Anda di halaman 1dari 42

FIQH MUAMALAH DAN KONSEP AKAD

Sebagaimana pada pembahasan sebelumnya bahwa untuk dapat


mencapai falah sebagai tujuan hidup manusia di dunia, manusia
dituntut untuk mengetahui bagaimana cara dan syarat suatu perilaku
atau perekonomian dikatakan benar menurut Islam. salah satu caranya
dengan mengakses dua sumber Informasi, di samping fakta empiris
(ayat kauniyah) adalah syariah Islam sebagai pemberitahuan langsung
dari pencipta alam semesta ini (ayat kauliyah) yang salah satu fungsinya
adalah memberikan kontrol terhadap perilaku manusia agar manusia terselamatkan dari
tindakan yang merugikan, yaitu jauh dari falah. Dalam hal ini syariah lebih dikenal
sebagai fiqih.
Salah satu bagian dari pembahasan dan kajian fikih adalah
muamalah dengan pembahasan pokoknya adalah tentang konsep
akad. Oleh karena itu, pada bagian ini diketengahkan pembahasan
mengenai fikih muamalah dan konsep akad.

A. Apa itu Fiqh Muamalah


Dari Abi Qutaibah Ad-Dinaury, berkata: bahwa fiqh menurut
bahasa ialah faham. Misalnya firman Allah Swt.





dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya,

tetapi kamu sekalian tidak mengerti (memahami) tasbih mereka . (QS.


Al-Israa: 44)
Ilmu disebut fiqh, karena dari faham itu, lalu timbullah ilmu.
Orang alim disebut faqih, karena ia dikenal sebagai orang berilmu
disebabkan fahamnya. Orang Arab biasa menamakan sesuatu dengan
sebab yang menjadikan adanya sesuatu tersebut.
Menurut istilah, fiqh adalah pengetahuan (pemahaman) tentang
hukum-hukum syara yang berhubungan dengan amaliyah manusia
berdasarkan atas dalil-dalil yang jelas dan terperinci. Dari pengertian
fiqh di atas fiqh memiliki beberapa jenis. yaitu : Ibadah, Muamalah,
Munakahah, Siyasah, Jinayah dll.
Sedangkan muamalah berasal dari kata Bentuk Masdar

dari - Artinya : Saling bertindak, saling berbuat,


saling mengamalkan.
Sedangkan Muamalah (secara Luas), menurut beberapa ulama
adalah Suatu aktivitas keduniaan untuk mewujudkan keberhasilan
akhirat sebagaimana yang diungkapkan oleh Menurut Ad-Dimyathi
sedangkan menurut Yusuf Musa muamalah itu adalah Peraturan-
peraturan Allah yang harus diikuti dan ditaati dalam hidup
bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia jadi Segala
peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan manusia
dengan manusia dalam kehidupannya. Dengan demikian dengan kata
lain Muamalah adalah : Aturan-aturan Allah untuk mengatur manusia
dalam kaitannya dengan urusan duniawi dalam pergaulan sosial.
Dalam konteks muamalah dalam makna luas, Ibnu Abidin
membagi muamalah kepada 5 bidang:
1. Muawadhah Maliyah (hukum kebendaan)
2. Munakahat (Hukum perkawinan)
3. Muhasanat (Hukum Acara)
4. Amanat dan Ariyah (Pinjaman)
5. Tirkah (harta warisan)
Adapun muamalah dalam pengertian yang sempit menurut
Khudhari Byk adalah semua akad yang membolehkan manusia
saling menukar manfaatnya.
Sedangkan menurut Rasyid Ridha muamalah itu ialah Tukar
menukar barang atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara yang
ditentukan.
Lain halnya dengan Dr.Mustafa Ahmad az-Zarqa, beliau
memberikan pengertian muamalah dengan Hukum-hukum tentang
perbuatan manusia yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia
mengenai harta kekayaan, hak-hak dan penyelesaian sengketa.
Dari beberapa definisi muamalah di atas dapat disimpulkan

bahwa muamalah dalam arti sempit adalah: Aturan-aturan Allah yang

mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan

mengembangkan harta benda atau Muamalah ialah aturan tentang kegiatan

ekonomi manusia
Perbedaan Pengertian Muamalah dalam arti sempit dan luas

adalah dalam cakupannya. dalam pengertian luas mencakup munakahat,

warisan, politik, pidana.

Sedangkan dalam makna sempit cakupannya hanya tentang ekonomi

(iqtishadiyah).

1. Prinsip Hukum Muamalah


Dalam ibadah kaidah hukum yang berlaku adalah bahwa semua hal dilarang,
kecuali yang ada ketentuannya berdasarkan Alquran dan Al-Hadis, sedangkan dalam
urusan muamalah, semuanya diperbolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya.

Hukum Asal

Ibadah Muamalah

Semua Tidak Boleh Kecuali yang ada ketentuannya


Semua boleh kecuali ada larangannya
Gambar 6. Hukum Asal dalam Syariah Islam

Secara lebih lengkap prinsip hukum muamalah disajikan dalam diagram berikut
ini:

Gambar 7. Prinsip Hukum Muamalah

Muamalah dan ibadah merupakan dua hal yang berbeda


terutama dalam prinsip hukumnya. perbedaan prinsip antara dua
wilayah syariah ini secara lebih lengkap dipaparkan dalam tabel
berikut ini:

Perbedaan Prinsip Ibadah dan Muamalah

N IBADAH MUAMALAH
o

1 Bersifat tetap (( Bersifat Elastis ((

2 Tidak bisa berkembang Dapat berkembang sesuai dengan


zaman & tempat

3 Bersifat khusus,eksklusif Bersifat universal, inklusif

4 Nash-nash lebih terinci Nash-nash umumnya general


(tafshili)

5 Peluang Ijtihad sempit Peluang ijtihad luas

Tabel 1. Perbedaan Prinsip Ibadah dan Muamalah


B. Konsep Akad
1. Pengertian Akad
Dalam konsep fiqih Muamalah akad atau kontrak, menurut fuqaha adalah:

mengikat, menyambung atau menghubungkan (ar-rabt). Sebagai suatu istilah dalam hukum
Islam, akad dapat dipahami dengan beberapa pengertian, pertama, akad adalah keterkaitan atau pertemuan
ijab dan qabul yang berakibat timbulnya akibat hukum. Ijab adalah penawaran yang diajukan oleh salah
satu pihak, dan qabul adalah jawaban persetujuan yang diberikan mitra akad sebagai tanggapan terhadap
penawaran pihak yang pertama. Akad tidak akan terjadi apabila pernyataan kehendak masing-masing pihak
tidak terkait satu sama lain, karena akad adalah keterkaitan kehendak kedua belah pihak yang tercermin
dalam ijab dan qabul. Kedua, akad merupakan tindakan hukum dua pihak karma akad adalah pertemuan
ijab yang mempresentasikan kehendak dari satu pihak dan qabul yang menyatakan kehendak pihak lain.
Ketiga, tujuan akad adalah untuk melahirkan suatu akibat hukum, lebih tegas lagi tujuan akad adalah
maksud bersama yang dituju dan yang hendak diwujudkan oleh para pihak melalui pembuatan akad.

Di dalam fiqih muamalah, konsep akad dibedakan dengan konsep waad (janji).
Waad adalah janji antara satu pihak kepada pihak lainnya, yang mengikat satu pihak
saja, yaitu pihak yang memberi janji berkewajiban untuk melaksanakan kewajibannya,
sedangkan pihak yang diberi janji tidak memikul kewajiban apa-apa terhadap pihak
lainnya. Dalam waad, terms and condition-nya belum ditetapkan secara rinci dan
spesifik, sehingga pihak yang melakukan wanprestasi (tidak memenuhi janjinya), hanya
akan menerima sanksi moral saja tanpa ada sanksi hukum.
Dalam berurusan sesama manusia, masyarakat perlu memahami konsep akad
dalam Islam agar semua urusan yang dilakukannya menepati garis panduan yang
ditetapkan oleh Islam. Sekaligus, kefahaman yang diiringi dengan kepatuhan terhadap
rukun-rukun dan syarat-syarat akan menyebabkan semua hak mereka yang terlibat dalam
akad dapat dipelihara.
Kedudukan akad sangat penting untuk membedakan baik sesuatu urusan atau
urusan niaga itu sah atau tidak mengikuti syara. Justru, penggunaan akad yang tepat
untuk melakukan sesuatu urusan perlu diambil oleh setiap individu.
Sekiranya akad tersebut sah, maka ia akan mewujudkan tanggungjawab dan hak
di kalangan pihak-pihak yang berakad. Sebagai contoh, seseorang menyerahkan sejumlah
uang dengan menggunakan akad bai' (jual beli), maka hendaklah orang yang menerima
uang tersebut menggantikannya dengan barang yang diminta oleh pembeli.
Jika individu tersebut menyerahkan uangnya dengan menggunakan kontrak
tabarru', maka ia tidak memerlukan barang pengganti dan pertukaran dalam bentuk
barang atau jasa. Ia adalah percuma dan diberikan mungkin disebabkan derma, wakaf,
sedekah, hadiah dan sebagainya.
Jika ia menyerahkan uang dengan menggunakan kontrak qard (pinjaman), maka
si penerima perlu membayar kembali jumlah uang yang diterimanya tanpa melebihi kadar
yang disumbangkan. Kita dapat lihat melalui contoh-contoh tersebut perbedaan yang
terlihat di antara kontrak-kontrak yang dilaksanakan.
Secara umum tujuan akad dapat dikategorikan menjadi lima bagian, yaitu sebagai
berikut:
1. Pemindahan milik dengan imbalan ataupun tanpa imbalan (at-Tamlik).
2. Melakukan pekerjaan (al-amal).
3. Melakukan persekutuan (al-Isytirak).
4. Melakukan pendelegasian (at-Tafwidh).
5. Melakukan penjaminan (at-Tautsiq).
Pemindahan milik meliputi pemindahan milik atas benda dan pemindahan milik
atas manfaat. Jual-beli adalah akad untuk memindahkan milik atas benda dengan
imbalan. Hibah adalah pemindahan milik atas benda tanpa imbalan. Sewa-menyewa
adalah pemindahan milik atas manfaat dengan imbalan. Pinjam pakai adalah akad
pemindahan milik atas manfaat benda tanpa imbalan. Muzaraah adalah akad untuk
melakukan pekerjaan. Mudharabah adalah akad untuk melakukan persekutuan modal dan
usaha guna membagi hasilnya. Wakalah (pemberian kuasa) adalah akad untuk melakukan
pedelegasian. Kafalah (penanggungan) adalah akad untuk melakukan penjaminan.
Untuk merealisasikan hukum pokok akad, maka para pihak memikul beberapa
kewajiban yang sekaligus merupakan hak pihak lain. Misalnya, dalam akad jual-beli,
penjual berkewajiban menyerahkan barang yang merupakan hak pembeli, dan pembekli
berkewajiban menyerahkan harga yang merupakan hak penjual. Hak dan kewajiban ini
disebut hak-hak akad, dan disebut juga akibat hukum tambahan akad. Akibat hukum
tambahan akad ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu akad hukum yang ditentukan
oleh syariah dan akibat hukum yang ditentukan oleh para pihak sendiri.
2. Rukun-Rukun Akad
Kontrak-kontrak dalam Islam mengandungi rukun dan syarat yang perlu dipatuhi.
Kegagalan memenuhi segala rukun dan syarat tersebut akan memberi kesan buruk kepada
akad. Jika akad tersebut tidak sah, maka segala yang berkaitan dengannya juga tidak sah.
Sebagai contoh, sekiranya seorang yang kurang siuman mendermakan sejumlah uang,
maka derma tersebut tidak sah karena syarat orang yang memberikan sumbangan adalah
orang baligh dan berakal.
Akad hanya boleh terbentuk sekiranya cukup rukun-rukun yang telah ditetapkan
oleh Islam. Menurut mayoritas ulama, akad terbentuk melalui tiga rukun yaitu: l
Al-'aqidain: Dua pihak yang berakad. Yaitu semua pihak yang terlibat secara langsung
dengan akad seperti penjual dan pembeli dalam akad bai' (jual beli) serta penyumbang
modal dan pekerja dalam akad mudharabah. 2. Mahallul aqd: objek akad yaitu sesuatu
yang hendak diakadkan seperti kereta dalam akad sewa dan beli atau rumah dalam akad
Bai' Bithaman Ajil (BBA). 3. Sighah: yaitu ijab (tawaran) dan qabul (penerimaan). Ia
dilafazkan secara lisan atau tertulis oleh mereka yang berakad.
Para ulama fikah dalam Mazhab Hanafi berbeda pandangan dengan mayoritas
ulama. Bagi mereka, rukun akad hanya satu saja yaitu: sighah (ijab dan qabul). Al-
aqidain dan mahallul aqd adalah syarat akad karena ia bersifat internal (dakhiliy) dan
teknikal.
Pandangan ini didasari oleh kefahaman mereka bahwa rukun adalah sesuatu yang
menjadi faktor utama terjadinya sesuatu akad. Kaidah fiqih dalam muamalah di atas
memberikan arti bahwa dalam kegiatan muamalah yang notabene urusan ke-dunia-an,
manusia diberikan kebebasan sebebas-bebasnya untuk melakukan apa saja yang bisa
memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, sesamanya dan lingkungannya, selama hal
tersebut tidak ada ketentuan yang melarangnya. Kaidah ini didasarkan pada Hadist
Rasulullah yang berbunyi: antum aalamu bi umurid dunyakum (kamu lebih tahu atas
urusan duniamu). Bahwa dalam urusan kehidupan dunia yang penuh dengan perubahan
atas ruang dan waktu, Islam memberikan kebebasan mutlak kepada manusia untuk
menentukan jalan hidupnya, tanpa memberikan aturan-aturan kaku yang bersifat
dogmatis. Hal ini memberikan dampak bahwa Islam menjunjung tinggi asas kreativitas
pada umatnya untuk bisa mengembangkan potensinya dalam mengelola kehidupan ini,
khususnya berkenaan dengan fungsi manusia sebagai khalifatul-Llah fil ardlh (wakil
Allah di bumi).
Efek yang timbul dari kaidah fiqih muamalah di atas adalah adanya ruang lingkup
yang sangat luas dalam penetapan hukum-hukum muamalah, termasuk juga hukum
ekonomi. Ini berarti suatu transaksi baru yang muncul dalam fenomena kontemporer
yang dalam sejarah Islam belum ada/dikenal, maka transaksi tersebut dianggap
diperbolehkan, selama transaksi tersebut tidak melanggar prinsip-prinsip yang dilarang
dalam Islam. Sedangkan transaksi-transaksi yang dilarang dalam Islam adalah transaksi
yang disebabkan oleh faktor: 1) haram zatnya (objek transaksinya), 2) haram selain
zatnya (cara bertransaksi-nya), 3) tidak sah/lengkap akadnya.

Gambar 8. Unsur-Unsur Kontrak

3. Faktor- Faktor Penyebab Dilarangnya Transaksi (Akad)


a. Haram Zatnya (Objek Transaksinya).
Dalam Islam, terdapat aturan yang jelas dan tegas mengenai obyek transaksi
yang diharamkan, seperti minuman keras, daging babi, dan sebagainya. Oleh karena
itu melakukan transaksi yang berhubungan dengan obyek yang diharamkan tersebut
juga diharamkan. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih: ma haruma filuhu haruma
tholabuhu (setiap apa yang diharamkan atas obyeknya, maka diharamkan pula atas
usaha dalam mendapatkannya). Kaidah ini juga memberikan dampak bahwa setiap
obyek haram yang didapatkan dengan cara yang baik/halal, maka tidak akan merubah
obyek haram tersebut menjadi halal.
b. Haram Selain Zatnya (Cara Bertransaksi-nya).
Ada beberapa transaksi yang dilarang dalam Islam yang disebabkan oleh cara
bertransaksi-nya yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip muamalah, yaitu: tadlis
(penipuan), ikhtikar (rekayasa pasar dalam supply), bai najasy (rekayasa pasar dalam
demand), taghrir (ketidakpastian), dan riba (tambahan).
Tadlis. Tadlis adalah sebuah situasi di mana salah satu dari pihak yang
bertransaksi berusaha untuk menyembunyikan informasi dari pihak yang lain
(unknown to one party) dengan maksud untuk menipu pihak tersebut atas
ketidaktahuan atas informasi tersebut. Hal ini jelas-jelas dilarang dalam Islam, karena
melanggar prinsip an taraddin minkum (sama-sama ridlo). Informasi yang
disembunyikan tersebut bisa berbentuk kuantitas (quantity), kualitas (quality), harga
(price), ataupun waktu penyerahan (time of delivery) atas objek yang ditransaksikan.
Ikhtikar. Ikhtikar adalah sebuah situasi di mana produsen/penjual mengambil
keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara mengurangi supply (penawaran)
agar harga produk yang dijualnya naik. Ikhtikar ini biasanya dilakukan dengan
membuat entry barrier (hambatan masuk pasar), yakni menghambat produsen/penjual
lain masuk ke pasar agar ia menjadi pemain tunggal di pasar (monopoli), kemudian
mengupayakan adanya kelangkaan barang dengan cara menimbun stock (persediaan),
sehingga terjadi kenaikan harga yang cukup tajam di pasar. Ketika harga telah naik,
produsen tersebut akan menjual barang tersebut dengan mengambil keuntungan yang
melimpah.
Bai Najasy. Bai Najasy adalah sebuah situasi di mana konsumen/pembeli
menciptakan demand (permintaan) palsu, seolah-olah ada banyak permintaan
terhadap suatu produk sehingga harga jual produk itu akan naik. Hal ini biasanya
terjadi dalam bursa saham (praktek goreng-menggoreng saham). Cara yang bisa
ditempuh bermacam-macam, seperti menyebarkan isu, melakukan order pembelian,
dan sebagainya. Ketika harga telah naik maka yang bersangkutan akan melakukan
aksi ambil untung dengan melepas kembali barang yang sudah dibeli, sehingga akan
mendapatkan keuntungan yang besar.
Taghrir. Taghrir adalah situasi di mana terjadi incomplete information karena
adanya ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi. Taghrir terjadi bila
pihak yang bertransaksi merubah sesuatu yang seharusnya bersifat pasti menjadi tidak
pasti. Dalam hal ini ada beberapa hal yang bersifat tidak pasti, yaitu kuantitas
(quantity), kualitas (quality), harga (price), ataupun waktu penyerahan (time of
delivery) atas objek yang ditransaksikan.

Uncertaint
Taghrir Certaint
(tidak pasti) (pasti)

Gambar 9. Taghrir (Gharar)

Riba. Riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis, baik
transaksi hutang piutang maupun jual beli. Riba dalam hutang piutang dimaksudkan
untuk meminta kelebihan tertentu atas utang yang dipinjamkan pada saat awal
transaksi (riba qard), atau memberikan tambahan pembayaran atas utang yang tidak
bisa dikembalikan pada waktu jatuh tempo (riba jahiliyah). Riba dalam jual beli
dikenakan atas pertukaran dua barang sejenis dengan timbangan/takaran yang
berbeda (riba fadl), atau memberikan tambahan atas barang yang diserahkan
kemudian (riba nasiah).
Dalam perbankan konvensional, riba nasiah dapat ditemukan dalam
pembayaran bunga kredit dan pembayaran bunga deposito, tabungan giro, dan lain-
lain. Jadi mengenakan tingkat bunga untuk suatu pinjaman merupakan tindakan yang
memastikan sesuatu yang tidak pasti, karena diharamkan.

Natural Uncertainty Contract


Certaint
(pasti)

Riba nasiah

Gambar 10. Riba Nasiah

Bunga dan Time Value of Money

Prinsip time value of money yang didefinisikan sebagai berikut :

A dollar today is worth more than a dollar in future because a dollar today can be
invested to get a return.

Dalam ekonomi konvensional, ketidakpastian return dikonversi menjadi


suatu kepastian melalui premium for uncertainly. Dalam setiap investasi tentu selalu
ada probability untuk mendapat positif return, negative return, dan no return.
Adanya probability inilah yang menimbulkan uncertainty (ketidakpastian).
Probability untuk mendapat negative return dan no return ini yang dipertukarkan
(exchange of liabilities) dengan suatu yang pasti yaitu premium for uncertainty.

Positive return
Premium for uncertainty

Bussiness No return

Negative return
Gambar 11. Karakteristik Bisnis

Katakanlah probability positive return dan negative return masing- masing


sebesar 0,4; sedangkan probability no return sebesar 0,2. Apa yang dilakukan
dalam perhitungan discount rate adalah mempertukarkan probability negative
return (0,4) dan probability no return (0,2) ini dengan premium for uncertainty,
sehingga yang tersisa tinggal probability untuk positive return (1,0)

Tabel 2. Natural and Enforced Probability

Keadaan Natural Uncertainty Discount rate


(probability) (probability)
Positive return 0,4 1,0
No return 0,2 0,0
Negative return 0,4 0,0

Keadaan inilah yang ditolak dalam ekonomi syariah, yaitu keadaan Al-
Ghunmu Bi La Ghurmi (Gaining Return Without Being Responsible For Any Risk)
dan Al-Haraj Bi La Dhaman (Gaining Income Without Being Responsible For Any
Expenses).
a. Riba Jahiliyah adalah utang yang dibayar melebihi dari pokok pinjaman, karena si
peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang telah
ditetapkan. Riba Jahiliyah dilarang karena terjadi pelanggaran kaidah Ikullu
Qardin Jarra Manfaatan fahuwa Riba (setiap pinjaman yang mengambil
manfaat adalah riba). Memberi pinjaman adalah transaksi kebaikan (tabarru),
sedangkan meminta kompensasi adlaah transaksi bisnis (tijarah). Jadi transaksi
yang dari semula diniatkan sebagai transaksi kebaikan tidak boleh diubah menjadi
transaksi yang bermotif bisnis.
Dari segi penundaan waktu penyerahaannya, riba jahiliyah tergolong riba
nasiah dari segi kesamaan obyek yang dipertukarkan, tergolong riba fadl.
Dalam perbankan konvensional, riba jahiliyah dapat ditemui dalam
pengenaan bunga pada transaksi kartu kredit yang tidak dibayar penuh
tagihannya.
Dari definisi riba, sebab (illat) dan tujuan (hikmah) pelarangan riba, maka
dapat diidentifikasi praktik perbankan konvensional yang tergolong riba. Riba fadl
dapat ditemui dalam transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilakukan secara
tunai. Riba nasiah dapat ditemui dalam transaksi pembayaran bunga kredit dan
pembayaran bunga tabungan/deposito/giro. Riba jahiliyah dapat ditemui dalam
transaksi kartu kredit yang tidak dibayar penuh tagihannya.

Riba Jahiliyah Ribh (Profit)

Tabbaru Tijarah Contract

Contract

Keuntungan Keuntungan

Dilarang karena mengubah kontrak


Diperbolehkan
tabbaru menjadi
karena hakikat
kontrakdari
tijarah
kontrak tijarah adalah memperoleh keuntungan
Gambar 12. Riba Jahiliyah

Tabel 3. Ikhtisar Riba

Tipe Faktor Penyebab Cara Menghilangkan Faktor Penyebab


Riba Fadl Gharar Kedua belah pihak harus memastikan factor-faktor
(uncertain to both par- ties) berikut ini :
1. Kuantitas
2. Kualitas
3. Harga
4. Waktu Penyerahan
Riba Nasiah Al-ghunmu bi la ghurmi, al- Kedua belah pihak membuat kontrak yang merinci
kharaj bi la dhaman (return hak dan kewajiban masing- masing untuk menjamin
tanpa resiko, pendapatan tidak adanya pihak manapun yang mendapatkan
tanpa biaya) return tanpa menanggung resiko, atau menikmati
pendapatan tanpa menanggung biaya.
Riba Kullu qardin jarra 1. Jangan mengambil manfaat apa pun dari akad/
Jahiliyah manfaatan fahuwa riba transaksi kebaikan (tabbaru)
(memberi pinjaman sukarela 2. Kalaupun ingin mengambil manfaat, maka
secara komersil, karena setiap gunakanlah akad bisnis (tijarah), bukan akad
pinjaman yang mengambil kebaikan (tabarru)
manfaat adalah riba)

b. Tidak Sah/Lengkap Akadnya


Setiap transaksi yang tidak sah/lengkap akadnya, maka transaksi itu dilarang
dalam Islam. Ketidaksah/lengkapan suatu transaksi bisa disebabkan oleh: rukun
(terdiri dari pelaku, objek, dan ijab kabul) dan syaratnya tidak terpenuhi, terjadi
taalluq (dua akad yang saling berkaitan), atau terjadi two in one (dua akad
sekaligus). Taalluq terjadi bila kita dihadapkan pada dua akad yang saling dikaitkan,
di mana berlakunya akad pertama tergantung pada akad kedua. Two in one terjadi bila
suatu transaksi diwadahi oleh dua akad sekaligus sehingga terjadi ketidakpastian
(grarar) akad mana yang harus digunakan.
1) Rukun dan Syarat
Rukun adalah sesuatu yang wajib ada dalah suatu transaksi (necessary
condition), misalnya ada penjual dan pembeli.
Pada umumnya rukun dalam muamalah iqtishadiyah (muamalah dalam
bidang ekonomi) ada 3 (tiga) yaitu :
a) Pelaku
b) Objek
c) Ijab-kabul
Akad dapat menjadi batal bila terdapat :
a) Kesalahan/kekeliruan obyek
b) Paksaan (ikrah)
c) Penipuan (tadlis)
Bila ketiga rukun di atas terpenuhi, traksaksi yang dilakukan sah. Namun
bila rukun di atas tidak terpenuhi (baik satu rukun atau lebih), transaksi menjadi
batal.
Selain rukun, faktor yang harus ada supaya akad menjadi sah (lengkap)
dalah syarat. Syarat adalah sesuatu yang keberadaannya melengkapi rukun
(sufficient condition). Bila rukun sudah terpenuhi tetapi syarat tidak dipenuhi,
rukun menjadi tidak lengkap sehingga transaksi tersebut menjadi fasid (rusak).
Dengan syarat
Syarat bukanlah rukun, jadi tidak boleh dicampuradukkan. Di lain pihak
keberadaan syarat tidak boleh :
Jual X secara tunai
2) Rp 100 jt
Taalluq
Taalluq terjadi bila kita dihadapkan pada dua akad yang saling dikaitkan,
Jual X secara cicilan Rp 120 jt
maka berlakunya akad I tergantung pada akad 2.

Bai al-Inah
Gambar 13. Bai al-Inah

3) Two in one
Two in one adalah kondisi di mana suatu transaksi diwadahi oleh dua akad
sekaligus, sehingga terjadi ketidakpastian (gharar) mengenai akad mana yang
harus digunakan (berlaku). Dalam terminologi fiqih, kejadian ini disebut dengan
shafqatain fi al-shafqah.
Two in one terjadi bila semua dari ketiga faktor di bawah ini terpenuhi :
a) Objek sama
b) Pelaku sama
c) Jangka waktu sama
Bila satu saja dari faktor di atas tidak terpenuhi, maka two in one tidak
terjadi, dengan demikian akad menjadi sah. Contoh dari two in one adalah
transaksi lease and purchase (sewa-beli). Dalam transaksi ini, terjadi gharar
dalam akad karena ada ketidakrelaan akad mana yang berlaku; akad beli atau
akad sewa. Karena itulah maka transaksi ini diharamkan.

Gambar 14. Hal-Hal Yang Merusak Kontrak

Secara lebih lengkap dapat disajikan dalam diagram berikut ini:


Tidak
P Haram
Ta didasa
Melang
Zatnya: dl
Ihti rkan
Rekay
gar
e H
Li dzatihi
prinsip
is
Bai
kar Rekay
prinsi
asa
ar Melang
gar Gh
Naj Unco
asa
p
Pasar
mplet
Pasar
kerela
n a prinsip
Rukun
ara
Rib
asy
r
a
(Suppl
Fad
e
(dema
an
y)
Na
Tida Taalu
m tidak l
Inform
nd)
(ridha
Jah
sia
y S k AnTwo q in
terpe ation;
);
ilia
h
One
Taraddi
Sah La
el n
nuhi
Tazhlim
uncert
h
asym
ainty
e ai Minku
una metric
to
n m inform
both
ation
b Z
wa la
party
at tuzhla
a n mun
ya
b
Gambar 15. Pengidentifikasian akad
C. Asas-Asas Kontrak / Perjanjian (Akad)
1. Asas Ibahah (Mabda al-Ibahah)
Asas Ibahah adalah asas umum hukum Islam dalam bidang muamalat secara
umum. Asas ini dirumuskan dalam pada asasnya segala sesuatu itu baleh dilakukan
sampai ada dalil yang melarangnya. Asas ini merupakan kebalikan dari asas yang
berlaku dalam masalah ibadah. Dalam hukum Islam, untuk tindakn-tindakan ibadah
berlaku asas bahwa bentuk-bentuk ibadah yang sah adalah bentuk-bentuk yang
disebutkan dalam dalil-dalil syariah. Orang tidak dapat membuat-buat bentuk baru
ibadah yang tidak pernah ditetukan oleh Nabi SAW. Bentuk-bentuk baru ibadah yang
dibuat tanpa pernah diajarkan oleh Nabi SAW. Itu disebut bidah dan tidak sah
hukumnya.
Sebaliknya, dalam tindakan-tindakan muamalat berlaku asas sebaliknya, yaitu
bahwa segala sesuatu itu sah dilakukan sepanjang tidak ada larangan tegas atas tindakan
itu. Bila dikaitkan dengan tindakan hukum, khususnya perjanjian, maka ini berarti bahwa
tindakan hukum dan perjanjian apapun dapat dibuat sejauh tidak ada larangan khusus
mengenai perjanjian tersebut.
2. Asas Kebebasan Berkontrak / Berakad (mabda hurriyyah at-Taaqud)
Hukum Islam mengakui kebebasan berakad, yaitu suatu prinsip hukum yang
menyatakan bahwa setiap orang dapat membuat akad jenis apapun tanpa terikat kepada
nama-nama yang telah dientukan dalam undang-undang syariah dan memasukkan
klausul apa saja kedalam akad yang dibuatnya itu sesuai dengan kepentingannya sejauh
tidak berakibat makan harta sesama dengan jalan bathil. Namun demikian, dilingkungan
mazhab-mazhab yang berbeda terdapat perbedaan pendapat mengenai luas sempitnya
kebebasan tersebut. Nash-nash Al-Quran dan sunnah Nabi SAW. Serta kaidah-kaidah
hukum Islam menunjukkan bahwa hukum Islam menganut asas kebebasan berakad. Asas
kebebasan berakad ini merupakan konkretisasi lebih jauh dan spesifikasi yang lebih tegas
lagi terhadap asas ibahah dalam Muamalah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-
Quran surat Al-Maidah ayat 1 sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu dihalalkan bagimu binatang
ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak
menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah
menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.(Q.S. Al-Maidah :1)
Cara menyimpulkan kebebasan berakad dari ayat tersebut adalah bahwa menurut
kaidah ushul fiqh (metodologi penemuan hukum Islam), perintah dalam ayat ini
menunjukkan wajib. Artinya memenuhi akad itu hukumnya wajib. Dalam ayat ini akad
disebutkan dalam bentuk jamak yang diberi kata sandang Al (al-Uqud). Menurut
kaidah ushul fiqh, jamak yang diberikan kata sandang Al menunjukkan keumuman.
Dengan demikian, dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang dapat
membuat akad apa saja baik yang bernama maupun yang tidak bernama dan akad-akad
itu wajib dipenuhi.
3. Asas Konsensualisme (Mabda ar-Radhaiyyah)
Asas konsensualisme menyatakan bahwa untuk terciptanya suatu perjanjian cukup
dengan tercapainya kata sepakat antara para pihak tanpa perlu dipenuhinya formalitas-
formalitas tertentu. Dalam hukum Islam pada umumnya perjanjian-perjanjian itu bersifat
konsensual. Para ahli hukum Islam biasanya menyimpulkan asas konsensualisme dari
dalil-dalil hukum berikut:
AL-Quran

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka
sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah
adalah Maha Penyayang kepadamu. (Q.S. An-Nisaa : 29)














Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian
dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari
maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai
makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa : 4)
Sabda Nabi SAW, Sesungguhnya jual beli itu berdasarkan kata sepakat (Hadis riwayat
Ibn Hibban dan Ibn Majah).
Kaidah hukum Islam, pada asasnya perjanjian (akad) itu adalah kesepakatan para
pihak dan akibat hukumnya adalah apa yang mereka tetapkan melalui janji. Kutipan ayat
pada angka 1) menunjukan antara lain bahwa setiap pertukaran secara timbal balik
diperbolehkan dan sah selama didasarkan atas kesepakatan. Ayat pada angka 2)
menunjukkan bahwa suatu pemberian adalah sah apabila didasarkan kepada perizinan
(rela hati) si pemberi. Mengenai kedua ayat ini, Ibn Taimiyyah (w. 728/1328)
menyatakan, dan boleh karena kerelaan hati itulah yang menjadi sebab dibolehkannya
makan mahar, maka seluruh akad Tabaru (Cuma-Cuma) lainnya, dengan jalan
melakukan qiyas (analogi) atas dasar illat yang dinaskan dan ditunjukkan oleh Al-
Quran, adalah sama dengan ini. Begitu juga firman-nya, kecuali (jika makan harta
sesasma itu dilakukan) dengan jalan tukar menukar atas dasar perizinan timbal balik (kata
sepakat) dari kamuhanya mensyaratkan kata sepakat dalam tukar-menukar kebendaan.
Pada bagian lain Ibn Taimiyyah menegaskan lagi, Allah memandang lagi cukup
perizinan timbal balik untuk jual-beli dalam firman-Nya, kecuali dengan jalan tukar-
menukar atas dasar perizinan timbal balik dari kamu dan memandang cukup kerelaan
hati (consent) untuk Tabaru dalam firman-Nya, kemudian jika mereka menyerahkan
kepadamu sebagian dari mas kawin itu atas dasar senang hati (perizinan, consent) maka
makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai suatu yang sedap lagi baik akibatnya. Jadi
ayat pertama adalah mengenai jenis akad atas beban (muawadah) dan ayat kedua
mengenai jenis akad Tabaru.
Hadis Nabi Saw. Pada angka 3) dengan jelas menunjukkan bahwa akad jual beli
didasarkan kepada perizinan timbal balik (kata sepakat). Meskipun hanya akad jual beli
saja yang disebutkan dalam hadis ini, namun untuk akad-akad yang lain diqiyaskan
(dianalogikan) kepada akad jual beli, sehingga dengan dasar analogi itu akad-akad lain
juga didasarkan pada kata sepakat.
Kaidah hukum Islam pada angka 4) secara amat jelas menyatakan bahwa
perjanjian itu pada asasnya adalah kesepakatan para pihak, sehingga bila telah tercapai
kata sepakat para pihak, maka terciptalah suatu perjanjian.
4. Asas Janji Itu Mengikat
Dalam Al-Quran dan Hadis terdapat banyak perintah agar memenuhi janji.
Dalam kaidah usul fiqih, perintah itu pada asasnya menunjukkan wajib ini berarti
bahwa janji itu mengikat dan wajib dipenuhi. Diantara ayat dan hadis dimaksud adalah
a. Firman Allah,





Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih
baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti
diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. Al-Israa : 34)
b. Asar dari Ibn Masud, janji itu adalah utang.
c. Ayat QS. 5: 1 dan hadis al-Hakim.
5. Asas Keseimbanggan (Mabda at-Tawazun fi al-Muawadhah)
Meskipun secara faktual jarang terjadi keseimbangan antaras para pihak dalam
bertransaksi, namun hukum perjanjian Islam tetap menekankan perlunya keseimbangan
itu,baik keseimbangan antara apa yang diberikan dan apa yang diterima maupun
keseimbangan dalam memikul resiko. Asas keseimbangan dalam transaksi (antara apa
yang diberikan dengan apa yang diterima) tercermin pada dibatalkannya suatu akad yang
mengalami ketidak seimbangan prestasi yang mencolok. Asas keseimbangan dalam
memikul resikso tercermin dalam larangan terhadap transaksi riba, di mana dalam konsep
riba hanya debitur yang memikul segala resiko atas kerugian usaha, sementara kreditor
bebas sama sekali dan harus mendapatkan prosetase tertentu sekalipun pada sat dananya
mengalami kembalian negatif.
6. Asas Kemaslahatan (Tidak Memberatkan)
Dengan asas kemaslahatan dimaksudkan bahwa akadsyang dibuat oleh para pihak
bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi mereka dan tidak boleh menimbulkan
kerugian (mudrahat) atau keadaan memberatkan (masyaqqah). Apabila dalam
pelaksanaan akad terjadi suatu perubahan keadaan yang tidak dapat diketahui sebelumnya
serta membawa kerugian yang fatal bagi pihak bersangkutan sehingga memberatkannya,
maka kewajibannya dapat diubah dan disesuaikan kepada batas yang masuk akal.
7. Asas Amanah
Dengan asas amanah dimaksudkan bahwa masing-masing pihak haruslah
beretikad baik dalam bertransaksi dengan pihak lainnya dan tidak dibenarkan salah satu
pihak mengeksploitasi ketidaktahuan mitranya. Dalam kehidupan masa kini banyak
sekali objek transaksi yang dihasilkan oleh satu pihak melalui suatu keahlian yang amat
spesialis dan profesionalisme yang tinggi sehingga ketika ditransaksikan, pihak lain yang
menjadi mitra transaksi tidak banyak mengetahui seluk beluknya. Oleh karena itu, ia
sangat bergantung kepada pihak yang menguasainya. Profesi kedokteran, terutama dokter
spesialis, misalnya hanya diketahui dan dikuasai oleh dokter saja.
Masyarakat umum tidak mengetahui seluk beluk profesi tersebut. oleh karena itu,
ketika seorang pasien sebagai salah satu pihak transaksi akan diterapkan suatu metode
pengobatan dan penaganan penyakaitnya, sang pasien sangat tergantung kepada
informasi dokter untuk mengambil keputusan menjalani metode tersebut. Begitu pula
terdapat barang-barang canggih, tetapi juga mungkin menimbulkan resiko berbahaya bila
salah penggunaannya. Dalam hal ini, pihak yang bertransaksi dengan objek barang
tersebut sangat bergantung kepada informasi produsen yang menawarkan barang tersebut.
Oleh karena itu, dalam kaitan ini dalam hukum perjanjian Islam dituntut adanya sikap
amanah pada pihak yang menguasainya untuk memberi informasi yang sejujurnya kepada
pihak lain yang tidak banyak mengetahuinya.
Dalam hukum Islam, terdapat suatu bentuk perjanjian yang disebut perjanjian
amanah, salah satu pihak hanya bergantung kepada informasi jujur dari pihak lainnya
untuk mengambil keputusan untuk menutup perjanjian beresangkutan. Di antara
ketentuannya, adalah bahwa bohong atau penyembuyian informasi yang semestinya
disampaikan dapat menjadi alasan pembatalan akad bila dikemudian hari ternyata
informasi itu tidak benar yang telah mendorong pihak lain untuk menutup perjanjian.
Contoh paling sederhana dalam hukum Islam adalah akad murabahah, yang merupakan
salah satu bentuk akad amanah. Pada zaman sekarang wilayah akad amanah tidak saja
hanya dibatasi pada akad seperti murabahah, tetapi juga meluas ke dalam akad takaful
(asuransi) bahkan juga banyak akad yang pengatahuan mengenai objeknya hanya
dikuasai oleh salah satu pihak saja.
8. Asas Keadilan
Keadilan adalah tujuan yang hendak diwujudkan oleh semua hukum. Dalam
hukum Islam, keadilan langsung merupakan perintah Al-Quran yang menegaskan,
sebagaimana firman Allah berikut ini : Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu
jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong
kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.
dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (Q.S. Al-Maidah : 8).
Keadilan merupakan sendi setiap perjanjian dibuat oleh para pihak. Sering kali
dizaman modern akad ditutup olaeh satu pihak dengan pihak lain tanpa ia memiliki
kesempatan untuk melakukan negosiasi mengenai klausul akad itu telah dibakukan oleh
pihak lain. Tidak mustahil bahwa dalam pelaksanaannya akan timbul kerugian kepada
pihak yang menerima syarat baku itu karena didorong kebutuhan. Dalam hukum Islam
konterporer telah diterima suatu asas bahwa demi keadilan syarat baku itu dalat diubah
oleh pengadilan apabila memang ada alasan untuk itu.

Gambar 16. Asas-asas Kontrak

A. Jenis-Jenis Akad
Akad dalam fiqih muamalah dari segi ada atau tidak adanya kompensasi,
dibagi menjadi dua bagian, yakni akad tabarru dan akad tijarah.

1. Akad Tabarru
Akad tabarru adalah segala macam perjanjian yang menyangkut transaksi yang
tidak mengejar keuntungan (non profit transaction). Akad tabarru dilakukan dengan
tujuan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan, sehingga pihak yang berbuat
kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lainnya.
Imbalan dari akad tabarru adalah dari Allah, bukan dari manusia. Namun demikian,
pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada rekan transaksinya untuk
sekedar menutupi biaya yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan akad, tanpa
mengambil laba dari tabarru tersebut. Contoh dari akad tabarru adalah qard, wadiah,
wakalah, rahn, hibah, waqf, hadiah, shodaqoh, dan sebagainya.

Akad Tabarru
Lending/ Giving
Some thing

Lending Qardh
Lending
$
$
Lending $ + Rahn
Collateral
Lending $ + to take
over loan from Hiwala
other party
Lending lending yourself now to do
something on behalf of
Wakala
Yourself
others
wakalah, by specifying the
job, Wadhi
i.e. to provide custody

contingent wakalah,i.e. preparing


yourself
to do something if something happens Kafalah
contingent wakalah,i.e. preparing
yourself

giving
Hibah, Shodaqoh, Waqf,
something

Gambar 17. Skema Akad Tabarru


Pada dasarnya, akad tabarru ini adalah memberikan sesuatu ( giving
something) atau meminjamkan sesuatu (lending something). Bila akadnya
adalah meminjamkan sesuatu, maka objek pinjamannya dapat berupa uang (
lending $) atau jasa kita ( lending kafalah yourself). Dengan demikian, kita
mempunyai 3 (tiga) bentuk umum akad tabarru , yakni:

a. Meminjamkan Uang ( lending $)


b. Meminjamkan Jasa Kita ( lending yourself)
c. Memberikan sesuatu ( giving something)
a. Meminjamkan Uang ( lending $)
Akad meminjamkan uang ini ada beberapa macam lagi jenisnya,
setidaknya ada 3 jenis, yakni sebagai berikut.
Bila pinjaman ini diberikan tanpa mensyaratkan apapun, selain
mengembalikan pinjaman tersebut setelah jangka waktu tertentu maka bentuk

meminjamkan uang seperti ini disebut dengan qard.


Selanjutnya, jika dalam meminjamkan uang ini si pemberi pinjaman
mensyaratkan suatu jaminan dalam bentuk atau jumlah tertentu, maka bentuk

pemberian pinjaman seperti ini disebut dengan rahn.

Ada lagi suatu bentuk pemberian pinjaman uang, di mana tujuannya adalah
untuk mengambil alih piutang dari pihak lain. Bentuk pemberian pinjaman uang
dengan maksud seperti ini disebut hiwalah. Jadi, ada tiga bentuk akad

meminjamkan uang, yakni qard, rahn, dan hiwalah.

b. Meminjamkan Jasa Kita ( lending yourself)


Seperti akad meminjamkan uang, akad meminjamkan jasa juga terbagi
menjadi 3 jenis. Bila kita meminjamkan diri kita (yakni jasa
keahlian/keterampilan, dsb) saat ini untuk melakukan sesuatu atas nama orang
lain, maka hal ini disebut wakalah. Karena kita melakukan sesuatu atas nama
orang yang kita bantu tersebut, maka sebenarnya kita menjadi wakil orang itu. Itu
Selanjutnya, bila akad wakalah ini kita rinci tugasnya, yakni bila kita
menawarkan jasa kita untuk menjadi wakil seseorang, dengan 1 Istilah qard ini
jangan dicampuradukkan dengan istilah qard al-hasan, karena keduanya
berbeda. Qard adalah akad untuk meminjamkan uang. Sedangkan qard
alhasan pada hakekatnya adalah sedekah, karena akad ini tidak mensyaratkan
bahwa uang yang diberikan harus dikembalikan. tugas menyediakan jasa
custody (penitipan, pemeliharaan), maka bentuk peminjaman jasa seperti ini
disebut akad wadiah.
Ada variasi lain dari akad wakalah, yakni contingent wakalah
(wakalah bersyarat). Dalam hal ini, maka kita bersedia memberikan jasa kita
untuk melakukan sesuatu atas nama orang lain, jika terpenuhi kondisinya, atau
jika sesuatu terjadi. Misalkan, seorang dosen menyatakan kepada asistennya
demikian: Anda adalah asisten saya. Tugas Anda adalah menggantikan saya
mengajar bila saya berhalangan.. Dalam kasus ini, yang terjadi adalah wakalah
bersyarat. Asisten hanya bertugas mengajar (yakni melakukan sesuatu atas nama
dosen) bila dosen berhalangan (yakni bila terpenuhi kondisinya, jika sesuatu
terjadi). Jadi asisten ini tidak otomatis menjadi wakil dosen. Wakalah bersyarat
ini dalam terminologi fikih disebut sebagai akad kafalah. Dengan demikian, ada 3
(tiga) akad meminjamkan jasa, yakni: wakalah, wadiah, dan kafalah.
c. Memberikan sesuatu ( giving something)
Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah akad-akad sebagai berikut:
hibah, waqf, shadaqah, hadiah, dll . Dalam semua akad-akad tersebut, si pelaku
memberikan sesuatu kepada orang lain. Bila penggunaannya untuk kepentingan
umum dan agama, maka akadnya dinamakan waqf. Objek waqf ini tidak boleh
diperjualbelikan begitu dinyatakan sebagai aset waqf. Sedangkan hibah dan
hadiah adalah pemberian sesuatu secara sukarela kepada orang lain. Begitu
akad tabarru sudah disepakati, maka akad tersebut tidak boleh dirubah
menjadi akad tijarah (yakni akad komersil, yang akan segera kita bahas) kecuali
ada kesepakatan dari kedua belah pihak untuk mengikatkan diri dalam akad
tijarah tersebut. Misalkan Bank setuju untuk menerima titipan mobil dari
nasabahnya (akad wadiah, dengan demikian bank melakukan akad tabarru),
maka bank tersebut dalam perjalanan kontrak tersebut tidak boleh merubah akad
tersebut menjadi akad tijarah dengan mengambil keuntungan dari jasa wadiah
tersebut.
Sebaliknya, jika akad tijarah sudah disepakati, maka akad tersebut boleh
dirubah menjadi akad tabarru bila pihak yang tertahan haknya dengan rela
melepaskan haknya, sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum
menunaikan kewajibannya.

Bole
Tijaroh h

Tabar
ru
X
Tidak
boleh

Gambar 18 . Tabarru dan Tijaroh

Fungsi Akad Tabarru


Akad tabarru ini adalah akad-akad untuk mencari keuntungan akhirat,
karena itu bukan akad bisnis. Jadi, akad ini tidak dapat digunakan untuk tujuan-
tujuan komersil. Bank syariah sebagai lembaga keuangan yang bertujuan untuk
mendapatkan laba tidak dapat mengandalkan akad-akad tabarru untuk
mendapatkan laba. Bila tujuan kita adalah mendapatkan laba, maka gunakanlah
akad-akad yang bersifat komersil, yakni akad tijarah. Namun demikian, bukan
berarti akad tabarru sama sekali tidak dapat digunakan dalam kegiatan
komersil. Bahkan pada kenyataannya, penggunaan akad tabarru sering sangat
vital dalam transaksi komersil, karena akad tabarru ini dapat digunakan untuk
menjembatani atau memperlancar akad-akad tijarah.
2. Akad Tijaroh
Akad tijarah adalah segala macam perjanjian yang menyangkut transaksi yang
mengejar keuntungan (profit orientation). Akad ini dilakukan dengan tujuan mencari
keuntungan, karena itu bersifat komersil. Hal ini didasarkan atas kaidah bisnis bahwa
business is an activity for a profit (bisnis adalah suatu aktivitas untuk memperoleh
keuntungan). Contoh dari akad tijarah adalah akad-akad bagi hasil berupa mudharabah,
musyarakah, dan sebagainya, akad-akad jual beli berupa murabahah, salam, dan
sebagainya, dan akad-akad sewa menyewa berupa ijarah, ijarah muntahia bi at tamlik,
dan sebagainya.
Kaidah fiqih yang berkaitan dengan konsep akad antara tabarru dan tijarah ada
dua, yaitu: 1). Akad tabarru tidak boleh dirubah menjadi akad tijarah, dan 2). Akad
tijarah boleh dirubah menjadi akad tabarru. Akad tabarru tidak boleh dirubah menjadi
akad tijarah memberi arti bahwa dalam setiap transaksi yang asalnya bermaksud untuk
tidak mendapatkan keuntungan, kemudian setelah terjadinya akad ternyata pihak yang
terkait di dalamnya mengharapkan keuntungan dari transaksi tersebut, maka transaksi itu
dilarang. Hal ini didasarkan atas kaidah prinsip: kullu qardhin jarra manfaah fahuwa
riba (setiap qard yang mengambil manfaat adalah riba). Menggabungkan tabarru
dengan manfaah adalah kedzaliman karena melakukan suatu akad berlainan dengan
definisi akadnya, sehingga transaksi tersebut akan menimbulkan adanya riba nasiah. Hal
ini juga melanggar prinsip la tadzlimuna wa la tudzlamun (jangan mendzolimi dan
jangan sampai didzolimi).
Akad tijarah boleh dirubah menjadi akad tabarru memberi arti bahwa dalam
setiap transaksi yang asalnya bertujuan mendapatkan keuntungan, kemudian setelah
terjadinya akad pihak yang terkait di dalamnya meringankan/memudahkan pihak yang
lain dengan menjadikan akad tersebut menjadi akad tabarru (tanpa ada tambahan
keuntungan), maka transaksi itu dibolehkan, bahkan dalam situasi tertentu hal itu
dianjurkan. Misalnya, terjadi suatu akad jual beli antara si A dan si B, di mana si A
menjual barang X kepada si B dengan harga Rp. Y secara tangguh (dibayar pada suatu
waktu yang ditentukan). Setelah terjadinya akad, pada saat jatuh tempo (maturity time)
ternyata si B tidak dapat membayar hutang karena mengalami kesulitan ekonomi. Maka
dalam kaidah fiqih, si A dibolehkan atau bahkan dianjurkan memberikan
keringanan/kemudahan bagi si B untuk memberikan waktu tambahan dalam pembayaran
hutangnya, atau kalau keadaan si A memang benar-benar tidak dapat membayar, si B
diharapkan untuk memberikan keringanan berupa pembebasan hutang tersebut.
(Skema Akad-Akad) di bawah ini memberikan ringkasan yang komprehensif
mengenai akad-akad yang lazim digunakan dalam fikih muamalah dalam bidang
ekonomi.

Gambar 19. Jenis-Jenis Akad

Kemudian, berdasarkan tingkat kepastian dari hasil yang diperolehnya,


akad tijarah pun dapat kita bagi menjadi dua kelompok besar, yakni:
a) Natural Uncertainty Contracts; dan
b) Natural Certainty Contracts
Bagian berikut ini akan membahas kedua bentuk akad di atas dengan lebih rinci.
3. Natural Certainty Contracts dan Natural Uncertainty
Contracts
Natural certainty contracts adalah kontrak/ akad dalam bisnis yang memberikan
kepastian pembayaran, bagi dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. Cash
flow-nya bisa diprediksi relative pasti karena sudah disepakati oleh kedua belah pihak
yang bertransaksi diawal akad. Kontrak-kontrak ini secara sunatullah (by their nature)
menawarkan return yang tetap dan pasti. Jadi sifatnya fixed and predetermined. Objek
pertukarannya (baik barang maupun jasa) pun harus ditetapkan diawal akad dengan pasti,
baik jumlahnya (quantity), mutunya (quality), harganya (price), dan waktu
penyerahannya (time of dilavery). Yang termasuk dalam kategori ini adalah kontrak-
kontrak jual-beli, upah-mengupah, sewa-menyewa,dan lain-lain.
Dalam kontrak jenis ini, pihak-pihak yang bertransaksi saling membutuhkan
asetnya (baik real assets maupun financial assets). Jadi masing-masing pihak tetap tetap
berdiri-sendiri (tidak saling bercampur membentuk usaha baru), sehingga tidak ada resiko
pertanggungan bersama. Jika tidak ada percampuran asset si A dengan si B. yang ada
misalnya, adalah si A memberikan barang ke B, kemudian sebagai gantinya si B
menyerahkan uang kepada si A. Disini barang ditukarkan dengan uang, sehingga
terjadilah kontrak jual-beli. Kontrak-kontrak natural certainly ini dapat diterangkan
dalam sebuah teori umum yang diberi nama teori pertukaran.
Di lain pihak, natural uncertainty contracts adalah kontrak/ akad dalam bisnis
yang tidak memberikan kepastiaan pendapatan (return), baik dari segi jumlah (amount)
maupun waktu (timing)-nya. Tingkat return-nya bisa positif, negative atau nol. Yang
termasuk dalam kontrak ini adalah kontrak-kontrak investasi. Kontrak-kontrak investasi
ini secara sunnatullah (by their nature) tidak menawarkan return yang tetap dan pasti.
Jadi sifatnya tidak fixed and predeter- mined.
Dalam kontrak jenis ini, pihak-pihak yang saling berinvestasi saling
mencampurkan asetnya (baik real assets maupun financial assets) menjadi satu
kesatuaan, dan kemudian menanggung resiko bersama-sama untuk mendapatkan
keuntunga. Disini keuntungan dan kerugian ditanggung bersama. Natural uncertainly
contracts ini dapat diterangkan dalam sebuah teori umum yang diberi nama teori
percampuran (the theory of venture).
4. Teori Pertukaran
Teori pertukaran terdiri dari dua pilar, yaitu :
a. Objek pertukaran, dan
b. Waktu pertukaran
a. Objek Pertukaran
Fiqih membedakan dua jenis objek pertukaran, yaitu :
1) Ayn (real asset) berupa barang dan jasa
2) Dayn (financial asset) berupa uang dan surat berharga
b. Waktu pertukaran
Fiqih membedakan dua waktu pertukaran, yaitu:
1) Daqdan (Immediate delivery) yang berarti penyerahan saat itu juga
2) Ghairu naqdan (Deferred delivery) yang berarti penyerahan kemudian
Dari segi objek pertukaran, dapat diidenfikasi tiga jenis pertukarn, yaitu:
1) Pertukaran real asset (ayn) dengan real asset (ayn)
2) Pertukaran real asset (ayn) dengan financial asset (dayn)
3) Pertukaran financial asset (dayn) dengan financial asset (dayn)

ayn bi ayn

Objek
ayn bi dayn
pertukaran

dayn bi dayn

naqdan
Waktu
perukaran
Ghairu naqdan

Gambar 20. Dua Pilar dalam teori pertukaran


1) Pertukaran Ayn dengan Ayn
a) Lain jenis
Dalam pertukaran ayn dengan ayn, bila jenisnya berbea (misalnya upah tenaga kerja
yang dibayar dengan sejumlah beras) maka tidak ada masalah (dibolehkan).
b) Sejenis
Namun bila jenisnya sama, fiqih membedakan antara real asset yang secara kasat
mata tidak dapat dibedakan mutunya.
Satu-satunya yang membolehkan pertukaran antara yang sejenis dan dan secara
kasat mata tidak dapat dibedakan mutunya adalah:
1) Sewa-an bi sawa-in (sama jumlahnya)
2) Mistan bi mistlin (sama mutunya)
3) Yadan bi yadin (sama waktu penyerahannya)

Jenis Beda
ayn bi
Kasat mata
ayn
Kualitas berbeda
Jenis Sama

Kasat mata
Kualitas sama

Gambar 21. Ayn bi Ayn

1. Pertukaran Ayn dengan Dayn


Dalam pertukaran ayn dengan dayn, maka yang dibedakan adalah jenis ayn-nya.
Bila ayn-nya adalah barang, maka pertukaran ayn dengan dayn itu disebut jual beli
(al-bai). Sedangkan bila ayn-nya adalah jasa, maka pertukaran itu disebut sewa-
menyewa/ upah mengupah (al-ijarah).
Dari segi metode pembayarannya Islam membolehkan jual beli dilakukan
secara tunai (now for now), bainaqdan atau secara tangguh bayar (deferred payment,
baimuajjal), atau secara tangguh serah (defferent delivery, baisalam). Bay Muajjal
dapat dibayar secara penuh (muajjal) atau secara cicilan (taqsith). Jual beli tangguh
dapat dibedakan lagi menjadi: pertama, pembayarannya lunas sekaligus dimuka
(baisalam); kedua, pembayaran dilakukan secara cicilan dengan syarat harus lunas
sebelum barang diserahkan (baiistishna).

Naqdan

Salam
Al-Bai
(Barang) Salam

Istishna

Muajjal
ayn bi
Muajjal
dayn
Taqsith

Ijarah
Al-ijarah
(Jasa)
Jualah

Gambar 22. Ayn bi Dayn


Dalam praktik perbankan syariah, akad murabahah lazim digunakan meskipun
transaksinya tidak dilakukan oleh anak kecil atau orang yang akalnya kurang, karena
teknik perhitungan keuntungan yang dilakuakn bank terlalu rumit untuk dipahami
oleh masyarakat awam.
Ijarah bila diterapkan untuk mendapatkan manfaat disebut sewa menyewa
sedangkan bila diterapkan diterpakan untuk mendapatkan manfaat orang disebut upah
mengupah. Ijarah dibedakan menjadi dua, yaitu ijarah yang pembayannya tergantung
pada kinerja yang disewa (disebut jualah, success fee), dan ijarah yang
pembayannya tidak tergantung pada kinerja yang disewa (disebut ijarah, gaji dan
sewa).
Dalam praktik perbankan, akad ijarah diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
nasabah menyewa ruko, misalnya, yang mengharuskan nasabah membayar sewanya
secara lump-sum di muka untuk peride 3 tahun.
Dalam perkembangan terakhir, muncul pula kebutuhan nasabah yang menyewa
untuk memiliki barang yang disewanya diakhir periode sewa. Kebutuhan ini dipenuhi
dengan akad Ijarah muntahia bi tamlik. Bagi bank, akad ini merupakan berkah karena
memberikan flaksibilitas harga sewa bulanan; suatu hal yang tidak mungkin
dilakukan dalam akad murabahah. Akad ini juga membuka peluang bagi bank untuk
memperpanjang waktu dengan melakukan akad sewa baru, bial diakhir periode sewa
pertama nasabah belum mampu untuk melakukan pembelian barang tersebut.
2. Pertukaran Dayn dengan Dayn
Dalam pertukaran dayn dengan dayn, dibedakan antara dayn yang berupa uang
dengan dayn yang tidak berupa uang (untuk selanjutnya disebut surat berharga). Pada
zaman ini, uang tidak lagi terbuat dari emas atau perak, bahkan uang tidak lagi
dikaitkan nilainya dengan emas atau perak. Sehingga uang saat ini uang kartal yang
terdiri uanga kertas dan uang logam.

Jenis Beda
Uang
Jenis Beda
Dayn bi
dayn
Jenis Beda
Non-Uang
(Surat Berharga)
Jenis Beda
Gambar 23. Dayn bi Dayn

Yang membedakan uang dengan surat berharga adalah uang dinyatakan


sebagai alat bayar resmi oleh pemerintah, sehingga setiap warga Negara wajib
menerima uang sebagai alat bayar. Sedangkan akseptasi surat berharga hanya terbatas
bagi mereka yang mau menerimanya.
Pertukaran uang dengan uang dibedakan menjadi pertukaran uang yang
sejenis dan pertukaran yang tidak sejenis. Pertukaran uang yang sejenis hanya
diperbolehkan bila memenuhi syarat: sawa-an bi sawa-in(same quantity), dan yadan
bi yadin (same time of delivery). Misalnya perukaran satu lembar uang pecahan
Rp.100.000 dengan 10 lembar uang pecahan Rp.10.000, harus dilakukan
penyerahannya pada saat yang sama.
Pertukaran uang yang tidak sejenis hanya di perbolehkan bila memenuhi
syarat: yadan bi yadin (same time of delivery). Pertukaran uang yang sejenis disebut
sharf (maney changer). Misalnya USD 1000 dengan Rp 10.000.000, harus dilakukan
penyerahaannya pada saat yang sama. Inilah yang menjadi sebab pelarangan transaksi
forward dan transaksi swap dalam pertukaran valuta asing. Sedangkan transaksi spot
dibolehkan,baik yang dilakukan di counter maupun yang dilakukan antar dua bank di
dua lokasi yang berjauhan. Settlement period selama dua hari dipandang sebagai
suatu mekanisme teknis yang tidak dapat dihindarkan karena lokasi yang berjauhan.
Perkembangan terakhir, Dewam Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-
MUI) membolehkan forward agreement (janji, waad) namun tetap tidak
membolehkan forward transaction (transaksi, akad). Hal ini untuk mencegah
terjadinya forward buying yang dihedging dengan melakukan forward selling, yang
selanjutnya akan diikuti dengan forward buying forward selling berikutnya.Selain
bertentangan dengan hadis la tabi ma laisa indak (jangan jual sesuatu yang belum
dimiliki), pelarangan ini juga dimaksud untuk mencegah terjadinya bubbl growth
pada sektor vinansial , dan mencegah terjadinya domino effect bila terjadi default
pada salah satu mata rantai para pihak yang terlibat dalam transaksi forward buying
forward selling tersebut.
Jual beli surat berharga pada dasarnya tidak diperbolehkan.Namun bila surat
berharga dilihat lebih rinci, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu surat berharga yang
merupakan representasi ayn, dan surat berharga yang bukan merupakan representasi
ayn. Secara umum dapat dikatakan bahwa hanya surat berharga yang merupakan
representasiayn saja yang dapat diperjual-belikan.
Secara terinci, jual beli surat berharga (baial dayn bi al dayn) dapat
dibedakan menjadi:
a. Penjualan kepada si pengutang (baial dayn lil madin, sale of debt to the debtor),
yang dapat dibedakan lagi menjadi:
1) Hutang yang pasti pembayarannya (confirmed, mustaqir). Bagi mashab
Hanbali dan Zahiri, transaksi ini boleh.
2) Hutang yang tidak pasti pembayarannya (unconfirmed,ghairu mustaqir).
Transaksi ini terlarang.
b. Penjualan kepada pihak ketiga (bai al dayn lil ghairu madin, sale of debt to third
party) yang dapat dibedakan lagi menjadi empat pendapat:
1) Kebanyakan ulama mazhab Hanafi dan Syafii, beberapa ulama Hanbali dan
Zahiri secara tegas tidak membolehkan hal ini.
2) Ibnu Taimiyah membolehkannya bila utangnya adalah utang yang pasti
pembayarannya (confirmed, mustaqir).
3) Imam Suraji, Subki, dan Nawawi membolehkanya dengan tiga syarat.
4) Imam Anas bin Malik dan Zurqoni membolehkannya dengan delapan syarat.

Mustaqir
Halal menurut Mazhab Hanbali dam Zahiri
Baial-dayn lil Madin
(Sale of Debt to the Debtor)

Ghair Mustaqir
Haram
Gambar 24. Baial-Dayn bi al-Dayn

Skema-skema pertukaran dapat diringkas menjadi matriks pertukaran sebagai


berikut.

Tabel 4. Matriks Pertukaran

Time Now for Now for Deferred


Object Now deferred For deferred
Ayn for Ayn
Ayn for Dayn
Dayn for Dayn
Kecuali sharf

Matrik di atas memberikan panduan yang komprehensif bagi kita untuk dapat
menentukan halal-haramnya suatu transaksi pertukaran. Semua transaksi pertukaran
tangguh serah (deferred for deferred) diharamkan (kolom paling paling kanan dari
matriks). Demikian pula dengan semua pertukaran dayn dengan dayn diharamkan (baris
paling bawah dari matriks), dengan satu perkecualian yakni sharf (pertukaran mata uang
yang berbeda). Selain itu dua hal di atas, semua transaksi pertukaran diperbolehkan.
5. Teori Percampuran
Teori percampuran terdiri dari dua pilar pula, yaitu:
a. Objek percampuran; dan
b. Waktu percampuran.

b. Objek percampuran
Sebagaimana dalam teori pertukaran, fiqih juga membedakan dua jenis objek
percampuran, yaitu:
1) Ayn (real asset) berupa barang dan jasa.
2) Dayn (financial asset) berupa uang dan surat berharga.
c. Waktu percampuran
Dari segi waktunya, sebagaimana dalam teori pertukaran fiqih juga
membedakan dua waktu percampuran, yaitu:
1) Naqdan (Immediate delivery) yakni penyerahaan saat itu juga.
2) Ghairu naqdan (Deferred delivery) yakni penyerahaan kemudian.
Selanjutnya, dari segi objek percampurannya dapat diidentifikasi tiga jenis
percampuran, yaitu:
1) Percampuran real asset (ayn) dengan real asset (ayn)
2) Percampuran real asset (ayn) dengan financial asset (dayn)
3) Percampuran financial asset (dayn) dengan financial asset (dayn)
Gambar di bawah ini memberikan ikhtisar mengenai pembagian teori
percampuran dan teori pertukaran dilihat dari objeknya dan juga waktunya. Pada
dasarnya, pembagian objek dan waktu dalam teori percampuran sama dengan teori
pertukaran.

Teori pertukaran/
percampuran

Objek Waktu
Pertukaran/ Pertukaran/
percampuran percampuran

Dayn
(Financial Asset) Naqdan
(Immediate Delivery)

Ayn
(Real Asset) Ghairu Naqdan
(Deferred Delivery)

Uang &
Barang & Surat
Jasa Berharga
Gambar 25. Teori Pertukaran & Teori Percampuran

Dari segi waktunya, baik dalam teori percampuran maupun pertukaran, dapat
dibedakan menjadi dua: immediate delivery (naqdan, penyerahaan saat itu juga), dan
deffered delivery (muajjal, penyerahaan kemudian). Sementara itu, dari segi objeknya,
dalam teori ini dapat dibedakan menjadi dua pula: ayn (real asset, barang dan jasa) dan
dayn (financial asset, uang dan non-uang).

1) Percampuran Ayn dengan Ayn


Percampuran antara ayn dengan ayn dapat terjadi, misalnya pada kasus di mana
ada seorang tukang kayu bekerja sama dengan tukang batu untuk membangun sebuah
rumah. Baik tukang kayu maupun tukang batu, keduanya sama-sama menyumbangkan
tenaga dan keahliannya (jasa) dan mencampurkan jasa mereka berdua untuk membuat
usaha bersama, yakni membangun rumah. Dalam kasus ini, yang dicampurkan adalah
ayn dengan ayn. Tukang kayu menyumbangkan keahlian perkayuannya (jasa, ayn), dan
tukang batu menumbangkan keahlian membangunnya (jasa, ayn). Bentuk percampuran
seperti ini disebut syirkah abdan.
2) Percampuran Ayn dengan Dayn
Percampuran antara ayn (real asset) dengan dayn (financial asset) dapat
mengambil beberapa bentuk, di antaranya sebagai berikut.
a) Syirkah Mudharabah
Dalam kasus ini, uang (financial asset) dicampurkan dengan jasa/keahlian (real
asset). Hal ini ketika ada seorang pemilik modal (A) yang bertindak sebagai
penyandang dana, memberikan sejumlah dana tertentu untuk dipakai sebagai modal
usaha kepada seseorang yang memiliki kecakapan untuk berbisnis (B). di sini, A
memberikan dayn (uang, financial asset), sementara B memberikan ayn
(jasa/keahlian, real asset).
b) Syirkah wujuh
Dalam syirkah wujuh juga terjadi percampuran antara ayn dengan dayn. Dalam
bentuk syirkah seperti ini, seorang penyandang dana (A) memberikan sejumlah dana
tertentu untuk dipakai sebagai modal usaha, dan B menyumbangkan reputasi/nama
baiknya.
3) Percampuran Ayn dengan Dayn
Percampuran antara dayn dengan dayn dapat mengambil beberapa bentuk pula.
Bila terjadi percampuran antara uang dengan uang dalam jumlah yang sama (Rp X
dengan Rp X), hal ini disebut syirkah mufawadhah. Namun jumlah uang yang
dicampurkan berbeda (Rp X dengan Rp Y), hal ini disebut syirkah inan. Percampuran
dayn dengan dayn dapat juga berupa kombinasi antarsurat berharga, misalkan saham PT
X digabungkan dengan PT Y, dan lain-lain.
Sebagaimana dalam teori pertukaran, maka dalam teori pencampuran kita juga
dapat membuat ringkasan yang dapat membantu kita menentukan halal-haramnya
transaksi-transaksi pencampuran. Ringkasan tersebut diberikan dalam Matrik
Pencampuran berikut.

Tabel 5. Matriks Percampuran

Time Now for Now for Deferred


Objek Now deferred For deferred
Ayn + Ayn
Ayn + Dayn
Dayn + Dayn

Matrik di atas memberikan panduan yang komprehensif bagi kita untuk dapat
menentukan halal-haramnya suatu transaksi percampuran. Semua transaksi percampuran
tangguh serah (deferred for deferred dan now for deffered) diharamkan (dua kolom paling
kanan dari matriks). Yang diperbolehkan hanyalah percampuran yang dilaksanakan
secara tunai/naqdan (now for now). Percampuran yang halal ini dapat dilihat pada kolom
kedua pada matrik diatas.