Anda di halaman 1dari 22

TEKNIK WAWANCARA &

PEMERIKSAAN STATUS
MENTAL
Fransiska Kaligis
Psikiater Anak dan Remaja
Pelatihan Tatalaksana Kasus KtA
TUJUAN
Diharapkan setelah mengikuti sesi ini peserta
akan mampu:
Memahami proses wawancara yang baik
Melakukan wawancara pada anak
Menguraikan beberapa kondisi mental
emosional anak
OBSERVASI SEBELUM WAWANCARA
Curiga terjadinya kekerasan jika tampak adanya perubahan
emosi dan perilaku yang timbul pada anak, misalnya :
Anak menjadi mengeluh sering sakit tanpa kelainan fisik yang
jelas
Menjadi pasif dan tidak lincah
Ditemukan gangguan makan, gangguan tidur yang tidak ada
sebelumnya
Bertingkah seperti anak yang lebih muda dari usia sebenarnya
Adanya perilaku menetang atau perilaku depresif yang tidak
biasa
Beberapa pemahaman dalam proses
wawancara dengan anak

1. Anak memiliki temperamen dan perasaan yang unik,


reaksi terhadap stress yang mungkin akan berbeda

2. Lingkungan mempengaruhi perasaan, temperamen


dan reaksi anak terhadap stressor

3. Deteksi dan penanganan problem perilaku dan


emosional anak lebih sulit, karena:
Anak belum mengerti bahwa dirinya sakit atau membutuhkan
pertolongan
Fungsi kognitif anak masih dalam perkembangan, sehingga sulit
menerima konsep sebab akibat
Anak belum mengantisipasi masa depan
Tujuan Wawancara Psikiatri pada Anak

Mengumpulkan Menentukan Landasan


data untuk kekuatan dan perencanaan
deteksi masalah kelemahan terapi
atau gangguan pada anak psikososial
mental
emosional
Teknik Wawancara pada Anak
1. Bina rapport sedini mungkin dengan anak, dapat dilakukan
dengan percakapan sederhana, permainan atau aktivitas-
aktiviatas lain yang disukai anak untuk mengurangi
kecemasan
2. Perhatikan juga temperamen anak (anak yang mudah
beradaptasi, lambat beradaptasi atau sulit), tunjukkan sikap
empati
3. Gunakan kata-kata yang sesuai dengan usia anak, kontak
mata perlu juga diperhatikan, misal anak usia 2 tahun cemas
dengan kontak mata yang terlalu lama (dapat dianggap
menakutkan, dapat dialihkan dengan mainan)
4. Pertanyaan kenapa dan kapan sulit dijawab oleh anak
dibawah 3 tahun
Teknik Wawancara pada Anak
5. Mulai dengan pertanyaan sehari-hari yang ringan, topik-
topik yang membuat pasien nyaman, kemudian perlahan-
lahan ke hal yang lebih sulit
6. Bicara tentang minat anak, keluarga, teman, sekolah untuk
membina rapport
7. Beri pertanyaan yang sulit dengan sikap yang tidak
menghakimi. Dapat juga menggunakan pertanyaan tidak
langsung untuk hal-hal yang sensitif.
Misal: beberapa anak lain pernah bercerita pada saya
bahwa mereka pernah diperlakukan tidak menyenangkan
oleh orang lain, apa kamu juga pernah mengalaminya?
8. Jika anak tampak tegang, dapat menggunakan beberapa
kalimat yang bernada humor
9. Jangan mengajukan pertanyaan yang sama berulang-ulang
Berkomunikasi dengan Bayi

1. Tahap perkembangan mental bayi kurang dari 6 bulan: fase


simbiotik. Bayi dan pengasuh utama (ibu) memiliki kelekatan
yang kuat. Bayi belum menunjukkan cemas dan takut dengan
orang asing
2. Pada tahap ini, pemeriksa dapat berperan sebagai model
bagi orang tua dalam bersikap dan bicara untuk mendorong
perkembangan berbahasa anak
3. Tahap perkembangan bayi di atas 6 bulan: fase separation
individuation. Bayi mulai menyadari hadirnya orang asing dan
dapat menempel pada orang tua saat itu. Dengan
meningkatnya usia, semakin menunjukkan sikap autonomi
Berkomunikasi dengan Anak Batita

1. Anak sebaiknya tetap diperbolehkan dekat dengan orang


tua/pengasuh selama wawancara, untuk membuat anak nyaman
2. Hindari kontak mata yang langsung dan terus menerus pada anak
usia kurang dari 2 tahun karena mungkin akan membuat anak
takut.
3. Dekati anak dengan cara yang lembut dan bertahap. Amati bahasa
tubuh untuk menilai apakah anak dapat menerima pemeriksa.
Tunggu sampai anak dapat lebih nyaman
4. Gunakan permainan yang disukai anak untuk menarik perhatian
dan mengurangi rasa tegang pada anak
5. Siapkan anak untuk pemeriksaan fisik. Penggunaan imitasi
pemeriksaan dengan orang tua atau boneka atau mainan binatang
dapat mengurangi ketegangan anak selama prosedur pemeriksaan
fisik.
Berkomunikasi dengan Anak 3-6 tahun

1. Tahap perkembangan : usia pra-sekolah usia anak mulai


berinisiatif untuk melakukan hal yang ia inginkan. Keterampilan
berbahasa semakin berkembang dan sering terlibat pada
permainan fantasi. Pemahaman anak terhadap sakit berhubungan
dengan pikiran fantasinya.
2. Gunakan bahasa sederhana. Keterampilan bahasa ekspresif dan
reseptif mulai usia 3 tahun semakin berkembang, dan dapat
digunakan untuk mendapatkan informasi ttg apa yang
dikhawatirkan dan dipikirkan anak. Pemahaman bahasa anak usia
ini sering kali lebih baik dibandingkan ekspresi verbalnya.
3. Dorong anak untuk bertanya
4. Libatkan anak saat menjelaskan tentang prosedur pemeriksaan
dan saat pemeriksaan berlangsung. Tawarkan pilihan jika
memungkinkan dan bicarakan tentang perawatan kesehatannya
Berkomunikasi dengan Anak Usia 6-12 Tahun

1. Tahap perkembangan: usia sekolah usia anak mulai


mengerjakan/menciptakan sesuatu sampai berhasil. Kognitif anak
semakin berkembang dan dapat memahami sebab dan akibat.
2. Cara berpikir umumnya konkret. Dengan meningkatnya usia
menuju pra-remaja, mulai dapat memahami konsep yang lebih
umum dan penyebab dari penyakit.
3. Anak usia sekolah senang membicarakan hal-hal seputar teman,
sekolah, keluarga atau hal seputar hidupnya yang lain.
4. Minat dan potensi anak dapat dengan mudah ditentukan
5. Penjelasan tentang prosedur, pemeriksaan, dan rencana
selanjutnya menjadi penting serta membantu untuk mendapat
kerja sama dengan anak
6. Luangkan waktu dengan mewawancara anak sendiri, untuk dapat
mengetahui apa yang dialami, dikhawatirkan anak serta membina
hubungan terapeutik dengan anak.
Berkomunikasi dengan Remaja

1. Tahap perkembangan: usia pencarian identitas. Remaja sangat


terfokus pada perubahan bentuk tubuh; sudah dapat berpikir
abstrak. Mereka sudah mampu memahami konsep penyakit dan
penyembuhan
2. Melakukan wawancara dengan remaja terpisah dari orang tuanya
dapat membantu menciptakan hubungan terapeutik dengan
remaja, menghargai keinginan remaja untuk independensi
3. Dapatkan dan bahas hal yang menjadi perhatian atau
kekhawatiran remaja
4. Tekankan dan klarifikasi isu kerahasiaan
5. Jangan paksa remaja untuk bicara
6. Bahas topik yang sulit dengan kalimat yang tidak menghakimi
7. Selalu bersikap tulus dan jujur
8. Sampaikan bahwa remaja bertanggung jawab terhadap dirinya,
termasuk kesehatan dirinya sendiri
Status mental anak yang perlu dilaporkan
Penampilan
Sikap dan perilaku anak saat wawancara
Pembicaraan(apakah anak tampak diam; atau berbicara banyak
namun tdk berhubungan dgn pertanyaan)
Mood dan afek (suasana perasaan anak dalam kurun waktu
tertentu dan saat pemeriksaan, observasi ekspresi emosi anak
selama pemeriksaan berlangsung)
Fantasi dan persepsi anak tentang diri dan lingkungannya (Tanyakan
keinginan anak, bagaimana pandangan anak terhadap diri dan
orang-orang sekitarnya)
Proses pikir
Orientasi (apakah dia mengenal tempat, waktu, orang disekitarnya)
Fungsi kognitif
TIPS WAWANCARA PADA ANAK
Tanyakan pertanyaan terbuka dan konkrit yang saling berkaitan,
misalnya :
Apa yang membuat anak datang atau alasan datang?
Apa yg kamu rasakan?
Apa yg kamu alami? Bagaimana kejadiannya?
Pernakah kamu diperlakukan tidak semestinya, misalnya dipeluk?
dicium atau lainnya?
Pernahkah kamu bercerita pada orang lain tentang hal ini? Kepada
siapa? Tanggapannya bagaimana?
Dalam melakukan wawancara usahakan untuk membantu agar ia
mampu mengingat suatu kejadian tertentu, misalnya:
Ketika kamu ada di dalam rumah A, apa yang pertama kali terjadi?
Jika anak tidak mau menjawab pertanyaan, jangan dipaksa, coba tanya
hal lain
TIPS WAWANCARA PADA ANAK
Gunakan bahasa yang mudah dimengerti anak, jangan gunakan
bahasa yang jarang digunakan atau tidak populer
Gunakan nama panggilan dibandingkan nama resminya
Usahakan menggunakan kata-kata konkrit dlm mengajukan
pertanyaan, misalnya hari sabtu yang lalu, apa yang terjadi di dalam
kamar Andi? Daripada, kemarin apa yg terjadi di dalam kamar kamu?
Jika perlu dapat digunakan pertanyaan tertutup, misalnya:
Apakah kamu merasa lelah?
Apakah kamu memerlukan istirahat?
Apakah kamu merasa telah dipukul oleh pak A?
Apakah kamu merasa telah di peluk oleh pak A?
TIPS WAWANCARA PADA ANAK
Sebaiknya menggunakan kata-kata yang positif dan membangun
seperti :
- Kamu telah berbuat sangat berani dan saya sangat menghargainya
- Saya mengkhawatirkan keadaanmu
- Saya menghargaimu
- Kamu pantas dicintai
- Kamu boleh bilang tidak kalau kamu tidak suka cara seseorang
menyentuhmu
- Hampir semua orang dewasa tidak akan menyakiti anak-anak
KASUS
Mila, 7 tahun, kelas 1 SD, anak tunggal, datang bersama ibu ke
puskesmas.
Tampak lebih murung, tidak ceria seperti biasanya, mudah
marah di sekolah
Keluhan tsb semakin berat sejak 1 bulan ini
Nilai-nilai pelajaran sekolah menurun
Wawancara dengan anak sendiri sulit, karena Mila terus ingin
menempel pada ibunya
Ibu menyampaikan bahwa ia baru menikah dengan ayah tiri
Mila 2 tahun yang lalu dan ayah tiri Mila sering kali bersikap
kasar pada ibu dan Mila
Role Play
Lakukan wawancara pada anak dan ibu untuk
menggali permasalahan yang dihadapi dan
merencanakan tata laksana
10-15 menit
Informasi yang tergali dari ibu
Mila sering menangis, terutama jika ditinggal pergi oleh
ibunya
Sulit tidur, sering terbangun di malam hari dan menangis
karena bermimpi dikejar oleh monster jahat
Ayah tiri sering bertengkar dan memukul ibu, berteriak
dengan kata-kata kasar
Mila memiliki hobi menyanyi dan menggambar
Ibu dekat dengan Mila, jika Mila menangis ibu dapat
menenangkannya. Namun akhir-akhir ini ibu merasa kesulitan
Nenek dan tante Mila dari pihak ibu sering mengajak Mila
menginap di rumahnya. Sepulang dari sana Mila tampak lebih
ceria
Mila
Sedikit mau bicara
Ketika membina
rapport: tawarkan
permainan yang disukai
Mila memilih
menggambar
Proses konseling lanjutan
Mila menggambar
waktu paling bahagia