran.17

2.5. Klasifikasi Epilepsi


Menurut Commision of Classification and Terminology of the
International League against Epilepsy (ILAE) tahun 1981, klasifikasi epilepsi
sebagai berikut:2,14,16, 18,19
2.5.1. Epilepsi Umum
Serangan epilepsi diawali dengan hilangnya kesadaran dan diikuti gejala
lainnya yang bervariasi. Jenis-jenis serangan epilepsi umum dibedakan oleh ada
atau tidak adanya aktivitas motorik yang khas diantaranya, yaitu:
1. serangan tonik-klonik
2. umum (grand mal)
3. absence (petit mal)
4. absence tidak khas
11

5. serangan atonik
6. serangan mioklonik
7. serangan tonik

2.5.2. Epilepsi Parsial


Epilepsi parsial terdiri dari:
1. Epilepsi parsial sederhana
2. Epilepsi parsial kompleks
3. Epilepsi parsial yang berkembang menjadi serangan umum (epilepsi
parsial sederhana)

2.5.3. Epilepsi Tak Tergolongkan

2.6. Tipe Bangkitan Epilepsi


Bangkitan epilepsi adalah manifestasi klinis yang serupa dan berulang
secara paroksismal yang disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel
saraf di otak yang spontan.20

Klasifikasi ILAE 1981 untuk jenis bangkitan epilepsi:16,21


2.6.1. Bangkitan Parsial
Serangan epilepsi parsial dapat terbatas di suatu area otak. Bangkitan
parsial epileptik dimulai dari fokus yang terlokalisir di otak. Epilepsi fokal paling
sering disebabkan oleh lesi organik setempat atau adanya kelainan fungsional,
seperti jaringan parut di otak, adanya tumor yang menekan daerah otak, atau
rusaknya suatu area pada jaringan otak. Lesi semacam ini dapat menyebabkan
pelepasan impuls yang sangat cepat pada neuron setempat.22
1. Bangkitan parsial sederhana
Kesadaran tetap terpelihara. Jenis serangan ini paling sering
dihubungkan dengan lesi organik seperti tumor otak, edema otak.

2. Bangkitan parsial kompleks


12

Bangkitan parsial sederhana yang diikuti dengan gangguan kesadaran


yang menurun.

2.6.2. Bangkitan umum


Bangkitan umum epilepsi ditandai dengan pelepasan muatan listrik yang
dari neuron di seluruh area otak dalam korteks serebri, di bagian dalam serebrum,
dan di bagian batang otak.22
1. Lena (absence)
Pada bangkitan ini, kegiatan yang sedang dikerjakan berhenti, muka
tampak membengong, bola mata dapat memutar ke atas, tidak ada reaksi jika
diajak bicara. Biasanya bangkitan ini berlangsung selama 15-30 detik dan
biasanya dijumpai pada anak. Gejala yang terjadi berupa penurunan kesadaran,
gerakan klonik ringan biasanya dijumpai pada kelopak mata atas, sudut mulut,
atau otot-otot lainnya bilateral. Pada komponen atonik bisa dijumpai otot-otot
leher, lengan, tubuh, mendadak melemas. Pada komponen klonik dijumpai otot-
otot ekstremitas, leher dan mendadak mengejang, kepala, badan menjadi
melengkung ke belakang.
2. Mioklonik
Pada bangkitan ini terjadi kontraksi mendadak, sebentar, dapat kuat
atau lemah, sebagian otot atau semua otot-otot sekali atau berulang-ulang.
Bangkitan ini dapat dijumpai pada semua umur
3. Klonik
Pada bangkitan ini tidak ada komponen tonik, hanya terjadi kejang
kelojot. dijumpai terutama sekali pada anak.
4. Tonik
Pada bangkitan ini tidak ada komponen klonik, otot-otot hanya
menjadi kaku, juga terdapat pada anak.
5. Tonik-klonik
Bangkitan ini dikenal dengan nama grand mal. Serangan dapat diawali
dengan aura yaitu tanda-tanda yang mendahului suatu bangkitan. Pasien
mendadak jatuh pingsan, otot-otot seluruh badan kaku diikuti kejang di seluruh
13

badan. Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri. Tarikan napas menjadi dalam
beberapa saat. Setelah kejang berhenti pasien tidur beberapa lamanya, dapat pula
bangun dengan kesadaran yang masih rendah, atau langsung menjadi sadar
dengan keluhan badan pegal-pegal, lelah, nyeri kepala.
6. Atonik
Pada keadaan ini, otot-otot seluruh badan mendadak melemas sehingga
pasien terjatuh. Kesadaran dapat tetap baik atau menurun sebentar. Bangkitan ini
terutama dijumpai pada anak.

2.6.3. Bangkitan Tak tergolongkan


Termasuk golongan ini adalah bangkitan pada bayi berupa gerakan bola
mata yang ritmik, mengunyah-ngunyah, gerakan seperti berenang, menggigil atau
pernapasan yang mendadak berhenti secara sementara.

2.7. Diagnosis
Diagnosis pasti epilepsi adalah dengan menyaksikan secara langsung
terjadinya serangan, namun serangan epilepsi jarang bisa disaksikan langsung
oleh dokter, sehingga diagnosis epilepsi hampir selalu dibuat berdasarkan
alloanamnesis.23 Namun alloanamnesis yang baik dan akurat sulit didapatkan,
karena gejala yang diceritakan oleh orang sekitar penderita yang menyaksikan
sering kali tidak khas, sedangkan penderitanya sendiri tidak tahu sama sekali
bahwa ia baru saja mendapat serangan epilepsi. Pemeriksaan yang dapat
membantu menegakkan diagnosis penderita epilepsi adalah rekaman
elektroensefalografi (EEG).
Penegakan diagnosis epilepsi:20
1. Anamnesis (Autoanamnesis dan Alloanamnesis)
Berdasarkan karakeristik bangkitan: pola/bentuk, waktu, durasi
frekuensi, faktor pencetus, gejala (sebelum, selama & sesudah). Ada
atau tidaknya penyakit penyerta saat ini. Usia saat bangkitan pertama
tumbuh kembang, penyakit penyebab, keluarga, pengobatan terdahulu
2. Pemeriksaan Fisik
14

Pemeriksaan fisik terdiri dari pemeriksaan umum dan neurologi berupa


pemeriksaan apakah terdapat trauma kepala, infeksi otak, gangguan
kongenital, gangguan neurologik fokal atau difus.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah EEG.
Elektroensefalografi telah terbukti penting dalam diagnosis epilepsi,
mengingat tanda-tanda klinis yang kurang jelas pada sebagian besar
pasien.24

2.8. Tatalaksana Epilepsi


Anti epilepsi digunakan untuk mencegah dan mengobati bangkitan
epilepsi sehingga dinamakan obat anti epilepsi (OAE). 25 Di negara berkembang,
sekitar 90% penderita epilepsi tidak menerima pengobatan yang tepat.26 Tujuan
utama terapi epilepsi adalah mencapai kualitas hidup yang optimal bagi pasien,
sesuai dengan perjalanan penyakit epilepsi dan disabilitas fisik dan mental yang
dimiliki. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan beberapa upaya antara lain
menghentikan bangkitan, mengurangi frekuensi bangkitan, mencegah timbulnya
efek samping, menurunkan angka kesakitan dan kematian, mencegah timbulnya
efek samping obat antiepilepsi (OAE).27

2.8.1. Prinsip Terapi Farmakologi16


1. OAE mulai diberikan bila:
Diagnosis epilepsi telah dipastikan
Setelah pasien dan atau keluarganya mendapatkan penjelasan
tentang tujuan pengobatan
Pasien dan keluarganya telah diberitahu efek samping OAE yang
akan timbul.
2. Terapi dimulai dengan monoterapi, menggunakan OAE pilihan sesuai
dengan jenis bangkitan.
3. Pemberian obat diberikan mulai dengan dosis rendah dan dinaikkan secara
bertahap sampai dosis efektif tercapai atau timbul efek samping, kadar
15

obat dalam plasma ditentukan bila bangkitan tidak terkontrol dengan dosis
efektif.
4. Bila dengan penggunaan dosis maksimum obat pertama tidak dapat
mengontrol bangkitan maka perlu ditambahkan OAE ke-2.
5. Bila OAE telah mencapai kadar terapi, maka OAE pertama diturunkan
bertahap perlahan-lahan.
6. Penambahan obat diberikan bila sudah terbukti bangkitan tidak dapat
diatasi dengan menggunakan dosis maksimal kedua OAE pertama.
7. Pasien dengan bangkitan tunggal direkomendasikan untuk diberi terapi
bila:
Dijumpai fokus epilepsi yang jelas pada EEG
Pada pemeriksaan neurologis dijumpai kelainan yang mengarah
pada adanya kerusakan otak.
Terdapatnya riwayat epilepsi pada saudara sekandung
Riwayat epilepsi simptomatik.
Bangkitan pertama berupa status epileptikus
8. Efek samping OAE perlu diperhatikan demikian pula halnya dengan
interaksi farmakokinetik antar OAE.

2.8.2. Mekanisme Kerja Antiepilepsi25


Mekanisme kerja anti epilepsi:
1. Mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron
epilepton di dalam fokus epilepsi.
2. Mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron yang normal
akibat pengaruh dari fokus epilepsi.
Berbagai obat anti epilepsi mempengaruhi berbagai fungsi
neurofisiologi otak terutama mempengaruhi sistem inhibisi yang
melibatkan GABA dalam mekanisme kerja sebagai anti epilepsi.
16

Jenis OAE Lini OAE Lini OAE Yang OAE Yang


Bangkitan Pertama Kedua Dipertimbangkan Dihindari
Bangkitan Sodium Clobazam Clonazepam
Umum Valproate Levetiracetam Phenobarbital
Tonik Lamotrigine Oxcarbazepine Phenytoin
Klonik Topiramate Acetazolamide
Carbamazepine
Bangkitan Sodium Clobazam Carbamazepine
Lena Valproate Topiramate Gabapentin
Lamotrigine Oxcarbazepine
Bangkitan Sodium Clobazam Carbamazepine
Mioklonik Valproate Topiramate Gabapentin
Lamotrigine Levetiracetam Oxcarbazepine
Lamotrigine
Piracetam
Bangkitan Sodium Clobazam Phenobarbital Carbamazepine
Tonik Valproate Levetiracetam Phenytoin Oxcarbazepine
Lamotrigine Topiramate

Bangkitan Sodium Clobazam Phenobarbital Carbamazepine


Atonik Valproate Levetiracetam Acetazolamide Oxcarbazepine
Lamotrigine Topiramate Phenytoin

Bangkitan Carbamazepine Clobazam Clonazepam


Fokal Oxcarbazepine Gabapentin Phenobarbital
dengan Sodium Levetiracetam Acetazolamide
/tanpa Valproate Phenytoin
Umum Topiramate Tiagabine
Sekunder Lamotrigine
2.8.3. Terapi pemberian OAE berdasarkan Jenis Bangkitan20

2.9. Usia dan Etiologi Epilepsi


Epilepsi dapat terjadi pada semua usia. Usia erat kaitannya dengan peran
maturitas otak terhadap terjadinya kejang.11 Distribusi penyakit epilepsi berbeda
17

pada usia-usia tertentu. Penelitian yang dilakukan Sperber menunjukkan adanya


perubahan maturitas fungsi substansia nigra tikus dalam penghambatan kejang
yang muncul pada usia tertentu. 28 Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh
Fogarasi pada 155 pasien juga menunjukkan adanya peran maturitas otak terhadap
terjadinya bangkitan epilepsi.29 Kedua penelitian ini menunjukkan bahwa ada
kerentanan usia tertentu terhadap kejang. Selain itu, usia cenderung berkaitan
dengan fisiologis otak, seperti perbandingan elektrolit di dalam dan di luar sel
pada susunan saraf pusat anak-anak belum sempurna sehingga sering
menimbulkan peningkatan metabolisme di dalam susunan saraf pusat, sehingga
anak-anak memiliki predisposisi yang lebih tinggi terhadap epilepsi. 30 Penelitian
yang dilakukan oleh Tishio Hiyoshi dan Kazuichi Yagi pada 190 pasien kelompok
usia orang tua menunjukkan bahwa risiko terkena dan mengalami kembali
bangkitan epilepsi pada kelompok usia ini tinggi. Resiko tersebut meningkat
seiring bertambahnya usia.31
Pembagian Usia berdasarkan Survei Kesehatan Nasional 2001 oleh Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI (2002).32

Kelompok Usia:

1. < 1 tahun : bayi

2. 1 5 tahun : balita

3. 6 14 tahun : anak-anak

4. 15 19 tahun : remaja

5. 20 60 tahun : dewasa 20 25 tahun : dewasa muda

26 60 tahun : dewasa tua

6. >60 tahun : lansia


Tahapan embrional yang penting dalam perkembangan otak adalah
neurulasi, proliferasi, migrasi, mielinisasi dan sinatogenesis. Keadaan mulai lahir
sampai usia 5 tahun akan terjadi pertumbuhan fisik yang cepat diikuti dengan
18

perkembangan otak. Maturitas dari otak yang paling tinggi pada batang otak dan
terakhir pada kortek serebri. Setelah usia 5 tahun maka pertumbuhan otak berjalan
lambat, dan progresivitasnya untuk mencapai usia pertengahan masa kanak-kanak
biasanya antara usia 6-8 tahun. Sinaptogenesis terjadi secara cepat pada kortek
serebri saat 2 tahun dari kehidupan. Myelinisai paling cepat saat usia 2 tahun
pertama kemudian berlangsung lebih lambat setelah itu. Neuron-neuron yang
berhubungan (fungsi motorik, sensorik dan kognitif) mengalami mielinisasi yang
besar dimulai saat usia anak masuk sekolah (6 tahun) dan sel saraf area ini terjadi
mielinisasi yang lengkap antara usia 6-12 tahun. Lebih jauh lagi hal ini erat
hubungannya dengan maturasi hipokampus di mana terjadi mielinisasi pada anak-
anak.33
Pada bayi dan anak-anak, sel neuron masih imatur sehingga mudah terkena
efek traumatik, gangguan metabolik, gangguan sirkulasi, infeksi dan sebagainya.
Efek ini dapat berupa kemusnahan neuron-neuron serta sel-sel glia atau kerusakan
pada neuron atau glia, yang akhirnya dapat menimbulkan neuronal
epileptogenik.33
Perbandingan elektrolit di dalam dan di luar sel pada susunan saraf pusat
anak-anak belumlah sempurna seperti dewasa. Demam yang sering terjadi juga
dapat menimbulkan peningkatan metabolisme dalam susunan saraf pusat.
Perbandingan elektrolit yang belum sempurna pada anak merupakan suatu
predisposisi kejang yang disebut kejang demam. Kecenderungan timbulnya
epilepsi yang diturunkan atau diwariskan biasanya terjadi pada masa anak-anak.
Hal ini disebabkan karena ambang lepas muatan yang lebih rendah dari normal
yang berarti neuron-neuron lebih mudah melepaskan muatan listriknya dan sel-sel
neuron hiperiritabel terhadap peningkatan suhu tubuh cenderung diturunkan pada
anak.17
Pada saat dewasa, perbandingan elektrolit di dalam dan di luar sel pada
susunan saraf pusat seimbang sehingga menurunkan kejadian epilepsi pada
kelompok usia tersebut.17
Pada lansia, terjadi perubahan terhadap beberapa sel-sel neuron di otak.
Proses menua adalah suatu proses berkurangnya secara perlahan-lahan
19

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan


fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang diderita. Perubahan-perubahan fisik yang terjadi
pada sel-sel neuron menyebabkan sel menjadi lebih sedikit jumlahnya, lebih
besar ukurannya, berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan
intraseluler, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati,
jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel, serta otak
menjadi atrofi yang akhirnya dapat pula menimbulkan fokus epileptogenik.30
Epilepsi dapat ditimbulkan oleh berbagai macam penyebab yang dikenal
dengan etiologi. Epilepsi sebagai gejala klinis bisa bersumber pada banyak
penyakit di otak. Epilepsi yang tidak diketahui penyebabnya disebut epilepsi
idiopatik dan epilepsi yang diketahui penyebabnya disebut epilepsi simptomatik.
Selain epilepsi idiopatik dan epilepsi simptomatik, ada pula epilepsi kriptogenik
yang digolongkan sebagai epilepsi simptomatik karena ditemukan lesi di sistem
saraf pusat walaupun penyebab lesinya belum diketahui, misalnya West syndrome
dan Lennox Gastaut syndrome.16 Epilepsi dapat disebabkan oleh banyak faktor
yang bisa menciderai sel-sel saraf otak dan lintasan komunikasi antar sel otak.
Penelitian membuktikan, dasar dari lepasnya muatan listrik neuron yang
berlebihan pada bangkitan epilepsi disebabkan oleh gangguan metabolisme
neuron, yaitu gangguan dalam lalu lintas K+ dan Na+ antara ruang ekstra dan
intraseluler.17 Gangguan metabolisme tersebut dapat disebabkan oleh berbagai
proses patologi yang mengubah permeabilitas membran sel pada epilepsi
simptomatik maupun perubahan patofisiologi membran sendiri pada epilepsi
idiopatik yang berhubungan dengan genetik.17
Pada epilepsi idiopatik, tidak dapat ditemukan kelainan pada jaringan otak.
Diperkirakan 50% epilepsi anak merupakan epilepsi idiopatik.14 Dari studi-studi
yang telah dilakukan, didapatkan bukti kuat mengenai kontribusi genetik pada
epilepsi idiopatik, meski pola pewarisan yang pasti masih belum jelas.14 Mutasi
genetik terjadi sebagian besar pada gen yang mengkode protein kanal ion
epilepsi.11 Diperkirakan bahwa sekitar 20% dari penderita epilepsi idiopatik
berhubungan dengan genetik.11 Kecenderungan timbulnya epilepsi yang
20

diturunkan atau diwariskan biasanya terjadi pada masa anak-anak. Hal ini
disebabkan karena ambang lepas muatan yang lebih rendah dari normal yang
berarti neuron-neuron lebih mudah melepaskan muatan listriknya dan sel-sel
neuron hiperiritabel terhadap peningkatan suhu tubuh cenderung diturunkan pada
anak.34
Pada epilepsi simptomatik, terdapat kelainan atau gangguan keseimbangan
zat kimia dalam sel-sel saraf pada area jaringan otak yang abnormal. 2 Perubahan
tersebut terjadi akibat trauma fisik, benturan, memar pada otak, pendesakan oleh
tumor, infeksi kongenital, gangguan peredaran darah otak, toksik dan metabolik.
Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan kelainan jaringan otak, berkurangnya
aliran darah dan menyebabkan serangkaian reaksi biokimia yang dapat merusak
sel-sel otak dan kematian jaringan otak.9 Kematian jaringan otak dapat
menyebabkan hilangnya fungsi jaringan otak.30 Sekelompok sel-sel otak yang
secara spontan, di luar kehendak, tiba-tiba melepaskan muatan listrik secara
berlebihan disebabkan karena ada perubahan baik anatomis (struktur/bentuk)
maupun biokimiawi pada sel-sel otak atau lingkungan di sekitarnya.17
Perbedaan usia penderita epilepsi ternyata memiliki kecenderungan
etiologi yang berbeda-beda. Beberapa penelitian menunjukkan pola distribusi usia
terhadap etiologi-etiologi tertentu, dimana pada anak-anak mayoritas tidak
diketahui penyebab yang pasti terjadinya epilepsi, diduga karena faktor genetik,
sedangkan pada dewasa dan orang tua umumnya dapat ditemukan penyebab
epilepsi.

2.10. Kerangka Konsep


Usia

Bayi (< 1 tahun) Remaja (15 19 tahun) >60 tahun


Balita (1 5 tahun) Dewasa muda (20 25 (lansia)
Anak anak ( 6 14 tahun)
Dewasa tua(26 60
tahun)
tahun)
21

Umumnya Simptomatik:

Trauma kepala, infeksi otak,


Umumnya Idiopatik:
tumor otak, gangguan
Tidak diketahui penyebabnya, perkembangan sistem saraf
diduga faktor genetik. pusat, stroke.
Gangguan struktural, metabolik,
dan vaskularisasi

Gangguan sel-sel saraf otak


Gangguan jaringan otak
Gangguan komunikasi sel otak
Gangguan keseimbangan zat kimia
Gangguan vaskularisasi

Lepasnya muatan listrik abnormal di otak

Bangkitan Epilepsi

Bagan 1. Kerangka Konsep Hubungan Usia Penderita Epilepsi dengan Etiologi


Epilepsi.