Anda di halaman 1dari 4

HERNIA

DEFENISI
Hernia abdomalis adalah penonjolan isi perut daari rongga yang normal
melalui suatu defek pada fasia dan muskuloaponeurotik dinding perut, baik secara
kongenital atau didapat. Lubang tersebut dapat timbul karena lubang embrional yang
tidak menutup atau melebar serta akibat tekanan rongga perut yang meninggi. Hernia
teridri dari 3 bagian, yaitu kantong, isi, dan cincin hernia

ETIOLOGI
Hernia merupakan penyakit multifaktorial. Ada pun faktor-faktor risiko yang
berperan antara lain batuk, penyakit paru obstruktif kronis, obesitas, konstipasi,
kehamilan, riwayat hernia pada keluarga, manuver valsava, asites, kelainan jaringan
ikat kongenital, gangguan sintesis kolagen, riwayat insisi kuadran kanan bawah,
aneurisma arteri, merokok, mengangkat beban berat, dan aktifitas fisik berlebih.

KLASIFIKASI
A. Berdasarkan letaknya, hernia abdomalis terbagi menjadi;
I. Groin
Inguinalis indirek (lateralis), direk (medialis), kombinasi;
Vemoralis;
II. Anterior: umbilikal, epigastrik, spigelian:
III. Pelvis: obturator, sciatic, perineal:
IV. Posterior: lumbar (superior triangle, inferior triangle).

Tujuh puluh lima persen hernia abdomalis terjadi dengan perbandingan indirek
dan direk =2:1, serta lebih sering dialami laki-laki daripada perempuan.

B. Berdasarkan sifatnya:
Reponibilis: isi hernia keluar masuk
Ireponibilis: isi hernia tidak dapat dikembalikan kerongga asalnya
Inkarserata: isi hernia tidak dapat dikembalikan dan terjepit oleh cincin
hernia, terdapat gangguan pasase usus. Istilah ini tidak digunakan di
praktik klinis sehari-hari karena sama dengan istilah ireponibilis;
Strangulata: isi hernia tidak dapat dikembalikan dan terjepit oleh cincin
hernia, terdapat gangguan vaskularisasi, nyeri hebat.
MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis bervariasi dari asimtomatis hingga mengancam jiwa seperti pada
hernia inkarserata dan strangulata. Biasanya, pasien mengatakan turun berok, burut,
kelingsir, atau adanya benjolan diselangkangan/kemaluan yang bisa mengecil atau
menghilang pada waktu tidur dan keluar bila menangis pada bayi atau anak,
mengejan, mengangkat benda berat, dan posisi berdiri. Nyeri dapat dirasakan apabila
telah terjadi komplikasi.

DIAGNOSIS
Anamnesis
Keluhan sesuai manifestasi klinis, riwayat pekerjaan mengangkat benda
berat/mengejan.

Pemeriksaan Fisis
Pada inspeksi akan tampak benjolan di inguinal. Apabila tidak tampak, pasien
dapat disuruh berdiri atau mengejan. Apabila hernia sudah tidak tampak, harus
diperiksa apakah benjolan tersebut dapat dimasukan kembali. Keadaan cincin hernia
juga diperiksa dengan memasukkan jari telunjuk melalui skrotum keatas lateral dari
tuberkulum pubikum. Ikut fasikulus spermatikus sampai ke anulus inguinalis interna.
Pada keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk. Pasien diminta mengejan dan
merasakan apakah ada massa yang menyentuh tangan. Massa yang menyentug ujung
jari merupakan hernia inguinalis lateralis, sedangkan massa yang menyentuh sisi jari
merupakan hernia inguinalis medialis. Pada hernia medialis, biasanya jarang sekali
menjadi ireponibiliskarena besarnya defek pada dinding posterior. Benjolan yang
teraba dibawah ligamentum inguinalis biasanya merupakan hernia femoralis.

Pemeriksaan Penunjang
Ultrasonografi dan CT-scan dapat digunakan namun kurang berguna
dibandingkan pemeriksaan fisis langsung.

DIAGNOSA BANDING
Hidrokel, limfadenitis inguinal, variokel, testis ektopik, lipoma, hematoma,
kista sebasea, hidradenitis inguinal, abses psoas, limfoma, neoplasma metastik,
epididimitis, dan torsio testis.

TATA LAKSANA
Tata laksana nonbedah
Mencari dan memperbaiki faktor yang menimbulkan terjadinya hernia,
medikamentosa simtomatis seperti pemberian analgesik.

Tata lakasana bedah


Tata laksana definitif hernia adalah dengan operasi sehingga perlu dirujuk
kedokter spesialis bedah. Pada hernia inguinalis reponbilis dan irenponbilis dilakukan
tindakan bedah elektif, sedangkan bila telah terjadi proses inkarserasi dan strangulasi
tindakan bedah harus dilakukan secepatnya. Tindakan bedah pada hernia adalah
herniotomi dan herniorafi. Pada beda elektif, kanalis dibuka, isi hernia dimasukkan,
kantong diikat, dan dilakukan pemasangan mesh. Basini plasty, atau teknik lain untuk
memperkuat dinding kanalis inguinalis. Pada bedah darurat, cincin hernia dicari dan
dipotong, usus yang terjepit dilihat, apabila vital, dikembalikan ke rongga perut
sedangkan bila tidak dilakukan reseksi dan anastomosis. Pada hernia medialis perlu
dilakukan perbaikan terhadap kelemahan atau kerusakan dinding perut dan kantong
hernia biasanya hanya dikembalikan kerongga perut.

Operasi terbuka biasanya terbuka tension free technique (lichtenstein), bilayer


suture technique, atau insersi mesh prostetik yang dapat diserap. Perbaikan mesh
dapat dilakukan dengan endoskopi-laparoskopi transabdominal preperitoneal (TAPP)
atau totally ekstraperitoneal repair (TEP). Dengan prosedur TEP dapat dihindari
pembukaan rongga peritoneum sehingga mengurangi resiko adhesi intraabdomen atau
cedera usus.
Perbaikan anterior
Bagian ini merupakan pendekatan bedah yang paling umum untuk hernia
unguinal.
Penutupan defek
Perbaikan traktus ileopubik
Teknik shouldice: menekan perbaikan dinding posterior kanalis
inguinalis dengan tumpang tindih banyak lapis melalui teknik jahitan
kontinu.
Teknik bassini: menjahit muskuloaponeurotik abdominis transversum
dan oblik internal ke ligamen inguinalis. Teknik ini cukup populer.
Teknik McVay/ligamen cooper.
Tension free inguinal repair dengan menggunakan mesh prostetis sintetis
untuk menjembatani defek. Teknik yang tersedia antara lain teknik
lichtenstein, plug and patch, sandiwch.
Perbaikan peritoneal

Penggunaan laparoskopi
Teknik yang digunakan adalah totally ekstraperitoneal (TEP) dan transabdominal
peritoneal (TAPP) hernia repair.

KOMPLIKASI
Infeksi, obstruksi, nekrosis usus, peritonitis, dan sepsis.