Anda di halaman 1dari 8

Tuesday, December 27, 2005

Guru, elemen yang terlupakan

Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih


oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri
pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan
mengubah kurikulum.

Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa
maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia
hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu
terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap
kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis
ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.

Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid
saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang
memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru.
Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.

posted by Pendidikan Indonesia at 2:57 PM 15 comments

Thursday, August 25, 2005


Gelar....Mabuknya Pendidikan

Sekali lagi, Indonesia dihadapkan pada kasus yang mencoreng nama pendidikan. Kasus
jual beli gelar yang dipraktekkan oleh IMGI. Cara memperoleh gelar ini sangatlah
mudah, Anda tinggal menyetor 10-25 juta, dan Anda dapat gelar yang Anda
inginkan..Tinggal pilih...apakah S1, S2, atau S3....benar-benar edan! Sebagian orang
mabuk kepayang akan nilai gelar yang memabukkan. Dan tidak tanggung-tanggung yang
pernah membeli gelar dari IMGI ini...sekitar 5000 orang.

Ini adalah protet buram masyarakat Indonesia yang memuja gelar melampaui batas.
Dengan titel, seakan-akan masa depan lebih mudah. Padahal, nasib ditentukan oleh kerja
keras...dan sebagian masyarakat Indonesia mencari jalan pintas. Tak heran, jika kasus
wakil rakyat yang melakukan jual beli gelar agar kelihatan mentereng menyeruak di
mana-mana. Dan dengan kepala kosong, mereka mencoba mengkonsepsikan
pemerintahan Indonesia. Apa yang terjadi? Undang-undang sekedar lobi-lobi politik
dimana semuanya UUD (ujung-ujungnya duit).

Tidakkah kita semua miris lihat kenyataan ini? Lalu apa gunanya gelar kalau ternyata dia
hanya kedok belaka?
posted by Pendidikan Indonesia at 4:54 PM 5 comments

Tuesday, April 19, 2005


Hakikat Pendidikan

Apa sih hakikat pendidikan? Apakah tujuan yang hendak dicapai oleh institusi
pendidikan?

Agak miris lihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperi pencetak
mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming : lulus cepat, status
disetarakan, dapat ijazah, absen longgar, dsb. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan
kering idealisme seperti itu. Ki hajar dewantoro mungkin bakal menangis lihat kondisi
pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti yang
masih tertulis di UUD 43, bah!), tapi lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk
yang sulit diandalkan kualitasnya.

Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh" saat ini. Bukan lagi
pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir "buruh" lah,
segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu
kata : IJAZAH! ya, ijazah, ijazah, ijazah yang diperlukan untuk mencari pekerjaan.
Sangat minim idealisme untuk mengubah kondisi bangsa yang morat-marit ini, sangat
minim untuk mengajarkan filosofi kehidupan, dan sangat minim pula dalam mengajarkan
moral.

Apa sebaiknya hakikat pendidikan? saya setuju dengan kata mencerdaskan kehidupan
bangsa. Tapi, ini masih harus diterjemahkan lagi dalam tataran strategis/taktis. kata
mencerdsakan kehidupan bangsa mempunyai 3 komponen arti yang sangat penting : (1)
cerdas (2) hidup (3) bangsa.

(1) tentang cerdas


Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan
real. Cerdas bukan berarti hapal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-
bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif
dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya.

(2) tentang hidup


Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Allah sekaligus ujian dari-Nya. Hidup itu
memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk
kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan
segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Patut dijadikan catatan,
bahwa jasad yang hidup belum tentu memiliki ruh yang hidup. Bisa jadi, seseorang masih
hidup tapi nurani kehidupannya sudah mati saat dengan snatainya dia menganiaya orang
lain, melakukan tindak korupsi, bahkan saat dia membuang sampah sembarangan.
Filosofi hidup ini sangat sarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat
kehidupan seseorang, memanusiakan seorang manusia, memberikannya makanan
kehidupan berupa semangat, nilai moral dan tujuan hidup.

(3) tentang bangsa


Manusia selain sesosok individu, dia juga adalah makhluk sosial. Dia adalah komponen
penting dari suatu organisme masyarakat. Sosok individu yang agung, tapi tidak mau
menyumbangkan apa-apa apa-apa bagi masyarakatnya, bukanlah yang diajarkan agama
maupun pendidikan. Setiap individu punya kewajiban untuk menyebarkan
pengetahuannya kepada masyarakat, berusaha meningkatkan derajat kemuliaan
masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat. Siapakah
masyarakat yang dimaksud disini? Saya setuju bahwa masyarakat yang dimaksud adalah
identitas bangsa yang menjadi ciri suatu masyarakat. Era globalisasi memang
mengaburkan nilai-nilai kebangsaan, karena segala sesuatunya terasa dekat. Saat terjadi
perang Irak misalnya, seakan-akan kita bisa melihat Irak di dalam rumah. Tapi
masalahnya, apakah kita mampu berperan aktif secara nyata untuk Irak (selain dengan
doa ataupun aksi)? Peran aktif kita dituntut untuk masyarakat sekitar...dan siapakah
masyarakat sekitar? tidak lain adalah individu sebangsa.

inilah sekelumit tulisan yang saya jadikan pokok pemikiran buat apa itu hakikat
pendidikan sebenarnya.

posted by Pendidikan Indonesia at 5:27 PM 7 comments

Sekolah Global di Desa Kecil Kalibening

FINA Af'idatussofa (14) bukan siswa sekolah internasional dan bukan anak orang berada.
Ia lahir sebagai anak petani di Desa Kalibening, tiga kilometer perjalanan arah selatan
dari kota Salatiga menuju Kedungombo, Jawa Tengah. Karena orangtuanya tidak mampu,
ia terpaksa melanjutkan sekolah di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di desanya.
Namun, dalam soal kemampuan Fina boleh dipertandingkan dengan siswa sekolah-
sekolah mahal yang kini menjamur di Jakarta.

MESKI bersekolah di desa dan menumpang di rumah kepala sekolahnya, bagi Fina
internet bukan hal yang asing. Ia bisa mengakses internet kapan saja. Setiap pagi berlatih
bahasa Inggris dalam English Morning. Ia pernah menjuarai penulisan artikel on line di
kotanya. Ia juga berbakat dalam olah vokal meski ia mengatakan tidak ingin menjadi
seorang penyanyi.

"Kalau menjadi penyanyi, pekerjaanku hanya menyanyi. Padahal, cita-citaku banyak.


Aku ingin jadi presenter, aku ingin jadi penulis, pengarang lagu, ilmuwan, dan banyak
lagi? Aku juga ingin berkeliling dunia," kata Fina.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah resmi terdaftar sebagai SMP Terbuka, sekolah yang
sering diasosiasikan sebagai sekolah untuk menampung orang-orang miskin agar bisa
mengikuti program wajib belajar sembilan tahun. Namun, siswa SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah sangat mencintai dan bangga dengan sekolahnya.
Pukul 06.00 sekolah sudah mulai dan baru berakhir pada pukul 13.30. Akan tetapi, jam
sekolah itu terasa sangat pendek bagi murid-murid sekolah tersebut sehingga setelah
makan siang mereka biasanya kembali lagi ke sekolah. Mereka belajar sambil bermain di
sekolahnya sampai malam, bahkan tak jarang mereka menginap di sekolah.

Murid-murid SMP Qaryah Thayyibah memang sangat menikmati sekolahnya. Bersekolah


merupakan sesuatu yang menyenangkan. Guru bukanlah penguasa otoriter di kelas, tetapi
teman belajar. Mereka bebas berbicara dengan gurunya dalam bahasa Jawa ngoko, strata
bahasa yang hanya pantas untuk berbicara informal dengan kawan akrab.

Di kelas mereka juga sangat bebas. Mereka bisa asyik mengerjakan soal-soal matematika
dengan bersenda gurau, ada yang mengerjakan soal sambil bersenandung, yang lain
bermain monopoli. Suasana bermain itu bahkan di taman kanak-kanak pun kini makin
langka karena mereka dipaksa oleh gurunya untuk membaca dan menulis.

SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin melihat pendidikan di Tanah
Air yang makin bobrok dan semakin mahal. Pada pertengahan tahun 2003 anak
pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Hilmy telah mendapatkan tempat di salah satu
SMP favorit di Salatiga. Namun, Bahruddin terusik dengan anak-anak petani lainnya
yang tidak mampu membayar uang masuk SMP negeri yang saat itu telah mencapai Rp
750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per bulan, belum lagi uang seragam dan uang
buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah.

"Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain?" tuturnya. Bahruddin
yang menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya kemudian berinisiatif mengumpulkan
warganya menawarkan gagasan, bagaimana jika mereka membuat sekolah sendiri dengan
mendirikan SMP alternatif. Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, 12 orang berani
memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan keseriusannya,
Bahruddin juga memasukkan Hilmy ke sekolah yang diangan-angankannya.

"Saya ingin membuat sekolah yang murah, tetapi berkualitas. Saya tidak berpikir saya
akan bisa melahirkan anak yang hebat-hebat. Yang penting mereka bisa bersekolah," kata
Bahruddin.

Bahruddin mengadopsi kurikulum SMP reguler di sekolahnya. Ia menyatakan tidak


sanggup menyusun kurikulum sendiri. Lagi pula sekolah akan diakui sebagai sekolah
berkualitas jika bisa memperoleh nilai yang baik dan mendapatkan ijazah yang diakui
pemerintah. Karena itulah ia memilih format SMP Terbuka. Akan tetapi, ia mengubah
kecenderungan SMP Terbuka sekadar sebagai lembaga untuk membagi-bagi ijazah
dengan mengelola pendidikannya secara serius.

Sekolah itu menempati dua ruangan di rumah Bahruddin, yang sebelumnya digunakan
untuk Sekretariat Organisasi Tani Qaryah Thayyibah. Jumlah guru yang mengajar
sembilan orang, semuanya lulusan institut agama Islam negeri dan sebagian besar di
antaranya para aktivis petani.
Guru pelajaran Matematika-nya seorang lulusan SMA yang kini mondok di pesantren.
Akses internet gratis 24 jam diperoleh dari seorang pengusaha internet di Salatiga yang
tertarik dengan gagasan Bahruddin. Dengan modal seadanya sekolah itu berjalan.

Ternyata pengakuan terhadap keberadaan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah tidak perlu
waktu lama. Nilai rata- rata ulangan murid SMP Qaryah Thayyibah jauh lebih baik
daripada nilai rata-rata sekolah induknya, terutama untuk mata pelajaran Matematika dan
Bahasa Inggris.

Sekolah itu juga tampil meyakinkan, mengimbangi sekolah-sekolah negeri dalam lomba
cerdas cermat penguasaan materi pelajaran di Salatiga. Sekolah itu juga mewakili
Salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat provinsi, dikirim mewakili
Salatiga untuk hadir dalam Konvensi Lingkungan Hidup Pemuda Asia Pasifik di
Surabaya. Pada tes kenaikan kelas satu, nilai rata-rata mata pelajaran Bahasa Inggris
siswa Qaryah Thayyibah mencapai 8,86.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah juga maju dalam berkesenian. Di bawah bimbingan
guru musik, Soedjono, anak-anak sekolah bergabung dalam grup musik Suara Lintang.
Kebolehan anak-anak itu dalam menyanyikan lagu mars dan himne sekolah dalam versi
bahasa Inggris dan Indonesia bisa didengarkan ketika membuka alamat situs sekolah
www.pendidikansalatiga.net/qaryah. Grup musik anak-anak desa kecil itu telah
mendokumentasikan lagu tradisional anak dalam kaset, MP3, maupun video CD album
Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi sekaligus untuk pencarian dana.
Seluruh siswa bisa bermain gitar, yang menjadi keterampilan wajib di sekolah itu.

Sulit dibayangkan anak- anak petani sederhana itu masing-masing memiliki sebuah
komputer, gitar, sepasang kamus bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, satu
paket pelajaran Bahasa Inggris BBC di rumahnya. Semua itu tidak digratiskan. Anak-
anak memiliki semua itu dengan mengelola uang saku bersama-sama sebesar Rp 3.000
yang diterima anak dari orangtuanya setiap hari. Uang sebesar Rp 1.000 dipergunakan
untuk mengangsur pembelian komputer. Untuk sarapan pagi, minum susu, madu, dan
makanan kecil tiap hari Rp 1.000, sedangkan Rp 1.000 lainnya untuk ditabung di sekolah.
Tabungan sekolah itu dikembalikan untuk keperluan murid dalam bentuk gitar, kamus,
dan lain-lainnya.

Tidak mengherankan jika anak-anak dan orangtua mereka bangga dengan sekolah itu.
Betapa tidak, di sekolah yang berdekatan dengan rumah di sebuah desa kecil mereka
mendapatkan banyak hal yang tidak diperoleh di sekolah-sekolah yang dikelola dengan
logika dagang.

Ismanto (43) menceritakan, anaknya sempat down saat mendaftar SLTP di Salatiga dua
tahun lalu. Uang masuknya Rp 200.000, belum termasuk buku dan seragam. Tidak ada
seorang murid pun ke sekolah dengan berjalan kaki selain anaknya, Emi Zubaiti (13).
Kini Emi menjadi seorang anak yang pandai dalam berbagai mata pelajaran, pintar
bernyanyi, dan percaya diri. Ia tidak pernah membayangkan bisa menyekolahkan Emi,
anak pasangan tukang reparasi sofa dan bakul jamu gendong, mendapat sekolah yang
baik.

Bahkan Ismanto ikut menikmati komputer yang dikredit dari uang saku anaknya.
Dibimbing anaknya, sekarang Ismanto mulai belajar komputer. "Tidak pernah terpikir,
saya bisa membelikan komputer. Kini saya malah bisa ikut menikmati," kata Ismanto.

Catatan pribadi :
---------------------
Nah, kita liat sample aja yah. Bukan berarti pendidikan harus mahal kan? Bisa murah tapi
berkualitas. Pendidikan murah berkualitas bukanlah sesuatu yang utopis, tapi bisa dicapai
dengan tekad. Siapa bilang sekolah harus mahal?

posted by Pendidikan Indonesia at 6:19 AM 4 comments

Monday, April 18, 2005


Diskriminasi Pendidikan

Diambil dari pendidikanmurah


---------------------------------------------------------------

Rasa-rasanya rasa muakku sudah sampai pada puncaknya.

Setelah membaca rubrik Humaniora di harianKompas edisi hari ini, aku menjadi semakin
jengkelsaja dengan kebijakan sistem pendidikan di Indonesia yang kian lama kian wagu
saja. Akhir-akhir ini rubrik Humaniora Kompas memang banyak menyoroti tentang
kondisi pendidikan di Indonesia. Diawali dengan pemberitaan mengenai ide cemerlang
dari salah seorang ketua RW di salah satu desa di Sala Tiga yang dengan kreatifnya
menggagas sebuah sekolah alternatif untuk siswa SLTP dengan konsep sekolah
terbukanya sampai pada kegilaan mungkin lebih tepat jika disebut kebodohan dari
pemerintah mengenai rancangan sistem jalur pendidikan yang baru.

Dalam sistem pendidikan yang baru ini pemerintah akan membagi jalur pendidikan
menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar dan jalur formal mandiri. Pembagian
jalur ini berdasarkan perbedaan kemampuan akademik dan finansial siswa. Jalur formal
mandiri diperuntukkan bagi siswa yang mapan secara akademik maupun finansial.
Sedangkan jalur formal standar diperuntukkan bagi siswa yang secara finansial bisa
dikatakan kurang bahkan tidak mampu.

Dengan kata lain jalur formal mandiri adalah jalur bagi siswa kaya sedangkan jalur
formal standar adalah jalur bagi siswa miskin. Konyol memang. Aku sampai tidak habis
pikir bisa-bisanya pendidikan dikotak-kotakkan berdasarkan tingkat fianansial dari
peserta didik. Dalam hal ini, pemerintah berdalih bahwa pada jalur formal mandiri akan
disediakan beasiswa bagi siswa yang kurang mampu miskin agar dapat menuntut ilmu
pada jalur ini. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah Berapa banyak sich beasiswa yang
disediakan?.
Pemerintah sendiri menyatakan bahwa setidaknya akan ada lima persen siswa miskin
yang bersekolah di setiap sekolah yang menyelenggarakan jalur formal mandiri. Menurut
ku ini juga merupakan salah satu bentuk kebodohan yang lain. Coba saja kita bayangkan
seandainya ada seorang siswa miskin yang memperoleh beasiswa untuk bersekolah di
jalur formal mandiri yang nota bene tempat sekolahnya siswa kaya. Bukankah kondisi
seperti ini malah menjadikan siswa miskin ini menjadi minder dan rendah diri. Ketika
teman-temannya selalu mengenakan seragam yang bersih dan tersetrika dengan rapi
dengan menggunakan pelembut dan pewangi pakaian sedangakan siswa miskin ini hanya
mampu mengenakan seragam bekas alias hibahan dari tetangganya, bukankah kondisi
seperti ini malah menjadikan siswa miskin ini menjadi objek tontonan bagi siswa-siswa
kaya?

Apakah pembagian jalur pendidikan ini merupakan salah satu misi pemerintah dalam
upaya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Menurutku, pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi bangsa kita dalam mengejar
ketertinggalan dengan bangsa lain. Aku cukup salut dengan pemerintah Kamboja dan
Thailand yang mulai berbenah diri dengan berfokus pada pendidikan warga negaranya.
Kedua negara ini mulai merintis pendidikan gratis bagi warga nya. Pemerintah Kamboja
sendiri mulai mengalihkan sembilan belas persen dari total anggarannya yang biasanya
digunakan sebagai angaran militer untuk mendukung pengembangan pendidikan.

Lantas bagai mana dengan visi dan misi pendidikan di Indonesia? Mau dibawa ke mana
pendidikan di Negara kita? Apakah pendidikan sudah menjadi barang dagangan yang
nantinya menghasilkan outputan berupa selembar sertifikat dan ijazah bukannya keahlian
dan daya analitis? Dan apakah pendidikan hanya menjadi milik dan hak orang kaya saja?

Apakah memang orang miskin dilarang sekolah?

posted by Pendidikan Indonesia at 1:09 PM 4 comments

Wednesday, December 29, 2004


Kapitalisme Pendidikan

Sudah rahasia umum jika pendidikan sekarang sangat mahal. Yah seperti kata buku,
orang miskin dilarang sekolah! Memprihatinkan, tapi itulah kenyataannya. Masuk TK
saja bisa mencapai ratusan ribu maupun jutaan rupiah, belum lagi kalo masuk SD-SMP-
SMA-Universitas yang favorit. Kalau dihitung, seseorang yang masuk TK sampai dengan
universitas yang favorit akan menghabiskan 100 juta lebih. Wow!
Sekolah memang harus mahal, itulah stigma yang tertanam di benak sebagian orang, dari
orang awam dan bahkan sampai beberapa pejabat depdiknas. benarkah demikian??? Itu
adalah omongan sesat, mereka yang bicara ngelantur begitu sudah pasti tidak pernah lihat
kondisi luar. Malaysia, Jerman, bahkan Kuba sekalipun bisa membuat pendidikannya
sangat murah dan dapat diaksese oleh sebagian besar lapisan masyarakatnya.
Pendidikan yang kapitalistik sekarang ini, yang bertujuan bisnislah yang membuat biaya-
biaya membengkak. Pendidikan diserahkan sebagian kontolnya kepada swasta karena
pemerintah yang kurang becus. Ada baiknya swasta ikut mengatur pendidikan sehingga
masyarakat pun bisa berperan dalam lembaga pendidikan, tapi walau bagaimanapun ini
bukan berarti bahwa pemerintah lepas tangan begitu saja. Ya, kan??? Pendidikan instan
ala swasta yang mementingkan bisnis kjadi masalah besar buat dunia pendidikan. kadang
terbaca di iklan-iklan, lembaga pendidikan yang menawarkan lulus cepat+absen tidak
dihitung+dapat ijazah+dll. Sepertinya, yang penting bagi pendidikan hanyalah dapat
ijazah buat kerja saja. Padahal pendidikan ditujukan untuk membangun moral individu
dan tingkat pengetahuannya.
Lalu bagaimana caranya agar pendidikan bisa murah?? Wah, ini bukan persoalan
gampang,dan jelas butuh pemikiran mendalam. Biar dipikir dan merenung dahulu. Tidak
dituliskan disini, karena bakal sangat panjang juga.

posted by Pendidikan Indonesia at 11:20 AM 7 comments

Monday, November 01, 2004


Pendidikan Indonesia

Hallo semuanya,
Tulisan ini didedikasikan hanya untuk bangsa tercinta kita, yaitu Indonesia. Betapa
semrawutnya kondisi saat ini tidak seharusnya menumpulkan harapan kita akan masa
depan yang lebih baik. Tulisan ini tidak bermaksud menggurui ataupun menyalahkan.
Kita bertukar pikiran hanya untuk mencari solusi terbaik, siapa tahu solusi ini bisa
diimplementasikan dalam kondisi riil.
Tulisan, tanggapan, pengetahuan, artikel rekan-rekan sangat diharapkan sekali agar
wawasan kita semua bertambah. Saya selaku pembuat blog ini sangat bisa jadi memiliki
banyak kelemahan (seperti keahlian menulis yang masih amatiran!). mungkin ini semua
bisa di-cover oleh rekan-rekan semuanya.
Ok, partisipasi rekan-rekan dalam blog inisangat dinantikan. Makasih banyak!