Anda di halaman 1dari 10

PEMBAHASAN

JARIMAH MURTAD (RIDDAH)


1) Pengertian Jarimah Murtad atau Riddah

Riddah dalam arti bahasa adalah


Yang artinya kembali dari sesuatu ke sesuatu yang lain. Sedangkan dalam kamus al
Munawwir
riddah berasal dari kata:

Yang artinya menolak dan memalingkannya.


Kita telah ketahui bahwa yang dimaksud dengan jarimah adalah segala bentuk
larangan syara yang diancam dengan hukuman, baik berupa jarimah hudud, jarimah
qishash atau jarimah tazir. Sedangkan kata al-Riddah sendiri terambil dari al-Quran
yang terdapat dalam surat al-Baqarah: 217

Barang siapa murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam
kekafiran, maka mereka itulah sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat dan mereka
itulah penghuni nereka, mereka kekal di dalamnya.

Arti riddah menurut bahasa adalah kembali. Dan menurut syara adalah kelaur dari
Islam.

2) Dasar Hukum

Dasar hukum tetang riddah ini terdapt di dalam al-Quran dan al-Hadits.salah-
satunya yang terdapat dalam al-Quran adalah:
Barang siapa murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam
kekafiran, maka mereka itulah sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat dan mereka
itulah penghuni nereka, mereka kekal di dalamnya.(Q.S. al-Baqarah: 217).

Dan di dalam hadits terdapat pula:

Barang siapa menggantikan agamanya, maka bunuhlah dia. (H.R. Bukhari dari
ibn Abbas).

[1]
Dari Aisyah RA.telah bersabda Rasulullah SAW: Tidak halal darah seorang
muslim kecuali orang yang membunuh jiwa sehingga karenanya ia harus dibunuh, atau
orang yang berzina dan ia muhshan, atau orang yang murtad setelah tadinya ia
Islam. (H.R. Ahmad)
Dari ayat dan hadist tersebut jelaslah bahwa murtad termasuk salah satu jenis
tindak pidana yang diancam dengan hukuman mati.

3) Unsur-unsur Riddah

Unsur-unsur riddah adalah:

a) Kembali (Keluar) dari Islam


b) Adanya itiqad tidak baik atau niat yang melawan hukum (kesengajaan)

Yang dimaksud dengan keluar dari islam itu adalah meninggalkan agama islam
setelah tadi mempercayainya atau meyakininya, disebutkan oleh para ulama ada tiga
macam cara, yaitu;
Murtad dengan perbuatan atau meninggalkan perbuatan
Murtad dengan ucapan
Murtad dengan ittiqad
Yang dimaksud murtad dengan perbuatan adalah melakukan perbuatan yang haram
dengan menganggapnya tidak haram atau meninggalkan perbuatan wajib dengan
menganggapnya sebagai perbuatan yang tidak wajib, baik dengan sengaja maupun
dengan menyepelekan. Misalnya sujud kepada matahari atau bulan, melemparkan al-
quran dan berzina dengan menganggap zina bukan suatu perbuatan yang haram.
Murtad dengan ucapan adalah ucapan yang menunjukkan kekafiran, seperti
menyatakan bahwa Allah punya anak, mengaku menjadi nabi dengan anggapan bahwa
ucapan tersebut tidak terlarang.
Adapun murtad dengan ittiqad adalah itiqad yang tidak sesuai dengan itiqad
(aqidah) Islam, seperti beritiqad langgengnya alam, Allah itu seperti dengan makhuk.
Sesungguhnya itiqad itu tidak menyebabkan seseorang menjadi kufur sebelum
dibuktikan dalam bentuk ucapan atau perbuatan, berdasarkan hadits Rasulullah SAW.:
Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku bayangan-bayangan yang
menggoda dan bergelora dalam jiwanya selama belum diamalkan atau dibicarakan.
(H.R. Muslim dari Abu Hurairah).
Jadi, berdasarkan hadits di atas apapun itiqad seseorang muslim yang bertentangan
dengan ajaran Islam tidaklah dianggap menyebabkan keluar dari Islam sebelum ia
mengucapkan atau mengamalkannya.Adapun hukumnya nanti terserah kepada Allah.
Di antara contohnya adalah sihir. Para ulama sepakat terhadap keharaman sihir dan
mempelajarinya karena sihir hukumnya kafir.

[2]
Tetapi ulama berbeda pendapat masalah melakukan kegiatan sihir, menurut Imam
Malik, Abu Hanifah,dan Imam Ahmad penyihir hukumnya kafir karena mempelajari
sihir dan mengajarkannya baik ia meyakini haramnya atau tidak meyakininya oleh
karena itu dia harus dihukum bunuh tanpa di minta bertobat.menurut Imam Syafii
penyihir tidak dianggap sebagai murtad, kecuali kata-kata atau perbuatannya itu
menunjukan kekafiran, seperti menyekutukan Allah, sujud kepada matahari, bintang,
dan bulan atau ia menghalalkan sihir. Dengan demikian sihir Hanya dianggap
melakukan perbuatan maksiat.
Anak dari orang tua yang murtad, baik yang murtad ibu-bapaknya ataupun ibunya
tetap anak muslim. Akan tetapi setelah dewasa dan tetap dalam keislamannya maka dia
benar muslim,akan tetapi setelah dewasa mereka kafir maka benar mereka murtad
sedangkan anak yang dikandung dan dilahirkan oleh orang yang murtad untuk
selamanya maka dihukumi sebagai anak kafir karena kedua orang tuanya kafir.
Satu yang dipegang oleh Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, Imam Ahmad dan
Zaidiyah bahwa bila seorang ibu atau bapak masuk Islam, maka anaknya yang masih
kecil dihukumi muslim. Akan tetapi Imam Malik berpendapat bahwa agama anaknya
mengikuti agama bapakanya. Artinya, jika bapak Islam, maka anak-anaknya yang
masih kecil dihukumi muslim. Namun apabila hanya ibunya muslim sedangkan bapak
kafir maka anak tersebut tetap anak kafir karena anak mengikuti garis keturunan
bapak.
Jarimah riddah adalah meninggalkan pembenaran syariat Islam yang dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu: melakukan atau meninggalkan suata perbuatan;
mengucapkan; dan berkeyakinan
Ketiga cara di atas akan dijelaskan dengan beberapa kaidah di bawah ini:

Kaidah Pertama:

a. Tentang Meninggalkan Kewajiban


Setiap orang yang menolak melakukan perbuatan yang diwajibkan Islam kepadanya
disertai dengan keyakinan halal meninggalkannya maka dia telah keluar dari Islam.

Kaidah ini mengandung arti bahwa orang yang tidak menunaikan kewajiban yang
dibebankan kepadanya oleh syariat Islam dengan alasan bahwa perbuatan itu bukan
wajib, maka ia dapat dikualifikasikan sebagai orang yang telah keluar dari Islam atau

[3]
telah berbuat jarimah riddah. Misalnya, seseorang tidak mau melaksanakan shalat wajib
dengan alasan bahwa shalat tersebut tidak wajib.

Kaidah ini menjadi sarana untuk membedakan antara jarimah riddah dengan
jarimah lainnya. Sebab, pada perbuatan yang tampak lahirnya sama tetapi bisa jadi
hukumnya berbeda. Orang yang tidak melaksanakan shalat wajib karena malas tidak
dapat dikualifikasikan telah keluar dari Islam, melainkan telah fasiq atau ashy (pelaku
maksiat). Perbuatan ini termasuk jarimah tazir.

Hal ini didasarkan atas kebijakan Abu Bakar al-Shiddiq yang telah memerangi
kaum yang menolak membayar zakat. Sebagian penduduk menolak kewajiban
menyerahkan zakat dengan alas an bahwa kewajiban itu hanya berlaku kepada
Rasulullah SAW saja. Abu Bakar mengangggap bahwa orang-orang yang menolak
kewajiban menyerahkan zakat itu harus diperangi (dibunuh) karena telah keluar dari
Islam.

Kaidah Kedua:

Tentang Melakukan Perbuatan yang Diharamakan

Setiap orang yang melakukan perbuatan yang diharamkan (Islam) disertai


dengan keyakinan halal melakukannya, maka dia telah keluar dari Islam.

Kaidah ini mengandung arti bahwa orang yang melanggar larangan-larangan


syariat Islam disertai dengan keyakinan bahwa hal tersebut tidak dilarang, maka ia
telah keluar dari Islam. Misalnya, seorang berzina dengan keyakinan bahwa zina itu
tidak haram maka ia telah keluar dari Islam. Apabila ia melakukannya karena
melanggar keharaman diserta keyakinan bahwa perbuatan tersebut dilarang, ia tidak
keluar dari Islam melainkan telah berbuat maksiat atau melakukan jarimah zina.

[4]
Penghalalan yang diharamkan, jika disertai alasan yang kuat (tawil) dan
ketidaktahuan hukum yang sebenarnya, belum dapat dikualifikasikan telah keluar dari
Islam.

Kidah Ketiga:

Tentang Keyakinan yang Keluar dari Islam

Setiap keyakinan yang berlawanan dengan (aqidah) Islam menunjukan telah


keluar dari Islam.

Diantara contoh-contoh keyakinan yang bertentangan dengan Islam adalah


keyakinan bahwa Al-Quran itu bukan dari Allah melainkan kata-kata Muhammad;
Muhammad adalah pendusta; ada lagi Nabi yang terakhir setelah kenabian Muhammad;
dan Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan. Akan tetapi keyakinan-keyakinan tersebut belum
dapat dikualifikasikan jarimah riddah yang dikenai had jika belum dinyatakan dengan
ucapan atau perbuatan. Sebab Allah memaafkan umat-Nya dari apa yang dibisikan
hatinya selama belum diungkapakan atau dikerjakan.

Imam Syafii menambahkan syarat pada pidana riddah bahwa pelakunya itu harus
berniat untuk melakukan kekufuran. Sesuai dengan hadits:

Sesungguhnya sahnya segala amal tergantung kepada niatnya. (H.R. Bukhari


dan Muslim dariu Umar ibn Khathab).

4) Uqubah (Hukuman) dari Jarimah Riddah

Hukuman untuk jarimah riddah ada 3 macam, yaitu hokum pokok, hokum
pengganti, dan hokum tambahan.
A. Hokum Pokok
Hukuman pokok untuk jarimah riddah adalah hokum mati dan statusnya sebagai
hokum had. Hal ini didasarkan pada hadist Nabi SAW.
Dari Ibnu ABBAS ra. Ia brkatatelah bersabda Rasulullah SAW.: barang siapa
yang menukar agamanya maka bunuhlah ia.(Hadist ini diriwayatkan oleh Bukhori)
Hukuman mati ini adalah berlaku untuk semua orang yang murtad, akan tetapi,
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa perempuan tidak dihukum mati karena murtad,

[5]
melainkan dipaksa kembali kepada agama Islam, dengan cara ditahan, dan dikelurakan
setiap hari dan diminta untuk bertobat.apabila ia menyatakan tidak mau kembali kepada
agama Islam maka ia ditahan sampai dia mau kembali bahkan kalau dia tidak mau
maka ditahan sampai mati.
Alasan Abu Hanifah didasarkan pada rasulullah yang melarang membunuh wanita
kafir. Disamping itu juga beliau juga berpendapat bahwa anak mumayiz yang murtad
tidak dihukum mati dalam 4 keadaan sbb:
a. Apabila Islam mengikuti kedua orang tuanya, dan setelah balig ia
murtad.dalam hal ini menurut qiyas, seharusnya ia dibunuh tetapi menurut
istishan ia tidak dibunuh karena subhat
b. Apabila ia murtad pada masa kecilnya.
c. Apabila ia pada masa kecilnya ia Islam, kemudian setelah balig ia murtad.
Dalam hal ini ia tidak dibunuh, berdasarkan istishan,karena ada syubhat.
d. Apabila ia berasal dari negeri bukan Islam yang ada di negara Islam dalam hal
ini ia dihukumi sebagai anak Islam karena mengikuti Negara Islam
Sebagai pengganti hukuman mati yang tidak diterapkan kepada anak mumayiz,
menurut Abu Hanifah ia dipaksa untuk menyatakan masuk Islam,seperti halnya
perempuan, dengan jal;an ditaha atau dipenjara sebagai tazir
Menurut Imam Malik anak mumayiz yang murtad harus dihukum bunuh apabila ia
murtad setelah baliq, kecuali:
1. Anak yang beranjak dewasa ketika ayahnya masuk islam
2. Anak yang ditinggalkan kepada ibunya ketika masih kafir, baik ia (anak
tersebut) sudah mumayis atau belum
Dalam dua keadaan diatas ia tidak dibunuh melainkan dipaksa untuk kembali
kepada agama Islam, deengan dikenakan hokum tazir. Menurut mazhab yang anak
mumayiz tetap dihukum mati apabila setelah balig ia menjadi murtad dalam hal ini
setatusnya disamakan dnegan laki-laki atau wanita yang murtad.
Menurut ketentuan yang berlaku, orang yang murtad tidak dikenakan hukuman
mati, kecuali setelah diminta untuk bertobat. Apabila setelah ditawan diminta untuk
bertobat ia tidak mau maka barulah ia diminta untuk dihukum mati.
Menurut Mazhab Maliki kesempayan untuk bertaubat itu diberikan selama 3 hari
berturut-turut terhitung sejak adanya keputusan dari pengadilan. Menurut Imam Abu
Hanifah masa penentuan untuk bertaubat ditentukan oleh hakim.dalam Mazhab SyafiI
ada terdapaft dua pendapat . pertama, masa trsebut adalah 3 hari, karena masa itu untuk
berfikir untuk mencetukan masih mau murgtad atau masuk Islam, kedua , ia langsung
dibunuh pada saat itu apabila setelah diberi kasempatan ia tetap tidak mau bertabubat.
Pendapat yang kedua ini merupakan pendapat yang kuat dan rajah(kuat) dalam Mazhab
Syafii. menurut Hambali masa penawaran untuk taubat itu ada 3 hati.

[6]
Adapun cara taubat adalah dengan mengucapkan dua kalimat sahadat, disertai
dengan pengakuan orang yang bertaubat terhadap apa yang pernah dilanggar sdan
melepaskan diri dari agama dan keyakinan lain yang.

B. Hukum Pengganti
Hukum pengganti jarimah riddah berlaku dalam dua keadaan sebagai berikut:
a. Apabila hukuman pokok gugur karena taubat maka hakim menggantinya
dengan hukuman tazir yang sesuai dengan keadaan pelaku tersebut seperti
hukuiman penjara sampai ia tobat dan kelihatanlah perbuatan baik yang
mengarah pada islam
b. Apabila hukuman pokok gugur karena syubhat, maka akan berlaku
hukuman dipenjara dengan tidak terbatas dan dipaksa untuk kembali masuk
Islam.

C. Hukuman Tambahan
Hukuman tambahan yang diberika kepada orang yang murtad ada dua macam
yairtu sbb.
a. Penyitaan dan perampasan harta
Menurut Imam Malik, SyafiI dan Ahmad apabila seorang yang murtad dibunuh
maka hartanya menjadi milik bersama dan tidak boleh diwaris oleh siapapun dengan
kata lain harta tersebut disita oleh Negara sedangkan menurut Imam Malik harta
tersebut boleh diwarisi oleh waris yang beragama Islam, pendapat ini didasari oleh
tindakan Nabi yang mewariskan harta orang-orang munafik kepada anak-anaknya yang
beragama islam pada saat mereka meninggal dunia.
Menurut Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad bahwa bila orang murtad itu
meninggal, maka hartanya menjadi menjadi harta musyi, yaitu tidak dapat diwariskan,
baik kepada orang muslim ataupun maupun kepada nonmuslim. Menurut ulama lain,
harta itu dikuasai oleh pemerintah dan menjadi harta fay. Menurut mazhab Hanafi, bila
harta tersebut didapatkan pada waktu ia muslim, maka diwariskan kepada ahli warisnya
yang muslim dan harta yang didapatkan ketika ia murtad, maka hartanya menjadi milik
pemerintah.
Faktor penyebab perbedaan mereka adalah perbedaan penafsirkan mereka terhadap
hadits:
Orang kafir tidak dapat mewaris harta pusaka orang muslim dan orang muslim
tidak dapat mewaris harta pusaka orang kafir. (H.R. Muslim dari Usamah ibn Zayd).
Alasan Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad karena sehubungan dengan
ketidakbolehan harta orang muslim diwariskan kepada ahli warisnya yang nonmuslim
(kafir), begitu pula sebaliknya. Sedangkan alasan Imam Abu Hanifah dan sahabat-

[7]
sahabatnya karena sehubungan dengan kebolehan harta orang murtad diwariskan
kepada ahli warisnya yang muslim karena harta orang murtad itu disamakan dengan
harta orang meninggal.
Menurut Zaidiyah, Abu Yusuf, Muhammad dan Zahiri bahwa harta orang murtad
itu dapat diwariskan kepada ahli warisnya yang kafir. Tentu saja, bila ada, tidak menjadi
harta fay, dan tidak diwariskan kepada ahli warisnya yang muslim.
b. Berkurangnnya hak (melakukan tasarruf)
Berkenaan dengan hukuman tambahan, berupa hilangnya hak pengelola harta, para
ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat yang rajih dalam mazhab Hanafi, Syafii
dan Hambali bahwa orang murtad terhadap hartanya, baik yang didapat sebelum atau
sesudah murtad, tidak mempunyai akibat hukum. Artinya, bila ia menjual atau membeli
harta dengan harta miliknya, maka jual belinya tidak sah.
Apabila ia kembali kepada agama islam, maka hak tasharufnya menjadi menjadi
sah, sedangkan apabila ia mati dalam keadaan murtad maka hak tasharufnya menjadi
batal. Menurut Abu Yusuf dan Muhammad, tasharuf orang yang murtad tetap sah.
Syaikh Mahmud Syaltut menyatakan bahwa orang murtad itu sanksinya diserahkan
kepada Allah, tidak ada sanksi diniawi atasnya. Alasannya karena firman Allah dalam
surat al-Baqarah ayat 217 di atas hanya menunjukan kesia-siaan amal kebajikan orang
murtad dan sanksi akhirat yaitu kekal dalam neraka, adapun hadits ibn Abbas di atas
ternyata mengundang banyak masalah dikalangan ulama yang berkisar pada masalah
yang sama atau bedanya hukuman bagi laki-laki dan perempuan, perlu dan tidak
perlunya orang murtad diberi kesempatan untuk bertobat serta batas kesempatan
tersebut.
Alasan lain adalah bahwa kekafiran itu sendiri tidak menyebabkan bolehnya
seseorang dihukum mati, sebab yang membolehkannya hukuman bagi orang kafir itu
adalah karena memerangi dan memusuhi orang Islam. Adapun kekufuran semata jelas
sekali dalam al-Quran, yang dalam beberapa kenyataan ditemukan larangan adanya
paksaan dalam agama. Salah satunya surat al-Baqarah ayat 256 dan surat Yunus ayat 99

tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). (Q.S. al-Baqarah: 256)

Dan dalam surat Yunus ayat 99:

Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka mejadi orang
yang beriman semuanya (Q.S. Yunus: 99).

Jadi menurut pendapat ini hukuman bagi orang murtad itu diserahkan kepada Allah
kelak.

[8]
PENUTUP

Kesimpulan

Riddah dalam arti bahasa adalahYang artinya kembali dari sesuatu ke sesuatu yang
lain. Sedangkan dalam kamus al Munawwir Riddah menurut istilah yang artinya
menolak dan memalingkannya.
Kita telah ketahui bahwa yang dimaksud dengan jarimah adalah segala bentuk
larangan syara yang diancam dengan hukuman, baik berupa jarimah hudud, jarimah
qishash atau jarimah tazir.
Dasar hukum tetang riddah ini terdapt di dalam al-Quran dan al-Hadits.salah-
satunya yang terdapat dalam al-Quran adalah:
Barang siapa murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam
kekafiran, maka mereka itulah sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat dan mereka
itulah penghuni nereka, mereka kekal di dalamnya.(Q.S. al-Baqarah: 217).
Unsur-unsur riddah adalah:
a) Kembali (Keluar) dari Islam
b) Adanya itiqad tidak baik atau niat yang melawan hukum (kesengajaan)

Uqubah (Hukuman) dari Jarimah Riddah :


Hokum Pokok Hukuman pokok untuk jarimah riddah adalah hokum mati dan
statusnya sebagai hokum had.
Hukum Pengganti
Hukuman Tambahan

DAFTAR ISI

Djazuli,H.A., Fiqh Jinayah (Upaya Menanggulangi Kejahatan dalam Islam),


Jakarta : PT. Raja Grapindo Persada, 1997
Mubarak Jaih, Arif Faizal Enceng, Kaidah Fiqh Jinayah (Asas-asas Hukum
Pidana Islam), Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004
Muslich, H.A., Wardi., hukum pidana islam, Jakarta: sinar grafika,2005
http://perpustakaan.online.com

[9]
Ahmad wardi Muslich. Hukum Pidana Islam, Jakarta, Sinar Grafika,
2005

[10]