Anda di halaman 1dari 21

TUGAS NEUROANATOMI

JOURNAL REVIEW

Nervus Trigeminus : Gambaran Anatomi dan Patologi


(Review Bergambar)

MAKBRURI
NPM : 1506805572
KEKHUSUSAN ANATOMI

PROGRAM MAGISTER ILMU BIOMEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
2016
JOURNAL REVIEW

Judul Asli : Nerve Trigeminal : Anatomy and Pathology (Pictorial Review)

Jurnal : British Journal of Radiology

Download : https://www.researchgate.net/publication/11950291

Volume & Halaman : 74, 458-467

Tahun : 2001 uploaded on 8 january 2017

Penulis : Philip Woolfal, Alan Coulthard

Abstrak
Jurnal yang berjudul Nervus trigeminus : Gambaran Anatomi dan Patologi (Review
bergambar) ini berisi tentang gambaran anatomi, patologi struktur nervus trigeminus terkait
dengan gejala klinis neuralgia trigeminus, penulis memperlihatkan gambaran-gambaran melalui
MRI khususnya MRI kepala rutin yang diperkuat dengan gradient echo tiga dimensi seperti 3D
FISP (Fast Inflow with steady state precession) aliran proton cepat dalam posisi lengkung yang
stabil, terdapat beberapa kemungkinan penyebab terjadinya neuralgia trigeminus terkait dengan
kelainan anatomi nervus trigeminus dan nukleusnya, menurut penulis mengetahui posisi dan
strukrur anatomis yang terlibat dari nervus trigeminus, nucleus dan struktur sekitarnya sangat
penting dalam proses terapi pasien.

Pendahuluan
Di awal pendahuluan penulis menjelaskan struktur anatomis nervus trigeminus bahwa
nervus Trigeminus merupakan nervus yang terbesar diantara nervus cranialis lainnya. Nervus ini
terdiri dari serabut saraf motorik yang mensuplai otot-otot pengunyah dan serabut saraf sensorik
yang menerima informasi dari wajah, mulut, cavitas nasal dan sebagian besar scalp (kulit
kepala), selanjutnya penulis menerangkan neuralgia trigeminus terjadi karena tergganggunya
nervus ini gejala yang timbul berupa gejala sensorik dan hilangnya fungsi motorik dari otot-otot
yang diinervasi oleh serabut saraf ini. Penulis menyebutkan untuk kejelasan diagnostik, proses
patologi yang melibatkan nervus trigeminus dapat dibagi menjadi tiga lokasi berdasarkan
anatominya yaitu; Nukleus, Pre-pontine, Terowongan Meckels, Sinus kavernosus, dan
ekstrakranial, penulis menggunakan pencitraan MRI untuk mengetahui struktur anatomi mana
saja yang terlibat.

Pembahasan
Pada bagian pembahasan penulis membagi jurnal ini menjadi sub pokok bahasan
anatomi radiologi, teknik MRI yang menjelaskan pencitraan yang digunakan dalam mengetahui
posisi anatomi pembuluh saraf yang terlibat, sub pokok bahasan selanjutnya menjelaskan tentang
anatomi patologi mana saja yang terlibat dalam gejala klinis yang timbul posisi anatomi yang
terlibat dibagi menjadi ; lesi yang melibatkan nuclei trigeminus, lesi yang melibatkan nervus
trigeminus di cisterna pre pontine, lesi di terowongan meckels dan sinus cavernous, dan lesi di
ekstrakranial. Setiap posisi anatomi yang terlibat dijelaskan dengan gambar disertai dengan
keterangan dibawahnya.
Pada sub pokok bahasan anatomi radiologi penulis menjelaskan tentang struktur anatomi
nervus trigeminus, penulis menjelaskan Nervus trigeminus berasal dari satu nukleus motorik dan
tiga nukleus sensorik, yang sebagian besarnya berjalan melalui batang otak, Nukleus sensorik
utama berasal dari sisi lateral pons. Nukleus trigeminus spinal berjalan melalui medulla
oblongata dan mencapai bagian paling atas dari medula spinalis bagian cervical. Nukleus
Mesencephalic berasal dari bagian atas pons dan menuju ke midbrain. Nukleus motorik berada di
sisi medial nucleus sensorik di bagian atas pons. Nervus trigeminus keluar melalui bagian
anterolateral (ventral) dari pons sebagai serabut saraf sensorik yang besar dan serabut saraf
motorik yang lebih kecil dan melewati cisterna pre-pontine (Gambar 1). Seketika keluar dari
pons, titik perubahan dari myelin central menjadi myelin perifer dikenal sebagai (Root Entry
Zone) REZ, tempat titik perubahan ini sering terjadi kompresi oleh pembuluh darah posterior
yang memiliki cabang berliku, merupakan penyebab penting terjadinya neuralgia trigeminus.
Serabut saraf ini terus berlanjut secara anterior menuju bagian apex dari os.temporal , disini
serabut saraf ini melewati bagian yang tidak ditutupi oleh durameter untuk masuk ke dalam
terowongan meckels, yang berada di lateral sinus cavernous. Serabut saraf terus berjalan
membentuk trigeminus ganglion (Gasserian), yang selanjutnya bercabang menjadi tiga cabang
sesuai dengan namanya trigeminus.
Pada sub pokok bahasan teknik MRI penulis menegaskan pentingnya pencitraan
keseluruhan otak apabila terjadi tanda-tanda kelainan dalam pemeriksaan klinis neurologis
karena Tidak ada tanda-tanda klinis spesifik yang tampak sebagai akibat proses patologis yang
melibatkan nervus trigeminus terutama bagian preganglion. Tanda klinis patologis yang timbul
seringkali terjadi akibat proses patologi secara umum seperti penyakit cerebrovascular disease
(CVD) atau stroke dan demyelinisasi primer,dimana defek yang terjadi multifokal, Seluruh
pasien yang menunjukan gejala yang melibatkan nervus trigeminus dilakukan pecitraan
menggunakan protokol standard MRI otak. Protokol ini terdiri dari T1 putaran echo dan
densitas proton, dan T2 putaran cepat yang dilakukan melalui potongan axial, apabila
menggunakan turbo STIR ( Short tau inversion) potongan dilakukan secara potongan koronal.
Pasien dengan neuralgia trigeminus pencitraan dilakukan menggunakan T1 3D-
FISP( three dimensional fast inflow with steady state precission) menggunakan teknik tiga
dimensi dengan aliran cepat dalam posisi lengkung yang stabil. 3d-FISP merupakan teknik echo
menggunakan gradient tertentu, melalui teknik ini dapat menunjukan aliran pembuluh darah
kecil dengan intensitas sinyal yang tinggi, dan juga mengembalikan signal balik yang cukup kuat
dari jaringan sekitar sehingga pembuluh darah dapat dengan tepat diketahui lokasinya. Data 3D
dapat diatur dan diformat pada berbagai potongan. Secara rutin, pencitraan sagittal oblique
dengan tebal 1 mm dilakukan untuk tiap nervus trigeminus (gambar 1) dengan potongan tebal 1
mm pencitraan juga dilakukan pada bidang koronal dari batang otak hingga celah meckels
(Gambar 8). Sebagai tambahan terhadap formasi pencitraan ini dilakukan secara parallel dan
tegak lurus terhadap jalur dari nervus trigeminus, potongan dalam bidang axial dan intensitas
proyeksi yang maksimum memberikan hasil yang sangat bermanfaat. Penggunaan 3D-FISP dan
T1 dimungkinkan diulang dengan menggunakan kontras dolinium-DTPA intravena jika
diperlukan.
Pada subpokok bahasan Patologi penulis menjelaskan posisi anatomi mana saja yang
terlibat dengan gejala klinik trigeminus neuralgia, penulis menjelasakan posisi tersebut antara
lain;
Lesi yang melibatkan nuclei trigeminus,
Cerebrovascular Disease (CVD) atau stroke merupakan penyebab yang biasanya
terjadi gejala yang timbul berupa hilangnya fungsi sensorik dari struktur yang diinervasi
oleh nervus ini (Gambar 2). Penulis mengungkapkan pasien mempunyai gejala klinik
yang beragam, gejala klinik neuropati trigeminus yang spesifik dan murni sangat jarang
terjadi karena lesi sering disertai lesi di bagian yang lain dari otak. Demielinisasi primer
sering terjadi pada batang otak (Gambar 3). Pasien memperlihatkan gejala trigeminus
neuralgia atau hilangnya fungsi sensorik. Gejala sensorik atau motorik lainnya terkadang
timbul. MRI kepala digunakan dengan intensitas sinyal tinggi pada pencitraan T2 yang
difokuskan. Beberapa lesi mungkin dapat terlihat pada daerah corpus callosum dan
periventricular white matter. Neoplasma batang otak pada pasien dewasa sering terjadi
yang berasal dari metastase extrakranial. Gambaran yang terlihat berupa lesi padat
dengan densitas yang tinggi pada daerah yang terlibat dengan timbulnya massa atau
neoplasma. Disini juga mungkin terlihat adanya beberapa lesi yang melibatkan struktur
otak lainnya. Tumor primer intraaxial yang muncul di batang otak biasanya berupa
gliomas. Jika suatu lesi atau masa dicurigai timbul pada pencitraan precontrast.
pencitraan T1 perlu dilakukan dengan menginjeksikan kontras gadolinium-DTPA secara
intravena. Pontine hamartoma atau glioma sering terjadi pada pasien neurofibromatosis
tipe 1 (Gambar 4).
Malformasi pembuluh darah dari batang otak seperti arterivenous malformation
(AVMs) dan hemangioma cavernous, dapat menimbulkan gejala klinik apabila diikuti
oleh kejadian perdarahan. AVMs di dalam gambar sering berupa pengumpulan aliran
disertai daerah yang kosong aliran di distalnya. Hemangioma cavernous merupakan
kejadian yang jelas terlihat pada gambaran MRI, terutama apabila disertai dengan
kejadian perdarahan sebelumnya. Sinyal central heterogen yang sangat tinggi terlihat
karena adanya methaemoglobin yang terlihat pada penggunaan T1 dan T2 yang
difokuskan. Penulis menjelaskan suatu gambaran cincin bulat yang timbul akibat signal
yang intensitasnya rendah menunjukan adanya penumpukan haemosiderin (gambar 5),
disini tidak terlihat adanya gambaran suatu massa dan edema cerebri.
Penulis menjelaskan juga gambaran viral rhomboencephalitis merupakan tipe
infeksi yang tidak umum yang mengancam nyawa, keadaan patologis ini melibatkan
batang otak dan kemungkinan melibatkan nukleus trigeminus dan serabut sarafnya
(Gambar 6). Gambaran syringobulbia kemungkinan hadir dengan gejala neuropati
kranial dan biasanya timbul setelah terjadi trauma sebelumnya atau disebabkan oleh
kelainan malformasi Arnold-Chiari yang melibatkan cerebellum. Lesi ini melibatkan
struktur batang otak dengan pencitraan signal yang intensitasnya sama dengan CSF
sekitarnya, termasuk struktur spinal cord yang menyempit (Gambar 7). Proses patologis
seperti neoplasma, penyakit demielinasi mungkin juga terus meluas dan berkembang
melibatkan daerah nukleus trigeminus spinal hingga ke bagian atas dari cervical spinal
cord .
Lesi yang melibatkan nervus trigeminus di cisterna pre pontine
Kompresi dari pembuluh darah dalam penelitian terbaru diungkapkan menjadi
penyebab utama terjadinya neuralgia trigeminus yang tidak memberikan respon terhadap
terapi medis, hal ini diungkapkan penulis. Cabang yang melingkar dan berliku dari
pembuluh darah posterior yang merupakan bagian dari arteri cerebellar superior,
kemungkinan menekan dan menghimpit bagian atas nervus trigeminus di bagian REZ.
Kompresi yang berkelanjutan dan berlangsung semakin hebat mengakibatkan timbulnya
trigeminus neuralgia, Pembuluh darah yang arahnya menyimpang ini biasanya kecil dan
paling baik ditunjukan dengan metode MRI 3D-FISP ( Ditunjukan penulis di Gambar 8-
10). Pemberian Kontras Gadolinium DTPA secara intravena menambah jelas visualisasi
dari pembuluh darah pre-pontine. Mengetahui pembuluh darah mana yang terlibat
sangatlah penting, karena dekompresi pembuluh darah kecil ini merupakan bagian dari
terapi sehingga gejala yang timbul tidak akan berulang dan dapati gejala yang timbul
akan berkurang hingga akhirnya membaik. Penulis menyatakan juga ada kemungkinan
lain selain kompresi nervus trigeminus yang disebabkan oleh cabang pembuluh darah
posterior kecil yang menyimpang, nervus trigeminus bagian prepontine kemungkinan
terkompresi oleh arteri vertebralis yang berdilatasi atau oleh arteri basilaris (dijelaskan
penulis di gambar 11). Neoplasma yang berada di sudut cerebellopontine kemungkinan
dapat menyebabkan neuralgia trigeminus atau neuropati karena tertekannya nervus
trigeminus oleh neoplasma.
Beberapa tumor metastasis dapat menyebar di sekitar struktur nervus trigeminus
(Gambar 12). Neuroma Akustik dapat timbul dengan gejala trigeminus yang menyertai.
Meningiomas (Gambar 13), Kista Arachnoid (Gambar 14) dan Kista Epidermoid
terkadang timbul di lokasi ini(Gambar 15). Dua keadaan patologis yang terakhir susah
untuk dibedakan, Kista epidermoid kemungkinan memberikan tanda yang sangat mirip
dengan jumlah signal yang tampak oleh CSF, Suatu petunjuk diagnosis yang digunakan
bahwa signal kista epidermoid memiliki jumlah intensitas yang lebih besar dibandingkan
CSF pada penggunaan system T2 yang difokuskan.
Terowongan Meckels dan Sinus Cavernous
Penulis mengungkapkan neoplasma yang melibatkan terowongan meckels,
contohnya meningioma, tumor epidermoid dan neuroma trigeminus, mungkin
menyebabkan gejala nervus trigeminus. Tumor yang muncul dari kelenjar hipofisis atau
dari dasar tengkorak juga menyebabkan gejala patologis nervus trigeminus, Sangat jarang
gejala yang timbul benar-benar murni dari lokasi spesifik lesi, suatu granuloma atau
penyakit inflamasi seperti neurosarcoid kemungkinan melibatkan nervus atau ganglion
pada lokasi ini (Gambar 17). Aneurisma dari arteri carotis kemungkinan menyebabkan
gejala trigeminus juga, sebagian berupa aneurisma cavernous (Gambar 18) Pada situasi
ini, gejala nervus trigeminus sering timbul berhubungan dengan gejala-gejala klinik
lainnya diluar nervus trigeminus.
Divisi ExtraCranial dari Nervus Trigeminus
Terdapat Beberapa patologi lokal yang diungkapkan penulis, yang paling sering
terjadi adalah neoplasma kepala, leher dan metastase tumor, kemungkinan mempengaruhi
tiga percabangan nervus trigeminus. Suatu keadaan peradangan seperti pseudotumor di
daerah orbita, abses dan sinusitis kemungkinan mempengaruhi satu atau beberapa
cabang dari nervus trigeminus tersebut, sayangnya penulis tidak mencamtumkan gambar
atau pencitraan MRI yang menunjukan patologi lokal ini
Gambaran pencitraan ditampilkan penulis dengan mencantumkan keterangan di bawahnya,
antara lain ;

Gambar 1. Gambaran MRI 3D FISP dibuat dalam potongan sagittal oblique (TR/TE
30/7, sudut 200). Di daerah pangkal nervus (Root entry zone/REZ) , arah cisternal dari
nervus trigeminus ditunjukan oleh tanda bintang. Aliran dari pembuluh darah ditunjukan
dengan tingginya intensitas sinyal menggunakan peralatan 3D-FISP. Sebuah pembuluh
darah cisternal yang kecil berada di inferior terhadap REZ (tanda panah) gambaran
nervus di daerah ini tampak cukup jelas dan tidak terlihat tanda-tanda patologis
(dibandingkan gambar 8-10).

Gambar 2. (a) Pencitraan menggunakan T2 yang difokuskan dalam bidang axial FSE,
merupakan Gambaran foto pasien usia 43 tahun, pasien mengeluhkan gejala yang timbul
tiba-tiba berupa mati rasa daerah wajah dan hemianestesia. Dari pencitraan ditemukan
adanya gambaran signal intensitasnya yang sangat tinggi melebihi normal di sisi sebelah
kanan dari pons. (b) Gambaran T1 yang difokuskan melalui pencitraan potongan sagittal
dilakukan setelah 8 bulan kemudian di daerah pons terlihat gambaran infark yang mature
(tanda panah).
Gambar 3. (a) Potongan melintang dari pencitraan STIR melalui batang otak pada
pasien wanita usia 41 tahun dengan multiple sclerosis, dari riwayat perjalanan penyakit
pasien mengeluhkan gangguan sensasi sensorik di daerah wajah, pencitraan menunjukan
intensitas sinyal yang tinggi, menunjukan demyelinasi dari brachium pontis (tanda
panah). (b). Potongan axial melalui pencitraan T2 yang difokuskan melalui gambaran
FSE setinggi level dari centrum semiovale, trerdapat gambaran lesi ovoid dari
demyelinisasi primer di daerah periventrikuler dan subkorteks white matter.
Gambar 4. (a) Potongan Axial melalui metode T2 yang difokuskan berupa gambaran
FSE setinggi pertengahan pons merupakan foto pasien 29 tahun dengan tipe 1
neurofibromatosi, lesi ini didahului dengan rasa nyeri di daerah wajah (b) Gambaran dari
pencitraan FLAIR melalui bidang Coronal dikonfirmasi terdapat sebuah masa difuse,
diagnosis yang ditegakan berupa pontine glioma.

Gambar 5. Hemangioma Cavernous midbrain pada pasien wanita usia 29 tahun dengan
memperlihatkan gejala gangguan sensorik yang tidak jelas di daerah wajah dan ataxia (a)
potongan axial T2 yang difokuskan melalui gambaran FSE dan (b) potongan coronal
gambaran FLAIR. Kedua pencitraan ini menunjukan gambaran MRI yang menunjukkan
haemangioma cavernous : intensitas signal di tengah yang tinggi merupakan
methaemoglobin yang dikelilingi oleh lingkaran dengan intensitas yang sangat rendah
(penumpukan haemosiderin).
Gambar 6. Viral rhomboencephalitis pada pasien wanita usia 20 tahun, wanita tersebut
mengeluhkan gejala sakit kepala, vertigo, photopobia dan sudah mulai berkembang ke
arah paraestesia sisi kiri anggota tubuh dan kelemahan otot wajah sisi kiri. (a,b) Potongan
Axial T1 yang difokuskan dengan pencitraan SE setelah pemberian kontras gadolinium
intravena-DTPA didapatkan peningkatan pencitraan pada struktur nervus trigeminus
sinistra dan nukleusnya. (c) Pemeriksaan berulang yang dilakukan setelah 4 bulan.
Potongan Axial T1 yang difokuskan melalui gambaran SE setelah injeksi Intravena
Gadolinium-DTPA. Nervus trigeminus dan nucleus sekarang tampak normal. Herpes
simplex virus merupakan penyebab utama dari viral rhomboencephalitis, meskipun
terkadang pada kasus ini tidak ada pathogen spesifik yang diketahui.

Gambar 7. Gambaran Syringobulbia dan syringomelia pada pasien usia 20 tahun dengan
gejala horizontal diplopia dan hilangnya sensorik wajah sebelah kiri. Pada potongan
sagittal T2 yang difokuskan melalui gambaran FSE menunjukan gambaran celah yang
lebar meluas dari cranial melalui foramen magnum hingga melibatkan batang otak.
Foramen magnum terlihat padat, menyempit. Pada potongan parasagittal menunjukan
malformasi dari a.chiari tipe 1.
Gambar 8. Penekanan struktur neurovaskular pada nervus trigeminus pada pasien
wanita usia 63 tahun dengan neuralgia trigeminus yang berat pada sisi kanan wajah.
Gambaran 3D FISP melalui potongan Koronal, disini terdapat gambaran kecil instensitas
yang tinggi pembuluh darah di daerah yang bersinggungan langsung dengan nervus
trigemintal (panah kecil). Pada sisi kiri terlihat pembuluh darah yang terletak lateral dari
nervus tetapi tidak bersinggungan dengan struktur saraf trigeminus (panah yang
mengarah ke atas).

Gambar 9. Kompresi neurovascular dan trigeminus neuralgia pada pasien yang


berbeda. (a) 3D-FISP pencitraan dilakukan pada potongan oblique sagittal untuk
memperlihatkan nervus trigeminus sebelah kanan. Disini terdapat dua pembuluh darah
yang bersinggungan berkontak dengan bagian atas dan bawah dari nervus. (b) pencitraan
potongan axial kemungkinan dapat berguna. Satu dari pembuluh darah yang ditunjuk (a)
kontak dengan permukaan lateral dari nervus trigeminus sebelah kanan (panah).
Sedangkan pembuluh darah lainnya yang terlihat (a) berada di posterolateral dari
pembuluh darah yang bertanda panah.
Gambar 10. Neurovaskular yang bersinggungan kontak dengan nervus trigeminus tanpa
menimbulkan gejala pada pasien laki-laki usia 31 tahun. Dari potongan oblique sagittal
yang didapatkan dari 3D FISP menunjukan pembuluh darah menyilang nervus
trigeminus pada daerah REZ/ root entry zone (tanda panah). Kompresi vaskuler
merupakan penyebab utama dari trigeminus neuralgia pada banyak pasien, dengan gejala
yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan. Penting untuk diketahui bahwa
pembuluh darah kecil dapat ditemukan pada nervus trigeminus jumlahnya mencapai 27
% dan dikategorikan sebagai kejadian yang normal tanpa memberikan gejala.

Gambar 11. arteri vertebral atau arteri basilar yang membesar dan memanjang
kemungkinan menyebabkan struktur nervus trigeminus menjadi tertekan. (a) pada
potongan coronal gambaran STIR setinggi pons. Arteri basilaris yang melebar terlihat
sebagai aliran yang kosong (panah panjang) menyinggung dan berkontak dengan nervus
trigeminus secara superior dan lateral (panah pendek). (b) pencitraan potongan
parasagittal dari 3D FISP pada potongan nervus trigeminus sebelah kiri. Pembuluh darah
yang mengalami dilatasi ditunjukan terlihat dari sinyal dengan intensitas tinggi (panah
panjang) menyinggung struktur nervus trigeminus (panah ke atas).

Gambar 12. Metastasis perinerural dari malignant melanoma pada pasien wanita usia 77
tahun. Pada potongan axial T1 yang difokuskan melalu pencitraan SE setelah
diinjeksikan Gadolinium DTPA secara intravena. Gambaran metastasis terlihat jelas
menyebar sepanjang nervus trigeminus dextra dan menginvasi pons. Sisi apex regio
orbita sebelah kanan juga terlibat.
Gambar 13. Meningioma di sudut cerebellopontine pada pasien 64 tahun dengan gejala
neuralgia trigeminus. Pada gambaran axial T1 yang difokuskan setelah diinjeksikan
gadolinium DTPA, terdapat masa dalam sudut cerebellopontine sinistra, yang tergambar
dengan jelas.

Gambar 14. Kista Arachnoid pada sudut cerebellopontine pada wanita usia 28 tahun
dengan gejala neuralgia trigeminus. Pada potongan axial T2 yang difokuskan melalui
pencitraan FSE menunjukan lesi yang bisa dibedakan dengan intensitas sinyal yang sama
dengan CSF di sudut cerebellopontine sinistra
Gambar 15. Kista Epidermoid di sisi kiri sudut cerebellopontine dengan signal intensitas
CSF. (a) Potongan Axial dari T1 yang difokuskan melalui bagian SE pada level setinggi
atas medulla, tampak pelebaran dari cisterna pada sisi kiri (panah). (b) potongan coronal
T1 yang difokuskan dengan melibatkan SE tampak asimetri dari sisterna yang disebabkan
adanya kista epidermoid, Nervus trigeminus sinistra bergerak ke arah atas karena adanya
pendesakan ini (tanda panah)
Gambar 16. Neuroma dari ganglion trigeminus pada wanita usia 31 tahun. Pada
potongan axial T1 yang difokuskan yang melibatkan gambaran SE setelah dimasukan
kontras secara Intra Vena (Gadolinium-DTPA) sebelumnya. Disini terlihat adanya
peningkatan densitas dari masa yang melibatkan terowongan meckels di sisi kanan (tanda
panah). Pasien merasakan gangguan sensasi di daerah yang diinervasi oleh nervus
trigeminus.
Gambar 17. Tampak Lesi sementara di terowongan meckels. Pada pasien wanita usia
29 tahun dengan manifestasi klinis nyeri dan mati rasa di daerah wajah sebelah kiri. (a)
pada potongan coronal dengan fokus dan pencitraan SE setelah diinjeksikan secara
intravena gadolinium DTPA, terdapat jelas masa di celah meckels di sisi kiri (tanda
panah). Diagnosis awal adalah trigeminus neuroma. (b) Setelah dilakukan pemeriksaan
ulang setelah 14 bulan (a) terjadi penyembuhan yang sempurna dari masa yang pernah
timbul di awal, disertai dengan menghilangnya gejala yang pernah timbul di pasien,
kemungkinan masa timbul akibat proses radang yang tidak diketahui penyebabnya.

Gambar 18. Aneurisma Arteri Carotis Interna yang timbul melibatkan sinus cavernous.
(a) Pada potongan coronal T1 dengan fokus pada level sinus cavernous gejala yang
timbul pada pasien berupa gejala gangguan sensorik dari distribusi V1 dan V2 sisi kiri.
Aneurisma cavernous ditunjukan oleh tanda panah. (b) Dengan penggunaan pencitraan
intensitas yang maksimal oleh MR angiography maka dapat dikonfirmasi aneurisma
carotis cavernous sinistra (tanda panah)
Kesimpulan
Nervus trigeminus terdiri dari serabut saraf motorik yang mensuplai otot-otot pengunyah dan
serabut saraf sensorik yang menerima informasi dari wajah, mulut, cavitas nasal dan sebagian
besar scalp (kulit kepala). Neuralgia Trigeminus terjadi karena tergganggunya nervus trigeminus,
gejala yang timbul berupa gejala sensorik dan hilangnya fungsi motorik dari otot-otot yang
diinervasi oleh serabut saraf ini., tiga lokasi kemungkinan terlibat dari kelainan patologis nervus
ini berdasarkan letak anatominya yaitu; Nukleus trigeminus, Pre-pontine, Terowongan Meckels,
Sinus kavernosus, dan ekstrakranial. Kelainan ini dapat diketahui dengan menggunakan berbagai
metode pencitraan MRI T1 dan T2 yang difokuskan dan dengan menggunakan kontras
GadoliniumDTPA apabila diperlukan.

Kekuatan Jurnal
1. Penulis sudah cukup jelas dalam menjelaskan struktrur anatomi nervus trigeminus,
dan menjelaskan struktur yang terlibat dalam proses patologi neuralgia trigeminus
2. Pencitraan yang ditampilkan mendukung penjelasan yang diberikan,dalam masing-
masing pencitraan dijelaskan struktur anatomi mana saja yang terlibat dalam proses
patologis nervus trigeminus

Kelemahan Jurnal
1. Dalam menjelaskan tahapan proses pencitraan, penulis tidak memberikan pengantar
terlebih dahulu bagaimana proses pencitraan bisa didapatkan dan penggunaan istilah
yang terlalu khusus yang tidak disertai penjelasan membuat pembaca bingung.
2. Pencitraan yang ditampilkan tidak ditampilkan sumbernya, padahal sumber ini
berguna apabila pembaca ingin tahu lebih detail mengenai pencitraan yang
ditampilkan
3. Beberapa lesi yang ditampilkan pada pencitraan MRI tidak ditampilkan tanda yang
menunjukan lokasi lesi, sehingga ditakutkan pembaca salah mengartikan makna yang
ingin disampaikan penulis, mengingat ada beberapa artefak yang mirip dengan lesi.
4. Alangkah baiknya apabila foto MRI disandingkan dengan foto anatomi asli pada
cadaver untuk meningkatkan pemahaman pembaca