Anda di halaman 1dari 15

KEBUTUHAN REMAJA, MASALAH, DAN KONSEKUENSINYA

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa yang
mana banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya
(identitasnya) kebutuhan aktualisasi diri.

1. Jenis Kebutuhan Remaja


Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat secara umum diklasifikasikan menjadi beberapa
kelompok kebutuhan, yaitu :
a) Kebutuhan organik, yaitu makan, minum, bernapas, seks;
b) Kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan diri pihak
lain;
c) Kebutuhan berprestasi, kebutuhan yang berkembang karena didorong untuk mengembangkan
potensi yang dimiliki dan sekaligus menunjukkan kemampuan psikofisis; dan
d) Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.
Prescott mengklasifikasikan kebutuhan remaja menjadi beberapa kelompok
kebutuhan yaitu sebagai berikut:
1. Kebutuhan psikologis seperti melakukan kegiatan, beristirahat dan kegiatan seksual;
2. Kebutuhan sosial (status) seperti menerima, diterima, menyukai orang lain;
3. Kebutuhan Ego atau interaktif seperti kontak dengan kenyataan, harmonisasi dengan
kenyataan, dan meningkatkan kematangan diri sendiri.

Maslow mengungkapkan bahwa kebutuhan psikologis akan muncul setelah kebutuhan-


kebutuhan fisiologis terpenuhi. Ia mengklasifikasikan kebutuhan sebagai berikut:
1. Kebutuhan akan keselamatan (Safety needs);
2. Kebutuhan memiliki dan mencintai (belonging and love needs);
3. Kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan (esteem needs);
4. Kebutuhan untuk menonjolkan diri (selfactualizing needs)

Pertumbuhan fisik dan perkembangan sosial-psikologis di masa remaja pada dasarnya


merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan, proses pertumbuhan, dan
perkembangan dari proses sebelumnya. Seperti halnya pertumbuhan fisik yang ditandai dengan
munculnya tanda-tanda kelamin sekunder merupakan awal masa remaja sebagai indikator
menuju tingkat kematangan fungsi seksual seseorang. Sekalipun diakui bahwa kebutuhan dalam
pertumbuhan dan perkembangan remaja masih mencakup kebutuhan fisik dan kebutuhan sosial
psikologis yang lebih menonjol. Bahwa antara kebutuhan keduanya (fisik dan psikologis) saling
terkait. Olah karena itu, pembagian yang memisahkan kebutuhan atas dasar kebutuhan fisik dan
psikologis pada dasarnya sulit dilakukan secara tegas. Sebagai contoh, makan adalah upaya
untuk memenuhi kebutuhan fisik, akan tetapi pada jenjang masa remaja makan dilakukan
bersama dengan orang tertentu orang lain, makan dengan mengikuti aturan atau norma
yang berlaku di dalam budaya kehidupan masyarakat merupakan kebutuhan yang tidak hanya
dikelompokkan sebagai kebutuhan fisik semata. Kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan ke
dalam kebutuhan sosial emosional.

1. Masalah dan Konsekuensinya

Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya dapat


diuraikan sebagai berikut:
1. Mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan perilaku dewasa, tidak
semuanya mudah dicapain baik oleh remaja laki-laki maupun perempuan. Kegagalan dalam
menghadapi perubahan sikap dan perilakunya dapat mengakibatkan sikap yang keras dan agresif
atau sebaliknya bersikap tidak percaya diri, pendiam atau kurang harga diri.
2. Kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya. Hanya sedikit remaja yang merasa
puas dengan tubuhnya yang serasi. Ketidakserasian proporsi tubuh sering menimbulkan masalah
untuk mendapatkan pakaian yang pantas, juga hal yang tampak pada gerakan atau perilaku yang
kelihatannya wagu dan tidak pantas.
3. Perkembangan fungsi seks dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk memahaminya.
Bagi remaja laki-laki dapat menyebabkan perilaku yang menentang norma dan bagi remaja
perempuan akan berperilaku mengurung diri atau menjauhi pergaulan dengan sebaya lain jenis.
Apabila kematangan seksual itu tidak mendapatkan arahan atau penyaluran yang tepat, dapat
berakibat negatif yaitu seperti homoseksual, lari ke kehidupan hitam atau melacur dan
sebagainya. Bagi remaja laki-laki secara berkelompok kadang-kadang mencoba pergi bersama-
sama ke lokasi berlampu merah atau lokasi WTS.
4. Penyesuaian emosional. Contohnya seperti perilaku yang over acting, lancing, dan
semacamnya yang timbul karena remaja terlalu mendambakan kemandirian untuk mampu
mengatasi problema kehidupan yang mengakibatkan ketidakselarasan antara pola hidup
masyarakat dan perilaku yang menurut para remaja baik. Akibatnya remaja merasa selalu
disalahkan dan mereka frustasi dengan tingkah lakunya sendiri.
5. Penyesuaian sosial. Remaja akan menghadapi arah kehidupan yang beragam norma dalam
kehidupan bersama dalam masyarakat dan juga norma baru dalam kehidupan sebaya remaja serta
kuatnya pengaruh kelompok sebaya remaja.
6. Norma dan nilai yang berlaku di dalam bermasyarakat. Dalam kehidupan remaja mereka
merasa memiliki norma dan nilai kehidupannya yang dirasa lebih sesuai. Dalam hal ini remaja
menghadapi perbedaan norma dan nilai yang berlaku dengan norma yang dianutnya sehingga
akan menyebabkan dirinya dikatakan nakal.

2. Usaha-Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja

Pemenuhan kebutuhan fisik atau organic merupakan tugas pokok yang harus dipenuhi, karena
hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya agar tetap tegar. Kebutuhan
ini sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama ekonomi keluarga. Akibat tidak
terpenuhinya kebutuhan fisik ini akan sangat bepengaruh terhadap pembentukan pribadi dan
perkembangan psikososial seorang individu. Menghadapi kebutuhan ini latihan kebersihan,
hidup teratur dan sehat sangat perlu ditanamkan oleh orang tua, sekolah, dan lingkungan
masyarakat kepada anak-anak dan para remaja. Realisasi hal ini di sekolah adalah pendidikan
kesehatan, pendidikan jasmani, dan penntingnya usaha kesehatan sekolah(UKS).

Khusus kebutuhan seksual, yang hal ini juga merupakan kebutuhan fisik remaja, usaha
pemenuhannya harus mendapat perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu. Sekalipun
kebutuhan seksual merupakan bagian dari kebutuhan fisik, namun hal ini menyangkut faktor lain
untuk diperhatikan dalam pemenuhannya. Orang tua harus cukup tanggap dan waspada serta
secara dini menjelaskan dan memberikan penggertian arti dan fungsi kehidupan seksual bagi
remaja (terutama wanita) dan arti seksual dalam kehidupan secara luas. Pemenuhan kebutuhan
dan dorongan seksual pada remaja, di mana pada saat itu mereka telah menyadari akan adanya
norma agama, sosial, dan hukum, maka banyak dilakukan secara diam-diam aktivitas onani atau
masturbasi.

Pendidikan seksual di sekolah dan terutama di dalam keluarga harus mendapatkan perhatian.
Program bimbingan keluarga, dan bimbingan perkawinan dapat dilakukan secara periodik oleh
setiap organisasi ibu-ibu dan organisasi wanita pada umumnya. Sekolah sekali-kali perlu
mendatangkan ahli atau dokter untuk memberikan ceramah-penjelasan tentang masalah-masalah
remaja, khususnya masalah seksual.

Untuk mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakat dan mengenalkan berbagai norma


sosial, amat penting dikembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan, seperti
kelompok olahraga, kelompok seni dan musik, kelompok koperasi, kelompok belajar, dan
semacamnya. Pada kesempatan sekolah menyelenggarakan acara-acara tertentu seperti malam
pertemuan atau perpisahan sekolah, ada baiknya anak-anak ditugasi untuk ikut mengurus atau
dimasukkan sebagai panitia penyelenggara.
3. Aplikasi teori kebutuhan Maslow di sekolah
Berikut ini beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan di sekolah dalam mengaplikasikan teori
kebutuhan Maslow,

1. Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis :


a. Menyediakan program makan siang yang murah atau bahkan gratis.
b. Menyediakan ruangan kelas dengan kapasitas yang memadai dan temperatur yang tepat.
c. Menyediakan kamar mandi/toilet dalam jumlah yang seimbang.
d. Menyediakan ruangan dan lahan untuk istirahat bagi siswa yang representatif.

2. Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman:


a. Sikap guru: menyenangkan, mampu menunjukkan penerimaan terhadap siswanya, dan tidak
menunjukkan ancaman atau bersifat menghakimi.
b. Adanya ekspektasi yang konsisten.
c. Mengendalikan perilaku siswa di kelas/sekolah dengan menerapkan sistem pendisiplinan
siswa secara adil.
d. Lebih banyak memberikan penguatan perilaku (reinforcement) melalui pujian/ganjaran atas
segala perilaku positif siswa dari pada pemberian hukuman atas perilaku negatif siswa.

3. Pemenuhan Kebutuhan Kasih Sayang atau Penerimaan:


a. Hubungan Guru dengan Siswa :
1) Guru dapat menampilkan ciri-ciri kepribadian: empatik, peduli dan interes terhadap siswa,
sabar, adil, terbuka serta dapat menjadi pendengar yang baik.
2) Guru dapat menerapkan pembelajaran individu dan dapat memahami siswanya (kebutuhan,
potensi, minat, karakteristik kepribadian dan latar belakangnya).
3) Guru lebih banyak memberikan komentar dan umpan balik yang positif dari pada yang
negatif.
4) Guru dapat menghargai dan menghormati setiap pemikiran, pendapat dan keputusan setiap
siswanya.
5) Guru dapat menjadi penolong yang bisa diandalkan dan memberikan kepercayaan terhadap
siswanya.
b. Hubungan Siswa dengan Siswa :
1) Sekolah mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kerja sama mutualistik dan
saling percaya diantara siswa.
2) Sekolah dapat menyelenggarakan class meeting, melalui berbagai forum, seperti olah raga
atau kesenian.
3) Sekolah mengembangkan diskusi kelas yang tidak hanya untuk kepentingan pembelajaran.
4) Sekolah mengembangkan tutor sebaya.
5) ekolah mengembangkan bentuk-bentuk ekstra kurikuler yang beragam.

4. Pemenuhan Kebutuhan Harga Diri:


a. Mengembangkan Harga Diri Siswa
1) Mengembangkan pengetahuan baru berdasarkan latar pengetahuan yang dimiliki siswanya.
2) Mengembangkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
3) Memfokuskan pada kekuatan dan aset yang dimiliki setiap siswa.
4) Mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi.
5) Selalu siap memberikan bantuan apabila para siswa mengalami kesulitan.
6) Melibatkan seluruh siswa di kelas untuk berpartisipasi dan bertanggung jawab.
7) Ketika harus mendisiplinkan siswa, sedapat mungkin dilakukan secara pribadi, tidak di depan
umum.
b. Penghargaan dari pihak lain
1) Mengembangkan iklim kelas dan pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa dapat saling
menghormati dan mempercayai, tidak saling mencemoohkan.
2) Mengembangkan program star of the week.
3) Mengembangkan program penghargaan atas pekerjaan, usaha dan prestasi yang diperoleh
siswa.
4) Mengembangkan kurikulum yang dapat mengantarkan setiap siswa untuk memiliki sikap
empatik dan menjadi pendengar yang baik.
5) Berusaha melibatkan para siswa dalam setiap pengambilan keputusan yang terkait dengan
kepentingan para siswa itu sendiri.
5. Pengetahuan dan Pemahaman
a. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengeksplorasi bidang-bidang yang ingin
diketahuinya.
b. Menyediakan pembelajaran yang memberikan tantangan intelektual melalui pendekatan
discovery-inquiry.
c. Menyediakan topik-topik pembelajaran dengan sudut pandang yang beragam.
d. Menyediakan kesempatan kepada para siswa untuk berfikir kritis dan berdiskusi.

6. Estetik
a. Menata ruangan kelas secara rapi dan menarik.
b. Menempelkan hal-hal yang menarik dalam dinding ruangan, termasuk di dalamnya
memampangkan karya-karya seni siswa yang dianggap menarik.
c. Ruangan dicat dengan warna-warna yang menyenangkan.
d. Memelihara sarana dan prasarana yang ada di sekeliling sekolah.
e. Ruangan yang bersih dan wangi.
f. Tersedia taman kelas dan sekolah yang tertata indah.

7. Pemenuhan Kebutuhan Akatualisasi Diri


a. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melakukan yang terbaik bagi dirinya.
b. Memberikan kebebasan kepada siswa untuk menggali dan menjelajah kemampuan dan potensi
yang dimilikinya.
c. Menciptakan pembelajaran yang bermakna dikaitkan dengan kehidupan nyata.
d. Perencanaan dan proses pembelajaran yang melibatkan aktivitas meta kognitif siswa.
e. Melibatkan siswa dalam proyek atau kegiatan self expressive dan kreatif.
C. Kebutuhan Remaja, Masalah, Dan Konsekuensinya

Masa remaja merupakan masa perlaihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Hall

(dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974: 478) memandang bahwa masa remaja ini sebagai

masa storm and stress. Ia menyataaakan bahwa selama masa remaja banyak masalah yang

dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya (identitasnya) -- kebutuhan

aktualisasi diri. Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat diklasifikasikan menjadi beberapa

kelompok kebutuhan, yaitu:

a) Kebutuhan organik, yaitu makan, minum,bernapas, seks;

b) Kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengskusn dari pihak

lain, dikenal dengan nAff;

c) Kebutuhan berperestasi atau need of achievement (yang dikenal dengan nAch), yang

berkembang karena dorongan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dansekaligus

menunjukkan kemampuan psikofisis; dan

d) Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.

Pertubuhan fisik dan perkembangan sosial-psikologis di masa remaja pada dasarnya

merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan, proses pertumbuhan, dan

perkembangan dari proses sebelumnya. Sekalipun diakui bahwa kebutuhan dalam pertumbuhan
dan perkembangan remaja masih mencakup kebutuhan fisik dan kebutuhan sosial psikologis

yang lebih menonjol. bahwa antara kebutuhan keduanya (fisik dan psikologis) saling terkait.

Di samping itu rekaja membutuhkan pengakuan akan kemampuannya, yang menurut

Maslow kebutuhan ini disebut kebutuhan penghargaan. Remaja membutuhkan penghargaan dan

pengakuan bahwa ia (mereka) telah mampu berdiri sendiri, mampu melakukan tugas-tugas

seperti yang dilakukan oleh orang dewasa, dan dapat bertanggung jawab atas sikap dan

perbuatan yang dikerjakannya. Faktor nonfisik, yang secara integratif tergabung di dalam faktor

sosial-psikologis dijiwai oleh tiga potensi dasar yang dimiliki manusia, yaitu pikir, rasa, dan

kehendak. Ketiganya secara potensial mendorong munculnya berbagai kebutuhan.

Dalam kehidupan dunia modern, manusia tidak saja hanya berfikir tentang kebutuhan

pokok, mereka telah lebih maju. Pemikirannya telah bercakrawala luas, oleh karena itu

kebutuhan pokoknya juga sudah berkembang. Pendidikan dan hiburan misalnya, di dalam

masyarakat modern telah menjadi kebutuhan yang mendesak, bahkan telah masuk daftar

kebutuhan pokok.

Masalah Dan Konsekuensinya

Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya

dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Upaya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku yang kekanak-kanakan menjadi sikap dan

prilaku dewasa, tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja laki-laki maupun

perempuan. Pada masa ini remaja menghapi tugas-tugas dalam perubahan sikap dan perilaku

yang besar, sedang dilain pihak harapan ditumpukan pada remaja muda untuk dapat meletakkan

dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Kegagalan dalam mengstsi ketiadak

puasan ini dapat mengakibatkan menurunnya kepercayaan diri, dan akibat lebih lanjut dapat

menjadikan remaja bersikap keras dan agresif atau sebaliknya bersikap tidak percaya diri,

pendiam atau kurang harga diri.

2) Seringkali para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya.

Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan fisiknya. Hal ini dirasa pertumbuhan tubuhnya
dirasa kurang serasi. Ketidakserasian proporsi tubuh ini sering menimbulkan kejengkelan, karena

ia (mereka) sulit mendapatkan pakaian yang pantas, juga hal itu tampak pada gerakan aatau

perilaku yang kelihatannya wagu dan tidak puas.

3) Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk

memahaminya sehingga sering terjadi salah tingkah dan perilaku yang menentang norma.

Pandangannya terhadap sebaya lain jenis kelamin dapat menimbulkan kesulitan dalam pergaulan.

Bagi remaja laki-laki dapat menyebabkan berperilaku yang menentang norma dan bagi remaja

perempuan akan berprilaku mengurung diri atau menjauhi pergaulan dengan sebaya lain jenis.

4) Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat remaja terlalu mndambakan kemandirian diri,

dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan akan

menghadapi berbagai masalah, terutama masalah penyesuaian emosional, seperti perilaku

yang over acting, lancing, dan semacamnya. Dalam hal terjadi ketidakselarasan antara pola

hidu masyarakat dan prilaku yang menurut para remaja baik, hal ini dapat berakibat kejengkelan.

Remaja merasa selalu disalahkan dan akibatnya mereka frustasi dengan tingkah lakunya

sendiri.

5) Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidiup mandiri secara sosial ekonomis

akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pilihan jenis pekerjaan dan jenis

pendidikan. Penyesuaian sosial merupakan salah satu yang sangat sulit dihadapi oleh remaja.

Mereka bukan saja harus menghadapi satu arah kehidupan, yaitu keragaman norma dalam

kehidupan bersama dalam masyarakat, tetapi juga norma baru dalam kehidupan sebaya remaja

dan kuatnya pengaruh kelompok sebaya.

6) Berbagai norma dan nilai yang berlaku di dalam hidup bermasyarakat merupakan masalah

tersendiri bagi remaja; sedang di pihak remaja merasa memiliki nilai dan norma kehidupan yang

dirasa lebih sesuai. Dalam hal ini para remaja menghadapi perbedaan nilai dan norma kehidupan.

Menghadapi perbedaan norma ini merupakan kesulitan tersendiri bagi kehidupan remaja.

Seringkali perbedaan norma yang berlaku dan norma yang dianutnya menimbulkan perilaku

yang menyebabkan dirinya dikatakan nakal


Usaha-Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja Dan Implikasinya Dalam Penyelenggaraan

Pendidikan

Pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok.kebutuhan ini harus

dipenuhi, karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya agar tetap

tegar (survival). Tidak berbeda dengan pemenuhan kebutuhan serupa di masa perkembangan

sebelumnya, kebutuhan ini sangsat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama ekonomi keluarga.

Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan fisik ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan

pribadi dan perkembangan psikososial seorang individu. Menghadapi kebutuhan latihan

kebersihan, hidup teratur dan sehat sangat perlu ditanamkan oleh orang tua, sekolah, dan

lingkungan masyarakat kepada anak-anak dan para remaja.

Khusus kebutuhan seksual, yang hal ini juga merupakan kebutuhan fisik remaja. Usaha

pemenuhannya harus mendapat perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu. Sekalipun

kebutuhan seksual merupakan bagian dari kebutuhan fisik, namun hal ini menyangkut faktor lain

dalam pemenuhannya. Orang tua harus cukup tanggap dan waspada serta secara dini

menjelaskan dan memberikan pengertian arti dan fungsi kehidupan seksual bagi remaja

(terutama wanita) dan arti seksual dalam kehidupan secara luas.

Pendidikan seksual di sekolah dan terutama di dalam keluarga harus mendapatkan

perhatian. Perogram bimbingan keluarga dan bimbingan perkawinan dapat dilakukan secara

perodik oleh setiap organisasi ibu-ibu dan organisasi wanita pada umumnya.

Untuk mengembangkan kemampuann hidup bermasyarakat dan mengenalkan berbagai

norma sosial, amat penting dikembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan,

seperti kelompok olahraga, kelompok seni dan musik, kelompok koperasi, kelompok belajar, dan

semacamnya.

C. Kebutuhan Remaja, Masalah, Dan Konsekuensinya


Masa remaja merupakan masa perlaihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Hall

(dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974: 478) memandang bahwa masa remaja ini sebagai
masa storm and stress. Ia menyataaakan bahwa selama masa remaja banyak masalah

yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya (identitasnya) -- kebutuhan

aktualisasi diri. Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat diklasifikasikan menjadi beberapa

kelompok kebutuhan, yaitu:

a) Kebutuhan organik, yaitu makan, minum,bernapas, seks;

b) Kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengskusn dari pihak
lain, dikenal dengan nAff;

c) Kebutuhan berperestasi atau need of achievement (yang dikenal dengan nAch), yang

berkembang karena dorongan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dansekaligus


menunjukkan kemampuan psikofisis; dan

d) Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.

Pertubuhan fisik dan perkembangan sosial-psikologis di masa remaja pada dasarnya

merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan, proses pertumbuhan, dan

perkembangan dari proses sebelumnya. Sekalipun diakui bahwa kebutuhan dalam pertumbuhan

dan perkembangan remaja masih mencakup kebutuhan fisik dan kebutuhan sosial psikologis

yang lebih menonjol. bahwa antara kebutuhan keduanya (fisik dan psikologis) saling terkait.

Di samping itu rekaja membutuhkan pengakuan akan kemampuannya, yang menurut

Maslow kebutuhan ini disebut kebutuhan penghargaan. Remaja membutuhkan penghargaan dan

pengakuan bahwa ia (mereka) telah mampu berdiri sendiri, mampu melakukan tugas-tugas

seperti yang dilakukan oleh orang dewasa, dan dapat bertanggung jawab atas sikap dan

perbuatan yang dikerjakannya. Faktor nonfisik, yang secara integratif tergabung di dalam faktor

sosial-psikologis dijiwai oleh tiga potensi dasar yang dimiliki manusia, yaitu pikir, rasa, dan

kehendak. Ketiganya secara potensial mendorong munculnya berbagai kebutuhan.

Dalam kehidupan dunia modern, manusia tidak saja hanya berfikir tentang kebutuhan

pokok, mereka telah lebih maju. Pemikirannya telah bercakrawala luas, oleh karena itu
kebutuhan pokoknya juga sudah berkembang. Pendidikan dan hiburan misalnya, di dalam

masyarakat modern telah menjadi kebutuhan yang mendesak, bahkan telah masuk daftar

kebutuhan pokok.

Masalah Dan Konsekuensinya

Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya

dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Upaya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku yang kekanak-kanakan menjadi sikap dan

prilaku dewasa, tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja laki-laki maupun

perempuan. Pada masa ini remaja menghapi tugas-tugas dalam perubahan sikap dan perilaku

yang besar, sedang dilain pihak harapan ditumpukan pada remaja muda untuk dapat meletakkan

dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Kegagalan dalam mengstsi ketiadak

puasan ini dapat mengakibatkan menurunnya kepercayaan diri, dan akibat lebih lanjut dapat

menjadikan remaja bersikap keras dan agresif atau sebaliknya bersikap tidak percaya diri,

pendiam atau kurang harga diri.

2) Seringkali para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya.

Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan fisiknya. Hal ini dirasa pertumbuhan tubuhnya

dirasa kurang serasi. Ketidakserasian proporsi tubuh ini sering menimbulkan kejengkelan, karena

ia (mereka) sulit mendapatkan pakaian yang pantas, juga hal itu tampak pada gerakan aatau

perilaku yang kelihatannya wagu dan tidak puas.

3) Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk

memahaminya sehingga sering terjadi salah tingkah dan perilaku yang menentang norma.

Pandangannya terhadap sebaya lain jenis kelamin dapat menimbulkan kesulitan dalam pergaulan.

Bagi remaja laki-laki dapat menyebabkan berperilaku yang menentang norma dan bagi remaja

perempuan akan berprilaku mengurung diri atau menjauhi pergaulan dengan sebaya lain jenis.

4) Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat remaja terlalu mndambakan kemandirian diri, dalam

arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan akan

menghadapi berbagai masalah, terutama masalah penyesuaian emosional, seperti perilaku


yang over acting, lancing, dan semacamnya. Dalam hal terjadi ketidakselarasan antara pola

hidu masyarakat dan prilaku yang menurut para remaja baik, hal ini dapat berakibat kejengkelan.

Remaja merasa selalu disalahkan dan akibatnya mereka frustasi dengan tingkah lakunya

sendiri.

5) Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidiup mandiri secara sosial ekonomis

akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pilihan jenis pekerjaan dan jenis

pendidikan. Penyesuaian sosial merupakan salah satu yang sangat sulit dihadapi oleh remaja.

Mereka bukan saja harus menghadapi satu arah kehidupan, yaitu keragaman norma dalam

kehidupan bersama dalam masyarakat, tetapi juga norma baru dalam kehidupan sebaya remaja

dan kuatnya pengaruh kelompok sebaya.

6) Berbagai norma dan nilai yang berlaku di dalam hidup bermasyarakat merupakan masalah

tersendiri bagi remaja; sedang di pihak remaja merasa memiliki nilai dan norma kehidupan yang

dirasa lebih sesuai. Dalam hal ini para remaja menghadapi perbedaan nilai dan norma kehidupan.

Menghadapi perbedaan norma ini merupakan kesulitan tersendiri bagi kehidupan remaja.

Seringkali perbedaan norma yang berlaku dan norma yang dianutnya menimbulkan perilaku

yang menyebabkan dirinya dikatakan nakal

Usaha-Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja Dan Implikasinya Dalam Penyelenggaraan

Pendidikan

Pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok.kebutuhan ini harus

dipenuhi, karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya agar tetap
tegar (survival). Tidak berbeda dengan pemenuhan kebutuhan serupa di masa perkembangan

sebelumnya, kebutuhan ini sangsat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama ekonomi keluarga.

Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan fisik ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan

pribadi dan perkembangan psikososial seorang individu. Menghadapi kebutuhan latihan

kebersihan, hidup teratur dan sehat sangat perlu ditanamkan oleh orang tua, sekolah, dan

lingkungan masyarakat kepada anak-anak dan para remaja.


Khusus kebutuhan seksual, yang hal ini juga merupakan kebutuhan fisik remaja. Usaha

pemenuhannya harus mendapat perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu. Sekalipun

kebutuhan seksual merupakan bagian dari kebutuhan fisik, namun hal ini menyangkut faktor lain

dalam pemenuhannya. Orang tua harus cukup tanggap dan waspada serta secara dini

menjelaskan dan memberikan pengertian arti dan fungsi kehidupan seksual bagi remaja

(terutama wanita) dan arti seksual dalam kehidupan secara luas.

Pendidikan seksual di sekolah dan terutama di dalam keluarga harus mendapatkan

perhatian. Perogram bimbingan keluarga dan bimbingan perkawinan dapat dilakukan secara

perodik oleh setiap organisasi ibu-ibu dan organisasi wanita pada umumnya.

Untuk mengembangkan kemampuann hidup bermasyarakat dan mengenalkan berbagai

norma sosial, amat penting dikembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan,

seperti kelompok olahraga, kelompok seni dan musik, kelompok koperasi, kelompok belajar, dan

semacamnya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Fase remaja adalah masa transisi atau peralihan dari akhir masa kanak-kanak menuju masa

dewasa. Dimana pada masa ini remaja cenderung untuk mencoba hal-hal baru untuk mencari jati

dirinya. Makna remaja banyak diartikan oleh pihak pihak yang berkepentingan, baik pihak

hukum, ahli psikologis, maupun pandangan masyarakat yang mengaitkan dengan sistem

budayanya. Secara umum anak dikatakan mencapai masa remaja ditandai oleh kematangan

fungsi seksual (pada wanita setiap bulan mengeluarkan sel telur dari indung telurnya dan bagi

laki laki setiap kali mimpi/mengeluarkan air mani) dan munculnya tanda tanda kelamin

sekunder.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Sunarto, dan Agung Hartono. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta. 2008.