Anda di halaman 1dari 2

Bagaimana Cara Menghadapi Usaha yang Sedang

Surut/Terancam Bangkrut??
Pertama yang wajib dimiliki oleh seorang pengusaha adalah tekad yang kuat. Bila pengusaha memiliki
tekad yang kuat untuk mengembangkan usahanya, maka pengusaha tersebut selalu mempunyai
motivasi dan akan tetap bertahan meskipun krisis melanda.

Cara kedua yang harus dilakukan oleh seorang pengusaha adalah terus maju untuk mengembangkan
usahanya meskipun sedang dilanda krisis. Pengusaha harus berani untuk maju terus meskipun banyak
rintangan. Pengusaha sejati tidak akan takut dengan yang namanya rintangan.

Cara ketiga adalah kerja keras, seorang pengusaha harus mau bekerja keras untuk memajukan
usahanya. Bila seseorang sudah memutuskan untuk menjadi pengusaha, maka orang tersebut harus
bersedia untuk bekerja keras. Dalam menghadapi krisis, kerja keras sangat dibutuhkan untuk
menyelesaikan rintangan-rintangan yang sedang terjadi.
Bila ketiga cara diatas sudah dilakukan untuk menghadapi krisis usaha atau bisnis, maka tidak perlu
terlalu khawatir karena semua akan berjalan dengan baik. Seorang pengusaha sejati pasti dapat
menghadapi segala rintangan yang menghadangnya.

Bila Anda sudah hampir putus asa saat alami kebangkrutan, cobalah urai simpul-simpul mati dalam
kondisi bangkrut tersebut dengan beberapa saran di bawah ini.
1. Berkomunikasi dengan entrepreneur yang pernah alami hal serupa
Saat alami kebangkrutan, tetaplah berkomunikasi dengan banyak orang. Mengurung diri terlalu lama
akan memberikan efek putus asa yang lebih besar. Tentu Anda harus tetap mendekatkan diri pada Tuhan
agar lekas bangkit tetapi jangan lupa untuk juga mengokohkan jejaring bisnis. Di saat genting seperti
inilah, jejaring bisnis menjadi jaring pengaman yang bisa mengangkat Anda dari kebangkrutan.
Jika Anda memiliki mentor atau setidaknya rekan yang sudah lebih banyak memiliki pengalaman dalam
dunia entrepreneurship, cobalah untuk meminta sebagian waktunya untuk bisa mengobrol dekat dari
hati ke hati. Jika Anda dikenal sebagai pengusaha yang suka bekerja keras dengan reputasi yang baik
tanpa cela, kebangkitan dari kebangkrutan adalah hanya soal waktu. Dan bila Anda pernah membantu
beberapa orang rekan sesama entrepreneur sebelumnya, Anda bisa meminta bantuan mereka untuk
bangkit dengan cara yang sama-sama saling menguntungkan. Inilah manfaat memiliki jejaring bisnis,
Anda tak akan pernah sendirian menghadapi krisis.

2. Pupuk keyakinan diri bahwa badai pasti berlalu


Dalam kehidupan ada perputaran antara masalah dan kebahagiaan. Jangan serta merta putus asa
menghadapi keadaan yang sedemikian rumit . Semua masalah, termasuk kebangkrutan yang sedang
Anda alami, pasti memiliki ujung dan akhir.
Teruslah bersikap pantang menyerah, pelihara kemampuan untuk berpikir jernih. Tidak mudah memang
tetapi inilah yang harus Anda lewati sebagai seorang entrepreneur.

3. Minta bantuan pihak ketiga yang profesional


Untuk menyelesaikan masalah kebangkrutan dengan tuntas, Anda bisa menyewa jasa tenaga
profesional. Jenis jasa ini tentu disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda. Misalnya, jika Anda
ingin menegosiasikan utang piutang, Anda bisa sewa jasa penasihat hukum atau konsultan bisnis yang
berpengalaman dan tepercaya. Tahan diri untuk bertindak instan dan sembrono. Keinginan untuk
mencapai solusi secara instan akan menjadi bumerang suatu saat bagi Anda.
4. Pertahankan perusahaan
Saat sebuah perusahaan dirundung masalah kebangkrutan, ada baiknya entrepreneur
mempertimbangkan untuk mempertahankannya sebatas kemampuannya. Masa kelam ini menjadi saat
yang sesuai untuk menguji kesetiaaan para karyawan. Di samping itu, dengan mempertahankan
perusahaan, masih terbuka peluang untuk menyelesaikan masalah keuangan (misalnya utang piutang)
yang menjadi sumber masalah utama kebangkrutan.

Contoh Usaha + Bukti :


Darwin E. Smith dari Kimberly dan Clark memutuskan untuk menutup pabrik kertas yang telah 20 tahun
menjadi bisnis inti perusahaan yang dipimpinnya. Setelah membaca pergerakan pasar, Smith
memutuskan untuk memfokuskan usaha pemulihan dan pengembangan pada upaya menggeser bisnis
kertas yang selama ini ditekuni ke bisnis produk konsumen yang berbasis kertas (misalnya: tissue,
celana anti basah untuk bayi ). Pada saat itu Smith dihadapi pada pilihan: tetap pada bisnis pabrik
kertas yang selama ini ditekuninya, atau berkembang sesuai dengan perubahaan yang terjadi di pasar
dengan masuk ke industri produk konsumen berbasis kertas dan berhadapan langsung dengan pesaing
besar yang sudah lama berada di pasar (Scott paper) maupun pesaing baru (Proctor and Gamble).
Untuk bangkit dari keterpurukan, Smith mengambil alternatif kedua, yaitu menggeser bisnis inti ke
bisnis produk konsumen berbasis kertas. Untuk itu ia dan jajarannya harus bekerja keras dan berjuang
agar tidak mati tergilas persaingan (karena pilihannya adalah: mati atau menang).

Demikian juga dengan Jim Harring, nakhoda Kroeger, perusahaan yang bergerak di industri ritel. Jika
pesaing besarnya yang berjaya pada waktu itu (A & P) tetap bertahan pada bisnis inti yang bergerak di
bidang supermarket komunitas, maka Jim Harring lebih memilih untuk proaktif dalam membaca
perubahaan di pasar yang mengarah pada pendirian superstore yang diminati masyarakat karena
kelengkapan produk, harga murah, dan tempat yang nyaman. Seperti juga Smith yang berhasil menang
atas para pesaing besarnya, Harring juga akhirnya berhasil mengalahkan A & P.
Mencegah adalah lebih baik dari pada mengobati. Perusahaan yang sehat, sebaiknya terus mengadakan
perubahan-perubahan ke arah perbaikan dengan membaca pergerakan yang ada di pasar sebelum
perusahaan terpaksa melakukan perubahan radikal yang menyakitkan semua pihak. Namun, untuk
perusahaan yang sudah terlanjut sakit, sang CEO harus sadar bahwa perusahaan yang dipimpinya sakit
dan harus segera disehatkan kembali dengan cara menghentikan pendarahaan keuangan, membangun
kepercayaan, dan menyusun kekuatan untuk lepas landas.

Bagaimanapun kondisi perusahaan atau bagian yang kita pimpin saat ini (sehat, agak sehat, kurang
sehat ataupun sekarat), kita bisa mengambil pelajaran berharga dari keputusan besar dan strategi
cerdas yang telah diambil para CEO handal dalam menyelamatkan perusahaan mereka dari kejatuhan.