Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Retinopati diabetik merupakan penyebab kebutaan yang paling sering


ditemukan pada usia dewasa antara 20 sampai 74 tahun. Pasien diabetes memiliki
resiko 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan dibandingkan dengan
nondiabetes.Untuk itu kami sebagai mahasiswa mendapatkan tugas makalah
mengenai retinopati diabetik untuk memberikan wawasan dan membagi ilmu
pengetahuan kepada pembaca.
Retinopati diabetik merupakan kelainan retina akibat dari komplikasi diabetes
yang menyebabkan kebutaan.Retinopati ini dapat dibagi dalam dua kelompok
berdasarkan klinis yaitu retinopati diabetik non proliferatif dan retinopati diabetik
proliferatif, dimana retinopati diabetik non proliferatif merupakan gejala klinik yang
paling dini didapatkan pada penyakit retinopati diabetik.
Pada waktu diagnosis diabetes tipe 1 ditegakkan, retinopati diabetik hanya
ditemukan pada kurang dari 5% pasien. Setelah 10 tahun, prevalensi meningkat
menjadi 40-50% dansesudah 20 tahun lebih dari 90% pasien sudah menderita
retinopati diabetik.
Pada diabetes tipe 2 ketika diagnosis diabetes ditegakkan, sekitar 25% sudah
menderita retinopati diabetik nonproliferatif (background retinopathy).Setelah 20
tahun, prevalensi retinopati diabetik meningkat menjadi lebih dari 60% dalam
berbagai derajat.
Di Amerika Utara, 3,6% pasien diabetes tipe 1 dan 1,6% pasien diabetes tipe 2
mengalami kebutaan total setiap tahun.
Metode pengobatan retinopati diabetik dewasa ini telah mengalami
perkembangan yang sangat pesat sehingga resiko kebutaan banyak berkurang.Namun
demikian, karena angka kejadian diabetes di seluruh dunia cenderung makin
meningkat maka retinopati diabetik masih teteap menjadi masalah penting.

Retinopati Diabetik 1
B. Rumusan Masalah
a. Apa yang di maksud dengan Retinopati Diabetik ?
b. Apa penyebab dari Retinopati Diabetik ?
c. Jelaskan anatomi dan fisiologi yang berhubungan dengan Retinopati
Diabetik!
d. Sebutkan tanda dan gejala dari Retinopati Diabetik !
e. Jelaskan patofisiologi dari Retinopati Diabetik
f. Apa saja pengobatan dari Retinopati Diabetik
g. Apa saja asuhan keperawatan yang akan di berikan kepada penderita
Retinopati Diabetik ?

C. Tujuan dan Manfaat


Ada beberapa tujuan dan manfaat yang hendak di dapat antara lain :
a. Mengetahui tentang retinopati diabetik
b. Mengetahui penyebab dari retinopati diabetik
c. Menjelaskan anatomi dan fisiologi yang berhubungan dengan retinopati
diabetik
d. Mengetahui tanda dan gejala dari retinopati diabetik
e. Menjelaskan patofisiologi dari retinopati diabetik
f. Mengetahui pengobatan dari retinopati diabetik
g. Dapat membuat asuhan keperawatan kepada penderita retinopati diabetik.

BAB II

PEMBAHASAN

Retinopati Diabetik 2
A. Definisi
Retinopati diabetika adalah proses degenerasi akibat hipoksia di retina karena
penyakit diabetes mellitus. Diagnosis retinopati diabetika ditegakkan secara klinis jika
dengan pemeriksaan angiografi flurosensi fundus sudah didapatkan mikroaneurisma atau
perdarahan pada retina di satu mata, baik dengan atau tanpa eksudat lunak ataupun keras,
abnormalitas mikrovaskular intra retina atau hal-hal lain yang telah diketahui sebagai
penyebab perubahan-perubahan tersebut (Michaelson, 1980).
Retinopati diabetik adalah kerusakan progresif pembuluh darah di retina yang
disebabkan oleh kadar gula darah tinggi (hiperglikemia). Sebagai komplikasi umum dari
diabetes mellitus, penyakit ini dapat menyebabkan kebutaan dan gangguan penglihatan
lainnya. Retinopati diabetik terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk retinopati non-
proliferatif, makulopati diabetik dan retinopati proliferatif ( Kamus kesehatan).

B. Anatomi dan Fisiologi Retina

1. Anatomi

Retina adalah lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semitransparan yang
melapisi bagian dalam 2/3 posterior dinding bola mata. Ketebalan retina kira-kira 0,1 mm. Di
tengah-tengah retina posterior terdapat makula lutea yang berdiameter 5,5 sampai 6 mm,

Retinopati Diabetik 3
yang secara klinis dinyatakan sebagai daerah yang dibatasi oleh cabang-cabang pembuluh
darah retina temporal.

Lapisan-lapisan retina, mulai dari sisi dalamnya, adalah sebagai berikut :

1. Membran limitans interna, merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca
2. Lapisan serat saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke arah saraf optik.
Di dalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina
3. Lapisan sel ganglion, merupakan lapisan badan sel dari neuron kedua
4. Lapisan pleksiformis dalam, merupakan lapisan aseluler tempat sinaps sel bipolar, sel
amakrin dengan sel ganglion
5. Lapisan inti dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal, dan sel Muller. Lapis
ini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral
6. Lapisan pleksiformis luar, merupakan lapisan aseluler dan tempat sinaps sel
fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal
7. Lapisan inti luar, merupakan susunan lapis inti sel batang dan sel kerucut
8. Membran limitans eksterna, merupakan membran ilusi
9. Lapisan sel kerucut dan sel batang (fotoreseptor), merupakan lapisan terluar retina,
terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucut
10. Epitelium pigmen retina, merupakan lapisan kubik tunggal dari sel epithelial
berpigmen.

2. Fisiologi

Retina adalah jaringan mata yang paling kompleks.Sel-sel batang dan kerucut di
lapisan fotoreseptor mampu mengubah rangsangan cahaya menjadi impuls saraf yang
dihantarkan oleh lapisan serat saraf retina melalui saraf optikus dan akhirnya ke korteks
penglihatan. Makula bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan yang terbaik dan untuk
penglihatan warna, dan sebagian besar selnya adalah sel kerucut Di fovea sentralis, terdapat

Retinopati Diabetik 4
hubungan hampir 1:1 antara fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya, dan serat saraf yang
keluar, dan hal ini menjamin penglihatan yang paling panjang. Diretina perifer,banyak
fotoreseptor dihubungkan ke sel ganglion yang sama, dan diperlukan system pemancar yang
lebih kompleks. Akibat dari susunan seperti itu adalah makula digunakan terutama untuk
penglihatan sentral dan warna (penglihatan fotopik) sedangkan bagian retina lainnya, yang
sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang, digunakan terutama untuk penglihatan perifer
dan malam (skotopik).

Fotoreseptor kerucut dan batang terletak di lapisan terluar yang avaskuler pada retina
sensorik dan merupakan tempat berlangsungnya reaksi kimia yang mencetuskan proses
penglihatan. Setiap sel fotoreseptor kerucut mengandung rhodopsin, yang merupakan suatu
pigmen penglihatan fotosensitif.Rhodopsin merupakan suatu glikolipid membran yang
separuh terbenam di lempeng membrane lapis ganda pada segmen paling luar
fotoreseptor.Penglihatan skotopik diperantarai oleh fotoreseptor sel batang.Pada bentuk
penglihatan adaptasi gelap ini, terlihat bermacam-macam nuansa abu-abu, tetapi warna ini
tidak dapat dibedakan.Penglihatan siang hari terutama diperantarai oleh fotoreseptor kerucut,
senjakala oleh kombinasi sel kerucut dan batang, dan penglihatan malam oleh fotoreseptor
batang.

Jadi, Fungsi retina pada dasarnya adalah menerima bayangan visual yang dikirim
ke otak. Bagian sentral retina atau daerah makula mengandung lebih banyak
fotoreseptor kerucut daripada bagian perifer retina.

Sel kerucut (cones) yang berjumlah 7 juta dan paling banyak di region fovea, berfungsi
untuk sensasi yang nyata (penglihatan yang paling tajam) dan penglihatan warna.

Sel batang (rods) untuk sensasi yang sama-samar pada waktu malam atau cahaya remang.
Sel ini mengandung pigmen visual ungu yang disebut rhodopsin.

C. Etiologi
Retinopati diabetika terjadi karena diabetes mellitus yang tak terkontrol dan diderita
lama sehingga menyebabkan perubahan fisiologi dan biokimia yang akhirnya
menyebabkan kerusakan endotel pembuluh darah.Pada makula terjadi hipoksia yang
menyebabkan timbulnya angiopati dan degenerasi retina.Angiopati dapat menyebabkan

Retinopati Diabetik 5
mikroaneurisma dan eksudat lunak.Sedangkan mikroaneurisma dapat menimbulkan
perdarahan. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya retinopati adalah :
Terjadi karena adanya perubahan dinding arteri
Adanya komposisi darah abnormal
Gangguan endothelium kapiler menyebabkan terjadinya kebocoran kapiler.
Perdarahan kapiler dapat terjadi di retina dimana letaknya di depan jaringan retina.
Aliran darah yang kurang lancar dalam kapiler-kapiler
Perubahan arteriosklerotik dan insufisiensi koroidal
Hipertensi yang kadang-kadang mengiringi diabetes

D. Hubungan Diabetes Melitus dengan Retinopati

Diabetes mellitus adalah suatu sindroma klinik kelainan metabolik, di tandai dengan
adanya hiperglikemik yang di sebabkan oleh kerja insulin, maupun produksi insulin.Orang
yang menderita diabetes mellitus tipe 1 maupun tipe 2 lebih dari 15 tahun beresiko tinggi
terkena retinopati diabetik.
- Diabetes tipe 1
Di sebabkan oleh gangguan produksi insulin dan biasanya di derita oleh anak
anak. Sementara itu penderita diabetes tipe 1 biasanya akan lebih sering di beri insulin
dibandingkan pemberiaan obat penurunan gula darah.
- Diabetes tipe 2
Di sebabkan oleh gangguan fungsi insulin.DM tipe 2 ini lebih sering terjadi
pada orang dewasa. Gangguan fungsi insulin yang terjadi dapat di picu oleh beberapa
hal seperti gaya hidup yang tidak sehat, obesitas, pola makan yang tidak teratur, dan
kurangnya aktivitas fisik. Pengobatan untuk DM tipe 2 lebih sering di berikan dalam
bentuk obat penurunan gula darah.

Diabetes mellitus atau kencing manis adalah penyakit yang sering di derita dapat
menyebabkan kelainan pada mata contohnya retinopati. Penyebab retinopati tersebut karena
gula dalam darah yang tinggi atau tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan pada
pembuluh darah sehingga suplai darah dan nutrisi ke retina terganggu atau tidak
terpenuhi.Kondisi ini mengakibatnya mata mencoba untuk menumbuhkan pembuluh darah
baru untuk memenuhi kebutuhannya.Pembuluh darah baru tersebut tumbuh pada permukaan
retina tetapi strukturnya tidak sebaik pembuluh darah yang seharusnya sehingga mudah sekali
terjadi kebocoran atau pecah.Inilah awal gangguan penglihatan.

Retinopati Diabetik 6
E. Klasifikasi
Secara umum klasifikasi retinopati diabetik dibagi menjadi :
1 Retinopati diabetik non proliferatif.
Merupakan stadium awal dari proses penyakit ini. Selama menderita diabetes,
keadaan ini menyebabkan dinding pembuluh darah kecil pada mata melemah.Timbul
tonjolan kecil pada pembuluh darah tersebut (mikroaneurisma) yang dapat pecah
sehingga membocorkan cairan dan protein ke dalam retina.Menurunnya aliran darah
ke retina menyebabkan pembentukan bercak berbentuk cotton wool berwarna abu-
abu atau putih.Endapan lemak protein yang berwarna putih kuning (eksudat yang
keras) juga terbentuk pada retina.Perubahan ini mungkin tidak mempengaruhi
penglihatan kecuali cairan dan protein dari pembuluh darah yang rusak menyebabkan
pembengkakan pada pusat retina (makula).Keadaan ini yang disebut makula edema,
yang dapat memperparah pusat penglihatan seseorang.

Gambar Retinopati diabetik non proliferatif .

2 Retinopati diabetik preproliferatif

Dengan bertambahnya progresifitas sumbatan mikro vaskular maka gejala iskemia


melebihi gambaran retinopati diabetika dasar.Perubahannya yang khas adalah adanya
sejumlah bercak mirip kapas (multiple cotton wool spots) atau yang sering disebut
sebagai eksudat lunak atau soft eksudate yang merupakan mikro infark lapisan serabut
saraf.

Retinopati Diabetik 7
Gambar Retinopati diabetik preproliferatif

3 Retinopati diabetik proliferative.


Retinopati nonproliferatif dapat berkembang menjadi retinopati proliferatif
yaitu stadium yang lebih berat pada penyakit retinopati diabetik.Bentuk utama dari
retinopati proliferatif adalah pertumbuhan (proliferasi) dari pembuluh darah yang
rapuh pada permukaan retina.Pembuluh darah yang abnormal ini mudah pecah, terjadi
perdarahan pada pertengahan bola mata sehingga menghalangi penglihatan. Juga akan
terbentuk jaringan parut yang dapat menarik retina sehingga retina terlepas dari
tempatnya. Jika tidak diobati, retinopati proliferatif dapat merusak retina secara
permanen serta bahagian-bahagian lain dari mata sehingga mengakibatkan kehilangan
penglihatan yang berat atau kebutaan.

Gambar Retinopati diabetik proliferative

F. Tanda dan Gejala


1. Pada retinopati diabetes non proliferatif dapat terjadi perdarahan pada semua lapisan
retina.
a.
Adapun gejala subjektif dari retinopati diabetes non proliferatif adalah:
Penglihatan kabur
Kesulitan membaca
Penglihatan tiba-tiba kabur pada satu mata
Melihat lingkaran-lingkaran cahaya
Melihat bintik gelap dan cahaya kelap-kelip

Retinopati Diabetik 8
b. Gejala objektif dari retinopati diabetes non proliferative diantaranya adalah:
1) Mikroaneurisma

Mikroaneurisma merupakan penonjolan dinding kapiler terutama


daerah vena, dengan bentuk berupa bintik merah kecil yang terletak di
dekat pembuluh darah terutama polus posterior.Kadang pembuluh darah ini
demikian kecilnya sehingga tidak terlihat.Mikroaneurisma merupakan
kelainan diabetes mellitus dini pada mata.

2) Dilatasi pembuluh darah balik

Dilatasi pembuluh darah balik yang ireguler dan berkelok-kelok.Hal


ini terjadi akibat kelainan sirkulasi, dan kadang-kadang disertai kelainan
endotel dan eksudasi plasma.
3) Perdarahan (haemorrhages)

Retinopati Diabetik 9
Perdarahan dapat dalam bentuk titik, garis, dan bercak yang biasanya
terletak dekat mikroaneurisma di polus posterior.Bentuk perdarahan dapat
memberikan prognosis penyakit dimana perdarahan yang luas memberikan
prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan perdarahan yang
kecil.Perdarahan terjadi akibat gangguan permeabilitas pada
mikroaneurisma atau pecahnya kapiler.
4) Hard eksudat

Hard eksudat merupakan infiltrasi lipid ke dalam retina.Gambarannya


khusus yaitu ireguler dan berwarna kekuning-kuningan.Pada permulaan
eksudat berupa pungtata, kemudian membesar dan bergabung.

5) Edema retina

Edema retina ditandai dengan hilangnya gambaran retina terutama di


daerah makula.Edema dapat bersifat fokal atau difus dan secara klinis tampak
sebagai retina yang menebal dan keruh disertai mikroaneurisma dan eksudat

Retinopati Diabetik 1
0
intra retina.Dapat berbentuk zona-zona eksudat kuning kaya lemak, berbentuk
bundar disekitar kumpulan mikroaneurisma dan eksudat intra retina.
Edema makular signifikan secara klinis (Clinically significant macular oedema
(CSME)) jika terdapat satu atau lebih dari keadaan dibawah ini:
Edema retina 500 m (1/3 diameter diskus) pada fovea sentralis.
Hard eksudat jaraknya 500 mdari fovea sentralis, yang berhubungan
dengan retina yang menebal.
Edema retina yang berukuran 1 disk (1500 m) atau lebih, dengan jarak
dari fovea sentralis 1 disk.

2. Pada retinopati proliferatif dapat terjadi tanda dan gejala klinis seperti :
Iskemia retina yang progresif merangsang pembentukan pembuluh darah baru yang
rapuh sehingga dapat mengakibatkan kebocoran serum dan protein dalam jumlah yang
banyak.Biasanya terdapat di permukaan papil optik di tepi posterior daerah non
perfusi.Pada iris juga bisa terjadi neovascularisasi disebut rubeosis.Pembuluh darah baru
berproliferasi di permukaan posterior badan kaca (corpus vitreum) dan terangkat bila
badan kaca bergoyang sehingga terlepas dan mengakibatkan hilangnya daya penglihatan
mendadak.

Retinopati diabetika proliferatif terbagi dalam 3 stadium :


- Stadium 1 : Aktif : Disebut stadium florid, basah, kongestif dekompensata lesi intra
retina menonjol, perdarahan retina, eksudat lunak, neovaskularisasi progresif cepat,
proliferasi fibrosa belum ada atau minimal, dapat terjadi perdarahan vitreus,
permukaan belakang vitreus masih melekat pada retina bisa progresif atau menjadi
type stabil.
- Stadium 2 : Stabil : Disebut stadium kering atau quiescent, lesi intra retina minimal
neovaskularisasi dengan atau tanpa proliferasi fibrosa, bisa progresif lambat atau
regresi lambat.
- Stadium 3 : Regresi : Disebut juga stadium burned out, lesi intra retina berupa
perdarahan, eksudat atau hilang, neovaskularisasi regresi, yang menonjol adalah
jaringan fibrosa (Kingham,1982).

Retinopati Diabetik 1
1
Gejala klinik :

- Makula udema

- Eksudat

- Viterus hemorhage (perdarahan vitreus)

- Neovasculatisasi

- Ablasi retina

- Jaringan ikat vitreo retinal

- Perdarahan di subhyaloid

Seiring dengan bertambah beratnya penyakit, penglihatan pasien dapat memburuk atau

bierubah-ubah.Retinopati tahap lanjut dapat berakibat kebutaan total.

G. Patofisiologi

Retinopati Diabetik ini disebabkan oleh gula darah tinggi yang tidak terkontrol atau
biasa dikenal dengan diabetes mellitus. Ada 2 faktor yang dapat menyebabkan retinopati
diabetik yaitu

1 Faktor Internal
a. Usia
Retinopati diabetic sering terjadi pada rentan usia 35-70 tahun.
b. Genetik
Faktor genetic sebagai faktor internal, sangat berpengaruh pada proses terjadinya
retinopati diabetik. Karena retinopati ini di sebabkan oleh diabetes mellitus. Dan salah
satu faktor pencetus diabetes mellitus adalah keturunan atau gen. Jadi jika ada salah
satu anggota keluarga yang menderita diabetes mellitus kemungkinan besar anggota

Retinopati Diabetik 1
2
keluarga lain beresiko terkena diabetes mellitus dan apabila di biarkan maka akan
terjadi komplikasi pada mata salah satunya adalah retinopati

2 Faktor Eksternal
Ada beberapa faktor eksternal seperti virus bakteri, gaya hidup tidak sehat, zat toksin
dll yang dapat mengakibatkan diabetes mellitus sebagai pemicuh terjadinya retinopati
diabetic.

Dari kedua faktor tersebut, terjadi infeksi pada aliran darah atau hematogen sehingga
terjadi peradangan di pankreas dan lama kelamaan pancreas akan mengalami kerusakan
sehingga kerja pancreas terganggu atau menurun mengakibatkan produksi insulin menurun.
Insulin yang fungsinya untuk membantu penyerapan glukosa ke dalam tubuh tetapi karena
produksinya menurun maka penyerapan glukosa di dalam tubuh menurun sehingga glukosa
dalam darah meningkat.Maka terjadilah hiperglikemik atau gula dalam darah
meningkat.Sehingga kekentalan darah meningkat dan mempengaruhi retina.

Pembekuan darah yang terjadi dalam pembuluh darah retina mengakibatkan


timbulnya tonjolan pada pembuluh darah sehingga pembuluh darah retina mengalami
obstruksi atau penyumbatan dan terjadi penyempitan pembuluh darah retina.Suplai oksigen
dan nutrisi yang di bawa oleh darah mengalami penurunan.Dan itu karena penyempitan
pembuluh darah sehingga sulpai darah sulit menjangkau sampaik ke retina.Akibatnya terjadi
perubahan fungsional pada retina.

Iskemia retina yang progresif merangsang pembentukan pembuluh darah baru namun
struktur pembuluh darah yang baru mudah rapuh sehingga dapat mengakibatkan kebocoran
serum dan protein dalam jumlah yang banyak

Sehingga terjadi penumpukan dan tekanan intra okuler meningkat mengakibatkan


papilledema (pembengkakan di saraf optic)sehingga menghalangi penglihatan mata.

Kebutaan pada Retinopati Diabetik

Penyebab kebutaan pada retinopati diabetik dapat terjadi karena 4 proses berikut,
antara lain:

1) Retinal Detachment (Ablasio Retina)

Retinopati Diabetik 1
3
Peningkatan sintesis growth factor pada retinopati diabetik juga akan menyebabkan
peningkatan jaringan fibrosa pada retina dan corpus vitreus. Suatu saat jaringan fibrosis ini
dapat tertarik karena berkontraksi, sehingga retina juga ikut tertarik dan terlepas dari tempat
melekatnya di koroid. Proses inilah yang menyebabkan terjadinya ablasio retina pada
retinopati diabetik.

2) Oklusi vaskular retina

Penyempitan lumen vaskular dan trombosis sebagai efek dari proses biokimiawi
akibat hiperglikemia kronis pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya oklusi vaskular
retina. Oklusi vena sentralis retina akan menyebabkan terjadinya vena berkelok-kelok apabila
oklusi terjadi parsial, namun apabila terjadi oklusi total akan didapatkan perdarahan pada
retina dan vitreus sehingga mengganggu tajam penglihatan penderitanya. Apabila terjadi
perdarahan luas, maka tajam penglihatan penderitanya dapat sangat buruk hingga mengalami
kebutaan. Perdarahan luas ini biasanya didapatkan pada retinopati diabetik dengan oklusi
vena sentral, karena banyaknya dinding vaskular yang lemah.

Selain oklusi vena, dapat juga terjadi oklusi arteri sentralis retina. Arteri yang
mengalami penyumbatan tidak akan dapat memberikan suplai darah yang berisi nutrisi dan
oksigen ke retina, sehingga retina mengalami hipoksia dan terganggu fungsinya. Oklusi arteri
retina sentralis akan menyebabkan penderitanya mengeluh penglihatan yang tiba-tiba gelap
tanpa terlihatnya kelainan pada mata bagian luar. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat
seluruh retina berwarna pucat.

3) Glaukoma

Retinopati Diabetik 1
4
Mekanisme terjadinya glaukoma pada retinopati diabetik masih belum jelas. Beberapa
literatur menyebutkan bahwa glaukoma dapat terjadi pada retinopati diabetik sehubungan
dengan neovaskularisasi yang terbentuk sehingga menambah tekanan intraokular.

H. Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan dan pengobatan retinopati diabetik merupakan upaya yang harus


dilakukan bersama untuk mencegah atau menunda timbulnya retinopati dan juga untuk
memperlambat perburukan retinopati.Tujuan utama pengobatan retinopati diabetic ialah
untuk mencegah terjadinya kebutaan permanen. Metode pencegahan dan pengobatan
retinopati diabetic saat ini meliputi :

3 Kontrol glukosa darah


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pengontrolan kadar glukosa darah
yang baik secara signifikan menurunkan resiko perkembangan retinopati diabetik.
4 Terapi retinopati diabetik adalah fotokoagulasi.

Retinopati Diabetik 1
5
Therapi ini menurunkan insidensi perdarahan dan pembentukan parut dan
selalu merupakan indikasi jika terjadi pembentukan pembuluh darah baru.Juga
berguna dalam therapi mikroaneurisma, perdarahan dan edema makuler bahkan jika
tahap proliferatif belum mulai. Fotokoagulasi panretina sering digunakan untuk
mengurangi kebutuhan oksigen retina dengan harapan stimulasi untuk
neovaskularisasi akan berkurang. Dengan tehnik ini beberapa ribu lesi terjadi selama
2 minggu.Komplikasi fotokoagulasi masih dapat diterima.Sebagian kehilangan
penglihatan perifer tidak dapat dihindari dengan pembakaran luas. Tehnik
pembedahan lainnya, vitrektomi, pars plana, digunakan untuk terapi perdarahan
vitreus dan pelepasan retina yang tidak teratasi. Komplikasi pasca operasi lebih sering
dibandingkan pada fotokoagulasi dan termasuk robekan retina, pelepasan retina,
katarak, perdarahan vitreus berulang, glaukoma, infeksi, dan kehilangan mata.Ada
harapan bahawa inhibisi angiogenesis oleh obat seperti beta-siklodekstrin
tetradekasulfat yang menyerupai heparin analog dalam percobaan dapat mencegah
retinopati proliferatif.

Semua pasien dengan retinopati diabetik harus dipantau oleh ahli mata (Daniel W. Foster,
2000).

I. Penatalaksanaan Medis
Prinsip utama penatalaksanaan dari retinopati diabetik adalah pencegahan. Hal ini
dapat dicapai dengan memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan
retinopati diabetik nonproliferatif menjadi proliferatif.

1. Pemeriksaan rutin pada ahli mata

Penderita diabetes melitus tipe I retinopati jarang timbul hingga lima tahun setelah
diagnosis. Sedangkan pada sebagian besar penderita diabetes melitus tipe II telah menderita
retinopati saat didiagnosis diabetes pertama kali.Pasien- pasien ini harus melakukan
pemeriksaan mata saat diagnosis ditegakkan.Pasien wanita sangat beresiko perburukan

Retinopati Diabetik 1
6
retinopati diabetik selama kehamilan.Pemeriksaan secara umum direkomendasikan pada
pasien hamil pada semester pertama dan selanjutnya tergantung kebijakan ahli matanya.

Berdasarkan beratnya retinopati dan risiko perburukan penglihatan, ahli mata


mungkin lebih memilih untuk megikuti perkembangan pasien-pasien tertentu lebih sering
karena antisipasi kebutuhan untuk terapi.

2. Kontrol Glukosa Darah dan Hipertensi

Untuk mengetahui kontrol glukosa darah terhadap retinopati diabetik,Diabetik


Control and Cmplication Trial (DCCT) melakukan penelitian terhadap 1441 pasien dengan
DM Tipe I yang belum disertai dengan retinopati dan yang sudah menderita RDNP. Hasilnya
adalah pasien yang tanpa retinopati dan mendapat terapi intensif selama 36 bulan mengalami
penurunan resiko terjadi retinopati sebesar 76% sedangkan pasien dengan RDNP dapat
mencegah resiko perburukan retinopati sebesar 54%. Pada penelitian yang dilakukan United
Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) pada penderita DM Tipe II dengan terapi
intensif menunjukkan bahwa setiap penurunan HbA1c sebesar 1% akan diikuti dengan
penurunan resiko komplikasi mikrovaskular sebesar 35%. Hasil penelitian DCCT dan
UKPDS tersebut memperihatkan bahwa meskipun kontrol glukosa darah secara intensif tidak
dapat mencegah terjadinya retinopati diabetik secara sempurna, namun dapat mengurangi
resiko timbulnya retinopati diabetik dan memburuknya retinopati diabetikyang sudah
ada.Secara klinik, kontrol glukosa darah yang baik dapat melindungi visus dan mengurangi
resiko kemungkinan menjalani terapi fotokoagulasi dengan sinar laser.

3. Fotokoagulasi

Perkembangan neovaskuler memegang peranan penting dalam progresi retinopati


diabetik.Komplikasi dari retinopati diabetik proliferatif dapat meyebabkan kehilangan
penglihatan yang berat jika tidak diterapi.Suatu uji klinik yang dilakukan oleh National
Institute of Health di Amerika Serikat jelas menunjukkan bahwa pengobatan fotokoagulasi
dengan sinar laser apabila dilakukan tepat pada waktunya, sangat efektif untuk pasien dengan
retinopati diabetik proliferatif dan edema makula untuk mencegah hilangnya fungsi
penglihatan akibat perdarahan vitreus dan ablasio retina. Indikasi terapi fotokoagulasi adalah

Retinopati Diabetik 1
7
retinopati diabetik proliferatif, edema macula dan neovaskularisasiyang terletak pada sudut
bilik anterior. Ada 3 metode terapi fotokoagulasi yaitu :

1) scatter (panretinal) photocoagulation = PRP, dilakukan pada kasus dengan kemunduran


visus yang cepat atau retinopati diabetik resiko tinggi dan untuk menghilangkan neovaskular
dan mencegah neovaskularisasi progresif nantinya pada saraf optikus dan pada permukaan
retina atau pada sudut bilik anterior dengan cara menyinari 1.000-2.000 sinar laser ke daerah
retina yang jauh dari macula untuk menyusutkan neovaskular.

Gambar 19 : Tahap-tahap PRP

2) focal photocoagulation, ditujukan pada mikroaneurisma atau lesi mikrovaskular di tengah


cincin hard exudates yang terletak 500-3000 m dari tengah fovea. Teknik ini mengalami
bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan edema macula.

3) grid photocoagulation, suatu teknik penggunaan sinar laser dimana pembakaran dengan
bentuk kisi-kisi diarahkan pada daerah edema yang difus. Terapi edema macula sering
dilakukan dengan menggunakan kombinasi focal dan grid photocoagulation.

Retinopati Diabetik 1
8
Gambar 20. Panretinal fotokoagulasi pada PDR

Gambar 21. Grip fotokoagulasi untuk diabetik


makular edema

4. Injeksi Anti VEGF

Bevacizumab (Avastin) adalah rekombinan anti-VEGF manusia. Sebuah studi baru-


baru ini diusulkan menggunakan bevacizum intravitreus untuk degenerasi makula terkait
usia. Dalam kasus ini, 24 jam setelah perawatan kita melihat pengurangan dramatis dari
neovaskularisasi iris, dan tidak kambuh dalam waktu tindak lanjut 10 hari. Pengobatan
dengan bevacizumab tampaknya memiliki pengaruh yang cepat dan kuat pada
neovaskularisasi patologis.Avastin merupakan anti angiogenik yang tidak hanya menahan dan
mencegah pertumbuhan prolirerasi sel endotel vaskular tapi juga menyebabkan regresi
vaskular oleh karena peningkatan kematian sel endotel. Untuk pengunaan okuler, avastin
diberikan via intra vitreal injeksi ke dalam vitreus melewati pars plana dengan dosis 0,1
mL.Lucentis merupakan versi modifikasi dari avastin yang khusus dimodifikasi untuk
penggunaan di okuler via intra vitreal dengan dosis 0,05 mL.

5. Vitrektomi

Vitrektomi dini perlu dilakukan pada pasien yang mengalami kekeruhan (opacity)
vitreus dan yang mengalami neovaskularisasi aktif.Vitrektomi dapat juga membantu bagi
pasien dengan neovaskularisasi yang ekstensif atau yang mengalami proliferasi
fibrovaskuler.Selain itu, vitrektomi juga diindikasikan bagi pasien yang mengalami ablasio
retina, perdarahan vitreus setelah fotokoagulasi, RDP berat, dan perdarahan vitreus yang
tidak mengalami perbaikan.

Retinopati Diabetik 1
9
Gambar 22 : Vitrektomi

Diabetic Retinopathy Vitrectomy Study (DVRS) melakukan clinical trial pada pasien
dengan dengan diabetik retinopati proliferatif berat. DRVS mengevaluasi keuntungan pada
vitrektomi yang cepat (1-6 bulan setelah perdarahn vitreus) dengan yang terlambat ( setalah 1
tahun) dengan perdarahan vitreous berat dan kehilangan penglihatan (<5/200). Pasien dengan
diabetes tipe 1 secara jelas menunjukan keuntungan vitrektomi awal, tetapi tidak pada tipe
2.DRSV juga menunjukkan keuntungan vitrektomi awal dibandingkan dengan managemen
konvensional pada mata dengan retinopati diabetik proliferatif yang sangat berat.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a) Identitas Klien
1. Nama : ny. R
2. Umur : 48 thn
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. Pekerjaan : ibu rumah tangga

Retinopati Diabetik 2
0
5. Pendidikan : SMP
6. Agama : Islam
7. Alamat : Manado

b) Anamnesis
1) Keluhan Utama
Terdapat banyangan hitam berbentuk garis garis di bagian bawah penglihatan pasien
2) Riwayat penyakit saat ini
Pasien mengeluhkan ada banyangan hitam berbentuk garis garis di bagian bawah
penglihatan pasien.
3) Riwayat penyakit dahulu
Pasien di diagnosa diabetes mellitus sejak 10 tahun yang lalu
4) Riwayat penyakit keluarga
Bapak dari pasien memiliki riwayat DM
5) Riwayat Pengobatan
Pasien mengatakan teratur minum obat diabetes dan belum pernah berobat dengan
penyakit matanya
6) Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respons
emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-
hari baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Apakah ada dampak yang
timbul pada klien, yaitu timbul seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan
terhadap dirinya yang salah (gangguan citra diri).

c) Pemeriksaan Fisik
- Pengkajian ketajaman mata
- Kesimetrisan kelopak mata
- Reaksi mata terhadap cahaya/gerakan mata
- Warna mata
- Kemampuan membuka dan menutup mata
- Menginspeksi struktur luar mata dan inspeksi kelenjar untuk mengetahui adanya
pembengkakan dan inflamasi.

Retinopati Diabetik 2
1
Faktor Internal Faktor Eksternal

- Genetik - Virus
- Usia - Bakteri
- Toksin
- Gaya hidup
- Obesitas

Hematogen

Retinopati Diabetik 2
2
Pankreas

Inflamasi kerusakan pancreas

Kerja pancreas terganggu/menurun

Produksi insulin menurun

Diabetes mellitus

Penyerapan glukosa oleh tubuh menurun

Glukosa dalam Tubuh tidak mendapat asupan glukosa

darah meningkat

Hiperglikemia Metabolisme menurun

Viskositas darah meningkat Energi menurun

Terjadi kelemahan

RETINA

NPDR
Non proliferatif diabetic retinopati
PDR (proliferasi diabetic retinopati)

Terbentuk Sklerosis PD
trombus kapiler retina Proliferasi pembuluh darah
baru Diabetik
Retinopati 2 Ansiet
3
Obstruksi
Okulasi lumen
vaskuler Transudasi ( neurovaskuler)
PD retina cairan
Penyempitan lumen
Pembuluh darah
rapuh, rentan pecah

Suplai O2 dan Penumpukan cairan Munculnya


nutrisi ke mata di vitrous bayang-bayang
menurun hitam pd mata
Iskemik pd retina
TIO
meningkat Gangguan
RETINOPATI penurunan fungsi
papiledema
Nye penglihatan
ri

Timbulnya rasa Gangguan Saat


malu minder, tidak sensori persepsi mobilitas,
percaya diri penglihatan beraktifitas

Resiko tinggi
Gangguan
2. Diagnosa body cedera
image
a) Gangguan persepsi sensori : penglihatan b.d gangguan penerimaan sensori ;
gangguan status organ indera
b) Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan fungsi sensori penglihatan
c) Nyeri b.d peningkatan tekanan intra okuler dan pelebaran pembuluh darah di retina
d) Gangguan citra tubuh b.d adanya biofisik
e) Ansietas b.d koping individu tidak efektif

3. Intervensi
a) Gangguan persepsi sensori : penglihatan b.d gangguan penerimaan sensori ; gangguan
status organ indera
Tujuan dan Kriteria Hasil:
- Mendapatkan kembali fungsi penglihatannya
- Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih
lanjut.
- Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan

Intervensi

1. Pastikan derajat/tipe kehilangan penglihatan


Rasional : Mempengaruhi harapan masa depan pasien dan pilihan intervensi
2. Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan
penglihatan

Retinopati Diabetik 2
4
Rasional : sementara intervensi dini mencegah kebutaan, pasien menghadapi
kemungkinan dan mengalami pengalaman kehilangan penglihatan sebagian dan total.
3. Lakukan modifikasi lingkungan untuk memaksimalkan penglihatan yang dimiliki
pasien
Rasional :Memodifikasi lingkungan dapat membantu pasien memiliki kebutuhan
perawatan diri dan mengurangi resiko cedera
4. Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, mengikuti jadwal, tidak
salah dosis
Rasional : Mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lanjut
5. Lakukan tindakan untuk membantu pasien menanganiketerbatasan penglihatan,
contoh, kurangi kekacauan,atur perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek yang
terlihat; perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam.
Rasional : menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan lapang
pandang/kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil terhadap sinar lingkungan
6. Kolaborasi obat sesuai dengan indikasi
Rasional : Untuk mengatasi gangguan penglihatan

b) Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan fungsi sensori penglihatan


Tujuan dan Kriteria Hasil :
- Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan factor resiko dan
untuk melindungi diri dari cedera.
- Mengubah lingkungan sesuai dengan indikasi untuk meningkatkan keamanan.
Intervensi
1. Diskusikan apa yang terjadi tentang kondisipembatasan aktifitas
Rasional : Membantu meningkatkan kerja sama dalam pembatasan
yang di perlukan
2. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, dan
membungkuk
Rasional : Untuk mencegah terjadinya cedera
3. Pertahankan perlindungan mata sesuai dengan indikasi
Rasional : di gunakan untuk melindungi dari cedera kecelakan dan
menurunkan gerakan mata
4. Minta pasien untuk membedakan anatara ketidaknyamanan dan nyeri
mata tajam secara tiba tiba
Rasional : Nyeri akut menunjukan adanya pendarahan
5. Observasi pendarahan pada mata dengan senter sesuai dengan
indikasi
Rasional : Apabila terjadi pendarahan maka segera akan di lakukan
tindakan lanjut

c) Nyeri b.d peningkatan tekanan intra okuler dan pelebaran pembuluh darah di retina
Retinopati Diabetik 2
5
Tujuan dan Kriteria Hasil :
- Nyeri berkurang
- Tampak nyaman

Intervensi

1. Kaji adanya keluhan nyeri pada mata


Rasional : Diperlukan untuk menentukan intervensi lanjut
2. Kaji karakteristik nyeri
Rasional : Untuk mengetahui penanganan yang tepat
3. Berikan posisi yang nyaman
Rasional : Posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri
4. Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan
Rasional : Mengalihkan perhatian dapat mengurangi rasa nyeri
5. Berikan analgesik sesuai anjuran
Rasional : Untuk mengatasi atau mengurangi nyeri

d) Gangguan citra tubuh b.d adanya biofisik


Tujuan dan Kriteria Hasil :
- Mampu mengenali dampak aktual pada penampilan tubuh
Intervensi
1. Diskusikan arti perubahan pada pasien
Rasional : beberapa pasien memandang situasi sebagai tantangan, sulit untuk
menerima perubahan hidup
2. Tingkatkan persepsi klien serta sikap terhadap tubuh klien

Rasional :Untuk mengetahui persepsi klien tentang tubuhnya

3. Bantu klien untuk beadaptasi terhadap perubahan bentuk mata


Rasional : Agar klien terbiasa dan dapat menerima keadaan tubuhnya
4. Anjurkan klien untuk dapat berpikir positif tentang dirinya
Rasional : agar pasien lebih menerima keadaannya
5. Anjurkan orang terdekat memperlakukan pasien secara normal dan bukan
seorang cacat
Rasional : Menyampaikan harapan bahwa pasien mampu untuk mengatur situasi
dan membantu mempertahankan harga diri dan tujuan diri.

e) Ansietas b.d koping individu tidak efektif

Retinopati Diabetik 2
6
Tujuan dan Kriteria Hasil :
- Tampak rileks
- Menunjukkan sikap terampil dalam mengatasi masalah

Intervensi

1. Kaji tingkat kecemasan klien terhadap kondisi saat ini


Rasional : faktor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap ancaman diri yang di
rasakan.
2. Berikan informasi yang benar
Rasional : Menurunkan kecemasan hubungan dengan ketidaktahuan/harapan yang
akan datang dan memberikan dasar fakta untuk membuat pilihan informasi tentang
pengobatan
3. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan
Rasional : memberikan kesempatan kepada pasien untuk menerima situasi yang nyata
4. Libatkan orang terdekat untuk membantu menyelesaikan masalah
Rasional : memberikan keyakinan bahwa klien tidak sendiri dalam menghadapi
masalah

BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Retinopati Diabetik 2
7
Retinopati diabetik adalah suatu mikroangiopati progresif yang ditandai
olehkerusakan dan sumbatan pembuluh-pembuluh darah halus retina.Retinopati ini
dapat dibagi dalam dua kelompok berdasarkan klinis yaitu retinopati diabetik non
proliferatif dan retinopati diabetik proliferatif, dimana retinopati diabetik non
proliferatif merupakan gejala klinik yang paling dini didapatkan pada penyakit
retinopati diabetik.Retinopati diabetes non proliferatif adalah cerminan klinis dari
hiperpermeabilitas dan inkompetens pembuluh darah yang terkenan.
Gejala subjektif para penderita retinopati diabetes nonproliferatif pada
umumnya seperti penglihatan kabur, kesulitan membaca, penglihatan tiba-tiba kabur
pada satu mata,melihat lingkaran-lingkaran cahaya, melihat bintik gelap dan cahaya
kelap-kelip. Sedangkan gejala objektif pada penderita retinopati diabetes non
proliferative antara lain mikroaneurisma, dilatasi pembuluh darah balik, perdarahan
(haemorrhages), hard eksudat,edema retina.
Untuk dapat membantu mendeteksi secara awal adanya edema makula pada
retinopati diabetik nonproliferatif dapat digunakan stereoscopic biomicroskopic
menggunakan lensa + 90 dioptri.Di samping itu, angiografi flouresens juga sangat
bermanfaat dalam mendeteksi kelainan mikrovaskuler retinopati diabetik non
proliferatif.Terapi inhibitor aldosa reduktase tidak dapat mencegah perkembangan
retinopati diabetik.
Sedangkan terapi laser argon fokal terhadap titik-titik kebocoran retina pada
pasien yang secara klinis memperlihatkan edema, dapat memperkecil risiko
penurunan penglihatandan meningkatkan kemungkinan perbaikan fungsi
penglihatan.Pada edema makula diabetik dapat dilakukan terapi dengan injeksi steroid
bila tidak berespon dengan terapi laser.

2. Saran
Perlu dilakukan evaluasi pada pasien diabetes melitus untuk mecegah komplikasi
pada penderita
Memberikan terapi yang adekuat untuk mengurangi angka mortalitas akibat
komplikasi Diabetes Mellitus

Retinopati Diabetik 2
8
Perlu dilaksanakan penelitian lebih lanjut mengenai retinopati diabetik agar
diketahui data insidensi retinopati diabetik di Indonesia.

Retinopati Diabetik 2
9