Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ETIKA ENGINEERING

Analisis Kebakaran Pabrik Swallow (PT Sinar Jaya Perkasa)


Semester Ganjil 2016/2017

Diajukan untuk memenuhi persyaratan menempuh


mata kuliah Etika Engineering

Disusun oleh:
Alief Muhammad NIM.140514606507
Andiyas Setiyawan NIM.140514605713
Angga Ariyono NIM.140514605994
Apriliyan Taufiq Perdhana NIM.140514605839

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
MALANG
2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia serta kesehatan-Nya,
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Etika Engineering : Analisis
Kebakaran Pabrik Swallow (PT Sinar Jaya Perkasa)

Dalam penyelesaian makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin,


namun disadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, baik dari segi
materi maupun sistematika penulisan. Olehnya itu kritik dan saran masih sangat diharapkan
demi kesempurnaan penulisan makalah ke depannya.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua terutama bagi diri pribadi penulis
sendiri, Amin.

Penulis,

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul.....................................................................................................................i

Kata Pengantar.....................................................................................................................ii

Daftar Isi..............................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1

1.1 Latar Belakang...............................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................................2
1.3 Tujuan............................................................................................................................2

BAB II KAJIAN TEORI.....................................................................................................3

2.1 Kronologis Kejadian......................................................................................................3

2.2 Investigasi Kecelakaan..................................................................................................3

2.3 Analisis Systematic Cause Analysis Technique.............................................................4

2.4 Pembahasan Hasil Analisis............................................................................................7

BAB III PENUTUP.............................................................................................................10

3.1 Kesimpulan....................................................................................................................10

3.2 Saran..............................................................................................................................10

Daftar Pustaka......................................................................................................................11

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Etika didefinisikan sebagai suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan


atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai
tidak baik. Etika tidak membahas keadaan manusia, melainkan membahas bagaimana
seharusnya manusia itu berperilaku. Etika juga membantu mencari orientasi, tujuannya
membantu kita agar kita tidak hidup dengan cara ikut-ikutan terhadap berbagai pihak
yang mau menetapkan bagaimana kita harus hidup melainkan agar kita dapat mengerti
sendiri mengapa kita harus bersikap begini dan begitu dan kita lebih mampu
mempertanggungjawabkan kehidupan kita.
Profesi pada hakekatnya adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka,bahwa
seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan dalam arti
biasa karena orang tersebut merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan tersebut. Suatu
profesi bukanlah dimaksud untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan
untuk pengabdian kepada masyarakat. Ini berarti profesi tidaklah boleh sampau
merugikan, merusak atau menimbulkan malapetaka bagi orang dan masyarakat.
Sebaliknya profesi itu harus berusaha menimbulkan kebaikan, keberuntungan dan
kesempurnaan serta kesejahteraan bagi masyarakat.
Kode etik profesi merupakan bagian dari etika profesi. Dengan demikian kode
etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta
terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik. Tujuan utama kode etik profesi adalah
memberi pelayanan khusus dalam masyarakat tanpa mementingkan kepentingan pribadi
atau kelompok.
Engineering merupakan keahlian yang penting dan terpelajar. Seorang
engineering harus bisa mempertanggung jawabkan semua hal yang dilakukannya
terutama yang berhubungan dengan bidang pekerjaannya mengenai engineering. Karena
semua perbuatannya harus bisa dipertanggung jawabkan, maka seorang engineering
harus benar-benar mampu melaksanakan tugas engineeringnya dengan baik, cermat, dan
terhindar dari keteledoran. Untuk itu engineering merupakan engineering yang cukup
vital dan oleh karenanya membutuhkan keterampilan dan keahlian yang mendalam di
bidangnya. Karena jika tidak, dampak dari hasil pekerjaannya atau hasil penelitiannya

1
dapat mengakibatkan hal yang merugikan pihak lain. Bisa suatu hal yang merugikan
secara materi atau bahkan yang sampai menghilangkan nyawa manusia. Oleh sebab itu
dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya seorang engineering harus selalu
mempertimbangkan tiga hal penting yang disebut kode etik.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana kronologis kejadian pada pabrik swallow?
1.2.2 Bagaimana hasil investigasi kecelakaan pada pabrik swallow?
1.2.3 Bagaimana Analisis Systematic Cause Analysis Technique atas keccelakaan
pada pabrik swallow?
1.2.4 Kemudian Bagaimana hasil analisis kecelakaan pada pabrik swallow?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui kronologis kejadian kecelakaan pada pabrik swallow.
1.3.2 Menunjukkan hasil investigasi kecelakaan pada pabrik swallow.
1.3.3 Untuk mengetahui apa yang di maksud Analisis Systematic Cause Analysis
Technique dan analisisnya pada kasus pabrik swallow.
1.3.4 Menunjukkan hasil analisis kecelakaan pada pabrik swallow.

BAB II
KAJIAN TEORI

2
2.1 Kronologis Kejadian
Kebakaran hebat terjadi di Pabrik Swallow yang berlokasi di Jalan Kamal Raya
Nomor 34, Kalideres, Jakarta Barat pada Kamis, 11 Maret 2010. Pabrik Swallow merupakan
salah satu Rubber Industrial Products yang berada dibawah perusahaan PT Sinar Jaya
Perkasa. PT Sinar Jaya Perkasa merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam
Pengadaan Barang dan Jasa Industri, salah satu produk yang ditawarkan adalah Sandal
Swallow merupakan salah satu produk yang dihasilkan oleh industri ini.
Kebakaran ini menelan empat korban jiwa yaitu Andrew Anggrayani (29) yang
diketahui tengah hamil lima bulan, Liana yang merupakan staf administrasi, Rusli (70) kepala
gudang, dan Parngat (60) petugas keamanan. Selain korban jiwa kebakaran ini juga
mengakibatkan kerugian material seperti gedung pabrik yang habis terbakar, persediaan
bahan kimia yang sudah ludes terbakar, kerusakan peralatan, barang, dan material.
Kronologi kebakaran ini diawali oleh seorang pekerja yang menyalakan
mesin forklift (mesin pengangkut barang) di daerah rawan yang tidak dianjurkan yakni di
gudang penyimpanan bahan kimia. Kemudian terjadi hubungan pendek arus listrik ketika
seorang karyawan menghidupkan mesin forklift atau kendaraan pengangkut barang. Percikan
api yang timbul karena arus pendek ini langsung menyambar bahan-bahan kimia yang ada
disekitarnya dan menjadi besar hingga sulit dijinakkan. Pabrik ini menyimpan 95% bahan
mudah terbakar, selain itu bahan pembuat sandal yaitu karet juga mempercepat proses
pembakaran yang melalap bangunan pabrik Hal itu juga yang menyulitkan pihak berwenang
untuk mengevakuasi korban dan memperkecil kerugian.

2.2 Investigasi Kecelakaan


Penyebab kebakaran ini diduga oleh human error atau kelalaian pekerja, akan tetapi
suatu kecelakaan kerja disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks atau multikausa oleh
karena itu untuk mengetahui akar penyebab dari peristiwa kebakaran Pabrik Swallow ini
maka dilakukanlah investigasi kecelakaan.
Investigasi kecelakaan Investigasi kecelakaan kerja adalah kegiatan pemeriksaan,
penyelidikan kasus kecelakaan kerja yang dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai
kejadian kecelakaan kerja yang terjadi. Investigasi kecelakaan merupakan upaya atau
tindakan untuk memperkaya informasi tentang kejadian kecelakaan, mencari penyebab, hal

3
terpenting dalam suatu kejadian dan menemukan kesalahan yang terjadi sehingga
menimbulkan kecelakaan. (Bird, 1990)

2.3 Analisis SCAT (Systematic Cause Analysis Technique)


Salah satu metode investigasi kecelakaan kerja adalah metode SCAT. SCAT
merupakan kepanjangan dari Systematic Cause Analysis Technique yaitu suatu cara untuk
menganalisa kecelakaan kerja berdasarkan pada lima langkah penyebab kesalahan yang dapat
mengarahlan penyidik pada kesimpulan melalui set pertanyaan. Berikut skema SCAT
Analysis :

Sumber : http://nuruddinmh.wordpress.com/2012/04/05/investigasi-kecelakaan-metode-scat/

Berdasarkan peristiwa kebakaran Pabrik Swallow yang terjadi pada Kamis, 11 Maret
2010 analisis SCAT yang dapat dilakukan untuk melakukan investigasi kecelakaan adalah
sebagai berikut :

1. Description of Accident or Incident (Loss/Post Contact Stage)


Loss Severity Potential : Major (A), mengakibatkan korban meninggal dan
kerugian parah bahkan dapat menghentikan kegiatan usaha.
Probably of Occurence : Moderate (B), kadang-kadang terjadi.
Frequence of Exposure : Moderate (B).
2. Type of Contact (Contact Stage) : Contact with (electricitry, heat, cold, radiation,
caustics, toxic, substances, noise), dalam kasus kebakaran Pabrik Swallow ini kontak
yang terjadi adalah terjadinya hubungan arus pendek yang disebabkan mesin forklift

4
yang dinyalakan pekerja ke gudang penyimpanan bahan kimia, sehingga percikan api
tadi langsung menyambar bahan kimia yang mudah menguap dan karet bahan
pembuat sandal.
3. Immediate Causes/Penyebab Langsung (Pre Contact Stage)
Unsafe Acts
Operating Equipment Without Authority : Mengoperasikan mesin forklift di
daerah rawan (gudang penyimpanan bahan kimia) tanpa sepengetahuan
pengawas.
Improper Placement : Meletakkan mesin forklift di gudang penyimpanan
bahan kimia.
Failure to Follow Procedure : pekerja tersebut tidak mematuhi prosedur kerja,
sehingga dia menyalakan mesin di tempat yang seharusnya tidak
diperbolehkan.
Unsafe Conditions
Congestion or Restricted Action : tempat awal mula kejadian merupakan area
terlarang untuk dimasuki yaitu gudang penyimpanan bahan kimia, dimana area
tersebut dipenuhi oleh bahan kimia yang mudah menguap.
Inadequate Warning System : sistem peringatan yang kurang, sehingga pekerja
mengoperasikan mesin forklift di area terlarang tersebut dan sistem peringatan
dini akan terjadinya kebakaran juga tidak memadai.
Fire & Expolsion Hazards : gudang penyimpanan bahan kimia merupakan
tempat yang rawan terjadi ledakan dan kebakaran.
Hazardous Environmental : lingkungan Pabrik Swallow merupakan
lingkungan yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya kecelakaan kerja, hal
ini disebabkan oleh banyaknya bahan kimia yang berada di pabrik dan karet
sebagai bahan pembuat sandal yang mudah sekali terbakar.
4. Basic Causes (Pre Contact Stage)
Personal Factors
a. Inadequate Mental/Psychological Capability (Kemampuan Mental/Fisik yang Tidak
Layak)
Poor Judgement : pekerja tidak mempertimbangkan risiko yang akan
dihadapinya ketika menyalakan mesin forklift di area tersebut.
Poor Coordination : kurangnya koordinasi antara pekerja dengan pengawas.

5
Low Learning Aptitude : pekerja tidak memahami prosedur kerja dan standar
pelaksaanaan kerja sehingga pekerja tidak tahu bahwa tindakannya
menyalakan mesin forklift di gudang penyimpanan bahan kimia itu merupakan
tindakan berbahaya.
Memory Failure : pekerja lupa mengenai prosedur dan standar kerja yang
seharusnya dilakukan.
b. Mental or Psychological Stress (Stress Mental)
Routine, Monotony, Demand for Uneventful Vigilance : tingkat kewaspadaan
pekerja berkurang.
c. Lack of Knowledge
Inadequate Orientation : pekerja diduga belum cukup memahami bekerja di
gudang penyimpanan bahan kimia.
Inadeguate Update Training : kurangnya pelatihan pelatihan yang diadakan
oleh pihak manajemen dalam meningkatkan upaya keselamatan dan kesehatan
pekerja.
d. Lack of Skill
Lack of Coaching : kurangnya pengawasan secara khusus dari
mandor/pengawas karena pekerja dapat membawa lolos mesin forklift ke
gudang penyimpanan bahan kimia.
Inadequate Review Instruction : pekerja kurang memahami instruksi yang
disampaikan oleh pihak manajemen/mandor dan instruksi yang berada di
lingkungan kerja.
e. Improper Motivation
Inadequate Discipline : sikap kerja yang kurang disiplin dilihat dari pekerja
yang tidak mematuhi peraturan, yaitu membawa mesin forklift ke gudang
penyimpanan bahan kimia.
Job Factor
1. Inadequate Leadership and/or Supervision
Giving Inadequate Policy, Procedure, Practices or Guidelines : pihak
manajemen atau mandor kurang memberikan pelatihan dan menjalankan
pekerjaan sesuai SOP.

6
Inadequate Identification and Evaluation of Loss Exposure : kurangnya
identifikasi dan evaluasi dari kerugian-kerugian yang pernah dialami
sebelumnya oleh pihak manajemen.
Lack of Supervisory/ Management Job Knowledge : mandor kurang tegas
dalam menegakkan kesadaran HSE pada pekerjanya, mandor/pengawas
kurang memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai mandor dalam hal
HSE.
2. Inadequate Tools and Equipment
Inadequate Standards or Specifications : kurangnya standar sistem
pengamanan gedung dan standar sistem ketanggapan darurat, dalam hal ini
dapat dilihat dari sistem pemadaman yang kurang baik.
Inadequate Salvage and Reclamation : kurangnya sistem pemadaman yang
baik.
3. Excessive Wear and Tear
Inadequate Inspection and/ or Monitoring : pihak manajemen/mandor atau
dalam hal ini pihak HSE tidak melakukan kegiatan inspeksi dan monitoring
berkala untuk mengawasi pekerja maupun proses produksi.
Use by Unqualified or Untrained People : pekerja mungkin kurang
mendapatkan pelatihan atau tidak memiliki kualifikasi di pekerjaannya.

2.4 Pembahasan Hasil Analisis Penyebab Kebakaran Pabrik Swallow


Berdasarkan hasil analisa kebakaran Pabrik Swallow dengan menggunakan teknik
SCAT adalah sebagai berikut :
1. Immediate Causes (Penyebab Langsung)
a. Unsafe Acts
Menurut Newton (2011) ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kecelakaan, yaitu
kelelahan, terlalu keras bekerja ceroboh, dan teknik yang tidak benar. Hasil analisis
kebakaran di Pabrik Swallow ini dapat dilihat bahwa penyebab langsungnya adalah
seorang pekerja yang menyalakan mesin forklift di gudang penyimpanan bahan kimia
(area rawan) tanpa sepengetahuan mandor/pengawas. Sehingga dapat dikatakan
bahwa pekerja tidak mematuhi peraturan atau prosedur di tempat kerja.
b. Unsafe Conditions

7
Gudang penyimpanan bahan kimia merupakan area yang dipenuhi oleh bahan kimia
yang mudah menguap. Sehingga lokasi ini rawan terjadi ledakan atau kebakaran
ketika dipicu oleh sumber api. Selain itu terdapat karet sebagai bahan pembuat sandal
yang juga merupakan bahan yang mudah terbakar. Pada kasus ini peristiwa dipicu
oleh percikan dari arus pendek yang timbul dari mesin forklift, dan percikan api
tersebut langsung menyambar bahan kimia dan karet.
2. Basic Causes (Penyebab Pendukung)
a. Kondisi Mental Pekerja
Dalam kasus kebakaran Pabrik Swallow ini dapat dilihat bahwa pekerja
memiliki kesadaran yang kurang mengenai pekerjaannya, sehingga dia tidak
memperhatikan keselamatannya.
Kemudian pekerja juga tidak memahami SOP pekerjaannya dan tidak
mematuhi peraturan di tempat kerja sehingga dia menyalakan mesin forklift di
gudang penyimpanan bahan kimia.
Kurangnya pengawasan dari mandor/pihak manajemen sehingga pekerja bisa
lolos membawa mesin forklift.
b. Tidak Mematuhi Peraturan
Pekerja tidak mematuhi peraturan kerja, hal ini dilihat dari pekerja menyalakan mesin
forklift yang dinyalakan di gudang penyimpanan bahan kimia, yang seharusnya tidak
boleh dimasuki pekerja tanpa pengawasan dari mandor atau pengawas.
c. Tidak Memadainya Standar Kerja
Tidak adanya prosedur khusus mengenai penggunaan mesin forklift di area
berbahaya, hal ini memungkinkan orang yang tidak berkompeten
menggunakan mesin tersebut.
Tanggung jawab mandor mengenai keselamatan dan kesehatan kerja di area
kerja tersebut tidak dilaksanakan dengan baik, sehingga mandor tidak
berusaha mencegah pekerja untuk menyalakan mesin forklift di gudang
penyimpanan bahan kimia tersebut.
Sistem ketanggapan darurat yang belum berjalan maksimal, sehingga sistem
pemadaman kebakaran yang dilakukan tidak baik dan segera.
d. Kurangnya Pengawasan dari Pihak Manajemen

8
Hal ini dapat dilihat dari kurangnya pengawasan secara khusus dari
pengawas/mandor karena pekerja dapat membawa lolos mesin forklift ke
gudang penyimpanan bahan kimia.
Pengawas/mandor kurang tegas dalam menegakkan kesadaran HSE pada
pekerjanya, mandor kurang memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai
mandor dalam hal HSE.
e. Kurangnya Tindakan Monitoring dan Evaluasi oleh Pihak Manajemen
Kejadian kebakaran di Pabrik Swallow sering terjadi, seperti yang diungkapkan oleh
karyawan pabrik:
Kebakaran besar sudah pernah ia alami selama tiga kali. Hampir tiap
tahun terjadi kebakaran, ini yang terbesar," jelas Dito.
Jika kebakaran sering terjadi dan tidak ada upaya untuk mengurangi kecelakaan ini
maka dapat dikatakan bahwa pihak perusahaan dalam hal ini khususnya bagian HSE
tidak melakukan evaluasi kecelakaan. Seharusnya pihak perusahaan belajar dari
pengalaman untuk mengevaluasi mengenai kebakaran yang sering terjadi, evaluasi ini
dapat dilihat dari penyebabnya, standar peraturan kerja, kondisi mental pekerja,
kondisi bangunan pabrik/gudang, sistem manajemen, tindak ketanggapan darurat, dan
sebagainya. Jika evaluasi sudah dijalankan maka pihak perusahaan dapat melakukan
tindakan perbaikan dan pencegahan untuk permasalahan kebakaran yang sering
terjadi.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kebakaran di Pabrik Swallow pada tanggal 11 Maret 2010 disebabkan oleh


banyak faktor (multikausa), tidak hanya disebabkan oleh kelalaian seorang pekerja
(human error) akan tetapi juga disebabkan beberapa penyebab lain, diantaranya : (1)
kurangnya standar di tempat kerja, (2) kurangnya monitoring dan pengawasan oleh
pihak manajemen, dan (3) belum dilaksanakannya tindakan evalusi di lingkungan
Pabrik Swallow.
Untuk menghindari terjadinya kasus kecelakaan kekembali terulang , dalam hal ini
bagi pihak manajemen Pabrik Swallow sebaiknya melakukan tindakan sebagai
berikut:
1) Membuat dan menerapkan analisis keselamatan kerja (Job Safety Analysis).
2) Melaksanakan pelatihan dan pelaksanaan prosedur darurat secara rutin.
3) HSE Plan, Job Safety Analysis dan Instruksi Kerja/SOP agar selalu
disosialisasikan perusahaan kepada mandor, pengawas, dan para pekerja yang
dilakukan secara konsisten dan menyentuh kepada potensi bahaya yang
tampak maupun tersembunyi.
4) Membangun komunikasi antar pekerja dan kelompok/unit kerja secara efektif
dan selalu memastikan serta mengingatkan bahwa masing-masing rekan kerja
tidak berada dalam kondisi tidak aman.

3.2 Saran
Etika Engineering merupakan hal yang sangat penting yang perlu diperhatikan
dilingkungan kerja manapun. Sehingga, siapapun tidak boleh menyepelekannya
apapun yang terjadi. Pada kasus pabrik swallow ini contohnya, yang terdapat
beberapa pelanggaran sehingga dapat mengakibatkan kerugian jangka panjang. Jadi
perlu adanya kesadaran sejak dini tentang kedisiplinan terhadap keamanan agar tidak
ada kejadian seperti ini terulang kembali.

DAFTAR PUSTAKA

10
1. Anonim. Investigasi Kecelakaan. 2012.
http://nuruddinmh.wordpress.com/2012/04/05/investigasi-kecelakaan-metode-
scat/. Diakses tanggal 28 November 2016.
2. Hermiyanti, Dyah. 2012. Analisis Penyebab Kecelakaan Fatal Jatuh Dari Kapal Pada
Transportasi Air Survei Seismik 2D PT. X di Simenggaris Kalimantan Timur
Tahun 2010, Tesis. Jakarta : FKM Universitas Indonesia.
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/2/25c29444be23a66bfc9b1cb8d8df1a8
e7c69a3a5.pdf. Diakses tanggal 28 November 2016.
3. Mahaputra, Sandy Adam. 2010. Human Error Pemicu Kebakaran Pabrik Swallpw.
http://metro.news.viva.co.id/news/read/136686human_error_pemicu_kebakaran
_pabrik_swallow. Diakses tanggal 28 November 2016.

11