Anda di halaman 1dari 39

MENCEGAH PENYAKIT DENGAN VAKSINASI

BLOK MEKANISME PERTAHANAN TUBUH

Kelompok B-17
Rizky Alamsyah Martani 1102012253
Siti Rafiqah Fajri 1102012282
Rizkia Putra Fahrandika 1102015204
Raudha Kasmir 1102015190
Syalma Kurnia Nur Andini 1102015233
Muhammad Lutfi Kurnia 1102015150
Siti Khodijah Mulya Sari Rifki 1102015225
Raudina Fisabila Martadipura 1102015191
Qatrunnada Nadhifah 1102015184

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


Jl. Letjen. Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp. 62.21.4244574 Fax. 62.21.4244574

2016

DAFTAR ISI
1. SKENARIO .2
2. KATA SULIT...3
3. BRAINSTORMING.4
4. HIPOTESIS..6
5. SASARAN BELAJAR.7
5.1. Mampu memahami dan menjelaskan anatomi organ
limfatikus.8
5.2. Mampu memahami dan menjelaskan mekanisme imunitas tubuh
14
5.3. Mampu memahami dan menjelaskan tentang antigen...........................
19
5.4.Mampu memahami dan menjelaskan tentang antibodi.21
5.5.Mampu memahami dan menjelaskan tentang imunisasi dan
vaksin..24
5.6.Mampu memahami dan menjelaskan perspektif Islam dalam pemberian
vaksin yang mengandung bahan
haram.34
6. KESIMPULAN...36
7. DAFTAR PUSTAKA.........37

1
SKENARIO

Mencegah Penyakit dengan Vaksinasi


Seorang bayi berumur 2 bulan mendaopat vaksinasi BCG di lengan kanan
atas untuk mencegah penyakit dan mendapapatkan kekebalan. Empat minggu
kemudian bayi tersebut dibawa kembali ke RS karena timbul benjolan di ketiak
kanan. Setelah Dokter melakukan pemeriksaan didapatkan pembesaran nodus
limfatikus di region axilaris dekstra. Hal ini disebabkan adanya reaksi terhadap
antigen yang terdapat dalam vaksin tersebut dan menimbulkan respon imun tubuh.

2
KATA SULIT

1. Vaksinasi BCG : Bacillus calmette-guerin


2. Antigen : Zat yang mampu menginduksi respon imun spesifik dan bereaksi
dengan produk-produk respon tersebut, yaitu antibodi spesifik/ limfosit T.
3. Nodus limfatikus : Setiap kumpulan jaringan limfoid yang diatur sebagai
organ limfoid tertentu, teridiri dari bagian korteks luar dan bagian medulla
dalam.
4. Respon imun : Setiap respon sistem imun terhadap stimulus antigenik,
termasuk dihasilkannya antibodi, imunitas selular dan toleransi imunologik.
5. Regio axilaris dekstra : Regio dada sebelah kanan di sekitar fossa axilaris
(rongga kecil di bawah lengan tempat anggota badan atas menyatu dengan
tubuh di bahu).

3
BRAINSTORMING

1. Kenapa timbul benjolan di ketiak sebelah kanan setelah vaksinasi BCG?


2. Vaksin apa sajakah yang diberikan pada usia 2 bulan?
3. Mengapa vaksin BCG diberikan di lengan kanan atas?
4. Siapa saja yang tidak boleh diberi vaksin BCG?
5. Kenapa vaksin bisa mencegah penyakit dan menyebabkan kekebalan?
6. Apa saja jenis antigen?
7. Apa dampak yang dihasilkan setelah pemberian vaksin BCG? Adakah efek
sampingnya?
8. Apa saja penyebab pembesaran nodus limfatikus pada region axilaris dekstra?
9. Apa perbedaan vaksin mati dan vaksin hidup?
10. Bagaimana pandangan Islam terhadap pemberian vaksin?
11. Apa perbedaan vaksin dan imunisasi?
12. Apa saja yang termasuk dalam sistem limfatikus?
13. Apa saja yang termasuk ke dalam mekanisme imunitas tubuh?
14. Apa saja jenis antibodi?
Jawaban
1. Karena sistem limfatikus yang terdekat (proksimal) melawan antigen dalam
vaksin tersebut
2. Vaksin BCG (0-1 bulan), vaksin DPT (2,4 dan 6 bulan), vaksin hepatitis B
(0,1 dan 6 bulan), vaksin polio (0,2,4 dan 6 bulan) serta vaksin campak pada
bulan ke 9.
3. Karena vaksin paling bagus dan baik diberikan dekat dengan batang tubuh.
4. Ibu hamil, anak yang terinfeksi HIV serta anak yang sudah terpapar
Mycobacterium tuberculosis.
5. Vaksin mengandung mikroorganisme yang telah dilemahkan untuk
merangsang tubuh membentuk antibodi untuk kekebalan tubuh.
6. Antigen O, H dan Vi.

4
7. Ada respon tubuh berupa demam serta pada beberapa orang menimbulkan
alergi. Kemudian biasanya timbul juga benjolan pada ketiak (nodus
limfatikus).
8. Pada penyebab yang bukan kanker maka bisa dibagi 2, yaitu pada yang local
penyebabnya seperti luka dan pada yang sistematik penyebabnya bisa infeksi
bakteri atau virus. Untuk penyebab timbul benjolan karena kanker disebabkan
oleh kanker di dekat nodus limfatikus maupun pada pembuluh limfe sendiri.
9. Vaksin hidup berisi virus/bakteri yang dilemahkan sedangkan vaksin mati
berisi virus/bakteri yang sudah dimatikan.
10. Boleh asalkan kandungan dari vaksin tersebut halal.
11. Vaksin berisi virus yang sudah dilemahkan sedangkan imunisasi berisi
antibodi.
12. Lien, pembuluh limfe, nodus limfatikus, tonsil, thymus dan sebagainya.
13. Terdapat 2 lini pertahanan tubuh :
a) Lini pertama / non spesifik : Fisik (kulit), larut (biokimia serta
humoral) dan seluler (makrofag, neutrophil, dsb).
b) Lini kedua / spesifik : Humoral (sel B) dan seluler (sel T).
14. IgA, IgM dan IgG

5
HIPOTESIS

Respon imun adalah suatu respon tubuh terhadap stimulus antigen baik yang
spesifik maupun non-spesifik yang melibatkan sistem limfatikus. Imunisasi adalah
segala upaya yang dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, salah satunya
adalah dengan pemberian vaksin seperti vaksin BCG, vaksin DPT, vaksin
hepatitis B, vaksin polio serta vaksin campak untuk bayi di bawah 9 bulan yang
dilakukan dengan cara memasukkan antigen ke dalam tubuh untuk merangsang
terbentuknya antibodi. Menurut pandangan Islam, vaksinasi boleh diberikan
apabila kandungan di dalam vaksin tersebut halal.

6
SASARAN BELAJAR

LO.1.Mampu memahami dan menjelaskan tentang anatomi organ limfatikus


1.1.Mampu memahami dan menjelaskan organ limfoid secara makroskopis
1.2.Mampu memahami dan menjelaskan organ limfoid secara mikroskopis
LO.2.Mampu memahami dan menjelaskan tentang mekanisme imunitas tubuh
2.1.Mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi sistem imun
2.2.Mampu memahami dan menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh
LO.3.Mampu memahami dan menjelaskan tentang antigen
3.1. Mampu memahami dan menjelaskan definisi dan fungsi antigen
3.2. Mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi dan sifat antigen
3.3. Mampu memahami dan menjelaskan struktur antigen
LO.4.Mampu memahami dan menjelaskan tentang antibodi
4.1. Mampu memahami dan menjelaskan definisi dan fungsi antibodi
4.2. Mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi dan sifat antibodi
4.3 Mampu memahami dan menjelaskan struktur antibodi
LO.5.Mampu memahami dan menjelaskan tentang imunisasi dan vaksin
5.1.Mampu memahami dan menjelaskan imunisasi
5.1.1.Mampu memahami dan menjelaskan definisi imunisasi
5.1.2.Mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi imunisasi
5.2.Mampu memahami dan menjelaskan vaksin
5.2.1.Mampu memahami dan menjelaskan definisi vaksin
5.2.2.Mampu memahami dan menjelaskan jenis vaksin
5.2.3.Mampu memahami dan menjelaskan vaksinasi dasar dan jadwalnya
5.2.4.Mampu memahami dan menjelaskan cara pemberian vaksin
LO.6.Mampu memahami dan menjelaskan perspektif Islam dalam pemberian
vaksin yang mengandung bahan haram

7
SASARAN BELAJAR

LO.1.Mampu memahami dan menjelaskan tentang anatomi organ limfatikus


1.1.Mampu memahami dan menjelaskan organ limfoid secara makroskopis
a. Organ limfoid primer
Organ limfoid primer terdiri dari sumsum tulang dan timus.
Sumsum tulang merupakan jaringan yang kompleks tempat
hematopoiesis dan depot lemak. Lemak merupakan 50 % atau lebih
dari kompartemen rongga sumsum tulang. Organ limfoid diperlukan
untuk pematangan, diferensiasi dan poliferasi sel T dan B sehingga
menjadi limfosit yang dapat mengenal antigen. Sel hematopoietik
yang diproduksi di sumsum tulang menembus dinding pembuluh
darah dan masuk ke sirkulasi dan di distribusikan ke bagian tubuh.
1) Thymus
Timus tumbuh terus hingga pubertas. Setelah mulai pubertas,
timus akan mengalami involusi dan mengecil seiring umur
kadang sampai tidak ditemukan. akan tetapi masih berfungsi
untuk menghasilkan limfosit T yang baru dan darah.
Mempunyai 2 buah lobus, mempunyai bagian cortex dan
medulla, berbentuk segitiga, gepeng dan kemerahan. Thymus
mempunyai 2 batasan, yaitu :
a) Batasan anterior : manubrium sterni dan rawan costae IV
b) Batasan atas : Regio colli inferior (trachea)
Letaknya terdapat pada mediastinum superior, dorsal terhadap
sternum. Dasar timus bersandar pada perikardium, ventral dari
arteri pulmonalis, aorta, dan trakea. Batas anterior yaitu
manubrium sterni, dan rawan costae IV.

8
2) Sumsum Tulang
Terdapat pada
sternum,
vertebra, tulang
iliaka, dan tulang
iga. Sel stem
hematopoetik ak
an membentuk
sel-sel darah.
Proliferasi dan
diferensiasi
dirangsang
sitokin.
Terdapat juga sel
lemak, fibroblas
dan sel plasma. Sel stem hematopoetik akan menjadi
progenitor limfoid yang kemudian mejadi prolimfosit B dan
menjadi prelimfosit B yang selanjutnya menjadi limfosit B
dengan imunoglobulin D dan imunoglobulin M (B Cell Receptor )
yang kemudian mengalami seleksi negatif sehingga menjadi sel
B naive yang kemudiankeluar dan mengikuti aliran darah
menuju ke organ limfoid sekunder. Sel stem hematopoetik
menjadi progenitor limfoid juga berubah menjadi prolimfosit T
dan selanjutnya menjadi prelimfosit T yang akhirnya menuju
timus.

b. Organ limfoid sekunder :


Organ limfoid sekunder merupakan tempat sel dendritik
mempersentasikan antigen yang yang ditangkapnya di bagian lain
tunuh ke sel T yang memacunya untuk poliferasi dan diferensiasi
limfosit.

9
1) Limfonodus

Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi untuk


memproduksi limfosit dan anti bodi untuk mencegah
penyebaran infeksi lanjutan, menyaring aliran limfatik
sekurang-kurangnya oleh satu nodus sebelum dikembalikan
kedalam aliran darah melalui duktus torasikus, sehingga dapat
mencegah penyebaran infeksi lebih luas. Terdapat permukaan
cembung dan bagian hillus (cekung) yang merupakan tempat
masuknya pembuluh darah dan saluran limfe eferen yang
membawa aliran limfe keluar dari limfonodus. Saluran afferen
memasuki limfonodus pada daerah sepanjang permukaan
cembung.

Bentuknya oval seperti kacang tanah atau kacang merah dengan


pinggiran cekung (hillus) berukuran sebesar kepala peniti atau
buah kenari, dapat diraba pada daerah leher, axilla, dan inguinal
dalam keadaan infeksi.

2) Lien

10
Merupakan organ limfoid yang terbesar, lunak, rapuh, vaskular
berwarna kemerahan karena banyak mengandung darah dan
berbentuk oval. Pembesaran limpa disebut dengan splenomegali.
Pembesaran ini terdapat pada keaadan leukimia, cirrosis hepatis,
dan anemia berat.

Letaknya di regio hipochondrium sinistra intra peritoneal. Pada


proyeksi costae 9, 10, dan 11. Setinggi vertebrae thoracalis 11-
12. Batas anterior yaitu gaster, ren sinistra, dan flexura colli
sinistra. Batas posterior yaitu diafragma, dan costae 9-12.
Berukuran sebesar kepalan tangan masing-masing individu.
Aliran darah akan masuk kedaerah hillus lienalis yaitu arteri
lienalis dan keluar melalui vena lienalis ke vena porta menuju
hati.

3) Tonsil

Tonsil

termaksud salah satu dari organ limfoid yang terdiri atas 3 buah
tonsila yaitu Tonsila Palatina, Tonsila Lingualis, Tonsila
Pharyngealis. Ketiga tonsil tersebut membentuk cincin pada
saluran limf yang dikenal dengan Ring of Waldeyer hal ini
yang menyebabkan jika salah satu dari ketiga tonsila ini
terinfeksi dua tonsila yang lain juga ikut meradang. Organ
limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsila, yaitu :
a) Tonsila palatina

11
Terletak pada dinding lateralis (kiri-kanan uvula)
oropharynx dextra dan sinistra. Terletak dalam 1 lekukan
yang dikenal sebagai fossa tonsilaris dengan dasar yang
biasa disebut tonsil bed. Fossa tonsilaris dibatasi oleh dua
otot melengkung membentuk arcus yaitu arcus
palatoglossus dan arcus palatopharyngeus.
b) Tonsila lingualis
c) Tonsila pharyngealis

1.2.Mampu memahami dan menjelaskan organ limfoid secara mikroskopis


Limfonodus
1) Korteks Luar/ Cortex
Dibentuk oleh jaringan limfoid yg
terdiri daari sel retikular dan serat
retikular yg dipenuhi oleh Limfosit
B. Di dalam jaringan limfoid
korteks terdapat struktur berbentuk
sferis yg disebut Nodulus
limfatikus. Terdapat sinus
subkapsularis yang dibentuk oleh
suatu jarigan ikat longgar dari
makrofag , sel retikular dan serat
retikular.

2) Korteks dalam/Paracortex
Merupakan kelanjutan dari korteks luar,
mengandung beberapa nodulus serta
banyak Limfosit T
3) Medula Limfonodus
Terdapat korda medularis yang
merupakan perluasan dari korteks dalam.
Banyak mengandung Limfosit B dan
sedikit sel plasma serta makrofag. Korda
medularis dipisahkan oleh struktur seperti
kapiler yg berdilatasi yang teradapat
Sinus Limfoid Medularis yang
mengandung cairan limfe.

12
Timus
Timus memiliki suatu simpai jaringan
ikat yg masuk ke dalam parenkim dan
membagi timus menjadi lobulus. Setiap
lobulus memiliki satu zona perifer gelap
disebut korteks dan zona pusat yg terang
disebut medula korteks dan medula berisi
sel-sel limfosit. Sel limfosit berasal dari
sel mesenkim yang menyusup ke dalam
suatu epitel primordium dr kantung
faringeal ke 3 dan 4.
1) Korteks Timus
Terdapat limfosit T yang sangat
banyak,sel retikular epitel yang
tersebar dan beberapa makrofag
2) Medula Timus
Mengandung sel retikular dan
limfosit (sel-sel ini menyebabkan
medula tampak lebih pucat dibanding
baguan korteks) dan mengandung
BADAN HASSAL yang merupakan
sel retikular epitel gepeng yang
tersusun konsentris, mengalami
degenerasi dan mengandung granula
keratohialin.

Tonsil

1) Tonsila Palatina

Terletak pada dinding lateral faring bagian oral. Setiap tonsila


memiliki 10-20 invaginasi epitel (epitel berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk) yang menyusup ke dalam parenkim membentuk
KRIPTUS yang mengandung sel-sel epitel yang terlepas, limfosit
hidup dan mati, dan bakteri dalam lumennya. Yang memisahkan
jaringan limfoid dari organ-organ berdekatan adalah satu lapis
jaringan ikat padat yang disebut simpai tonsila yang biasanya
bekerja sebagai sawar terhadap penyebaran infeksi tonsila

13
2) Tonsila Pharingea
Merupakan tonsila tunggal yang terletak
dibagian supero-posterior faring. Ditutupi
epitel bertingkat silindris bersilia. Tidak
ada lipatan-lipatan mukosa dengan jaringan
limfoid difus dan nodulus limfatikus. Tidak
memiliki kriptus. Simpai lebih tipis dari
Tonsila Palatina.

3) Tonsila Lingualis
Lebih kecil dan lebih banyak. Terletak pada
pangkal lidah dan ditutupi epitel berlapis
gepeng. Masing-masing mempunyai
sebuah kriptus.
Lien
1) Pulpa Merah/Rubra
Tersusun dari ruang besar yg saling
berhubungan (berdinding tipis berisi
darah (sinusoid limpa) yang dibatasi
jaringan limfoid korda limpa/billroth),
banyak terdapat sinusoid dan merupakan
jaringan retikular dengan ciri khas, yaitu
adanya korda limpa yg terdapat sel dan
serat reticular, makrofag, limfosit, sel
plasma serta banyak unsur darah
(eritrosit, trombosit, granulosit)
2) Pulpa Putih/Alba
Terdapat jaringan limfoid yang
menyelubungi Arteri sentralis dan
nodulus limfatikus, sel-sel limfoid yang
mengelilingi Arteri sentralis ini terutama
Limfosit T dan membentuk selubung
periarteri. Pada nodulus limfatikus
terutama terdapat limfosit B. Di antara
pulpa putih dan pulpa merah terdapat
zona marginalis

14
LO.2.Mampu memahami dan menjelaskan tentang mekanisme imunitas tubuh
2.1.Mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi sistem imun
a. Sistem Imun Non-Spesifik
Disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba
tertentu, telah ada dan siap berfungsi sejak lahir. Mekanismenya
tidak menunjukkan spesifitas terhadap bahan asing dan mampu
melindungi tubuh terhadap banyak patogen potensial. Sistem
tersebut dalam mengahadapi serangan berbagai mikroba dan dapat
memberikan respons langsung.
1) Pertahanan fisik/mekanik
Kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin,
merupakan garis pertahanan terdepan terhadap infeksi.
Keratinosit dan lapisan epidermis kulit sehat dan epitel mukosa
yang utuh tidak dapat ditembus kebanyakan mikroba. Kulit yang
rusak menyebabkan risiko infeksi meningkat. Tekanan oksigen
yang tinggi di paru bagian atas membantu hidup kuman obligat
aerob seperti tuberkulosis
2) Biokimia
Beberapa mikroba dapat masuk melalui kelenjar sebaseus dan
folikel rambut. pH asam keringat dan sekresi sebaseus, berbagai
asam lemak yang dilepas kulit mempunyai efek denaturasi
terhadap protein membran sel sehingga dapat mencegah infeksi
yang dapat terjadi melalui kulit. Lizosim dalam keringat, ludah,
air mata dan air susu ibu, melindungi tubuh terhadap berbagai
kuman positif-Gram peptidoglikan dinding bakteri. Air susu ibu
juga mengandung laktooksidase dan asam neuraminik yang
mempunyai sifat anti bakterial terhadap E.koli dan stafilokok.
Saliva mengandung enzim seperti laktooksidase yang merusak
dinding sel mikroba dan menimbulkan kebocoran sitoplasma
dan juga mengandung antibodi serta komplemen yang dapat
berfungsi sebagai opsonin dalam lisis sel mikroba.
Asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik, antibodi
dan empedu dalam usus halus membantu menciptakan
lingkungan yang dapat mencegah infeksi banyak mikroba. pH
yang rendah dalam vagina, spermin dalam semen dan jaringan
lain dapat mencegah tumbuhnya bakteri positif-Gram.
Pembilasan oleh urin dapat menyingkirkan kuman patogen.
Laktoferin dan transferin dalam serum mengikat besi yang
merupakan metabolit esensial untuk hidup beberapa jenis
mikroba seperti pseudomonas.

15
Bahan yang disekresi mukosa saluran napas (enzim dan
antibodi) dan telinga berperan dalam pertahanan tubuh secara
biokimiawi. Mukus dapat menangkap bakteri dan bahan lainnya
yang selanjutnya dikueluarkan oleh gerakan silia. Polusi, asap
rokok, alkohol dapat merusak mekanisme tersebut sehingga
memudahkankan terjadinya infeksi oportunistik.
3) Humoral
Sistem imun nonspesifik menggunakan berbagai molekul larut.
Molekul larut terntu diproduksi di tempat infeksi atau cedera
dan berfungsi lokal. Molekul tersebut antara lain adalah peptida
antimkroba seperti defensin, katelisidin dan IFN dengan efek
antiviral.
a) Komplemen
Komplemen merupakan sistem yang terdiri atas sejumlah
protein yang berperan dalam pertahanan penjamu, baik
dalam sistem imun nonspesifik maupun sistem imn
spesifik. Komplemen merupakan salah satu sistem enzim
serum yang berfungsi dalam inflamasi, oposonisasi dan
kerusakan (lisis) membran patogen. Komplemen juga dapat
berperan dalam sistem imun spesifik yang setiap waktu
dapat diaktifkan kompleks imun.
Aktivasi komplemen merupakan usaha tubuh untuk
menghancurkan antigen asing, namun sering pula
menimbulkan kerusakan jaringan sehingga merugikan
tubuh sendiri. Komplemen sangat sensitif terhadap sinyal
kecil.
b) Protein fase akut
Selama fase ini, terjadi perubahan pada kadar beberapa
protein dalam serum yang disebut APP. Protein yang
meningkat atau menurun selama fase akut disebut juga
APRP yang berperan dalam pertahanan dini. APRP
diinduksi oleh sinyal yang berasal dari tempat cedera atau
infeksi melalui darah. Hati merupakan tempat sistesis
APRP.
1. C-Reactive Protein yang merupakan salah satu PFA,
termasuk golongan protein yang kadarnya dalam darah
meningkat pada infeksi akut sebagai respons imunitas
nonspesifik. Sebagai opsonin, CRP mengikat bergbagai
mikroorganisme, protein C pneumokok yang
membentuk kompleks dan mengaktifkan komplemen
jalur klasik.

16
2. Lektin berperan sebagai opsonin dan mengaktifkan
komplemen.
3. Protein fase akut lain adalah 1-antitripsin, amiloid
serum A, haptoglobin, C9, faktor B dan fibrinogen yang
juga berperan pada peningkatan laju endapan darah
akibat infeksi, namun dibentuk jauh lebih lambat
dibanding dengan CRP.
c) Mediator asal fosfolipid
Metabolisme fosfolipid diperlukan untuk produksi PG dan
LTR. Keduanya meningkatkan responsinflamasi melalui
peningkatan permeabilitas vaskular dan vasodilatasi.
d) Sitokin IL-1, IL-6, TNF-
Selama terjadi infeksi, produk bakteri seperti LPS
mengaktifkan makrofag dan sel lain untuk memproduksi
dan melepas berbagai sitokin seperti IL-1 yang merupakan
irogen endogen, TNF- dan IL-6.

e) Pertahanan selular
Fagosit, sel NK, sel mast dan eosinofil berperan dalam
sistem imun nonspesifik selular. Sel-sel sistem imun
tersebut dapat ditemukan dalam sirkulasi atau jaringan.
b. Sistem Imun Spesifik
Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal
benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing pertama kali
terpajan dengan tubuh segera dikenal oleh sistem imun spesifik.
Pajanan tersebut menimbulkan sensitasi, sehingga antigen yang
sama dan masuk tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat
dan kemudian dihancurkan.
1) Humoral
Pemeran utama dalam sistem imun spesifik humoral adalah
linfosit B atau sel B. Sel B dirangsang oleh benda asing akan
berproliferasi, berdiferensiasi dan berkembang menjadi sel
plasma yang memproduksi antibodi. Antibodi yang dilepas
dapat ditemukan dalam serum.
2) Selular
Limfosit T atau sel T berperan dalam sistem imun spesifik
selular. Berbeda dengan sel B, sel T terdiri atas beberapa subset
sel dengan fungsi yang berlaian yaitu sel CD4+ (Th1, Th2),

17
CD8+ atau CTL atau Tc dan Ts atau sel Tr atau Th3. Sel CD4 +
mengaktifkan sel Th1 yang selanjutnya mengaktifkan makrofag
untuk menghancurkan mikroba. Sel CD8+ memusnahkan sel
terinfeksi.
2.2.Mampu memahami dan menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh
Antigen menimbulkan respons kekebalan dengan cara mengaktifkan sel
B untuk mensekresi protein yang disebut dengan antibodi. Antigen
memiliki bermacam-macam bentuk molekuler yang merangsang sel B
untuk mensekresi antibodi yang berinteraksi dengan antigen tersebut.
Sel B dan sel T dapat mengenali antigen yang spesifik karena memiliki
reseptor antigen yang terletak di membran plasma. Reseptor antigen
pada sel B mrupakan antibodi membran sedangkan pada sel T disebut
juga reseptor sel T. Reseptor sel T berikatan dengan antibodi membran
dan mengenali antigen tersebut.
Limfosit yang mengandung reseptor untuk mengenali antigen. Setelah
antigen terdeteksi, maka limfosit akan membelah dan berdiferensiasi
serta membentuk 2 klon yaitu sel efektor dan sel memori. Pengklon sel
ini disebut dengan seleksi klonal.
Setiap antigen berikatan dengan reseptor secara selektif dengan
mengaktifkan sel limfosit di tubuh kemudian jumlah sel yang terseleksi
akan menghasilkan ribuan sel yang bersifat spesifik untuk
menghancurkan antigen tersebut. Kejadian ini dinamakan respons
kekebalan. Respons kekbalan terbagi menjadi dua, yaitu respons
kekebalan primer dan respons kekebalan skunder.
Respons kekebalan primer ketika limfosit memerlukan 10-17 hari untuk
menyeleksi limfosit dan memberikan respons terhadap antigen. Sel B
dan sel T yang terseleksi akan membangkitkan sel efektor yang
menghasilkan antibodi, antibodi ini dinamakan sel plasma dan sel
efektor T. Sel efektor akan berkembang, respons yang diterima
seseorang yaitu sakit. Lalu gejala tersebut hilang ketikan antibodi
membersihkan antigen tersebut. Jika individu terserang antigen yang
sama, maka respons yang akan terjadi lebih cepat sekitar 2-7 hari.
Respons ini dinamakan respons kekebalan sekunder.
Jika antigen yang diterima lebih banyak, maka antibodi yang akan
dihasilkan dalam respons skunder memiliki afinitas yang lebih besar
terhadap antigen. Kemampuan sistem kekebalan dalam sekunder
disebut juga memori imunologis. Sel memori disiapkan untuk
berpoliferasi atau memperbanyakdiri dan berdiferensiasi ketika sel
limfosit akan berkontak dengan antigen yang sama.
Limfosit berasal dari sel induk pluripoten di sumsum tulang. Semua
limfosit itu sama lalu akan berkembang menjadi sel B dan sel T
tergantung lokasi proses pematangannya. Limfosit yang bermigrasi dari

18
sumsum tulang belakang menju Timus akan menjadi sel T, sedangkan
limfosit yang tetap berada di sumsum tulang akan menjadi sel B.
Limfosit tidak akan bereaksi terhadap antigen tetapi sel T berinteraksi
dengan molekul. Molekul ini merpakan glikoprotein yang berikatan
pada permukaan sel yang dinamakan MHC (Major Hsitocompability
Complex). Glikoprotein MHc disebut juga HMA (Human Leukocyte
Antigen). MHC terdiri dari MHC kelas I dan MHC kelas II. MHC kelas
I ditemukan di semua sel tubuh yang bernukleus. MHC kelas II terletak
di makrofaga; sel B; sel T yang dikatifkan dan sel yang menyusun
bagian inferior timus. Tugas moleku MHC yaitu mengikatkan antigen.
Masing-masing molekul MHC mengikatkan fragmen antigen protein
dalam lekukan yang berbentuk ayunan dan mengikatkannya pada sel T.
Sel T terdiri dari 2 jenis yaitu sel T sitotoksik dan sel T helper. Sel T
sittotoksik memiliki reseptor antigen yang berikatan dengan fragmen
antigen yang mengandung MHC kelas I terletak pada sel sel tubuh
bernukleus. Sel T helper memiliki reseptor yang berikatan dengan
fragmen antigen yang mengandung MHC kelas II . Sel T yang
berkembang di dalam timus yang memiliki reseptor afinitasnya menjadi
sel T sitotoksik. Sel T yang mempunyai reseptor afinitas terhadap MHC
kelas II menjadi sel Helper. Respons kekebalan limfosit B dan T
memiliki ciri khas yakni spesifitas, keanekaragaman, memori dan
mampu membedakan diri sendiri dan bukan diri sendiri
LO.3.Mampu memahami dan menjelaskan tentang antigen
3.1. Mampu memahami dan menjelaskan definisi dan fungsi antigen
Menurut Kamus Kedokteran Dorland, antigen adalah zat yang mampu
menginduksi respons imun spesifik dan bereaksi dengan produk-produk
respons tersebut, yaitu dengan antibodi spesifik atau limfosit T yang
disensitisasi secara khusus, atau keduanya.
3.2. Mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi dan sifat antigen
Antigen dapat dibagi menurut epitop, spesifisitas, ketergantungan
terhadap sel T dan sifat kimiawi:
1) Pembagian antigen menurut epitope
a. Unideterminan, univalent
Hanya satu jenis determinan/epitop pada satu molekul. Contoh:
Hapten
b. Unideterminan, multivalent
Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan
tersebut ditemukan pada satu molekul. Contoh: Polisakarida
c. Multideterminan, univalent
Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya saty dari
setiap macamnya (kebanyakan protein). Contoh: Protein
d. Multideterminan, multivalent

19
Banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam
pada satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi
dan kompleks secara kimiawi). Contoh: Kimia kompleks
2) Pembagian antigen menurut spesifisitas
a. Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies
b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki spesies tertentu
c. Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individu dalam
satu spesies
d. Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu
e. Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri
3) Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T
a. T dependen, yang memerlukan pengenalam oleh sel T terlebih
dahulu untuk dapat menimbulkan respons antibodi.
Kebanyakan antigen protein termasuk dalam golongan ini.
b. T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel
T untuk membentuk antibodi. Kebanyakan antigen golongan
ini berupa molekul besar polimerik yang dipecah didalam
tubuh secara perlahan-lahan misalnya lipopolisakarida, ficoll,
dekstran, levan dan flagelin polimerik bakteri
4) Pembagian antigen menurut sifat kimiawi
a. Hidrat arang (polisakarida)
Hidrat arang pada umumnya imunogenik. Glikoprotein yang
merupakan bagian permukaan sel banyak mikroorganisme
dapat menimbulkan respons imun terutama pembentukan
antibodi. Contoh lain adalah respons imun yang ditimbulkan
golongan dara ABO, sifat antigen dan spesifitas imunnya
berasal dari polisakarida pada permukaan sel dara merah
b. Lipid
Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik
bila diikat protein pembawa. Lipid dianggap sebagai hapten,
contohnya adalah sfingolipid
c. Asam nukleat
Asam nukelat tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi
imunogenik bila diikat protein molekul pembawa. DNA dalam
bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik. Respons imun
terhadap DNA terjadi pada penderita dengan LES
d. Protein
Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umunya
multideterminan dan univalent

3.3. Mampu memahami dan menjelaskan struktur antigen


Karakteristik antigen meliputi bentuk, ukuran, rigiditas, lokasi
determinan dan struktur tersier.
a. Ukuran
Antigen lengkap (imunogen) biasanya mempunyai berat molekul
yang besar.Tetapi molekul kecil dapat bergabung dengan protein

20
inang sehingga dapat bersifat imunogen dengan
membentukkompleks molekul kecil (hapten) dan protein inang
(carrier).
b. Bentuk
Bentuk determinan sangat penting sebagai komponen utama,
seperti DNP dalam DNP-L-lisin yang memberi bentuk molekul
yang tidak dapat ditemukan dalam homolog primer. Kopolimer
dari dua asam amino bersifat imunogenik untuk beberapa spesies,
yang mana polimer dari tiga atau empat asam amino yang
merupakan syarat yang penting untuk spesies lain. Lokasi dari
struktur dalam determinan juga sangat penting.
c. Rigiditas
Gelatin, yang mempunyai berat molekul yang sangat besar,
hampir semuanya non imunogenik.Kespesifitasanya dari produksi
antigen secara langsung diangkut ke gelatin.
d. Lokasi determinan
Bagian protein yang terdenaturasi mengindikasikan determinan
antigen yang penting yang dapat dimasukkan oleh molekul besar.
e. Struktur tersier
Struktur tersier dari protein (spatial folding) penting dalam
mendeterminasi kespesifikan dari respon suatu antibody.
Produksi antibody rantai A dari insulin tidak bereaksi dengan
molekul alami. Reduksi dan reoksidasi dari ribonuklease di
bawah kondisi kontrol diproduksi dari campuran molekul protein
yang berbeda hanya dalam struktur tiga dimensi. Jika katabolisme
terjadi, struktur tersier dari imunogen akan dihancurkan.
LO.4.Mampu memahami dan menjelaskan tentang antibodi
4.1. Mampu memahami dan menjelaskan definisi dan fungsi antibodi
Menurut Kamus Kedokteran Dorland, antibodi adalah molekul
imunoglobulin yang bereaksi dengan antigen spesifik yang
menginduksi sintesisnya dan dengan molekul yang menyerupai antigen
tersebut.
4.2. Mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi dan sifat antibodi
a. IgG (Imuno globulin G)
Merupakan antibodi yang paling umum. Dihasilkan hanya dalam
waktu beberapa hari, ia memiliki masa hidup berkisar antara
beberapa minggu sampai beberapa tahun. IgG beredar dalam tubuh
dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus.

21
Mereka mengikuti aliran darah, langsung menuju musuh dan
menghambatnya begitu terdeteksi. Mereka mempunyai efek kuat
anti-bakteri dan penghancur antigen. Mereka melindungi tubuh
terhadap bakteri dan virus, serta menetralkan asam yang
terkandung dalam racun. Selain itu, IgG mampu menyelip di antara
sel-sel dan menyingkirkan bakteri serta musuh mikroorganis yang
masuk ke dalam sel-sel dan kulit. Karena kemampuannya serta
ukurannya yang kecil, mereka dapat masuk ke dalam plasenta ibu
hamil dan melindungi janin dari kemungkinan infeksi. Jika antibodi
tidak diciptakan dengan karakteristik yang memungkinkan mereka
untuk masuk ke dalam plasenta, maka janin dalam rahim tidak akan
terlindungi melawan mikroba. Hal ini dapat menyebabkan
kematian sebelum lahir. Karena itu, antibodi sang ibu akan
melindungi embrio dari musuh sampai anak itu lahir.
b. IgA (Imuno globulin A)
Terdapat pada daerah peka tempat tubuh melawan antigen seperti air
mata, air liur, ASI, darah, kantong-kantong udara, lendir, getah
lambung, dan sekresi usus. Kepekaan daerah tersebut berhubungan
langsung dengan kecenderungan bakteri dan virus yang lebih
menyukai media lembap seperti itu. Secara struktur, IgA mirip satu
sama lain. Mereka mendiami bagian tubuh yang paling mungkin
dimasuki mikroba. Mereka menjaga daerah itu dalam
pengawasannya layaknya tentara andal yang ditempatkan untuk
melindungi daerah kritis. Antibodi ini melindungi janin dari berbagai
penyakit pada saat dalam kandungan. Setelah kelahiran, mereka
tidak akan meninggalkan sang bayi, melainkan tetap melindunginya.
Setiap bayi yang baru lahir membutuhkan pertolongan ibunya,
karena IgA tidak terdapat dalam organisme bayi yang baru lahir.
Selama periode ini, IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi
sistem pencernaan bayi terhadap mikroba. Seperti IgG, jenis antibodi
ini juga akan hilang setelah mereka melaksanakan semua tugasnya,
pada saat bayi telah berumur beberapa minggu.
c. IgM (Imuno globulin M)
Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan
sel B. Pada saat organisme tubuh manusia bertemu dengan antigen,
IgM merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk
melawan musuh. Janin dalam rahim mampu memproduksi IgM pada
umur kehamilan enam bulan. Jika musuh menyerang janin, jika janin
terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat.
Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat
diketahui dari kadar IgM dalam darah.
d. IgD (Imuno globulin D)
IgD juga terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan
sel B. Mereka tidak mampu untuk bertindak sendiri-sendiri. Dengan

22
menempelkan dirinya pada permukaan sel-sel T, mereka membantu
sel T menangkap antigen.
e. IgE (Imuno globulin E)
IgE merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah. Antibodi
ini bertanggung jawab untuk memanggil para prajurit tempur dan sel
darah lainnya untuk berperang. Antibodi ini kadang juga
menimbulkan reaksi alergi pada tubuh. Karena itu, kadar IgE tinggi
pada tubuh orang yang sedang mengalami alergi. (Yahya, Harun.
2005)
4.3. Mampu memahami dan menjelaskan struktur antibody
Struktur dasar immunoglobulin yang terdiri dari 4 rantai polipeptida,
terdiri dari 2 rantai berat (heavy chain=H) dan 2 rantai ringan(light
chain =L) yang tersusun secara simetris dan dihubungkan satu sama
lain oleh ikatan disulfide(Interchain disulfide bods). Molekul IgG dapat
dipecah oleh enzim papain menjadi 3 fragmen. Dua fragmen ternyata
identik dan dapat mengikat antigen membentuk kompleks yang larut
yang menunjukkan bahwa fragmen itu univalent atau mempunyai
valensi satu. Frakmen ini disebut Fab (fragment antigen binding).
Fragmen yang ketiga tidak dapat mengikat antigen dan karenanya dapat
membentuk kristal disebut Fc(fragment crystallizable). Pepsin, suatu
enzim proteolitik lain, dapat memecah IgG pada tempat Fc sehingga
tertinggal satu fragmen besar yang masih dapat mengendapkan antigen,
sehingga masih bersifat divalen (bervalensi dua), dan disebut F(ab)2.
Analisis asam amino menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa
terminal-N dari rantai L maupun rantai H selalu menjadi variabel
sehingga urutan asam amino yang ditemukan tidak konstan, disebut
disebut bagian variabel. Sisa dari rantai ternyata menuunjukkan struktur
yang relatif konstan; disebut konstan. Bagian variabel dan rantai-L dan
rantai-H, yang membentuk ujung dari Fab menentukan sifat khas dari
antibodi itu. Oleh karena setiap molekul immunoglobulin mempunyai 2
Fab, maka struktur dasar dari immunoglobulin dapat mengikat 2
determinan antigen.
Rantai- L (light chain). Dari hasil pemeriksaan protein Bence-Jones
dalam air kemih penderita myeloma, ditemukan 2 macam rantai-L,
yang disebut rantai-(kappa) dan rantai- (lambda). Pada setiap orang
sehat dapat ditemukan kedua macam rantai-L itu dengan perbandingan
rantai- 65% dan rantai- 35%, atau ratio : adalah 2:1.
Rantai- H. Imunoglobulin dibagi menjadi 5 kelas, dan ternyata
perbedaannya antara lain terletak pada rantai-H. Maka tiap klas
immunoglobulin mempunyai rantai-H tertentu, tetapi semua klas
immunoglobulin mempunyai rantai- atau (di dalam satu molekul
selalu hanya satu macam saja).
a. Rantai-H dari IgG disebut juga rantai- (gama)

23
b. Rantai-H dari IgA disebut rantai- (alpha)
c. Rantai-H dari IgM disebut rantai- (mu)
d. Rantai-H dari IgD disebut rantai- (delta)
e. Rantai-H dari IgE disebut rantai- (epsilon)

Bagian variabel dari molekul immunoglobulin menentukan sifatnya


yang khas terhadap antigen. Bagian yang konstan sama sekali tidak
berpengaruh langsung terhadap antigen, tetepi kemungkinan besar
bagian Fc dari imunoglobulin menentukan aktifitas biologis dari
antibodi itu, misalnya Fc dari IgG memungkinkan molekul itu
menembus jaringan plasenta dan Fc dari IgA ikut menentukan sifat dari
molekul itu dikeluarkan pada secret. Selain fungsi biologis di atas,
bagian Fc juga meningkatkan aktivitas tertentu setelah antibody
bergabung dengan antigen, misalnya kemampuan mengikat zat yang
disebut komplemen, perlekatan dengan sel macrofag atau menyababkan
degranulasi mast cell. Fungsi biologis dari bagian Fc pada berbagai
jenis immunoglobulin berbeda satu sama lain, tergantung dari struktur
primer molekul itu dan mungkin memerlukan ikatan dengan antigen
sebelum fungsi itu menjadi aktif.

LO.5.Mampu memahami dan menjelaskan tentang imunisasi dan vaksin


5.1.Mampu memahami dan menjelaskan imunisasi
5.1.1.Mampu memahami dan menjelaskan definisi imunisasi
Menurut Kamus Kedokteran Dorland, imunisasi adalah proses
membuat subjek menjadi imun atau menjadi imun.
5.1.2.Mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi imunisasi
a. Imunisasi Pasif
Imunisasi pasif terjadi bila seseorang menerima antibodi atau
produk sel dari orang yang telah mendapat imunisasi aktif.
Imunitas pasif dapat diperoleh melalui antibodi dari ibu atau dari
globulin gama homolog yang dikumpulkan.
1) Imunisasi pasif alamiah
a) Imunitas maternal melalui plasenta,
Antibodi dalam darah ibu merupakan proteksi pasif
kepada janin. Ibu yang mendapat vaksinasi aktif akan
memberikan proteksi pasif kepada janin dan bayi.

24
b) Imunitas maternal melalui kolostrum
Antibodi ditemukan dalam ASI dan kadarnya lebih
tinggi dalam kolostrum (ASI perama segera setelah
partus). Daya proteksi antibodi kelenjar susu tergantung
dari antigen yang masuk ke dalam usus ibu dan gerakan
sel yang dirangsang antigen. Antibodi terhadap
mikroorganisme yang menempati usus ibu dapat
ditemukan dalam kolostrum sehingga selanjutnya bayi
memperoleh proteksi terhadap mikroorganisme yang
masuk saluran cerna.
2) Imunisasi pasif buatan:
a) Immune Serum Globulin nonspesifik (Human Normal
Immunoglobulin):
Imunisasi pasif tidak diberikan secara rutin, hanya
diberikan dalam keadaan tertentu kepada penderita
yang terpajan dengan bahan yang berbahaya
terhadapnya dan sebagai regimen jangka panjang pada
penderita dengan defisiensi antibodi. Jenis imunitas
diperoleh segera setelah suntikan, tetapi hanya
berlangsung selama masa hidup antibodi in vivo yang
sekitar 3 minggu untuk kebanyakan bentuk proteksi
oleh Ig.
Preparat dibuat dari plasma atau serum yang
dikumpulkan dari donor sehat atau plasenta tanpa
memperhatikan sudah atau belum divaksinasi/ dalam
atau tidak dalam masa konvalesen suatu penykit.
Preparat yang diperoleh harus bebas dari virus hepatitis
dan HIV atau AIDS, kadar antibodi sekitar 25 kali,
stabil untuk beberapa tahun dan dapat mencapai
puncaknya dalam darah sekitar 2 hari setelah
pemberian IM.
ISG digunakan untuk imunisasi pasif terhadap berbagai
penyakit atau untuk perawatan penderita
imunokompromais dan pada keadaan tertentu. ISG juga
diberikan kepada penderita purpura TIP. Dosis tinggi
IgG diperlukan untuk dapat mencegah reseptor Fc pada
fagosit, terjadinya fagositosis dan rusaknya trombosit
akibat ADCC.
b) Immune Serum Globulin spesifik
Plasma atau serum yang diperoleh dari donor yang
dipilih sesudah imunisasi atau booster atau konvaselen
dari suatu penyakit.

25
1. Hepatitis B Immune Globulin:
2. ISG Hepatitis A
3. ISG Campak
4. Human Rabies Immune Globulin
5. Human Varicella-Zoster Immnue Globulin
6. Antisera terhadap virus Sitomegalo
7. Antibodi Rhogan
8. Tetanus Immune Globulin
9. Vaccinia Immune Globulin
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemberian
globulin serum adalah biasanya preparat globulin
diberikan IM mengingat pemberian IV dapat
menimbulkan reaksi anafilaksis. Preparat baru adalah
aman untuk pemberian IV. Keunikan kontraindikasi
pemberian Immunoglobulin yaitu pada defisiensi IgA
kongenital.

b. Imunisasi aktif
Dalam imunisasi aktif untuk mendapatkan proteksi dapat
diberikan vaksin hidup/dilemahkan atau yang dimatikan.
Keuntungan dari pemberian vaksin hidup/dilemahkan ialah
terjadinya replikasi mikroba sehingga menimbulkan pajanan
dengan dosis lebih besar dan respons imun di tempat infeksi
alamiah. Vaksin yang dilemahkan diproduksi dengan mengubah
kondisi biakan mikroorganisme dan dapat merupakan pembawa
gen dari mikroorganisme yang sulit untuk dilemahkan.
Kontak pertama dengan antigen eksogen menibulkan respons
humoral primer yang idtandai dengan sel plasma yang
memproduksii antibodi dan sel B memori. Respons primer
ditandai dengan lag phase yang diperlukan sel naif untuk
menjalani seleksi klon, ekspansi klon dan diferensiasi menjadi
sel memori dan sel plasma. Kemampuan untuk memberikan
respons humoral sekunder tergantung dari adanya sel B memori
dan sel T memori. Aktivasi kedua sel memori menimbulkan
respons antibodi sekunder yang dapat dibedakan dari respons
primer.

26
5.2.Mampu memahami dan menjelaskan vaksin
5.2.1.Mampu memahami dan menjelaskan definisi vaksin
Menurut Kamus Kedokteran Dorland, vaksin adalah suspensi
mikroorganisme (bakteri, virus) yang dilemahkan atau dimatikan.
Pengertian lainnya adalah suspensi protein antigenic yang berasal
dari mikroorganisme tersebut yang diberikan untuk mencegah,
meringankan atau mengobati penyakit menular.
5.2.2.Mampu memahami dan menjelaskan jenis vaksin

Jenis Vaksin Penjelasan Penyakit


Vaksin Hidup Virus/bakteri yang Campak, parotitis,
dilemahkan Polio (Sabin), Virus
rota, rubella, varisela,
yellow fever,
tuberculosis.
Vaksin Mati Bahan asal patogen Kolera, influenza,
seperti toksoid yang hepatitis A, pes, polio
diinaktifkan tetapi (Salk), rabies
tetap imunogen
Toksoid Berasal dari bahan Difteri, tetanus
toksin bakteri
Subunit Berasal dari bagian Hepatitis B, pertussis,
(eksotoksin organisme, misalnya S. pneumoni
yang komponen kapsul
diinaktifkan) bakteri
Konjugat Berasal dari H. influenza tipe B, S.
polisakaida murni pneumoni
yang dikonjugasikan
dengan protein karier
DNA Dalam uji klinis
Vektor Dalam uji klinis
Rekombinan

5.2.3.Mampu memahami dan menjelaskan vaksinasi dasar dan jadwalnya

27
a. BCG
BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit
tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak
berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak dianjurkan karena
keberhasilannya diragukan. Vaksin disuntikkan secara intrakutan
pada lengan atas, untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun
diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur lebih dari
1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL. Vaksin ini mengandung
bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan,
sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis. Kontraindikasi untuk
vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistem kekebalan,
misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani
pengobatan steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV.
Reaksi yang mungkin terjadi:
1) Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat
penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang
teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi
pustula (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan
membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh
secara spontan dalam waktu 8-12 minggu dengan
meninggalkan jaringan parut.
2) Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak
atau leher, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang
akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan.
Komplikasi yang mungkin timbul adalah

28
1) Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat
penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses
ini akan menghilang secara spontan. Untuk mempercepat
penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan
aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan
bukan disayat.
2) Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan
terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan
membaik dalam waktu 2-6 bulan.
b. DPT
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi
terhadap difteri, pertusis dan tetanus.
1) Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang
tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang
serius atau fatal.
2) Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran
udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta
bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung
selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan
batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau
minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius,
seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak.
3) Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan
kekakuan pada rahang serta kejang.
Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada
anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT
terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot
lengan atau paha Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali,
yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II)
dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4
minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III
dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami
reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya
diberikan DT, bukan DPT.
Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya
diberikan booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian
setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan perlindungan
selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster).
Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan
yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh
perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.

29
DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti
demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama
beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya
komponen pertusis di dalam vaksin. Pada kurang dari 1%
penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut:
1) Demam tinggi (lebih dari 40,5 Celsius)
2) Kejang
3) Kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang
sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat
kejang dalam keluarganya)
4) Syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).
Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu
ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika
anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau
perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda
sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.
1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan
terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di
tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan
demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen). Untuk
mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan
kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan
maupun tungkai yang bersangkutan
c. Polio
Memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.
Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah
satu maupun kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa
menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot
untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian. Terdapat 2
macam vaksin polio :
1) IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung
virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui
suntikan
2) OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung
vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam
bentuk pil atau cairan. Bentuk trivalen (TOPV) efektif
melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen (MOPV)
efektif melawan 1 jenis polio.

Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV)
dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio
ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian
pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan
SD (12 tahun). Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin.

30
Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 mL) langsung ke
mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air
gula.

Kontra indikasi pemberian vaksin polio pada yang sedang


menderita diare berat, gangguan kekebalan (karena obat
imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid) serta yang sedang
hamil. Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan
dan kejang-kejang.

Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan


respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat
diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibobi sampai pada
tingkat yang tertinggi.

d. HBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B.
Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan
kanker hati dan kematian. Dosis pertama diberikan segera
setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki HBsAg negatif, bisa
diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan. Imunisasi dasar
diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara
suntikan HBV I dengan HBV II, serta selang waktu 5 bulan
antara suntikan HBV II dengan HBV III. Imunisasi ulangan
diberikan 5 tahun setelah suntikan HBV III. Sebelum
memberikan imunisasi ulangan dianjurkan untuk memeriksa
kadar HBsAg. Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha.

Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif,


diberikan vaksin HBV pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG
(hepatitis B immune globulin) pada lengan kanan, dalam waktu
12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat anak
berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak
berumur 6 bulan.

Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak
diketahui, diberikan HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir.
Pada saat persalinan, contoh darah ibu diambil untuk
menentukan status HBsAgnya; jika positif, maka segera
diberikan HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu).
Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya
ditunda sampai anak benar-benar pulih. Vaksin HBV dapat
diberikan kepada ibu hamil.

Efek samping dari vaksin HBV adalah efek lokal (nyeri di


tempat suntikan) dan sistemis (demam ringan, lesu, perasaan
tidak enak pada saluran pencernaan), yang akan hilang dalam
beberapa

31
e. Campak
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan
sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih.
Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada umur 6 bulan dan
diulangi 6 bulan kemudian. Vaksin disuntikkan secara subkutan
dalam sebanyak 0,5 mL. Kontra indikasi pemberian vaksin
campak :
1) Infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38 Celsius
2) Gangguan sistem kekebalan
3) Pemakaian obat imunosupresan
4) Alergi terhadap protein telur
5) Hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin
6) Wanita hamil

Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit,


diare, konjungtivitis dan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).

f. MMR
Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak,
gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali.
1) Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung
meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi
telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan
masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan
bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit
kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua
kelenjar liur utama yang disertai nyeri.
2) Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada
selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak.
Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada
buah zakar sehingga terjadi kemandulan.
3) Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan,
ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher.
Rubella juga bisa menyebakban pembengkakan otak atau
gangguan perdarahan. Jika seorang wanita hamil menderita
rubella, bisa terjadi keguguran atau kelainan bawaan pada
bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli).

Terdapat dugaan bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan


autisme, tetapi penelitian membuktikan bahwa tidak ada
hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR.
Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR hanya digunakan
pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu
memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12 bulan.

32
Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15
bulan. Suntikan pertama mungkin tidak memberikan kekebalan
seumur hidup yang adekuat, karena itu diberikan suntikan
kedua pada saat anak berumur 4-6 tahun (sebelum masuk SD)
atau pada saat anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk
SMP).

Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang


berumur 18 tahun atau lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan
tidak yakin akan status imunisasinya atau baru menerima 1 kali
suntikan MMR sebelum masuk SD.

Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing


komponen vaksin:
1) Komponen campak 1-2 minggu setelah menjalani
imunisasi, mungkin akan timbul ruam kulit. Hal ini terjadi
pada sekitar 5% anak-anak yang menerima suntikan
MMR. Demam 39,50 Celsius atau lebih tanpa gejala
lainnya bisa terjadi pada 5-15% anak yang menerima
suntikan MMR. Demam ini biasanya muncul dalam waktu
1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya
selama 1-2 hari. Efek samping tersebut jarang terjadi pada
suntikan MMR kedua.
2) Komponen gondongan. Pembengkakan ringan pada
kelenjar di pipi dan dan dibawah rahang, berlangsung
selama beberapa hari dan terjadi dalam waktu 1-2 minggu
setelah menerima suntikan MMR.
3) Komponen campak Jerman, Pembengkakan kelenjar
getah bening dan atau ruam kulit yang berlangsung selama
1-3 hari, timbul dalam waktu 1-2 mingu setelah menerima
suntikan MMR. Hal ini terjadi pada 14-15% anak yang
mendapat suntikan MMR. Nyeri atau kekakuan sendi yang
ringan selama beberapa hari, timbul dalam waktu 1-3
minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini hanya
ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima suntikan
MMR, tetapi terjadi pada 25% orang dewasa yang
menerima suntikan MMR. Kadang nyeri/kekakuan sendi
ini terus berlangsung selama beberapa bulan (hilang-
timbul).
4) Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri)
berlangsung selama 1 minggu dan terjadi pada kurang dari
1% anak-anak tetapi ditemukan pada 10% orang dewasa
yang menerima suntikan MMR. Jarang terjadi kerusakan
sendi akibat artritis ini. Nyeri atau mati rasa pada tangan
atau kaki selama beberapa hari lebih sering ditemukan
pada orang dewasa. Meskipun jarang, setelah menerima
suntikan MMR, anak-anak yang berumur dibawah 6 tahun
bisa mengalami aktivitas kejang (misalnya kedutan). Hal

33
ini biasanya terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah
suntikan diberikan dan biasanya berhubungan dengan
demam tinggi.

Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih.


Imunisasi MMR sebaiknya tidak diberikan kepada:
1) Anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau
antibiotik neomisin
2) Anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma
globulin
3) Anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh
akibat kanker, leukemia, limfoma maupun akibat obat
prednison, steroid, kemoterapi, terapi penyinaran atau
obati imunosupresan.
4) Wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian
hamil.

g. Imunisasi Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.
Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan,
kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng
yang akan mengelupas.

Anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita


cacar air dianjurkan untuk menjalani imunisasi varisella. Anak-
anak yang mendapatkan suntikan varisella sebelum berumur 13
tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin. Kepada anak-anak
yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah
mendapatkan vaksinasi varisella dan belum pernah menderita
cacar air, sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin dengan selang
waktu 4-8 minggu. Vaksin varisella memberikan kekebalan
jangka panjang, diperkirakan selama 10-20 tahun, mungkin juga
seumur hidup. Efek samping dari vaksin varisella biasanya
ringan, yaitu berupa:
1) Demam
2) Nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan
3) Ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan.

Efek samping yang lebih berat adalah :


1)Kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu
setelah penyuntikan
2)Pneumonia
3)Reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan
gangguan pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang
cepat, pusing dan perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi
dalam waktu beberapa menit sampai beberapa jam setelah
suntikan dilakukan dan sangat jarang terjadi.
4)Ensefalitis

34
5)Penurunan koordinasi otot.

Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada :


1) Wanita hamil atau wanita menyusui
2) Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem
kekebalan yang lemah atau yang memiliki riwayat
keluarga dengan kelainan imunosupresif bawaan
3) Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap
antibiotik neomisin atau gelatin karena vaksin
mengandung sejumlah kecil kedua bahan tersebut
4) Anak-anak atau orang dewasa yang menderita
penyakit serius, kanker atau gangguan sistem kekebalan
tubuh (misalnya AIDS)
5) Anak-anak atau orang dewasa yang sedang
mengkonsumsi kortikosteroid
6) Setiap orang yang baru saja menjalani transfusi
darah atau komponen darah lainnya
7) Anak-anak atau orang dewasa yang 3-6 bulan yang
lalu menerima suntikan immunoglobulin.

5.2.4.Mampu memahami dan menjelaskan cara pemberian vaksin


Pemberian SK atau IM merupakan rute tersering dan terbaik dalam
vaksinasi aktif/ pasif untuk menginduksi respon anibodi. Suntikan IV
akan dapat mengurangi respon imun. Imunoglobulin disuntikkan IV
kepada penderita dengan defisiensi imun humoral seperti
hipogamaglobuliemia Brutpn. Pemberian oral diberikan untuk
imunisasi polio (sabin) galur (strain) virus yang dilemahkan dapat
berkembang dalam mukosa usus kecil. Subyek yang diimunisasi
akan mengeluarkan virus dalam tinja, yang dapat disebarkan ke
orang lain di samping mengimunisasinya. Pemberian intranasal
menginduksi sistem imun yang menyerupai pajanan alamiah
terhadap patogen yang disebarkan melalui udara dan dapat
memberikan keuntungan oleh karena memberikan respon berupa
produksi IgA.
LO.6.Mampu memahami dan menjelaskan perspektif Islam dalam pemberian
vaksin yang mengandung bahan haram
Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan
diri dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda : Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka
dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir(HR. Bukhari : 5768,
Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyariatkannya mengambil
sebab untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga
kalau dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh
sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit.

35
Boleh dalam kondisi darurat dalil firman Allah : Sesungguhnya Allah
telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali
apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS. Al- Anam [6]:119)
Darurat adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman, yaitu
ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang
larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada
badanya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah
dikatakan Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang. Namun kaidah
ini harus memenuhi dua persyaratan, yaitu tidak ada pengganti lainya yang
boleh (mubah/halal) serta hanya mencukupkan sekadar untuk kebutuhan
saja.
Demikian juga sebagaimana Nabi membolehkan sutera bagi orang yang
terkena penyakit kulit, Nabi membolehkan emas bagi sahabat arfajah untuk
menutupi aibnya, dan bolehnya orang yang sedang ihrom untuk mencukur
rambutnya apabila ada penyakit di rambutnya. Imunisasi hukumnya boleh
dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari penyakit sebelum
terjadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa
yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari
itu dari racun dan sihir(HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyariatkannya mengambil
sebab untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga
kalau dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh
sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit.
Ada juga yang berpendapat menggunakan vaksin yang mengandung bahan
haram tidak boleh secara mutlak. Ini adalah madzab Malikiyyah dan
Hanabillah. Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi: Sesungguhnya
allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan
berobat dengan benda haram (ash-Shohihah:4/174). Alasan lainnya
karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama, dan karena
sembuh dengan berobat bukanlah perkara yang yakin.

KESIMPULAN

36
Respon imun adalah respon tubuh sebagai bentuk pertahanan terhadap
stimulus antigen dari luar tubuh yaitu mikroorganisme maupun dari dalam
tubuh sendiri. Sistem imun terbagi atas sistem imun non spefisik dan sistem
imun spesifik. Sistem imun non spefisik merupakan pertahanan lini pertama
tubuh terhadap antigen yang masuk melalui tempat tertentu, diantaranya
terdapat respon pertahanan fisik, pertahanan larut dan pertahanan seluler.
Sistem imun spesifik memiliki kemampuan untuk mengingat dan mengenal
antigen tertentu setelah kontak pertama dengan benda asing yang
menstimulasi pembentukan antibodi spesifik terhadap antigen tertentu.
Sistem imun spesifik terbagi atas pertahanan humoral berupa sel limfosit B
dan pertahanan seluler berupa sel limfosit T. Sistem imun tubuh melibatkan
organ limfatikus yang terbagi atas organ limfatikus primer berupa timus
dan sumsum tulang yang berfungsi sebagai tempat pematangan, diferensiasi
adn proliferasi sel T dan sel B sehingga menjadi limfosit yang dapat
mengenal antigen. Sedangkan organ limfatikus sekunder berfungsi sebagai
tempat sel dendritik mempresentasikan antigen yang ditangkapnya di
bagian lain tubuh ke sel T yang memacunya untuk proliferasi dan
diferensiasi limfosit, diantaranya adalah limpa, kelenjar getah bening,
tonsil, MALT dan lain-lain. Tubuh memiliki kemampuan untuk mengenali
berbagai macam antigen yang dapat merangsang sel B atau sel T, yang
memilki bagian epitop atau determinan antigen yang mampu dikenali oleh
antibodi. Imunisasi merupakan cara untuk yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh salah satunya adalah dengan pemberian
vaksin dasar yang diwajibkan oleh pemerintah yaitu vaksin BCG, DPT,
hepatitis, polio serta vaksin campak yang dilakukan dengan jadwal dan
rentang waktu yang berbeda-beda. Vaksin dimasukkan ke dalam tubuh
untuk merangsang terbentuknya antibodi terhadap antigen tertentu, bisa
dengan cara oral maupun injeksi. Jika ditinjau dari pandangan islam, ada
dua pendapat yang berbeda. Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang,
karena termasuk penjagaan diri dari penyakit sebelum terjadi dan
berdasarkan asas kedaruratan. Ada juga yang berpendapat lain yang
menyatakan bahwa penggunaan vaksin yang mengandung bahan haram
tidak boleh secara mutlak. Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak
wajib menurut jumhur ulama, dan karena sembuh dengan berobat bukanlah
perkara yang yakin.

DAFTAR PUSTAKA

37
Anderson MD. 2000. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Baratawidjaja K dan Rengganis I. 2014. Imunologi Dasar Edisi Ke-11. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI.

Ereschenko V. 2012. Atlas Histologi diFiore Edisi 11. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC

Sherwood, Lauralee. 2007. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 6.


Jakarta:EGC.

Zulhamidah Y. 2016. Sistema Lymphaticus. Jakarta : Bagian Anatomi Fakultas


Kedokteran Universitas Yarsi

38