Anda di halaman 1dari 45
BAB 2 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Pada bagian ini akan diuraikan bentuk-bentuk pengelolaan lingkungan hidup

BAB 2

RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

Pada bagian ini akan diuraikan bentuk-bentuk pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan atas dampak yang ditimbulkan dalam rangka untuk menghindari, mencegah, meminimalisir, dan/ atau mengendalikan dampak negatif dan meningkatkan dampak positif.

Sesuai dengan hasil telaahan dampak penting hipotetis, beberapa dampak penting yang akan dikelola meliputi dampak yang diprakirakan akan terjadi pada tahap pra konstruksi, konstruksi dan operasi dari kegiatan pembangunan Bangunan Utama (Power Block) PLTU, Terminal Khusus (Jetty), Pengerukan (Dredging) dan Pembuangan Material Hasil Keruk (Dumping) serta Jaringan Transmisi 500 kV (SUTET) dan Gardu Induk. Di samping itu juga akan dikelola beberapa dampak tidak penting yang tergolong pada kategori “dampak lainnya”.

Kegiatan operasional jaringan transmisi mulai dari tower pertama sampai dengan tower ke titik interkoneksi jaringan SUTET 500 kV Jawa-Bali, tidak termasuk dalam dokumen AMDAL ini sehingga tidak dilakukan pelingkupan.

Matriks rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.

Tabel 2.1 Matriks Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup

Tabel 2.1 Matriks Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

DAMPAK PENTING YANG DIKELOLA

 

A.

POWER BLOCK

 

I

TAHAP PRA KONSTRUKSI

 
 

KEGIATAN SURVEI

 

1

Pola Hubungan Sosial

Kegiatan survei

Tetap terjaganya keharmonisan hubungan di antara masyarakat, pemrakarsa dan pemerintah

1) Membangun pola interaksi harmonis antara masyarakat, pemrakarsa dan pemerintah (para pemangku kepentingan) melalui forum komunikasi. Forum komunikasi ini diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan sekali. Perencanaan dan pelaksanaan forum ini disusun atas

Berada di lokasi :

Selama tahap pra konstruksi berlangsung

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa

1)

Desa Ujungnegoro

2)

Desa Karanggeneng

 
 

3)

Desa Ponowareng

b. Instansi Pengawas yaitu Badan

4)

Desa Kedungsegog

Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

kesepakatan bersama. 2) Menghilangkan timbulnya kecurigaan melalui

keterbukaan informasi tentang rencana kegiatan, prosedur dan proses pelaksanaannya dengan cara melakukan koordinasi untuk sosialisasi yang intensif denganelemen masyarakat setempat melalui media komunikasi, antara lain melalui buletin, papan pengumuman dan lainnya. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan melalui lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan setempat.

3)

 

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, dan Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah.

2

Keresahan Masyarakat

Kegiatan survei

1) Terciptanya suasana tenang tanpa ada rasa saling curiga 2) Hilangnya kekhawatiran akan kehilangan lahan dan pekerjaan. 3) Hilangnya kekhawatiran tidak bisa bekerja di proyek

1)

Pemrakarsa menyediakan informasi secara terbuka dan akuntabel tentang rencana kegiatan, prosedur

Berada di lokasi :

Selama tahap pra konstruksi berlangsung

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa

1)

Desa Ujungnegoro

dan proses pelaksanaan pembebasan lahan dengan cara melakukan koordinasi untuk sosialisasi yang intensif dengan elemen masyarakat yang terdampak

2)

Desa Karanggeneng

 

3)

Desa Ponowareng

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

4)

Desa Kedungsegog

2)

 
 

Pemrakarsa melakukan penjelasan langsung kepada masyarakat tentang rencana kegiatan, prosedur dan proses pelaksanaan pengadaan lahan

3) Proses penentuan harga lahan dilakukan secara musyawarah dan mufakat.

4)

Pengukuran luas lahan dan batas-batas kepemilikan lahan dilakukan secara bersama pemilik lahan.

5) Pembayaran lahan dilakukan secara langsung kepada pemilik melalui bank.

 

3

Perubahan

Persepsi

Kegiatan survei

1) Meningkatnya persepsi positif masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTU Jawa Tengah 2 x 1.000 MW.

1) Mencegah timbulnya keresahan dalam masyarakat yang terkena dampak dengan cara memberikan penjelasan yang baik dan benar dengan melibatkan tokoh masyarakat. 2) Membangun kondisi lingkungan sosial yang kondusifmelalui pendekatan partisipatif 3) Membangun pola interaksi harmonis antara masyarakat dengan pelaksana kegiatan lapangan.

Berada di lokasi :

Selama tahap pra konstruksi berlangsung

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa

Masyarakat

1)

Desa Ujungnegoro

2)

Desa Karanggeneng

 

3)

Desa Ponowareng

b. Instansi Pengawas Badan Lingkungan Hidup Kabupaten

2) Kondisi lingkungan semakin harmonis dan kondusif.

4)

Desa Kedungsegog

 

Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK   INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

 

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

KEGIATAN PENGADAAN LAHAN

 

1

Perubahan

Pola

Mata

Kegiatan pengadaan lahan untuk blok PLTU akan menyebabkan hilangnya matapencaharian buruh tani, petani penggarap, dan pemilik lahan

Terciptanyalapangan kerja dan/atau sumber nafkah bagi buruh tani dan

Setelah diterbitkannya izin lingkungan, Pemrakarsa bersama pemerintah daerah merumuskan tiga (3)

Di

Desa Ujungnegoro dan

Selama tahap pra konstruksi berlangsung

a. Instansi Pelaksana Yaitu PT

Pencaharian

Desa Karanggeneng dan Desa Ponowareng (yang buruh tani dan petani penggarapnya terkena dampak pembebasan lahan untuk Blok PLTU)

Lokasi lahan pengganti kebun

Bhimasena Power Indonesia Selaku Pemrakarsa

petani penggarap yang kehilangan matapencahariannya

formula sumber nafkah pengganti yang akan dikukuhkan melalui penetapan oleh pemerintah daerah, meliputi :

1) Penyediaan lahan garapan pengganti yang luasannya setara atau seimbang dengan kebutuhan bagi buruh tani dan petani penggarap yang terkena dampak, berdasarkan kesepakatan dengan buruh tani serta petani penggarap yang terkena dampak. 2) Pemberian kompensasi sosial sesuai dengan kebutuhan buruh tani dan petani penggarapterdampak. Dalam implementasinya program ini akan melibatkan pemrakarsa, dinas terkait pemerintah, dan perwakilan masyarakat. 3) Penciptaan wirausaha baru perdesaan dari kelompok buruh tani dan petani penggarap yangterkena dampak sesuai dengan minat dan peluang yang tersedia, dengan menyediakan bantuan teknis.

 

b. Instansi Pengawas Yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang Dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan Yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

 

melati

melalui

ditetapkan setelah kajian yang

mendalam.

2

Keresahan Masyarakat

Kegiatan pengadaan lahan

1) Adanya kejelasan informasi kebutuhan lahan, prosedur dan proses pelaksanaan pengadaan lahan. 2) Menurunnya keluhan, protes

1) Pemrakarsa menyediakan informasi secara terbuka dan akuntabel tentang rencana kegiatan, prosedur dan proses pelaksanaan pembebasan lahan dengan cara melakukan koordinasi untuk sosialisasi yang intensif dengan elemen masyarakat yang terdampak

Di

Desa Ujungnegoro dan

Selama tahap pra konstruksi berlangsung

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa

Desa Karanggeneng dan Desa Ponowareng

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten

 

2)

Pemrakarsamelakukan penjelasan langsung kepada

 

tentang prosedur dan proses pengadaan lahan.

masyarakat tentang rencana kegiatan, prosedur dan proses pelaksanaan pengadaan lahan 3) Proses penentuan harga lahan dilakukan dengan musyawarah dan mufakat

4)

Pengukuran luas lahan dan batas-batas kepemilikan lahan dilakukan secara bersama pemilik lahan.

Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

 

5) Pembayaran lahan dilakukan secara langsung kepada pemilik lahan melalui bank.

3

Perubahan

Persepsi

Kegiatan pengadaan lahan

1)

Meningkatnya

persepsin

positif

1) Pemrakarsa menyediakan informasi secara terbuka dan akuntabel tentang rencana kegiatan, prosedur dan proses pelaksanaan pembebasan lahan dengan cara melakukan koordinasi untuk sosialisasi yang intensif dengan elemen masyarakat yang terdampak Pemrakarsamelakukan penjelasan langsung kepada masyarakat tentang rencana kegiatan, prosedur dan proses pelaksanaan pengadaan lahan

3) Proses penentuan harga lahan dilakukan dengan musyawarah dan mufakat

2)

Di

Desa Ujungnegoro dan

Selama tahap pra konstruksi berlangsung

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa

Masyarakat

terhadap

kegiatan

pengadaan

Desa Karanggeneng dan

lahan

Desa Ponowareng

 

2)

Menurunnya

keluhan

tentang

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

proses pengadaan lahan

 

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

4)

Pengukuran luas lahan dan batas-batas kepemilikan lahan dilakukan secara bersama pemilik lahan.

5) Pembayaran lahan dilakukan secara langsung kepada pemilik lahan melalui bank.

 
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP  

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

II

TAHAP KONSTRUKSI

 
 

PENERIMAAN TENAGA KERJA

 

1

Peningkatan

Kegiatan

penerimaan

Minimum 40%dari kebutuhan tenaga kerja konstruksi diprioritaskan dari tenaga kerja lokal.

Penerimaan tenaga kerja konstruksi yang dibutuhkan mengutamakan warga lokal sesuai dengan kualifikasidan ketersediaan lapangan kerja. Proses penerimaan tenaga kerja dilakukan melalui :

Kecamatan Kandeman :

Selama tahapkonstruksi

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan/ atau kontraktor pelaksana yang ditunjuk

Kesempatan Kerja

 

tenaga

kerja

konstruksi

1)

Desa Ujungnegoro

 

PLTU

2)

Desa

 

Karanggeneng

1) Sosialisasi secara intensif 2) Pengumuman di balai desa 3) Seleksitenaga kerja secara transparan 4) Peningkatan keterampilan bagi warga lokal yang berpotensi

3)

Desa Juragan

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

4)

Desa Bakalan

Kecamatan Tulis :

1)

Desa Ponowareng

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah

 

2)

Desa Kenconorejo

Kriteria tenaga kerja lokal :

3)

Desa Wonokerso

Range 1: Wilayah Studi (13 desa) Range 2: Kecamatan Kandeman dan Tulis Range 3: Kabupaten Batang

4)

Desa Simbangjati

5)

Desa Beji

6)

Desa Tulis

 

7)

Desa

Wringingintung

 

8)

Desa Sembojo

9)

Desa Kedungsegog

2

Perubahan

Pola

Mata

Kegiatan

penerimaan

Semakin bertambahnya jumlah wirausaha baru dari masyarakat yang terkena dampak.

Memfasilitasi wirausaha baru yang bersumber dari masyarakat terkena dampak, antara lain berupa bimbingan teknis dan manajemen terhadap wirausaha baru.

Kecamatan Kandeman :

Sesuai

dengan

peluang

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa

Pencaharian

tenaga

kerja

konstruksi

1)

Desa Ujungnegoro

yang ada

PLTU

2)

Desa

 

Karanggeneng

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah

 

3)

Desa Juragan

4)

Desa Bakalan

Kecamatan Tulis :

1)

Desa Ponowareng

2)

Desa Kenconorejo

3)

Desa Wonokerso

4)

Desa Simbangjati

5)

Desa Beji

6)

Desa Tulis

7)

Desa

 

Wringingintung

8)

Desa Sembojo

9)

Desa Kedungsegog

Dengan prioritas 3 (tiga) desa di tapak PLTU yaitu

Desa

Ujungnegoro,

Karanggeneng, dan Desa Ponowareng.

3

Perubahan

Tingkat

Kegiatan penerimaan tenaga kerja konstruksi PLTU dan fasiltasi penciptaan wirausaha baru

1) Adanya kepastian sumber pendapatan bagi masyarakat lokal terkena dampak yang terserap dalam tahap konstruksi. 2) Meningkatanya tenaga kerja dari masyarakat terkena dampak yang terserap pada usaha-usaha

1)

Memberikan upahkepada masyarakat lokal terkena dampak yang terserap dalam tahap konstruksi

sesuai dengan peraturan yang berlaku Memfasilitasi pengembangan usaha yang dijalankan oleh wirausaha baru.

Di 13(tiga belas) desa wilayah studi

Selama tahap konstruksi berlangsung dan dapat diperpanjang sampai tahap operasi (jika diperlukan).

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsadan/ atau kontraktor pelaksana yang ditunjuk

Pendapatan

2)

Kecamatan Kandeman :

1)

Desa Ujungnegoro

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan

 

3) Memberdayakan petani penggarap dan buruh tani yang terkena dampak menginginkan bekerja di

2)

Desa Karanggeneng

3)

Desa Juragan

NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BENTUK

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 
     

yangdikembangkan oleh wira usaha baru 3) Adanya kepastian bagi masyarakat buruh tani dan penggarap yang terkena dampak yang masih menginginkan bekerja di sektor pertanian.

 

sektor pertanian.

4)

Desa Bakalan

   

Hidup Provinsi Jawa Tengah

 
 

Kecamatan Tulis :

 

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah

1)

Desa Ponowareng

 

2)

Desa Kenconorejo

3)

Desa Wonokerso

4)

Desa Simbangjati

 

5)

Desa Beji

6)

Desa Tulis

 

7)

Desa Wringingintung

8)

Desa Sembojo

 

9)

Desa Kedungsegog

Dengan prioritas 3 (tiga) desa di tapak PLTU yaitu

Desa

Ujungnegoro,

Karanggeneng, dan Desa Ponowareng.

 

4 Perubahan

Persepsi

Kegiatan

penerimaan

1) Berkurangnyapersepsi negatif masyarakat terhadap peneriman tenaga kerja. 2) Bertambahnya persepsi

1) Penerimaan tenaga kerja konstruksi yang dibutuhkan mengutamakan warga lokal sesuai dengan kualifikasi dan ketersediaan lapangan

Di 13 desa wilayah studi

 

Selama tahap konstruksi berlangsung dan dapat diperpanjang sampai tahap operasi (jika diperlukan).

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan/ atau kontraktor pelaksana yang ditunjuk

Masyarakat

tenaga

kerja

konstruksi

 

PLTU

Kecamatan Kandeman :

 
 

kerja. Proses penerimaan tenaga kerja dilakukan melalui :

1)

Desa Ujungnegoro

 

positifmasyarakat terhadappenerimaan tenaga kerja. Rendahnya intensitas keluhan dan

2)

Desa Karanggeneng

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

Sosialisasi secara intensif

3)

Desa Juragan

 

3)

Pengumuman di balai desa

4)

Desa Bakalan

protes masyarakat atas rencana pembangunan PLTU

Seleksi tenaga kerja secara transparan

 

Peningkatan keterampilan bagi warga lokal yang berpotensi

Kecamatan Tulis :

 

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja dan

 

1)

Desa Ponowareng Desa Kenconorejo Desa Wonokerso Desa Simbangjati Desa Beji Desa Tulis Desa Wringingintung Desa Sembojo Desa Kedungsegog

 

2)

2) Memberikan upah kepada masyarakat lokal terkena dampak yang terserap dalam tahap konstruksi sesuai dengan peraturan yang berlaku. 3) Mensosialisasikan secara rutin setiap kemajuan dan rencana kegiatan dalam forum komunikasi.

3)

4)

5)

6)

Transmigrasi

Provinsi

Jawa

7)

Tengah

 

8)

9)

 

5 Adat

Istiadat

Interaksi sosial pekerja pendatang yang bekerja selama tahap konstruksi PLTU

Terjaganya nilai dan norma yang diyakini masyarakat berkaitan dengan keberadaan Maqam Syeikh Maulana Maghribi

1) Memberikan pembekalan (induction)pada pekerja

Desa

Ujungnegoro,

Desa

Selama tahap konstruksi berlangsung dan dapat diperpanjang sampai tahap operasi (jika diperlukan).

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor

(Perubahan

Nilai

dan

 

pendatang tentang adat istiadat masyarakat sekitar PLTU Mendukung kerja sama dengan masyarakat sekitar dan pengurus Maqam Syeikh Maulana Maghribi

Karanggeneng,

dan

Desa

Norma

dalam

Ponowareng

 

Masyarakat)

2)

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

   

Maqam

Syeikh

Maulana

 

untuk mencegahtumbuhnya aktifitas yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang terkait dengan kesakralan Maqam Syeikh Maulana Maghribi. 3) Ikut membantu dalam menjaga dan melestarikan Maqam Syeikh Maulana Maghribi

Maghribi

dan

lingkungan

sekitarnya.

 

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Dinas

 

Pariwisata Provinsi Jawa Tengah

 

MOBILISASI PERALATAN DAN MATERIAL

 
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP  

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

1

Penurunan

Kualitas

Kegiatan mobilisasi peralatan. Pada kegiatan tersebut akan terjadi peningkatan frekuensi lalulintas yang berpotensi menimbulkan polutan partikulat dan gas.

Tingkat konsentrasi kualitas udara ambien tidak melebihi baku mutu yang disarankan sesuai Kep. Gub. Jateng No. 8 tahun 2001dengan parameter Sulfur dioksida (SO 2 ), Nitrogen dioksida (NO 2 ),dan TSP.

1) Proses pengangkutan material (tanah gali/ urug) dilengkapi dengan penutup terpal pada saat melewati daerah pemukiman. 2) Pemasangan rambu lalulintas sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku 3) Melakukan pembersihan terhadap kendaran yang keluar dari tapak proyek 4) Melakukan penyiraman minimal dua kali sehari pada ruas jalan akses menuju tapak PLTU yang tidak di-aspal di sekitar tapak proyek yang dilalui kendaraan pengangkut peralatan dan material secara rutin, terutama pada saat musim panas dengan mengacu kepada prosedur penyiraman tanah 5) Pemakaian masker bagi operator kendaraan berat sesuai dengan keperluan dan prosedur yang telah ditetapkan. 6) Pembatasan kecepatan kendaraan maks. 40 km/jam apabila melewati permukiman dalam batas wilayah studi

Di

rute

jalan

angkut

yang

Selama kegiatan mobilisasi peralatan dan material pada tahap konstruksi.

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

Udara

melalui permukiman warga Kecamatan Kandeman :

1)

Desa Ujungnegoro

   

2)

Desa Karanggeneng

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

Kecamatan Tulis :

1)

Desa Ponowareng

   

2)

Desa Kenconorejo

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

3)

Desa Simbangjati

4)

Desa Beji

 

2

Peningkatan Kebisingan

Kegiatan mobilisasi peralatan. Pada kegiatan tersebut akan terjadi peningkatan frekuensi lalulintas yang berpotensi menimbulkan kebisingan mesin kendaraan.

Tingkat kebisingan tidak melebihi baku mutu yang disarankanvmengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan peruntukkan pemukiman (55 dB(A))

1)

Menggunakan kendaraan untuk kegiatan mobilisasi alat dan bahan yang lolos uji emisi kendaraan, termasuk penggunaan exhaust muffler (knalpot). Pemakaian penutup telinga (earplug) bagi operator kendaraan berat sesuai dengan keperluan.

Di

rute

jalan

angkut

yang

Selama kegiatan mobilisasi peralatan dan materialdi tahap konstruksi.

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

2)

melalui permukiman warga Kecamatan Kandeman :

1)

Desa Ujungnegoro

2)

Desa Karanggeneng

   

b. Instansi Pengawas Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

3) Perawatan mesin kendaraan secara berkalasesuai denga prosedur dan ketentuan yang berlaku 4) Pembatasan kecepatan kendaraan maks. 40 km/jam apabila melewati permukiman dalam batas wilayah studi

Kecamatan Tulis :

1)

Desa Ponowareng

   

2)

Desa Kenconorejo

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

3)

Desa Simbangjati

 

4)

Desa Beji

 

3

Gangguan

Lalulintas

Kegiatan mobilisasi peralatan material yang akan meningkatkan volume lalulintas.

Terkendalinya volume lalulintasdengan nilai V/C ≤ 0,7

1) Melakukan pengaturan lalulintas kendaraan yang

Di

rute

jalan

angkut

yang

Selama kegiatan mobilisasi peralatan dan materialdi tahap konstruksi.

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

Darat (Traffic)

masuk dan keluar lokasi proyek dengan pemasangan rambu-rambu peringatan dan rambu

melalui permukiman warga

Kecamatan Kandeman :

1)

Desa Ujungnegoro

     

lalulintas di sekitar tapak proyek dengan memperhatikan prosedur lalu lintas. Melakukan kerjasama dengan instansi terkait dalam kegiatan pemeliharaan infrastruktur jalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2)

Desa Karanggeneng

   

b. Instansi Pengawas Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Dinas PU, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa

Tengah

2)

 

Kecamatan Tulis :

1)

Desa Ponowareng

 
 

2)

Desa Kenconorejo

3)

Desa Simbangjati

4)

Desa Beji

 
 

4

Kerusakan

Infrastruktur

Kegiatan

mobilisasi

Tidak ada kerusakan infrastruktur jalan

1) Semua peralatan berat dengan tonase berat melebihi kapasitas jalan akan dimobilisasi melalui

Di lokasi temporary jetty dan construction jetty dan

Selama kegiatan mobilisasi peralatan dan materialdi

a. Instansi

Pelaksana yaitu PT

Jalan dan Jembatan

peralatan

material

yang

Bhimasena Power Indonesia selaku

NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP  

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

   

akan meningkatkan volume lalulintas

 

laut 2) Menyesuaikan tonase kendaraan pengangkut material dengan kelas jalan yang dilaluinya sesuai dengan peraturan dan prosedur yang telah

sekitarnya

 

tahap konstruksi.

 

Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

Di

rute

jalan

angkut

yang

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Dinas PU, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa

Tengah

melalui permukiman warga

ditetapkan untuk tonase kendaraan 3) Melakukan perbaikan jalan jika terjadi kerusakan jalan dan jembatan

Kecamatan Kandeman :

1)

2)

Desa Ujungnegoro

Desa Karanggeneng

 

4)

Melakukan koordinasi dengan instansi terkait

 
 

Kecamatan Tulis :

 

1)

Desa Ponowareng

2)

Desa Kenconorejo

3)

4)

Desa Simbangjati

Desa Beji

5

Peningkatan

Peluang

Kegiatan

mobilisasi

Semakin bertambahnya jumlah wirausaha baru dari masyarakat yang terkena dampak.

Memfasilitasi wirausaha baru baik perorangan atau kelompok yang bersumber dari masyarakat terkena dampak, antara lain berupa bimbingan teknis dan manajemen terhadap wirausaha baru.

Di

rute

jalan

angkut

yang

Dilakukan

selama

masa

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

Berusaha

peralatan selama konstruksi

melalui permukiman warga Kecamatan Kandeman :

mobilisasi

peralatan

dan

material

pada

tahap

 

1)

Desa Ujungnegoro

 

konstruksi berlangsung

 

2)

Desa Karanggeneng

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

Kecamatan Tulis :

1)

Desa Ponowareng

2)

Desa Kenconorejo

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

3)

Desa Simbangjati

4)

Desa Beji.

 

6

Gangguan Kesehatan Masyarakat (Peningkatan prevalensi penderita ISPA dan penyakit psikosomatis)

Kegiatan mobilisasi peralatan dan material.

Tidak ada peningkatan angka kesakitan ISPA dan penyakit psikosomatis pada masyarakat yang tinggal di sekitar jalur transportasi untuk kegiatan mobilisasi peralatan dan material.

1)

Bekerjasama dengan Puskesmas atau dokter keluarga untuk melakukan penyuluhan tentang :

ventilasi rumah yang sesuai,bentuk pagar yang sesuai, pola hidup sehat dan rumah sehat, penanaman vegetasi yang sesuai untuk mencegah debu. Bekerjasama dengan Puskesmas atau dokter keluarga untuk melakukandeteksi dini dan pemeriksaan ISPA dan penyakit psikosomatis akibat debu yang ditimbulkan oleh kegiatan konstruksi material dan peralatan serta pencatatan kesehatan terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar jalur transportasi untuk pendirian blok PLTU.

Di

rute

jalan

angkut

yang

Dilakukan selama masa mobilisasi peralatan dan material pada tahap konstruksi berlangsung tiap 3 bulan

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

melalui permukiman warga Kecamatan Kandeman :

1)

Desa Ujungnegoro

 

2)

Desa Karanggeneng

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

 

2)

Kecamatan Tulis :

1)

Desa Ponowareng

 
 

2)

Desa Kenconorejo

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

3)

Desa Simbangjati

4)

Desa Beji

 

7

Perubahan

Persepsi

Terpaparnya masyarakat oleh gangguan kualitas udara dan kebisingan dalam kegiatan mobilisasi peralatan dan material

Berkurangnya keluhan warga Terhadap akibat kegiatan mobilisasi peralatan dan material

1) Melakukan koordinasi dan penjelasan tentang aktivitas dan pengelolaan dampak dari mobilisasi peralatan dan material malalui forum komunikasi para pemangku kepentingan.

Di

rute

jalan

angkut

yang

Dilakukan

selama

masa

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan Kontraktor pelaksana kegiatan.

Masyarakat

melalui permukiman warga Kecamatan Kandeman :

mobilisasi

peralatan

dan

material

pada

tahap

 

1)

Desa Ujungnegoro

 

konstruksi berlangsung

2)

2)

Desa Karanggeneng

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan

 

Melakukan pengaturan kegiatan mobilisasi peralatan dan material.yang disepakati oleh para pemangku kepentingan

3) Melakukan pengelolaan dengan baik semua dampak teknis yang muncul dari kegiatan mobilisasi peralatan dan material.

Kecamatan Tulis :

1)

2)

Desa Ponowareng

Desa Kenconorejo

NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP  

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

       

4)

Memberikan penggantian jika terjadi kerugian yang ditimbulkan oleh kegiatan mobilisasi peralatan dan material.

3)

Desa Simbangjati

 

Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

4)

Desa Beji

 

8 Gangguan

terhadap

Terpaparnya masyarakat oleh gangguan kualitas udara dan kebisingan dalam kegiatan mobilisasi peralatan dan material

Rendahnya intensitas keluhan dan protes masyarakatakibat kegiatan mobilisasi peralatan dan material.

Bentuk pengelolaan yang dilakukan seperti pengelolaan yang direncanakan pada kegiatan mobilisasi peralatan dan material meliputi:

Di

dalam tapak proyek yang

Selama kegiatan mobilisasi peralatan dan material

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa

Kenyamanan

menjadi sumber pencemar kualitas udara

 

1)

Proses pengangkutan material (tanah gali/ urug)

Di rute jalan angkut yang

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten

 

dilengkapi dengan penutup terpal pada saat melewati daerah pemukiman.

2) Pemasangan rambu lalulintas sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku

Melakukan pembersihan terhadap kendaran yang

keluar dari tapak proyek 4) Melakukan penyiraman minimal dua kali sehari pada ruas jalan akses menuju tapak PLTU yang tidak di-aspal di sekitar tapak proyek yang dilalui kendaraan pengangkut peralatan dan material secara rutin, terutama pada saat musim panas dengan mengacu kepada prosedur penyiraman tanah

3)

5) Pembatasan kecepatan kendaraan maks. 40 km/jam apabila melewati permukiman dalam batas wilayah studi.

melalui permukiman warga Kecamatan Kandeman :

1)

2)

Desa Ujungnegoro

Desa Karanggeneng

Kecamatan Tulis :

Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

1)

Desa Ponowareng

2)

Desa Kenconorejo

3)

Desa Simbangjati

4)

Desa Beji

 
 

9 Perubahan

Tingkat

Kegiatan mobilisasi peralatan dan material

Peningkatan pendapatan warga sekitar power block.

1)

Memfasilitasi wirausaha baru bagi tenaga kerja lokal

Di

jalan angkut (rute angkut)

Selama kegiatan mobilisasi peralatan dan material

a. Instansi Pelaksana yaitu PT

Pendapatan

yang mengalami demobilisasi pada tahap konstruksi

yang melalui permukiman warga meliputi Desa Beji, Simbangjati, Kenconorejo, Ponowareng, Karanggeneng, dan Desa Ujungnegoro.

Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa

   

melalui program inisiatif perusahaan dalam pengembangan masyarakat.

2) Memfasilitasi warga masyarakat untuk meningkatkan variasi dan skala usaha dalam rangka peningkatan pendapatan.

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

 

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

 

PEMATANGAN LAHAN

 
 

1 Penurunan

Kualitas

Tersebarnya debu dan gas buang mesin (alat berat) ke udara pada saat kegiatan pematangan lahan

Tingkat konsentrasi kualitas udara ambien tidak melebihi baku mutu yang disarankan sesuai Kep. Gub. Jateng No. 8 tahun 2001dengan parameter Sulfur dioksida (SO 2 ), Nitrogen dioksida (NO 2 ),dan TSP.

1)

Memastikan ban truk yang keluar dari lokasi proyek dalam keadaan bersih (melakukan pencucian)

Di

dalam tapak proyek yang

Selama

kegiatan

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

b. Instansi Pengawas Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten

Udara

menjadi sumber pencemar kualitas udara yakni di Desa

Ujungnegoro dan Desa Karanggeneng dan Desa

Ponowareng

pematangan lahan

2) Mengontrol emisi kendaraan proyek selama beroperasi dengan melakukan perawatan rutinsesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. 3) Melakukan penyiraman minimal dua kali seharidi lokasi pematangan lahan untukmengurangi debu di udaradengan mengacu kepada prosedur penyiraman tanah di lokasi jalan akses.

   

.

Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

 

2 Perubahan

Bentang

Perubahan stabilitas lahan akibat dari kegiatan

Tidak munculnya gejala longsoran seperti tanah retak dan alur-alur erosi

1)

Melakukan

pemilahan

lokasi

lahan

yang

sesuai

Di

dalam tapak proyek yang

Selama

kegiatan

a. Instansi

Pelaksana yaitu PT

Alam

dengan kebutuhan

 

dipotong dan ditimbun (cut

pematangan lahan

Bhimasena Power Indonesia selaku

NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK   INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

 

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

   

pemotongan

dan

 

2) Dibuat sistem terasering atau yang sejenis pada bukit yang tidak dipotong untuk mengurangi dampak erosi. Pada proses pembangunan terasering, pemrakarsa sudah melakukan survei tanah untuk memastikan kondisi geologi tanah. 3) Membuat drainase sepanjang 2,4 km untuk mengalirkan saluran air alami menuju ke laut. 4) Melakukan pemantauan dan perawatan drainase

yang telah dibuat dan secara berkala untuk memastikan saluran air tidak terhambat

and fill) di Desa Ujungnegoro

 

Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, dan Dinas

pengurugan

tanah

(cut

and fill)

5)

Memperhatikan ketentuan sempadan pantai sejauh 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Sesuai Permen No.17/MEN/2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

ESDM Provinsi Jawa Tengah

3

Gangguan

terhadap

Kegiatan

pematangan

Parameter yang dipantau adalah struktur komunitas flora darat liar setara dengan kondisi awal atau lebih baik.

1) Sejak awal tahap pematangan lahan menyisihkan Ruang Terbuka Hijau di barat laut, sebesar 10% dari area power block dalam bentuk patch/ bercak/ pulau yang tidak terpotong oleh jalan/ bangunan/ lapangan (mengacu pada PerMen PU

No.41/PRT/M/2007).

1)

Di dalam tapak proyek dan sekitarnya yakni di Desa Ujungnegoro, Desa Karanggeneng dan Desa Ponowareng.

Selama kegiatan konstruksi berlangsung (minimal 6 bulan sekali) dan diperpanjang selama tahap operasi berlangsung (minimal 1 tahun sekali)

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan

Flora Darat

lahan.

 

2) Menjadikan Ruang Terbuka Hijau sebagai percontohan sanctuary atau daerah lindungan tertutup bagi satwa liar yang berasal dari dalamdan daerah sekitar tapak power block. 3) Bekerjasama dengan pemerintah melakukan penanaman dan pemeliharaan jenis-jenis vegetasi pantai/mangrove dengan memprioritaskan lokasi zona konservasi yang telah ditentukan (Peta Taman Pesisir Ujungnegoro - Roban Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah berdasar Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. KEP29/MEN/2012 dapat dilihat pada Lampiran). 4) Bekerjasama dengan pemerintah melakukan penanaman dan pengayaan jenis-jenis vegetasi yang berfungsi sebagai sumber pakan, tempat berlindung dan berkembang biak satwa liar seperti dari jenis-jenis tanaman berbunga dan berbuah yang ditemukan di lokasi proyek dan sekitarnya seperti Mangga (Mangifera indica), Sirsak (Annona mucirata), Srikaya(Annona squamosa), Kamboja (Plumeria sp), Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Lamtoro (Leuchaena glauca), Flamboyan (Delonix regia), Asam (Tamarindus indica), Bunga Merak (Caesalpinia pulcherrima), Melinjo (Gnetum gnemon), Butun (Barringtonia sp.), Kapuk (Ceiba pentandra), Mahoni (Swietenia mahogani), Jengkol (Archidendron pauciflorum), Nangka (Artocarpus integra), Sukun (Artocarpus elasticus), Beringin (Ficus benjamina), Jambu biji (Syzigium guajava), Melati (Jasminum sambac), Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), Mengkudu

2)

Di

lokasi

zona

 

konservasi

yang

telah

 

ditentukan

Hidup Provinsi Jawa Tengah c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BENTUK

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

       

(Morinda citrifolia), Jeruk (Citrus maxima), Rambutan (Nephelium lappaceum), Kepuh (Sterculia foetida). 5) Mendukung pemerintah dalam pelestarian kawasan hijau yang dipilih oleh pemerintah yang merupakan kawasan konservasi estuaria berdasarkan arahan Surat Keputusan Bupati Batang No. 523/194/2012 tentang Pencadangan Kawasan Taman Pesisir Ujungnegoro-Roban dan Sekitarnya di Kabupaten Batang dan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. KEP29/MEN/2012 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Ujungnegoro-Roban Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah

     

4

Gangguan

terhadap

Kegiatan

pematangan

Parameter yang dipantau adalah

1) Sejak awal tahap pematangan lahan menyisihkan

1)

Di dalam tapak proyek dan sekitarnya yakni di Desa Ujungnegoro dan Desa Karanggeneng Kecamatan Kandeman dan sebagian lagi terletak di Desa Ponowareng Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Di lokasi zona konservasi yang telah ditentukan

Selama kegiatan konstruksi

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan b. Instansi Pengawas yaitu, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

Fauna Darat

lahan.

struktur komunitas fauna darat liar setara dengan kondisi awal atau lebih baik.

 

Ruang Terbuka Hijau di barat laut area power block sebesar 10% dari area power block dalam bentuk patch/bercak/pulau yang tidak terpotong oleh jalan/bangunan/lapangan (mengacu pada PerMen

berlangsung (minimal 6 bulan sekali) dan diperpanjang selama tahap

PU No.41/PRT/M/2007). 2) Mengerjakan pematangan lahan dalam blok-blok kerja dan tidak mengganggu areal di luar blok kerja untuk memberi kesempatan berpindah untuk satwa liar. 3) Bekerjasama dengan pemerintah melakukan penanaman dan pengayaan jenis-jenis vegetasi yang berfungsi sebagai sumber pakan, tempat berlindung dan berkembang biak satwa liar seperti dari jenis-jenis tanaman berbunga dan berbuah yang ditemukan dilokasi proyek dan sekitarnya (Mangga (Mangifera indica), Sirsak (Annona mucirata), Sawo (Annona squamosa), Kamboja (Plumeria sp), Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Lamtoro (Leuchaena glauca), Flamboyan (Delonix regia), Asam (Tamarindus indica), Bunga Merak (Caesalpinia pulcherrima), Melinjo (Gnetum gnemon), Butun (Barringtonia sp.), Kapuk (Ceiba pentandra), Mahoni (Swietenia mahogani), Jengkol (Archidendron pauciflorum), Nangka (Artocarpus integra), Sukun (Artocarpus elasticus), Beringin (Ficus benjamina), Jambu biji (Syzigium guajava), Melati (Jasminum sambac), Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), Mengkudu (Morinda citrifolia), Jeruk (Citrus maxima), Rambutan (Nephelium lappaceum), Kepuh (Sterculia foetida).

2)

operasi berlangsung (minimal 1 tahun sekali)

4)

Mendukung pemerintah dalam pelestarian kawasan hijau yang dipilih oleh pemerintah yang merupakan kawasan konservasi estuaria berdasarkan arahan Surat Keputusan Bupati Batang No. 523/194/2012

   
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BENTUK
NO.
DAMPAK LINGKUNGAN
YANG DIKELOLA
SUMBER DAMPAK
INDIKATOR KEBERHASILAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
HIDUP
BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
LOKASI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
PERIODE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
INSTITUSI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
5)
tentang Pencadangan Kawasan Taman Pesisir
Ujungnegoro-Roban dan Sekitarnya di Kabupaten
Batang dan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan
Perikanan Republik Indonesia No.
KEP29/MEN/2012 tentang Penetapan Kawasan
Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Ujungnegoro-Roban Kabupaten Batang Provinsi
Jawa Tengah
Mendukung pemerintah menanam dan memelihara
jenis-jenis vegetasi pantai/ mangrove dengan
memprioritaskan lokasi zona konservasi yang telah
ditentukan (Peta Taman Pesisir Ujungnegoro
Roban Kabupaten batang Provinsi Jawa Tengah
berdasar Surat Keputusan Menteri Kelautan dan
Perikanan Republik Indonesia No.
KEP29/MEN/2012 dapat dilihat pada Lampiran).
6) Pengumuman dan informasi berupa gambar
burung ataupun jenis hewan dilindungi lannya di
lokasi strategis.
7) Penjelasanmengenai perlakuan dan penanganan
yang harus dilakukankepada pekerja konstruksi
pelaksana pematangan lahanterhadaphewan-
hewan yang berada di blok kerja.
Khusus untuk fauna yang dilindungi :
BPI mendukung program pemerintah dalam program
konservasi, bekerja sama dengan pihak terkait maupun
lembaga-lembaga konservasi lainnya untuk pengelolaan
berbasis multi pihak (Multi Stakeholder Based
Management) atau berbasis masyarakat lokal (PP No. 7
tahun 1999 dan PP No. 8 tahun 1999) konservasi.
5
Peningkatan
Peluang
Kegiatan
pematangan
Adanya masyarakat setempat yang
memanfaatkan peluang berusaha
Memfasilitasi wirausaha baru baik perorangan maupun
kelompok yang berasal dari masyarakat terkena
dampak, antara lain berupa bimbingan teknis,
manajemen, dan/ atau permodalan.
Minimal
6
bulan
sekali
a. Instansi
Pelaksana
yaitu
PT
Kecamatan Kandeman:
Berusaha
lahan
Selama kegiatan konstruksi
1)
Desa Ujungnegoro
berlangsung
2)
Desa Karanggeneng
3)
Desa Juragan
4)
Desa Bakalan
Kecamatan Tulis :
1)
2)
Desa Ponowareng
Desa Kenconorejo
Desa Wonokerso
Desa Simbangjati
Desa Wringingintung
Desa Kedungsegog
Desa Beji
Desa Tulis
Desa Sembojo
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa dan kontraktor
pelaksana kegiatan
b. Instansi Pengawas Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
3)
4)
5)
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah
6)
7)
8)
9)
Dengan prioritas 3 (tiga)
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BENTUK
NO.
DAMPAK LINGKUNGAN
YANG DIKELOLA
SUMBER DAMPAK
INDIKATOR KEBERHASILAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
HIDUP
BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
LOKASI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
PERIODE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
INSTITUSI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
desa di tapak PLTU yaitu
Desa Ujungnegoro,
Karanggeneng, dan Desa
Ponowareng.
6 Perubahan
Tingkat
Kegiatan
pematangan
Pendapatan
lahan
Peningkatan pendapatan warga
sekitar power block.
1) Memfasilitasi wira usaha baru bagi tenaga kerja
lokal yang mengalami demobilisasi pada tahap
konstruksi melalui program inisiatif perusahaan
dalam pengembangan masyarakat.
2) Memfasilitasi warga masyarakat untuk
meningkatkan variasi dan skala usaha dalam
rangka peningkatan pendapatan.
Kecamatan Kandeman:
Selama kegiatan konstruksi
berlangsung
1)
Desa Ujungnegoro
2)
Desa Karanggeneng
3)
Desa Juragan
4)
Desa Bakalan
Kecamatan Tulis :
1)
2)
3)
4)
Desa Ponowareng
Desa Kenconorejo
Desa Wonokerso
Desa Simbangjati
Desa Wringingintung
Desa Kedungsegog
Desa Beji
Desa Tulis
Desa Sembojo
a. Instansi Pelaksana yaitu PT
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa
b. Instansi Pengawas yaitu Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah
5)
6)
7)
8)
9)
Dengan prioritas 3 (tiga)
desa di tapak PLTU yaitu
Desa Ujungnegoro,
Karanggeneng, dan Desa
Ponowareng.
7 Perubahan
Persepsi
Kegiatan
pematangan
Berkurangnya
intensitas
keluhan
Kecamatan Kandeman:
Masyarakat
lahan.
warga
atas
akibat
aktifitas
1) Melakukan koordinasi dan penjelasan tentang
aktivitas dan pengelolaan dampak dari kegiatan
pematangan lahan.
2) Melakukan pengelolaan dengan baik semua
dampak teknis yang muncul dari kegiatan
pematangan lahan.
1)
Desa Ujungnegoro
pematangan lahan
2)
Desa Karanggeneng
a. Instansi Pelaksana yaitu PT
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa dan kontraktor
pelaksana kegiatan
3)
Desa Juragan
4)
Desa Bakalan
Selama kegiatan konstruksi
berlangsung (minimal 6
bulan sekali) dan di
perpanjang selama tahap
operasi berlangsung
(minimal 1 tahun sekali)
Kecamatan Tulis :
b. Instansi Pengawas yaitu Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
1)
2)
3)
4)
5)
Desa Ponowareng
Desa Kenconorejo
Desa Wonokerso
Desa Simbangjati
Desa Wringingintung
Desa Kedungsegog
Desa Beji
Desa Tulis
Desa Sembojo
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah
6)
7)
8)
9)
PEMBANGUNAN BANGUNAN UTAMA PLTU DAN FASILITASNYA
1 Penurunan
Kualitas
Air
Kegiatan:
Di perairan Ujungnegoro –
Tahap Konstruksi
a. Instansi
Pelaksana
yaitu
PT
Laut
1) Pembangunan
storm
Tingkat kualitas air laut masih
memenuhi baku mutu berlaku
(KEPMEN LH No. 51 Tahun 2004)
untuk parameter :
1) Membuat saluran drainase sementara di sekeliling
lokasi konstruksi dan mengalirkannya ke kolam
pengendapan untuk menahan padatan yang
terbawa air masuk ke laut.
Roban di
sekitar lokasi
Bhimasena Power Indonesia selaku
water
discharge
proyek
Pemrakarsa
dan
kontraktor
channel
pelaksana kegiatan
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BENTUK

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

   

2) Pembangunan

shore

a. Kecerahan

2) Melakukan pengelolaan saluran drainase terutama pada saat musim hujan

   

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

line protection

b. Kekeruhan

3) Pembuatan

pondasi

c. Total Suspended Solids (TSS)

3) Menempatkan tumpukan material bangunan dan tanah pada lokasi yang di luar jangkauan pasang surut air laut. 4) Membuat bangunan pelindung pantai di sepanjang bibir pantai (shore protection) dengan slope 1 : 3. Material yang digunakan terdiri dari dua lapis. Lapisan pertama setebal 500 mm diurug dengan batu berukuran 5 kg. Lapisan ke dua diurug dengan batu berukuran 20-50 kg dan 200 kg.

bangunan utama

d. pH

e. Minyak dan Lemak

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

 

2 Gangguan

terhadap

Kegiatan:

Struktur komunitas biota air laut plankton, benthos, dan nekton setara dengan kondisi awal

Menyediakan terumbu karang buatan (artificial reef) pada Karang Kretek, Karang Maeso, dan lokasi yang terindikasi merupakan lokasi penangkapan ikan (fishing ground) berbasis partisipasi maysarakat dan ekosistem terpadu.

Di perairan Ujungnegoro

Sejak kegiatan pembangunan bangunan utama PLTU di perairan (jetty)

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

Biota Laut

1) Pembangunan

storm

water

discharge

channel

 

2) Pembangunan

shore

 

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

line protection

 

3) Pembuatan

pondasi

bangunan utama

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

 

3 Peningkatan

Peluang

Pembangunan

bangunan

Adanya masyarakat setempat yang memanfaatkan peluang berusaha ketika kegiatan konstruksi bangunan PLTU berlangsung

Memfasilitasi wirausaha baru baik perorangan maupun kelompok yang berasal dari masyarakat terkena dampak, antara lain berupa bimbingan teknis dan manajemen.

Kecamatan Kandeman:

Selama tahapkonstruksi sejak kegiatan penerimaan tenaga kerja.

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

Berusaha

utama PLTU.

1)

Desa Ujungnegoro

2)

Desa Karanggeneng

3)

4)

Desa Juragan

Desa Bakalan

 
   

Kecamatan Tulis :

1)

Desa Ponowareng

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

2)

Desa Kenconorejo

3)

Desa Wonokerso

4)

Desa Simbangjati

5)

Desa Wringingintung

6)

Desa Kedungsegog

 

7)

Desa Beji

8)

Desa Tulis

9)

Desa Sembojo

Dengan mempritoritaskan di 3 (tiga) desa lokasi tapak PLTU yaitu Desa Ujungnegoro, Karanggeneng, dan Ponowareng.

 

4 Perubahan

Tingkat

Kegiatan pembangunan bangunan utama PLTU

Peningkatan pendapatan warga sekitar power block.

1)

Memfasilitasi

wirausaha

baru

bagi

tenaga

kerja

Kecamatan Kandeman:

Selama

tahap

konstruksi

a. Instansi

Pelaksana yaitu PT

Pendapatan

lokal

yang

mengalami

demobilisasi

pada

tahap

1)

2)

Desa Ujungnegoro

Desa Karanggeneng

berlangsung

Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa

   

konstruksi

melalui

program

inisiatif

perusahaan

 
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BENTUK
NO.
DAMPAK LINGKUNGAN
YANG DIKELOLA
SUMBER DAMPAK
INDIKATOR KEBERHASILAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
HIDUP
BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
LOKASI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
PERIODE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
INSTITUSI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
dalam pengembangan masyarakat.
3)
Desa Juragan
2)
Memfasilitasi
warga
masyarakat untuk
4)
Desa Bakalan
meningkatkan variasi dan skala usaha dalam
rangka peningkatan pendapatan.
b. Instansi Pengawas yaitu Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
Kecamatan Tulis :
1)
Desa Ponowareng
2)
Desa Kenconorejo
3)
Desa Wonokerso
4)
Desa Simbangjati
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah
5)
Desa Wringingintung
6)
Desa Kedungsegog
7)
Desa Beji
8)
Desa Tulis
9)
Desa Sembojo
Dengan mempritoritaskan di 3
(tiga) desa yaitu Desa
Ujungnegoro, Karanggeneng,
dan Ponowareng.
5 Perubahan
Persepsi
Kegiatan konstruksi
bangunan utama PLTU
Berkurangnya
intensitas
1) Melakukan koordinasi dan penjelasan tentang
aktivitas dan pengelolaan dampak dari kegiatan
konstruksi bangunan utama.
2) Melakukan pengelolaan dengan baik semua
dampak teknis yang muncul dari kegiatan.
Kecamatan Kandeman:
Masyarakat
keluhanwarga terhadap akibat
kegiatan konstruksi bangunan utama
PLTU.
Selama kegiatan konstruksi
bangunan utama PLTU
1)
Desa Ujungnegoro
2)
Desa Karanggeneng
a. Instansi Pelaksana yaitu PT
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa dan kontraktor
pelaksana kegiatan
3)
Desa Juragan
4)
Desa Bakalan
Kecamatan Tulis :
b. Instansi Pengawas yaitu Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
1)
Desa Ponowareng
2)
Desa Kenconorejo
3)
Desa Wonokerso
4)
Desa Simbangjati
5)
Desa Wringingintung
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah
6)
Desa Kedungsegog
7)
Desa Beji
8)
Desa Tulis
9)
Desa Sembojo
UJI COBA (COMMISSIONING)
1 Penurunan
Kualitas
Udara
Keluarnya gas buang dari
cerobong sebagai akibat
dari kegiatan uji coba
Tingkat konsentrasi kualitas udara
ambien dan emisi tidak melebihi
baku mutu yang disarankan sesuai
Kep. Gub. Jateng No. 8 tahun 2001
yaitu Sulfur dioksida (SO 2 ), Nitrogen
dioksida (NO 2 ), Karbon Monoksida
(CO), O 3 (Oksidan), dan debu (TSP).
1) Stackdibangun dengan ketinggian 240 m dan
Di tapak proyek PLTU
Selama
tahap
uji
coba
2)
masing-masing ber-diameter 8,65 m
PemasanganFabric Filter (FF) untuk menangkap fly
ash
(comissioning)
a. Instansi Pelaksana yaitu PT
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa dan kontraktor
pelaksana kegiatan
3)
Untuk mengurangi emisi gasSO 2 dalam gas buang
setelah melalui fabric filter maka gas buang
dialirkan menuju absorber FGD
4) Mempergunakan Low NOx Burner untuk
mengurangi suhu pembakaran sehingga munculnya
NOx pada proses pembakaran bisa ditekan.
b. Instansi Pengawas yaitu Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
PerMenLH No 21 Tahun 2008dengan
parameter kualitas udara yaitu Sulfur
dioksida (SO 2 ), Nitrogen dioksida
(NO 2 ), debu (TSP), dan Opasitas
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK   INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

 

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

2

Peningkatan Kebisingan

Beroperasinya berbagai

1)

Mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. Kep- 48/MENLH/I0/1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan peruntukkan pemukiman (55 dBA) dan peruntukkan industri/pembangkit (70 dBA). Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di tempat kerja.

1) Pemeliharaan turbin, boiler, dan berbagai mesin

Desa Ujungnegoro dan Desa Karanggeneng di Kecamatan Kandeman dan Desa Ponowareng di Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Selama

tahap

uji

coba

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

mesin

dan

peralatan

 

lainnya sesuai dengan spesifikasinya dan pemasangan alat peredam suara yang telah direncanakan Pemakaian pelindung telinga (earplug) bagi pekerja sesuai keperluan dan mengacu kepada peraturan tentang tentang kesehatan untuk perlindungan kerja

(comissioning)

 

utama

PLTU

pada

 

kagiatan uji coba

 

2)

2)

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

   

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

3

 

Keluarnya limbah air pendingin dan limbah cair pada kegiatan uji coba

Baku mutu efluent limbah cair sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 8 tahun 2009 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi usaha dan/ atau Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal

Limbah operasional unit pendingin:

Di

outlet unit air pendingin

Selama

tahap

ujicoba

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

b. Instansi Pengawas yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

Penurunan Kualitas Air Laut

Sistem Outlet Discharge yang digunakan adalah dengan pipa Glass fiber Rreinforced Plastic (GRP) atau baja sepanjang 1,25 km. Untuk meminimalisir area yang terkena dampak dari kenaikan temperatur, air akan dilepaskan ke lingkungan melalui sistem multiport diffuser nozzles yang didesain untuk memastikan kecepatan dan pencampuran antara air dari unit pembangkit dengan air laut

dan outlet unit instalasi pengolah air limbah

(comissioning)

 
 

Tingkat kualitas

air

laut

masih

 

memenuhi

baku

mutu

berlaku

c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

(KEPMEN LH No. 51 Tahun 2004) untuk parameter:

Limbah cair lainnya :

 

a. Kecerahan

 

1)

Limpahan air larian batubara dicegah di kumpulkan

b. Kekeruhan

c. Total Suspended Solids(TSS)

di kolam pengendapan (coal run off pond).

2) Buangan sisa-sisa ceceran minyak pelumas atau minyak pembakar (light fuel oil) akan dipisahkan

d. Suhu

e. pH

   

f. Dissolved Oxygen (DO)

g. BOD

h. Phosphat (PO 4- )

i. Minyak dan Lemak

 

3)

dalam oil separator dan ditampung dalam drum untuk diambil oleh pihak ke tiga.

Pembuatan 3 sistem IPAL yaitu :

IPAL utama (kapasitas 100 m 3 /jam)

IPAL untuk air larian batubara (akan mengolah air larian dari tampat penyimpanan batubara) (kapasitas 8,7 m 3 /jam)

air larian tempat penimbunan

IPAL

untuk

limbah padat

j. Tembaga (Cu)

 

k. Besi (Fe)

l. Seng (Zn)

m. Klorin Bebas (Cl 2 )

 

n. Kromium Total (Cr)

 

o. Salinitas

 

p. Sulfida

q. Sulfat

4

Gangguan

terhadap

Menyebarnya limbah air pendingin dan limbah cair

Struktur komunitas biota air laut plankton, benthos, dan nekton setara dengan kondisi awal

Menyediakan terumbu karang buatan (artificial reef) pada Karang Kretek, Karang Maeso, dan lokasi yang terindikasi merupakan lokasi penangkapan ikan (fishing ground) berbasis partisipasi maysarakat dan ekosistem terpadu.

Di

outlet unit air pendingin

Selama

tahap

uji

coba

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku

Biota Laut

dan outlet unit instalasi

(Comissioning)

 

ke badan air laut pada kegiatan uji coba

pengolah air limbah

 

Pemrakarsa dan kontraktor pelaksana kegiatan

 

b. Instansi Pengawas yaitu, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

 

c. Instansi Penerima Laporan yaitu

NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BENTUK
NO.
DAMPAK LINGKUNGAN
YANG DIKELOLA
SUMBER DAMPAK
INDIKATOR KEBERHASILAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
HIDUP
BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
LOKASI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
PERIODE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
INSTITUSI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah, Dinas
Kelautan dan Perikanan Provinsi
Jateng
5
Perubahan
Persepsi
Kegiatan uji coba
1)
Masyarakat
Rendahnya keluhan masyarakat
yang diakibatkan Kegiatan uji coba
pengoperasian PLTU
Masyarakat yang tinggal di
sekitar tapak proyek. Di tiga
belas desa di wilayah studi
1) Sosialisasi dilakukan
sebelum tahap ujicoba
(comissioning)
2)
Sosialisasi rencana kegiatan ujicoba (comissioning)
kepada masyarakat terkena dampakdengan baik
dan benar
Penanganan limbah padat dan cair serta kebisingan
sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam
peraturan dan perundang-undanganyang berlaku
a. Instansi Pelaksana yaitu PT Instansi
Pelaksana yaitu PT Bhimasena
Power Indonesia selaku Pemrakarsa
dan kontraktor pelaksana kegiatan
Kecamatan Kandeman :
2)
Penanganan
limbah
1)
Desa Ujungnegoro
Desa Karanggeneng
Desa Juragan
Desa Bakalan
padat
dan
cair serta
2)
3)
kebisingan dilakukan
selama tahap uji coba
b. Instansi Pengawas yaitu, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
4)
(Comissioning)
Kecamatan Tulis :
1)
2)
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
Desa Ponowareng
Desa Kenconorejo
Desa Wonokerso
Desa Simbangjati
Desa Beji
Desa Tulis
Desa Wringingintung
Desa Sembojo
Desa Kedungsegog
III
TAHAP OPERASI
PENERIMAAN TENAGA KERJA
1
Peningkatan
Penerimaan tenaga kerja
Kesempatan Kerja
selama
kegiatan
operasional PLTU
1) Jumlah tenaga kerja lokal yang
terserap pada tahap operasi
2) Rendahnya intensitas keluhan dan
protes akibat kegiatan penerimaan
tenaga kerja
1) Merekrut tenaga kerja lokal yang terkena dampak
sesuai dengan kualifikasi, spesifikasi, dan
ketersediaan lapangan kerja.
2) Memberi penjelasan tentang kebutuhan tenaga
kerja, persyaratan dan prosedur penerimaan
melalui forum komunikasi dan pengumuman di
kantor desa/ kecamatan
Masyarakat yang tinggal di
sekitar tapak proyek. Di tiga
belas desa di wilayah studi
Dilakukan setiap kegiatan
rekruitmen tenaga kerja
selama masa operasi
berlangsung
a. Instansi Pelaksana yaitu PT
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa
Kecamatan Kandeman :
1)
2)
3)
4)
Desa Ujungnegoro
Desa Karanggeneng
Desa Juragan
Desa Bakalan
b. Instansi Pengawas yaituBadan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
Kecamatan Tulis :
1)
2)
Desa Ponowareng
Desa Kenconorejo
Desa Wonokerso
Desa Simbangjati
Desa Beji
Desa Tulis
Desa Wringingintung
Desa Sembojo
Desa Kedungsegog
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah, Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi
3)
Provinsi Jawa Tengah
4)
5)
6)
7)
8)
9)
2
Perubahan
Pola
Mata
1)
1)
1)
Program CSR bidang pemberdayaan ekonomi bagi
warga lokal.
Penjelasan tentang perluasan kesempatan kerja
Masyarakat yang tinggal di
sekitar tapak proyek. Di tiga
belas desa di wilayah studi
Selama
tahap
operasi
a. Instansi
Pelaksana yaitu PT
Pencaharian
Kegiatan pemutusan
hubungan kerja di
tahap konstruksidan
Berkurangnya pengangguran
tenaga kerja lokal eks-
konstruksi.
berlangsung
2)
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BENTUK
NO.
DAMPAK LINGKUNGAN
YANG DIKELOLA
SUMBER DAMPAK
INDIKATOR KEBERHASILAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
HIDUP
BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
LOKASI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
PERIODE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
INSTITUSI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
2)
kegiatan penerimaan
tenaga kerja di tahap
operasi.
2)
Terserapnya tenaga kerja lokal
pada tahap operasi.
dan penerimaan tenaga kerja diumumkan secara
transparan melalui forum komunikasi dan media
komunikasidiantaranya meliputi:
Kecamatan Kandeman :
1)
• Kualifikasi yang dibutuhkan sesuai dengan
tahapan kemajuan proyek;
2)
Desa Ujungnegoro
Desa Karanggeneng
Desa Juragan
Desa Bakalan
b. Instansi Pengawas yaitu Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
3)
• Tatacarapenerimaan tenaga kerja
4)
Kecamatan Tulis :
1)
2)
3)
9)
Desa Ponowareng
Desa Kenconorejo
Desa Wonokerso
Desa Simbangjati
Desa Beji
Desa Tulis
Desa Wringingintung
Desa Sembojo
Desa Kedungsegog
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah, Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Provinsi Jawa Tengah
4)
5)
6)
7)
8)
3
Perubahan
Tingkat
Kegiatan operasional unit
PLTU pada saat
penerimaan tenaga kerja
Peningkatan pendapatan warga
sekitar power block
1) Memfasilitasi wira usaha baru bagi tenaga kerja
lokal yang mengalami demobilisasi pada tahap
konstruksi melalui program CSR pemberdayaan
masyarakat.
2) Memfasilitasi warga masyarakat untuk
meningkatkan variasi dan skala usaha dalam
rangka peningkatan pendapatan.
Masyarakat yang tinggal di
sekitar tapak proyek. Di tiga
belas desa di wilayah studi
Selama
tahap
operasional
Pendapatan
berlangsung
a. Instansi Pelaksana yaitu PT
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa
Kecamatan Kandeman :
1)
2)
Desa Ujungnegoro
Desa Karanggeneng
Desa Juragan
Desa Bakalan
b. Instansi Pengawas yaitu Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
3)
4)
Kecamatan Tulis :
1)
2)
Desa Ponowareng
Desa Kenconorejo
Desa Wonokerso
Desa Simbangjati
Desa Beji
Desa Tulis
Desa Wringingintung
Desa Sembojo
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah, Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi
3)
Provinsi Jawa Tengah
4)
5)
6)
7)
8)
9)
Desa Kedungsegog
Dengan memprioritaskan 3
(tiga) desa di dalam tapak
PLTU
yaitu
Desa
Ujungnegoro,
Karanggeneng,
dan
Desa
Ponowareng.
4
Keresahan Masyarakat
Kegiatan pemutusan
hubungan kerja di tahap
konstruksidan kegiatan
penerimaan tenaga kerja
di tahap operasi.
Berkurangnya keluhan masyarakat
yang terkena dampak
1) Penjelasan tentang kesempatan kerja dan
penerimaan tenaga kerja diumumkan secara
transparan kepada tenaga kerja lokal yang akan
berakhir masa kerjanya melalui forum komunikasi
dan media komunikasi, diantaranya meliputi:
Masyarakat yang tinggal di
sekitar tapak proyek. Di tiga
belas desa di wilayah studi
Dilakukan setiap kegiatan
pemerimaan tenaga kerja
selama masa operasi
berlangsung
a. Instansi Pelaksana yaitu PT
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa
Kecamatan Kandeman :
a. Kualifikasi yang dibutuhkan sesuai dengan
tahapan kemajuan proyek;
1)
2)
Desa Ujungnegoro
Desa Karanggeneng
b. Instansi Pengawas yaitu Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BENTUK
NO.
DAMPAK LINGKUNGAN
YANG DIKELOLA
SUMBER DAMPAK
INDIKATOR KEBERHASILAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
HIDUP
BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
LOKASI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
PERIODE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
INSTITUSI PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
b.
Tatacarapenerimaan tenaga kerja.
3)
Desa Juragan
4)
Desa Bakalan
2)
Sosialisasi program CSR untuk :
a. Memfasilitasi wirausaha baru bagi masyarakat
lokal yang terkena dampak pemutusan
hubungan kerja di tahap konstruksi.
Kecamatan Tulis :
1)
2)
b. Peningkatan kualitas fasilitas pendidikan social
3)
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah, Dinas Sosial,
Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Kabupaten Batang
c. Pemberian beasiswa
4)
d. Peningkatan sarana dan prasarana
perundang-undangan yang berlaku
5)
6)
7)
8)
9)
Desa Ponowareng
Desa Kenconorejo
Desa Wonokerso
Desa Simbangjati
Desa Beji
Desa Tulis
Desa Wringingintung
Desa Sembojo
Desa Kedungsegog
Dengan memprioritaskan 3
(tiga) desa di dalam tapak
PLTU
yaitu
Desa
Ujungnegoro,
Karanggeneng,
dan
Desa
Ponowareng.
5 Perubahan
Persepsi
Kegiatan
operasional
Rendahnya
keluhan masyarakat
Masyarakat
PLTU
yang
diakibatkan
kegiatan
operasional PLTU
1) Sosialisasi rencana kegiatan operasional PLTU
kepada masyarakat terkena dampakdengan baik
dan benar
2) Penanganan limbah padat dan cair serta kebisingan
sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam
peraturan dan perundang-undangan yang berlaku
Masyarakat yang tinggal di
sekitar tapak proyek. Di tiga
belas desa di wilayah studi
1)
Sosialisasi
dilakukan
sebelum
tahap
operasional PLTU
a. Instansi Pelaksana yaitu PT Instansi
Pelaksana yaitu PT Bhimasena
Power Indonesia selaku Pemrakarsa
dan kontraktor pelaksana kegiatan
Kecamatan Kandeman :
2)
Penanganan
limbah
1)
Desa Ujungnegoro
Desa Karanggeneng
Desa Juragan
Desa Bakalan
padat
dan
cair
serta
2)
kebisingan dilakukan
3)
selama
tahap
b. Instansi Pengawas yaitu, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
4)
operasional PLTU
Kecamatan Tulis :
1)
2)
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Jawa Tengah
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
Desa Ponowareng
Desa Kenconorejo
Desa Wonokerso
Desa Simbangjati
Desa Beji
Desa Tulis
Desa Wringingintung
Desa Sembojo
Desa Kedungsegog
PENANGANAN BATUBARA
1 Penurunan
Kualitas
Udara
Kegiatan unloading
batubara, pengangkutan
dari jetty ke coal yard dan
penampungan batubara.
Tingkat konsentrasi kualitas udara
ambien tidak melebihi baku mutu
yang disarankan sesuai Kep. Gub.
Jateng No. 8 tahun 2001
dengan parameter :
1) Kegiatan penanganan batubara :
Tapak proyek yakni di :
Dilakukan
selama
tahap
a. Instansi Pelaksana yaitu PT
1)
operasi
Bhimasena Power Indonesia selaku
Pemrakarsa
1)
TSP
Lokasi jalur unloading
batubara,
pengangkutan dari
jetty ke coal yard dan
penampungan
batubara
b. Instansi Pengawas yaitu Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten
Batang dan Badan Lingkungan
Hidup Provinsi Jawa Tengah
2)
Debu jatuh
- Pemasangan conveyor tertutup untuk transportasi
batubara dari jetty ke penampungan batubara.
Kegiatan pembongkaran batubara akan
diminimalisasi (antara lain dengan mengurangi
frekuensi kegiatan dll). Pencegahan dan
penanganan hot spot batubara di tempat
penampungan batubara.
c. Instansi Penerima Laporan yaitu
Bupati Kabupaten Batang, Badan
NO. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA SUMBER DAMPAK   INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

NO.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DIKELOLA

SUMBER DAMPAK

 

INDIKATOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

BENTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

 

LOKASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PERIODE PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

INSTITUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

         

-

Menyiram timbunan batubara dengan air menggunakan sprinkler/ water spray untuk menjaga kelembaban permukaan batubara agar basah, sehingga tidak mudah tertiup angin.

   

Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

2) Penanaman pohon sebagai green belt yang berfungsi sebagai penyerap dan penepis bau berupa jalur pepohonan yang rapat dan tinggi seperti contohnya Cempaka (Michelia champaca), Kenanga (Cananga odorata), Tanjung (Mimosups elengi), dan Cemara Laut (Casuarina equisetifolium)

 

2)

Di

lokasi

pagar

 

pembatas power block

Kegiatan penimbunan abu batubara

Tingkat konsentrasi kualitas udara ambien tidak melebihi baku mutu yang disarankan sesuai Kep. Gub. Jateng No. 8 tahun 2001 dengan parameter :

1) Kegiatan penimbunan abu batubara :

Tapak proyek di

 
 

- Penanganan abu terbang/ fly ash (dalam kondisi lembab) dari silo (dengan kapasitas 3 x 3.200 ton) ke tempat penimbunan abu menggunakan truk abu.

- BPI akan bekerjasama dengan pabrik semen sehingga abu batubara dari Fly Ash Silo diambil oleh pabrik semen untuk dipakai sebagai bahan baku

 

1)

Area

penampungan

   

abu

batubara

(ash

disposal area)

1)

TSP

 

2)

Debu jatuh

- Batubara (Coal) sebagai bahan bakar utama PLTU Jawa Tengah 2 x 1.000 MW yang akan diangkut dari barge langsung dengan menggunakan Receiving Conveyor dan ditampung pada staker- reclaimer di Coal Storage Area.

 

- Setiap pekerja yang bekerja di lokasi ash disposal diwajibkan menggunakan masker.

- Melakukan penyiraman di lokasi ash disposal secara berkala terutama pada musim keringsesuai dengan prosedur dan standar yang berlaku.

- Melakukan pemadatan abu secara berkala sesuai dengan prosedur dan standar yang berlaku.

2) Penanaman pohon sebagai green belt yang berfungsi sebagai penyerap dan penepis bau berupa jalur pepohonan yang rapat dan tinggi seperti contohnya Cempaka (Michelia champaca), Kenanga (Cananga odorata), Tanjung (Mimosups elengi), dan Cemara Laut (Casuarina equisetifolium)

 

2)

Di

lokasi

pagar

 

pembatas power block

2

Peningkatan Kebauan

1) Kegiatan penanganan batubara : penimbunan batubara di coal yard 2) Adanya batubara yang terbakar karena proses self ignition (terbakar sendiri)

Tingkat kebauan yang rendah di areal pemukiman pendudukambien tidak melebihi baku mutu yang disarankan sesuai Kepmen LH No.50 Tahun 1996 Tentang Tingkat Kebauan

1)

Penanaman pohon di pagar pembatas power block dengan jalan atau pemukiman berupa jalur pepohonan yang rapat dan tinggi seperti contohnya Cempaka (Michelia champaca), Kenanga (Cananga odorata), Tanjung (Mimosups elengi), dan Cemara Laut (Casuarina equisetifolium)

1)

Di

lokasi

pagar

Selama tahap operasi PLTU

a. Instansi Pelaksana yaitu PT Bhimasena Power Indonesia selaku Pemrakarsa b. Instansi Pengawas Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah c. Instansi Penerima Laporan yaitu Bupati Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah

pembatas power block

dengan parameter H 2 S dan kebauan total.

2)

Mengumpulkan/ inventarisasi persepsi masyarakat terdekat terkait dengan kebauan yang timbul dari coal yard

2)

Di pemukiman penduduk dekat pagar pembatas power block Di lokasi coal yard

 

3) Pemeliharaan tanaman yang ada di dekat pagar pembatas di sekitar tempat penimbunan batubara 4) Melakukan inspeksi di coal yard untuk

3)

4)

Di lokasi coal yard