Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penggalian di dalam tanah biasanya menjumpai banyak bahaya. Dalam penggalian bawah
tanah yang perlu dikendalikan adalah masalah mekanika batuan dan ventilasi tambang tempat
kerja. Karena pada kenyataannya merupakan system penunjang kehidupan penambang yang
utama.
Selanjutnya ventilasi merupakan pengendalian jumlah dan arah pergerakan udara.
Sebagai sarana utama dari pengendalian kuantitas, ini merupan bagian dari pada proses total
air conditioning, yaitu pengendalian secara simultan terhadap kuantitas, kualitas, dan
temperatur-kelembaban udara.
Oleh karena itu ventilasi bukan merupakan satu-satunya proses dari total air
conditioning. Ventilasi tambang dan total air conditioning saling melengkapi tetapi
merupakan proses yang terpisah. Pada perkembangannya yang diperlukan adalah membuat
kondisi udara memenuhi kualitas dan temperatur-kelembaban sebaik kuantitasnya.
Untuk memperoleh informasi yang terinci mengenai kuantitas dan kualitas udara tambang
pada sistem jaringan ventilasi, maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap sistem ventilasi
yang ada, yaitu mengadakan pengukuran dan pengamatan terhadap ventilasi, sehingga dapat
diketahui arah aliran atau sirkulasi udara, kuantitas udara yang memenuhi kebutuhan baku
(standar) dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Adapun pengukuran yang dilakukan adalah pengendalian kuantitas aliran udara.
Pengendalian kuantitas aliran udara di dalam tambang bawah tanah dilakukan untuk
mengetahui distribusi aliran udara pada setiap jalur yang ada. Salah satu pengendalian
kuantitas aliran udara adalah dengan mengetahui pengukuran kecepatan aliran udara.
Kecepatan aliran udara merupakan sifat fisik udara tambang yang paling sering diukur. Hal
ini disebabkan kecepatan aliran udara merupakan salah satu faktor penting untuk menentukan
temperatur pada tambang.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini sebagai berikut :
Apa itu ventilasi tambang ?
Mengapa ventilasi tambang itu perlu ?
Bagaimana ventilasi tambang itu ?

1.3 Tujuan

1
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini sebagai berikut,
Untuk mengetahui apa itu ventilasi tambang
Untuk mengetahui pentingnya ventilasi tambang
Untuk mengetahui bagaimana ventilasi tambang itu

BAB II

PEMBAHASAN

2
2.1 Apa Itu Ventilasi Tambang?
Ventilasi merupakan suatu usaha pengendalian terhadap pergerakan atau aliran udara
tambang, termasuk didalamnya adalah jumlah, mutu dan arah alirannya. Secara teknis,
ventilasi tambang harus merupakan pengaturan total baik dari segi ketersediaan udaranya
maupun bukaan saluran udara dan peralatan pengaliran yang dibutuhkan.Pembagian udara
segar kedalam tambang bawah tanah dimaksudkan untuk menciptakan ruang kerja yang aman
dan nyaman.

2.2 Mengapa ventilasi diperlukan?


Adapun tujuan dari ventilasi tambang adalah :
1. Menyediakan oksigen yang cukup untuk pernafasan dan proses-
proses dalam tambang.
2. Mengencerkan gasgas beracun yang ada didalam tambang,
sehingga tidak membahayakan bagi para pekerja.
3. Mengurangi konsentrasi debu yang timbul akibat kegiatan yang
dilakukan di dalam tambang.
4. Menurunkan temperatur udara tambang, sehingga dapat dicapai lingkungan kerja yang
aman dan nyaman.

2.3 Bagaimana Cara Kerja Ventilasi ?


a. Pengendalian Kuantitas Udara Tambang
Kuantitas udara adalah jumlah udara yang masuk ke dalam tambang dengan
luas dan kecepatan tertentu yang diukur setiap satuan waktu. Pengendalian kuantitas
udara tambang merupakan pengaturan terhadap jumlah alirannya agar cukup untuk
pernafasan dan mengurangi konsentrasi gas serta debu yang terbawa dalam udara
termasuk didalamnya adalah pengaturan arah aliran udara agar memenuhi ketentuan-
ketentuan kecepatan. Kuantitas aliran udara ini dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan :
Q = V x A

Keterangan :
Q = kuantitas aliran udara (cfm)
V = kecepatan aliran udara (fpm)
A = luas penampang jalan udara (ft2)

3
1) Perkiraan Kebutuhan Minimum Udara Segar
Yang dimaksud udara segar adalah udara yang belum digunakan untuk suatu
aktifitas dan bebas dari gas-gas pengotor serta debu. Udara segar tersebut
diperlukan manusia, lingkungan dan proses dalam tambang agar tercipta kondisi
kerja yang aman dan nyaman sehingga dapat meningkatkan produktifitas kerja.
Perkiraan kebutuhan minimum udara segar didasarkan atas beberapa faktor, yaitu :
a. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan
Jumlah tenaga kerja tergantung dari sistem kerja yang digunakan yaitu sistem
gilir kerja per hari. Untuk keperluan bernafas, manusia memerlukan udara segar
70 cfm, sedangkan tempat kerja yang ada asap dan debu nya sesuai standar
OSHA (Occupational Safety and Health Administration) manusia memerlukan
udara segar 200 cfm per orang.
b. Banyaknya peralatan yang digunakan
Perhitungan kebutuhan minimum udara segar untuk mengencerkan gas dan
debu yang ditimbulkan dari peralatan yang digunakan dalam penambangan.
c. Banyaknya gas dan asap dari hasil peledakan
Perhitungan kebutuhan minimum udara segar untuk mengatasi gas-gas
berbahaya dan asap yang dihasilkan dari peledakan.
d. Penggerak peralatan
Perhitungan kebutuhan minimum udara segar dari proses pembakaran mesin
pada alat-alat produksi penambangan, untuk proses pembakaran mesin
memerlukan energi listrik sebesar 3.412 BTU/jam untuk setiap kW.
e. Kehilangan udara dari sistem ventilasi
Menurut MSHA (mine safety and health administration), kehilangan udara dari
sistem ventilasi yang diijinkan adalah antara 10% - 25%.
f. Volume ruangan dan banyaknya debu yang berhamburan pada
saat aktifitas penambangan berlangsung.

b. Konstruksi pengaturan aliran udara


1) Bulkhead atau stopping
Digunakan untuk menutup secara permanen bukaan yang secara fungsional akan
menghubungkan aliran udara masuk dan keluar sehingga tidak akan terjadi
hubungan pendek.
2) Pintu ventilasi (ventilation door)
Dipergunakan pada bukaan yang secara fungsional akan menghubungkan aliran
udara masuk dan keluar sehingga tidak akan terjadi hubungan pendek, namun
bukaan tersebut masih dipergunakan sebagai jalan baik untuk pekerja maupun
peralatan.

4
3) Pintu penyekat (airlock door)
Secara fisik, bentuk antara ventilation door dengan airlock adalah sama karena
berupa pintu ventilasi. Namun untuk kepentingan kegunaannya, airlocking dipasang
rangkap beberapa pintu ventilasi sekaligus mempertimbangkan mekanisme buka
tutupnya apabila bukaan tersebut masih digunakan sebagai jalan baik untuk pekerja
maupun peralatan.
4) Regulator
Berfungsi untuk membatasi kuantitas aliran udara yang mengalir pada suatu bukaan
dengan cara menambah nilai hambatan (resistensi) pada suatu titik pada bukaan
tersebut.
5) Tirai udara (brattice curtain)
Dipergunakan untuk menutup aliran udara pada bukaan secara sementara
(temporary). Terbuat dari bahan yang tahan api dan mudah/relatif ringan untuk
dipasang dan dipindahkan.

2.4 Pengendalian Kualitas Udara Tambang


Pengendalian terhadap kualitas udara tambang meliputi pengaturan konsentrasi gas
dan debu dalam udara, temperatur dan kelembaban relatif sehingga udara tambang tetap segar
sesuai dengan ambang batas yang diperkenankan.
a. Gas-gas tambang
1) Oksigen (O2)
Oksigen adalah unsur terpenting yang dibutuhkan untuk pernafasan manusia
dengan jumlah 21 % dari total udara yang terhirup oleh pernafasan, karenanya
kuantitas kebutuhan oksigen menjadi fungsi dari aktifitas fisik yang dilakukan.
Batas kandungan minimum oksigen dalam udara adalah 19,5 %, dan kekurangan
oksigen dalam udara akan mengakibatkan gangguan fisik sebagai berikut :
Tabel 2.1
Efek kekurangan oksigen terhadap kondisi fisik

Kandungan O2 (%) Efek

17 Pernafasan menjadi lebih cepat

15 Jantung berdenyut lebih cepat

13 Mulai kehilangan kesadaran

9 Pingsan

7 Terancam mati

6 Mati

5
2) Karbon dioksida (CO2)
Karbon dioksida adalah gas hasil oksidasi dan pembakaran zat organis, dapat juga
merupakan hasil proses pernafasan mahluk hidup. Gas ini mempunyai karakteristik
lebih berat dibandingkan udara sehingga seringkali ditemukan berada dekat lantai
bukaan dan area-area yang tidak mengalami sirkulasi udara. Aktifitas lain yang
menghasilkan gas karbon dioksida adalah gas dari kebakaran, peledakan dan
sebagian dari hasil pembakaran pada peralatan. Batas kandungan maksimum dalam
udara yang diizinkan adalah 0,5 %.
Tabel 2.2
Pengaruh kandungan gas CO2 terhadap pernafasan

Konsumsi CO2 (%) Efek

0,5 Pernafasan bertambah cepat

3 Laju pernafasan naik 200 %

5 Laju pernafasan naik 300 %

3) Karbon monoksida (CO)


Karbon monoksida sebagian besar dihasilkan dari tidak sempurnanya pembakaran
yang terjadi didalam mesin peralatan tambang bawah tanah, sedangkan sumber-
sumber lain adalah kebakaran, peledakan, pemanasan yang berlebihan dan oksidasi
pada suhu rendah. Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin,
sehingga sedikit saja kandungan CO dalam udara akan segera bersenyawa dengan
butir-butir haemoglobin (COHb) yang akan meracuni tubuh. Batas kandungan
maksimum yang diperbolehkan adalah 0,005 %. Efek dari keracunan gas karbon
monoksida adalah :
Tabel 2.3
Efek prosentase COHb pada kondisi fisik

% COHb Efek

5 10 Kehilangan beberapa fungsi kesadaran

10 20 Mulai merasakan denyut pada kepala

20 30 Pusing

30 40 Muntah dan penglihatan kabur

6
40 60 Pingsan

60 70 Koma atau mati

70 80 Mati

4) Methane (CH4)
Methane merupakan gas yang selalu dijumpai dalam tambang batubara dan sering
merupakan sumber dari suatu peledakan tambang, campuran gas methane dengan
udara disebut dengan firedamp. Gas ini mempunyai berat jenis yang lebih kecil
daripada udara, maka selalu berada pada bagian atas dari jalan udara.
Methane merupakan gas yang tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
mempunyai rasa. Pada saat proses pembatubaraan, gas methane terbentuk bersama-
sama dengan gas karbon dioksida. Gas ini akan tetap berada dalam lapisan batubara
selama tidak ada perubahan tekanan padanya. Batas kandungan maksimum yang
diperbolehkan adalah 0,25 %.
b. Debu tambang
Debu secara klasifikasi fisis termasuk dalam ketegori aerosol yaitu hamburan
partikel padat dan atau cair didalam medium gas/udara, dimana didalam tambang
bawah tanah, debu ini dihasilkan oleh aktifitas penambangan seperti pemboran,
peledakan, pemuatan, pengangkutan dan penumpahan bijih.
1) Klasifikasi Debu
Klasifikasi debu pada dasarnya dapat dibedakan menurut tingkat bahayanya terhadap
fisik dan kemampuan ledakannya. Berikut ini klasifikasi debu berdasarkan tingkat
bahayanya, yaitu :
Debu fibrogenik
Merupakan debu yang berbahaya terhadap pernafasan, seperti silika (kuarsa dan
chert), silikat (asbestos, talk, mika dan silimanit), meal fumes (asap logam),
bijih timah, bijih besi, karborondum dan batubara (anthrasit, bitumineous).
Debu karsiogenik
Contohnya kelompok radon, asbestos dan arsenik.
Debu beracun
Merupakan debu yang mengandung racun yang berbahaya terhadap organ dan
jaringan tubuh, seperti bijih berilium, arsenik, timah hitam, uranium, radium,
thorium, khromium, vanadium, air raksa, kadmium, antimoni, selenium,
mangan, tungsten, nikel dan perak (khususnya oksida dan karbonat).
Debu radioaktif

7
Merupakan debu yang berbahaya karena radiasi sinar alpha dan sinar beta,
seperti bijih uranium, radium dan thorium.
Debu yang dapat meledak (terbakar di udara)
Contohnya debu logam (magnesium, alumunium, seng, timah dan besi),
batubara (bituminous dan lignit), bijih sulfida dan debu organic.
Debu pengganggu
Contohnya gypsum, gamping dan kaoilin.

2) Faktor-faktor yang mempengaruhi bahaya debu bagi manusia antara lain :


Komposisi kimia dan mineralogi debu
Ditinjau dari tingkat bahaya yang dapat ditimbulkan, komposisi mineralogi
lebih penting dibandingkan komposisi kimiawi dan fisiknya.

Konsentrasi
yaitu banyaknya partikel debu yang dinyatakan dengan dua cara, yaitu :
- Atas dasar jumlah, satuannya adalah mppcf (million of particles per cuft)
atau ppcc (particles per cubic centimeter).
- Atas dasar berat, satuannya adalah mg/m3
- Faktor konsentrasi merupakan faktor terpenting kedua setelah komposisi.
Secara umum debu dapat membahayakan paru-paru jika konsentrasi lebih
besar dari 0,5 mg/m3.
Ukuran partikel-partikel debu yang berukuran lebih kecil dari 5 mikron
berbahaya, karena luas permukaannya besar dengan demikian aktifitas kimianya
pun besar. Selain itu debu halus tergolong debu yang dapat dihirup karena
tersuspensi di udara.
Waktu kontak
yaitu lamanya waktu yang dibutuhkan seseorang berhubungan dengan
lingkungan yang mengandung debu.
Daya tahan tubuh perorangan
Faktor ketahanan individu terhadap bahaya debu sampai saat ini merupakan
faktor yang belum dapat dikuantifikasi.

c. Temperatur dan Kelembaban Relatif


Dalam keadaan normal, udara tidak pernah dalam keadaan kering tetapi selalu
mengandung kadar air. Maka parameter yang diukur untuk menentukan keadaan
udara tersebut adalah :
1) Temperatur
Temperatur udara sangat mempengaruhi kenyamanan bagi pekerja yang berada
pada tambang bawah tanah, karena udara diperlukan pula untuk pendinginan panas
tubuh.
Parameter temperatur terdiri dari :

8
- Dry bulb temperatur (td)
- Wet bulb temperatur (tw)
- Temperatur efektif (te)
Temperatur efektif merupakan suatu standar suhu untuk mengetahui kenyamanan
lingkungan kerja tambang. Penentuannya dapat dilakukan secara grafis dengan
menggunakan variabel temperatur cembung kering (td), temperatur cembung basah
(tw) dan kecepatan aliran udara. Temperatur efektif akan mempengaruhi efesiensi
kerja, hal ini dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1
Diagram efesiensi kerja

2) Kelembaban Relatif ( )
Kelembaban relatif merupakan perbandingan antara tekanan uap dari udara pada
suatu keadaan tidak jenuh dengan tekanan uap udara pada keadaan jenuh, pada
keadaan temperatur yang sama. Kelembaban relatif dapat dihitung dengan
menggunakan pendekatan rumus :
( Pb Ps' ) ( td tw )
Pv Ps ' in Hg
2800 1,3 tw

Pv
x100 %
Ps

Keterangan :

9
= Rh = kelembaban relatif (%)

Ps = harga tekanan uap jenuh pada td (in.Hg)

Ps = harga tekanan uap jenuh pada tw (in.Hg)

Pb = tekanan barometer (in.Hg)

Pv = tekanan uap jenuh (in.Hg)

T = temperatur (oF)

W = specific humidity (lb/lb.da)

V = specific volume (ft3/lb)

W = densitas udara (lb/ft3)

Dalam perhitungan densitas udara dapat dilakukan dengan menggunakan


pendekatan rumus :

pv
W 0,622 lb / lb.da
pb pv

Pa = (Pb Pv) in.Hg

T = (460 + o C) o R

53,3 (Td )
v ft 3 / lb
Pa

1
w (W 1) lb / ft 3
v

2.5 Tahanan Udara Tambang (mine resistance)


Kuantitas udara akan berbanding sama dengan besarnya hambatan yang terjadi pada
jalan udara (airway). Parameter yang mempengaruhi hambatan udara adalah panjang, luas
penampang, keliling serta karakteristik jalan udara tambang.

K P ( L Le)
R in. min 2 / ft 6
5,2 A3

10
keterangan :
A = luas penampang jalan udara (ft2)

P = keliling (ft)

K = faktor gesekan (K x 10 10 lb.min2/ft4)

L + Le = panjang jalur dan kesetaraan (ft)

R = tahanan tambang (in.min2/ft6)

2.6 Kehilangan Julang (head loss)


Penjumlahan kehilangan julang dalam sistem ventilasi tambang terdiri dari 70 90 %
hilang gesekan (friction loss) dan 10 30 % dari hilang kejut (shock loss) dalam aliran
tambang.
a. Julang gesekan(Hf)
Julang gesekan terjadi sewaktu udara mengalir pada lubang bukaan akan
mendapatkan gesekan terhadap dinding yang tidak teratur. Fungsi kehilangan gesekan
dalam jalur udara tambang terdiri dari kecepatan aliran udara, sifat permukaan dan
dimensi lubang bukaan (panjang, lebar dan tinggi).

L V2
Hl f
D 2g

keterangan :
L = panjang saluran (ft)
D = diameter saluran (ft)
V = kecepatan udara (fpm)
F = koefesien gesekan

Untuk saluran berbentuk lingkaran, maka Rh adalah :

A
. D2 D
Rh 4
P .D 4

sehingga diperoleh persamaan :

L V2
Hl f
4 Rh 2 g

11
dari uraian rumus Atkinson :

f L 0,075 K L 2
Hf 2
V
5,2 4 Rh 2 g (60) 5,2 Rh

K PLV2 K S V2
Hf
5,2 A 5,2 A

karena Q = V x A

maka persamaannya adalah:

2
K PL Q
Hf in.water
5,2 A3

dimana :

Hf = friction loss (in.water)


K = faktor gesekan untuk densitas udara standar (lb.min2/ft4)
P = keliling saluran (ft)
L = panjang saluran (ft)
Q = debit udara (cfm)
A = luas penampang saluran (ft2)
V = kecepatan aliran (fpm)
S = rubbing surface (ft2) = PL

b. Julang Kejut (Hx)


Julang kejut terjadi sewaktu udara mengalir pada belokan atau pada perubahan luas
penampang sehingga sebagian energi berubah menjadi percepatan atau perlambatan.
Percepatan terjadi bila udara mengalir pada penampang yang diameternya besar ke
penampang yang mempunyai diamater kecil atau sebaliknya. Perhitungan shock loss
secara langsung adalah :

Hx = x Hv

dimana :
Hx = shock loss (in.water)
x = faktorshock loss

12
Hv = velocity head (in.water)

Perhitungan shock loss dengan equivalent length methode adalah menggambarkan


setiap kehilangan dalam bentuk panjang ekivalen suatu saluran udara lurus. Suatu
persamaan unuk panjang ekivalen dari saluran yang lurus akibat shock loss dapat
diperoleh dengan persamaan yang menyatakan bahwa friction loss dan shock loss
adalah sama, yaitu :

Hx =Hf
K LV2
x Hv
5,2 Rh

w V2 K L V2
x
(1098) 2 5,2 Rh

Panjang ekivalen L dinyatakan dengan Le, maka persamaan menjadi :

5,2 Rh x 3240 Rh x
Le 2

K (1098) 1010 K

dimana :

Le = panjang ekivalen (ft)


Rh = hydraulic radius (ft)
V = kecepatan udara (fpm)
K = faktor gesekan untuk bobot isi standar (lb.min2/ft4)

Dari perhitungan julang kejut (shock loss) dan julang gesek (friction loss) dapat
dihitung nilai dari kehilangan julang (head loss), yaitu :

Hl = Hf + Hx
K P (L Le) Q2
5,2 A 3
Hl =

c. Julang Tambang (Hl)

13
Julang tambang adalah energi yang dibutuhkan untuk mengatasi seluruh kehilangan
julang (head loss) agar terjadi aliran yang diinginkan dalam suatu sistem ventilasi.
Julang tambang terdiri dari :
1) Julang statik (Hs)
Julang statik menyatakan energi yang dibutuhkan oleh system
ventilasi untuk mengatasi seluruh kehilangan julang yang ada
pada suatu aliran.

Hs = Hl = (Hf + Hx)

2) Julang kecepatan (Hv)


Julang kecepatan adalah tekanan yang diperlukan untuk
menghasilkan kecepatan yang diinginkan tanpa memperhitungkan
hambatannya.

V2
2g
Hv =

dimana :

Hv = velocity head (in.water)


V = kecepatan aliran udara (fpm)
g = percepatan grafitasi (ft/det2)
dari persamaan tersebut diperoleh turunan sebagai berikut :

wV2
Hv
(5,2) (64,4) (60) 2

2
V
Hv w
1098
in.water

jika w standar = 0,075 lb/cuft, maka :

2
V
Hv
4009
in.water

3) Julang total (Ht)


Julang total adalah jumlah saluran kehilangan energi dalam sistem ventilasi.

14
Ht = Hv + Hs

2.7 Faktor Gesek K Di Dalam Sistem Ventilasi


Nilai K dari table perlu dikoreksi dengan persamaan :
w
0,075

Kkoreksi= Ktabel x

Keterangan :

W = bobot isi udara (lb/cuft)


0,075 = bobot isi udara standar

2.8 Hukum Kirchoffs


a. Hukum pertama Kirchoffs
Jumlah seri di semua udara yang masuk ke simpangan sama dengan jumlah udara
yang keluar.
Qin = Qout

Q1 + Q4 = Q2 + Q3

b. Hukum kedua Kirchoffs


Jumlah dari seluruh head loss dalam sistem ventilasi adalah 0, atau jumlah dari head
loss pada satu arah sama dengan jumlah head loss dari arah lain.

HL = 0

HL1 + HL2 = HL3 + HL4

2.8 Rangkaian Bukaan Saluran Udara


a. Hubungan seri
Hubungan seri didefinisikan sebagai rangkaian bukaan saluran udara yang terhubung
dari titik awal hingga akhir sehingga kuantitas udara yang mengalir selalu sama untuk
tiap bukaan. Perhitungan jumlah kuantitas dan hambatannya adalah :
Q1 = Q2 = Q3 = Qn
HL = Req x Q2 dengan Req = R1 + R2 + Rn

15
b. Hubungan paralel
Hubungan paralel didefinisikan sebagai rangkaian bukaan saluran udara yang jumlah
kuantitas udaranya merupakan penjumlahan dari masing-masing bukaan. Kuantitas
dan hambatannya adalah :
Q total = Q1 + Q2 + Q3 + Qn

Req / Rn H L (1 / Req )
Dimana Qn = Q dengan Q =

HL = Req x Q2
2
1

1 / R 1 / R ...... 1 / R
1 2 n

Req = Analisa jaringan kompleks

Analisa jaringan kompleks dipergunakan apabila rangkaian bukaan saluran udara


tidak dapat dihitung dengan teknik rangkaian seri maupun paralel. Beberapa istilah
yang dipergunakan dalam analisa jaringan kompleks ini antara lain :

Junction yaitu pertemuan antara tiga bukaan atau lebih jalur udara.
Branch yittu jalur bukaan antara dua junction.
Mesh yaitu sirkuit aliran tertutup.

2.9 Ventilasi Bantu (Auxiliary Ventilation )


Pada tempat-tempat kerja yang kurang terjangkau oleh udara dari kipas angin utama,
maka diperlukan suplai udara untuk memenuhi kebutuhan udara di permuka kerja. Ventilasi
bantu diperlukan terutama pada pekerjaan persiapan atau pembuatan lubang kemajuan
tambang.
Tujuan dari ventilasi bantu adalah :
Menyalurkan udara ke tempat-tempat kerja yang buntu, baik dalam pekerjaan
persiapan maupun produksi.
Mengencerkan atau melarutkan gas-gas, debu dan menurunkan temperatur pada
tempat-tempat kerja sampai batas-batas yang diperkenankan.
Tabel 2.4
Faktor gesekan terhadap pipa dan tabung

Pipe or Tubing Friction factor Faktor Koreksi

K x 1010 lb.min2/ft4 (kg/m3)

16
Good,New Average,Used Good,New Average,Used

Steel 15 (0,0028) 20 (0,0037) 1,00 1,33

Jute,canvas,plastic (flexible) 20 (0,0037) 25 (0,0046) 1,33 1,67

Spiral-type canvas 22,5 (0,0042) 27,5 (0,0051) 1,50 1,83

Jenis pipa udara yang digunakan antara lain :

a. Unsupported flexible duct (flat play), jenis ini mempunyai tahanan (resistance),dan
kebocoran (leakage) yang kecil, fleksibel tetapi tidak dapat digunakan untuk pipa isap
karena pipa mudah menciut.
b. Semi rigid fabric duct (flexaduct), jenis ini mempunyai tahanan dan kebocoran
yang besar, fleksibel, mudah dalam penyambungan dan dapat digunakan untuk pipa
isap (exhaust).
c. Steel duct, jenis ini mempunyai tahanan dan kebocoran yang kecil, tidak fleksibel
dan sulit dalam penyambungan dan pengangkutannya, dapat digunakan untuk pipa
isap maupun hembus.
Pada ventilasi bantu dengan menggunakan kipas angin dan pipa udara ini, dikenal
beberapa sistem yang biasa diterapkan pada pembuatan lubang maju antara lain :
a. Sistem hembus sederhana (simple forcing)
Pada sistem ini udara bersih dihembuskan ke permuka kerja dengan kecepatan yang
cukup tinggi dan udara kotor dari permuka kerja akan mengalir melalui lubang.
Sistem ini menguntungkan karena aliran udara dapat mengencerkan gas dan debu
dengan baik. Kerugiannya udara kotor yang mengandung gas dan debu dari permuka
kerja akan melalui mesin-mesin tambang, operator dan para pekerja lainnya. Agar
pengenceran gas dan debu dapat efektif, jarak ujung pipa ke permuka kerja
dipertahankan maksimum 25 ft ( 7,62 m ).

through fresh air ventilation duct

air

17
fan 7,62 m

Gambar 2.2
Sistem hembus sederhana

b. Sistem hisap sederhana (simple exhaust)


Pada sistem ini udara kotor di permuka kerja diisap oleh kipas angin, sehingga udara
bersih akan mengalir ke permuka kerja. Kadar debu pada udara yang berasal dari
permuka kerja dapat ditentukan dengan menggunakan alat pengumpul debu. Pada
sistem ini biasanya digunakan pipa udara jenis steel duct atau wire flexible.
Supaya pemindahan gas-gas dan debu dapat efektif, maka jarak ujung pipa ke
permuka kerja harus dipertahankan maksimum 49,2 ft (15 m).

return ventilation duct < 15 m

air

fan fresh air

through

air

Gambar 2.3
Sistem isap sederhana

c. Kombinasi menghembus dan menghisap (overlap system)


Pada sistem ini udara bersih dihembuskan ke permuka kerja dan udara kotor dari
permuka kerja diisap oleh kipas angin isap bantu. Sistem ini dibedakan lagi dalam dua
cara yaitu forcing overlap dan exhaust overlap, Pada sistem exhaust overlap

18
udara dihembuskan ke permuka kerja dengan cara diisap oleh kipas angin. Pada
sistem forcing overlap udara diisap dari permuka kerja kemudian dihembuskan
keluar.

overlap distance

10 m < 15 m

fresh fan auxilliary


air duct

fan exhaust duct

Gambar 2.4
Kombinasi sistem isap dan hembus sederhana

19
Kemampuan akan kipas angin bantu untuk dapat memenuhi kebutuhan udara yang
diperlukan dapat dihitung dengan persamaan :

( Hs Hv ) Q
Pa HP
6346

Keterangan :

Pa = daya yang diperlukan untuk mengatasi kehilangan energi (HP)


Hs = static head (in.water)
Hv = velocity head (in.water)

2.10 Perancangan Ventilasi


Prosedur Rancangan :
1. Buat struktur utama dari rencana jalan utama, arah aliran, lokasi kipas angin dll
2. Buat struktur pembantu, yang mendukung sistem utama
3. Gambarkan skema sistem ventilasi dan jaringannya, gabungkan jalur udara kedalam
jaringan
4. Hitung kebutuhan udara di tempat kerja untuk menjamin kecukupan ventilasi.
Perhitungkan juga terhadap kebocoran
5. Distribusikan kuantitas udara dan hitung kebutuhan jalur udara masuk dan kebutuhan
udara tambang
6. Hitung head loss berdasarkan kuantitas dari setiap jalur udara dari sistem ventilasi
7. Tentukan head loss yang melalui split, ganti dengan sirkuit yang sama, dan tentukan
kebutuhan untuk mengatur dari tiap cabang dan mine static head
8. Hitung mine velocity head dari saluran udara keluar sistem ventilasi. Untuk exhaust
system, hal ini tergantung dari pemilihan kipas angin
9. Jumlahkan mine static head dan velocity head untuk mencari mine total head dan Pilih
jenis kipas angin berdasarkan kondisi yang ada

2.11 Jenis-Jenis Ventilasi Udara


Ventilasi udara dapat di bagi menjadi 2 yaitu :
Ventilasi Alami
Ventilasi Mekanis
Ventilasi Alami Adalah proses adanya perbedaan tekanan di luar suatu bangunan/
gedung yang di sebabkan oleh angin dan karena adanya perbedaan temperature.
Ventilasi Mekanis adalah proses nya harus menggunakan bantuan alat atau mesin untuk
menghasilkan perbedaan tekanan atau temperatur sehingga terjadi aliran udara.

20
a. Sistem ventilasi alamiah
Sistem ini terbentuk secara alami seiring dengan terbentuknya bukaan /
penggalian tunnel pada tambang bawah tanah. Dengan adanya lubang bukaan, secara
otomatis udara akan mengalir melalui lubang bukaan tersebut.
b. Sistem Ventilasi Buatan (artificial)
Sistem ventilasi ini dibangkitkan dengan bantuan listrik. Sebagai
alat supply udaranya digunakan fan. Fanpada sistem ini bertugas sebagai pengatur
sirkulasi udara sehingga setiap front kerja pada tambang tersebut akan tersuplai udara
cukup. Untuk itu, sistem ventilasi yang umum digunakan pada tambang bawah tanah
adalah artificial ventilation system. Artificial ventilation system ini adalah sistem
ventilasi buatan dengan memberikan intake udara bersih yang dihasilkan dari fan
blower dan mengeluarkan udara kotor melalui sistem exhaust fan. Sistem jaringan
buatan inilah yang dipergunakan di dalam tambang bawah tanah untuk membuat
sirkulasi udara lancar. Sistem ventilasi sangat tergantung dari ketersediaan dan
karakteristik fan blower dan exhaust.

Sistem ventilasi dibagi menjadi 3 (tiga) berdasarkan penggunaan fannya, yaitu :


1) Sistem forcing
Sistem ini akan memberikan hembusan udara bertekanan positif ke front kerja.
Tekanan positif berarti aliran udara ini mempunyai tekanan lebih besar dibandingkan
udara di atmosfer. Udara dialirkan melalui pipa dimana saluran ventilasi ini
menghubungkan fan dengan front kerja sebagaimana terlihat pada gambar. Dalam
sistem ini, dihembuskan udara bersih ke front.
2) Sistem exhausting
Sistem ini akan memberikan hembusan udara yang berkebalikan dengan
sistem forcing, yaitu bertekanan negatif ke front kerja. Tekanan negatif yang
dimaksud disini adalah tekanan yang dihasilkan oleh proses penghisapan udara. Pada
sistem exhausting, fan diletakkan dekat dengan front kerja, sehingga dapat
memudahkan kerjanya dalam menghisap udara dari front kerja tersebut. Udara yang
dihisap adalah udara kotor atau gas yang tak diinginkan.
3) Sistem overlap
Sistem ini merupakan gabungan dari sistem exhausting dan forcing. Berbeda dengan
kedua sistem diatas, sistem ini menggunakan 2 fan yang memiliki tugas berbeda satu
sama lain. Ada fan yang bertugas menyuplai udara ke front (intake fan), adan fan yang
bertugas untuk menghisap udara dari front(exhausting fan). Tetapi exhaust
fan dipasang lebih mundur (lebih jauh) dari front penambangan. Sedangkan duct akhir
dari intake fan dipasang lebih dekat dengan front penambangan. Hal ini untuk

21
mencegah agar udara yang disuplai langsung dihisap oleh exhaust fan sehingga udara
akan memiliki waktu untuk bersirkulasi pada front penambangan.

Untuk menghasilkan sistem ventilasi yang mampu bersikulasi, ada beberapa


parameter yang perlu diperhatikan yaitu :
1) Kebutuhan udara pada front tambang bawah tanah sebesar 3 m3/menit untuk setiap hp
mesin dan 1 m3/menit untuk setiap pekerja. Tekanan udara akan berbanding terbalik
terhadap luas permukaan saluran tersebut.
2) Head loss, yaitu kehilangan debit udara yang menyebabkan penurunan efisiensi yang
terjadi karena dari sistem ventilasi tersebut. Head loss terjadi karena adanya aliran
udara akibat kecepatan (Hv), gesekan (Hf), dan tikungan saluran / perubahan ukuran
saluran (Hx). Head loss terbesar terjadi apabila ada arus yang dibelokkan dengan
sudut tajam. Grafik di bawah ini menunjukkan penurunan efisiensi (head loss) debit
ventilasi karena tikungan 90 derajat (dipengaruhi oleh diamater flexible/
rigidfaktor duct) dan sudut tikungan.

22
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan tentang Ventilasi Tambang, maka diambil kesimpulan :
1. Ventilasi Tambang merupakan penyaliran udara segar ke dalam tambang bawah tanah
untuk keperluan manusia dan alat.
2. Udara memiliki gradiensi suhu sehingga dengan sendirinya udara panas akan naik
terpisah dan keluar dari tambang bawah tanah (nature ventilation).
3. Udara yang cukup dapat diselidiki dengan kebutuhan pernafasan dan perbandingan
pernafasan.
4. Perencanaan kemajuan ventilasi melibatkan dua faktor utama : Total tingkat volume
aliran udara yang dibutuhkan pada tambang, dan tekanan yang dibutuhkan pada kipas.
5. Hukum hukum mekanika fluida akan selalu diikuti dalam perhitungan ventilasi
tambang.

3.2 Saran
Untuk pengembangan lebih lanjut maka penulis memberikan saran yang sangat
bermafaat dan dapat membantu makalah untuk masa yang akan datang, yaitu :
1. Untuk mengoptimalkan makalah alangkah baiknya penulis dapat mengunjungi/
survey lapangan dan melihat langsung ventilasi tambang yang berada pada tambang
bawah tanah sehingga ventilasi tambang dapat dijabarkan secara rinci.
2. Sumber literatur perlu diperbanyak guna menambah wawasan yang luas bagi penulis
sehingga makalah dapat dijadikan referensi bagi banyak pihak.

23
DAFTAR PUSTAKA

Ade, Nurman. 2012. Pengertian ventilasi Tambang. (online)


http://www.academia.ac.id/2012/02/09/pengertian-ventilasi-
tambang.html. Diaskes pada tanggal 30 Januari 2017.

Aji, Danang. 2011. Jenis Ventilasi Tambang. (online)


http://wordpress.ac.id/2011/06/25/ jenis-ventilasi-tambang.html.
Diaskes pada tanggal 30 Januari 2017.

Rosalia, Nia. 2013. Ventilasi Mekanis dan Alami. (online)


http://www.academia.ac.id/2013/01/04/ventilasi-mekanis-dan-
alami.html. Diaskes pada tanggal 30 Januari 2017.

24