Anda di halaman 1dari 4

1.

Delirium
a. Etiologi
Delirium merupakan fenomena kompleks, multifaktorial, dan mempengaruhi
berbagai bagian sistem saraf pusat. Hipotesis terbaru menunjukkan defi siensi jalur
kolinergik dapat merupakan salah satu faktor penyebab delirium.1 Delirium yang
diakibatkan oleh penghentian substansi seperti alkohol, benzodiazepin, atau nikotin
dapat dibedakan dengan delirium karena penyebab lain. Pada delirium akibat
penghentian alkohol terjadi ketidakseimbangan mekanisme inhibisi dan eksitasi pada
sistem neurotransmiter. Konsumsi alkohol secara reguler dapat menyebabkan inhibisi
reseptor NMDA (N-methyl-D-aspartate) dan aktivasi reseptor GABA-A
(gammaaminobutyric acid-A). Disinhibisi serebral berhubungan dengan perubahan
neurotransmiter yang memperkuat transmisi dopaminergik dan noradrenergik, adapun
perubahan ini memberikan manifestasi karakteristik delirium, termasuk aktivasi
simpatis dan kecenderungan kejang epileptik. Pada kondisi lain, penghentian
benzodiazepin menyebabkan delirium melalui jalur penurunan transmisi GABA-ergik
dan dapat timbul kejang epileptik. Delirium yang tidak diakibatkan karena penghentian
substansi timbul melalui berbagai mekanisme, jalur akhir biasanya melibatkan defi sit
kolinergik dikombinasikan dengan hiperaktivitas dopaminergik.2
Perubahan transmisi neuronal yang dijumpai pada delirium melibatkan berbagai
mekanisme, yang melibatkan tiga hipotesis utama, yaitu:2
1) Efek Langsung
Beberapa substansi memiliki efek langsung pada sistem neurotransmiter,
khususnya agen antikolinergik dan dopaminergik. Lebih lanjut, gangguan
metabolik seperti hipoglikemia, hipoksia, atau iskemia dapat langsung
mengganggu fungsi neuronal dan mengurangi pembentukan atau pelepasan
neurotransmiter. Kondisi hiperkalsemia pada wanita dengan kanker payudara
merupakan penyebab utama delirium.
2) Inflamasi
Delirium dapat terjadi akibat gangguan primer dari luar otak, seperti penyakit
infl amasi, trauma, atau prosedur bedah. Pada beberapa kasus, respons infl amasi
sistemik menyebabkan peningkatan produksi sitokin, yang dapat mengaktivasi
mikroglia untuk memproduksi reaksi inflamasi pada otak. Sejalan dengan efeknya
yang merusak neuron, sitokin juga mengganggu pembentukan dan pelepasan
neurotransmiter. Proses inflamasi berperan menyebabkan delirium pada pasien
dengan penyakit utama di otak (terutama penyakit neurodegeneratif ).
3) Stres
Faktor stres menginduksi sistem saraf simpatis untuk melepaskan lebih banyak
noradrenalin, dan aksis hipotalamuspituitari- adrenokortikal untuk melepaskan
lebih banyak glukokortikoid, yang juga dapat mengaktivasi glia dan
menyebabkan kerusakan neuron.
Klasifikasi dan kriteria diagnosis delirium dapat berdasarkan DSM V (Diagnosis
and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th edition). Kriteria DSM V tahun 2013
tidak berbeda dengan pada DSM IV-TR tahun 2000. DSM V mengklasifi kasi delirium
menurut etiologi sebagai berikut:3,4
1) Delirium yang berhubungan dengan kondisi medik umum
2) Delirium intoksikasi substansi (penyalahgunaan obat)
3) Delirium penghentian substansi
4) Delirium diinduksi substansi (pengobatan atau toksin)
5) Delirium yang berhubungan dengan etiologi multipel
6) Delirium tidak terklasifikasi.

b. Faktor Resiko
Faktor resiko terbagi menjadi tiga, yaitu:5
1) Non-correctable
a) Usia
b) Jenis kelamin laki-laki
c) Gangguan kognitif ringan, demensia, penyakit Parkinson dijumpai pada
>50% pasien
d) Komorbiditas multipel meliputi:
Penyakit ginjal dan hati
Riwayat CVA
Riwayat jatuh dan mobilitas yang buruk
Riwayat delirium sebelumnya
2) Correctable
a) Gangguan pendengaran atau penglihatan meningkatkan risiko tiga kali lipat
b) Malnutrisi, dehidrasi, albumin rendah berhubungan dengan peningkatan
risiko dua kali lipat
c) Isolasi sosial, kurang tidur, lingkungan baru, pergerakan di rumah sakit
d) Kateter indwelling dan jangka panjang
e) Tambahan tiga atau lebih medikasi yang baru
f) Tidak ada orientasi waktu
g) Merokok
3) Potentially correctable
a) Uremia urea darah >10 merupakan faktor risiko independen
b) Depresi
c) Rawatan rumah sakit lama risiko meningkat setelah 9 hari

Sumber:
1. Flinn DR, Diehl KM, Seyfried LS, Malani PN. Prevention, diagnosis, and
management of postoperative delirium in older adults. J Am Coll Surg. 2009; 209(2):
261-8. doi: 10.1016/j.amcollsurg.2009.03.008
2. Lorenzi S, Fusgen I, Noachtar S. Acute confusional states in the elderly- diagnosis
and treatment. Dtsch Arztebl Int. 2012; 109(21): 391-400.
3. Fong TG, Tulebaev SR, Inouye SK. Delirium in elderly adults: Diagnosis, prevention
and treatment. Nat Rev Neurol. 2009; 5(4): 210-20. doi: 10.1038/nrneurol.2009.24
4. American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical manual of mental
disorders. 5th ed. Arlington, VA: American Psychiatric Publishing; 2013.
5. Wass S, Webster PJ, Nair BR. Delirium in the elderly: A review. Oman Med J. 2008;
23(3): 150-7.

2. Bagaimana perbedaan gangguan mental organik dengan gangguan mental


fungsional?
Gangguan mental organik merupakan sebuah gangguan mental yang memiliki
dasar organik yang patologis yang juga bisa diidentifikasi seperti halnya penyakit
serebralvaskular, tumor otak, intoksikasi obat-obatan, dll. Secara umum, ganguan mental
seperti ini bisa diklasifikasikan menjagi 3 kelompok berdasarkan kepada gejala utamanya
yang merupakan gangguan berbahasa, gangguan kognitif seperti halnya penurunan daya
ingat, dan juga gangguan perhatian. Ketiga kelompok gangguan mental itu adalah
delirium, dimensia, serta gangguan amnestik. Sedangkan gangguan fungsional adalah
gangguan otak dimana tidak ada dasar organik yang dapat diterima secara umum
(contohnya Skizofrenia. Depresi) Dari sejarahnya, bidang neurologi telah dihubungkan
dengan pengobatan gangguan yang disebut organik dan Psikiatri dihubungkan dengan
pengobatan gangguan yang disebut fungsional.1
Didalam DSM IV diputuskan bahwa perbedaan lama antara gangguan organik dan
fungsional telah ketinggalan jaman dan dikeluarkan dari tata nama. Bagian yang disebut
Gangguan Mental Organik dalam DSM III-R sekarang disebut sebagai Delirium,
Demensia, Gangguan Amnestik Gangguan Kognitif lain, dan Gangguan Mental karena
suatu kondisi medis umum yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain.1

Sumber:
1. Kaplan.H.I, Sadock. B.J, Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis,
edisi ketujuh, jilid satu. Binarupa Aksara, Jakarta 1997. hal 502-540.

3. Apa saja penyakit gangguan jiwa yang menimbulkan waham?


Beberapa gangguan jiwa yang dapat menyebabkan waham adalah delirium,
skizofrenia, dan gangguan mood.1
Sumber:
1. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. jilid 1. Jakarta: Media Aesculapsius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2001.