Anda di halaman 1dari 11

HATI BERBICARA

Situs ini berisi pendapat pribadi. Mudah-mudahan bermanfaat.


Senang sekali jika anda memberi kritik dan saran yang sehat
dan membangun. Kunjungi web saya di
http://pormadi.wordpress.com
Sabtu, November 17, 2007

HOMESCHOOLING: SEBUAH PENDIDIKAN ALTERNATIF


Oleh Pormadi Simbolon, SS

PENGANTAR

Setiap orang tua menghendaki anak-anaknya mendapat


pendidikan bermutu, nilai-nilai iman dan moral yang tertanam
baik, dan suasana belajar anak yang menyenangkan. Kerapkali
hal-hal tersebut tidak ditemukan para orangtua di sekolah
umum. Oleh karena itu muncullah ide orangtua untuk
menyekolahkan anak-anaknya di rumah. Dalam
perkembangannya, berdirilah lembaga sekolah yang disebut
sekolah-rumah (homeschooling) atau dikenal juga dengan istilah
sekolah mandiri, atau home education atau home based learning.

LATAR BELAKANG
Banyaknya orangtua yang tidak puas dengan hasil sekolah
formal mendorong orangtua mendidik anaknya di rumah.
Kerapkali sekolah formal berorientasi pada nilai rapor
(kepentingan sekolah), bukannya mengedepankan keterampilan
hidup dan bersosial (nilai-nilai iman dan moral). Di sekolah,
banyak murid mengejar nilai rapor dengan mencontek atau
membeli ijazah palsu. Selain itu, perhatian secara personal pada
anak, kurang diperhatikan. Ditambah lagi, identitas anak
distigmatisasi dan ditentukan oleh teman-temannya yang lebih
pintar, lebih unggul atau lebih cerdas. Keadaan demikian
menambah suasana sekolah menjadi tidak menyenangkan.
Ketidakpuasan tersebut semakin memicu orangtua memilih
mendidik anak-anaknya di rumah, dengan resiko menyediakan
banyak waktu dan tenaga. Homeschooling menjadi tempat
harapan orang tua untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-
anak, mengembangkan nilai-nilai iman/ agama dan moral serta
mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan.

HOMESCHOOLING
Istilah Homeschooling sendiri berasal dari bahasa Inggris
berarti sekolah rumah. Homeschooling berakar dan bertumbuh
di Amerika Serikat. Homeschooling dikenal juga dengan sebutan
home education, home based learning atau sekolah mandiri.
Pengertian umum homeschooling adalah model pendidikan
dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab
sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah
sebagai basis pendidikannya. Memilih untuk bertanggungjawab
berarti orangtua terlibat langsung menentukan proses
penyelenggaraan pendidikan, penentuan arah dan tujuan
pendidikan, nilai-nilai yang hendak dikembangkan, kecerdasan
dan keterampilan, kurikulum dan materi, serta metode dan
praktek belajar (bdk. Sumardiono, 2007:4).
Peran dan komitmen total orangtua sangat dituntut. Selain
pemilihan materi dan standar pendidikan sekolah rumah, mereka
juga harus melaksanakan ujian bagi anak-anaknya untuk
mendapatkan sertifikat, dengan tujuan agar dapat melanjutkan
pendidikan ke jenjang berikutnya. Banyak orang tua Indonesia
yang mempraktekkan homeschooling mengambil materi
pelajaran, bahan ujian dan sertifikat sekolah rumah dari
Amerika Serikat. Sertifikat dari negeri paman Sam itu diakui di
Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional) sebagai lulusan
sekolah Luar Negeri (Kompas, 13/3/2005).
DALAM PENDIDIKAN NASIONAL
Departemen Pendidikan Nasional menyebut sekolah-rumah
dalam pengertian pendidikan homeschooling. Jalur sekolah-
rumah ini dikategorikan sebagai jalur pendidikan informal yaitu
jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (pasal 1 Undang-
Undang Sistem Pendidikan Nasional Sisidiknas No. 20/2003).
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan
lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Meskipun pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses
pelayanan pendidikan informal, namun hasil pendidikan informal
diakui sama dengan pendidikan formal (sekolah umum) dan
nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan
standar nasional pendidikan (pasal 27 ayat 2).
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas,
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Juga dijelaskan sistem
pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan
yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional (pasal 1).
Berdasarkan definisi pendidikan dan sistem pendidikan
nasional tersebut, sekolah rumah menjadi bagian dari usaha
pencapaian fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
SEJARAH SINGKAT

Filosofi berdirinya sekolah rumah adalah manusia pada


dasarnya makhluk belajar dan senang belajar; kita tidak perlu
ditunjukkan bagaimana cara belajar. Yang membunuh
kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha
menyelak, mengatur, atau mengontrolnya (John Cadlwell Holt
dalam bukunya How Children Fail, 1964). Dipicu oleh filosofi
tersebut, pada tahun 1960-an terjadilah perbincangan dan
perdebatan luas mengenai pendidikan sekolah dan sistem
sekolah. Sebagai guru dan pengamat anak dan pendidikan, Holt
mengatakan bahwa kegagalan akademis pada siswa tidak
ditentukan oleh kurangnya usaha pada sistem sekolah, tetapi
disebabkan oleh sistem sekolah itu sendiri.

Pada waktu yang hampir bersamaan, akhir tahun 1960-an


dan awal tahun 1970-an, Ray dan Dorothy Moor melakukan
penelitian mengenai kecenderungan orang tua menyekolahkan
anak lebih awal (early childhood education). Penelitian mereka
menunjukkan bahwa memasukkan anak-anak pada sekolah formal
sebelum usia 8-12 tahun bukan hanya tak efektif, tetapi
sesungguhnya juga berakibat buruk bagi anak-anak, khususnya
anak-anak laki-laki karena keterlambatan kedewasaan mereka
(Sumardiono, 2007: 21).

Setelah pemikirannya tentang kegagalan sistem sekolah


mendapat tanggapan luas, Holt sendiri kemudian menerbitkan
karyanya yang lain Instead of Education; Ways to Help People
Do Things Better, (1976). Buku ini pun mendapat sambutan
hangat dari para orangtua homeschooling di berbagai penjuru
Amerika Serikat. Pada tahun 1977, Holt menerbitkan majalah
untuk pendidikan di rumah yang diberi nama: Growing Without
Schooling.
Serupa dengan Holt, Ray dan Dorothy Moore kemudian
menjadi pendukung dan konsultan penting homeschooling.
Setelah itu, homeschooling terus berkembang dengan berbagai
alasan. Selain karena alasan keyakinan (beliefs) , pertumbuhan
homeschooling juga banyak dipicu oleh ketidakpuasan atas
sistem pendidikan di sekolah formal.

DI INDONESIA
Perkembangan homeschooling di Indonesia belum
diketahui secara persis karena belum ada penelitian khusus
tetang akar perkembangannya. Istilah homeschooling
merupakan khazanah relatif baru di Indonesia. Namun jika
dilihat dari konsep homeschooling sebagai pembelajaran yang
tidak berlangsung di sekolah formal alias otodidak, maka
sekolah rumah sudah tidak merupakan hal baru. Banyak tokoh-
tokoh sejarah Indonesia yang sudah mempraktekkan
homeschooling seperti KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan
Buya Hamka (Makalah Dr. Seto Mulyadi, 18 Juni 2006).

Dalam pengertian homeschooling ala Amerika Serikat,


sekolah rumah di Indonesia sudah sejak tahun 1990-an.
Misalnya Wanti, seorang ibu yang tidak puas dengan sistem
pendidikan formal. Melihat risiko yang menurut Wanti sangat
mahal harganya, dia banting setir. Tahun 1992 Wanti
mengeluarkan semua anaknya dari sekolah dan memutuskan
mengajar sendiri anak-anaknya di rumah. Ia mempersiapkan diri
selama 2 tahun sebelum menyekolahkan anaknya di rumah.
Semua kurikulum dan bahan ajar diimpor dari Amerika
Serikat.Wanti sadar keputusannya mengandung konsekuensi
berat. Dia harus mau capek belajar lagi, karena bersekolah di
rumah berarti bukan anaknya saja yang belajar, tetapi justru
orangtua yang harus banyak belajar.
Demikian juga Helen Ongko (44), salah seorang ibu yang
mendidik anaknya dengan bersekolah di rumah, sampai harus ke
Singapura dan Malaysia mengikuti seminar tentang hal ini. Dia
ingin benar-benar mantap, baru mengambil keputusan.
Kebetulan waktu itu kondisi ekonomi sedang krisis sehingga
kami banyak di rumah. Eh, ternyata enak ya belajar bersama di
rumah, kata Helen yang mulai mengajar anak di rumah tahun
2000 (Kompas, 13/3/2005).
Di Indonesia baru beberapa lembaga yang menyelenggarakan
homeschoooling, seperti Morning Star Academy dan lembaga
pemerintah berupa Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM).

Morning Star Academy, Lembaga pendidikan Kristen ini


berdiri sejak tahun 2002 dengan tujuan selain memberikan
edukasi yang bertaraf internasional, juga membentuk karakter
siswanya.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan


program pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan jalur
informal. Badan penyelenggara PKBM sudah ada ratusan di
Indonesia. Di Jakarta Selatan aja, ada sekitar 25 lembaga
penyelenggara PKBM dengan jumlah siswa lebih kurang 100
orang. Setiap program PKBM terbagi atas Program Paket A
(untuk setingkat SD), B (setingkat SMP), dan Paket C
(setingkat SMA). PKBM sebenarnya menyelenggarakan proses
pendidikan selama 3 hari di sekolah, selebihnya, tutor
mendatangi rumah para murid. Para murid harus mengikuti ujian
guna mendapatkan ijazah atau melanjutkan pendidikan ke
jenjang berikutnya. Perbedaan Ijazah dengan sekolah umum,
PKBM langsung mengeluarkannya dari pusat.

Saat ini, perkembangan homeschooling di Indonesia


dipengaruhi oleh akses terhadap informasi yang semakin
terbuka dan membuat para orang tua memiliki semakin banyak
pilihan untuk pendidikan anak-anaknya.
FAKTOR-FAKTOR PEMICU DAN PENDUKUNG
HOMECHOOLING

Kegagalan sekolah formal


Baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, kegagalan
sekolah formal dalam menghasilkan mutu pendidikan yang lebih
baik menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga di Indonesia
maupun di mancanegara untuk menyelenggarakan homeschooling.
Sekolah rumah ini dinilai dapat menghasilkan didikan bermutu.

Teori Inteligensi ganda


Salah satu teori pendidikan yang berpengaruh dalam
perkembangan homeschooling adalah Teori Inteligensi Ganda
(Multiple Intelligences) dalam buku Frames of Minds: The
Theory of Multiple Intelligences (1983) yang digagas oleh
Howard Gardner. Gardner menggagas teori inteligensi ganda.
Pada awalnya, dia menemukan distingsi 7 jenis inteligensi
(kecerdasan) manusia. Kemudian, pada tahun 1999, ia
menambahkan 2 jenis inteligensi baru sehingga menjadi 9 jenis
inteligensi manusia. Jenis-jenis inteligensi tersebut
adalah:Inteligensi linguistik; Inteligensi matematis-logis;
Inteligensi ruang-visual; Inteligensi kinestetik-badani;
Inteligensi musikal; Inteligensi interpersonal; Inteligensi
intrapersonal; Inteligensi ligkungan; dan Inteligensi
eksistensial.

Teori Gardner ini memicu para orang tua untuk


mengembangkan potensi-potensi inteligensi yang dimiliki anak.
Kerapkali sekolah formal tidak mampu mengembangkan
inteligensi anak, sebab sistem sekolah formal sering kali
malahan memasung inteligensi anak.
(Buku acuan yang dapat digunakan mengenai teori inteligensi
ganda ini dalam bahasa Indonesia ini, Teori Inteligensi Ganda,
oleh Paul Suparno, Kanisius: 2003).
Sosok Homeschooling Terkenal
Banyaknya tokoh-tokoh penting dunia yang bisa berhasil
dalam hidupnya tanpa menjalani sekolah formal juga memicu
munculnya homeschooling. Sebut saja, Benyamin Franklin,
Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan
tokoh-tokoh lainnya.
Benyamin Franklin misalnya, ia berhasil menjadi seorang
negarawan, ilmuwan, penemu, pemimpin sipil dan pelayan publik
bukan karena belajar di sekolah formal. Franklin hanya
menjalani dua tahun mengikuti sekolah karena orang tua tak
mampu membayar biaya pendidikan. Selebihnya, ia belajar
tentang hidup dan berbagai hal dari waktu ke waktu di rumah
dan tempat lainnya yang bisa ia jadikan sebagai tempat belajar.

Tersedianya Aneka Sarana


Dewasa ini, perkembangan homeschooling ikut dipicu oleh
fasilitas yang berkembang di dunia nyata. Fasilitas itu antara
lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga
penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas
sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (mall,
pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas
teknologi dan informasi (internet dan audivisual).

HOMESCHOOLING VS SEKOLAH UMUM


Model pendidikan yang paling terkenal dan diakui
masyarakat adalah sistem sekolah atau pendidikan formal baik
yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta. Sekolah umum
seringkali dipandang sebagian orang lebih valid dan disukai.
Namun bagi sebagian orang, sistem sekolah umum
merupakan sekolah yang tidak memuaskan bagi perkembangan
diri anak. Sekolah umum menjadi kambing hitam atas output
yang dikeluarkannya. Hal ini terlihat dari output pendidikan
formal banyak menjadi koruptor, pelaku mafia peradilan, politisi
pembohong, dan penipu kelas kakap. Alasan kekecewaan itulah
memicu keluarga-keluarga memilih sekolah rumah alias
homeschooling sebagai pendidikan alternatif.

Pada hakekatnya, baik homeschooling maupun sekolah


umum, sama-sama sebagai sebuah sarana untuk menghantarkan
anak-anak mencapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan.
Namun homeschooling dan sekolah memiliki perbedaan.

Pada sistem sekolah, tanggung jawab pendidikan anak


didelegasikan orang tua kepada guru dan pengelola sekolah.
Pada homeschooling, tanggung jawab pendidikan anak
sepenuhnya berada di tangan orang tua.

Sistem di sekolah terstandardisasi untuk memenuhi


kebutuhan anak secara umum, sementara sistem pada
homeschooling disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi
keluarga.

Pada sekolah, jadwal belajar telah ditentukan dan seragam


untuk seluruh siswa. Pada homeschooling jadwal belajar
fleksibel, tergantung pada kesepakatan antara anak dan orang
tua.

Pengelolaan di sekolah terpusat, seperti pengaturan dan


penentuan kurikulum dan materi ajar. Pengelolaan pada
homeschooling terdesentralisasi pada keinginan keluarga
homeschooling. Kurikulum dan materi ajar dipilih dan ditentukan
oleh orang tua.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN HOMESCHOOLING

Dari perbedaan di atas, kita dapat menyebutkan kelebihan


homeschooling, antara lain: adaptable, artinya sesuai dengan
kebutuhan anak dan kondisi keluarga; mandiri artinya lebih
memberikan peluang kemandirian dan kreativitas individual yang
tidak didapatkan di sekolah umum; potensi yang maksimal, dapat
memaksimalkan potensi anak, tanpa harus mengikuti standar
waktu yang ditetapkan sekolah; siap terjun pada dunia nyata.
Output sekolah rumah lebih siap terjun pada dunia nyata karena
proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang
ada di sekitarnya; terlindung dari pergaulan menyimpang. Ada
kesesuaian pertumbuhan anak dengan dengan keluarga. Relatif
terlindung dari hamparan nilai dan pergaulan yang menyimpang
(tawuran, narkoba, konsumerisme, pornografi, mencontek dan
sebagainya); Ekonomis, biaya pendidikan dapat menyesuaikan
dengan kondisi keuangan keluarga.

Di sisi lain, homeschooling mempunyai kelemahan-


kelemahan yang dapat disebutkan berikut ini: membutuhkan
komitmen dan tanggung jawab tinggi dari orang tua; memiliki
kompleksitas yang lebih tinggi karena orangtua harus
bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan anak;
keterampilan dan dinamika bersosialisasi dengan teman sebaya
relatif rendah; ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam
tim (team work), organisasi dan kepemimpinan; proteksi
berlebihan dari orang tua dapat memberikan efek samping
ketidakmampuan menyelesaikan situasi dan masalah sosial yang
kompleks yang tidak terprediksi.
PENUTUP

Homeschooling merupakan sebuah pilihan dan khazanah


alternatif pendidikan bagi orang tua dalam meningkatkan mutu
pendidikan, mengembangkan nilai iman (agama), dan
menginginkan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Di sisi
lain, ada sekolah umum yang memberikan bahan ajar dan
kurikulum secara terpusat dan seragam, sesuai dengan harapan
dan kebutuhan anak. Baik homeschooling maupun sekolah umum
(pendidikan formal) sama-sama mempunyai kelebihan dan
kekurangan dalam menghantarkan peserta didik mencapai
tujuan pendidikan. Soal pilihan atas keduanya, semua diserahkan
pada orangtua dan keluarga sesuai dengan kondisi keluarga.

Penulis adalah pemerhati pendidikan anak, tinggal di Jakarta.


REFERENSI:

Kompas Cyber Media, 29 Agustus 2005: Home Schooling


Model Pendidikan Alternatif
Sarie Febriane/ Clara Wresti, Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku,
Harian Kompas, 13 Maret 2005
Yorgi Gusman, Ikutan Home Schooling, 08 September 2006
Paul Suparno, Teori Inteligensi Ganda, Kanisius: Yogyakarta,
2003
Sumardiono, Homeschooling, Lompatan Cara Belajar, PT. Elex
Media Komputindo: Jakarta, 2007
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Fokusmedia, Bandung 2003