Anda di halaman 1dari 18

Lomba Penulisan Essai Archipelago Essay Competition 2017

KOON ISLAND BERBASIS PWPK

Disusun Oleh:

1. Mansur Rumata (201364014)


2. Fitriyani (201463002)

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

TAHUN 2017
KOON ISLAND BERBASIS PWPK
Mansur Rumata, Fitriyani. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Ambon

ABSTRAK
Provinsi Maluku terdiri dari 1.027 buah pulau besar maupun kecil, sehingga lebih
dikenal dengan julukan Provinsi Seribu Pulau. Secara geografis Maluku terletak
di antara 5LU-820'LS dan 124-135BT. Luas wilayah kepulauan ini seluruhnya
sekitar 85.100.000 Ha. Sembilan puluh persen wilayah ini merupakan lautan
(76.527.200 Ha) dan sepuluh persennya daratan (8.572.800 Ha). Hal ini
menyebabkan Provinsi Maluku memiliki potensi dan daya tarik wisata bahari
sangat besar. Potensi pulau pulau kecil dan daya tarik wisata bahari tersebut
tersebar hampir merata di setiap daerah di Provinsi Maluku, dan sangat potensial
untuk dijadikan obyek wisata unggulan yang dapat menarik wisatawan dari dalam
dan luar negeri. Namun dalam beberapa hal, sektor pariwisata bahari di Maluku
masih belum mampu memanfaatkan potensi yang ada sehingga berakibat pada
kesenjangan ekonomi masyarakat. Hal ini dikarenakan pulau-pulau kecil sulit
dijangkau oleh akses perhubungan karena letaknya yang terisolir, dan jauh dari
pulau induk. Terbatasnya sarana dan prasarana seperti jalan, pelabuhan, listrik,
media informasi dan komunikasi menyebabkan tingkat kesejahteraan dan
pendapatan masyarakat pulau-pulau kecil rendah. Selain itu, Letak dan posisi
geografis pulau-pulau kecil yang sedemikian rupa menyebabkan timbulnya
disparitas perkembangan sosial ekonomi dan persebaran penduduk antara pulau-
pulau besar yang menjadi pusat pertumbuhan wilayah dengan pulau-pulau kecil di
sekitarnya. Potensi keindahan alam yang terdapat di kawasan pulau-pulau kecil
seperti Pulau Koon yang mempunyai keindahan alam diantaranya yaitu ekosistem
terumbu karang, hewan endemic , sekaligus tempat dan wilayah pantai berpasir
yang bersih dan putih merupakan potensi yang memiliki nilai tinggi bagi
peningkatan pendapatan masyarakat setempat maupun nasional. Keanekaragaman
dan keindahan yang terdapat di Pulau Koon tersebut merupakan daya tarik
tersendiri dalam pengembangan ekowisata. Penataan Pulau Koon dalam
pembangunan ekowisata bahari di wilayah tersebut harus memperhatikan aspek
lingkungan, termasuk konservasi sumber daya alam dan sentifitas ekosistem serta
aspek sosial, budaya dan ekonomi masyarakat lokal. Pengembangan pariwisata di
Pulau Koon harus direncanakan dan dikembangkan secara ramah lingkungan
dengan tidak menghabiskan atau merusak sumber daya alam, namun dipertahankan
untuk pemanfaatan yang berkelanjutan. Kawasan pulau-pulau kecil di provinsi
Maluku memiliki potensi pembangunan ekowisata bahari yang cukup besar karena
didukung oleh adanya ekosistem khas tropis dengan produktivitas hayati tinggi
yaitu terumbu karang (coral reef). Pengembangan pariwisata di pulau koon sudah
termasuk dalam kawasan konservasi dan dikembangkan secara ramah lingkungan
dengan tidak menghabiskan atau merusak sumber daya alam, namun dipertahankan
untuk pemanfaatan yang berkelanjutan. Untuk itu dengan adanya Program Wisata
Pulau Koon (PWPK) diharapkan dapat dijadikan sebagai peningkatan
perekonomian masyarakat local
Kata kunci : PWPK, Pariwisata, Konservasi, Ramah Lingkungan, Pulau Kecil
Pendahuluan

Pulau Koon merupakan salah satu wilayah diantara keempat pulau yang ada di
negeri kataloka. pulau ini terkenal dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi bila
dibandingkan dengan wilayah lainnya yang berada di Indonesia timur. kawasan seluas
2.479,45 hektar yang terletak di perairan Pulau Koon hingga selatan Pulau Grogos
merupakan salah satu lokasi wisata pantai di kecamatan pulau gorom yang masuk
dalam Petuanan Negeri Kataloka. Keunikan yang dimiliki Pulau Koon ini diidentifikasi
sebagai lokasi sejumlah jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi yang melakukan
agregasi di kawasan perairan ini sebagai tempat pemijahan ikan kerapu sunu, kakap
merah, kerapu macan, dan bobara mata besar, Selain itu, Perairan Koon juga memiliki
kepadatan biomasa (jumlah spesies) jenis ikan tertinggi bila dibandingkan dengan
wilayah pemijahan ikan lainnya di Indonesia bagian Timur, dan juga sebagai tempat
berkerumunnya berbagai jenis ikan demersal (ikan karang) dan ikan pelagis (ikan laut
dalam), Sehingga wilayah ini di kategorikan dalam kawasan konservasi oleh WWF-
Indonesia. Disamping itu pesona alam yang terdapat dipulau tersebut memiliki
keindahan alam berupa keindahan terumbu karang, keindahan pantai, keindahan pasir
timbul, dan burung endemic. Pulau koon juga merupakan salah satu pulau yang
terpisah dari pulau gorom sehingga dapat di tempuh dengan waktu kurang lebih dua
jam dengan menggunakan speedboat dari pulau gorom ke pulau koon sementara untuk
perjalanan dari kota ambon menuju ke pulau gorom ditempuh dengan waktu satu hari
perjalanan dengan menggunakan kapal cepat. Bukan hanya wisatawan lokal yang
berwisata ketempat ini. Wisatawan asing pun banyak yang datang untuk melepaskan
hasrat untuk menikmati eksotika bahari di tempat ini. Pada tahun 2014, tercatat sekitar
12 liveaboard mengunjungi perairan Koon. Sedangkan pada tahun 2015, sekitar 540
wisatawan melakukan penyelaman di perairan Koon.

Wisata

Wisata sendiri merupakan suatu bentuk aktivitas pemanfaatan sumber daya


alam dan juga jasa lingkungan yang dilakukan dalam memenuhi kepuasan manusia.
Lewat kegiatan wisata, manusia akan mendapatkan kenikmatan tertentu baik melalui

1
sumber daya alam maupun hanya melalui jasa-jasa lingkungan yang ada (Yulianda
2007). Untuk itu biasanya orang-orang akan memilih tempat-tempat wisata yang
memiliki potensi sumber daya alam dan juga jasa-jasa lingkungan yang mampu
memberikan kenyamanan, serta kepuasan tersendiri bagi mereka. sebab setiap objek
wisata di yakini memiliki karakteristik masing-masing sehingga kepuasan yang
disugukan pun berbeda-beda. Wisatawan yang datang ke tempat tersebut tidak segan-
segan mengeluarkan biaya untuk memuaskan hasratnya yang sedang berwisata. Hal ini
merupakan hakikat dari sebuah perjalanan wisata. Seorang yang melakukan perjalanan
wisata memiliki tujuan untuk memperoleh kesenangan yang maksimal dari tujuan
wisata yang ia kunjungi. Uang bukanlah masalah lagi bagi mereka. Karena uang
tidaklah ada artinya dibandingkan dengan kepuasan-kepuasan yang ia dapat di tempat
yang jauh dari tempat tinggalnya.

Perkembangan Pariwisata
Dari Abad kelima belas, Perjalanan sejarah budaya pariwisata berkembang ke
seluruh masyarakat Eropa. Hingga kini perjalanan pariwisata telah menjadi budaya,
khususnya pada masyarakat yang tinggal di negara maju. Untuk masyarakat yang
tinggal dinegara berkembang juga melakukan perjalanan wisata, tetapi hal ini tidaklah
dipandang sebagai budaya, namun hanya sebagai kebutuhan tersier saja. Sehingga
pariwisata menjadi sebuah industri yang mendunia. Untuk itu pergeseran konsep
kepariwisataan dunia kepada pariwisata minat khususnya yang dikenal dengan sebutan
ekowisata yang merupakan sebuah peluang besar bagi negara kita dengan potensi alam
yang luar biasa ini. Hal ini terjadi akibat kecenderungan semakin banyaknya wisatawan
yang mengunjungi objek berbasis alam dan budaya penduduk lokal. Secara definitif,
ekowisata yang didefinisikan sebagai suatu bentuk perjalanan wisata yang bertanggung
jawab ke kawasan alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan
dan melestarikan kehidupan serta kesejahteraan penduduk setempat. memperlihatkan
kesatuan konsep yang terintegratif secara konseptual tentang keseimbangan antara
menikmati keindahan alam dan upaya mempertahankannya. Sehingga pengertian
ekowisata dapat dilihat sebagai suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan

2
yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan
budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya. Ekowisata
menitikberatkan pada tiga hal utama yaitu; keberlangsungan alam atau ekologi,
memberikan manfaat ekonomi, dan secara psikologi dapat diterima dalam kehidupan
sosial masyarakat. Jadi, kegiatan ekowisata secara langsung memberi akses kepada
semua orang untuk melihat, mengetahui, serta menikmati pemandangan alam, dan
budaya masyarakat lokal. Secara konseptul ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu
konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung
upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) sehingga dapat meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, serta memberikan manfaat ekonomi kepada
masyarakat setempat. Sementara ditinjau dari segi pengelolaanya, ekowisata dapat
didifinisikan sebagai penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di
tempat-tempat alami atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan alam dan secara
ekonomi berkelanjutan yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam
dan budaya) dan meningkatnkan kesejahtraan masyarakat setempat. Aktivitas
ekowisata saat ini tengah menjadi tren yang menarik yang dilakukkan oleh para
wisatawan untuk menikmati bentuk-bentuk wisata yang berbeda dari biasanya. Dalam
konteks ini wisata yang dilakukkan memiliki bagian yang tidak terpisahkan dengan
upaya-upaya konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal dan mendorong respek yang
lebih tinggi terhadap perbedaan kultur atau budaya. Hal inilah yang mendasari
perbedaan antara konsep ekowisata dengan model wisata konvensional yang telah ada
sebelumnya.

Prinsip Pengembangan Wisata Bahari


Kondisi infrastruktur yang baik merupakan sebuah kunci dari kemajuan
pariwisata disuatu tempat. Indonesia tentunya lebih memiliki kekayaan alam yang lebih
melimpah dibandingkan dengan Singapura. Namun, pendapatan devisa Singapura
lebih besar dari pada Indonesia. Salah satu faktor antara lain karena Singapura mampu
menawarkan kondisi infrastruktur yang baik sehingga tempat tersebut menjadi nyaman
sebagai destinasi wisata walaupun seringkali hanya merupakan wisata belanja.

3
Selain infrastruktur, hal lain yang menunjang tumbuhnya pariwisata adalah
resort atau tempat penginapan. Penginapan harus dibuat senyaman mungkin agar para
wisatawan betah untuk berlama-lama tinggal. Karena lama tinggal dari wisatawan
menentukan besarnya biaya hidup yang digunakan untuk berwisata ditempat tersebut.
Tidak hanya fasilitas penginapan, fasilitas lainya seperti home stay, rest koon,
kakap resort dan tempat souvenir juga menjadi penunjang perkembangan pariwisata
didaerah itu. Selain fasilitas tersebut sarana komunikasi juga merupakan salah satu dari
penunjang pariwisata. Untuk itu saat para wisatawan melakukan perjalan jauh dari
tempat ia tinggal tentunya membutuhkan sarana penghubung agar ia dapat terus
berinteraksi dengan teman atau keluarga didaerah ia berasal. untunglah seiring dengan
perkembangan teknologi, daerah ini Setidaknya sudah terdapat warnet, jaringan
ponsel dan counter isi pulsa yang memper mudah akses informasi para wisatawan.
Faktor penunjang terakhir adalah tersedianya sarana kesehatan. Sarana
kesehatan merupakan hal yang penting untuk memajukan pariwisata. Secara
psikologis, seorang wisatawan akan sangat aktif apabila ia sehat. Ia ingin mencari hal-
hal yang baru yang ia temui di tempat wisatanya. Ia ingin menyelam, berenang, dan
berjalan-jalan saat mengunjungi wisata. Namun, saat sakit semuanya tidak akan
menarik baginya. Jika wisatawan sakit, yang terbayang adalah kampung halamannya.
Ia ingin dirawat sebagaimana ia dirawat dikampung halamannya. Sehingga dibutuhkan
rumah sakit atau puskesmas untuk mengurus para wisatawan yang sedang sakit agar
cepat pulih dan kembali menikmati keindahan wisata yang ada di Pulau Koon.
Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk berlibur dipulau koon yang menjadi
surga para penyelam ini tidak akan menjadi persoalan bila panorama alam yang begitu
elok dipandang. Tak hanya ketika matahari mulai terbenam, namun yang menjadi daya
tarik wisata adalah pemandangan alam bawah lautnya. Tidak dapat dipungkiri memang
pariwisata telah menjadi industry yang telah mendunia. Definisi ini menandakan
pentingnya sebuah wisatawan, bisnis travel, dan pemerintah. Pemerintah dalam hal
ini yang bertugas untuk membuat kebijakan yang dapat mengontrol pariwisata dan
orang yang tinggal di area pariwisata (penduduk lokal) untuk menyadari akan

4
pentingnya pariwisata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara holistik
(menyeluruh).
Namun, Murphy (1985) berpendapat bahwa dua situasi yang saling
bertentangan dapat muncul dari pertambahan jumlah wisatawan, yang memperlihatkan
koordinat sepanjang continu interaksi sosial. Pada satu sisi perubahan sosial yang
berkaitan dengan wisatawan dapat mengakibatkan perkembangan serta
memperlihatkan kemajuan sosial-ekonomi masyarakat. Tapi disisi lain, perubahan
dapat mengakibatkan ketergantungan, yang tampak dari pertumbuhan ekonomi yang
meninggalkan struktur sosial yang tidak berkembang atau penegakan dan peningkatan
keadilan sosial yang ada. Dalam situasi seperti ini bisa dikatakan bahwa hanya sebagian
orang yang merasakan keuntungan besar dari pertumbuhan pariwisata, namun
masyarakat pada umumnya tidak. Inilah hal yang harus dikontrol, terutama oleh
pemerintah.

Ekowisata Berbasis Masyarakat


Orientasi pemanfaatan pesisir dan lautan serta berbagai elemen pendukung
lingkungannya merupakan suatu bentuk perencanaan dan pengelolaan kawasan secara
kesatuan yang terintegrasi dan saling mendukung sebagai suatu kawasan wisata bahari.
Suatu kawasan wisata yang baik dan berhasil bila secara optimal didasarkan pada
empat aspek yaitu: a) Mempertahankan kelestarian lingkungannya; b) Meningkatkan
kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut; c) Menjamin kepuasan pengunjung dan
d) Meningkatkan keterpaduan dan kesatuan pembangunan masyarakat di sekitar
kawasan dan zona pengembangannya. Selain keempat aspek tersebut, ada beberapa hal
yang juga perlu diperhatikan untuk pengembangan ekowisata bahari, anatara lain :
Aspek Ekologis, daya dukung ekologis merupakan tingkat penggunaan maksimal suatu
kawasan; Aspek Fisik, Daya dukung fisik merupakan kawasan wisata yang
menunjukkan jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang diakomodasikan
dalam area tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas; Aspek Sosial, Daya
dukung sosial adalah kawasan wisata yang dinyatakan sebagai batas tingkat maksimum
dalam jumlah dan tingkat penggunaan dimana melampauinya akan menimbulkan

5
penurunanan dalam tingkat kualitas pengalaman atau kepuasan; Aspek Rekreasi, Daya
dukung reakreasi merupakan konsep pengelolaan yang menempatkan kegiatan rekreasi
dalam berbagai objek yang terkait dengan kemampuan kawasan.

PWPK
Dari persoalan diatas Mengingat pulau Koon merupakan lokasi perairan yang
memiliki keanekaragaman terumbu karang dan ikan tinggi serta saat ini menjadi lokasi
persinggahan kapal liveaboard dari Bali menuju Raja Ampat, maka teridentifikasi
potensi ekowisata laut di lokasi tersebut. Hamparan laut lepas dan pasir putih beserta
atraksi alami dari penyu-penyu yang bersembunyi dibalik gundukan pasir. Serta
keindahan alami bawah laut yang dihiasi oleh ikan dan terumbu karang. Semua ini akan
menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang datang ke Pulau Koon tersebut.
Apalagi di Pulau Koon banyak terdapat keindahan yang juga tak kalah indahnya
dengan pulau-pulau lain yang ada di timur Indonesia. Namun pengembangan
diwilayah ini masih jauh dari kata maju. Pulau Koon ibarat mutiara yang terabaikan.
Sejuta potensi dari tempat ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Karena
pemerintah kurang serius untuk mencoba menggali potensi-potensi dari wilayah yang
ada di Indonesia termasuk Pulau Koon.
Sehingga dari permasalahan tersebut dapat diterapkan konsep pengembangan
Ekowisata Bahari, berupa Program Wisata Pulau Koon yang merancang pembuatan
jembatan, home stay, snorkeling, rest koon, kakap resort, wisata pasir timbul dan
bathing place. Untuk itu semua potensi alam yang ada di pulau tersebut dapat dijadikan
sebagai wisata bahari yang mendunia. Potensi wisata bahari yang dimiliki pulau koon
merupakan sebuah karunia yang telah diberikan untuk Indonesia. Untuk mengetahui
lebih jauh program wisata pulau koon sebagian kecil yang telah dijelaskan sebelumnya.
Berikut pemaparan tentang potensi program wisata pulau Koon sebagai tujuan
ekowisata bahari, yaitu :

6
1. Pembuatan Jembatan dan Rest Koon
Pembuatan jembatan sendiri berfungsi untuk menghubungkan antara pulau
koon dan pulau grogos yang merupakan tempat tinggal masyarakat local,
disamping itu dalam pembuatan jembatan tersebut terdapat rest koon yang
berfungsi sebagai tempat peristirahatan sementara serta dapat menikmati
panorama alam berupa keindahan sun set dan sun raice yang terdapat di pulau
koon.
2. Home Stay
Home stay merupakan sebuah tempat penginapan yang terdapat di pulau grogos
serta beralokasikan di perumahan penduduk local. Tujuan dari home stay
sendiri yaitu untuk lebih mengenal budaya serta wisatawan pun lebih merasa di
rumah sendiri karena keramahan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut
3. Kakap Resto
Di dalam kakap resto sendiri tersedia aneka jenis makanan seafood yang
diambil langsung dari hasil laut di pulau tersebut serta tersedianya juga
makanan khas negeri kataloka dan disamping itu juga akan disugukan lagu-lagu
daerah beserta tariannya.
4. Bathing Place
Disediakan untuk tempat permandian yang telah ditentukan kawasannya di
pulau koon tersebut.
5. Snorkeling dan Diving
Ketersedian alat-alat snorkeling dan diving yang di dapatkan di pulau tersebut.
6. Willingness to pay lebih di peruntukan kepada wisatawan liveaboard yang
melewati perairan Pulau Koon ini dilakukan untuk mengetahui tingkat
willingness to pay dari wisatawan liveaboard yang memanfaatkan keindahan
perairan pulau Koon, serta mekanisme terbaik untuk pembayaran dari
wisatawan untuk jasa lingkungan yang mereka dapatkan dan penyerahannya
kepada masyarakat lokal di sekitar perairan pulau Koon. Program ini dilakukan
untuk membuat rencana pengembangan wisata bahari berkelanjutan (yang
memperhitungkan potensi sumberdaya alam dan manusia.

7
Penutup
Dimana pengembangan wisata yang ada diselaraskan dengan isu-isu
konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Keunikan inilah
yang coba dicapture dalam PWPK ini bahwa pengembangan wisata bahari
mampu memberikan nilai lebih tidak hanya pada lingkungan dan ekonomi,
namun juga terhadap social welfare masyarakat secara umum. Beranjak dari
kondisi tersebut Program Wisata Pulau Koon ini bertujuan untuk(1).
Meningkatkan kekuatan ekonomi lokal yang berada di wilayah Kabupaten
Seram Bagian Timur dan (2). Menyusun strategi yang dapat mendorong
pengembangan potensi ekowisata bahari yang berbasis ekonomi lokal di
Kabupaten Seram Bagian Timur.
Dari penjelasan di atas maka dapat di katakan bahwa Program Wisata
Pulau Koon perlu dilakukan dan didukung oleh pemerintah setempat guna
meningkatkan perekonomian masyarakat lokal yang ada di daerah tersebut.

8
Daftar Pustaka
Gautama. I. G. A. G. O. G. Evaluasi Perkembangan Wisata Bahari Di Pantai Sanur.
Tesis Program Magister Program Studi Kajian Pariwisata Program
Pascasarjana Universitas Udayana
http://www.wikipediaindonesia
Http://www.wwf-indonesia.koonisland
Jamaludin. Meluruskan Kembali Tujuan Ekowisata Bahari, Bekerja Lebih Giat Lagi.
Artikel Ilmiah.
Jasman1, Siregar S2, dan Rifardi3. Strategi Pengembangan Ekowisata Bahari Pulau
Palambak Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Kecamatan Pulau Gorom, Kabupaten Seram Timur Provinsi Maluku 2015.
WWF_Indonesia.
Korebima. M. G, Alasar. T, Abu, Namlea. A, Marco. Survei Sosial Ekonomi
Maratua Mutiara Wisata Bahari di Ujung Borneo (Essay K2N UI 2011).
Satria. D. Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Ekonomi Lokal Dalam Rangka
Program Pengentasan Kemiskinan Di Wilayah Kabupaten Malang
LAMPIRAN : 1
Tabel 1. Spesiesikan karang yang dijumpai melakukan pemijahan selama survey dilakukan (WWF-Indonesia)
No Namaikan Maret 2010, Purnama 1 April 2012, Purnama 2 Des 2012, Bulanmati3 September 2013, Purnama4
Jumlah panjangdij Cirimemij Jumlah panjangdij Cirimemij Jumlah panjangdij Cirimemij Jumlah panjangdij Cirimemij
(ekor) umpai ah (ekor) umpai ah (ekor) umpai ah (ekor) umpai ah
(cm) (cm) (cm) (cm)
Ikan Target
1 Cheilinus undulatus 1130 130 N 21 24-50 Y 50 50-75 Y 9 40-53 n.a.
2 Cromileptesaltivelis n.a. n.a. n.a. n.a. n.a. n.a. n.a. n.a. n.a. 5 50 n.a.
3 Epinephelus fuscoguttatus 45 55-80 Y 1 25 N 4 56-73 N 10 23-63 n.a.
4 Epinephelus lanceolatus 5 130-200 N 2 103-110 N 3 100-110 N 1 110 n.a.
5 Epinephelus polyphekadion n.a. n.a. N 5 10-40 Y 4 48-55 N 16 23-43 n.a.
6 Plectropomus leopardus n.a. n.a. n.a. 4 35-42 Y 0 n.a. N n.a. n.a. n.a.
7 Plectropomus areolatus 97 43-80 Y 124 20-49 Y 27 33-68 N 42 23-48 n.a.
8 Plectropomus maculatus n.a. n.a. n.a. 17 30-45 Y 0 n.a. N n.a. n.a. n.a.
9 Plectropomus oligocanthus n.a. n.a. n.a. 13 30-49 N 0 n.a. N 10 48-50 n.a.
10 Plectropomuslaevis 0 n.a. n.a. 0 n.a. n.a. 3 n.a. N n.a. n.a. n.a.
11 Variola louti n.a. n.a. 3 40 N 8 41-45 N n.a. n.a. n.a.
Ikan non-target
1 Alectis ciliaris n.a. n.a n.a. 32 n.a. Y 0 n.a. n.a. 25 n.a. n.a.
2 Anyperodon leocogrammicus n.a. n.a n.a. 8 n.a. N 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
3 Balistoides viridescens n.a. n.a Y n.a. n.a. n.a. 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
4 Bolbometopon muricatum n.a. n.a n.a. 29 n.a. Y 9 n.a. n.a. 3 60 n.a.
5 Caranx ignobilis 300. n.a N 11 n.a. Y 90 n.a. n.a. 16 n.a. Y
6 Caranx melampigus n.a. n.a n.a. 27 n.a. Y 22 n.a. n.a. 4 n.a. n.a.
7 Caranx sexfasciatus n.a n.a. ? 166 n.a. Y 290 n.a. n.a. 817 n.a. Y
8 Cephalopholis miniata n.a. n.a n.a. 11 n.a. N 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
9 Gracila albomarginata n.a. n.a n.a. 9 n.a. N 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
10 Hipposcarus Longiceps n.a. n.a n.a. 10 n.a. Y 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
11 Lethrinus olivaceus n.a. n.a. n.a. 12 n.a. Y 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
12 Lutjanusargentimaculatus 0 n.a. n.a. 0 n.a. n.a. 50 n.a. n.a. 80 n.a. Y

1
Mous, Peter. 2011. Concise report on a survey ofthe reefs around Koon island, Maluku, Indonesia,towards conservation of a reef sh spawning aggregation. Report for
WWF-Indonesia. People & Nature Consulting International. Bali
2
WWF. 2012. Laporan pemantauan lokasi pemijahan ikan di pulau koon pada April 2012.
3
WWF. 2013. Laporanpemantauanlokasi pemijahan ikan di pulau koonpada Des 2012.
4
Reef Check. 2013. LaporanKajianEkosistemTerumbuKarangdanAgregasiIkanKarang di Perairan Koonpada September 2013.
13 LutjanusBohar ~500 n.a. Y 149 n.a. Y 88 35-70 n.a. 568 23-63 n.a.
14 Lutjanus gibbus 140 40 ? 108 n.a. Y 340 n.a. n.a. 340 n.a. Y
15 Lutjanus rivulatus n.a. n.a n.a. 7 n.a. Y 22 n.a. n.a. 10 50 n.a.
16 Macolor macularis n.a. n.a n.a. 54 n.a. Y 0 n.a. n.a. 70 n.a. Y
17 Macolor niger n.a. n.a n.a. 194 n.a. Y 270 n.a. n.a. 302 n.a. Y
18 Penyu 2 n.a. n.a. 5 n.a. N n.a. n.a. n.a. 4 n.a. n.a.
19 Platax teira n.a. n.a n.a. 189 n.a. Y 210 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
20 Pletorhincus albovitatus 0 n.a. n.a. 0 n.a. n.a. 19 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
21 Pletorhinchus chaetodonoides 0 n.a. n.a. 0 n.a. n.a. 9 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
22 Plectorhinchus obscurum n.a n.a. N n.a. n.a. n.a. 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
23 Plectorhinchus vittatus n.a. n.a n.a. 24 n.a. Y 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
24 Pseudobalistes flavimarginatus n.a. n.a n.a. 35 n.a. Y 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
25 Siganus guttatus n.a. n.a n.a. 40 n.a. Y 0 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
26 Spilurus sp 0 n.a. n.a. 0 n.a. n.a. 140 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
27 Teineira meyeni 0 n.a. n.a. 0 n.a. n.a. 2 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
28 Sphyraina baracuda 0 n.a. n.a. 0 n.a. n.a. 15 n.a. n.a. n.a. n.a. n.a.
LAMPIRAN : 2

Gambar 2. Pasir Timbul Pulau Koon Gambar 3. Bathing Place Pulau Koon

Gambar 4. Panorama Keindahan Pesisir Pantai Putih Pulau Koon

Gambar 5. Keindahan Perairan Laut Di Sekitar


Pulau Koon
LAMPIRAN : 3

Gambar 6. Keindahan Terumbuh Karang Di Laut Pulau Koon

Gambar 7. Keindahan Bawah Laut Saat Pulau Koon Gambar 8. Kerombolan Ikan Kakap Di Perairan Pulau
Koon