Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK


RESIKO PERILAKU KEKERASAN

OLEH :

Mohammad Asad

Dhiyan Aprilia Sari

Atrik Purwati

Imawati Budiana

Mohammad Fahrudin

Alvan Pratika Utama

Mohammad Wahyu widodo

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2017
A. LATAR BELAKANG

Manusia adalah makhluk social, yang terus menerus membutuhkan adanya orang
lain di sekitarnya. Salah satu kebutuhan manusia untuk melakukan interaksi dengan
sesame manusia. Interaksi ini dilakukan tidak selamanya memberikan hasil yang sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh individu. Sedingga mungkin terjadi suatu gangguan
terhadap kemampuan individu untuk interaksi dengan orang lain.
Salah satu contoh gangguan interaksi dengan orang lain (gangguan berhubungan
social) klien menarik diri, curiga. Alas an untuk memilih menarik diri, curiga dalam
terapi aktivitas kelompok, karena banyak klien menarik diri yang ditemui di ruangan dan
sesuai dengan kebutuhan ruangan sebagai transisi dimana klien perlu belajar untuk
interaksi.
Kelompok adalah kumpulan individu yang memilih hubungan satu dengan yang
lain (struart & Laraia 2001). Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar
belakang yang harus ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut,
kebencian, kompetitif, kesamaan ketidaksamaan, kesukaan dan menarik (Yalom, 1995
dalam Stuart & Laria 2001).
Terapi kelompok adalah suatu psikotherapi yang dilakukan oleh sekelompok
penderita bersama-sama dengan jalan diskusi satu sama lain yang dipimpin, diarahkan
oleh terapis/ petugas kesehatan yang telah dilatih.
Terapi aktivitas kelompok itu sendiri mempermudah psikoterapi dengan sejumlah
klien dalam waktu yang sama. Manfaat terapi aktivitas kelompok, agar klien dapat
belajar kembali bagaimana cara bersosialisasi dengan orang lain, sesuai dengan
kebutuhannya memperkenalkan dirinya. Menanyakan hal-hal yang sederhana dan
memberikan respon terhadap pertanyaan yang lain. Sehingga klien dapat berinteraksi
dengan orang lain dan dapat merasakan arti berhubungan dengan orang lain.
Pada klien dengan perilaku kekerasan selalu cenderung untuk melakukan
kerusakan atau mencederai diri, orang lain, atau lingkungan. Dan perilaku kekerasan
tidak jauh dari kemarahan. Kemarahan adaah perasaan jengkel yang timbul sebagai
respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman. (Keliat, 1996)
Ekspresi marah yang segera karena suatu sebab adalah wajar dan hal ini kadang
menyulitkan karena secara cultural ekspresi marah yang tidak diperbolehkan. Oleh
karena itu, marah sering diekspresikan secara tidak langsung.
Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan Keperawatan pada pasien dengan
gangguan penyakit jiwa, Jilid III Edisi I, Hlm 52 tahun 1996 : Marah adalah
pengalaman emosi yang kuat dari individu dimana hasil / tujuan yang harus dicapai
terhambat.
Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit sendiri
dan mengganggu hubungan interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan langsung
dan tidak konstruktif pada waktu terjadi akan melegakan individu dan membantu
mengetahui tentang respon kemarahan seseorang dan fungsi positif marah.
Atas dasar tersebut, maka kami menganggap dengan terapi aktivitas kelompok
(TAK) klien dengan perilaku kekerasan dapat tertolong dalam hal sosialisasi dengan
lingkungan sekitarnya, tentu saja klien yang mengikuti terapi ini adalah klien yang
mampu mengontrol dirinya dari perilaku kekerasan sehingga saat TAK klien dapat
bekerjasama dan tidak mengganggu anggota kelompok lain.

B. PENGERTIAN TAK
Terapi Aktivitas Kelompok adalah suatu psikoterapi yang dilakukan oleh
sekelompok penderita bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang
dipimpin, diarrahkan oleh seorang terapis/petugas kesehatan yang telah terlatih.

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok.
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat memperkenalkan dirinya
b. Klien bertanya dan meminta sesuai dengan kebutuhan kepada orang lain
c. Klien dapat menyalurkan emosi memberi kesempatan untuk menyalurkan
emosinya dan di dengar serta dimengerti oleh anggota kelompok lainnya.
d. Meningkatkan ketrampilan hubungan social untuk diterapkan sehari-hari.
e. Melatih kesabaran, konsentrasi dan kreatifitas.

D. LANDASAN TEORI
1. Definisi Perilaku Kekerasan
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang
lain, maupun lingkungan (Fitria, 2009).
Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai
atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku
tersebut (Purba dkk, 2008).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri, maupun orang
lain (Yoseph, 2007).

2. Penyebab Perilaku Kekerasan

Menurut Stearan , kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang


tidak enak, cemas, tegang, demam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan
akan status, dan prestise yang tidak terpenuhi.
a. Frustasi : seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan /
keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa
terancam dan cemas. Jika tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara
lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan
kekerasan.
b. Hilangnya harga diri : pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang
sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu
tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, gampang
tersinggung, gampang marah, dan sebagainya.
c. Kebutuhan akan status dan pretise ; manusia pada umumnya mempunyai
keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.

3. Rentang Respon Marah


Respon kemarahan dapat di fluktuasi dalam rentang adaptif mal adaptif.
Rentang respon kemarahan dapat digambarkan sebagai berikut ; (Keliat, 1997, hlm 6)
a. Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang
lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.
b. Frustasi adalah respon yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan.
Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan. Akibat dari
ancaman tersebut dapat menimbulkan kemarahan.
c. Pasif adalah respon dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang
dialami.
d. Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol
oleh individu. Orang agresif bisaanya tidak mau mengetahui hak orang lain. Dia
berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan
sendiri dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain.
e. Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan
control diri. Pada keadaan ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun
terhadap orang lain.

4. Proses Marah
Strees, cemas, marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus
dihadapi oleh setiap individu. Strees dapat menyebabkan kecemasan yang
menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan dapat
menimbulkan kemarahan.

5. Gejala Marah
Kemarahan dinyatakan dalam berbagai bentuk, ada yang menimbulkan
pengrusakan, tetapi ada juga yang hanya diam seribu bahasa.
Gejala-gejala atau perubahan-perubahan yang timbul pada klien dalam
keadaan marah diantaranya sebagai berikut :
a. Perubahan Fisioligik : tekanan darah meningkat, denyut nadi dan pernapasan
meningkat, pupil dilatasi, tonus otot meningkat, mual, frekuensi buang air besar
meningkat, kadang-kadang konstipasi, refleks tendon tinggi.
b. Perubahan Emosional : mudah tersinggung, tidak sabar, frustasi, ekspresi wajah
tampak tegang, bila mengamuk kehilangan control diri.
c. Perubahan Perilaku : agresif pasif, menarik diri, bermusuhan, sinis, curiga,
mengamuk, nada suara keras dan kasar.

6. Perilaku Marah
Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :
a. Menyerang atau menghindar (fight of flight)
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena system syaraf otonom bereaksi
terhadap sekresi
b. Menyatakan secara asertif (assertiveness)
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya
yaitu dengan perilaku pasif, agresif, dan asesif. Perilaku asertif adalah cara yang
terbaik untuk mengekspresikan marah karena individu dapat mengekspresikan
rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikologis. Di
samping itu perilaku ini dapat juga untuk mengembangkan diri klien.
c. Memberontak (acting out)
Perilaku yang muncul basanya disertai akibat konflik perilaku acting out untuk
menarik perhatian orang lain.
d. Perilaku kekerasan
Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain,
maupun lingkungan.

7. Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan
strees, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan
yang digunakan untuk melindungi diri. (Stuart dan Sundeen, dalam Nasir 2013)
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena adanya
ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk
melindungi diri antara lain ( Maramis, 1998) :
a. Sublimasi : menerima suatu pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat
untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyaluran secara normal.
Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek
lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok, dan sebagainya, tujuannya
adalah untuk mengurangi ketagangan akibat rasa marah.
b. Proyeksi : menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya
yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia
mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh
bahwa temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.
c. Resepsi : mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk
kealam sadar. Misalnya : seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya
yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya
sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan
dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat
melupakannya.
d. Reaksi formasi : mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan
melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya
sebagai rintangan. Misalnya seseorang yang tertarik pada teman suaminya, akan
memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
e. Displacement : melepaskan perasaan yang tertekan bisaanya bermusuhan, pada
obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya membangkitkan
emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat
hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai
bermain perang-perangan dengan temannya.
E. METODE AKTIVITAS KELOMPOK

Metode yang digunakan pada terapi aktivitas kelompok (TAK) ini adalah metode :

1. Diskusi dan Tanya Jawab


2. Melengkapi jadwal harian
3. Bermain peran / simulasi
4. Dinamika kelompok
5. Kegiatan TAK ini terdiri dari 5 sesi yaitu :
a. Sesi 1 : Mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
b. Sesi 2 : Mencegah Perilaku Kekerasan dengan patuh mengonsumsi obat
c. Sesi 3 : Mencegah perilaku kekerasan fisik
d. Sesi 4 : Mencegah Perilaku Kekerasan Sosial
e. Sesi 5 : Mencegah Perilaku Kekerasan Spiritual

F. TUJUAN
1. Sesi 1
a. Klien dapat menyebutkan stimulasi penyebab kemarahannya.
b. Klien dapat menyebutjan respons yang dirasakan saat marah (tanda dan gejala
marah).
c. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (perilaku kekerasan).
d. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan.
2. Sesi 2
a. Klien dapat menyebutkan keuntungan patuh minum obat.
b. Klien dapat menyebutkan akibat/ kerugian tidak patuh minum obat.
c. Klien dapat menyebutkan lima cara minum obat.
3. Sesi 3
a. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
b. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan.
c. Klien dapat mendemonstrasikan dua kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku
kekerasan.
4. Sesi 4
a. Klien dapat mengungkapkan keinginan dan pemerintah tanpa memaksa
b. Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan.
5. Sesi 5
a. Klien dapat melakukan kegiatan ibadah secara teratur.

G. PERSIAPAN
1. Kriteria Anggota
Klien sebagai anggota yang mengikuti therapy aktivitas kelompok ini adalah
a. Klien yang tidak terlalu gelisah
b. Klien yang bisa kooperatif dan tidak mengganggu berlangsungnya Terapi Aktifitas
Kelompok.
c. Klien tindak kekerasan yang sudah sampai tahap mampu berinteraksi dalam
kelompok kecil
d. Klien tenang dan kooperatif
e. Kondisi fisik dalam keadaan baik
f. Mau mengikuti kegiatan terapi aktifitas

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Terapi aktifitas kelompok ini dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal : Sabtu, 07 November 2017
Waktu : 14.00 15.00
Tempat : Ruang Kutilang
3. Nama Klien
Klien yang mengikuti kegiatan TAK berjumlah 4 orang, adapun nama-nama kien yang
akan mengikuti TAK yaitu :
1. Sdr. Alvan
2. Sdr. Udin
3. Sdr. Ima
4. Sdr. Atrik
4. Media dan Alat
TAK ini tidak menggunakan alat atau media yang spesifik, penggunaan alatnya hanya
berdasar apa yang ada di ruangan saja seperti :
a. Papan tulis / flipchart / whiteboard.
b. Kapur / Spidol.
c. Buku catatan dan pulpen
d. Jadwal kegiatan klien
e. Bantal.
5. Susunan Acara
a. Leader : Mohammad Asad
b. Co Leader : Dian Aprilia Sari
c. Fasilitor : Mohammad Wahyu Widodo
d. Observer : Imawati Budiana

Uraian Tugas Pelaksanaan


a. Leader
Tugas :
1) Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan menciptakan
situasi dan kondisi yang memungkinkan klien termotifasi untuk mengekspresikan
perasaannya.
2) Auxilergy Ego, yaitu sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau
mendominasi
3) Koordinasi, yaitu mengarahkan proses kegiatan pencapaian tujuan dengan cara
memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan.
b. Co Leader
Tugas :
1) Membuka acara
2) Mendampingi leader
3) Mengambil posisi leader jika leader blocking
4) Menyerahkan posisi kembali kepada leader
5) Menutup acara diskusi
c. Fasilitator
Tugas :
1) Mempertahankan kehadiran peserta
2) Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta
3) Mencegah gangguan dan hambatan terhadap kelompok baik luar maupun dalam
kelompok.
d. Observer
Tugas :
1) Mengidentifikasi kedalam kegiatan
2) Mengidentifikasi strategi yang digunakan leader
3) Mengamati dan mencatat
4) Jumlah anggota yang hadir
5) Siapa yang terlambat
6) Daftar hadir
7) Siapa yang memberi pendapat atau ide
8) Toik diskusi
9) Mencatat moddifikasi strategi untuk kelompok yang akan datang
10) Memprediksi respon anggota kelompok pada sission berikutnya.
6. Tata Tertib dan Program Antisipasi
a. Tata tertib :
1) Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK
2) Berpakaian rapid an bersih
3) Peserta tidak diperkenankan makan, minum dan merokok selama kegiatan TAK
4) Peserta tidak boleh meninggalkan ruangan sebelum tata tertib dibacakan selama
5 menit, dan bila peserta tidak kembali ke ruangan maka peserta tersebut diganti
peserta cadangan.
5) Peserta tidak diperkenankan meninggalkan ruangan setelah tata tertib dibacakan.
Bila peserta meninggalkan ruangan dan tidak bisa mengikuti kegiatan lain
setelah dibujuk oleh fasilitator, maka peserta tersebut tidak dapat diganti oleh
peserta cadangan.
6) Paserta hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai
7) Peserta yang ingin mengajukan pernyataan, mengangkat tangan terlebih dahulu
dan berbicara setelah dipersilahkan.
b. Program Antisipasi
1)Usahakan dalam keadaan terapeutik
2) Anjurkan kepada terafis agar dapat menjaga perasaan anggota kelompok,
menahan diri untuk tertawa atau sikap yang menyinggung.
3) Bila ada peserta yang direncanakan tidak bisa hadir, maka diganti oleh cadangan
yang telah disiapkan dengan cara ditawarkan terlebih dahulu kepada peserta.
4) Bila ada peserta yang tidak menaati tata tertib, diperingatkan dan jika tidak bisa
diperingatkan, dikeluarkan dari kegiatan setelah dilakukan penawaran.
5) Bila ada anggota cadangan yang ingin keluar, bicarakan dan dimintai
persetujuan dari peserta TAK yang lain.
6) Bila ada peserta TAK yang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan
tujuan, leader memperingatkan dan mengarahkan kembali bila tidak bisa,
dikeluarkan dari kelompok.
7) Bila peserta pasif, leader memotivasi dibantu oleh fasilitator.

F. RENCANA PELAKSANAAN
Sesi 1

1. Persiapan
a. Memilih klien perilaku kekerasan yang sudah kooperatif
b. Membuat kontrak dengan klien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dan terapis pada klien
2) Perkenalan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
3) Menanyakan nama panggilan semua klien (beri papan nama)
b. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien pada saat ini
2) Menanyakan masalah yang dirasakan.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu mengenal perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan.
2) Menjelaskan aturan main berikut ;
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok harus minta ijin terlebih
dahulu kepada terapis
b) Lama kegiatan 45 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Mendiskusikan penyebab marah.
1) Tanyakan pengalaman tiap klien
2) Tulis dipapan tulis
b. Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirassakan klien saat terpapar oleh penyebab
marah sebelum perilaku kekerasan terjadi.
1) Tanyakan perasaan tiap klien saat tepapar oleh penyebab (tanda gejala)
2) Tulis dipapan tulis
c. Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan (verbal, merusak
lingkungan, menciderai / memukul orang lain, dan memukul diri sendiri)
1) Tanyakan perilaku yang dilakukan saat marah
2) Tulis dipapan tulis
d. Membantu klien memilih salah satu perilaku kekerasan yang paling sering
dilakukan untuk diperagakan
e. Melakukan bermain peran/ stimulasi untuk perilaku kekerasan yang tidak
berbahaya (terapis sebagai sumber penyebab dan klien yang melakukan perilaku
kekerasan).
f. Menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain peran/ stimulasi
g. Mendiskusikan dampak/ akibat perilaku kekerasan
1) Tanyakan akibat perilaku kekerasan
2) Tulis di papan tulis.
h. Memberikan reinforcement pada peran serta klien
i. Dalam menjalankan a sampai h, upayakan semua klien terlibat.
j. Berikan kesimpulan penyebab, tanda dan gejala, perilaku kekerasan, dan akibat
perilaku kekerasan
k. Menanyakan kesediana klien untuk mempelajari cara baru yang sehat menghadapi
kemarahan.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Memberikan reinforcement positif terhadap perilaku klien yang positif
b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi penyebab perilaku
kekerasan, yaitu tanda gejala, perilaku kekerasan yang terjadi, serta akibat
perilaku kekerasan.
2) Menganjurkan klien mengingat penyebab, tanda dan gejala perilaku kekerasan
dan akibatnya yang belum diceritakan.
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati untuk belajar cara baru yang sehat untuk mencegah perilaku
kekerasan.
2) Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

Sesi 2

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 2
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Klien dan terapis pakai papan nama.
b. Evaluasi/ validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta
perilaku kekerasan.
3) Tanyakan apa kegiatan, yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku kekerasan
sudah dilakukan.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku
kekerasan.
2) Menjelaskan aturan main berikut;
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta ijin
kepada terapis.
b) Lama kegiatan 45 menit.
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap kerja
a. Mendiskusikan macam obat yang dimakan klien: nama dan warna.
b. Mendiskusikan waktu minum obat yang biasa dilakukan klien.
c. Tuliskan di whithboard hasil a dan b
d. Menjelaskan lima benar minum obat, benar obat, benar waktu, benar orang yang
minum obat, benar cara minum obat, benar dosisminum obat.
e. Minta klien menyebutkan lima cara minum obat, secara bergiliran.
f. Berikan pujian pada klien yang benar.
g. Mendiskusikan perasaan klien sebelum minum obat (catat di whithboard).
h. Mendiskusikan peranan klien setelah teratur minum obat (catat di whithboard.
i. Menjelaskan keuntungan minum patuh minum obat, yaitu salah satu cara
mencegah kejadian perilaku kekerasan/ kambuh.
j. Minta klien menyebutkan kembali keuntungan patuh minum obat dan kerugian
tidak patuh minum obat.
k. Memberikan pujian setiap kali klien benar.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasan klien setelah mengikuti TAK.
2) Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
3) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban benar,
b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi sosial yang
asertif, kegiatan ibadah, dan patuh minum obat untuk mencegah perilaku
kekerasan terjadi.
2) Masukkan minum obat pada jadwal kegiatan harian klien
c. Kontrak yang akan datang
Mengakhiri pertemuan untuk TAK perilaku kekerasan, dan disepakati jika klien
perlu TAK yang lain.

Sesi 3
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 1
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien.
2) Klien dan terapis pakai papan nama.
b. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini.
2) Menanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan, penyebab, tanda dan
gejala, perilaku kekerasan serta akibatnya.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu cara fisik untuk mencegah perilaku
kekerasan
2) Menjelaskan aturan main berikut.
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta ijin
kepada terapis.
b) Lama kegiatan 45 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap kerja
a. Mendiskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan oleh klien.
1) Tanyakan kegiatan: rumah tangga, harian, dan olah raga yang biasa dilakukan
klien
2) Tulis dipapan tulis/ flipchart/ whiteboard.
b. Menjelaskan kegiatan fisik yang dapat digunakan untuk menyalus=rkan
kemarahan secara sehat : tarik nafas dalam, menjemur/ memukul kasur/ bantal,
menyikat kamar mandi, dan memukul gendang.
c. Membantu klien memilih dua kegiatan yang dapat dipilih.
d. Bersama klien mempraktikan dua kegiatan yang dipilih.
1) Terapis mempraktikan
2) Klien melakukan rekomendasi.
e. Menanyakan perasaan klien setelah mempraktikan cara menyalurkan kemarahan.
f. Memberikan pujian pada peran serta klien.
g. Upayakan semua klien berperan aktif..
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Menayakan ulang cara baru yang sehat mencegah perilaku kekerasan.
b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari jika stimulasi
penyebab perilaku kekerasan.
2) Menganjurkan klien melatih secara teratur cara yang telah dipelajari
3) Memasukkan pada jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu interaksi sosial yang
asertif.
2) Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.
Sesi 4

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 2
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Klien dan terapis pakai papan nama.
b. Evaluasi/ validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta
perilaku kekerasan.
3) Tanyakan apa kegiatan, yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku kekerasan
sudah dilakukan.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku
kekerasan.
2) Menjelaskan aturan main berikut;
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta ijin
kepada terapis.
b) Lama kegiatan 45 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja
a. Mendiskusikan dengan klien cara bicara jika meminta sesuatu dari orang lain.
b. Menuliskan cara- cara yang dituliskan klien.
c. Terapis mendemontrasikan cara meminta sesuatu tanpa paksaan, yaitu saya
perlu/ ingin/ minta..., yang saya gunakan untuk...
d. Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin
c
e. Ulang d sampai semua klien mencoba.
f. Memberian pujian pada peran serta klien.
g. Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa sakit hati pada
orang lain, yaitu saya tidak dapat melakukan... atau saya tidak menerima
dikatakan... atau saya kesal dikatakan seperi....
h. Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin
d.
i. Ulang h sampai klien mencoba.
j. Memberikan pujian pada peran serta klien.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasan klien setelah mengikuti TAK.
2) Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
3) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban benar,
b. Tindak lanjut
1) menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi sosial yang
asertif, jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi.
2) Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif
secara teratur.
3) Memasukkan interaksi sosial yang asertif pada jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang.
1) Menyepakiti untuk belajar cara baru yang lain, yaitu kegiatan ibadah.
2) Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

Sesi 5

1. Persiapan
c. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 2
d. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Klien dan terapis pakai papan nama.
b. Evaluasi/ validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta
perilaku kekerasan.
3) Tanyakan apa kegiatan, yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku kekerasan
sudah dilakukan.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku
kekerasan.
3) Menjelaskan aturan main berikut;
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta ijin
kepada terapis.
b) Lama kegiatan 45 menit.
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap kerja
a. Menanyakan agama dan kepercayaan masing- masing klien.
b. Mendiskusikan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan masing-masing klien.
c. Menuliskan kegiatan ibadah masing- masing klien.
d. Meminta klien untuk memilih satu kegiatan ibadah.
e. Meminta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih.
f. Memberikan pujian pada penampilan klien.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasan klien setelah mengikuti TAK.
2) Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
3) Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban benar,
b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi sosial yang
asertif, jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi.
2) Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif
secara teratur.
3) Memasukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu minum obat teratur.
2) Menyepakati waktu dan tempat pertemuan berikutnya.
4) Kontrak yang akan datang

I. EVALUASI DAN DOKUMENTSI

1. Sesi 1
a. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk
TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 2, kemampuan yang diharapkan
adalah 2 kemampuan mencegah perilaku kekerasan secara fisik.

Sesi 1 TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan psikologis
No Nama klien Penyebab Memberi tanggapan tentang
Tanda & gejala PK PK Akibat PK
PK
1
2
3
4
5

b. Dokumentasi.
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catat proses
keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti sesi 1, TAK stimulasi persepsi
perilaku kekerasan Klien mampu menyebutkan penyebab perilaku kekerasannya
(disalahkan dan tidak diberi uang), mengenal tanda dan gejala yang dirasakan,
perilaku kekerasan yang dilakukan, akibat yang dirasakan. Anjurkan klien
mengingat dan menyampaikan jika semua dirasakan selama di rumah sakit.

2. Sesi 2
a. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk
TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 5, kemampuan yang diharapkan
adalah mengetahui lima benar cara minum obat, keuntungan minum obat, dan
akibat tidak patuh minum obat.

Sesi 2 TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan dengan patuh minum obat

N Nama klien Menyebutkan lima Menyebutkan Menyebutkan akibat


o benar minum obat keuntungan minum tidak patuh minum
obat obat
1
2
3
4
5

b. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti sesi 5, TAK stimulasi persepsi
perilaku kekerasan. Klien mampu menyebutkan lima benar minum obat, belum
dapat menyebutkan keuntungan minum obat dan akibat tidak minum obat. Anjurkan
klien mempraktikan lima benar cara minum obat, bantu klien merasakan
keuntungan minum obat, dan akibat tidak minum obat.
Sesi 3
a. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK
stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 2, kemampuan yang diharapkan adalah 2
kemampuan mencegah perilaku kekerasan secara fisik.
Sesi 3 TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan fisik

No Nama Klien Mempraktikan cara fisik Mempraktikan cara fisik


yang pertama yang kedua
1
2
3
4
5

b. Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi dua TAK stimulasi persepsi
perilaku kekerasan, yaitu mampu mempraktikan tarik nafas dalam, tetapi belum
mampu mempraktikan pukul kasur dan bantal. Anjurkan dan bantu klien
mempraktikan di ruang rawat (buat jadwal).
4. Sesi 4
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK
stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 3, kemampuan yang diharapkan adalah 2
kemampuan mencegah perilaku kekerasan secara sosial.
Sesi 4 TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan sosial

No Nama klien Memperagakan Memperagakan cara Memperagakan cara


meminta tanpa menolak yang baik mengungkapkan
paksaan kekerasan yang baik.
1
2
3
Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan
proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti sesi 3 TAK stimulai perilaku
kekerasan. Klien mampu memperagakan cara meminta tanpapaksa, menolak dengan
baik dan mengungkapkan kekes=rasan. Anjurkan klien mempraktikan di ruang rawat
(buat jadwal).
5. Sesi 5
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk
TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 4, kemampuan yang diharapkan adalah
2 kegiatan ibadah untuk mencegah kekerasan. Formulir evaluasi sebagai berikut.
Sesi 5 TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan spiritual

No Nama klien Mempraktikan kegiatan ibadah Mempraktikan kegiatan ibadah


pertama kedua
1
2
3
4
5

a. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti sesi 4, TAK stimulasi persepsi
perilaku kekerasan. Klien mampu memperagakan dua cara kegiatan ibadah.
Anjurkan klien melakukannya secara teratur di ruangan (buat jadwal).