Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat dan karunia-Nya lah akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik,
Perkembangan Intelek, Sosial, dan Bahasa pada Remaja. Makalah ini
penulis susun sebagai tugas dalam perkuliahan Perkembangan Peserta Didik.

Dalam menyusun makalah ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang
penulis alami, namun berkat dukungan, dorongan dan semangat dari orang
terdekat, sehingga penulis mampu menyelesaikannya. Oleh karena itu penulis
pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada:

1. Ibu Dr. Ni Nyoman Parwati, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Perkembangan
Peserta Didik yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.
2. Teman-teman kelas yang mengambil mata kuliah Perkembangan Peserta Didik di
kelas IIIB yang telah memberikan semangat dan motivasi bagi penulis untuk
menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini,


seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu segala
kritikan dan saran yang membangun akan penulis terima dengan baik. Semoga
makalah " Pertumbuhan Dan Perkembangan Peserta Didik, Perkembangan
Intelek, Sosial, dan Bahasa pada Remaja" ini bermanfaat bagi kita semua.

Singaraja, 25 September 2016

Penulis

DAFTAR ISI

1
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
RINGKASAN ................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1Latar Belakang Masalah...................................................................... 1
1.2Rumusan Masalah ............................................................................... 2
1.3Tujuan.................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 3
2.1. JENIS-JENIS KEBUTUHAN DAN PEMENUHANNYA
.............. 4
2.1.1 Kebutuhan Primer........................................................ 5
2.1.2 Kebutuhan Sekunder.................................................... 5
2.2. KEBUTUHAN REMAJA, MASALAH, DAN
KONSEKUENSINYA
2.2.1 Kebutuhan Remaja 8
2.2.2 Masalah dan Konsekuensinya 9
2.3. PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
2.3.1 Pengertian Intelek dan Intelegensi................................... 10
2.3.2 Tahapan Perkembangan Intelektual/Kognitif............
11
2.3.3 Hubungan Intelek dengan Tingkah Laku........................ 12
2.3.4 Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja.................. 13
2.3.5 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
.........................................................................................
.. 14
2.3.6 Perbedaan Individu dalam Kemampuan dan Perkembangan
Intelek.......................................................................................... 15
2.3.7 Usaha- Usaha dalam Membantu Mengembangkan Intelek
Remaja dalam Proses Pembelajaran............................................ 16

2.4 PERKEMBANGAN SOSIAL.......................................................


2.4.1 Pengertian Pengembangan Hubungan Sosial.................. 17
2.4.2 Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja................... 18

2
2.4.3 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Remaja......................................................................................... 19
2.4.5 Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku 20
2.4.6 Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial......... 20
2.4.7 Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan
Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan...................... 21

2.5 PERKEMBANGAN BAHASA..................................................... 21


2.5.1 Pengertian Perkembangan Bahasa................................... 21
2.5.2 Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja.................. 22
2.5.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
.........................................................................................
. 23
2.5.4 Pengaruh Kemampuan Berbahasa terhadap Kemampuan
Berpikir........................................................................................ 24
2.5.5 Perbedaan Individual dalam Kemampuan dan Perkembanga
Bahasa.......................................................................................... 24
2.5.6 Upaya Pengembangan Kemampuan Bahasa Remaja dan
Implikasinya dalam Penyelenggaran Pendidikan............ 25

BAB III PENUTUP........................................................................................ 26


3.1.............................................................................................................Kesi
mpulan ............................................................................................... 26
3.2.............................................................................................................Saran
............................................................................................................27

3
RINGKASAN
Individu adalah pribadi yang kompleks, terkait dengan kedudukannya
sebagai makhluk hidup dan sosial. Sebagai makhluk individu dan makhluk sosial,
manusia mempunyai kebutuhan individu (yang juga dikenal sebagai kebutuhan
pribadi) dan kebutuhan sosial kemasyarakatan. Kebutuhan manusia
diklasifikasikan menjadi kebutuhan primer dan sekunder.. Seorang remaja juga
memiliki kebutuhannya sendiri, kebutuhan seorang remaja dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa kelompok, yaitu kebutuhan organik, kebutuhan emosional,
kebutuhan berprestasi, dan kebutuhan untuk mempertahankan diri serta
mengembangkan jenis. Masa remaja merupakan masa penyempurnaan proses
pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada masa anak-anak, sehingga
mulai terjadi banyak perubahan, baik secara fisik maupun psikologis, seperti
mulai pubertas, serta ego yang mulai memuncak.

Pada masa remaja terjadi perkembangan yang pesat, beberapa


perkembangan yang terjadi pada masa remaja yaitu, perkembangan intelektual,
bakat khusus, sosial dan bahasa. Perkembangan intelek manusia merupakan
proses psikologis yang di dalamnya melibatkan proses memperoleh, menyusun,
dan menggunakan pengetahuan, serta kegiatan mental seperti berpikir,
menimbang, mengamati, mengingat, menganalisis, mengevaluasi, dan
memecahkan persoalan yang berlangsung melalui interaksi dengan lingkungan.
Pada masa remaja, juga terjadi perkembangan sosial dan bahasa. Remaja mulai
membangun hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya, hubungan sosial
dimulai dari tingkat yang sederhana dan terbatas hingga tingkat yang luas dan
kompleks. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan hubungan sosial
adalah keluarga, kematangan, status sosial ekonomi, dan pendidikan. Sedangkan,
perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor
intelek sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa.

4
Faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu umur anak, kondisi
lingkungan, kecerdasan anak, dan status sosial ekonomi keluarga.

Kata Kunci : Kebutuhan, Primer, Sekunder, Remaja, Intelektual, Sosial,


Bahasa

5
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Individu merupakan pribadi yang kompleks, apabila dikaitkan dengan
posisinya sebagai makhluk hidup dan sosial. Sebagai makhluk individu, ia harus
memahami dirinya sendiri sedangkan sebagai makhluk sosial, ia harus siap untuk
bersosialisasi serta berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Manusia tentu
memiliki berbagai macam kebutuhan, baik kebutuhan fisik maupun psikologis.
Kebutuhan-kebutuhan ini harus dipenuhi, agar tercipta keseimbangan di dalam
diri individu tersebut. Pada dasarnya, manusia memiliki 4 kebutuhan pokok, yaitu
akulturasi diri, kebutuhan untuk memiliki, kebutuhan akan perhatian dan kasih
saying, kebutuhan jasmaniah, termasuk keamanan.
Remaja sebagai salah satu tahap perkembangan manusia juga memiliki
berbagai kebutuhan yang sama seperti diatas. Masa remaja sering digambarkan
sebagai masa yang paling indah, dan tidak terlupakan karena penuh dengan
kegembiraan dan tantangan. Pada masa remaja ini terjadi proses pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat signifikan. Dalam proses ini tentu banyak hal telah
terjadi, mulai dari perubahan fisik seperti pubertas, hingga perkembangan cara
berpikir. Masa remaja juga identik dengan kata pemberontakan, dalam istilah
psikologi sendiri sering disebut sebagai masa strom and stress karena banyaknya
goncangan-goncangan dan perubahan-perubahan yang cukup radikal dari masa
remaja sebelumnya. Beberapa perkembangan yang terjadi pada masa remaja yaitu,
perkembangan intelektual, bakat khusus, sosial dan bahasa.
Perkembangan intelektual adalah salah satu perkembangan yang terjadi pada
masa remaja yang harus dilalui agar mereka mampu berfikir secara lebih dewasa
dan rasional, serta memiliki pemikiran yang lebih matang dalam menyelesaikan
masalah. Pikiran manusia sering dipengaruhi oleh ide-ide yang membuat sikapnya
kritis terhadap situasi dan otoritas orang tua selain itu, pengaruh egosentris juga
masih terlihat. Namun, semakin remaja dapat mengendalikan egonya, maka
remaja tdapat dikatakan sudah dapat berpikir secara dewasa. Dengan kata lain

1
remaja harus memiliki kemampuan intelektual serta konsepsi yang dibutuhkan
untuk tumbuh dengan baik di lingkungannya.

Dalam proses perkembangannya, remaja juga memerlukan interaksi sosial


dengan lingkungan sekitarnya. Interaksi sosial merupakan proses sosialisasi yang
mendudukan remaja sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.
Perkembangan sosial pada masa remaja berkembang kemampuan untuk
memahami orang lain sebagai individu. Baik menyangkut sifat-sifat pribadi,
minat, nilai-nilai atau perasaan sehingga mendorong remaja untuk bersosialisasi
lebih akrab dengan lingkungan sebaya atau lingkungan masyarakat baik melalui
persahabatan, atau perantaan. Disamping itu, dengan perkembangan bahasa,
berkembanglah pula kemampuannya untuk mengungkapkan isi hatinya. Ia akan
lebih mudah mengerti orang lain dan lebih mudah dimengerti oleh orang lain.
Semua ini sangat membantu perkembangan tingkah laku dan sikap sosialnya.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penyusun merumuskan rumusan
masalah sebagai berikut ini:
1. Apa saja jenis-jenis kebutuhan dan pemenuhannya?
2. Bagaimana kebutuhan remaja, masalah dan konsekuensinya?
3. Apa yang dimaksud dengan intelek , hubungan intelek dengan tingkah
laku, karakteristik perkembangan intelek remaja serta faktor-faktor
yang mempengaruhinya?
4. Apa yang dimaksud dengan perkembangan sosial dan bagaimana
perkembangannya pada masa remaja?
5. Apa yang dimaksud bahasa dan bagaimana perkembangannya pada
masa remaja?

1.3. Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan
untuk mengetahui dan mendeskripsikannya:

1. Untuk mengetahui apa saja jenis kebutuhan dan pemenuhannya


2. Untuk mengetahui apa saja kebutuhan remaja, masalah dan
konsekuensinya

2
3. Memahami makna intelek, hubungan intelek, dan tingkah laku,
karakteristik perkembangan intelek remaja dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud perkembangan sosial dan
perkembangannya pada masa remaja.
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud bahasa dan perkembangan
bahasa pada masa remaja.

BAB II
PEMBAHASAN

3
2.1. JENIS-JENIS KEBUTUHAN DAN PEMENUHANNYA

Individu adalah pribadi yang utuh dan kompleks. Kekomplekkan tersebut


dikaitkan dengan kedudukannya sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial. Oleh
karenanya di samping seorang individu harus memahami dirinya sendiri, ia juga
harus memahami orang lain dan memahami kehidupan bersama di dalam
masyarakat, memahami lingkungan serta memahami pula bahwa ia adalah
makhluk Tuhan. Sebagai makhluk psiko-fisik manusia memiliki kebutuhan-
kebutuhan fisik dan psikologis, karena ia tumbuh dan berkembang untuk
mencapai kondisi fisik dan sosial psikologis yang lebih sempurna dalam
kehidupannya.
Sebagai makhluk psiko-fisik manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan fisik
dan psikologis,dan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial,manusia
mempunyai kebutuhan individu (yang juga dikenal sebagai kebutuhan pribadi)
dan kebutuhan sosial kemasyarakatan.Lebih lanjut Lefton (1982) menyatakan
bahwa kebutuhan dapat muncul karena keadaan psikologis yang mengalami
goncangan atau ketidakseimbangan.Munculnya kebutuhan tersebut untuk
mencapai keseimbangan atau keharmonisan hidup.
Kebutuhan sosial psikologis semakin banyak dibandingkan dengan
kebutuhan fisik, karena pengalaman kehidupan sosialnya semakin luas.
Kebutuhan itu timbul disebabkan oleh dorongan-dorongan (motif). Dorongan
adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan
sesuatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dorongan dapat berkembang
karena kebutuhan psikologis atau karena tujuan-tujuan kehidupan yang semakin
kompleks.
Kebutuhan manusia timbul akibat dorongan-dorongan (motif) yang ada
pada dirinya.Motif timbul akibat kebutuhan psikologis atau tujuan kehidupan
yang kompleks.Menurut Sunarto (1994:49) kebutuhan dapat dibedakan menjadi
dua kelompok yaitu :
1. Kebutuhan primer yaitu kebutuhan yang merupakan kebutuhan biologis
(organik) yang timbul dari dorongan/motif asli seperti kebutuhan

4
makan,minum,bernafas,kehangatan tubuh ,dan kebutuhan seksual serta
perlindungan diri.
2. Kebutuhan sekunder yaitu kebutuhan yang timbul oleh motif dipelajari
(kebutuhan sosial-psikologis) seperti kebutuhan untuk mencari
pengetahuan,mengikuti pola hidup bermasyarakat ,hiburan dan lainnya.
Klasifikasi kebutuhan menjadi kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder
sering digunakan, namun pengklasifikasian seperti itu sering membingungkan.
Oleh karena itu, Cole dan Bruce membedakan kebutuhan menjadi dua kelompok,
yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan psikologis.Pengelompokan ini sejalan
dengan yang dikemukakan oleh Hendry A. Murray yang diajukan dengan istilah
yang berbeda, yaitu kebutuhan viscerogenic dankebutuhan psychogenic. Beberapa
contoh kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah : makan, minum, istirahat, seksual,
perlindungan diri. Sedang kelompok kebutuhan psikologis, seperti yang
dikemukakan Abraham H. Maslow yaitukebutuhan untuk memiliki
sesuatu, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, kebutuhan akan keyakinan diri,
dan kebutuhan aktualisasi diri.
Perilaku tentang kebutuhan akan keyakinan diri pastilah ada. Kebutuhan
akan keyakinan diri ini diekspresikan melalui dua bentuk perilaku, yaitu
kebutuhan mempertahankan diri (maintenance) dan mengembangkan diri
(enchancement). Sejak lahir hingga meninggal, kebutuhan manusia untuk
mempertahankan dirinya agar tetap hidup merupakan kebutuhan dasar. Hal ini
berarti menempatkan fungsi organisme menjadi amat penting artinya. Tetapi perlu
dipahami bahwa kebutuhan untuk mempertahankan diri itu sebenarnya bukan
sekedar tertuju agar manusia tetap hidup, melainkan lebih dari itu, yakni setiap
individu senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya yang
lebih memadai atau untuk menjadi lebih baik. Lebih dari yang dialami oleh
binatang, manusia mampu mengantisipasi kejadian-kejadian masa depan, tetapi
tidak terbatas untuk mempertahankan dirinya pada saat sekarang, tetapi juga
bermaksud mengubah diri dan lingkungannya agar pengembangan dirinya
menjadi lebih baik di waktu-waktu yang akan datang.
Kemudian, pada masa kehidupan berikutnya, muncul kebutuhan untuk
mengembangkan diri. Berkembangnya kebutuhan ini terjadi karena pengaruh
faktor lingkungan dan faktor belajar; seperti kebutuhan akan cinta kasih,
kebutuhan untuk memiliki, kebutuhan harga diri, kebutuhan akan kebebasan,

5
kebutuhan untuk berhasil, dan munculnya kebutuhan untuk bersaing dengan yang
lain. Kebutuhan-kebutuhan tersebut oleh Hendry A. Murray.
Kebutuhan yang paling dasar yang dimiliki setiap individu dapat
digambarkan sebagai berikut, yaitu kebutuhan akulturasi diri, kebutuhan untuk
memiliki, kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang, kebutuhan jasmaniah,
termasuk keamanan.
Keempat macam kebutuhan tersebut bersifat hierarki, dari kebutuhan yang
bertingkat rendah, yaitu kebutuhan jasmaniah, sampai dengan kebutuhan yang
bertingkat tinggi, yaitu kebutuhan aktualisasi diri.
Menurut Lewis dan Lewis (1993) kegiatan remaja atau manusia didorong
oleh berbagai kebutuhan, yaitu :
a. Kebutuhan Fisiologis
Ini merupakan kebutuhan yang paling dasar. Yaitu kebutuhan makanan,
minuman, sandang, tempat tinggal, seks, tidur, dan oksigen.
b. Kebutuhan Rasa Aman
Di atas kebutuhan fisiologis atau dapat dikatakan sebagai kebutuhan yang
lebih tinggi dari kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan akan rasa aman.
Menurut Maslow, kebebasan yang ada batasnya semacam itu sesungguhnya
sangat diperlukan bagi perkembangan anak ke arah penyesuaian diri yang
lebih baik.
c. Kebutuhan Rasa Memiliki dan Kasih Sayang
Setiap manusia sesungguhnya merasakan kebutuhan yang mendalam akan
adanya cinta dan kasih sayang dari orang lain dan kepada orang lain.
d. Kebutuhan Penghargaan
Ada dua kategori tentang kebutuhan akan penghargaan pada manusia, yaitu:
1) Kebutuhan akan harga diri
2) Kebutuhan akan penghargaan dari orang lain
Kebutuhan akan harga diri meliputi :
Kepercayaan diri
Kompetensi
Penguasaan
Kecukupan
Prestasi
Ketidak-tergantungan
Kebebasan
Kebutuhan akan penghargaan dari orang lain meliputi :
Prestise
Pengakuan
Penerimaan
Perhatian

6
Kedudukan
Nama baik
e. Kebutuhan Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu ini, menurut Erick Fromm (1969) sesungguhnya dapat
dikatakan sebagai suatu proses pencarian makna. Karena merupakan proses
pencarian makna, di dalamnya mengandung hasrat untuk memahami,
menyusun, mengatur, menganalisis, menemukan hubungan-hubungan dan
makna-makna,s erta membangun suatu sistem nilai.
f. Kebutuhan Estetik
Lebih lanjut Maslow bahkan mengatakan kebutuhan keindahan ini dapat
ditemukan dalam setiap peradaban dari zaman ke zaman, bahkan sejak
zaman manusia masih tinggal di dalam gua-gua.
g. Kebutuhan akan Pertumbuhan
Kebutuhan ini merupakan hasil perluasan dan upaya memperjelas teori
kebutuhan dasar manusia yang kemudian dituangkan dalam karyanya yang
berjudul Psychologi OF Being.
h. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan Aktualisasi diri didefinisikan sebagai kebutuhan mendalam
padaindividu untuk menumbuhkan, mengembalikan, dan
menggunakankemampuannya secara penuh.

2.2 KEBUTUHAN REMAJA, MASALAH, DAN KONSEKUENSINYA


2.2.1 Kebutuhan Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa
dewasa. Hall (dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974: 478) memandang bahwa
masa remaja ini sebagai masa storm and stress. Ia menyatakan bahwa selama
masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya
menemukan jati dirinya (identitasnya) dan kebutuhan aktualisasi diri. Beberapa
jenis kebutuhan remaja dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok
kebutuhan, yaitu:

1. Kebutuhan organik, seperti makan, minum, bernafas, seks;


2. Kebutuhanemosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan
pengakuan dari pihak lain.
3. Kebutuhan berprestasi atau need of achievent, yang berkembang karena
didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus
menunjjukan kemampuan psiko-fisis;

7
4. Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis

Prescott mengklasifikasikan kebutuhan remaja menjadi beberapa kelompok


kebutuhan yaitu sebagai berikut:

1. Kebutuhan psikologis seperti melakukan kegiatan, beristirahat dan kegiatan


seksual;
2. Kebutuhan sosial (status) seperti menerima, diterima, menyukai orang lain;
3. Kebutuhan Ego atau interaktif seperti kontak dengan kenyataan,
harmonisasi dengan kenyataan, dan meningkatkan kematangan diri sendiri.

Sedangkan, Moslow mengklasifikasikan kebutuhan remaja sebagai berikut:

1. Kebutuhan akan keselamatan (Safety needs);


2. Kebutuhan memiliki dan mencintai (belonging and love needs);
3. Kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan (esteem needs);
4. Kebutuhan untuk menonjolkan diri (selfactualizing needs)

Pertumbuhan fisik dan perkembangan sosio-psikologi di masa remaja pada


dasarnya merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan proses
pertumbuhan dan perkembangan sebelumnya. Seperti halnya pertumbuhan fisik
yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder merupakan awal
masa remaja sebagai indikator menuju tingkat kematangan fungsi seksual
seseorang.

Disamping itu remaja membutuhkan pengakuan akan kemampuanya.

Remaja butuh pengakuan bahwa ia (mereka) telah mampu berdiri sendiri, mampu

melaksanakan tugas seperti orang dewasa, dan dapat bertanggung jawab atas sikap

dan perbuatan yang dikerjakanya. Dalam kehidupan dunia modern, manusia tidak

saja hanya berfikir tentang kebutuhan pokok, mereka telah lebih maju.

Pemikirannya telah bercakrawala luas, oleh karena itu kebutuhan pokoknya juga

sudah berkembang. Pendidikan dan hiburan misalnya, di dalam masyarakat

modern telah menjadi kebutuhan yang mendesak, bahkan telah masuk daftar

kebutuhan pokok.

8
2.2.2 Masalah dan Konsekuensinya

Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengankebutuhan-


kebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Upaya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan


menjadi perilaku dewasa tidak semuanya dapat diubah dengan mudah
dicapai baik oleh remaja laki-laki maupun perempuan. Pada masa ini
remaja menghadapi tugas-tugas dalam perubahan sikap dan perilaku yang
besar.
b. Seringkali para remaja mengalami kesulitasan untuk menerima perubahan-
perubahan fisiknya. Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan
tubuhnya.Hal ini disebabkan karena pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang
serasi.Kegagalan dalam mengatasi ketidakpuasan ini dapat mengakibatkan
menurunnya harga diri, dan akibat lebih lanut dapat menjadikan remaja
bersikap keras dan agresif atau sebaliknya bersikap tidak percaya diri,
pendiam atau harga diri kurang.
c. Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan
remaja untuk memahaminya, sehingga sering tejadi salah tingkah dan
perilaku yang menentang norma. Pandangannya terhadap sebaya lawan
jenis kelamin dapat menimbulkan kesulitan dalam pergaulan.
d. Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu
mendambakan kemandirian dalam arti menilai dirinya cukup mampu
untuk mengatasi problema kehidupan kebanyakan dan menghadapi
berbagai masalah, terutama masalah penesuaian emosional.
e. Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri untuk dapat hidup mandiri
secara sosial ekonomis, akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk
menetapkanpilihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan. Penyesuaian
sosial merupakan salah satu yang sangat sulit dihadapi remaja. Mereka
bukan saja harus menghadapi satu arah kehidupan, yaitu keragaman norma
dalam kehidupan bersama dalam masyarakat, tetapi juga norma baru
dalam kehidupan sebaya remaja dan kuatnya pengaruh kelompok sebaya.
f. Berbagai norma dan nilai yang berlaku di dalam hidup bermasyarakat
merupakan masalah tersendiri bagi remaja. Dalam hal ini para remaja

9
menghadapi perbedaan nilai dan norma kehidupan. Menghadapi perbedaan
norma ini merupakan keulitan bagi kehidupan remaja.

2.3 PERKEMBANGAN INELEKTUAL

2.3.1 Pengertian Intelek dan Intelegensi


Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American
Language,istilah intellect berarti :
a. Kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk
mengamati hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan, dan sebagainya.
b. Kecakapan mental yang besar, sangat intelligence, dan
c. Pikiran atau inteligensi.

Intelek berarti kekuatan mental yang menyebabkan manusia dapat berpikir


dan beraktifitas yang berkenaan dengan proses berpikir atau kecakapan yang
tinggi untuk berpikir. Sedangkan Intelegensi merupakan suatu kumpulan
kemampuan seseorang yang memungkinkan untuk memperoleh ilmu pengetahuan
dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dengan lingkungan dan
masalah-masalah yang timbul.
Intelek juga merupakan kata lain dari pikir, dimana berkembangnya
sejalan dengan pertumbuhan syarat otak. Karena pikir pada dasarnya
menunjukkan fungsi otak, maka kemampuan intelektual yang lazim disebut
dengan istilah lain kemampuan berpikir, dipengaruhi oleh kematangan otak
yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik.
Intelegensi mengandung unsur-unsur yang sama dengan intelek, yaitu
menggambarkan kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak. Salah satu
tes intelegensi yang terkenal adalah tes yang dikembangkan oleh Alferd Binet
(1857-1911) yang disebut Intellegence Quatient (IQ), artinya perbandingan
kecerdasan.
2.3.2 Tahapan Perkembangan Intelektual/Kognitif
Jean Piaget (Ali dan Asrori, 2009: 27) membagi perkembangan
intelek/kognitif menjadi empat tahapan sebagai berikut.
1) Tahap sensoris-motoris

10
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini, anak berada
dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecendrungan-
kecendrungan sensoris-motoris yang sangat jelas.
Dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya, termasuk juga
dengan orang tuannya, anak mengembangkan kemampuannya untuk
mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai
gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengordinasikan tindakan-
tindakannya.
2) Tahap praoperasional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga
tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan
kecendrungan yang ditandai oleh suasana intuitif. Artinya, semua
pembuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsur
perasaan, kecendrungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-
orang bermakna, dan lingkungan sekitarnya.
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan symbol
yang mewakili sesuatu yang tidak ada.
3) Tahap operasional konkret
Tahap ini berlangsung antara usia 7-11 tahun. Pada masa ini, anak
mulai menyesuaikan diri dengan realitas kongkret dan sudah mulai
berkembang rasa ingin tahunya. Pada tahap ini juga anak juga sudah mulai
memahami hubungan fungsional karena mereka sudah menguji coba suatu
permasalahan. Cara berpikir anak yang masih bersifat kongkret
menyebabkan mereka belum mampu menangkap yang abstrak atau
melakukan abstraksi tentang sesuatu yang kongkret.
4) Tahap operasional formal
Tahap ini dialami oleh anak pada usia 11 tahun ke atas. Pada masa ini,
anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya
yang merupakan hasil dari berpikir logis. Aspek perasaan dan moralnya
juga telah berkembang sehingga dapat mendukung penyelesaian tugas-
tugasnya.

11
Pada tahap ini, anak mulai mampu mencapai logika dan rasio serta
dapat menggunakan abstraksi karena mereka sudah mulai mampu
mengembangkan pikiran formalnya.

2.3.3 Hubungan Intelek dengan Tingkah Laku


Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang terhadap
kejadian atau peristiwa yang tidak konkrit. Kemampuan abstraksi akan berperan
dalam perkembangan kepribadian remaja. Karena bagi remaja, corak perilaku
pribadinya di hari depan dan sekarang akan berbeda.
Pikiran manusia sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang
membuat sikapnya kritis terhadap situasi dan otoritas orang tua.Selain itu
pengaruh egosentris masih terlihat pada pikirannya.Cita-cita dan idealismenya
terlalu menitikberatkan pada pikirannya sendiri tanpa memperhitungkan kesulitan
atau akibat lebih jauh yang mungkin timbul dalam menyelesaikan suatu persoalan.
Melalui pengalaman dan penghayatan kenyataan dalam menghadapi
pendapat orang lain, egosentrisme makin lama makin berkurang dan akhirnya
menjadi semakin kecil, sehingga remaja sudah dapat berpikir abstrak dengan
mengikut sertakan pendapat dan pandangan orang lain.

2.3.4 Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja


Pada usia remaja ini anak sudah dapat berfikir operasional formal atau
setidak-tidaknya memiliki sifat-sifat penting, yaitu sebagai berikut:
1. Sifat deduktif hipotesis
Dalam menyelesaikan suatu masalah, seorang remaja akan
mengawalinya dengan pemikiran teoritik. Setelah itu baru menganalisis
masalah dan mengajukan cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin.
Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berfikir
induktif disamping deduktif. Oleh sebab itu dari sifat analisis yang ia
lakukan, ia dapat membuat strategi penyelesaian. Analisis teoritik ini
dapat dilakukan secara verbal atau mengajukan pendapat-pendapat dan
prediksi tertentu disebut proporsi-proporsi.
2. Berpikir operasional juga berpikir kombinasoris

12
Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan
berhubungan dengan cara melakukan analisis. Misalnya anak diberi lima
buah gelas berisi cairan tertentu. Anak yang berpikir operasional formal,
akan memikirkan apakah kombinasi cairan ini membuat cairan tadi
berubah warna atau tidak.
Seorang remaja dengan kemampuan berpikir normal tetapi hidup
dalam lingkungan atau kebudayaan yang tidak dapat merangsang cara
berpikirnya (tidak ada kesempatan untuk menambah pengetahuan, pergi
ke sekolah tetapi tidak adanya fasilitas yang dibutuhkan), maka
perkembangan intelek remaja itu sampai dewasa pun tidak akan sampai
pada taraf berpikir abstrak.

2.3.5 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek


Perkembangan intelektual sebenarnya dipengaruhi oleh dua faktor utama,
yaitu hereditas dan lingkungan. Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap
perkembangan intelektual itu dapat dijelaskan berikut ini.
a. Faktor Hereditas
Semenjak dalam kandungan, anak telah memiliki sifat-sifat yang
menentukan daya kerja intelektualnya. Secara potensial anak telah
membawa kemungkinan, apakah akan menjadi kemampuan berpikir setraf
formal, di atas normal, atau di bawah normal. Namun, potensi ini tidak akan
berkembang atau terwujud secara optimal apabila lingkungan tidak memberi
kesempatan untuk berkembang.
b. Faktor Lingkungan
1) Keluaraga
Intervensi yang paling penting dilakukan oleh keluarga atau orang tua
adalah memberikan pengalaman kepada anak dalam berbagai bidang
kehidupan sehingga anak memiliki informasi yang banyak yang
merupakan alat bagi anak untuk berpikir.
2) Sekolah
Sekolah adalah lembaga formal yang diberi tanggung jawab untuk
meningkatkan perkembangan anak termasuk perkembangan berpikir

13
anak. Beberapa cara yang dilakukan oleh guru dalam membantu
perkembangan intelektual anak :
Menciptakan iteraksi atau hubungan yang akrab dengan peserta
didik.
Memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk berdialog
dengan orang-orang yang ahli dan berpengalaman dalam berbagai
bidang ilmu pengetahuan.
Menjaga dan meningkatkan pertumbuhan fisik anak, baik melalui
kegiatan olahraga maupun menyediakan gizi yang cukup.
Meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik, baik melalui
media cetak maupun dengan menyediakan situasi yang
memungkinkan para peserta didik berpendapat atau mengemukakan
ide-idenya.

2.3.6 Perbedaan Individu dalam Kemampuan dan Perkembangan


Intelek
Seperti diketahui, manusia itu berbeda satu sama lain dalam berbagai hal,
juga tentang inteligensinya. Inteligensinya itu sendiri oleh David Wechler (1958)
didefinisikan sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan
bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara
efektif. Berdasarkan nilai IQ atau kecerdasannya manusia dapat dikategorikan
menjadi 6 kelompok, yaitu :
1. Dibawah 70, anak mengalami kelainan mental;
2. 71-85, anak dibawah normal (bodoh);
3. 86-115, anak yang normal;
4. 116-130, anak di atas normal (pandai);
5. 131-145, anak yang superior (cerdas); dan
6. 145 ke atas anak genius (istimewa);
Diantara berbagai skala IQ yang diajukan oleh berbagai ahli, yang paling
banyak digunakan adalah skala yang dikembangkan oleh Wechler dan Bellevue
(Sarlito, 1991:78). Mereka menyatakan bahwa kalau semua orang didunia diukur
inteligensinya maka akan terdapat orang-orang yang sangat cerdas yang sama
banyaknya dengan orang-orang yang sangat rendah tingkat berfikirnya
(terbelakang), orang-orang yang superior sama banyaknya dengan orang-orang

14
yang tergolong perbatasan (borderline). Sedangkan yang terbanyak adalah orang-
orang yang tergolong berinteligensi rata-rata atau normal.
Faktor umum (General Faktor) orang yang ber-IQ 120, misalnya akan
berpenampilan sama dengan orang-orang lain yang ber-IQ 120 juga. Kalau ada
perbedaan maka hal itu disebabkan oleh faktor-faktor lain diluar inteligensi,
seperti minat, pengalaman, sikap, dan sebagainya.
Spearman menyatakan bahwa disamping faktor umum (General Factor & G-
factor) ada juga faktor khusus (Special Factor & S-Factor) didalam inteligensi itu
sendiri. Faktor khusus inilah yang menyebabkan orang-orang yang ber-IQ sama,
ang seorang lebih terampil dalam bidang angka-angka sehingga ia menjadi ahli
matematika, sedangkan seseorang lain fasih dalam kemampuan lisan sehingga ia
menjadi ahli bahasa (Sarlito, 1991:79).
Sarjana lain seperti Thurstone, mengatakan bahwa faktor umum itu tidak ada,
yang ada hanya sekelompok faktor khusus yang diberi nama Kemampuan Mental
Primer yang terdiri dari 7 faktor yaitu : i) Kemampuan verbal (verbal
comprehention), ii) kemampuan angka-angka (numerical ability), iii) tilikan
keruangan, iv) kemampuan pengindraan, v) ingatan, vi) penalaran, dan vii)
kelancaran berbahasa.
Thomson tidak setuju dengan faktor-faktor yang disebutkan Thurstone. Ia
berpendapat bahwa faktor umum dalam inteligensi tidak ada, tetapi yang ada
hanyalah sejumlah faktor khusus yang berbeda-beda dari orang ke orang dan dari
waktu ke waktu pada orang yang sama. Faktor-faktor itu sedemikian banyaknya,
tetapi yang berfungsi pada saat-saat tertentu hanya sebagian kecil saja dari
keseluruhan faktor yang ada. Menurut Piaget, inteligensi mempunyai beberapa
sifat :
1. Inteligensi adalah interaksi aktif dengan lingkungan
2. Inteligensi meliputi struktur organisasi perbutan dan pikiran, dan interaksi yang
bersangkutan antara individu dan lingkungannya
3. Struktur tersebut dalam perkembangannya mengalami perubahan kualitatif
4. Dengan bertambahnya usia, penyesuaian diri lebih mudah karena proses
keseimbangan yang bertambah luas
5. Perubahan kualitatif pada inteligensi timbul pada masa yang mengikuti suatu
rangkaian tertentu.

15
Sebagian kesimpulan dari berbagai pendekatan/teori psikologi yang telah
dikemukakan, menunjukkan bahwa inteligensi itu bersifat individual, artinya
antara satu yang lainnya tidak sama persis kualitas IQ-nya.

2.3.7. Usaha- Usaha dalam Membantu Mengembangkan Intelek Remaja


dalam Proses Pembelajaran

Menurut Piaget sebagian besar anak usia remaja mampu memahami konsep-
konsep abstrak daalam batas-batas tertentu. Geru dapat membantu mereka
melakukan hal ini dengan selalu menggunakan pendekatan ketrampilan proses
(discovery approach) dan dengan member penekanan pada penggunaan konsep-
konsep dan abstrak-abstrak.
Kondisi psikologis yang perlu diciptakan agar peserta didik merasa aman
secara psikologis sehingga mampu mengembangkan kemampuan intelektualnya
adalah sebagai berikut :
1. Pendidik menerima peserta didik secara positif sebagaimana adanya
tanpa syarat (unconditional positive regard).
2. Pendidik menciptakan suasana dimana peserta didik tidak merasa
terlalu dinilai oleh orang lain.
3. Pendidik memberikan pengertian dalam arti dapat memahami
pemikiran, perasaan dan perilaku peserta didik, dapat menempatkan diri
dalam situasi peserta didik, serta melihat sesuatu dari sudut pandang
mereka (empathy).
4. Menerima remaja secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat
(unconditional positive regard).
5. Memahami pemikiran, perasaan dan perilaku remaja, menempatkan diri
dalam situasi remaja, serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka
(empathy).
6. Memberikan suasanan psikologis yang aman bagi remaja untuk
mengemukakan pikiran-pikirannya sehingga terbiasa berani
mengembangkan pemikirannya sendiri.

2.4 PERKEMBANGAN SOSIAL

16
2.4.1 Pengertian Perkembangan Sosial
Pengertian Perkembangan Sosial menurut beberapa ahli yaitu :
Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan
seseorang dalam bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi
dengan unsur sosialisasi di masyarakat.
Singgih D Gunarsah, perkembangan sosial merupakan kegiatan manusia
sejak lahir, dewasa, sampai akhir hidupnya akan terus melakukan
penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya yang menyangkut norma-
norma dan sosial budaya masyarakatnya.
Abu Ahmadi, berpendapat bahwa perkembangan sosial telah dimulai sejak
manusia itu lahir. Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau anak
tersenyum saat disapa. Hal ini membuktikan adanya interaksi sosial antara
anak dan lingkungannya.

Jadi menurut berbagai pendapat diatas, perkembangan sosial merupakan


perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial yang
merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan social baik itu dalam tatanan
keluarga, sekolah, dan masyarakat.

2.4.2 Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja


Ada sejumlah karakteristik menonjol dari perkembangan sosial remaja,
yaitu sebagai berikut.

a. Berkembangnya Kesadaran akan Kesunyian dan Dorongan akan


Pergaulan
Masa remaja bisa disebut sebagai masa sosial karena sepanjang
masa remaja hubungan sosial semakin tampak jelas dan sangat dominan.
Kesadaran akan kesunyian menyebabkan remaj berusaha mencari
konpensasi dengan mencari hubungan dengan orang lain atau berusaha
mencari pergaulan. Kemiskinan akan hubungan atau perasaan kesunyian
remaja disertai kesadaran sosial psikologis yang mendalam yang
kemudian menimbulkan dorongan yang kuat akan pentingnya pergaulan
untuk menemukan suatu bentuk sendiri.

17
b. Adanya Upaya Memilih Nilai-Nilai Sosial
Ada dua kemungkinan yang ditempuh oleh remaja ketika
berhadapa dengan nilai-nilai sosial tertentu, yaitu menyesuaikan diri
dengan nilai-nilai tersebut atau tetap pada pendirian dengan segala
akibatnya.

c. Meningkatnya Ketertarikan pada Lawan Jenis


Masa remaja seringkali disebut juga sebagai masa biseksual,
meskipun kesadaran akan lawan jenis ini berhubungan dengan
perkembangan jasmani, tetapi sesungguhnya yang berkembang secara
dominan bukanlah kesadaran jasmani yang berlainan, melainkan
tumbuhnya ketertarikan terhadap jenis kelamin yang lain.

d. Mulai Cenderung Memilih Karier Tertentu


Mulai tampak kecendrungan mereka untuk memilih karier tertentu
meskipun dalam pemilihan karier tersebut masih mengalami kesulitan.

2.4.3 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Remaja


a Faktor keluarga: Keluarga merupakan lingkungan pertama yang
memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak,
termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan
keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak.
b Kematangan: Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis.
Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, member dan
menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan emosional,
disamping tu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan.
c Status sosial ekonomi: Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi
atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat.
Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang
independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh
dalam keluarga anak itu, ia anak siapa. Secara tidak langsung dalam
pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya akan
memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.

18
d Pendidikan: Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah.
Hakekat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif,
akan memberi warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan
luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh
kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma
perilaku yang bernar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang
belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah).
e Kapasitas mental (emosi dan intelijensi) : Kemampuan berpikir banyak
mempengaruhi banyak hal

2.4.4. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku


Hubungan sosial individu dimulai sejak individu berada di lingkungan
rumah bersama keluarganya. Perkembangan sosial anak semakin berkembang
ketika anak mulai memasuki masa persekolahan. Dalam perkembangan sosial
para remaja dapat memikirkan prihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu
terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke penilaian diri dan kritik
dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil penilaian tentang dirinya tidak
selalu diketahui orang lain, bahkan sering terlihat usaha seseorang untuk
menyembunyikan atau merahasiakanya. Dengan refleksi diri, hubungan dengan
situasi lingkungan sering tidak sepenuhnya diterima, karena lingkungan tidak
senantiasa sejalan dengan konsep dirinya yang tercermin sebagai suatu
kemungkinan bentuk tingkah laku sehari- hari.

2.4.5. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial


Bergaul dengan sesama manusia (sosialisasi) dilakukan oleh setiap orang,
baik secara individual maupun berkelompok. Dilihat dari berbagai aspek, terdapat
perbedaan individual manusia, yanghal itu tampak juga dalam perkembangan
sosialnya. Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan ber masyarakat,
maka telah mempelajari pola- pola sosial yang sesuai dengan kepribadianya.

Perbedaan lingkungan dapat menimbulkan perbedaan sikap sosial pada


individu. Secara psikologis, sikap ini dapat dipelajari dengan tiga cara :
Meniru orang lebih berprestasi dalam bidang tertentu,
Mengombinasikan pengalaman, dan

19
Pengalaman khusus dengan emosional yang mendalam.

2.4.6. Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya


dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Masa remaja merupakan fase yang sangat potensial bagi tumbuh dan
berkembangnya aspek fisik maupun psikis, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Remaja dalam masa mencari dan ingin menentukan jati dirinya
memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Ia
(mereka)belum memahami benar tentang norma- norma sosial yang berlaku di
dalam kehidupan masyarakat. Keduanya dapat menimbulkan hubungan sosial
yang kurang serasi, karena ia ( mereka) sukar untuk menerimanormasesuai dengan
kondisi dalam kelompok atau masyarakat.

Melihat masa remaja sangat potensial dan dapat berkembang ke arah


positif maupun negatif maka intervensi edukatif dalam bentuk pendidikan,
bimbingan, maupun pendampingan sangat diperlukan untuk mengarahkan
perkembangan potensi remaja tersebut agar berkembang ke arah positif dan
produktif.

Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan utnuk


memberikan rangsangan kepada mereka kearah perilaku yang bermanfaat dan
dapat diterima khalayak. Kelompok olah raga, koperasi, kesenian dan
semacamnya di bawah asuhan para pendidik di sekolah atau para tokoh
masyarakat di dalam kehidupan mayarakat paerlu banya dibentuk. Khusus di
dalam sekolah perlu sering diadakan kegiatan bakti sosial , bakti karya, dan
kelompok- kelompok belajar di bawah asuhan para guru pembimbing kegiatan ini
hendaknya dikembangkan.

2.5. PERKEMBANGAN BAHASA


2.5.1 Pengertian Perkembangan Bahasa

Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang


digunakan oleh seseorang dalampergaulannya atau hubungannya dengan orang
lain. Bahasa merupakan alat bergaul, oleh karena itu penggunaan bahasa menjadi
efektif sejak orang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain.

20
Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti
faktor intelek/ kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan
berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat
sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu
memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat
sederhana menuju ke bahasa yang kompleks. Belajar bahasa yang sebenarnya baru
dilakukanoleh anak berusia 6-7 tahun, di saat anak mulai bersekolah. Jadi,
perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat
berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun
menggunakan tanda- tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi di
sini diartikan sebagai upaya seorang untuk dapat memahami dan dipahami orang
lain.

2.5.2 Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja


Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya didukung oleh
perkembangan koknitif yang menurut Jean Piaget (Ali dan Asrori, 2005:127) telah
mencapai tahap operasional formal. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya,
remaja mulai mampu mengaplikasiskan prinsip-prinsip berpikir formal atau
berpikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan
kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komprehensif,
membandingkan secara kritis antara fakta dan asumsi dengan mengurangi
penggunaan simbol-simbol dan terminologi kongkret dalam
mengomunikasikannya.

Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang. Anak remaja telah
banyak belajar dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan khususnya pergaulan
teman sebaya dan lingkungan sekolah. Pola bahasa yang dimiliki adalah bahasa
yang berkembang di dalam keluarga atau bahasa ibu. Selain itu, perkembangan
psikis remaja yang berada pada fase pencarian jati diri, ada tahapan kemampuan
berbahasa pada remaja yang berbeda dari tahap-tahap sebelum atau sesudahnya
yang kadang-kadang menyimpang dari norma umum seperti munculnya istilah-
istilah khusus di kalangan remaja.

21
Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga, masyarakat dan
sekolah dalam perkembangan berbahasa, akan menyebabkan perbedaan antara
anak yang satu dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pemilihan dan
penggunaan kosa kata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Akan banyak
menggunakan bahasa pasar, bahasa, sembarangan, dengan istilah- istilah yang
kasar. Masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki status sosial lebih baik,
akan menggunakan istilah- istilah lebih efektif, dan umumnya anak- anak
remajanya juga berbahasa secara lebih baik.

2.5.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa


Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh sebab itu,
perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor- faktor itu adalah:
a. Umur anak
Menusia bertambah umur semakin matang pertumbuhan fisiknya,
bertambah pengalaman, dan meningkat kebutuhanya,

b. Kondisi Lingkungan
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil yang
cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa di lingkungan perkotaan
akan berbeda dengan lingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa
di daerah pantai, pegunungan, dan daerah- daerah terpencil dan di kelompok
sosial yang lain.

c. Kecerdesan Anak
Untuk meniru lingkungan tentang bunyi atau suara, gerakan, dan
mengenal tanda- tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik.

d. Status Sosial Ekonomi Keluarga


Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan
situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak- anak dan angota
keluarganya.

e. Kondisi Fisik
Kondisi fisik di sini dimaksudkan kondisi kesehatan anak. Seseorang
yang cacat yang terganggu kemampuanya untuk berkomunikasi seperti bisu,

22
tuli, gagap atau organ suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangan
berkomunikasi dan tentu saja akan mengganggu perkembanganya dalam
berbahasa.

2.5.4 Pengaruh Kemampuan Berbahasa terhadap Kemampuan


Berpikir
Berpikir pada dasarnya merupakan rangkaian proses kognisi yang bersifat
pribadi atau pemrosesan informasi yang berlangsung selama munculnya stimulus
sampai dengan munculnya respon. Aktivitas berpikir individu sesungguhnya
dibantu dengan menggunakan simbol-simbol verbal dan hukum tata bahasa guna
menggabungkan kata-kata menjadi suatu kalimat yang bermakana.

Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling berpengaruh satu


sama lain. Bahwa kemampuan berpikir berpengaruh terhadap kemampuan
berbahasa dan sebaliknya, kemampuan berbahasa berpengaruh terhadap
kemampuan berpikir. Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya akan
mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis, dan sistematis.
Hal ini akan berakibat sulitnya berkomunikasi.

2.5.5 Perbedaan Individual dalam Kemampuan dan Perkembanga


Bahasa
Secara hereditas, individu memiliki potensi yang dapat menyebabkan
perbedaan dalam perkembangan berpikir mereka. Manusia memiliki perbedaan
satu sama lain dalam berbagai aspek, antara lain dalam bakat, minat, kepribadian,
keadaan jasmani, keadaan sosial, dan juga inteligensinya.

Lingkungan memiliki peranan yang besar dalam perkembangan bahasa


individu karena kekayaan lingkungan akan merupakan pendukung bagi
perkembangan peristilahan yang sebagian besar dicapai dengan proses meniru.
Dengan demikian, remaja yang berasal dari lingkungan yang berbeda juga akan
berbeda beda pula kemampuan dan perkembangan bahasanya.

2.5.6 Upaya Pengembangan Kemampuan Bahasa Remaja dan


Implikasinya dalam Penyelenggaran Pendidikan

23
Kondisi psikologis yang perlu diciptakan agar peserta didik merasa aman
secara psikologis sehingga mampu mengembangkan kemampuan intelektualnya
adalah sebagai berikut.

Pendidik menerima peserta didik secara positif sebagaimana adanya tanpa


syarat.
Pendidik menciptakan suasana dimana peserta didik tidak merasa terlalu
dinilai oleh orang lain.
Pendidik memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran,
perasaan, dan prilaku peserta didik; dapat menempatkan diri dalam situasi
peserta didik; serta bisa melihat sesuatu dari sudut pandang mereka.
Menerima remaja secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat .
Memahami pemikiran, perasaan, dan prilaku peserta didik; menempatkan
diri dalam situasi remaja; serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka.
Memberikan suasana psikologis yang aman bagi remaja untuk
mengemukakan pikiran-pikirannya sehingga terbiasa berani
mengembangkan pemikirannya sendiri.

Perkembangan bahasa yang menggunakan model pengekspresian secara


mandiri, baik lisan maupun tertulis, dengan mendasarkan pada bahan bacaan akan
lebih mengembangkan kemampuan bahasa anak dan membentuk pola bahasa
masing- masing. Dalam penggunaan model ini guru harus banyak memberikan
rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas. Dalam pada
itu sarana perkembangan bahasa seperti buku- buku, surat kabar, majalah, dan
lain- lain hendaknya disediakan di sekolah maupun di rumah.

BAB III
PENUTUP

24
3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan di atas adalah
sebagai berikut:
1. Sebagai makhluk psiko-fisik manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan fisik
dan psikologis, karena ia tumbuh dan berkembang untuk mencapai kondisi
fisik dan sosial psikologis yang lebih sempurna dalam kehidupannya.
2. Hall (dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974: 478) memandang bahwa masa
remaja ini sebagai masa storm and stress. Ia menyatakan bahwa selama
masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya
menemukan jati dirinya (identitasnya) dan kebutuhan aktualisasi diri.
3. Untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri pasti banyak masalah yang
akan dihadapi, namun setiap ada masalah pasti ada konsekwensi yang kita
terima dari masalah tersebut.
4. Intelek adalah kecakapan mental, yang menggambarkan kemampuan
berfikir. Hubungan intelek dengan tingkah laku adalah bahwa intelegensi
merupakan pernyataan dari tingkah laku adaptif yang terarah kepada kontak
dengan lingkungan dan kepada penyusunan pikiran.
5. Perkembangan sosial adalah perkembangannya tingkat hubungan
antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Hubungan sosial remaja terutama yang berkaitan dengan proses penyesuaian
dari berpengaruh terhadap tingkah laku.
6. Bahasa memegang peran penting dalam kehidupan bermasyarakat.
kemampuan berpikir berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan
sebaliknya kemampuan berbahasa berpengaruh terhadap kemampuan
berpikir.

3.2. Saran
Sebagai seorang manusia kita harus mampu dalam memenuhi kebutuhan
hidup, sebelum memenuhi kebutuhan hidup kita harus memahami kebutuhan
hidup yang paling utama. Manusia dan khususnya remaja harus memperoleh

25
kebutuhannya agar dapat hidup dengan normal. Sebagai Orang tua harus benar-
benar memahami konsekuensi perubahan pada anak masa remaja, karena orang
tua memiliki peranan yang sangat penting.

26
27